<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Abad Badruzaman</title>
	<atom:link href="http://abualitya.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abualitya.wordpress.com</link>
	<description>Berpikir Positif, Bersikap &#38; Bertindak Bijak</description>
	<lastBuildDate>Thu, 08 Oct 2009 03:10:42 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='abualitya.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/76049e44a0f9a72ebe3db3288a217174?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Abad Badruzaman</title>
		<link>http://abualitya.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Iman dan Kekuatan Jiwa</title>
		<link>http://abualitya.wordpress.com/2009/10/08/iman-dan-kekuatan-jiwa/</link>
		<comments>http://abualitya.wordpress.com/2009/10/08/iman-dan-kekuatan-jiwa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 03:08:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abualitya</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abualitya.wordpress.com/?p=163</guid>
		<description><![CDATA[Manusia memiliki harapan dan tujuan. Namun sering jalan menuju harapan dan tujuan itu panjang, penuh duri, sarat tantangan dan rintangan. Sebagian dari rintangan dan tantangan itu berasal dari alam dan sunnatullah, sebagian lainnya berasal dari manusia sendiri. Maka tak ada jalan selain terus berjuang dan bekerja supaya dapat mengalahkan berbagai tantangan dan rintangan itu. Winston [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&blog=3401246&post=163&subd=abualitya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Manusia memiliki harapan dan tujuan. Namun sering jalan menuju harapan dan tujuan itu panjang, penuh duri, sarat tantangan dan rintangan. Sebagian dari rintangan dan tantangan itu berasal dari alam dan sunnatullah, sebagian lainnya berasal dari manusia sendiri. Maka tak ada jalan selain terus berjuang dan bekerja supaya dapat mengalahkan berbagai tantangan dan rintangan itu. Winston Churcill mengatakan, “Jangan pernah menyerah, jangan pernah menyerah, jangan pernah, jangan pernah, dan jangan pernah.”<span id="more-163"></span></p>
<p>Manusia sangat memerlukan kekuatan yang dapat mengencangkan semangatnya, membimbing tangannya, menaklukkan berbagai tantangan, melumpuhkan aneka kesulitan dan menerangi jalan yang akan ditempuhnya. Kekuatan yang didambakan ini hanya ada di bawah naungan dan pelataran iman kepada Allah. Iman kepada Allah-lah yang memberi kita ruh kekuatan dan kekuatan ruh. Seorang Mukmin tidak mengharap selain karunia-Nya, tidak takut kecuali siksa-Nya dan tidak peduli kecuali terhadap-Nya. Seorang Mukmin akan kuat meski di tangannya tak ada senjata, kaya walau dalam lemarinya tidak ada emas dan perak, tegar meski perahu kehidupannya goyah dan dikepung ombak dari semua arah. Dengan imannya, ia lebih kuat dari laut, ombak dan angin. Dalam sebuah hadis dikatakan, &#8220;Jika kamu mengenal Allah dengan sebenar-benarnya maka dengan doamu gunung sekalipun pasti hilang.&#8221;</p>
<p>Kekuatan yang dimiliki oleh setiap individu merupakan sumber kekuatan masyarakat seluruhnya. Orang-orang yang kuat dan tegar melahirkan masyarakat yang kuat dan tegar, dan orang-orang yang lemah serta rapuh melahirkan masyarakat yang lemah dan rapuh. Orang-orang yang lemah tidak memiliki sifat setia kawan, tidak diperhitungkan lawan, tidak sanggup melahirkan kebangkitan, dan tidak mampu mengukir keagungan.</p>
<p>Kekuatan yang dimiliki seorang Mukmin berasal dari Allah yang kepada-Nya ia beriman dan bertawakal: &#8220;Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana&#8221; (QS. al-Anfâl/8: 49). Maha Perkasa; tidak akan menghinakan orang yang bertawakal kepada-Nya, Maha Bijaksana; tidak akan menyia-nyiakan orang yang berpegang dengan kebijaksanaan dan aturan-Nya.</p>
<p>يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ</p>
<p>Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal (QS. Âli &#8216;Imrân/3: 160).</p>
<p>Kita harus belajar kepada Nabi Hûd yang memiliki jiwa yang kokoh dalam menyampaikn risalah. Dalam perjuangannya menegakkan kebenaran di tengah kaum &#8216;Âd, Nabi Hûd menjadikan tawakal sebagai tameng perlindungan:</p>
<p>قَالُوا يَاهُودُ مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ وَمَا نَحْنُ بِتَارِكِي ءَالِهَتِنَا عَنْ قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ(53)إِنْ نَقُولُ إِلَّا اعْتَرَاكَ بَعْضُ ءَالِهَتِنَا بِسُوءٍ قَالَ إِنِّي أُشْهِدُ اللَّهَ وَاشْهَدُوا أَنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ(54)مِنْ دُونِهِ فَكِيدُونِي جَمِيعًا ثُمَّ لَا تُنْظِرُونِ(55)إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلَّا هُوَ ءَاخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ</p>
<p>Kaum &#8216;Ad berkata: &#8220;Hai Hûd, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu. Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu.&#8221; Hûd menjawab: &#8220;Sesungguhnya Aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus &#8221; (QS. Hûd/11: 53-56).</p>
<p>Kita juga patut belajar kepada Nabi Syu&#8217;ayb yang memiliki jiwa yang tawakal ketika kaumnya sendiri justru mengancamnya:</p>
<p>قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لَنُخْرِجَنَّكَ يَاشُعَيْبُ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَكَ مِنْ قَرْيَتِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا قَالَ أَوَلَوْ كُنَّا كَارِهِينَ(88)قَدِ افْتَرَيْنَا عَلَى اللَّهِ كَذِبًا إِنْ عُدْنَا فِي مِلَّتِكُمْ بَعْدَ إِذْ نَجَّانَا اللَّهُ مِنْهَا وَمَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَعُودَ فِيهَا إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّنَا وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا</p>
<p>Pemuka-pemuka dan kaum Syu&#8217;ayb yang menyombongkan dan berkata: &#8220;Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu&#8217;ayb dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, atau kamu kembali kepada agama kami&#8221;. Berkata Syu&#8217;ayb: &#8220;Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya? Sungguh kami mengada-adakan kebohongan yang benar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah melepaskan kami dari padanya. dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendaki(nya). Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah sajalah kami bertawakkal&#8221; (QS. al-A&#8217;râf/7: 88-89).</p>
<p>Kepada kaumnya Mûsâ berkata:</p>
<p>وَقَالَ مُوسَى يَاقَوْمِ إِنْ كُنْتُمْ ءَامَنْتُمْ بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ(84)فَقَالُوا عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ(85)وَنَجِّنَا بِرَحْمَتِكَ مِنَ الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ</p>
<p>&#8220;Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri.&#8221; Lalu mereka berkata: &#8220;Kepada Allahlah kami bertawakkal! Ya Tuhan kami; janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zalim, dan selamatkanlah kami dengan rahmat Engkau dari (tipu daya) orang-orang yang kafir&#8221; (QS. Yûnus/10: 84-86).</p>
<p>Semua rasul bertawakal kepada Allah dalam menghadapi pembangkangan dan penghinaan umatnya. Mereka berkata:</p>
<p>وَمَا لَنَا أَلَّا نَتَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ وَقَدْ هَدَانَا سُبُلَنَا وَلَنَصْبِرَنَّ عَلَى مَا ءَاذَيْتُمُونَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ</p>
<p>&#8220;Mengapa kami tidak akan bertawakal kepada Allah padahal dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakal itu berserah diri&#8221; (QS. Ibrâhîm/14: 12).</p>
<p>Selain tawakal, kekuatan seorang Mukmin juga berasal dari kebenaran (al-haqq) yang dipedomaninya. Seorang Mukmin sejati bekerja bukan demi syahwat sesaat, bukan untuk kepentingan pribadi, tidak karena fanatisme jahiliah, dan bukan pula untuk menganiaya orang lain. Ia bekerja hanya demi kebenaran yang diyakininya sebagaimana diajarkan oleh Allah. Merupakan sesuatu yang pasti terjadi dimana kebenaran pasti menang dan kebatilan pasti lenyap:</p>
<p>بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ</p>
<p>Sebenarya kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya (QS. al-Anbiyâ`/21: 18).</p>
<p>وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا</p>
<p>Dan katakanlah: &#8220;Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.&#8221; Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap (QS. al-Isrâ`/17: 81).</p>
<p>Seorang Mukmin, dengan imannya kepada Allah dan kepada kebenaran, berdiri tegak, tegar, tidak takut dan tidak goyah. Berbagai hambatan, tantangan, godaan, dan segala hal yang menghadang akan mampu dihadapinya dengan tabah, sebab ia memegang tali yang kuat dan bersandar pada pilar yang kokoh.</p>
<p>فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا</p>
<p>Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus (QS. al-Baqarah/2: 256).</p>
<p>Kekuatan lain seorang Mukmin juga berasal dari keabadian (al-khulûd) yang ia yakini. Ia yakin bahwa hidupnya bukanlah hari-hari yang dapat dihitung pada tempat-tempat yang terbatas ini. Kehidupan sejatinya adalah kehidupan yang abadi. Kematian hanya perpindahan dari satu negeri ke negeri lainnya.</p>
<p>Pada perang Badar, &#8216;Umayr bin al-Hamâm al-Anshârî mendengar Rasulullah Saw. bersabda kepada para sahabatnya: &#8220;Demi Zat Yang diriku di Tangan-Nya, tidak ada orang yang pada hari ini memerangi mereka (orang-orang musyrik) lalu ia terbunuh dalam keadaan mengharap ridha-Nya, menghadapkan diri tidak membelakang, melainkan Allah memasukkannya ke surga.&#8221; &#8216;Umayr berkata: &#8220;Bakh&#8230;bakh! (kata-kata takjub).&#8221; Rasulullah Saw. bertanya kepadanya: &#8220;Mengapa kamu mengeluarkan kata-kata bakh&#8230;bakh, hai Ibn al-Hamâm?&#8221; &#8216;Umayr berkata: &#8220;Bukankah antara aku dan surga kecuali aku melangkah lalu memerangi mereka kemudian aku terbunuh?&#8221; Rasul menjawab: &#8220;Ya.&#8221; Waktu itu &#8216;Umayr sedang memakan beberapa biji kurma. Ia lalu berkata: &#8220;Apakah aku hidup untuk makan kurma-kurma ini? Masih ada di sana kehidupan yang panjang.&#8221; Lalu dilemparkannya kurma-kurma di tangannya itu kemudian bangkit berperang.</p>
<p>Kekuatan seorang Mukmin berasal pula dari takdir (al-qadr) yang ia imani. Iman kepada takdir—dalam pengertian yang jauh dari watak fatalisme (jabariyah)—melahirkan sifat pemberani, watak pejuang, dan mental petarung. Sifat, watak dan mental inilah yang telah menjadikan kaum Muslim generasi awal para penakluk banyak kerajaan dan negeri. Jadilah kekuasaan mereka terbentang dari pegunungan yang memisahkan Spanyol dengan Prancis hingga tembok Cina, padahal senjata dan jumlah mereka sedikit saja.</p>
<p>Terakhir, kekuatan seorang Mukmin juga berasal dari persaudaraan (al-ukhuwwah) yang ia jalin dengan saudara-saudara Mukminnya. Ia merasa bahwa mereka ada untuknya dan ia ada untuk mereka. Mereka membantunya saat ia bersama mereka, memeliharanya saat ia tidak bersama mereka, membesarkan hatinya ketika ia dalam kesulitan, menghiburnya saat ia dalam kesusahan, mendukungnya ketika mengendur kekuatannya, dan membimbing tangannya saat langkahnya salah arah. Nabi Saw. menggambarkan kekuatan seorang Mukmin dengan saudara-saudara Mukminnya seperti satu bagian dari sebuah bangunan yang kokoh: &#8220;Seorang Mukmin bagi Mukmin lainnya seperti sebuah bangunan (setiap bagiannya) saling menguatkan satu sama lainnya&#8221; (HR. al-Bukhârî).</p>
<p>Namun zaman telah mengubah kaum Muslim; kini mereka lemah setelah kuat, kepalanya menunduk setelah tegak. Hal ini disebabkan karena karakteristik yang dimiliki para Muslim awal yang mengantarkan kepada kejayaan telah mengalami perubahan. Iman tidak lagi menguasai jiwa mereka. Iman tak lagi mengarahkan akhlak dan perilaku mereka. Kini, sebagian kaum Muslim memiliki iman yang sekadar &#8220;iman geografis&#8221;; karena mereka terlahir di negeri Muslim. Atau &#8220;iman warisan&#8221; yang mereka warisi dari nenek moyangnya. Iman mereka kini hanya &#8220;iman tidur&#8221; yang tak punya pengaruh, kehilangan elan vital-nya. Memang, tidak semua kaum Muslim kondisinya semacam ini, tetapi kecenderungan secara umum menunjukkan bahwa kaum Muslim telah kehilangan spirit yang dimiliki oleh kaum Muslim sebelumnya. Godaan zaman modern menjadikan iman menghadapi tantangan yang kian berat. Banyak kaum Muslim yang tergoda dengan tantangan zaman sekarang ini.</p>
<p>Jauh-jauh hari Nabi Saw. telah menyingkap rahasia terdalam di balik kelemahan umatnya saat mereka lemah dan ketidakberdayaan mereka saat mereka tidak berdaya atas musuh-musuhnya. Beliau bersabda: &#8220;Telah dekat (waktu) di mana umat-umat (yang lain) mengeroyok kalian seperti para penyantap (makanan) mengeroyok mangkuk makanan.&#8221; Mereka (para sahabat) bertanya: &#8220;Apakah kita termasuk umat yang sedikit pada waktu itu, ya Rasulullah?&#8221; Beliau menjawab: &#8220;Bahkan kalian pada waktu itu banyak, akan tetapi kalian buih seperti buih air bah, dan Allah benar-benar mencabut dari dada musuh-musuh kalian rasa takut dari kalian serta benar-benar melemparkan al-wahn dalam hati kalian.&#8221; Mereka bertanya: &#8220;Apa itu al-wahn?&#8221; Beliau menjawab: &#8220;Cinta dunia dan takut mati&#8221; (HR. Abû Dâwûd dan Ahmad).</p>
<p>usia memiliki harapan dan tujuan. Namun sering jalan menuju harapan dan tujuan itu panjang, penuh duri, sarat tantangan dan rintangan. Sebagian dari rintangan dan tantangan itu berasal dari alam dan sunnatullah, sebagian lainnya berasal dari manusia sendiri. Maka tak ada jalan selain terus berjuang dan bekerja supaya dapat mengalahkan berbagai tantangan dan rintangan itu. Winston Churcill mengatakan, “Jangan pernah menyerah, jangan pernah menyerah, jangan pernah, jangan pernah, dan jangan pernah”</p>
<p>Manusia sangat memerlukan kekuatan yang dapat mengencangkan semangatnya, membimbing tangannya, menaklukkan berbagai tantangan, melumpuhkan aneka kesulitan dan menerangi jalan yang akan ditempuhnya. Kekuatan yang didambakan ini hanya ada di bawah naungan dan pelataran iman kepada Allah. Iman kepada Allah-lah yang memberi kita ruh kekuatan dan kekuatan ruh. Seorang Mukmin tidak mengharap selain karunia-Nya, tidak takut kecuali siksa-Nya dan tidak peduli kecuali terhadap-Nya. Seorang Mukmin akan kuat meski di tangannya tak ada senjata, kaya walau dalam lemarinya tidak ada emas dan perak, tegar meski perahu kehidupannya goyah dan dikepung ombak dari semua arah. Dengan imannya, ia lebih kuat dari laut, ombak dan angin. Dalam sebuah hadis dikatakan, &#8220;Jika kamu mengenal Allah dengan sebenar-benarnya maka dengan doamu gunung sekalipun pasti hilang.&#8221;</p>
<p>Kekuatan yang dimiliki oleh setiap individu merupakan sumber kekuatan masyarakat seluruhnya. Orang-orang yang kuat dan tegar melahirkan masyarakat yang kuat dan tegar, dan orang-orang yang lemah serta rapuh melahirkan masyarakat yang lemah dan rapuh. Orang-orang yang lemah tidak memiliki sifat setia kawan, tidak diperhitungkan lawan, tidak sanggup melahirkan kebangkitan, dan tidak mampu mengukir keagungan.</p>
<p>Kekuatan yang dimiliki seorang Mukmin berasal dari Allah yang kepada-Nya ia beriman dan bertawakal: &#8220;Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana&#8221; (QS. al-Anfâl/8: 49). Maha Perkasa; tidak akan menghinakan orang yang bertawakal kepada-Nya, Maha Bijaksana; tidak akan menyia-nyiakan orang yang berpegang dengan kebijaksanaan dan aturan-Nya.</p>
<p>يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ</p>
<p>Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal (QS. Âli &#8216;Imrân/3: 160).</p>
<p>Kita harus belajar kepada Nabi Hûd yang memiliki jiwa yang kokoh dalam menyampaikn risalah. Dalam perjuangannya menegakkan kebenaran di tengah kaum &#8216;Âd, Nabi Hûd menjadikan tawakal sebagai tameng perlindungan:</p>
<p>قَالُوا يَاهُودُ مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ وَمَا نَحْنُ بِتَارِكِي ءَالِهَتِنَا عَنْ قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ(53)إِنْ نَقُولُ إِلَّا اعْتَرَاكَ بَعْضُ ءَالِهَتِنَا بِسُوءٍ قَالَ إِنِّي أُشْهِدُ اللَّهَ وَاشْهَدُوا أَنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ(54)مِنْ دُونِهِ فَكِيدُونِي جَمِيعًا ثُمَّ لَا تُنْظِرُونِ(55)إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلَّا هُوَ ءَاخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ</p>
<p>Kaum &#8216;Ad berkata: &#8220;Hai Hûd, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu. Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu.&#8221; Hûd menjawab: &#8220;Sesungguhnya Aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus &#8221; (QS. Hûd/11: 53-56).</p>
<p>Kita juga patut belajar kepada Nabi Syu&#8217;ayb yang memiliki jiwa yang tawakal ketika kaumnya sendiri justru mengancamnya:</p>
<p>قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لَنُخْرِجَنَّكَ يَاشُعَيْبُ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَكَ مِنْ قَرْيَتِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا قَالَ أَوَلَوْ كُنَّا كَارِهِينَ(88)قَدِ افْتَرَيْنَا عَلَى اللَّهِ كَذِبًا إِنْ عُدْنَا فِي مِلَّتِكُمْ بَعْدَ إِذْ نَجَّانَا اللَّهُ مِنْهَا وَمَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَعُودَ فِيهَا إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّنَا وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا</p>
<p>Pemuka-pemuka dan kaum Syu&#8217;ayb yang menyombongkan dan berkata: &#8220;Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu&#8217;ayb dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, atau kamu kembali kepada agama kami&#8221;. Berkata Syu&#8217;ayb: &#8220;Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya? Sungguh kami mengada-adakan kebohongan yang benar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah melepaskan kami dari padanya. dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendaki(nya). Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah sajalah kami bertawakkal&#8221; (QS. al-A&#8217;râf/7: 88-89).</p>
<p>Kepada kaumnya Mûsâ berkata:</p>
<p>وَقَالَ مُوسَى يَاقَوْمِ إِنْ كُنْتُمْ ءَامَنْتُمْ بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ(84)فَقَالُوا عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ(85)وَنَجِّنَا بِرَحْمَتِكَ مِنَ الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ</p>
<p>&#8220;Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri.&#8221; Lalu mereka berkata: &#8220;Kepada Allahlah kami bertawakkal! Ya Tuhan kami; janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zalim, dan selamatkanlah kami dengan rahmat Engkau dari (tipu daya) orang-orang yang kafir&#8221; (QS. Yûnus/10: 84-86).</p>
<p>Semua rasul bertawakal kepada Allah dalam menghadapi pembangkangan dan penghinaan umatnya. Mereka berkata:</p>
<p>وَمَا لَنَا أَلَّا نَتَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ وَقَدْ هَدَانَا سُبُلَنَا وَلَنَصْبِرَنَّ عَلَى مَا ءَاذَيْتُمُونَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ</p>
<p>&#8220;Mengapa kami tidak akan bertawakal kepada Allah padahal dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakal itu berserah diri&#8221; (QS. Ibrâhîm/14: 12).</p>
<p>Selain tawakal, kekuatan seorang Mukmin juga berasal dari kebenaran (al-haqq) yang dipedomaninya. Seorang Mukmin sejati bekerja bukan demi syahwat sesaat, bukan untuk kepentingan pribadi, tidak karena fanatisme jahiliah, dan bukan pula untuk menganiaya orang lain. Ia bekerja hanya demi kebenaran yang diyakininya sebagaimana diajarkan oleh Allah. Merupakan sesuatu yang pasti terjadi dimana kebenaran pasti menang dan kebatilan pasti lenyap:</p>
<p>بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ</p>
<p>Sebenarya kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya (QS. al-Anbiyâ`/21: 18).</p>
<p>وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا</p>
<p>Dan katakanlah: &#8220;Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.&#8221; Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap (QS. al-Isrâ`/17: 81).</p>
<p>Seorang Mukmin, dengan imannya kepada Allah dan kepada kebenaran, berdiri tegak, tegar, tidak takut dan tidak goyah. Berbagai hambatan, tantangan, godaan, dan segala hal yang menghadang akan mampu dihadapinya dengan tabah, sebab ia memegang tali yang kuat dan bersandar pada pilar yang kokoh.</p>
<p>فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا</p>
<p>Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus (QS. al-Baqarah/2: 256).</p>
<p>Kekuatan lain seorang Mukmin juga berasal dari keabadian (al-khulûd) yang ia yakini. Ia yakin bahwa hidupnya bukanlah hari-hari yang dapat dihitung pada tempat-tempat yang terbatas ini. Kehidupan sejatinya adalah kehidupan yang abadi. Kematian hanya perpindahan dari satu negeri ke negeri lainnya.</p>
<p>Pada perang Badar, &#8216;Umayr bin al-Hamâm al-Anshârî mendengar Rasulullah Saw. bersabda kepada para sahabatnya: &#8220;Demi Zat Yang diriku di Tangan-Nya, tidak ada orang yang pada hari ini memerangi mereka (orang-orang musyrik) lalu ia terbunuh dalam keadaan mengharap ridha-Nya, menghadapkan diri tidak membelakang, melainkan Allah memasukkannya ke surga.&#8221; &#8216;Umayr berkata: &#8220;Bakh&#8230;bakh! (kata-kata takjub).&#8221; Rasulullah Saw. bertanya kepadanya: &#8220;Mengapa kamu mengeluarkan kata-kata bakh&#8230;bakh, hai Ibn al-Hamâm?&#8221; &#8216;Umayr berkata: &#8220;Bukankah antara aku dan surga kecuali aku melangkah lalu memerangi mereka kemudian aku terbunuh?&#8221; Rasul menjawab: &#8220;Ya.&#8221; Waktu itu &#8216;Umayr sedang memakan beberapa biji kurma. Ia lalu berkata: &#8220;Apakah aku hidup untuk makan kurma-kurma ini? Masih ada di sana kehidupan yang panjang.&#8221; Lalu dilemparkannya kurma-kurma di tangannya itu kemudian bangkit berperang.</p>
<p>Kekuatan seorang Mukmin berasal pula dari takdir (al-qadr) yang ia imani. Iman kepada takdir—dalam pengertian yang jauh dari watak fatalisme (jabariyah)—melahirkan sifat pemberani, watak pejuang, dan mental petarung. Sifat, watak dan mental inilah yang telah menjadikan kaum Muslim generasi awal para penakluk banyak kerajaan dan negeri. Jadilah kekuasaan mereka terbentang dari pegunungan yang memisahkan Spanyol dengan Prancis hingga tembok Cina, padahal senjata dan jumlah mereka sedikit saja.</p>
<p>Terakhir, kekuatan seorang Mukmin juga berasal dari persaudaraan (al-ukhuwwah) yang ia jalin dengan saudara-saudara Mukminnya. Ia merasa bahwa mereka ada untuknya dan ia ada untuk mereka. Mereka membantunya saat ia bersama mereka, memeliharanya saat ia tidak bersama mereka, membesarkan hatinya ketika ia dalam kesulitan, menghiburnya saat ia dalam kesusahan, mendukungnya ketika mengendur kekuatannya, dan membimbing tangannya saat langkahnya salah arah. Nabi Saw. menggambarkan kekuatan seorang Mukmin dengan saudara-saudara Mukminnya seperti satu bagian dari sebuah bangunan yang kokoh: &#8220;Seorang Mukmin bagi Mukmin lainnya seperti sebuah bangunan (setiap bagiannya) saling menguatkan satu sama lainnya&#8221; (HR. al-Bukhârî).</p>
<p>Namun zaman telah mengubah kaum Muslim; kini mereka lemah setelah kuat, kepalanya menunduk setelah tegak. Hal ini disebabkan karena karakteristik yang dimiliki para Muslim awal yang mengantarkan kepada kejayaan telah mengalami perubahan. Iman tidak lagi menguasai jiwa mereka. Iman tak lagi mengarahkan akhlak dan perilaku mereka. Kini, sebagian kaum Muslim memiliki iman yang sekadar &#8220;iman geografis&#8221;; karena mereka terlahir di negeri Muslim. Atau &#8220;iman warisan&#8221; yang mereka warisi dari nenek moyangnya. Iman mereka kini hanya &#8220;iman tidur&#8221; yang tak punya pengaruh, kehilangan elan vital-nya. Memang, tidak semua kaum Muslim kondisinya semacam ini, tetapi kecenderungan secara umum menunjukkan bahwa kaum Muslim telah kehilangan spirit yang dimiliki oleh kaum Muslim sebelumnya. Godaan zaman modern menjadikan iman menghadapi tantangan yang kian berat. Banyak kaum Muslim yang tergoda dengan tantangan zaman sekarang ini.</p>
<p>Jauh-jauh hari Nabi Saw. telah menyingkap rahasia terdalam di balik kelemahan umatnya saat mereka lemah dan ketidakberdayaan mereka saat mereka tidak berdaya atas musuh-musuhnya. Beliau bersabda: &#8220;Telah dekat (waktu) di mana umat-umat (yang lain) mengeroyok kalian seperti para penyantap (makanan) mengeroyok mangkuk makanan.&#8221; Mereka (para sahabat) bertanya: &#8220;Apakah kita termasuk umat yang sedikit pada waktu itu, ya Rasulullah?&#8221; Beliau menjawab: &#8220;Bahkan kalian pada waktu itu banyak, akan tetapi kalian buih seperti buih air bah, dan Allah benar-benar mencabut dari dada musuh-musuh kalian rasa takut dari kalian serta benar-benar melemparkan al-wahn dalam hati kalian.&#8221; Mereka bertanya: &#8220;Apa itu al-wahn?&#8221; Beliau menjawab: &#8220;Cinta dunia dan takut mati&#8221; (HR. Abû Dâwûd dan Ahmad).</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abualitya.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abualitya.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abualitya.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abualitya.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abualitya.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abualitya.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abualitya.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abualitya.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abualitya.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abualitya.wordpress.com/163/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&blog=3401246&post=163&subd=abualitya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abualitya.wordpress.com/2009/10/08/iman-dan-kekuatan-jiwa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/af2bf86b31ef30cccc6bf9168f250ae4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Iman dan Kebahagiaan</title>
		<link>http://abualitya.wordpress.com/2009/08/11/iman-dan-kebahagiaan/</link>
		<comments>http://abualitya.wordpress.com/2009/08/11/iman-dan-kebahagiaan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Aug 2009 06:37:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abualitya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seri Iman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abualitya.wordpress.com/?p=170</guid>
		<description><![CDATA[Kebahagiaan didamba setiap orang. Tidak ada orang yang tidak ingin hidupnya bahagia. Semua berusaha keras agar hidupnya bahagia. Tetapi apa sesungguhnya sumber kebahagiaan itu? Jawaban atas pertanyaan ini ternyata sangat beragam. Ada orang yang melihatnya pada tumpukan harta yang melimpah. Orang yang mengukur kebahagiaan dari harta benda akan berusaha keras mengejar dan mencari harta sebanyak-banyaknya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&blog=3401246&post=170&subd=abualitya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kebahagiaan didamba setiap orang. Tidak ada orang yang tidak ingin hidupnya bahagia. Semua berusaha keras agar hidupnya bahagia. Tetapi apa sesungguhnya sumber kebahagiaan itu? Jawaban atas pertanyaan ini ternyata sangat beragam. Ada orang yang melihatnya pada tumpukan harta yang melimpah. Orang yang mengukur kebahagiaan dari harta benda akan berusaha keras mengejar dan mencari harta sebanyak-banyaknya. Mereka mengira kebahagiaan terletak pada kekayaan, kesenangan hidup, kelimpahan harta dan tercukupinya segala kebutuhan materi. Apakah ketika harta telah melimpah, kebahagiaan hidup akan mereka raih?<span id="more-170"></span></p>
<p>Nampaknya, kebanyakan manusia mencari kebahagiaan bukan pada tempatnya. Mereka ibarat kembalinya orang yang mencari mutiara di padang sahara; kembali dengan tangan kosong, badan lelah, jiwa tersiksa dan harapan terputus.</p>
<p>Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh al-Tirmidzî, dikatakan:</p>
<p>Barangsiapa akhirat menjadi tujuannya maka Allah akan menjadikan kekayaan dalam hatinya, mengumpulkan kekuatan baginya dan dunia akan datang kepadanya dengan mudah. Dan barangsiapa dunia menjadi tujuannya maka Allah akan menjadikan kemiskinan di hadapan matanya, melemahkan kekuatannya dan dunia tidak datang kepadanya kecuali apa yang telah ditetapkan baginya.</p>
<p>Pecinta dunia akan selalu ditemani tiga hal: keinginan yang tiada henti, rasa lelah yang tak pernah sirna, dan kesedihan yang tak pernah reda. Dalam sebuah hadis disebutkan: ”Seandainya seseorang memiliki dua lembah emas, pasti dia akan mencari yang ketiga.”</p>
<p>Kebahagiaan bukan terletak pada gelimangan harta, tingginya jabatan, banyaknya keturunan, atau diraihnya keuntungan materi. Kebahagiaan adalah sesuatu yang bersifat maknawi; tidak terlihat oleh mata, tidak dapat ditimbang dengan timbangan, tidak dapat disimpan dalam gudang, dan tidak dapat dibeli dengan uang. Kebahagiaan adalah sesuatu yang dirasakan seseorang dalam dirinya berupa kebeningan jiwa, kedamaian hati, kelapangan dada dan ketenangan nurani. Kebahagiaan tumbuh dari dalam diri manusia, tidak didatangkan dari luar dirinya.</p>
<p>Memang tidak dapat disangkal bahwa aspek materi memiliki andil dalam mewujudkan kebahagiaan hidup. Rasul Saw. sendiri pernah bersabda: ”Di antara kebahagiaan anak Adam adalah istri salehah, tempat tinggal yang layak, dan kendaraan yang layak”(HR Ahmad). Namun andil ini bukan yang utama dan tidak besar. Yang jadi ukuran pada aspek ini adalah al-kayf (kualitas), bukan al-kam (kuantitas). Cukuplah menjadi kebahagiaan bagi seseorang apabila dalam hidupnya ia terbebas dari kesempitan-kesempitan materi yang menyesakkan dada, seperti istri yang durhaka, tempat tinggal dan kendaraan yang tidak layak; dan dikaruniai rasa aman, kesehatan serta dimudahkan mendapatkan bahan pangan. Betapa indah dan benar hadis Nabi yang mengatakan: ”Barangsiapa bangun pagi dalam keadaan tenang jiwanya, sehat badannya, dan memiliki bahan pangan yang mencukupi harinya, maka seakan-akan dunia beserta isinya adalah miliknya”(HR al-Bukhârî).</p>
<p>Jika jiwa dan hati merupakan lahan tempat tumbuh pohon kebahagiaan, maka iman kepada Allah dan hari akhir merupakan air, pupuk, udara dan cahaya yang dibutuhkan bagi pertumbuhan dan kehidupan pohon itu. Iman memancarkan sumber-sumber mata air kebahagiaan dalam hati. Tidak akan terwujud kebahagiaan tanpa sumber-sumber mata air itu, yaitu ketenangan, kedamaian, harapan, keridhaan, dan cinta.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abualitya.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abualitya.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abualitya.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abualitya.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abualitya.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abualitya.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abualitya.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abualitya.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abualitya.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abualitya.wordpress.com/170/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&blog=3401246&post=170&subd=abualitya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abualitya.wordpress.com/2009/08/11/iman-dan-kebahagiaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/af2bf86b31ef30cccc6bf9168f250ae4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Iman dan Ketegaran dalam Kesulitan</title>
		<link>http://abualitya.wordpress.com/2009/07/10/iman-dan-ketegaran-dalam-kesulitan/</link>
		<comments>http://abualitya.wordpress.com/2009/07/10/iman-dan-ketegaran-dalam-kesulitan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jul 2009 01:52:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abualitya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seri Iman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abualitya.wordpress.com/2009/07/10/iman-dan-ketegaran-dalam-kesulitan/</guid>
		<description><![CDATA[Rasulullah Saw. bersabda:
Mengagumkan urusan si Mukmin. Sungguh semua urusannya adalah kebaikan baginya. Itu semua bukan untuk siapa pun kecuali bagi si Mukmin. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur maka itu menjadi kebaikan baginya. Dan jika tertimpa kesempitan, ia bersabar maka itu menjadi kebaikan baginya” (HR Muslim).
Adanya harapan dan rasa aman, ridha dan cinta serta ketenangan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&blog=3401246&post=165&subd=abualitya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Rasulullah Saw. bersabda:<br />
Mengagumkan urusan si Mukmin. Sungguh semua urusannya adalah kebaikan baginya. Itu semua bukan untuk siapa pun kecuali bagi si Mukmin. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur maka itu menjadi kebaikan baginya. Dan jika tertimpa kesempitan, ia bersabar maka itu menjadi kebaikan baginya” (HR Muslim).<span id="more-165"></span><br />
Adanya harapan dan rasa aman, ridha dan cinta serta ketenangan jiwa, semuanya merupakan buah nan ranum dari pohon iman yang tertanam dalam hati seorang Mukmin; merupakan bekal yang tiada habisnya dalam menghadapi pergulatan hidup yang panjang dan sarat dengan rintangan, ancaman dan kesulitan.<br />
Watak kehidupan dunia dan manusianya menjadikan seseorang mustahil luput sama sekali dari persoalan dan kesulitan hidup, seperti kehilangan pekerjaan, putus harapan, ditinggal orang yang dikasihi, terkena penyakit, kehilangan harta, dan lain sebagainya. Jika hal ini sudah merupakan sunnatullah dalam kehidupan dan berlaku bagi seluruh umat manusia, maka secara khusus manusia-manusia pengemban risalah (para rasul) lebih berat lagi ujian dan rintangan hidup yang harus mereka hadapi. Saat mereka menyeru kepada Allah, para penyeru thaghut memerangi mereka. Saat mereka mengajak pada kebenaran, para pembela kebatilan melawan mereka. Ketika mereka menunjukkan jalan kebaikan, para pejuang keburukan memusuhi mereka. Ketika mereka memerintahkan yang makruf, para ahli kemungkaran membenci mereka. Dengan begitu, mereka hidup dalam ujian berat tak berkesudahan serta cobaan hidup yang berketerusan. Demikianlah sunnah Allah yang telah menciptakan Âdam dan iblis, Ibrâhîm dan Namrud, Musa dan Fir’aun, Muhammad dan Abu Jahal.<br />
Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia) (QS. al-An’âm/6: 112).<br />
Dan seperti itulah, telah kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. dan cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi petunjuk dan penolong (QS. al-Furqân/25: 31).<br />
Inilah keadaan para nabi, para penerus mereka, orang-orang yang menempuh jalan mereka, dan orang-orang yang menyerukan dakwah mereka. Mereka selalu diganggu dan ditindas oleh para tiran yang selalu memalingkan orang dari jalan Allah.<br />
Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji (QS. al-Burûj/85: <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /><br />
Orang-orang beriman paling sabar menghadapi cobaan, paling tegar dalam kesulitan, dan paling rela jiwanya dalam menjalani ujian demi ujian. Mereka sadar akan pendeknya umur dunia dibanding keabadian akhirat. Maka mereka tidak ingin dunia mereka menjadi surga sebelum surga sejati.<br />
Katakanlah: ”Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa” (QS. al-Nisâ`/4: 77).<br />
Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan (QS. Âli ’Imrân/3: 185).<br />
Mereka sadar bahwa Allah memberi manusia kebebasan dan memberi mereka tugas khilafah di bumi, maka mereka tidak pernah bermimpi menjadi malaikat yang mempunyai sayap:<br />
Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang kami hendak mengujinya (QS. al-Insân/76: 2).<br />
Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah (QS. al-Balad/90: 4).<br />
Mereka tahu bahwa para nabi dan rasul adalah orang yang paling berat ujiannya di dunia dan paling sedikit menikmati kelezatannya, maka mereka tidak pernah berkeinginan menjadi lebih baik dari para nabi dan rasul. Bagi mereka, para nabi dan rasul adalah teladan yang baik.<br />
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ”Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat (QS. al-Baqarah/2: 214).<br />
Suatu musibah, pastilah ada yang lebih besar darinya. Seorang Mukmin, dengan pandangan nuraninya, bersyukur kepada Allah atas dua hal: Pertama, dijauhkannya dirinya dari musibah lebih besar yang mungkin terjadi. Kedua, dilanggengkannya nikmat dan karunia yang mungkin lenyap dari dirinya. Saat mendapatkan sebuah nikmat, ia tidak pernah mengkhayalkan nikmat yang lebih besar sehingga melupakan nikmat nyata yang ada pada dirinya. Dan saat ditimpa musibah, ia membayangkan seandainya musibah yang menimpa dirinya lebih berat dari musibah yang kini sedang dihadapinya. Sikap ini, tak syak, melahirkan ketenangan dan kerelaan. Musibah yang lebih besar itu banyak dan itu bisa saja menimpa dirinya, tapi ia dijauhkan dari musibah-musibah itu. Nikmat-nikmat yang ada juga banyak dan ada pada dirinya.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abualitya.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abualitya.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abualitya.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abualitya.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abualitya.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abualitya.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abualitya.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abualitya.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abualitya.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abualitya.wordpress.com/165/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&blog=3401246&post=165&subd=abualitya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abualitya.wordpress.com/2009/07/10/iman-dan-ketegaran-dalam-kesulitan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/af2bf86b31ef30cccc6bf9168f250ae4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pesan Rakyat untuk Presiden Mendatang</title>
		<link>http://abualitya.wordpress.com/2009/05/15/pesan-rakyat-untuk-presiden-mendatang/</link>
		<comments>http://abualitya.wordpress.com/2009/05/15/pesan-rakyat-untuk-presiden-mendatang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 May 2009 04:38:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abualitya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulas-tulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abualitya.wordpress.com/2009/05/15/pesan-rakyat-untuk-presiden-mendatang/</guid>
		<description><![CDATA[
Bangsa Indonesia saat ini merupakan salah satu bangsa di dunia yang sangat merindukan munculnya seorang pemimpin yang adil. Angka kemiskinan yang tinggi, pengangguran yang merajalela, jurang kesenjangan yang menganga, tingkat pendidikan rakyat yang rendah, rasa aman yang kian menipis, dan persoalan lainnya adalah sederet nestapa negeri ini. Semua itu meniscayakan kehadiran seorang pemimpin bangsa yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&blog=3401246&post=164&subd=abualitya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div>
<p>Bangsa Indonesia saat ini merupakan salah satu bangsa di dunia yang sangat merindukan munculnya seorang pemimpin yang adil. Angka kemiskinan yang tinggi, pengangguran yang merajalela, jurang kesenjangan yang menganga, tingkat pendidikan rakyat yang rendah, rasa aman yang kian menipis, dan persoalan lainnya adalah sederet nestapa negeri ini. Semua itu meniscayakan kehadiran seorang pemimpin bangsa yang bukan hanya fasih mengidentifiksi persoalan-persoalan bangsa, namun—yang lebih penting—cakap menyelesaikan segenap persoalan tersebut dalam waktu yang tidak terlalu menguras kesabaran rakyat.<span id="more-164"></span></p>
<p>Siapapun yang akhirnya menjadi orang nomor satu di negeri ini, haruslah menjadi seorang pemimpin yang adil. Kata “pemimpin yang adil” sendiri sesungguhnya merupakan penyederhanaan kata. Di balik kata tersebut tersimpan sekian piranti penting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin agar layak disebut sebagai pemimpin yang adil. Di antara piranti penting itu adalah:</p>
<p>Pertama, sandaran vertikal yang kuat. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang beragama—paling tidak secara formal. Seorang yang memimpin bangsa seperti itu haruslah membekali dirinya dengan nilai-nilai dan semangat spiritual yang menjadikan dirinya senantiasa merasa diawasi, bukan saja oleh rakyat yang nampak, tetapi yang lebih penting oleh Yang Maha Melihat. Penglihatan rakyat bisa saja dikelabui dan karenanya pengadilan mereka bisa saja dihindari dengan beribu dalih dan ditutupi dengan bermacam topeng. Tapi pengadilan Yang Maha Waspada, tidak seorang pun dapat lepas dan lari darinya. Jika pengadilan dunia bisa ‘diakali’, lalu siapa yang bisa menghindar dari datangnya hari penghisaban amal kelak atas semua orang untuk setiap tindakannya?</p>
<p>Kedua, semangat yang membaja, komitmen dan keteguhan hati. Tidak cukup hanya menjadi orang saleh untuk bisa menjadi pemimpin yang baik. Persoalan di negeri ini begitu kompleks dan berat. Orang yang terpilih memimpin negeri ini haruslah mengerahkan seluruh kemampuan dan sebagian besar waktunya untuk memberikan solusi terbaik bagi setiap persoalan pelik yang dihadapi bangsa. Puluhan juta rakyat yang dililit kemiskinan, jutaan anak yang tak dapat bersekolah, puluhan juta usia kerja yang menganggur, gap kaya-miskin yang kian menganga, semua itu menghajatkan seorang pemimpin yang mempunyai semangat untuk bersungguh-sungguh menyelamatkan puluhan juta anak negeri yang sedang diterpa beraneka penderitaan.</p>
<p>Ketiga, sederhana dan bersahaja. Orang miskin akan lebih merasa sakit hatinya ketika melihat di sekelilingnya orang-orang kaya memamerkan kekayaannya. Anak-anak putus sekolah akan lebih teriris perasaannya ketika melihat anak-anak seusianya berpakaian seragam menggendong tas pergi ke gedung-gedung sekolah yang dibangun pemerintah dengan uang rakyat. Dan rakyat yang sengsara akan lebih terkoyak nuraninya ketika pemimpin negerinya hanya pintar melantunkan nyanyian pemerataan kesejahteraan saat berkampanye saja. Sementara itu, setelah terpilih, sang pemimpin lebih giat membagi-bagikan kue kekuasaannya kepada orang-orang partainya atau kelompoknya sendiri sambil mendata jumlah kekayaannya dan meningkatkan saldo tabungannya. Pemimpin rakyat miskin tentu tidak harus menjadi miskin seperti mereka. Yang harus ia miliki adalah kepekaan yang tinggi akan nasib rakyatnya sembari melakukan upaya-upaya terukur, terpadu dan terarah dalam rangka mengentaskan setiap persoalan yang melilit rakyatnya. Akan lebih kuat dukungan dari rakyatnya jika semua itu dilakukan sambil menampilkan diri sebagai sosok pribadi yang sederhana dan bersahaja.</p>
<p>Keempat, pengorbanan dan perjuangan yang lestari. Sebuah pepatah mengatakan, “Sayyidul qaumi khadimuhum (pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka).” Seorang pemimpin sejati bukanlah yang hanya pandai berteriak membangkitkan semangat rakyatnya, tapi yang lebih penting, menjadi teladan bagi mereka. Ia adalah orang yang berada di garis paling depan dalam menghadapi berbagai kesulitan dan persoalan rakyatnya. Ketika KKN menggerogoti pilar-pilar negeri ini, ia adalah orang pertama yang membersihkan dirinya dari anasir KKN sekaligus memberantasnya di dalam tubuh pemerintahannya, meski untuk itu ia menghadapi sejumlah tantangan dan rintangan. Perjuangannya untuk menegakkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa tidak pernah kendur.</p>
<p>Kelima, menempuh metode yang benar dan tepat. Semangat menggebu untuk memperbaiki bangsa tidak banyak membantu jika tidak disertai kecermatan yang tepat lagi benar dalam menentukan pola dan cara kerja. Termasuk dalam kerangka ini, ketepatan menunjuk para pembantu dan kecakapan menggali potensi yang dimiliki oleh mereka. Dalam menunjuk para pembantu, seorang pemimpin harus menghilangkan prinsip ‘bagi-bagi kursi’ kepada mereka yang telah berjasa melempangkan jalannya menuju kursi paling bergengsi di negeri ini. Prinsip the right man in the right place harus dipedomani dan diaplikasikan dengan benar. </p>
<p>Keenam, belajar dan terus belajar. Menduduki kursi paling terhormat di satu negeri sama sekali tidak berarti seseorang boleh berhenti belajar. Ia harus terus memupuk akal nalar dan hati nuraninya dengan bermacam rupa ilmu dan kebijaksanaan, terutama yang menunjang tugasnya sebagai pengayom rakyat, penegak keadilan, penabur kesejahteraan, penyemai pemerataan, pengamal pertama hukum dan perundang-undangan serta sederet tugas mulia sekaligus berat lainnya.</p>
<p>Dari para pendahulunya seorang pemimpin harus banyak belajar tentang banyak hal. Ia, misalnya, harus sadar betul bahwa meski negara ini bukan negara agama, akan tetapi nilai-nilai spiritual mesti mendasari semua sendi kehidupan bangsa. Dengan demikian, paham, aliran atau ajaran apapun yang coba merenggut nilai-nilai spiritual dari akal pikir dan moralitas bangsa haruslah dicegah jangan sampai tumbuh di negeri yang rakyatnya meyakini ajaran-ajaran agama ini.</p>
<p>Dalam bidang ekonomi, seorang pemimpin harus paham benar bahwa geliat dan kemajuan ekonomi yang hendak dicapai haruslah dibangun di atas pondasi yang kuat. Harus ditegakkan di atas kekaryaan dan kemandirian bangsa yang tahan akan guncangan kala badai krisis menerpa, bukan atas dasar tumpukan hutang dan pinjaman asing. Serta harus dibangun di atas paham ekonomi kerakyatan, di mana rakyat kecil dilibatkan sebagai subjek sekaligus objek pembangunan ekonomi. Rakyat kecil harus dipacu semangatnya serta diberdayakan untuk sama-sama membangun sistem perekonomian yang kuat serta memihak kepada mereka, dan hasilnya dimanfaatkan sebesar-besarnya demi kesejahteraan mereka.</p>
<p>Dalam bidang politik, pemimpin yang sedang berkuasa harus sepenuhnya sadar bahwa kebutuhan mendasar rakyat yang harus dipenuhi bukan hanya isi perut, penutup tubuh dan tempat tinggal semata. Mereka adalah manusia, makhluk yang selain ingin cukup makan, berpakaian dan punya tempat bernaung, mereka juga mendambakan hawa kebebasan. Bebas bicara, mengemukakan gagasan, saran dan bahkan kritikan terhadap perilaku para pengelola negara yang dianggap menyimpang dari kontrak politik yang telah disepakati antara rakyat dan para pejabat.</p>
<p>Itulah di antara harapan sekaligus pesan rakyat yang harus dicamkan dan diamalkan secara sungguh-sungguh oleh siapapun yang diamanati rakyat untuk memimpin negeri yang kita cintai ini.</p>
<p><em>Wallahu a’lam.</em></div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abualitya.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abualitya.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abualitya.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abualitya.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abualitya.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abualitya.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abualitya.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abualitya.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abualitya.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abualitya.wordpress.com/164/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&blog=3401246&post=164&subd=abualitya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abualitya.wordpress.com/2009/05/15/pesan-rakyat-untuk-presiden-mendatang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/af2bf86b31ef30cccc6bf9168f250ae4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Iman dan Kasih Sayang</title>
		<link>http://abualitya.wordpress.com/2009/04/14/iman-dan-kasih-sayang/</link>
		<comments>http://abualitya.wordpress.com/2009/04/14/iman-dan-kasih-sayang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Apr 2009 01:47:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abualitya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seri Iman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abualitya.wordpress.com/?p=160</guid>
		<description><![CDATA[Hakikat manusia bukan hanya pada kulit muka yang terbuat dari tanah, yakni daging, darah dan tulang, tetapi lebih pada kelembutan Rabani yang dengannya manusia merasa, beremosi, bereaksi, merasa sakit, dan mengasihi, yaitu hati yang peka. Di antara sifat Mukmin yang paling menonjol adalah bahwa ia memiliki hati yang peka, halus, lembut, dan penuh kasih. Dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&blog=3401246&post=160&subd=abualitya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span style="font-size:small;">Hakikat manusia bukan hanya pada kulit muka yang terbuat dari tanah, yakni daging, darah dan tulang, tetapi lebih pada kelembutan Rabani yang dengannya manusia merasa, beremosi, bereaksi, merasa sakit, dan mengasihi, yaitu hati yang peka. Di antara sifat Mukmin yang paling menonjol adalah bahwa ia memiliki hati yang peka, halus, lembut, dan penuh kasih. Dengan hati seperti inilah, seorang Mukmin menyikapi semua kejadian dan setiap orang. Orang lemah ia sayangi, kepada orang sakit ia berempati, orang miskin ia santuni, dan orang tak punya ia bantu. Dengan hatinya yang peka dan penuh kasih, tak pernah ia menyakiti dan jauh dari berbuat onar. Dengan hatinya yang peka dan penuh kasih, ia menjadi sumber kebaikan, kebajikan dan kedamaian bagi apa saja dan siapa saja yang ada di sekitarnya.<span id="more-160"></span><span>  </span></span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">Seorang Mukmin memiliki hati yang penyayang. Semboyan hidupnya adalah </span><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">takhalluq bî akhlâq Allâh </span></em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">(berupaya meneladani akhlak Allah) dan memiliki bagian dari nama-nama-Nya yang baik (</span><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">al-asmâ` al-<span style="text-decoration:underline;">h</span>usnâ</span></em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">). Di antara akhlak Tuhan yang paling nampak adalah </span><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">al-ra<span style="text-decoration:underline;">h</span>mah</span></em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"> (kasih sayang) yang meliputi segala sesuatu, mencakup Mukmin dan kafir, yang baik dan yang jahat, serta meliputi dunia dan akhirat. Dan di antara nama Allah yang paling menonjol adalah </span><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">al-ra<span style="text-decoration:underline;">h</span>mân al-ra<span style="text-decoration:underline;">h</span>îm </span></em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">(Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Kedua nama ini merupakan nama paling masyhur setelah nama </span><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">Allâh</span></em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">. Seorang Mukmin, setiap kali membaca al-Qur`an atau memulai satu surat al-Qur`an pasti memulainya dengan membaca: </span></span><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;" dir="rtl" lang="AR-SA">بسم الله الرحمن الرحيم</span><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span style="font-size:small;"> (</span></span><span style="font-size:small;"><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang</span></em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">). Dua nama ini juga disebut dalam salat-salat fardu tidak kurang dari 34 kali sehari. Belum lagi kalau ditambah salat sunnah, tentu dua nama ini lebih sering lagi diulang. </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">Yang jelas, dua nama ini memiliki pengaruh yang kuat dalam jiwa seorang Mukmin. Di samping bahwa dua nama ini mengharuskannya melakukan ibadah dan pengabdian kepada Allah, keduanya juga mendorongnya meneladani nama-nama-Nya terutama </span><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">ra<span style="text-decoration:underline;">h</span>mân ra<span style="text-decoration:underline;">h</span>îm</span></em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">-Nya. </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">Di antara upaya hamba meneladani ke-</span><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">ra<span style="text-decoration:underline;">h</span>mân</span></em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">-Nya adalah mengasihi hamba-hamba-Nya yang lalai dengan memalingkan mereka dari jalan kelalaian ke jalan Allah dengan memberi mereka nasihat dan wejangan dengan penuh kelembutan; memandang para pelaku kemaksiatan dengan pandangan kasih sayang bukan dengan pandangan kebencian; melihat setiap kemaksiatan yang terjadi di bumi seakan kemaksiatan yang terjadi pada dirinya sehingga ia terpacu untuk menghentikannya sekuat tenaga. Ini dilakukannya atas dasar kasih kepada para pelaku kemaksiatan agar mereka tidak mendapatkan kemurkaan Allah dan tidak semakin jauh dari-Nya.</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">Di antara upaya hamba meneladani ke-</span><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">ra<span style="text-decoration:underline;">h</span>îm</span></em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">-Nya adalah dengan tidak membiarkan orang yang membutuhkan melainkan membantunya sekuat tenaga, tidak menelantarkan orang miskin melainkan bangkit menutupi kemiskinannya dengan hartanya atau pun dengan kedudukan sosialnya, atau jika tidak mampu menolong dengan harta dan kedudukannya, sekurangnya membantu dengan doa dan berempati dengan menunjukkan kesedihan serta duka cita. </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span style="font-size:small;">Seorang Mukmin sadar bahwa dirinya selalu membutuhkan rahmat Allah. Dengan kasih sayang ilahiah ini ia hidup di dunia dan beroleh kebahagiaan di akhirat. Namun ia juga yakin bahwa kasih sayang Allah tidak dapat diraih kecuali dengan kasih sayang manusia. &#8220;Allah hanya menyayangi hamba-hamba-Nya yang saling menyayangi.&#8221; &#8220;Orang yang tidak menyayangi tidak akan disayangi.&#8221; &#8220;Sayangilah makhluk yang ada di bumi maka makhluk yang ada di langit akan menyayangimu.&#8221;</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">Kasih sayang seorang Mukmin tidak hanya untuk saudara-saudara Mukminnya saja, melainkan bagi seluruh umat manusia. Kepada para sahabatnya Nabi Saw. bersabda: &#8220;Kalian tidak akan beriman sampai kalian menyayangi.&#8221; Para sahabat bertanya: &#8220;Ya Rasulullah, setiap kami adalah penyayang.&#8221; Rasulullah bersabda: &#8220;Sesungguhnya bukan kasih sayang seseorang kepada sahabatnya (saja) melainkan kasih sayang bagi semua&#8221; (</span><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">HR. Thabrânî</span><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">). Di antara sifat kaum Mukmin disebutkan dalam al-Qur`an:</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="direction:rtl;text-indent:0;line-height:normal;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:6pt 0 0;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;" lang="AR-SA">وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ</span><strong><em><span style="font-size:16pt;font-family:Calibri;" dir="ltr" lang="DA"></span></em></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:0 0 6pt 1cm;"><span style="font-size:small;"><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">Dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang</span></em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"> (QS. al-Balad/90: 17).</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span style="font-size:small;">Bahkan kasih sayang seorang Mukmin bukan hanya untuk sesama manusia yang berakal tetapi juga bagi hewan tak berakal. Ia sadar bahwa dirinya bertanggung jawab di hadapan Tuhannya atas hewan-hewan tak berakal itu. Kepada para sahabatnya Nabi Saw. menyatakan bahwa pintu surga dibukakan bagi seorang wanita pelacur yang memberi minum seekor anjing lalu Allah mengampuninya karenanya, dan bahwa pintu neraka dibukakan bagi seorang wanita yang mengurung seekor kucing dan tidak memberinya makan sampai kucing itu mati. Jika balasan bagi orang yang mengurung seekor kucing tanpa alasan adalah seperti itu, maka gerangan apa balasan bagi orang yang mengurung puluhan ribu anak manusia tanpa alasan yang benar?</span></span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:Calibri;" lang="DA">Seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah: &#8220;Ya Rasulullah, aku menyayangi kambing ketika aku menyembelihnya.&#8221; Nabi bersabda: &#8220;Jika kamu menyayanginya maka Allah menyayangimu&#8221; (</span><span style="font-size:12pt;font-family:Calibri;" lang="DA">HR. al-<span style="text-decoration:underline;">H</span>âkim</span><span style="font-size:12pt;font-family:Calibri;" lang="DA">). &#8216;Umar pernah melihat laki-laki menyeret kambing dengan kakinya sebelum ia menyembelihnya. &#8216;Umar berkata kepadanya: &#8220;Celakalah kau&#8230;bunuhlah kambing itu dengan cara yang baik!&#8221;</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abualitya.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abualitya.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abualitya.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abualitya.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abualitya.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abualitya.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abualitya.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abualitya.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abualitya.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abualitya.wordpress.com/160/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&blog=3401246&post=160&subd=abualitya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abualitya.wordpress.com/2009/04/14/iman-dan-kasih-sayang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/af2bf86b31ef30cccc6bf9168f250ae4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Iman dan Harapan</title>
		<link>http://abualitya.wordpress.com/2009/03/25/iman-dan-harapan/</link>
		<comments>http://abualitya.wordpress.com/2009/03/25/iman-dan-harapan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Mar 2009 08:37:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abualitya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seri Iman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abualitya.wordpress.com/2009/03/25/iman-dan-harapan/</guid>
		<description><![CDATA[Bagi orang beriman, harapan merupakan salah satu sumber rasa aman dan ketenangan. Harapan adalah cahaya saat kehidupan terasa gelap. Dengan harapan, pohon kehidupan tumbuh. Harapan adalah kekuatan yang mendorong seseorang bangkit bekerja. Harapan membangkitkan semangat juang dan etos kerja pada jiwa dan raga. Harapan mengusir kemalasan dan menggantinya dengan semangat kerja. Harapan menyadarkan orang putus [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&blog=3401246&post=159&subd=abualitya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span style="font-size:small;">Bagi orang beriman, harapan merupakan salah satu sumber rasa aman dan ketenangan. Harapan adalah cahaya saat kehidupan terasa gelap. Dengan harapan, pohon kehidupan tumbuh. Harapan adalah kekuatan yang mendorong seseorang bangkit bekerja. Harapan membangkitkan semangat juang dan etos kerja pada jiwa dan raga. Harapan mengusir kemalasan dan menggantinya dengan semangat kerja. Harapan menyadarkan orang putus asa untuk bangkit dan kembali berusaha sampai berhasil. Harapan mendorong orang sukses untuk meningkatkan usahanya sehingga kesuksesannya terus bertambah.<span id="more-159"></span></span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span style="font-size:small;">Harapan akan hasil panen mendorong petani bekerja keras dan memeras keringat. Harapan akan keuntungan membangkitkan pedagang mengadakan perjalanan menantang segala resiko. Harapan akan kesuksesan membangunkan pencari ilmu untuk bersungguh-sunguh dan tekun belajar. Harapan akan kemenangan memecut prajurit terjun ke medan tempur melawan musuh. Harapan akan kemerdekaan menjadikan bangsa yang dijajah merasa ringan menanggung beban perjuangan. Harapan akan kesembuhan membuat si sakit tidak ragu meminum obat yang pahit. Harapan akan ridha dan surga-Nya menjadikan si Mukmin sanggup melawan hawa nafsu dan menaati Tuhannya. Harapan, dengan demikian, merupakan obat mujarab hidup, membangkitkan semangatnya, dan meringankan beban-bebannya. Dengan harapan hidup jadi ceria dan penuh warna. Sungguh sempit hidup tanpa lapangnya harapan.</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span style="font-size:small;">Harapan lahir dari iman. Di sisi lain, iman dan harapan saling terkait. Orang beriman adalah manusia paling luas harapannya, paling banyak optimisme dan keceriaannya dalam menatap masa depan, serta paling jauh dari psimisme, kemurungan dan kepanikan. Iman, yang melahirkan harapan itu, maknanya adalah keyakinan akan adanya kekuatan yang mengendalikan semesta ini yang tidak ada yang tersembunyi baginya sesuatu pun, kuasa atas segala sesuatu; keyakinan akan sebuah kekuatan tak terbatas, kasih sayang tiada henti, kemurahan tiada terhingga; keyakinan akan Tuhan Yang Mahakuasa lagi Maha Penyayang yang mengabulkan doa orang dalam kesempitan, mengenyahkan keburukan, memberi banyak nikmat, mengampuni dosa-dosa, menerima tobat hamba-hamba-Nya, memaafkan kesalahan-kesalahan. Dia-lah Tuhan Yang kasih sayang-Nya kepada hamba-hamba-Nya melebihi kasih sayang seorang ibu kepada anaknya, kebaikan-Nya kepada makhluk-Nya melebihi kebaikan mereka kepada dirinya.<span>  </span></span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span style="font-size:small;">Seorang Mukmin yang berpegang teguh pada Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Memberi ini mempunyai harapan tiada batas, asa tiada tara; selalu optimistis, memandang hidup dengan wajah ceria, menghadapi semua kejadiannya dengan raut muka penuh suka cita, bukan dengan wajah masam bermuram durga. Jika ia harus berjuang, ia yakin akan kemenangan sebab ia bersama Allah dan Dia bersamanya:</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="direction:rtl;text-indent:0;line-height:normal;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:6pt 0 0 1cm;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;" lang="AR-SA">إِنَّهُمْ لَهُمُ الْمَنْصُورُونَ(172)وَإِنَّ جُنْدَنَا لَهُمُ الْغَالِبُونَ</span><strong><em><span style="font-family:Calibri;" dir="ltr" lang="DA"></span></em></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:0 0 6pt 1cm;"><span style="font-size:small;"><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">Sesungguhnya mereka Itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan Sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang</span></em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"> (QS. al-Shâffât/37: 172-173). </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span style="font-size:small;">Jika ia sakit, tidak putus asanya akan kesembuhan:</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="direction:rtl;text-indent:0;line-height:normal;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 1cm;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;" lang="AR-SA">الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ(78)وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ(79)وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ</span><strong><em><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="AR-SA"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:6pt 0 6pt 1cm;"><span style="font-size:small;"><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">Yaitu Tuhan yang telah menciptakan aku, maka Dia-lah yang menunjuki aku, dan Tuhanku, yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkan aku</span></em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"> (QS. al-Syu’arâ`/26: 78-80). </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span style="font-size:small;">Bila terpeleset melakukan dosa, ia tidak putus asa akan ampunan-Nya betapa pun besar dosanya sebab ampunan-Nya lebih besar:</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="direction:rtl;text-indent:0;line-height:normal;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 1cm;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;" lang="AR-SA">قُلْ يَاعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ</span><strong><em><span style="font-family:&quot;" lang="AR-SA"><span style="font-size:small;"> </span></span></em></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:6pt 0 6pt 1cm;"><span style="font-size:small;"><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">Katakanlah: ”Hai hamba-hambaku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”</span></em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"> (QS. al-Zumar/39: 53).</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span style="font-size:small;">Manakala ditimpa kesulitan, tak henti ia berharap akan kemudahan:</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="direction:rtl;text-indent:0;line-height:normal;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 1cm;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;" lang="AR-SA">فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا(5)إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا</span><strong><em><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="AR-SA"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:6pt 0 6pt 1cm;"><span style="font-size:small;"><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan </span></em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">(QS. al-Syarh/94: 5-6).</span><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"></span></em></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span style="font-size:small;">Ibn Mas’ûd berkata: ”Seandainya kesulitan masuk suatu lubang, pastilah kemudahan mengikutinya.” </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span style="font-size:small;">Saat ditimpa musibah, seorang Mukmin senantiasa berharap Allah memberinya pahala karena musibah itu dan menggantinya dengan kebaikan:</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="direction:rtl;text-indent:0;line-height:normal;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 0 1cm;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;" lang="AR-SA">الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ(156)أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ</span><strong><em><span style="font-size:16pt;font-family:Calibri;" dir="ltr" lang="DA"></span></em></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:6pt 0 6pt 1cm;"><span style="font-size:small;"><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span> </span>(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: &#8220;Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji&#8217;uun.&#8221; Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk </span></em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">(QS. al-Baqarah/2: 156-157).</span><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"></span></em></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span style="font-size:small;">Jika timbul rasa benci kepada seseorang, segera ia hubungkan silaturrahmi dan ulurkan tangan perdamaian seraya berharap kebeningan dan kasih sayang segera menghapus kebencian karena ia percaya Allah kuasa membalikkan hati:</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="direction:rtl;text-indent:0;line-height:normal;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 1cm;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;" lang="AR-SA">عَسَى اللَّهُ أَنْ يَجْعَلَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ الَّذِينَ عَادَيْتُمْ مِنْهُمْ مَوَدَّةً وَاللَّهُ قَدِيرٌ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:6pt 0 6pt 1cm;"><span style="font-size:small;"><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. dan Allah adalah Maha Kuasa. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang </span></em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">(QS. al-Mumta<span style="text-decoration:underline;">h</span>anah/60: 7).</span><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"></span></em></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span style="font-size:small;">Saat melihat kebatilan beraksi karena kebenaran sedang lengah, ia yakin bahwa kebatilan pasti sirna dan kebenaran pasti tampil dan menang:</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="direction:rtl;text-indent:0;line-height:normal;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;" lang="AR-SA">بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ وَلَكُمُ الْوَيْلُ مِمَّا تَصِفُونَ</span><strong><em><span style="font-size:16pt;font-family:Calibri;" dir="ltr" lang="DA"></span></em></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:0 0 6pt 1cm;"><span style="font-size:small;"><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">Sebenarya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu mensifati [Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya] </span></em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">(QS al-Anbiyâ`/21: 18).</span><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"></span></em></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="direction:rtl;text-indent:0;line-height:normal;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 1cm;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;" lang="AR-SA">فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ </span><strong><em><span style="font-size:16pt;font-family:Calibri;" dir="ltr" lang="DA"></span></em></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:6pt 0 6pt 1cm;"><span style="font-size:small;"><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi </span></em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">(QS. al-Ra’d/13: 17)</span><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">.</span></em></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span style="font-size:small;">Dan saat tiba masa tua, tak henti ia berharap akan kehidupan lain di mana ia akan selalu muda tak pernah tua, selalu hidup tak pernah mati dan selalu bahagia tak pernah sengsara. </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="direction:rtl;text-indent:0;line-height:normal;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 1cm;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;" lang="AR-SA">جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدَ الرَّحْمَنُ عِبَادَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّهُ كَانَ وَعْدُهُ مَأْتِيًّا</span><strong><em><span style="font-size:16pt;font-family:Calibri;" dir="ltr" lang="DA">.</span></em></strong><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;" lang="AR-SA">لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا إِلَّا سَلَامًا وَلَهُمْ رِزْقُهُمْ فِيهَا بُكْرَةً وَعَشِيًّا</span><strong><em><span style="font-size:16pt;font-family:Calibri;" dir="ltr" lang="DA"></span></em></strong></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:Calibri;" lang="DA">Yaitu surga `Adn yang telah dijanjikan oleh Tuhan Yang Maha Pemurah kepada hamba-hamba-Nya, sekalipun (surga itu) tidak nampak. Sesungguhnya janji Allah itu pasti akan ditepati.</span><span style="font-size:14pt;font-family:Calibri;" lang="DA"> </span><span style="font-size:12pt;font-family:Calibri;" lang="DA">Mereka tidak mendengar perkataan yang tak berguna di dalam surga, kecuali ucapan salam. Bagi mereka rezkinya di surga itu tiap-tiap pagi dan petang </span><em><span style="font-size:12pt;font-family:Calibri;" lang="DA">(QS. Maryam/19: 61-62).</span></em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abualitya.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abualitya.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abualitya.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abualitya.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abualitya.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abualitya.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abualitya.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abualitya.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abualitya.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abualitya.wordpress.com/159/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&blog=3401246&post=159&subd=abualitya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abualitya.wordpress.com/2009/03/25/iman-dan-harapan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/af2bf86b31ef30cccc6bf9168f250ae4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Iman dan Cinta</title>
		<link>http://abualitya.wordpress.com/2009/03/12/iman-dan-cinta/</link>
		<comments>http://abualitya.wordpress.com/2009/03/12/iman-dan-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2009 01:24:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abualitya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seri Iman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abualitya.wordpress.com/?p=156</guid>
		<description><![CDATA[Nabi Saw. bersabda: ”Demi Zat Yang jiwaku di Tangan-Nya, kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai” (HR Muslim).
Cinta mengandung makna yang lebih khusus dan dalam dari ridha (rela). Boleh jadi seseorang rela dengan sesuatu, tapi kerelaannya ini tidak sampai membawanya mencintai sesuatu itu. Urusan cinta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&blog=3401246&post=156&subd=abualitya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span style="font-size:small;">Nabi Saw. bersabda: ”Demi Zat Yang jiwaku di Tangan-Nya, kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai” (HR Muslim).</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span style="font-size:small;">Cinta mengandung makna yang lebih khusus dan dalam dari ridha (rela). Boleh jadi seseorang rela dengan sesuatu, tapi kerelaannya ini tidak sampai membawanya mencintai sesuatu itu. Urusan cinta lain dari urusan rela. Cinta adalah ruh wujud, obat hati yang mujarab, dan kunci kedamaian manusia. Jika gravitasi sanggup menahan bumi, planet-planet dan benda-benda angkasa lainnya dari saling berbenturan sehingga benda-benda itu tidak berjatuhan, terbakar dan hancur, maka cinta mampu menjaga hubungan-hubungan antar manusia dari benturan, bentrokan dan pertumpahan darah.<span id="more-156"></span></span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span style="font-size:small;">Dulu, seorang sufi dan penyair besar, Jalaluddîn Rumi berkata:</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:6pt 0 0 1cm;" dir="ltr"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span style="font-size:small;">Cinta mengubah pahit jadi manis, lumpur jadi emas, keruh jadi bening, sakit jadi sembuh, penjara jadi taman, sengsara jadi nikmat, tekanan jadi kasih sayang. Cintalah yang meluluhkan besi, menghancurkan batu, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya. </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:0 0 0 1cm;" dir="ltr"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span style="font-size:small;">Sesungguhnya cinta ini adalah sayap yang dengannya manusia-materil yang berat bisa terbang di angkasa, dari bumi bisa sampai ke langit, dari tanah bisa sampai ke bintang.</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:0 0 0 1cm;" dir="ltr"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span style="font-size:small;">Allah memberkahi budak materi dan para pemuja jasmani pada benda milik dan harta mereka. Kami tidak menggugat mereka sedikit pun. Sedangkan kami membangun negara cinta yang tidak akan musnah dan berubah.</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:0 0 6pt 1cm;" dir="ltr"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Allah memberkahi hidupmu wahai cinta! </span><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">Wahai dokter penyakit dan laraku! Wahai penghilang rasa takut dan sombongku! Wahai dokterku yang berpengalaman! Wahai penyembuh duka lara!!</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:6pt 0;" dir="ltr"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span style="font-size:small;">Seorang wartawan-sastrawan Mesir ternama, Muhammad Zaki ’Abdul Qadir menulis:</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:0 0 0 1cm;" dir="ltr"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span style="font-size:small;">Dari kejauhan kulihat kilau cahaya di tengah laut bagaikan bintang yang bersinar. Aku berangan seandainya nanti di suatu waktu aku memiliki sesuatu seperti bintang itu. Siapakah di antara kita tak berangan memiliki bintang yang bersinar di suatu waktu nanti&#8230;bintang bersinar di sisa hari-hari kita&#8230;gerangan apa yang akan terjadi?</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:0 0 0 1cm;" dir="ltr"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span style="font-size:small;">Filsafat&#8230;tidak memberi kita selain logika hampa.</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:0 0 0 1cm;" dir="ltr"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span style="font-size:small;">Hati-hati&#8230;tidak memberi kita selain rasa rakut berketerusan.</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:0 0 0 1cm;" dir="ltr"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span style="font-size:small;">Kerja&#8230;tidak memberi kita selain keringat bercucuran dan iri yang berkobar.</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:0 0 0 1cm;" dir="ltr"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span style="font-size:small;">Harta&#8230;tidak memberi kita selain rasa takut, khawatir, keringat dan masalah.</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:0 0 0 1cm;" dir="ltr"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span style="font-size:small;">Cinta&#8230;dialah satu-satunya mutiara yang memberi kita rasa aman, nyaman dan damai. </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:0 0 0 1cm;" dir="ltr"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">Kita mencintai segala sesuatu&#8230;setiap orang&#8230;bahkan ujian hidup kita cintai seperti kita mencintai nikmat. Ujian kita cintai untuk membangkitkan semangat juang sehingga jiwa penuh gelora&#8230;Nikmat kita cintai sebab ia adalah angin sepoi yang mendinginkan panasnya pertempuran. </span><span style="font-family:Calibri;">Kita mencintai wujud semuanya; awal dan akhirnya, kematian dan kehidupannya.</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:0 0 0 1cm;" dir="ltr"><span style="font-family:Calibri;"><span style="font-size:small;">Adakah seseorang yang sanggup mencintai cinta ini? Jika ada maka ia adalah malaikat&#8230;<span>    </span></span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-family:Calibri;"><span style="font-size:small;">Pertanyaan di atas dapat kita jawab, bahwa yang sanggup mencintai cinta yang agung ini hanya satu manusia, yaitu manusia yang hatinya berpadu dengan iman. Hanya iman yang merupakan sumber cinta murni nan abadi. Hanya orang yang beriman yang sanggup mencintai segala sesuatu, hatta kesulitan hidup. Mencintai wujud sepenuhnya; awal dan akhirnya, kematian dan kehidupannya.</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-family:Calibri;"><span style="font-size:small;">Dengan akidah Islam, orang beriman sanggup menembus sampai ke rahasia wujud. Maka ia mencintai Allah; pemberi kehidupan dan sumber penciptaan. Ia mencintai-Nya karena keindahan-Nya yang terlihat pada keindahan dan keteraturan alam semesta ciptaan-Nya. </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="direction:rtl;text-indent:0;line-height:normal;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 1cm;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="AR-SA">مَا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ</span><strong><em><span style="font-size:14pt;font-family:Calibri;" dir="ltr" lang="DA"></span></em></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:6pt 0 6pt 1cm;" dir="ltr"><span style="font-size:small;"><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang </span></em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">(QS. al-Mulk/67: 3).</span><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"> </span></em></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-family:Calibri;"><span style="font-size:small;">Manusia seperti inilah yang mencintai-Nya karena kesempurnaan-Nya. Sejatinya tidak ada kesempurnaan kecuali kesempurnaan-Nya. Semua kesempurnaan yang kita lihat<span>  </span>hanyalah kesempurnaan nisbi yang berasal dari kesempurnaan-Nya nan hakiki. </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span style="font-size:small;">Ia mencintai-Nya karena kebaikan-Nya. Tidak ada kebaikan yang setara dengan kebaikan Zat Yang telah menciptakannya dari tidak ada, menjadikannya manusia sempurna, menjadikannya pemimpin di bumi, dan menaklukkan baginya semesta alam. </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="direction:rtl;text-indent:0;line-height:normal;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;" lang="AR-SA">هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:6pt 0 6pt 1cm;" dir="ltr"><span style="font-size:small;"><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu </span></em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">(QS. al-Baqarah/2: 29).</span><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"></span></em></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span style="font-size:small;">Selain mencintai Allah, seorang Mukmin juga mencintai alam dan segenap wujud, sebab itu merupakan salah satu ayat Tuhan-Nya. Alam bukan musuh manusia melainkan tercipta untuk melayani dan membantu manusia menjalankan tugas khilafah di bumi. Semua yang ada di alam semesta memanjatkan puji bagi Allah dengan bahasa yang tidak dapat ditangkap oleh akal manusia yang terbatas.</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="direction:rtl;text-indent:0;line-height:normal;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 0 1cm;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;" lang="AR-SA">تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ </span><strong><em><span style="font-size:16pt;font-family:Calibri;" dir="ltr" lang="DA"></span></em></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:6pt 0 6pt 1cm;" dir="ltr"><span style="font-size:small;"><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka </span></em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">(QS. al-Isrâ`/17: 44). </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">Seorang Mukmin juga mencintai hidup. Ia tidak menganggap hidup sebagai dosa warisan dari kedua orang tuanya, atau kesia-siaan yang harus dijauhi, atau penjara yang harus ditakuti. Baginya, hidup adalah risalah yang harus diemban dan nikmat yang harus disyukuri. Sabda Nabi Saw.: ”Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalnya” (HR Ahmad dan</span><strong><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"> </span></em></strong><span style="font-family:Calibri;">Tirmidzî).</span><span style="font-family:Calibri;"> </span><span style="font-family:Calibri;"></span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span style="font-size:small;">Namun kecintaan seorang Mukmin pada hidup bukan cinta pada kenikmatan-kenikmatannya yang rendah, kelezatan-kelezatannya yang sementara yang menjadikannya takut pada mati dan terikat kuat dengan dunia. Ia mencintai hidup karena di dalamnya ia mampu menjalankan kewajibannya pada Allah. </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">Ia juga mencintai mati karena dengannya ia dapat segera menemui Tuhannya. Dalam sebuah hadis dikatakan, ”Orang yang menginginkan pertemuan dengan Allah, Allah menginginkan pertemuan dengannya” (HR </span><span style="font-family:Calibri;">Muttafaq ‘Alayh</span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">).</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span style="font-size:small;">Dan seorang Mukmin mencintai seluruh manusia sebab mereka adalah saudaranya dalam hal keturunan dan temannya dalam hal penyembahan kepada Tuhan. Antara mereka dan dirinya dipersatukan oleh nasab keturunan, tujuan dan musuh yang sama. Kesamaan nasab ditegaskan firman-Nya:</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="direction:rtl;text-indent:0;line-height:normal;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:6pt 0 0 1cm;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;" lang="AR-SA">يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:6pt 0 6pt 1cm;" dir="ltr"><span style="font-size:small;"><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim </span></em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">(QS. al-Nisâ`/4: 1).</span><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"> </span></em></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span style="font-size:small;">Tentang kesamaan tujuan dan musuh, Allah SWT. berfirman:</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="direction:rtl;text-indent:0;line-height:normal;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:6pt 0 0 1cm;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;" lang="AR-SA">يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ(5)إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ</span><strong><em><span style="font-size:16pt;font-family:Calibri;" dir="ltr" lang="DA"></span></em></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:6pt 0 6pt 1cm;" dir="ltr"><span style="font-size:small;"><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan- setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala </span></em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">(QS. Fâthir/35: 5-6).</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span style="font-size:small;">Buah pertama dari cinta yang ditanam iman dalam hati seorang Mukmin adalah selamatnya si Mukmin dari iri dan dengki. Cahaya iman menjadi jaminan larinya dengki dari hatinya. Karena itu, hari-harinya dihiasi dengan kelapangan dada dan kebeningan hati, serta dipanjatkannya doa orang-orang saleh:</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="direction:rtl;text-indent:0;line-height:normal;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:6pt 0 0 1cm;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;" lang="AR-SA">رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ</span><strong><em><span style="font-size:16pt;font-family:Calibri;" dir="ltr" lang="DA"></span></em></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:6pt 0 6pt 1cm;" dir="ltr"><span style="font-size:small;"><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang </span></em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">(QS. al-<span style="text-decoration:underline;">H</span>asyr/59: 10).</span><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"> </span></em></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">Sedangkan derajat cinta yang tertinggi adalah </span><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">al-îtsâr</span></em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">; yaitu seseorang mendahulukan saudaranya atas dirinya. Maka diberikannya sesuatu kepada saudaranya padahal ia sendiri membutuhkannya. Ia memilih lapar asalkan saudarnya kenyang, memilih bersusah payah yang penting saudarnya senang, dan memilih terjaga malam asalkan saudaranya tidur. </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">Dunia tidak pernah melihat cinta mulia nan hakiki mengalahkan keinginan dan kepentingan pribadi seperti cinta yang pilar-pilarnya ditegakkan Islam di tengah-tengah kaum Muslimin dalam masyarakat Madinah. Lihatlah kaum Muhajirin meninggalkan kampung halaman dan harta mereka untuk mencari karunia dan keridhaan Allah serta untuk membela Allah dan Rasul-Nya. Mereka disambut oleh saudaranya, kaum Anshar, penduduk Madinah dengan dada yang lapang. Kaum Anshar menyambut kaum Muhajirin layaknya orang yang kehausan menyambut air yang dingin dan segar. Mereka berlomba, masing-masing dari mereka ingin mendapatkan satu orang Muhajrin untuk dibawa ke rumahnya, sehingga memaksa mereka untuk mengadakan undian. Kemudian Rasulullah Saw. mempersudarakan mereka dengan persaudaraan yang setara dengan persaudaraan nasab dan darah. Maka leburlah perbedaan-perbedaan kedaerahan dan keturunan; tidak ada lagi orang Qahthân dan ’Adnan, orang utara dan selatan, orang Yaman dan Hijaz, orang Aus dan Khazraj. Hapus pula perbedaan strata dan profesi, tidak ada kaya dan miskin, pedagang dan petani. Yang ada hanya persaudaraan sejati, cinta, ikhlas, dan </span><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">îtsâr</span></em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">. </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="direction:rtl;text-indent:0;line-height:normal;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:6pt 0 0 1cm;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;" lang="AR-SA">وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ</span><strong><em><span style="font-size:16pt;font-family:Calibri;" dir="ltr" lang="DA"></span></em></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:6pt 0 6pt 1cm;" dir="ltr"><span style="font-size:small;"><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah Telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya dia Maha gagah lagi Maha Bijaksana </span></em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">(QS. al-Anfâl/8: 63).</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span style="font-size:small;">Dalam Kitab-Nya, Allah mengabadikan pujian-Nya atas sikap kaum Anshar:</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="direction:rtl;text-indent:0;line-height:normal;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:6pt 0 0 1cm;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;" lang="AR-SA">وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"><span style="font-size:small;"><span style="font-weight:normal;font-family:Calibri;" lang="DA"><em>Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan </em></span><span style="font-weight:normal;font-style:normal;font-family:Calibri;" lang="DA">(QS. al-<span style="text-decoration:underline;">H</span>asyr/59: 9).</span></span><span style="font-weight:normal;" lang="DA"></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abualitya.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abualitya.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abualitya.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abualitya.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abualitya.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abualitya.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abualitya.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abualitya.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abualitya.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abualitya.wordpress.com/156/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&blog=3401246&post=156&subd=abualitya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abualitya.wordpress.com/2009/03/12/iman-dan-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/af2bf86b31ef30cccc6bf9168f250ae4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Iman, Perjuangan dan Pengorbanan</title>
		<link>http://abualitya.wordpress.com/2009/03/02/iman-perjuangan-dan-pengorbanan/</link>
		<comments>http://abualitya.wordpress.com/2009/03/02/iman-perjuangan-dan-pengorbanan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Mar 2009 00:45:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abualitya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seri Iman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abualitya.wordpress.com/?p=152</guid>
		<description><![CDATA[Jika manusia membiarkan egoisme menguasai dirinya, mengendalikan perilakunya, dan mengarahkan sikapnya dalam berhubungan dengan sesamanya, maka kita tidak akan menemukan selain manusia yang rakus dan kikir, hanya ingin mengambil keuntungan, tidak pernah terpikir untuk memberi keuntungan, hanya mengambil tidak pernah memberi, hanya menginginkan keuntungan tapi tidak mau bekerja, hanya bisa berkata: &#8220;Ini milikku&#8230;untukku&#8221;, dan tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&blog=3401246&post=152&subd=abualitya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:22pt;margin:0;"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span style="font-size:small;">Jika manusia membiarkan egoisme menguasai dirinya, mengendalikan perilakunya, dan mengarahkan sikapnya dalam berhubungan dengan sesamanya, maka kita tidak akan menemukan selain manusia yang rakus dan kikir, hanya ingin mengambil keuntungan, tidak pernah terpikir untuk memberi keuntungan, hanya mengambil tidak pernah memberi, hanya menginginkan keuntungan tapi tidak mau bekerja, hanya bisa berkata: &#8220;Ini milikku&#8230;untukku&#8221;, dan tidak pernah berkata: &#8220;Ini beban tanggunganku&#8230;&#8221;. Manusia yang akan kita temukan hanya manusia-manusia yang pintar berkata: &#8220;Diriku&#8230;.diriku&#8221;, tak pernah berucap: &#8220;Umatku&#8230;umatku.&#8221; <span id="more-152"></span></span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:22pt;margin:0;"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span style="font-size:small;">Manusia, jika dibiarkan mengikuti egoismenya, maka ia hanya akan mencari selamat dan tidak pernah merelakan dirinya menghadapi bahaya atau ancaman demi sebuah konsep mulia, misi luhur, atau nilai agung. Jika semangat &#8220;cari selamat&#8221; ini merebak maka roda kemajuan akan berhenti, mentari peradaban akan tenggelam, rambu-rambu kebenaran akan sirna, dan sumber-sumber kebaikan akan punah. Sebab risalah agung para nabi dan pemikiran brilian para pembaru tidak akan tegak tanpa pengorbanan jiwa, raga, harta, serta segala yang berharga dan dicinta seperti pasangan hidup dan keluarga. Ini terjadi bukan hanya di dunia ide dan pemikiran saja tapi juga kita temukan karya-karya besar, proyek-proyek raksasa dan revolusi-revolusi dahsyat di dunia produksi, ekonomi, industri dan perdagangan. Semuanya ini terwujud karena hasil dari perjuangan dan pengorbanan. <span> </span></span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:22pt;margin:0;"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span style="font-size:small;">Masyarakat yang ingin membangun keagungan, menorehkan peradaban dan menegakkan sebuah risalah, membutuhkan usaha ekstra untuk bangun, bangkit dan bekerja; membutuhkan nalar-nalar yang tak pernah bosan berpikir, orang-orang giat bekerja tanpa kenal lelah, tekad membara tak kenal rasa bosan; memerlukan manusia yang memberi sebelum mengambil, menunaikan kewajiban sebelum menuntut hak; orang yang dengan senang hati berpisah dari keluarga demi umat, jauh dari rumah demi tanah air, ringan memberikan harta saat diperlukan, memberikan jiwa ketika tak ada pilihan, mengorbankan kepentingan pribadinya demi kemaslahatan umum; rela hidup bersusah payah demi menang serta tegaknya kebenaran dan kebaikan, bahkan rela dengan kepahitan hidup, penyiksaan fisik dan kematian demi apa yang diyakininya sebagai kebenaran dan kebaikan.</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:22pt;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">Pertanyaannya, lembaga pendidikan apa yang sanggup melahirikan manusia-manusia seperti itu? Manusia-manusia berkualitas itu adalah jebolan sekolah iman (</span><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">madrasah al-îmân</span></em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">). Imanlah yang menjadikan seseorang menganggap hina syahwat dan tuntutan duniawinya. Dengan iman, cukup baginya sedikit saja makanan yang sekadar dapat mengganjal rasa laparnya, pakaian yang hanya dapat menutupi auratnya. Jika seseorang rela dengan harta yang sedikit dan tempat tinggal yang sederhana, maka ringan baginya untuk mengeluarkan hartanya, meninggalkan tempat tinggal dan keluarganya; bahkan hidupnya sendiri dirasanya begitu ringan. Ketika maut menjemputnya di medan jihad, disambutnya dengan tenang dan gembira sebab ia yakin bahwa ada surga di belakangnya:</span><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"> </span></em></span><em><span style="font-size:14pt;font-family:Calibri;" lang="DA">&#8220;</span></em><span style="font-size:small;"><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">Dan keridhaan Allah adalah lebih besar</span></em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"> (</span><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">QS. al-Tawbah/9: 72</span><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">).&#8221;</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:22pt;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">Manusia hampir tidak pernah memberi sesuatu kecuali untuk mengambil sesuatu sebagai imbalannya, baik tunai atau ditangguhkan. Jiwanya selalu menantikan balasan yang adil atas apa yang pernah diberikannya. Para filosof materialis mencoba menjawab masalah ini dengan apa yang mereka namai dengan </span><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">al-dhamîr </span></em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">(hati nurani). Hati nuranilah, menurut mereka, yang memberi balasan kepada pelaku kebaikan dan penunai kewajiban berupa rasa puas dan nyaman yang dirasakan seseorang dalam dirinya. </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:22pt;margin:0;"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span style="font-size:small;">Tapi para filosof itu tidak dapat menjawab pertanyaan tentang bagaimana balasan bagi orang yang mengorbankan jiwa dan nyawanya lalu mati sebagai syahid di jalan kebenaran. Apakah setelah mati orang itu akan merasakan kepuasan dan kenyamanan jiwa? Bukankah—menurut mereka (para filosof materialis itu), kematian hanyalah kepunahan belaka?</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:22pt;margin:0;"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span style="font-size:small;">Hanya iman kepada Allah dan kepada pembalasan hari akhir yang dapat menjawab masalah ini. Perjuangan dan pengorbanan demi agamalah yang dapat memecahkan persoalan ini dalam diri manusia. Sebab bagi orang yang beriman, apa yang ia berikan akan kembali padanya berlipat-lipat banyaknya, harta yang ia berikan akan diganti oleh Allah, apa yang menimpa jiwa dan raganya akan diganti pula oleh Allah, dan jika ia mempersembahkan nyawanya di jalan Allah lalu mati atau terbunuh, pada hakikatnya ia tidak mati melainkan hidup di sisi Tuhannya dan diberi rezeki. Tentang ini semua Allah berfirman:</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="direction:rtl;text-indent:0;line-height:normal;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:6pt 0 0;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;" lang="AR-SA">وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ</span><strong><em></em></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:0 0 6pt 1cm;"><span style="font-size:small;"><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya</span></em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"> (QS. al-Baqarah/2: 272).</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="direction:rtl;text-indent:0;line-height:normal;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:6pt 0 0;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;" lang="AR-SA">وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:6pt 0 6pt 1cm;"><span style="font-size:small;"><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezki yang sebaik-baiknya</span></em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"> (QS. Sabâ`/34: 39)</span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Calibri;" lang="DA">.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="direction:rtl;text-indent:0;line-height:normal;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:6pt 0 0;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;" lang="AR-SA">وَلَئِنْ قُتِلْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ مُتُّمْ لَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرَحْمَةٌ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ</span><strong><em></em></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:0 0 6pt 1cm;"><span style="font-size:small;"><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">Dan sungguh kalau kamu gugur di jalan Allah atau meninggal, tentulah ampunan Allah dan rahmat-Nya lebih baik (bagimu) dari harta rampasan yang mereka kumpulkan </span></em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">(QS. Âli &#8216;Imrân/3: 157).</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="direction:rtl;text-indent:0;line-height:normal;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 1cm;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;" lang="AR-SA">وَالَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَلَنْ يُضِلَّ أَعْمَالَهُمْ(4)سَيَهْدِيهِمْ وَيُصْلِحُ بَالَهُمْ(5)وَيُدْخِلُهُمُ الْجَنَّةَ عَرَّفَهَا لَهُمْ</span><strong><em><span style="font-size:16pt;font-family:Calibri;" dir="ltr" lang="DA"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:6pt 0 6pt 1cm;"><span style="font-size:small;"><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Allah akan memberi pimpinan kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka, dan memasukkan mereka ke dalam jannah yang telah diperkenankan-Nya kepada mereka </span></em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">(QS. Mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>ammad/47: 4-6).</span><em></em></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:22pt;margin:0;"><span style="font-family:Calibri;" lang="DA"><span style="font-size:small;">Segala yang diberikan—baik materil maupun non-materi, jiwa maupun raga—oleh seorang Mukmin di jalan Allah, sekecil apa pun, akan ditulis dalam catatan kebaikannya di sisi-Nya. Tidak akan ada yang terlewat, sampai langkah yang ia ayunkan, uang receh yang ia keluarkan, lapar, haus dan lelah yang ia rasakan. </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="direction:rtl;text-indent:0;line-height:normal;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:6pt 0 0 1cm;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;" lang="AR-SA">مَا كَانَ لِأَهْلِ الْمَدِينَةِ وَمَنْ حَوْلَهُمْ مِنَ الْأَعْرَابِ أَنْ يَتَخَلَّفُوا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ وَلَا يَرْغَبُوا بِأَنْفُسِهِمْ عَنْ نَفْسِهِ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ لَا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلَا نَصَبٌ وَلَا مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلَا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ(120)وَلَا يُنْفِقُونَ نَفَقَةً صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً وَلَا يَقْطَعُونَ وَادِيًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:0 0 6pt 1cm;"><span style="font-size:small;"><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri rasul. yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik, dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula) karena Allah akan memberi balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan </span></em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">(QS</span><em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">. </span></em><span style="font-family:Calibri;" lang="DA">al-Tawbah/9: 120-121).</span></span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:Calibri;" lang="DA">Tidak heran jika kita lihat agama ini pada masa kejayaan dan kemajuannya sanggup memberikan contoh-contoh yang indah tentang perjuangan dan pengorbanan, serta mampu melahirkan dalam jumlah yang amat besar manusia-manusia yang selalu siap mempersembahkan jiwa dan hartanya di jalan Allah dengan penuh kerelaan dan suka hati.</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abualitya.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abualitya.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abualitya.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abualitya.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abualitya.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abualitya.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abualitya.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abualitya.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abualitya.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abualitya.wordpress.com/152/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&blog=3401246&post=152&subd=abualitya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abualitya.wordpress.com/2009/03/02/iman-perjuangan-dan-pengorbanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/af2bf86b31ef30cccc6bf9168f250ae4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Saudi Security Police Open Fire on Shia Pilgrims in Medina</title>
		<link>http://abualitya.wordpress.com/2009/02/26/saudi-security-police-open-fire-on-shia-pilgrims-in-medina/</link>
		<comments>http://abualitya.wordpress.com/2009/02/26/saudi-security-police-open-fire-on-shia-pilgrims-in-medina/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Feb 2009 06:56:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abualitya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nukilan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abualitya.wordpress.com/?p=150</guid>
		<description><![CDATA[Written by Zainab Hasan
Wednesday, 25 February 2009 00:15
Saudi security forces and the Wahhabi &#8216;religious police&#8217; have killed at least two Shia pilgrims in the holy city of Medina in what appears to be a premeditated and coordinated attack. The courtyard of the holy mosque of the Prophet (s) witnessed heavy clashes on Tuesday afternoon when [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&blog=3401246&post=150&subd=abualitya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Written by Zainab Hasan<br />
Wednesday, 25 February 2009 00:15<br />
Saudi security forces and the Wahhabi &#8216;religious police&#8217; have killed at least two Shia pilgrims in the holy city of Medina in what appears to be a premeditated and coordinated attack. The courtyard of the holy mosque of the Prophet (s) witnessed heavy clashes on Tuesday afternoon when security forces opened fire on Shia pilgrims who had come to commemorate the death anniversary of the Holy Prophet of Islam.<br />
The provocations began on Friday evening when religious police prevented pilgrims from mourning the death of the Holy Prophet and instead started to film a group of female Shia pilgrims outside the al-Baqee Cemetery in Medina. Footage of this unwarranted provocation has been made available online: YouTube. The raw footage captures the highly charged atmosphere in the courtyard caused by the aggressive conduct of the religious police.<br />
When male relatives expressed their protest at the mistreatment of the female visitors to the shrine, five of them were jailed by security forces. The names of those jailed are: Abdullah Muhammad Al-Matroud, Abdul-Aziz Al-Darwish from the town of Qatif, Murtadha Faysal Al-Arbash from Dammam, Abdullah Jum’ah Al-Mumin aged fifteen (15) and Mukhtar Muhammad Al-Nasir.<br />
Wahhabi religious police in the holy cities of Mecca and Medina are notorious for manhandling Shia pilgrims and often subject them to harsh treatment. The Saudi kingdom on its part has a long history of support for Wahhabi and Salafi radical groups, with leading figures in the monarchical hierarchy such as Bandar bin Sultan, known for their particular hatred towards the Shia.<br />
The clashes boiled over on Tuesday when Saudi security police aided by Wahhabi fanatics set a parameter around visiting Shia pilgrims and later opened fire on them resulting in two fatalities and several casualties, some of whom with life-threatening injuries. Amongst those critically injured is young Abdullah Al-Hassaani aged fifteen (15) who is presently being treated in the intensive care unit in one of the hospitals in Medina. Abdullah was shot in the chest by security forces.<br />
Earlier in the day, Shia cleric Sheikh Jawad Al-Hodhry was attacked with a knife by a Wahhabi fanatic at the entrance of the mosque of the Holy Prophet.<br />
The nature in which the Saudi security forces have conducted themselves in dealing with visitors to the holy shrine of the Prophet, and the consequent escalation to bloody clashes witnessed in the courtyard of the holy mosque shows a well planned and premeditated attack aimed at vilifying, and laying blame on the Shia population in Saudi Arabia. There can be no doubt that in the aftermath of these clashes there will be even more severe restrictions placed on Shias living in the kingdom.<br />
Reports by human right groups have always underlined the systematic suppression faced by the Shia minority at the hands of the Saudi government.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abualitya.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abualitya.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abualitya.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abualitya.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abualitya.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abualitya.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abualitya.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abualitya.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abualitya.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abualitya.wordpress.com/150/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&blog=3401246&post=150&subd=abualitya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abualitya.wordpress.com/2009/02/26/saudi-security-police-open-fire-on-shia-pilgrims-in-medina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/af2bf86b31ef30cccc6bf9168f250ae4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Iman dan Akhlak</title>
		<link>http://abualitya.wordpress.com/2009/02/18/iman-dan-akhlak/</link>
		<comments>http://abualitya.wordpress.com/2009/02/18/iman-dan-akhlak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Feb 2009 00:56:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abualitya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seri Iman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abualitya.wordpress.com/?p=146</guid>
		<description><![CDATA[Muhammad ’Abdullah Darâz berkata:
Kehidupan bermasyarakat tidak akan tegak tanpa kerja sama antar anggotanya. Kerja sama ini hanya dapat terjadi jika ada undang-undang yang mengatur hubungan-hubungan antar anggota masyarakat serta membatasi hak-hak dan kewajibannya. Tapi undang-undang ini tetap memerlukan sebuah kekuatan yang memiliki kewibawaan dan supremasi dalam jiwa manusia serta menjamin terjaganya.
Kami tegaskan bahwa di muka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&blog=3401246&post=146&subd=abualitya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Book Antiqua;">Muhammad ’Abdullah Darâz berkata:</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:6pt 0 0 1cm;"><span style="font-size:10pt;" lang="DA"><span style="font-family:Book Antiqua;">Kehidupan bermasyarakat tidak akan tegak tanpa kerja sama antar anggotanya. Kerja sama ini hanya dapat terjadi jika ada undang-undang yang mengatur hubungan-hubungan antar anggota masyarakat serta membatasi hak-hak dan kewajibannya. Tapi undang-undang ini tetap memerlukan sebuah kekuatan yang memiliki kewibawaan dan supremasi dalam jiwa manusia serta menjamin terjaganya.</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:0 0 0 1cm;"><span style="font-size:10pt;" lang="DA"><span style="font-family:Book Antiqua;">Kami tegaskan bahwa di muka bumi ini tidak ada kekuatan yang setara atau mendekati kekuatan agama dalam menjamin tegaknya hukum, keharmonisan antar anggota masyarakat, ketaatan pada aturan-aturannya, serta terciptanya ketenteraman dan kedamaian di dalamnya.<span id="more-146"></span> </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:0 0 6pt 1cm;"><span style="font-size:10pt;" lang="DA"><span style="font-family:Book Antiqua;">&#8230;&#8230;.Jelas keliru kalau kita menyangka bahwa ilmu pengetahuan saja sanggup menjamin terciptanya kedamaian dan ketenangan. Tidak benar jika ilmu pengetahuan dapat menggantikan pendidikan serta tuntunan agama dan akhlak. Itu tak lain karena ilmu bagaikan pisau bermata dua; dapat merusak dan menghancurkan, seperti juga dapat membangun dan menyejahterakan. Agar kita dapat menggunakannya dengan baik maka harus ada pengawas moral yang mengarahkannya pada hal-hal yang melahirkan kebaikan bagi manusia dan kemakmuran bumi, bukan kepada keburukan dan kerusakan. Pengawas itu adalah akidah dan iman. </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:10pt;" lang="DA"><span style="font-family:Book Antiqua;">Akhlak merupakan pilar jiwa pribadi yang memiliki keutamaan, penyangga masyarakat yang bermartabat. Suatu masyarakat akan tegak selama ada akhlak di dalamnya dan akan hancur ketika akhlak tidak ada di dalamnya. Dalam pandangan agama umumnya dan Islam khususnya, akhlak memiliki tempat yang tinggi dan kedudukan yang terhormat. Pujian tertinggi al-Qur`an untuk Rasulullah Saw. adalah:</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="direction:rtl;text-indent:0;line-height:normal;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" dir="rtl"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="AR-SA">وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:6pt 0 6pt 1cm;"><span style="font-family:Book Antiqua;"><em><span style="font-size:10pt;" lang="DA">Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung</span></em><span style="font-size:10pt;" lang="DA"> (QS. al-Qalam/68: 4).</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:10pt;" lang="DA"><span style="font-family:Book Antiqua;">Nabi Saw. sendiri menyimpulkan risalah yang dibawanya dalam sabdanya: </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:6pt 0 6pt 1cm;"><span style="font-size:10pt;" lang="DA"><span style="font-family:Book Antiqua;">Sesunggguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (HR. al-Bukhârî).</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:10pt;" lang="DA"><span style="font-family:Book Antiqua;">Mengacu kepada Hadits di atas, tidak heran jika kemudian kita mendapati ulama besar setaraf Ibn al-Qayyim menyatakan bahwa agama adalah akhlak. Pernyataan ini sejalan dengan sabda Rasulullah Saw.: </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:0 0 0 1cm;"><span style="font-size:10pt;" lang="DA"><span style="font-family:Book Antiqua;">Orang Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya (HR. al-Tirmidzî).</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:6pt 0 6pt 1cm;"><span style="font-size:10pt;" lang="DA"><span style="font-family:Book Antiqua;">Kebajikan itu adalah akhlak yang baik (HR. Muslim). </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:6pt 0 6pt 1cm;"><span style="font-size:10pt;" lang="DA"><span style="font-family:Book Antiqua;">Tidak ada yang lebih berat dalam timbangan amal seorang Mukmin pada hari kiamat dari akhlak yang baik (HR. al-Tirmidzî).</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-family:Book Antiqua;"><span style="font-size:10pt;" lang="DA">Demikianlah, bagi agama, akhlak merupakan pilar penopang, sedang bagi masyarakat, akhlak merupakan pondasi. Agama tidak sekadar mengajak dan memuji akhlak mulia. Lebih dari itu, agama membangun kaidah-kaidahnya, menentukan batas-batasnya, menetapkan tolok ukurnya, memberi sejumlah contoh bagi beberapa perilaku, mendorong manusia untuk konsisten memedomaninya, mewanti-wanti mereka agar tidak melakukan penyimpangan, serta menetapkan </span><em><span style="font-size:10pt;" lang="DA">reward</span></em><span style="font-size:10pt;" lang="DA"> dan </span><em><span style="font-size:10pt;" lang="DA">punishment</span></em><span style="font-size:10pt;" lang="DA">; </span><em><span style="font-size:10pt;" lang="DA">reward</span></em><span style="font-size:10pt;" lang="DA"> bagi perilaku terpuji, </span><em><span style="font-size:10pt;" lang="DA">punishment</span></em><span style="font-size:10pt;" lang="DA"> bagi perilaku tercela.<span>  </span>Akhlak mulia menjadi tujuan dari misi besar agama. Apa yang diajarkan dalam agama akan dapat terlaksana dengan baik jika para umatnya memiliki landasan akhlak yang mulia.</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:10pt;" lang="DA"><span style="font-family:Book Antiqua;">Pernyataan Mahathma Ghandi berikut ini menarik untuk kita jadikan bahan refleksi bersama tentang hubungan yang erat antara agama dan akhlak mulia:</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:6pt 0 6pt 1cm;"><span style="font-size:10pt;" lang="DA"><span style="font-family:Book Antiqua;">Sesungguhnya agama dan akhlak mulia merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya tidak dapat berpisah satu sama lain. Keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dibagi-bagi. Agama bagaikan ruh bagi akhlak dan akhlak seperti udara bagi ruh. Dengan ungkapan lain: Agama memupuk akhlak, menumbuhkan dan menyegarkannya. Seperti halnya air memberi makan dan menumbuhkan tanaman. </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:10pt;" lang="DA"><span style="font-family:Book Antiqua;">Pernyataan Ghandi ini semakin mengukuhkan hubungan antara agama dan akhlak mulia. Tanpa agama, tidak mungkin ada akhlak. Dan tanpa akhlak, tidak mungkin ada undang-undang. Agamalah sumber terpelihara yang darinya diketahui mana akhlak baik mana akhlak buruk. Agamalah yang menghubungkan manusia dengan Zat Maha Tinggi, kepada-Nya mereka menatap dan untuk-Nya mereka beramal. Agamalah yang membatasi egoisme seseorang, menahan tirani nalurinya, mengalahkan dominasi kebiasaannya, lalu menaklukkan dan menundukkannya kepada tujuan-tujuan dan nilai-nilai luhur. Agamalah yang mendidik nurani yang di atas pondasinya menara akhlak berdiri tegak.<span>  </span></span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:10pt;" lang="DA"><span style="font-family:Book Antiqua;">Orang beriman hidup demi satu risalah yang agung, beramal demi satu tujuan yang mulia, dan hidup di bawah naungan nilai-nilai luhur. Ia hidup untuk dan di atas nilai-nilai luhur tersebut, yaitu merasa dekat dengan Allah, meneladani akhlak-Nya, dan berusaha meraih ridha-Nya. Di jalan nilai-nilai ini ia berjuang mengalahkan nafsunya serta meredam tirani naluri hewani dan syahwatnya, demi ridha-Nya, guna meraih apa yang ada di sisi-Nya, karena percaya akan pahala-Nya. Ia letakkan tepat di depan matanya firman Tuhannya:</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="direction:rtl;text-indent:0;line-height:normal;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:6pt 0 0 1cm;" dir="rtl"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="AR-SA">زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ (14) قُلْ أَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِنْ ذَلِكُمْ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ (15) الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا ءَامَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (16)</span><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="AR-SA"> </span></em></strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="AR-SA">الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ</span><strong><em></em></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:6pt 0 6pt 1cm;"><span style="font-family:Book Antiqua;"><em><span style="font-size:10pt;" lang="DA">Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah: &#8220;Inginkah Aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?&#8221; Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya. (Yaitu) orang-orang yang berdoa: &#8220;Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,&#8221; (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur </span></em><span style="font-size:10pt;" lang="DA">(QS. Âli &#8216;Imrân/3: 14-17).</span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="DA">Upaya meneladani akhlak Allah artinya adalah upaya sungguh-sungguh dan lestari menuju keluhuran dan kesempurnaan; usaha berkelanjutan untuk meneladani kesempurnaan Tuhan sesuai dengan kemampuan dan kesiapan manusia. Sebagai contoh: Allah itu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Maka usaha manusia untuk meneladani-Nya adalah dengan berusaha menghiasi diri dengan ilmu dan hikmah sesuai dengan kemampuan kemanusiaan. Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,<span>  </span>maka usaha untuk meneladani-Nya adalah dengan berupaya menjadikan diri penuh kasih sayang sesuai dengan kadar kemanusian. Allah itu Maha Kaya lagi Maha Pemurah. Maka, dalam usaha meneladani-Nya, kita harus berupaya menjadikan diri kita kaya lagi murah hati sesuai dengan kadar kemanusiaan. Allah Maha Perkasa lagi kuasa mengadakan pembalasan, maka dalam kerangka mengikuti akhlak Allah, manusia harus berusaha menjadi orang yang disegani oleh orang-orang kafir dan ditakuti oleh para pelaku kezaliman. Dan begitu seterusnya.</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abualitya.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abualitya.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abualitya.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abualitya.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abualitya.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abualitya.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abualitya.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abualitya.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abualitya.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abualitya.wordpress.com/146/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&blog=3401246&post=146&subd=abualitya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abualitya.wordpress.com/2009/02/18/iman-dan-akhlak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/af2bf86b31ef30cccc6bf9168f250ae4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zam</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>