Iman dan Ketegaran dalam Kesulitan

July 10, 2009

Rasulullah Saw. bersabda:
Mengagumkan urusan si Mukmin. Sungguh semua urusannya adalah kebaikan baginya. Itu semua bukan untuk siapa pun kecuali bagi si Mukmin. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur maka itu menjadi kebaikan baginya. Dan jika tertimpa kesempitan, ia bersabar maka itu menjadi kebaikan baginya” (HR Muslim).
Adanya harapan dan rasa aman, ridha dan cinta serta ketenangan jiwa, semuanya merupakan buah nan ranum dari pohon iman yang tertanam dalam hati seorang Mukmin; merupakan bekal yang tiada habisnya dalam menghadapi pergulatan hidup yang panjang dan sarat dengan rintangan, ancaman dan kesulitan.
Watak kehidupan dunia dan manusianya menjadikan seseorang mustahil luput sama sekali dari persoalan dan kesulitan hidup, seperti kehilangan pekerjaan, putus harapan, ditinggal orang yang dikasihi, terkena penyakit, kehilangan harta, dan lain sebagainya. Jika hal ini sudah merupakan sunnatullah dalam kehidupan dan berlaku bagi seluruh umat manusia, maka secara khusus manusia-manusia pengemban risalah (para rasul) lebih berat lagi ujian dan rintangan hidup yang harus mereka hadapi. Saat mereka menyeru kepada Allah, para penyeru thaghut memerangi mereka. Saat mereka mengajak pada kebenaran, para pembela kebatilan melawan mereka. Ketika mereka menunjukkan jalan kebaikan, para pejuang keburukan memusuhi mereka. Ketika mereka memerintahkan yang makruf, para ahli kemungkaran membenci mereka. Dengan begitu, mereka hidup dalam ujian berat tak berkesudahan serta cobaan hidup yang berketerusan. Demikianlah sunnah Allah yang telah menciptakan Âdam dan iblis, Ibrâhîm dan Namrud, Musa dan Fir’aun, Muhammad dan Abu Jahal.
Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia) (QS. al-An’âm/6: 112).
Dan seperti itulah, telah kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. dan cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi petunjuk dan penolong (QS. al-Furqân/25: 31).
Inilah keadaan para nabi, para penerus mereka, orang-orang yang menempuh jalan mereka, dan orang-orang yang menyerukan dakwah mereka. Mereka selalu diganggu dan ditindas oleh para tiran yang selalu memalingkan orang dari jalan Allah.
Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji (QS. al-Burûj/85: 8)
Orang-orang beriman paling sabar menghadapi cobaan, paling tegar dalam kesulitan, dan paling rela jiwanya dalam menjalani ujian demi ujian. Mereka sadar akan pendeknya umur dunia dibanding keabadian akhirat. Maka mereka tidak ingin dunia mereka menjadi surga sebelum surga sejati.
Katakanlah: ”Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa” (QS. al-Nisâ`/4: 77).
Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan (QS. Âli ’Imrân/3: 185).
Mereka sadar bahwa Allah memberi manusia kebebasan dan memberi mereka tugas khilafah di bumi, maka mereka tidak pernah bermimpi menjadi malaikat yang mempunyai sayap:
Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang kami hendak mengujinya (QS. al-Insân/76: 2).
Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah (QS. al-Balad/90: 4).
Mereka tahu bahwa para nabi dan rasul adalah orang yang paling berat ujiannya di dunia dan paling sedikit menikmati kelezatannya, maka mereka tidak pernah berkeinginan menjadi lebih baik dari para nabi dan rasul. Bagi mereka, para nabi dan rasul adalah teladan yang baik.
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ”Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat (QS. al-Baqarah/2: 214).
Suatu musibah, pastilah ada yang lebih besar darinya. Seorang Mukmin, dengan pandangan nuraninya, bersyukur kepada Allah atas dua hal: Pertama, dijauhkannya dirinya dari musibah lebih besar yang mungkin terjadi. Kedua, dilanggengkannya nikmat dan karunia yang mungkin lenyap dari dirinya. Saat mendapatkan sebuah nikmat, ia tidak pernah mengkhayalkan nikmat yang lebih besar sehingga melupakan nikmat nyata yang ada pada dirinya. Dan saat ditimpa musibah, ia membayangkan seandainya musibah yang menimpa dirinya lebih berat dari musibah yang kini sedang dihadapinya. Sikap ini, tak syak, melahirkan ketenangan dan kerelaan. Musibah yang lebih besar itu banyak dan itu bisa saja menimpa dirinya, tapi ia dijauhkan dari musibah-musibah itu. Nikmat-nikmat yang ada juga banyak dan ada pada dirinya.

Entry Filed under: Seri Iman. .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Recent Comments

abualitya on Menyelami Keagungan Muhammad…
Yayat on Menyelami Keagungan Muhammad…
abualitya on Tentangku
dadang gani on Tentangku
abualitya on Mengoptimalkan Fungsi Zak…
Nasrulloh on Mengoptimalkan Fungsi Zak…
abualitya on Solat Khusyu (Ti Buruan T…
Nia on Solat Khusyu (Ti Buruan T…
abualitya on Iman dan Harapan
abualitya on Pesan Rakyat untuk Presiden…
Ihin on Pesan Rakyat untuk Presiden…
FUNGSI ZAKAT SEBAGAI… on WAWASAN ALQURAN TENTANG DISTRI…
engkaudanaku on Iman dan Harapan
abualitya on Pesan Rakyat untuk Presiden…
abulfatih on Pesan Rakyat untuk Presiden…

Blogroll

Archives

Meta

Recent Posts

Pages

 

July 2009
M T W T F S S
« May   Aug »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Categories

Feeds

Spam Blocked

Blog Stats