<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Abad Badruzaman &#187; Resensi</title>
	<atom:link href="http://abualitya.wordpress.com/category/resensi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abualitya.wordpress.com</link>
	<description>Berpikir Positif, Bersikap &#38; Bertindak Bijak</description>
	<lastBuildDate>Thu, 08 Oct 2009 03:10:42 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='abualitya.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/76049e44a0f9a72ebe3db3288a217174?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Abad Badruzaman &#187; Resensi</title>
		<link>http://abualitya.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://abualitya.wordpress.com/osd.xml" title="Abad Badruzaman" />
		<item>
		<title>Menyelami Keagungan Muhammad Saw.</title>
		<link>http://abualitya.wordpress.com/2008/12/09/menyelami-keagungan-muhammad-saw/</link>
		<comments>http://abualitya.wordpress.com/2008/12/09/menyelami-keagungan-muhammad-saw/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Dec 2008 00:50:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abualitya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abualitya.wordpress.com/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[Judul: Al-Qur`an Berjalan, Potret Keagungan Manusia Agung
Penulis: DR. ‘A’id ‘Abdullah al-Qarni
Penerjemah: Abad Badruzaman
Penerbit: Sahara Publishers, Jakarta
Cetakan: I, 2004
Tebal: 399 halaman.
Membincang pribadi Muhammad ibarat menyelami lautan nan luas. Mutiara yang ditemukan di dasarnya hanyalah satu dari sekian mutiara yang jumlahnya tak terhingga. Keindahan dasar laut yang terlihat di sekitar penyelam hanyalah satu dari berjuta panorama lautan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&blog=3401246&post=111&subd=abualitya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Judul: <em>Al-Qur`an Berjalan, Potret Keagungan Manusia Agung</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Penulis: DR. ‘A’id ‘Abdullah al-Qarni</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Penerjemah: Abad Badruzaman</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Penerbit: Sahara Publishers, Jakarta</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Cetakan: I, 2004</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:small;">Tebal: 399 halaman.<span id="more-111"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Membincang pribadi Muhammad ibarat menyelami lautan nan luas. Mutiara yang ditemukan di dasarnya hanyalah satu dari sekian mutiara yang jumlahnya tak terhingga. Keindahan dasar laut yang terlihat di sekitar penyelam hanyalah satu dari berjuta panorama lautan yang mahakaya. Membicarakan manusia agung bernama Muhammad Saw. ibarat kerkelana di hamparan sahara yang teramat luas. Sebelum seluruh hamparan sahara terjelajahi, si pengelana mungkin sudah tutup usia. Segala kekaguman dan pujian kita tentang sosok Muhammad tak lebih dari sebutir mutiara di antara mutiara-mutiara keagungan beliau yang tak terhingga jumlahnya. Atau ibarat sebutir pasir di tengah hamparan sahara kemuliaan beliau yang tak berbatas. Semua shalawat dan salam yang dipanjatkan umat Islam untuk Muhammad Saw. tidak akan mampu memenuhi hak beliau untuk dipuji, diagungkan dan dimuliakan. Betapa tidak, Allah dan malaikat-Nya sekali pun memanjatkan shalawat untuk pribadi agung itu (QS. Al-Ahzâb [33] 56). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:28.35pt;line-height:200%;text-align:left;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Banyak karya yang mengupas sosok dan keagungan Muhammad Saw. Salah satunya adalah buku berjudul <em>Al-Qur`an Berjalan; Potret Keagungan Manusia Agung.</em> Secara umum, buku ini memberi tekanan pada aspek akhlak dan budi perkerti. Mengapa demikian? Sebab, seperti diisyaratkan oleh penulisnya, predikat apapun yang disandangkan kepada beliau, pada akhirnya akan bermuara pada sosok kepribadian dan keagungan akhlaknya (hlm. 15-26). Penulis juga ingin menggiring pembaca kepada pemahaman bahwa akhlak mulia dan budi pekerti luhur yang dimiliki oleh baginda Rasulullah merupakan kunci sukses dakwah yang diemban oleh beliau (hlm. 309-370). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:28.35pt;line-height:200%;text-align:left;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Beberapa sampel kemuliaan pribadi Rasulullah Saw., baik pra kenabian, menjelang kenabian, maupun masa-masa awal dakwah beliau di Mekah, dibeberkan dengan gamblang dan cukup “menggugah”. Dengan gaya bahasa yang lebih mirip bahasa ceramah, penulis mengajak pembaca untuk “hidup” bersama Rasulullah menjalani hari-harinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:28.35pt;line-height:200%;text-align:left;margin:0;"><span style="line-height:200%;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dengan cukup lugas dan tajam penulis mengupas sejarah Muhammad Saw. setelah diangkat menjadi nabi dan rasul, tepatnya kisah perjuangan beliau pada masa-masa awal di Mekah yang dapat dibilang sebagai masa-masa sulit dalam perjalanan dakwah Islam. Masa di mana penentangan, cercaan, cemoohan, bahkan gangguan fisik tak jarang diperagakan oleh kaum musyrik Mekah. Yaitu orang-orang yang dulu, sebelum Muhammad menyatakan diri sebagai utusan Allah, kerap memuji beliau akan keindahan dan kemuliaan akhlaknya. Tentu mereka masih ingat ketika menjuluki Muhammad sebagai <em>al-Amîn </em>(orang yang jujur terpercaya). Namun begitulah, para <em>penggede</em> Quraisy dan pentolan kaum musyrik Mekah lebih melihat Muhammad sebagai ancaman ketimbang pembawa kebaikan bagi mereka. Ya, bagi mereka Muhammad Saw. memang ancaman, karena beliau mengobarkan perlawanan terhadap segala bentuk penyimpangan akidah dan menyatakan pemberontakan terhadap tatanan sosial yang zalim dan eksploitatif (hlm. 107). Tema seruan Muhammad ini sungguh menyentuh hati “kaum kusam” Mekah, yakni para budak dan mereka yang teraniaya hak-hak hidupnya. Tak heran jika kemudian kebanyakan pengikut awal Muhammad berasal dari kalangan hamba sahaya dan orang-orang yang secara sosial-ekonomi terhitung <em>wong cilik</em> (hlm. 167).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:28.35pt;line-height:200%;text-align:left;margin:0;"><span style="line-height:200%;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Penulis sadar, membincang kisah dakwah Muhammad Saw. sama dengan memunculkan kisah perjuangan beliau pada dua peride dakwahnya, yakni periode Mekah dan Madinah. Karena itu, setelah mengajak pembaca merenungkan perjuangan Muhammad di Mekah, penulis “membawa” pembaca ke Madinah. Di sini penulis memunculkan kisah pengepungan kota Madinah (perang <em>Ahzâb</em>) seraya menujukkan keberanian Nabi bersama para sahabat bersatu bahu-membahu melawan kekuatan koalisi kaum kafir yang terdiri dari orang-orang Yahudi, Bani Fizarah dan Bani Ghathfan. Kisah pengepungan ini berakhir dengan kemenangan di pihak kaum muslimin (hlm. 213).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:28.35pt;line-height:200%;text-align:left;margin:0;"><span style="line-height:200%;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Namun tidak semua lembaran dakwah Madinah berisi kisah kemenangan. Perang Uhud merupakan salah satu kisah sedih yang tidak mungkin dilupakan dalam sejarah perjuangan Islam dalam menegakkan kebenaran. Perang ini dikupas dengan cukup mendalam. Kedalaman kupasannya disempurnakan dengan menampilkan beberapa hikmah dan pelajaran yang dapat dipetik dari perang yang berakhir dengan kekalahan kaum muslimin tersebut (hlm. 193). </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:28.35pt;line-height:200%;text-align:left;margin:0;"><span style="line-height:200%;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Membincang kisah Nabi Muhammad Saw. tidak akan sempurna jika yang ditinjau hanya aspek dakwahnya saja. Maka, dengan tepat penulis membidik sosok Muhammad Saw. pada sisi akhlak dan perilakunya. Dalam tinjauan penulis, setidaknya ada enam butir keunggulan akhlak Muhammad Saw., yaitu ketawadhuan, kemurahan hati, kesabaran, kesantunan, keberanian, dan kezuhudan (hlm. 263-270).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:28.35pt;line-height:200%;text-align:left;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="line-height:200%;">Jika diakui bahwa Muhammad adalah pribadi agung, lalu apa sebenarnya rahasia sukses dakwah yang diembannya? Penulis nampaknya sadar bahwa pertanyaan semacam itu pasti muncul ketika nama Muhammad Saw. dibicarakan. Menurut </span>penulis, ada sepuluh kunci sukses dakwah yang diemban Rasulullah Saw., yaitu:<em> </em>(1)<em> </em>bekal tauhid yang benar dan tawakkal yang mantap; (2)<em><span style="line-height:200%;"> </span></em><span style="line-height:200%;">semangat yang membaja (</span><em><span style="line-height:200%;">ath-thumûh</span></em><span style="line-height:200%;">); (3)</span><em> </em>komitmen dan keteguhan (<em>tsabât</em>); (4)<em> </em>mengenyampingkan kenikmatan duniawi; (5)<em> </em>pengorbanan dan perjuangan yang lestari; (6)<em><span style="line-height:200%;"> </span></em><span style="line-height:200%;">menjadikan ibadah sebagai bekal perjuangan; (7) </span>menempuh metode yang benar dan tepat; (8)<em> </em>mengamalkan apa yang diserukan; (9) proporsional dalam memanfaatkan potensi; (10) menjanjikan ridha Allah dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi kepada para pengikutnya (hlm. 309-370). <span style="line-height:200%;">Di sini </span>penulis agaknya hendak menjelaskan bahwa kegungan akhlak dan keluhuran pribadi Muhammad Saw. mengejewantah dalam sepuluh perilaku di atas yang kesemuanya merupakan kunci sukses dakwah yang diusung oleh beliau.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:28.35pt;line-height:200%;text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Wingdings;"><span style="font-size:small;">&amp;</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:28.35pt;line-height:200%;text-align:left;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Di samping sejumlah kelebihan yang ada, buku ini memiliki beberapa titik lemah. Ketika membaca buku ini, pembaca akan mendapat kesan bahwa sebelum menjadi buku, semula ia merupakan kumpulan ceramah. Kesegaran dan retorika ceramah masih sangat kental. Kenyataan ini tentu bukan sepenuhnya tanggung jawab pengarang. Penyunting bahasalah yang mesti cakap mengolah bahasa lisan menjadi bahasa tulisan.<span>  </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:28.35pt;line-height:200%;text-align:left;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Ketika berbicara tentang perang Uhud dan perang Ahzab, kita mengharapkan kajian kesejarahan lebih dikedepankan dan mendapat porsi yang dominan ketimbang kajian akhlak. Namun yang kita dapatkan adalah sebaliknya. Meski sejak awal penulis buku telah mengatakan bahwa tujuan dari buku ini adalah menunjukkan keagungan pribadi dan keluhuran akhlak Rasulullah, namun kiranya ketika pembahasan berkaitan langsung dengan aspek kesejarahan seperti kisah peperangan dalam Islam, maka—tanpa mengenyampingkan kajian akhlak—porsi kajian historis hendaknya lebih mengemuka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:28.35pt;line-height:200%;text-align:left;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Bahwa sosok yang dibicakan oleh buku ini adalah manusia agung yang layak dipuji dan dimuliakan, tak dapat dibantah. Tapi persoalannya, pembaca tentu tidak ingin buku yang dibacanya lebih mirip buku kumpulan puji-pujian seperti kitab <em>al-Barjanzi </em>atau <em>qasidah Burdah</em>. Sementara itu, buku ini terasa agak berlebihan ketika memuji dan menyanjung tokoh sentral yang sedang dibicarakannya. Pujian bukan tidak perlu, tapi yang lebih penting lagi adalah mengaitkan setiap pembahasan tentang ketokohan dan kebesaran Muhammad Saw. dengan realitas kekinian umat beliau. Ketika memaparkan <span style="line-height:200%;">enam sisi kepribadian Muhammad (hlm. 263-270) misalnya, kita menginginkan pemaparan yang mengaitkan langsung keenam sisi tersebut dengan sikap dan pola perilaku umat Islam dewasa ini yang kebanyakannya jauh dari nilai-nilai ideal kenabian. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:28.35pt;line-height:200%;text-align:left;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em><span style="line-height:200%;">‘Ala kulli hal</span></em><span style="line-height:200%;">, buku ini setidaknya dapat menjadi bahan bacaan sekaligus bahan renungan tentang keagungan akhlak dan keluhuran pribadi Muhammad Saw., melengkapi bacaan dengan tema serupa yang telah ada. </span></span></span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Wallâhu a’lam </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abualitya.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abualitya.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abualitya.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abualitya.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abualitya.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abualitya.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abualitya.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abualitya.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abualitya.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abualitya.wordpress.com/111/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&blog=3401246&post=111&subd=abualitya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abualitya.wordpress.com/2008/12/09/menyelami-keagungan-muhammad-saw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/af2bf86b31ef30cccc6bf9168f250ae4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Islam Sebagai Teologi Pembebasan</title>
		<link>http://abualitya.wordpress.com/2008/09/01/islam-sebagai-teologi-pembebasan/</link>
		<comments>http://abualitya.wordpress.com/2008/09/01/islam-sebagai-teologi-pembebasan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Sep 2008 08:00:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abualitya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abualitya.wordpress.com/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[Yanuar Arifin *) (09/06/2008 &#8211; 04:15 WIB)
Jurnalnet.com (Jogja):
Judul Buku : Teologi Kaum Tertindas
Penulis : Abad Badruzaman
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan : I, Desember 2007
Tebal : xvii + 248 Halaman
Dalam dataran histories-empiris, kehadiran Islam di bumi Arab pada satu sisi merupakan risalah pentauhidan, pengesaan Tuhan sebagai sesembahan Tunggal. Risalah pentauhidan ini disampaikan oleh seorang manusia sempurna, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&blog=3401246&post=71&subd=abualitya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a class="penulis">Yanuar Arifin *) (09/06/2008 &#8211; 04:15 WIB)</a><br />
<a class="isiberita"><strong>Jurnalnet.com (Jogja):</strong><br />
Judul Buku : Teologi Kaum Tertindas<br />
Penulis : Abad Badruzaman<br />
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta<br />
Cetakan : I, Desember 2007<br />
Tebal : xvii + 248 Halaman</a></p>
<p>Dalam dataran histories-empiris, kehadiran Islam di bumi Arab pada satu sisi merupakan risalah pentauhidan, pengesaan Tuhan sebagai sesembahan Tunggal. Risalah pentauhidan ini disampaikan oleh seorang manusia sempurna, Muhammad kepada masyarakat Arab Jahiliyah yang telah menciptakan objek sesembahan baru berupa patung-patung berhala seperti Latta dan Uzza. Di sisi lainnya, kehadiran Islam di tengah masyarakat Arab Jahiliyah juga diyakini sebagai awal lahirnya risalah pembebasan manusia dari ketertindasan, kebodohan, perbudakan dan diskriminasi struktur sosial di masyarakat Arab Jahiliyah.<span id="more-71"></span></p>
<p>Maka, kehadiran Muhammad di bumi Arab dengan risalah keislamannya telah berhasil membawa perubahan, baik dalam dataran teologis tauhid yang berwujud pengesaan Tuhan, maupun teologi sosial yang berimplikasi pada perubahan system struktur masyarakat Arab Jahiliyyah.</p>
<p>Buku karya Abad Badruzaman berjudul &#8220;Teologi Kaum Tertindas&#8221; ini adalah salah satu karya yang mencoba mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an terkait dengan persoalan teologis, baik tauhid maupun sosial. Berangkat dari pemahaman akan banyaknya ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang kaum mustadh’afin, kaum tertindas dan termarjinalkan menginspirasi penulis untuk mengelaborasikannya dengan pendekatan keindonesiaan. Sehingga, ayat-ayat yang semula hanya dapat dipahami sebagai teks yang bersifat temporal dan melangit dapat diterjemahkan dan diaplikasikan dalam konteks kekinian dan keindonesiaan.</p>
<p>Secara umum pembahasan buku ini terdiri atas dua bagian pokok. Pertama, berupa pembahasan tentang ayat-ayat mustadh’afin, baik ayat-ayat yang secara eksplisit menyebut kata mustadh’afin dalam berbagai bentuknya maupun ayat-ayat yang hanya menggambarkan substansinya semata. Bagian kedua berupa pembahasan khusus tentang kaum mustadh’afin dalam bidang ekonomi. Dengan demikian, buku ini menjadi sebuah kajian tematik berkenaan dengan ayat-ayat mustadh’afin yang memang banyak dibicarakan dalam Al-Qur’an.</p>
<p>Sementara itu, penggunaan pendekatan keindonesiaan yang dilakukan penulis pada dasarnya dilatar belakangi oleh adanya keyakinan, lebih tepatnya suatu pemahaman yang mengakar di tengah umat Islam. Keyakinan ini berhubungan dengan anggapan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an merupakan teks yang sempurna. Artinya, ayat-ayat Al-Qur’an mampu meneropong segala zaman ataupun ajarannya dipercaya akan mampu diaplikasikan dimanapun dan sampai kapanpun. Sejalan dengan pemikiran penulis, Alm. Nur Cholis Najib berpendapat bahwa substansi ajaran Islam memang relevan dengan setiap zaman dan di setiap tempat.</p>
<p>Dalam konteks inilah, umat Islam yang memiliki perspektif demikian belum memahami dengan baik akan dimensi temporal teks-teks Al-Qur’an. Dengan kata lain bahwa ayat-ayat Al-Qur’an seharusnya juga dipahami sebagai teks yang turunnya menyesesuaikan dengan kondisi dan situasi pada saat itu. Teks tersebut adalah jawaban yang memiliki relevansi dengan problematika masyarakat Arab di masa Muhammad.</p>
<p>Maka, ayat-ayat Al-Qur’an harus ditafsirkan ulang dengan menggunakan pendekatan-pendekatan di masa kini. Oleh karenanya, Abad Badruzaman melihat bahwa sangat penting adanya sebuah pendekatan keindonesiaan untuk mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an agar sesuai dengan problematika yang dihadapi umat Islam, khususnya di Indonesia.</p>
<p>Sebagaimana telah disinggung, penulis buku ini hanya mengkhususkan kajiannya pada ayat-ayat yang berbicara tentang persoalan teologis, baik tauhid dan sosial. Terutama pada persoalan yang kedua, menurut penulis, fakir miskin, anak yatim, peminta-minta dan hamba sahaya adalah kaum mustadh’afin yang berarti orang-orang yang dianggap lemah, dilemahkan atau tertindas. Istilah mustadh’afin muncul sebagai akibat dari proses istidh’af (penghinaan, pelemahan atau penindasan). Proses ini kemudian menjadi salah satu prolematika yang harus dihadapi oleh umat muslim dalam berbagai aspek kehidupannya.</p>
<p>Penggunaan istilah mustadh’afin sendiri menjadi tema pokok yang diangkat oleh Al-Qur’an sebagai seruan untuk membebaskan manusia dari beban ataupun kesulitan ekonomi yang menjerat mereka. Rupanya, ayat-ayat Al-Qur’an yang terkait dengan permasalahan ini tidak hanya berupa teks-teks naratif informative.</p>
<p>Lebih dari itu, Al-Qur’an juga menyertakan solusi atas problematika yang ada. Solusi yang ditawarkan Al-Qur’an pada gilirannya sejalan dengan risalah keislaman itu sendiri. Al-Qur’an yang merupakan sumber utama dari teks-teks ajaran Islam kemudian menguatkan stereotip bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam semesta.</p>
<p>Dalam konteks keindonesiaan, menurut Abad Badruzaman, solusi Al-Qur’an atas problematika kemiskinan, krisis ekonomi tidak akan dapat diaplikasikan dengan baik apabila pemerintah tidak mengambil bagian di dalamnya. Bagaimanapun, problematika yang begitu komplek di negeri ini mewajibkan seluruh elemen, baik pemerintah maupun rakyat untuk selalu menjalin kerjasama dalam mengatasi permasalahan tersebut.</p>
<p>Relevansinya bertemali dengan seruan Al-Qur’an yang memerintahkan kepada rakyat suatu Negara untuk selalu mentaati perintah penguasa selama dalam konteks kebenaran. Namun, solusi yang diberikan Al-Qur’an tidak akan berjalan efektif selama kedua elemen tersebut ; penguasa dan rakyat, tidak pernah menemukan titik temu. Penguasa bertindak lalim dengan mengkorupsi uang rakyatnya, sementara itu rakyatnya akan terus membangkang mereka dan tetap hidup dalam jerat kemiskinan.</p>
<p>Melalui buku ini, penulis sangat berharap agar problematika bangsa Indonesia, yakni krisis ekonomi yang membelenggu negeri ini selama 1 dekade terakhir dapat segera menemukan solusinya. Dan solusi tersebut, menurut penulis, hanya dapat ditemukan apabila umat mau kembali merujuk pada teks-teks Al-Qur’an. Kehadiran buku ini setidaknya menjadi salah satu usaha seorang Abad Badruzzaman dalam rangka pencarian solusi problematik yang ada dalam Al-Qur’an itu.</p>
<p>Selain itu, buku ini diharapkan juga dapat memperkaya khazanah keilmuan kita, khususnya dalam bidang ilmu tafsir mengingat Indonesia masih belum banyak melahirkan para ahli ilmu tafsir. Akhirnya, buku ini sangat menarik untuk dijadikan sumber teks kajian keilmuan tafsir yang tematik sesuai dengan sesuai dengan pengambilan objek kajian buku ini yang cenderung tematik.***</p>
<p><em>*) Penulis adalah Peneliti pada Hasyim Asy’ari Institute dan Center For Developing Islamic Education (CDIE) Yogyakarta.<br />
</em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abualitya.wordpress.com/71/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abualitya.wordpress.com/71/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abualitya.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abualitya.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abualitya.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abualitya.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abualitya.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abualitya.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abualitya.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abualitya.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abualitya.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abualitya.wordpress.com/71/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&blog=3401246&post=71&subd=abualitya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abualitya.wordpress.com/2008/09/01/islam-sebagai-teologi-pembebasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/af2bf86b31ef30cccc6bf9168f250ae4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hikmah Isra Mi’raj Nabi SAW</title>
		<link>http://abualitya.wordpress.com/2008/05/06/hikmah-isra-mi%e2%80%99raj-nabi-saw/</link>
		<comments>http://abualitya.wordpress.com/2008/05/06/hikmah-isra-mi%e2%80%99raj-nabi-saw/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 May 2008 02:05:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abualitya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abualitya.wordpress.com/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&#38;menu=news_view&#38;news_id=9945, 09/08/2007  
Judul : Kisah &#38; Hikmah Mikraj Rasulullah
Penulis : Imam al-Qusyairi
Penerjemah : Dr. Abad Badruzaman, Lc
Penerbit : Serambi, Jakarta
Cetakan : Pertama 2007
Tebal : 187 halaman
Peresensi : Lukman Santoso Az*
Momentum Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa di Palestina kemudian naik ke Sidratul Muntaha adalah peristiwa yang sangat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&blog=3401246&post=28&subd=abualitya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:8pt;color:#ff9900;">Sumber: </span><span style="font-size:8pt;color:#000000;"><a href="http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&amp;menu=news_view&amp;news_id=9945">http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&amp;menu=news_view&amp;news_id=9945</a>, <span style="color:#ff9900;">09/08/2007</span><span style="font-size:8pt;color:#000000;font-family:'Calibri','sans-serif';"><span>  </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#000000;">Judul : Kisah &amp; Hikmah Mikraj Rasulullah<br />
Penulis : Imam al-Qusyairi<br />
Penerjemah : Dr. Abad Badruzaman, Lc<br />
Penerbit : Serambi, Jakarta<br />
Cetakan : Pertama 2007<br />
Tebal : 187 halaman<br />
Peresensi : Lukman Santoso Az*</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:8pt;color:#000000;">Momentum Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa di Palestina kemudian naik ke Sidratul Muntaha adalah peristiwa yang sangat fenomenal dalam sejarah umat Islam. Mengapa demikian? Karena dari peristiwa inilah Nabi Muhammad SAW memperoleh perintah ibadah wajib, yakni sholat lima waktu yang langsung dari Allah SWT.<span id="more-28"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:8pt;color:#000000;">Perintah sholat ini kemudian menjadi ibadah wajib bagi setiap umat Islam dan memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan ibadah-ibadah wajib lainnya. Sehingga, dalam konteks spiritual-imaniah maupun perspektif rasional-ilmiah, Isra’ Mi’raj merupakan kajian yang tak kunjung kering inspirasi dan hikmahnya bagi kehidupan umat beragama (Islam).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:8pt;color:#000000;">Bersandar pada alasan inilah, Imam Al-Qusyairi yang lahir pada 376 Hijriyah, melalui buku yang berjudul asli ‘<em>Kitab al-Mikraj</em>’ ini, berupaya memberikan peta yang cukup komprehensif seputar kisah dan hikmah dari perjalanan agung Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, beserta telaahnya. Dengan menggunakan sumber primer, berupa ayat-ayat Al-Quran dan hadist-hadits shahih, Imam al-Qusyairi dengan cukup gamblang menuturkan peristiwa fenomenal yang dialami Nabi itu dengan runtut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:8pt;color:#000000;">Selain itu, buku ini juga mencoba mengajak pembaca untuk menyimak dengan begitu detail dan mendalam kisah sakral Rasulullah SAW, serta rahasia di balik peristiwa luar biasa ini, termasuk mengenai mengapa mikraj di malam hari? Mengapa harus menembus langit? Apakah Allah berada di atas? Mukjizatkah mikraj itu hingga tak bisa dialami orang lain? Ataukah ia semacam wisata ruhani Rasulullah yang patut kita teladani? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:8pt;color:#000000;">Bagaimana dengan mikraj para Nabi yang lain dan para wali? Bagaimana dengan mikraj kita sebagai muslim? Serta apa hikmahnya bagi kehidupan kita? Semua dibahas secara gamblang dalam buku ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:8pt;color:#000000;">Dalam pengertiannya, Isra’ Mi&#8217;raj merupakan perjalanan suci, dan bukan sekadar perjalanan &#8220;wisata&#8221; biasa bagi Rasul. Sehingga peristiwa ini menjadi perjalanan bersejarah yang akan menjadi titik balik dari kebangkitan dakwah Rasulullah SAW. John Renerd dalam buku ”<em>In the Footsteps of Muhammad: Understanding the Islamic Experience</em>,” seperti pernah dikutip Azyumardi Azra, mengatakan bahwa Isra Mi&#8217;raj adalah satu dari tiga perjalanan terpenting dalam sejarah hidup Rasulullah SAW, selain perjalanan hijrah dan Haji Wada. Isra Mi&#8217;raj, menurutnya, benar-benar merupakan perjalanan heroik dalam menempuh kesempurnaan dunia spiritual.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:8pt;color:#000000;">Jika perjalanan hijrah dari Mekah ke Madinah pada 662 M menjadi permulaan dari sejarah kaum Muslimin, atau perjalanan Haji Wada yang menandai penguasaan kaum Muslimin atas kota suci Mekah, maka Isra Mi&#8217;raj menjadi puncak perjalanan seorang hamba (<em>al-abd</em>) menuju sang pencipta (<em>al-Khalik</em>). Isra Mi&#8217;raj adalah perjalanan menuju kesempurnaan ruhani (<em>insan kamil</em>). Sehingga, perjalanan ini menurut para sufi, adalah perjalanan meninggalkan bumi yang rendah menuju langit yang tinggi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:8pt;color:#000000;">Inilah perjalanan yang amat didambakan setiap pengamal tasawuf. Sedangkan menurut Dr Jalaluddin Rakhmat, salah satu momen penting dari peristiwa Isra Mi&#8217;raj yakni ketika Rasulullah SAW &#8220;berjumpa&#8221; dengan Allah SWT. Ketika itu, dengan penuh hormat Rasul berkata, &#8220;<em>Attahiyatul mubaarakaatush shalawatuth thayyibatulillah</em>&#8220;; &#8220;Segala penghormatan, kemuliaan, dan keagungan hanyalah milik Allah saja&#8221;. Allah SWT pun berfirman, &#8220;<em>Assalamu&#8217;alaika ayyuhan nabiyu warahmatullahi wabarakaatuh</em>&#8220;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:8pt;color:#000000;">Mendengar percakapan ini, para malaikat serentak mengumandangkan dua kalimah syahadat. Maka, dari ungkapan bersejarah inilah kemudian bacaan ini diabadikan sebagai bagian dari bacaan shalat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:8pt;color:#000000;">Selain itu, Seyyed Hossein Nasr dalam buku ‘<em>Muhammad Kekasih Allah</em>’ (1993) mengungkapkan bahwa pengalaman ruhani yang dialami Rasulullah SAW saat Mi&#8217;raj mencerminkan hakikat spiritual dari shalat yang di jalankan umat islam sehari-hari. Dalam artian bahwa shalat adalah mi&#8217;raj-nya orang-orang beriman. Sehingga jika kita tarik benang merahnya, ada beberapa urutan dalam perjalanan Rasulullah SAW ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-size:8pt;color:#000000;">Pertama</span></em><span style="font-size:8pt;color:#000000;">, adanya penderitaan dalam perjuangan yang disikapi dengan kesabaran yang dalam. <em>Kedua</em>, kesabaran yang berbuah balasan dari Allah berupa perjalanan Isra Mi&#8217;raj dan perintah shalat. Dan ketiga, shalat menjadi senjata bagi Rasulullah SAW dan kaum Muslimin untuk bangkit dan merebut kemenangan. <em>Ketiga</em> hal diatas telah terangkum dengan sangat indah dalam salah satu ayat Al-Quran, yang berbunyi &#8220;<em>Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (Yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya</em>.&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:8pt;color:#000000;">Mengacu pada berbagai aspek diatas, buku setebal 178 halaman ini setidaknya sangat menarik, karena selain memberikan bingkai yang cukup lengkap tentang peristiwa Isra’ mikraj Nabi saw, tetapi juga memuat mi’rajnya beberapa Nabi yang lain serta beberapa wali. Kemudian kelebihan lain dalam buku ini adalah dipaparkan juga mengenai kisah Mikrajnya Abu Yazid al-Bisthami. Mikraj bagi ulama kenamaan ini merupakan rujukan bagi kondisi, kedudukan, dan perjalanan ruhaninya menuju Allah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:8pt;color:#000000;">Ia menggambarkan rambu-rambu jalan menuju Allah, kejujuran dan ketulusan niat menempuh perjalanan spiritual, serta keharusan melepaskan diri dari segala sesuatu selain Allah. Maka, sampai pada satu kesimpulan, bahwa jika perjalanan hijrah menjadi permulaan dari sejarah kaum Muslimin, atau perjalanan Haji Wada yang menandai penguasaan kaum Muslimin atas kota suci Mekah, maka Isra Mi&#8217;raj menjadi &#8220;puncak&#8221; perjalanan seorang hamba menuju kesempurnaan ruhani.</span></p>
<p><span style="font-size:8pt;color:#000000;">*<em>Lukman santoso Az, Penikmat Buku dan peneliti Pada Centre for Studies of Religion and State (CSRS) Yogyakarta</em>.</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abualitya.wordpress.com/28/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abualitya.wordpress.com/28/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abualitya.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abualitya.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abualitya.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abualitya.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abualitya.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abualitya.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abualitya.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abualitya.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abualitya.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abualitya.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&blog=3401246&post=28&subd=abualitya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abualitya.wordpress.com/2008/05/06/hikmah-isra-mi%e2%80%99raj-nabi-saw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/af2bf86b31ef30cccc6bf9168f250ae4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Teologi Kaum Tertindas: Kajian Tematik Ayat-ayat Mustadh’afin</title>
		<link>http://abualitya.wordpress.com/2008/04/15/resensi-bukuku/</link>
		<comments>http://abualitya.wordpress.com/2008/04/15/resensi-bukuku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Apr 2008 02:43:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abualitya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abualitya.wordpress.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Sumber:  http://gp-ansor.org/?p=3980
Judul buku : Teologi Kaum Tertindas: Kajian Tematik Ayat-ayat Mustadh’afin dengan Pendekatan Keindonesiaan
Penulis : Abad Badruzaman
Penerbit : Pustaka Pelajar Yogyakarta
Cetakan : 1, Desember 2007
Tebal : xvii + 248 halaman

Oleh: Muhammadun AS, Pengelola Perpustakaan Al-Hikmah Pati.
Setiap Nabi dan Rasul hadir didunia bukan sekedar membawa wahyu berupa ibadah ritual. Mereka hadir untuk membebaskan masyarakat dari ketimpangan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&blog=3401246&post=23&subd=abualitya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><span><span style="font-size:small;">Sumber: <span> </span>http://gp-ansor.org/?p=3980</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:small;">Judul buku : Teologi Kaum Tertindas: Kajian Tematik Ayat-ayat Mustadh’afin dengan Pendekatan Keindonesiaan<br />
Penulis : Abad Badruzaman<br />
Penerbit : Pustaka Pelajar Yogyakarta<br />
Cetakan : 1, Desember 2007<br />
Tebal : xvii + 248 halaman</span></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<div style="text-align:justify;"><span><span style="font-size:small;">Oleh: Muhammadun AS, Pengelola Perpustakaan Al-Hikmah Pati.</span></span></div>
<div><span style="font-size:small;"><span>Setiap Nabi dan Rasul hadir didunia bukan sekedar membawa wahyu berupa ibadah ritual. </span><span>Mereka hadir untuk membebaskan masyarakat dari ketimpangan dan ketertindasan sosial. Karena komitmen pemihakan terhadap kaum tertindas, tidak salah kalau mereka berhadapan dengan para penguasa yang despotik. Tetapi mereka tidak menyerah. Justru mereka semakin gigih untuk memperjuangkan keyakinan dalam mengentaskan kaum tertindas dari despotisme kekuasaan. Muhammad sampai di usir dari Makkah. Musa sampai diburu-buru Fir’aun. Ibrahim akan dipenggal dan dibakar oleh Namrud, walaupun akhirnya selamat. Isa dikejar-kejar oleh penguasa suku. Karena kegigihan dan keikhlasan ditengah despotisme kekuasaan, mereka justru menjadi Rasul terpilih ( ulu al-azmi) yang spirit perjuangannya selalu dikenang dan menjadi teladan pejuang kemanusiaan dalam menggelorakan perlawanan atas penindasan.</span></span></div>
<p style="text-align:justify;"><span><span style="font-size:small;"><span id="more-23"></span>Pembelaan para Nabi dan Rasul terhadap kaum tertindas inilah yang coba dianalisis dalam buku ” Teologi Kaum Tertindas”. Abad Badruzaman melihat bahwa penindasan dan despotisme kekuasaan merupakan musuh utama Nabi dan Rasul. Muhammad telah membebaskan kaum lemah Arab dari despotisme suku Arab. Kaum budak, kaum miskin, dan kaum perempuan diangkat harkat dan martabatnya oleh Muhammad. Mereka kemudian menjadi orang yang tangguh, dan menyerahkan hidupnya untuk menopang perjuangan Nabi dalam membebaskan kaum Arab dari penindasan social. Dari sini Abad melihat bahwa kaum tertindas sebenarnya mempunyai potensi sendiri yang mampu membebakan diri mereka dari ketertindasan social.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span><span style="font-size:small;">Perintah membebaskan diri sendiri ini telah ditancapkan dalam firman Allah dalam QS. Al-Nisa’ (4: 97). Dalam ayat ini Tuhan memberikan spirit untuk melawan penindasan social. Bahkan Tuhan melihat bahwa orang yang mempunyai kekuatan, tetapi tidak mau melakukan perlawanan atas penindasan dianggap sebagai orang zalim (berbuat aniaya) terhadap dirinya sendiri. Tugas Nabi dan para pejuang kemanusiaan adalah memberikan spirit perjuangan untuk melawan penindasan, dan sekaligus “turun gunung” menggugat despotisme kekuasaan (hal. 81). Karena spirit inilah, Asghar Ali Engineer melihat Islam sebagai agama pembebas dan Muhammad sebagai Nabi pembebas. Bagi Engineer, nabi sukses melaksanakan tugas profetiknya dalam membebaskan kaum tertindas Arab, dan bahkan Nabi menjadi teladan utama dunia dalam memangkas penindasan.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:small;"><span>Dalam kajian tematiknya, penulis menganalisis bahwa kaum tertindas yang dijelaskan dalam al-Quran antara lain; fakir, miskin, anak yatim, peminta-minta, dan hamba sahaya (hal. 102). Mereka, dalam apapun, termasuk konteks ke-Indonesia-an, adalah kaum tertindas. </span><span>Ketertindasan bukan sekedar peminggiran ekonomi, tetapi juga peminggiran hak-hak social, hak politik, dan budaya. Kini, mereka hanya menjadi proposal seminar, diskusi, dan lokakarya. Cerita mereka adalah cerita kekalah ditengah cerita kemenangan kaum pemilik modal. Mereka hanya menjadi bahan tertawaan “takdir” yang dibuat oleh saudaranya sendiri. Inilah yang digugat dalam al-Quran, sehingga al-Quran bahkan membabtis mereka sebagai pendusta agama bagi yang menindas anak yatim dan tidak segera memberdayakan kaum miskin.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span><span style="font-size:small;">Bagaimana Nabi dengan spirit al-Quran membebaskan ketertindasan social? Pertama, mebangun semangat kerja. Dalam QS. 28: 77, dijelaskan bahwa manusia jangan sampai melupakan tugas-tugas kemanusiaan dalam menggali rizki Allah dibumi ditengah kesibukannya dalam mengabdi kepada Allah. Harus berimbang. Dengan begitu, maka harkat-martabat kemanusiaannya akan bisa tegak, dan sulit ditaklukkan oleh penindas. Kedua, mewajibkan umat Islam untuk membayar zakat. Dengan zakat inilah Nabi memutus kuasa kaum modal, sehingga orang kaya mau membagikan rizkinya kepada yang miskin.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span><span style="font-size:small;">Dengan zakat, Islam melihat agar harta tidak harta berputar ( dulatan) dan menumpuk dikalangan kaum kaya. Harta harus dibagi sesuai dengan aturan agama yang ditetapkan dalam kitab suci (hal. 137-139).<br />
Ketiga, mengharamkan riba. Nabi mengecam habis para pengedar riba, karena riba ini akan menjadi batu loncatan dalam mencekik kaum miskin yang kekuarangan modal untuk usaha. Riba merupakan manifetasi penindasan yang sangat kentara, terlebih ditengah lilitan krisis multidimensional. Keempat, mengharamkan monopoli dan menimbun harta. Praktek monopoli dan menimbun harta adalah bagian dari upaya mengekang sumber daya alam untuk disebarkan kepada public. Dengan monopoli dan menumbun harta, kaum kaya biasanya dengan seenaknya menentukan harga sesuai dengan keinginan nalar despotiknya. Siapa yang tercekik, pastilah kaum miskin yang merengek-rengek di pinggir jalan kepada kaum kaya yang berderet-deret mobilnya. Dan kelima, membudayakan infak dan shadaqoh. Bahkan al-Quran melihat bahwa orang akan mendapatkan kebaikan yang hakiki kalau orang itu mau menginfakkan sesuatu yang paling dicintainya (hal. 169-173).</span></span></p>
<p><span style="font-size:12pt;">Dalam analisis penulis, spirit membebaskan kaum terindas dapat dijalankan dalam konteks ke-Indonesia-an. Krisis berkepanjangan yang tak kunjung usai dan berbagai praktek penindasan social yang terus menyeruak diberbagai lapisan masyarakat perlu mendapatkan solusi strategis dari seluru komponen bangsa. </span><span style="font-size:12pt;">Umat Islam sebagai mayoritas bertanggungjawab mencipa solusi strategis dengan menyerap spirit perjuangan Nabi Muhammad sebagai terurai dalam buku ini, sehingga umat Islam tidak hanya sibuk dengan praktek ritual. Umat Islam dan umat beragama lainnya seharusnya menjadi tulang punggung dalam mengatasi krisis berkpenjangan sebagai manifestasi pewaris ajaran para Nabi yang luhur.</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abualitya.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abualitya.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abualitya.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abualitya.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abualitya.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abualitya.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abualitya.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abualitya.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abualitya.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abualitya.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abualitya.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abualitya.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&blog=3401246&post=23&subd=abualitya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abualitya.wordpress.com/2008/04/15/resensi-bukuku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/af2bf86b31ef30cccc6bf9168f250ae4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zam</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>