Berpikir positif, bersikap & bertindak bijak

  1. Pendahuluan

Di mana-mana terdengar seruan kembali ke al-Qur`an. Dalam banyak aspek, al-Qur`an memang kerap tidak hadir. Perannya sebagai pembentuk dan pengarah hidup seringkali luput. Pada titik ini tidak ada perselisihan. Namun kerapkali terjadi silang pendapat dalam hal bagaimana kembali kepada al-Qur`an serta bagaimana ia bisa berdaya dan memberdayakan para pembacanya. Adakah kembali ke al-Qur`an itu dengan jalan meluruskan bacaan al-Qur`an, mempelajari tajwid, memperbanyak madrasah pengajaran cara baca dan tahfizh al-Qur`an, memperbanyak siaran al-Qur`an di radio dan televisi, dan memperluas kajian tafsir klasik. Ataukah dengan cara mengabaikan tafsir-tafsir klasik kemudian dengan serta merta kita langsung “mendatangi” al-Qur`an tanpa perantara, dengan alasan al-Qur`an menyeru semua manusia, tidak ada beda antara kita dan para pendahulu. Siapa pun berhak mendatangi dan menyelami al-Qur`an tanpa bantuan atau perantara orang lain.

Atau tidak yang pertama tidak pula yang kedua. Kita tidak bisa bertumpu hanya pada warisan klasik lalu memandang al-Qur`an sebagai benda sakral. Tapi kita juga tidak bisa melompati warisan tafsir klasik begitu saja lalu langsung mendekati, mengamati dan mengambil (penafsiran) dari al-Qur`an tanpa memiliki peranti yang memadai untuk dapat membuka dan menyingkap rahasia-rahasia al-Qur`an. Jalan tengah kita pilih. Tidak membabi-buta mengkultuskan warisan klasik dan menilainya suci, sebab dengan pengkultusan kita akan terjatuh pada taklid-buta dan berpaling dari merenungi ayat-ayat-Nya. Namun kita juga tidak melompat begitu saja melewati warisan-warisan klasik itu lalu memasuki pelataran al-Qur`an secara langsung tanpa bekal yang seharusnya, sebab dengan begini kita akan terpeleset dan menjauh dari kebenaran.

Seruan kembali ke al-Qur`an memang sangat relevan. Hubungan kaum Muslim dengan al-Qur`an dewasa ini menuntut pengamatan dan pengkajian mendalam. Kini perhatian mereka lebih tersedot pada bidang tilâwah, makhârij al-hurûf dan semacamnya yang biasa dipelajari dalam ilmu tajwid. Tentu saja perhatian pada bidang-bidang ini tidak salah. Hanya, sayangnya, itu ditempuh dengan mengabaikan sisi lain yang lebih penting dari pola hubungan dengan al-Qur`an, yaitu sisi pengkajian, pemaknaan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan. Memperlakukan al-Qur`an sebagai panduan hidup yang dekat, akrab, mengayomi, dan bersahabat, jauh lebih diinginkan oleh al-Qur`an sendiri ketimbang memperlakukannya hanya sebagai kitab keramat yang baru terdengar suaranya pada acara-acara keagamaan.

Umat Islam banyak mengalami kemunduran dan kekalahan tanpa mereka sadari, tanpa ada upaya memperbaiki diri, tanpa ada kemauan untuk mencari tahu faktor-faktor kemenangan dan sebab-sebab kekalahan. Dalam kondisi seperti ini, seruan kembali ke al-Qur`an harus diletakkan dalam kerangka pengertian memahami al-Qur`an secara utuh-menyeluruh, berangkat dari kepedulian dan keprihatinan terhadap kondisi umat Islam dewasa ini. Maka perlu diadakan kajian-keilmuan yang mampu menampilkan pemahaman tentang al-Qur`an yang utuh-menyeluruh; sebuah kajian yang sanggup menjadikan al-Qur`an sebagai Kitab Suci yang hidup, dinamis, akrab, membumi dan menyatu dengan kehidupan nyata umat dengan berbagai persoalan yang dihadapinya. Dalam hemat kami, di antara pemikir Muslim modern, Muhammad al-Ghazali dapat ditunjuk sebagai pemikir Muslim modern yang memiliki kepedulian dan upaya nyata untuk menampilkan pemahaman tentang al-Qur`an seperti diharapkan di atas. Di antara karya Muhammad al-Ghazalî yang secara spesifik berhubungan langsung dengan al-Qur`an adalah Kayfa Nata’âmal ma’ al-Qur`ân, al-Mahawir al-Khamsah lî al-Qur`an al-Karîm, Nahw Tafsîr Mawdhû’î lî Suwar al-Qur`ân al-Karîm, dan Nazharât fî al-Qur`ân.

 

  1. Beberapa Pemikiran Muhammad al-Ghazali tentang al-Qur`an

Seperti telah disebutkan, di antara karya Muhammad al-Ghazalî yang spesifik berhubungan dengan al-Qur`an adalah Kayfa Nata’âmal ma’ al-Qur`ân, al-Mahawir al-Khamsah lî al-Qur`an al-Karîm, Nahw Tafsîr Mawdhû’î lî Suwar al-Qur`ân al-Karîm, dan Nazharât fî al-Qur`ân. Berikut ulasan untuk masing-masing buku-karya tersebut:

 

  1. Kayfa Nata’âmal ma’ al-Qur`ân

Seruan kembali ke al-Qur`an sejatinya merupakan pengakuan bahwa selama ini ia luput dari kehidupan, perannya mandul dalam membentuk dan mengarahkan jati-diri para pembacanya. Dalam Kayfa Nata’âmal ma’ al-Qur`ân, Muhammad al-Ghazâlî memberikan sejumlah cara, kiat dan metode bagaimana seharusnya umat Islam kembali ke al-Qur`an serta bagaimana seyogyanya mereka berinteraksi dengannya. Berikut beberapa perangkat sikap dan pandangan yang harus dimiliki kaum Muslim terhadap Kitab Suci mereka.

-       Al-Qur`an Kitab Kompehensif

Al-Qur`an bukan buku-karya yang terpilah menjadi bagian-bagian di mana satu sama lain tidak memiliki keterkaitan dan keterpaduan. Al-Qur`an, ketika ia berbicara tentang semesta, misalnya, pada saat yang sama ia sedang membangun fondasi akidah; ketika ia berbicara tentang semesta, pada saat yang berbarengan ia sedang mendidik tata-perilaku dan akhlak mulia. Ia memadukan semuanya dengan cara yang mengagumkan. Membaca semesta, realita dan sejarah membawa pada iman, mengantarkan pada tauhid, dan membangun akhlak.

Perhatikan bagaimana QS al-Baqarah/2: 21 yang memerintahkan manusia untuk menyembah Tuhannya langsung disusul dengan ayat berikutnya (ayat 22) yang membeberkan bahwa Tuhan yang wajib disembah itu adalah Pencipta semesta. Perhatikan bagaimana al-Qur`an membeberkan semesta, fenomena dan hakikat yang dikandungnya; ini dilakukan sambil menafikan tuhan-tuhan palsu lalu membangun fondasi akidah-tauhid. Ini dilakukan al-Qur`an di Madinah. Cara yang sama ia lakukan di Mekah. Perhatikan QS Ghâfir/40: 61-63.[1]

-       Memahami Sunnah Ijtimâ’iyah

Yang dimaksud sunnah ijtimâ’iyah adalah aturan baku yang berlaku pada ranah sosial-kemasyarakatan yang kemudian diintrodusir dan diperintahkan oleh al-Qur`an untuk dicermati, dipelajari dan dipedomani manusia dalam kehidupan mereka. sunnah ini oleh al-Qur`an dikenalkan sebagai aturan yang paten dan konstan yang berlaku dalam kehidupan sosial-kemasyarakatan yang dalam banyak kejadian bersifat mekanik.

Kebutuhan kaum Muslim akan pemahaman yang benar tentang sunnah ini di masa sekarang amat mendesak, jauh lebih mendesak dibanding kebutuhan mereka akan hukum syarak (fikih) yang volume dan intensitasnya sekarang ini sudah sangat “over load” sampai-sampai nyaris meliputi keseluruhan Islam, padahal kebutuhan akan hukum syarak datang kemudian setelah terpenuhinya pemahaman dan pengamalan akan sunnah ijtimâ’iyah tersebut.

Dengan dipandu al-Qur`an, seorang pemikir (mufasir) Muslim dapat menemukan sunnah ini dengan segala aspek serta dimensinya lalu menjadikan pemahaman tentangnya sebagai bekal dalam melakukan perubahan sosial serta menciptakan iklim yang kondusif bagi tumbuhnya generasi yang unggul. Persisnya, sunnah ini dapat ditemukan dengan cara pembacaan yang saksama atas ayat-ayat al-Qur`an dan pengamatan yang mendalam atas jejak-langkah umat-umat terdahulu.

Al-Qur`an menunjukan bahwa apa yang berlaku di alam materi, yang biasa disebut hukum alam atau sunnatullah, seperti mendidihnya air ketika dipanaskan dalam suhu 100 derajat celcius, membekunya air saat didinginkan dalam suhu 0 derajat celcius, tekanan pada gas tertentu dan semacamnya; al-Qur`an menunjukkan bahwa hukum-hukum semacam ini berlaku pula dalam kehidupan manusia dan peradabannya, seperti jatuh-bangunnya sebuah bangsa. Semuanya tunduk pada aturan dan hukum yang pasti dan tidak berubah. Demikian seperti ditunjukan QS Fâthir/35: 42-43. Dengan kata lain, sunnah yang berlaku di ranah sosial-kemasyarakatan merupakan bentuk lain yang menyempurnakan atau melanjutkan sunnah yang berlaku di alam materi; sunnah ijtima’iyah merupakan bentuk lain sunnah kawniyah.[2]

Muhammad al-Ghazali menunjuk sekitar sepuluh ayat yang dalam keyakinannya mengandung sunnah ijtima’iyah yang kerap luput dari perhatian kaum Muslim. Ayat-ayat itu di antaranya QS Fâthir/35: 2, Yûnus/10: 81-82, Muhammad/47: 1, Yûsuf/12: 90, dan al-Nisâ`/4: 123.  

Sunnah ijtimâ’iyah yang digariskan ayat-ayat di atas berlaku bagi siapa pun; kawan maupun lawan, kapan pun dan di mana pun. Segala upaya untuk “berkelit” dan sunnah ini akan gagal. Sekali lagi, hukum yang berlaku di alam materi, di alam semesta dan kehidupan, berlaku pula dalam laju peradaban manusia di mana kita berada di dalamnya. Maka, siapa pun yang tidak mengikuti sunnah yang diperlukan untuk menjadi pemenang, tidak akan pernah menang. Orang yang mengaku anak atau kekasih Tuhan pun, tetap berlaku atasnya sunnah ini. Ketika orang-orang Yahudi dan Nasrani berkata, “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya,” segera dikatakan kepada mereka, “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu? (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya (QS al-Mâ`idah/5: 18).[3]

-       Memahami Teks Sejalan Ruh Kekinian

Salah satu kekeliruan pikir umat ini adalah membawa-bawa keterbelakangan mereka ketika menyelami teks-teks agama, termasuk al-Qur`an. Maka tafsiran atau pemahaman yang dihasilkan pun merupakan tafsiran atau pemahaman yang terbelakang pula. Yang terjadi kemudian lingkaran keterbelangan: subjek yang dilingkupi keterbelakangan, membaca dengan mentalitas yang terbelakang, lalu menghasilkan tafsiran dan pemaknaan yang terbelakang.

Ambil contoh, ayat tentang besi dalam al-Qur`an.[4] Pemahaman awal tentang ayat ini adalah bahwa Allah telah menciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, supaya mereka mempergunakannya dalam membela agama-Nya. Tujuannya jelas yaitu mempergunakan besi dengan menjadikannya pedang atau tombak untuk membela agama Allah. Namun term “besi” dalam napas kekinian tidak lagi hanya identik dengan pedang atau tombak, melainkan tank tempur, kapal perang, dan peralatan perang canggih lainnya. Kini, membela agama Allah bukan lagi dengan tombak atau pedang, melainkan dengan peralatan perang modern itu.

Pertanyaannya, di manakah pemahaman berkesadaran seperti ini dalam akal-nalar umat ketika membaca “ayat besi” dan ayat-ayat serupa lainnya? Maka jangan tanya mengapa mereka jauh tertinggal dalam bidang ini dan bidang-bidang serupa lainnya. Pembacaan dan pemahaman kaku dan terbelakang, alih-alih menjadikan ayat sebagai pendorong perubahan dan pemberdayaan, malah menjadikannya penghalang perubahan dan pemberdayaan.

Lalu tengoklah “orang lain”! Jangankan dalam dunia militer dan persenjataan, dalam dunia pertanian saja, yang sesungguhnya merupakan salah satu peradaban manusia paling tua, mereka telah sanggup memanfaatkan setiap jengkal tanah menjadi lahan pertanian yang benar-benar produktif. Sedangkan di tangan “kita”, tanah tetaplah tanah tidak mengahasilkan kebaikan apa-apa. Ini sungguh merupakan bencana besar menimpa umat Islam akibat kesalahan mereka dalam memahami Kitab Sucinya. Umat Islam harus mampu menjadikan al-Qur`an sebagai sebuah kekuatan dinamisator dalam hidup mereka. Al-Qur`an sendiri tidak ingin diperlakukan oleh umat ini sebatas disimpan di museum atau perpustakaan untuk diharap keberkahannya, atau sekadar dibuka lalu dibaca beberapa ayatnya, setelah itu setelah perkara.[5]

-       Meluruskan Makna Fiqh

Kata fiqh dalam al-Qur`an memiliki kandungan makna yang jauh lebih luas dan kaya daripada makna yang diberikan oleh para fuqaha. Dalam pengertian fuqaha, fiqh adalah pengambilan hukum syarak dari dalil yang terperinci. Nah, makna fiqh yang ada dalam nalar kaum Muslim saat ini adalah makna yang diberikan oleh kaum fuqaha itu. Bayangkan, apa jadinya jika pemahaman ini diterapkan ketika kita coba memaknai kata fiqh (yafqahûn) yang terdapat, misalnya pada QS al-Hasyr/59: 13)?

Seperti telah disinggung, term fiqh dalam al-Qur`an ternyata memiliki jangkauan makna yang jauh lebih luas ketimbang makna terminologis yang diberikan para fuqaha. Fiqh yang dikehendaki al-Qur`an adalah fiqh hadhârî (pemahaman tentang peradaban) dengan segala dimensi dan cakupan makna yang dimiliki kata hadhârah (peradaban). Tegasnya, makna fiqh yang diinginkan al-Qur`an jauh lebih luas jangkauan dan cakupan serta dimensinya dari makna yang selama ini terpateri dalam benak sebagian besar umat ini. Maka, kata fiqh bisa bergandeng dengan term falak (astronomi), nafs (psikologi), akhlâq (etika, moral), hadhârah (peradaban), dan seterusnya. Dalam kerangka makna inilah seharusnya setiap term yang terbentuk dari kata fiqh yang terdapat dalam al-Qur`an dipahami dan dimaknai.

Dalam hal ini, perhatikan misalnya QS al-An’âm/6: 98. Fiqh pada ayat ini tak lain dari pengetahuan tentang mustaqarr al-nafs (tempat jiwa yang tetap) sebelum lahir, yaitu rahim sebagaimana ditunjukkan QS al-Hajj/22: 5. Lalu apa yang dimaksud mustawda’ (tempat simpanan)? Fase di antara keduanya (rahim dan kubur), yakni kehidupan dunia, memerlukan fiqh dalam pengertian dan cakupan serta dimensinya yang luas seperti telah ditegaskan sebelum ini. Singkat kata, hidup di dunia memerlukan fiqh tentang hidup itu sendiri, bukan hanya fiqh tentang hukum syarak semata.[6]

-       Menangkap Makna Secara Utuh-Menyeluruh

Ketidakmampuan menangkap makna yang dikehendaki al-Qur`an secara utuh dan menyeluruh berakibat pada keterputusan, keterkoyakkan, dan keterpisahan sendi-sendi dan aspek-aspek kehidupan satu sama lainnya. Firman-Nya dalam QS al-Baqarah/2: 85 seakan menyindir keterputusan, keterkoyakkan, dan keterpisahan semacam itu. Secara objektif, QS al-Baqarah/2: 85 tersebut memang diarahkan kepada Bani Isrâ`îl. Namun dalam perjalanan berikutnya, apa yang dikandung oleh ayat tersebut berlaku pula atas siapa pun yang memiliki kemiripan dengan Bani Isrâ`îl.

Kita, umat Islam, memang tidak persis seperti Bani Israil yang beriman kepada sebagian isi kitab dan kufur kepada sebagian lainnya. Akan tetapi pandangan yang parsial dan ketidakmampuan menangkap keutuhan serta kemenyeluruhan makna ayat atau surat memiliki kemiripan dengan perbuatan Bani Isrâ`îl itu. Secara teori memang kita beriman kepada keseluruhan al-Qur`an. Namun secara amali kita hidup pada fase di mana keterputusan, keterkoyakkan, dan keterpisahan antara sendi-sendi dan aspek-aspek kehidupan terjadi.

Ajaran-ajaran Islam merupakan rajutan atau jejaring di mana satu sama lain saling bersentuhan, saling terikat. Ajaran akidah berpadu erat dengan ibadah, akhlak dan semua kegiatan sosial. Perhatikan misalnya QS al-Baqarah/2: 224-227. Pada ayat-ayat ini terlihat bagaimana al-Qur`an menggandengkan hukum-hukum furu’iyah dengan nama-nama Allah; bagaimana al-Qur`an menutup ayat-ayat yang berbicara tentang hukum praktis dengan nama-nama-Nya. Ini menunjukkan bahwa Islam mengharuskan adanya perpaduan serasi antara nilai-nilai akidah dan perilaku nyata manusia di tataran praksis. Keduanya harus seiring sejalan, searah sehaluan.

Dari semua ini dapat dipahami bahwa al-Qur`an merupakan “santapan rohani” bermenu lengkap. Ibarat sajian makanan di atas meja dengan menu yang lengkap; al-Qur`an juga menyajikan risâlah (ajaran) kehidupan yang lengkap; tidak ada satu sisi kehidupan yang tidak dijangkaunya, ajaran-ajaran wahyu Ilahi mengalir dalam bingkai Qur`ani seperti mengalirnya darah dalam urat-urat nadi manusia, dari kepala hingga kaki. Dari sini dapat dikatakan pula bahwa ajaran al-Qur`an tidak lain dari ajaran tentang kehidupan seluruhnya. Al-Qur`an bukan hanya memuat kumpulan kisah, bukan hanya berisi hukum-hukum formal, tidak cuma mengandung ajaran akidah, bukan hanya berisi seruan untuk memerhatikan semesta, tidak hanya mengandung ayat-ayat tarbiyah (pendidikan); melainkan mencakup semuanya dalam perpaduan yang serasi, satu sama lain saling terjalin, tertaut dengan kuat dan tidak dapat dipisah-pisahkan; dari awal hingga akhirnya, dari pangkal hingga ujungnya.[7]

-       Beda Pendapat Bukan Beda Agama

Ijtihad tidak lain dari upaya menurunkan (memfungsikan) teks atas kejadian tertentu. Adalah tindakan gegabah mengatakan bahwa upaya penurunan (fungsionalisasi) ini sebagai Islam itu sendiri. Jika kita menganggap pendapat atau ijtihad dalam memahami al-Qur`an atau hadits sebagai agama dengan segala kekudusan yang dimilikinya; jika kita menilai bahwa menyalahi pendapat atau hasil ijtihad itu sebagai sebuah penyimpangan dan dosa seperti dosanya menyalahi teks agama itu sendiri; jika kita punya anggapan dan penilaian seperti itu maka umat ini akan terkoyak dan akibatnya bisa sangat fatal. Beberapa akibat dari keterkoyakan umat itu kita rasakan sekarang.

Para pendahulu umat ini waktu mereka berbeda pendapat dalam ijtihad, tidak ada di antara mereka yang mengklaim dirinya menepati kebenaran yang dikehendaki Allah. Sejauh yang mereka katakan adalah, “Pendapatku benar tapi mungkin salah, dan pendapat orang lain salah tapi mungkin benar.” Setelah itu, dalam perbedaan pendapat, mereka tetap akur, rukun, saling menghormati, bahkan saling merendahkan hati satu sama lain. Dalam hal shalat misalnya, Imam Abû Hanifah berpendapat bahwa makmum haram membaca Fatihah, sedangkan Imam al-Syâfi’î berpendapat wajib. Namun demikian, keduanya adalah bintang-bintang umat ini; sama-sama besar, sama-sama dihormati. Imam al-Syâfi’î pernah ditanya tentang Imam Abû Hanîfah. Beliau menjawab, “Manusia berhutang pada Abû Hanifah dalam bidang fikih. Namun orang yang menganggap bahwa pendapat beliau adalah agama dan pendapat selain beliau bukan agama, maka orang itu pembohong.[8]

  1.  Al-Mahawir al-Khamsah lî al-Qur`an al-Karîm

Al-Qur`an memuat lima tema pokok: (1) Allah Maha Esa, (2) semesta dalil wujud Sang Khalik, (3) kisah-kisah Qur`ani, (4) kebangkitan dan balasan, dan (5) pendidikan dan hukum. Lima tema pokok ini dibahas tuntas Muhammad al-Ghazali dalam al-Mahawir al-Khamsah lî al-Qur`an al-Karîm.

-          Allah Maha Esa

Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang ada dengan sendirinya. Kita hidup menyerupai lampu listrik yang tidak dapat menyala dengan sendirinya. Ia bisa menyala kalau ada arus listrik yang mengalir di dalam kabel yang disambungkan dengannya. Jika arus putus maka gelaplah lampu listrik itu. Atau seperti mesin-mesin yang mengendalikan berbagai peralatan dan peranti dengan daya yang diberikan kepada peralatan itu. Jika tidak ada daya yang diberikan maka peralatan dan semua peranti itu diam. Seperti halnya makhluk-makhluk lain, kita ada karena diadakan oleh Allah. Kita tinggal di dunia ini karena kekuasaan-Nya. Demikian sebagaimana ditegaskan QS al-Hadîd/57: 3.[9]

-          Semesta Merupakan Dalil Wujud Sang Khalik

Kita hidup di salah satu sudut kecil dalam alam mayapada yang sangat luas. Namun betapa pun kecilnya tempat hidup kita, ia merupakan bagian dari keagungan kerajaan Allah yang sangat besar, sebab bumi dan seluruh penghuninya ini adalah ciptaan Allah yang menyempurnakan penciptaan segala sesuatu. Ketika kita mengamati diri dan alam di sekeliling, kita dapat menangkap bahwa Sang Khalik adalah Zat Yang Mahakuasa, Mahabijaksana, dan Maha Mengetahui. Tidak ada batas bagi kesempurnaan dan pujian untuk-Nya.

Semesta yang tidak kita lihat lebih besar dan lebih luas dari alam sekeliling yang dapat kita lihat dan rasakan. Hal ini sesuai dengan firman-Nya dalam QS al-Mu`min/40: 57. Alam yang dapat kita lihat dan rasakan saja sudah sangat jelas menunjukkan akan adanya Sang Pencipta Yang Mahatinggi. Alam ini merupakan saksi sejati bahwa Sang Pencipta itu memiliki nama-nama terbaik (al-asmâ al-husnâ) dan sifat-sifat kesempurnaan serta kemuliaan.

Sebuah mesin canggih buatan orang jenius menunjukkan akan kecerdasan otak dan keahlian pembuatnya. Ketika melihat mesin itu Anda mungkin berkata, “Mesin canggih ini mendorong kita untuk mengakui kejeniusan dan kemahiran pembuatnya.” Pencipta langit dan bumi yang telah menciptakannya tanpa ada contoh yang mendahuluinya seakan menitipkan pesan di dalam diri makhluk hidup dan benda-benda ciptaan lainnya, yaitu pesan akan ilmu, kebijaksanaan, karunia, nikmat yang tiada henti, keagungan, dan segala puji milik-Nya; puji yang selalu dilantunkan oleh para malaikat dan makhluk-makhluk lainnya. Demikian seperti dinyatakan QS al-Anbiyâ`/21: 19-20.[10]

-          Kisah-kisah Qur`ani

Al-Qur`an mengisahkan umat-umat terdahulu. Penuturan kisah-kisah dalam al-Qur`an merupakan sarana pendidikan, sumber pengarahan dan wejangan bagi kehidupan pribadi dan masyarakat. Kisah-kisah al-Qur`an merupakan petikan tentang kehidupan masa lampau yang diangkat kembali oleh wahyu untuk dijadikan sarana pendidikan. Ketika seseorang menghidupkan tape recorder, ia acap merasa bahwa perlu untuk memutar kembali kaset yang sudah diputar sebelumnya. Pada putaran kedua ia dapat mengulang kembali memori dan memperteguh apa yang pernah ia dengar sebelumnya. Ilmu pengetahuan telah sanggup merekam suara dan memutarnya kembali kapan kita mau.

Ketika al-Qur`an mengisahkan sesuatu, ia sedang memutar kembali kehidupan pada masa-masa yang telah lampau seakan hidup kembali di hadapan kita; di mana kita dapat “mendengar” gemuruhnya perang antara pembela kebenaran dengan para pengusung kebatilan. Ketika al-Qur`an bertutur tentang kisah masa lalu, ia sedang memutar kembali kaset rekaman yang menampilkan fase-fase sejarah masa lalu dunia.

Kini kita lebih mementingkan dunia dan menjejali hidup yang sesaat ini dengan apa saja yang kita inginkan. Apakah semua kisah tentang kita hari ini akan punah begitu saja seiring berjalannya waktu? Tidak! Semua itu terpelihara di sisi-Nya. Tuhan semesta alam kuasa untuk memutarnya kembali ketika Dia berkehendak. Dalam Kitab-Nya yang pamungkas, Dia menampilkan kepada kita sejumlah kisah masa lampau agar kita dapat melihat umat-umat yang telah mendahului kita; di antara mereka ada yang lalai ada pula yang sungguh-sungguh, ada yang sesat ada juga yang lurus, ada yang adil ada pula yang zalim, ada yang konsisten dan ada yang menyimpang. Semua itu merupakan kisah tentang sebuah kenyataan yang benar-benar terjadi, bukan mitos atau dongeng pengantar tidur. Perhatikan QS Thâhâ/20: 99-101.[11]

-          Kebangkitan Kubur dan Balasan

Setelah Allah menciptakan manusia, Dia tidak membiarkan mereka hidup di bumi untuk beberapa tahun lalu mereka lenyap begitu saja dengan meninggalkan kenangan atau tidak meninggalkan apa-apa. Dia menciptakan mereka untuk tetap kekal abadi. Kematian yang mengakhiri hidup mereka di bumi hanya peristirahatan sejenak atau semacam titik pemisah antara dua fase kehidupan. Fase pertama untuk bertanam sedang fase kedua untuk panen hasil tanaman.

Di tengah kesibukan makhluk hidup dengan berbagai jalan hidupnya; di tengah tenangnya para penghuni kubur, tiba-tiba terjadi peristiwa yang luar biasa dahsyatnya. Allah menyebutkan peristiwa itu dalam QS Yâsîn/36: 51-53.[12]

-          Pendidikan dan Hukum

Inilah tema pokok al-Qur`an yang kelima. Mereka yang mengkaji sîrah Nabi Muhammad Saw. akan tahu bahwa beliau adalah manusia yang paling tahu tentang Allah Swt. Dengan pengetahuannya, beliau bagai hidup dalam siang yang tidak pernah berhenti terang. Dengan kesucian ruhaninya, beliau mampu membawa manusia dari kegelapan kepada cahaya yang terang-benderang, serta mengangkat mereka kepada derajat yang sangat tinggi dalam hal keadaban jiwa dan ketakwaan kepada Allah.

Para raja yang diagungkan rakyatnya, dalam pandangan beliau adalah kecil belaka. Beliau mengadakan revolusi besar di dunia ini. Tapi kita enggan menamai beliau sebagai tokoh politik. Sebab yang terlihat jelas pada diri beliau adalah seorang insân-rabbânî yang tugas utamanya adalah membawa manusia mengenal Tuhannya, mengisi hati mereka dengan penghormatan akan keagungan-Nya, dan menjadikan agama Allah yang mulia selalu berada dalam jiwa dan masyarakat.[13]

Nilai-nilai rabbâniyah (ketuhanan) merupakan ciri khas umat yang dibangun dan dibina oleh Muhammad Saw. Nilai-nilai itu merupakan dasar segala aktivitas mereka ketika terjaga, dan menjadi mimpi mereka saat tidur. Peradaban Islam dibangun di atas dasar keimanan yang menjadikan Allah sebagai tujuan segala usaha dan pendorong segala aktivitas. Tidak heran jika jargon Islam, baik dalam damai maupun perang, adalah “Allah Mahabesar.”[14] Metode pendidikan Islam berbasiskan kejujuran akal, jauh dari kegelapan nalar, dan selalu mengupayakan tercapainya cahaya kebenaran. Tentang hal ini perhatikan QS al-Nisâ`/4: 174-175.[15]

 

  1. Nahw Tafsîr Mawdhû’î lî Suwar al-Qur`ân al-Karîm

Buku (tafsir) ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1416H/1995 M. Ia memiliki sekurangnya dua keunggulan: Pertama, penyajiannya menggunakan bahasa modern yang sederhana (mudah dipahami), tidak bertele-tele, tegas, dan tidak membosankan. Keunggulan ini menjadikannya cocok untuk pembaca awam yang penguasaannya terhadap ilmu-ilmu agama tidak terlalu mendalam. Cocok juga bagi pembaca yang baru pertama kali menelaah karya tafsir. Bagi yang baru masuk Islam dan tidak punya banyak waktu untuk membaca berjilid-jilid kitab tafsir, atau bahkan non-Muslim yang punya minat terhadap karya tafsir modern dengan bahasa yang sederhana dan jelas, tafsir karya Syaikh Muhammad al-Ghazalî ini sangatlah pas. Kedua, metode tafsir yang digunakan adalah metode mawdhû’î (tematik), kebalikan dari metode mawdhi’î (konvensional). Metode tematik diakui para ahli tafsir memiliki banyak keunggulan dibanding metode-metode tafsir lainnya.

Dua keunggulan yang dimiliki Nahw al-Tafsîr al-Mawdhû’î lî al-Qur`ân al-Karîm ini menjadikannya mudah dipahami oleh para pembaca dengan berbagai corak dan tingkatan pemahamannya. Metode tematik yang ditempuhnya memberi ruang yang cukup bagi pembaca untuk berinteraksi dengan al-Qur`an lewat perenungan, penafsiran dan refleksi yang konstruktif. Tentang metode yang ditempuhnya dalam buku ini, Muhammad al-Ghazâlî berkata,

Saya memilih beberapa ayat (dalam sebuah surat) yang mendukung tema utama (surat bersangkutan) dan menyerahkan beberapa ayat lainnya kepada pembaca untuk dikelompokkan sendiri pada konteks (sub-tema) yang sesuai. Dengan begitu pembahasan saya tidak panjang dan bertele-tele. Ringkas. Itulah yang saya inginkan.[16]

 

Berikut contoh penafsiran Muhammad al-Ghazâlî dalam Nahw al-Tafsîr al-Mawdhû’î lî al-Qur`ân al-Karîm.

-          Surat al-Fâtihah

Tentang surat ini al-Ghazâlî berkata, “Surat pujian (al-hamd). Termasuk surat pendek, tetapi merupakan induk al-Kitab (al-Qur`an) dan surat teragung.”[17] Dalam pandangan al-Ghzâlî, surat ini merupakan saripati al-Qur`an tentang akidah Islam, ikatan perjanjian yang kokoh antara manusia dengan Tuhan untuk merealisasikan tugas mereka di muka bumi, serta berisi harapan kepada Allah akan hidayah, taufik dan keridaan-Nya. Surat yang merupakan Induk al-Qur`an ini, dalam redaksi yang amat singkat-padat, juga menggambarkan pola-hubungan antara manusia dan Tuhannya, pengakuan tentang-Nya, pujian untuk-Nya, kesiapan untuk menemui-Nya, janji untuk menyembah-Nya, dan harapan kepada-Nya supaya menjadikan kita seperti yang diinginkan-Nya. Satu-satunya pola-hubungan antara manusia dan Tuhan adalah hubungan yang didirikan di atas Islam. Islam adalah satu-satunya agama Allah yang disampaikan para nabi, kapan dan di mana pun nabi-nabi itu diutus. Agama Islam berporos pada keyakinan bahwa sesungguhnya Allah itu esa, hanya bagi-Nya kesetiaan dan pujian, serta kepada-Nya seluruh penghuni bumi dan langit bergantung. Orang yang mengingkari hakikat ini sesat dan dimurkai-Nya.

-          Surat al-Baqarah

Di tangan Muhammad al-Gazhâlî, surat al-Baqarah yang merupakan surat terpanjang, tafsirnya hanya terdiri dari 15 halaman saja.[18] Demikian, karena memang dengan metode tematik yang digunakannya, Muhammad al-Ghzâlî menafsirkan surat dengan cara menentukan tema-tema utama pada setiap surat, lalu menjelaskan seperlunya tiap tema itu, kemudian menerangkan hubungan antara tema yang satu dengan lainnya. Sementara itu, hal-hal yang bersifat parsial dan sekunder diserahkan kepada pembaca untuk menggabungkan dan memetakannya di bawah tema-tema utama yang sudah ada.

Dalam menafsirkan surat al-Baqarah, al-Ghazâlî pertama-tama menjelaskan kondisi yang melingkupi (melatari) turunnya surat al-Baqarah. Yaitu kondisi di mana Nabi Saw. sedang membangun fondasi masyarakat Islam pertama di Madinah. Di saat kaum Muslim awal sedang membangun masyarakat Islam di bawah kepemimpinan Nabi Saw., mereka diintai oleh tiga musuh secara bersamaan: kaum kafir Quraisy, Yahudi Madinah, dan kuam munafik. Dalam banyak ayatnya, surat al-Baqarah mengulas sikap orang-orang Yahudi terhadap ajaran Islam serta sikap mereka terhadap para nabi terdahulu.[19]

Ulasan surat al-Baqarah yang cukup panjang tentang orang-orang Yahudi ini sesungguhnya berada dalam sebuah tema (konsep) besar yang dibangun al-Qur`an, yaitu al-wahdah al-dîniyah (kesatuan agama). Konsep ini berbanding terbalik dengan fanatisme agama yang diperagakan oleh orang-orang Nasrani dan Yahudi. Baca QS al-Baqarah/2: 111.[20]

Kebalikan dari fanatisme orang-orang Nasrani dan Yahudi, Islam menyeru umat manusia untuk masuk di bawah naungan kesatuan agama yang toleran berdasar fithrah yang suci serta akal-nalar yang berkesadaran. Demikian QS al-Baqarah/2: 112 menyatakan.[21]

Islam adalah agama universal yang seharusnya dianut oleh seluruh umat manusia. Satu hakikat yang pasti adalah bahwa agama semenjak azali itu satu: iman kepada Allah dan keharusan beramal saleh. Dua hal inilah hakikat Islam. Semua rasul menyerukan dua hal ini.[22]

Tema pokok lainnya dalam surat al-Baqarah adalah jihad. Pertama-tama Muhammad al-Ghazali menegaskan bahwa al-Qur`an (Islam) tidak menyukai peperangan, pengrusakan dan tindakan apa pun yang menimbulkan kerugian. Tetapi sikap cinta damai ini tidak berarti istislâm (menyerah begitu saja) atau mau menerima kezaliman dan penjajahan. Perang di bulan-bulan haram memang dilarang. Tapi jika pada bulan-bulan itu kaum kafir menyerang kaum Muslim, maka kaum Muslim harus membela diri. Dalam konteks inilah kita memahami QS al-Baqarah/2: 190.[23] Inilah ketentuan dan hukum jihad menurut al-Qur`an. Tidak ada dalam al-Qur`an perintah untuk memerangi siapa pun yang tidak memulai melakukan penyerangan.

Tema pokok surat al-Baqarah selanjutnya adalah keluarga. Dalam al-Qur`an secara keseluruhan, soal keluarga dan perempuan menyita cukup banyak tempat. Mulai soal kesetaraan antara pria dan wanita, persoalan-persoalan keluarga, cerai, ilâ’, khulu’, kelahiran, persusuan, dan semacamnya. Semua ini dibalut dengan sejumlah ketentuan terkait akhlak, takwa, dan iman, dalam rangka membangun tatanan keluarga Muslim di atas fondasi yang kokoh-kuat.

Secara khusus Muhammad al-Ghazalî menyinggung soal kedudukan wanita dewasa ini. Ia sangat menyayangkan kezaliman (pelanggaran) atas hak-hak kaum perempuan di banyak tatanan sosial yang dekaden. Seperti ditegaskan al-Ghazali, kenyataan seperti itu sangat ditentang oleh Islam.[24]

 

  1. Nazharât fî al-Qur`ân

Dalam buku ini Muhammad al-Ghazâlî menegaskan bahwa al-Qur`an tidak mungkin diasingkan dari kehidupan. Ia adalah kitab kehidupan yang sanggup merespon setiap gerak zaman dengan segala dinamikanya. Kitab Suci ini harus berada di tengah guna menegakkan keadilan, memastikan semua saluran kebenaran berjalan lancar, membasmi kebodohan, dan menggempur kezaliman. Al-Qur`an turun untuk menjadikan hidup manusia tidak sia-sia; datang ke tengah-tengah mereka untuk membuat mereka sadar akan tujuan hidup dan tahu akan hikmah keberadaan mereka di dunia ini.[25]

 

  1. Penutup

Kayfa Nata’âmal ma’ al-Qur`ân, al-Mahawir al-Khamsah lî al-Qur`an al-Karîm, Nahw Tafsîr Mawdhû’î lî Suwar al-Qur`ân al-Karîm, dan Nazharât fî al-Qur`ân adalah buah-karya (pemikiran) Muhammad al-Ghazali dalam rangka memperlakukan al-Qur`an sebagai panduan hidup yang dekat, akrab, mengayomi, dan bersahabat. Memperlakukan al-Qur`an seperti ini jauh lebih diinginkan oleh al-Qur`an sendiri ketimbang memperlakukannya hanya sebagai kitab keramat yang baru terdengar suaranya pada acara-acara keagamaan.

Al-Mahawir al-Khamsah lî al-Qur`an al-Karîm, Kayfa Nata’âmal ma’ al-Qur`ân, Nahw Tafsîr Mawdhû’î lî Suwar al-Qur`ân al-Karîm, dan Nazharât fî al-Qur`ân adalah upaya Muhammad al-Ghazali untuk memahami al-Qur`an secara utuh-menyeluruh, berangkat dari kepedulian dan keprihatinan terhadap kondisi umat Islam dewasa ini.

Wallâh a’lam…?


[1] Muhammad al-Ghazâli, Kayfa Nata’âmal ma’a al-Qur`ân, Mansoura: Dâr al-Wafâ` lî al-Thibâ’ah wa al-Nasyr wa al-Tawzî’, cet. III, 1992, hal. 42-43.

[2]Al-Ghazâli, Kayfa Nata’âmal…, hal. 49.

[3] Al-Ghazâli, Kayfa Nata’âmal…, hal. 50-51.

[4] QS al-Hadîd/57: 25.

[5] Al-Ghazâli, Kayfa Nata’âmal…, hal. 59. Terkait masalah ini dapat pula dibaca buku-buku karya Muhammad al-Ghazâlî lainnya seperti Turâtsuna al-Fikrî fî Mîzân al-Syar’ wa al-‘Aql, Kairo: Dâr al-Syurûq, cet. III, 1992.

[6] Al-Ghazâli, Kayfa Nata’âmal…, hal. 68-69.

[7] Al-Ghazâli, Kayfa Nata’âmal…, hal. 70-71.

[8] Al-Ghazâli, Kayfa Nata’âmal…, hal. 107.

[9] Muhammad al-Ghazâlî, al-Mahâwir al-Khamsah lî al-Qur`ân al-Karîm, Kairo: Dâr al-Shahwah lî al-Nasyr wa al-Tawzî’, cet. I, 1989, hal. 31.

[10]  Al-Ghazâlî, al-Mahâwir…, hal. 59.

[11]  Al-Ghazâlî, al-Mahâwir…, hal. 104.

[12] Al-Ghazâlî, al-Mahâwir…, hal. 147.

[13]  Al-Ghazâlî, al-Mahâwir…, hal. 187.

[14] Al-Ghazâlî, al-Mahâwir…, hal. 187.

[15] Al-Ghazâlî, al-Mahâwir…, hal. 188.

[16] Muhammad al-Ghazâlî, Nahw Tafsîr Mawdhû’î lî Suwar al-Qur`ân al-Karîm, Kairo: Dâr al-Syurûq, cet. VIII, 2005, hal. 6.

[17] Al-Ghazâlî, Nahw Tafsîr…, Kairo: Dâr al-Syurûq, cet. VIII, 2005, hal. 7.

[18] Lihat al-Ghazâlî, Nahw Tafsîr…, hal. 11-25.

[19] Al-Ghazâlî, Nahw Tafsîr…, hal. 11.

[20] Al-Ghazâlî, Nahw Tafsîr…, hal. 14.

[21] Al-Ghazâlî, Nahw Tafsîr…, hal. 14.

[22] Al-Ghazâlî, Nahw Tafsîr…, hal. 14.

[23] Al-Ghazâlî, Nahw Tafsîr…, hal. 18.

[24] Al-Ghazâlî, Nahw Tafsîr…, hal. 20. Terkait masalah ini baca juga buku karya Muhammad al-Ghazâlî lainnya, Qadhâyâ al-Mar`ah, Bayna al-Taqâlîd al-Râkidah wa al-Wâfidah, Kairo: Dâr al-Syurûq, cet. II, 1990; Musykilât fî Tharîq al-Hayâh al-Islâmiyah, Kairo: Dâr al-Basyîr, tt., hal. 57-60, dan al-Sunnah al-Nabawiyah bayn Ahl al-Fiqh wa ahl al-Hadîts, Kairo: Dâr al-Syurûq, cet. X, 1992, hal. 43-65.

[25] Al-Ghazâlî, Nazharât fî al-Qur`ân, Kairo: Nahdhah Mishr, cet. VI, 2005, hal. 9.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: