<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Abad Badruzaman</title>
	<atom:link href="http://abualitya.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abualitya.wordpress.com</link>
	<description>Berpikir positif, bersikap &#38; bertindak bijak</description>
	<lastBuildDate>Mon, 09 Jan 2012 02:57:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='abualitya.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Abad Badruzaman</title>
		<link>http://abualitya.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://abualitya.wordpress.com/osd.xml" title="Abad Badruzaman" />
	<atom:link rel='hub' href='http://abualitya.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>I&#8217;JÂZ AL-QUR&#8217;AN; Wawasan tentang Beberapa Aspek Kemukjizatan al-Qur&#8217;an</title>
		<link>http://abualitya.wordpress.com/2012/01/09/ijaz-al-quran-wawasan-tentang-beberapa-aspek-kemukjizatan-al-quran/</link>
		<comments>http://abualitya.wordpress.com/2012/01/09/ijaz-al-quran-wawasan-tentang-beberapa-aspek-kemukjizatan-al-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jan 2012 02:57:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abad Badruzaman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulas-tulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abualitya.wordpress.com/?p=245</guid>
		<description><![CDATA[Abstrak Sejatinya kemukjizatan al-Qur&#8217;an tidak sebatas tantangan Nabi Saw. kepada orang Arab untuk membuat suatu bacaan yang sebanding atau, paling tidak, mirip dengan al-Qur&#8217;an. Kalau pengertiannya serupa itu malah mempersempit hakikatnya yang sedemikian luas dan ideal. Kemukjizatan al-Qur&#8217;an bukan hanya terletak pada segi uslûb ayat-ayatnya saja. Tema-tema pokok (al-mahâwir; the major theme) yang termuat dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&amp;blog=3401246&amp;post=245&amp;subd=abualitya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="LTR" align="center">Abstrak</p>
<p dir="LTR">Sejatinya kemukjizatan al-Qur&#8217;an tidak sebatas tantangan Nabi Saw. kepada orang Arab untuk membuat suatu bacaan yang sebanding atau, paling tidak, mirip dengan al-Qur&#8217;an. Kalau pengertiannya serupa itu malah mempersempit hakikatnya yang sedemikian luas dan ideal. Kemukjizatan al-Qur&#8217;an bukan hanya terletak pada segi <em>uslûb</em> ayat-ayatnya saja. Tema-tema pokok (<em>al-ma<span style="text-decoration:underline;">h</span>âwir; the major theme</em>) yang termuat dalam al-Qur&#8217;an, itulah dimensi-dimensi kemukjizatan al-Qur&#8217;an.<span id="more-245"></span></p>
<p dir="LTR">
<ol>
<li><strong>A.    </strong><strong>Pendahuluan</strong></li>
</ol>
<p dir="LTR">Kaum Muslim dewasa ini, menurut Muhammad al-Ghazâli, telah melakukan kesalahan (menzalimi) terhadap agamanya dua kali. <em>Pertama</em>, ketika mereka tidak mampu mengaplikasikan ajaran agamanya dengan baik dan benar, dan <em>kedua</em>, ketika mereka tidak sanggup menyampaikan ajaran agamanya kepada orang &#8220;di luar&#8221; mereka.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn1">[1]</a> Ketika kaum Muslim melakukan kesalahan yang pertama, ketika itulah mereka mereduksi ajaran serta menampilkannya dalam bentuk yang dapat mengundang tuduhan &#8220;mereka&#8221; bahwa Islam berjalan berseberangan dengan fitrah, kebebasan dan akal. Dan ketika mereka melakukan kesalahan yang kedua, ketika itu mereka sedang membiarkan penduduk bumi di belahan barat dan timur tidak mengenal Islam.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn2">[2]</a></p>
<p dir="LTR">Adalah kenyataan, masih banyak di kalangan kaum Muslim yang menyikapi dan memperlakukan al-Qur&#8217;an sebatas kitab keramat penangkal bala. Adapun al-Qur&#8217;an sebagai mukjizat terbesar Nabi Saw., pilar pokok ajaran Islam, pegangan utama setiap Muslim dalam segala aspek kehidupannya, masih luput dari pemahaman sebagian kaum Muslim. Intrekasi sebagian besar kaum Muslim dengan al-Qur&#8217;an tidak melampaui pembacaan lahiriah untuk mendatangkan keberkahan, pengulangan kata tanpa merasakan makna yang dimuatnya, dan masih jarang sampai kepada tahap <em>tadabbur</em>.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn3">[3]</a></p>
<p dir="LTR">Ini berarti bahwa sebagian umat Islam belum mampu memahami kedudukan al-Qur&#8217;an sebagai <em>risâlah samâwiyah</em> nan kekal abadi yang Allah peruntukkan bagi manusia dan kemanusiaannya. Risalah al-Qur&#8217;an yang mencakup semua aspek kehidupan itu terjamin keabadian, keutuhan, orisinalitas serta kesinambungannya. Menurut penulis, itulah arti sebenarnya dari <em>i&#8217;jâz</em> (kemukjizatan) al-Qur&#8217;an, dan pengertian ideal dari statemen &#8220;Al-Qur&#8217;an adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad Saw.,&#8221;<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn4">[4]</a> yang setiap orang Islam pintar melafalkannya.</p>
<p dir="LTR">
<ol>
<li><strong>B.     </strong><strong>Definisi <em>I&#8217;jâz</em></strong></li>
</ol>
<p dir="LTR">Kata <em>i&#8217;jâz</em> secara kebahasaan berarti <em>itsbât al-&#8217;ajz </em>(menetapkan ketidakmampuan). Sedang kata <em>&#8216;ajz </em>sendiri berarti ketidakmampaun atau ketidakkuasaan melakukan sesuatu, yakni kebalikan kata <em>al-qudrah</em> (kuasa).<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn5">[5]</a> Kata <em>i&#8217;jâz</em> merupakan bentuk <em>mashdar</em>, artinya sama dengan <em>al-dha&#8217;f</em> (lemah).<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn6">[6]</a></p>
<p dir="LTR">Dalam semua literatur <em>&#8216;Ulûm al-Qur`ân</em>, tepatnya pada pembahasan tentang kemukjizatan al-Qur&#8217;an, dijelaskan bahwa pengertian mukjizat secara umum adalah suatu kejadian di luar kebiasaan yang dibarengi dengan tantangan dan musuh yang ditantang tidak dapat memberikan perlawanan.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn7">[7]</a> Nabi Saw. sendiri ketika menantang bangsa Arab dengan mukjizat terbesarnya, yakni al-Qur&#8217;an, mereka tidak mampu melawan atau menandinginya, betapa pun mereka terkenal dengan kefasihan dan kesusastraannya.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn8">[8]</a></p>
<p dir="LTR">Sesuatu dapat dikatakan sebagai mukjizat apabila sekurangnya memenuhi tiga syarat. <em>Pertama</em>, adanya tantangan. Yaitu tuntutan untuk diadakannya sebuah perlombaan atau pertandingan. <em>Kedua</em>, adanya dorongan untuk melayani (membalas) tantangan. <em>Ketiga</em>, tidak ada penghalang untuk melakukan dua syarat sebelumnya.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn9">[9]</a> Sementara itu Masmû&#8217; Ahmad Thâlib menyebut tujuh syarat: <em>Pertama</em>, keluar dari kebiasaan. <em>Kedua</em>, dilakukan oleh seseorang yang mengklaim sebagai nabi atau rasul. <em>Ketiga</em>, dibarengi dengan klaim nubuwah dan risalah. <em>Keempat</em>, tidak dapat dikalahkan oleh tantangan musuh. <em>Kelima</em>, sesuai dengan apa yang diklaim oleh orang yang mengaku sebagai nabi atau rasul. <em>Keenam</em>, mukjizat yang timbul tidak justeru membohongkan orang yang mengaku sebagai nabi atau rasul, dan <em>ketujuh</em>, para nabi dan rasul menantang mereka yang mengingkari nubuwah dan risalah dengan mukjizat itu.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn10">[10]</a></p>
<p dir="LTR">Sedangkan pengertian <em>i&#8217;jâz</em> ketika diidhafatkan kepada kata <em>al-Qur&#8217;ân</em> (<em>i&#8217;jâz al-Qur&#8217;ân</em>) adalah memperlihatkan kebenaran klaim risalah Nabi Muhammad Saw. dengan cara menampakkan ketidakmampuan bangsa Arab pada waktu itu dan generasi-generasi berikutnya untuk melawan mukjizat abadi Nabi saw., yakni al-Qur&#8217;an.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn11">[11]</a></p>
<p dir="LTR">
<ol>
<li><strong>C.    </strong><strong>Macam-macam Mukjizat</strong></li>
</ol>
<p dir="LTR">Dari definisi di atas dapat diambil pengertian bahwa mukjizat merupakan salah satu sarana yang dipersiapkan Allah untuk memperteguh kebenaran risalah dan nubuwah yang dibawa para nabi-Nya. Sementara itu dalam <em>sîrah nabawiyah</em> dikenal beberapa bentuk mukjizat. Ada mukjizat <em><span style="text-decoration:underline;">h</span>issiyah</em><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn12">[12]</a>dan ada pula mukjizat <em>ma&#8217;nawiyah</em>. Imam al-Suyûthî menamai mukjizat <em>ma&#8217;nawiyah</em><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn13">[13]</a> dengan mukjizat <em>&#8216;aqliyah</em>.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn14">[14]</a></p>
<p dir="LTR">Menurut al-Suyûthî, karena tingkat kemampuan akalnya yang rendah serta minimnya kekuatan pandangan nalar Bani Israil pada waktu Musâ diutus kepada mereka,<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn15">[15]</a> maka kebanyakan mukjizat yang ditampakkan kepada mereka bersifat <em><span style="text-decoration:underline;">h</span>issiyah</em>. Sementara itu, kebanyakan mukjizat yang ditampakkan kepada umat ini bersifat <em>&#8216;aqliyah</em>. Itu tidak lain karena mereka mempunyai tingkat kecerdasan yang tinggi dan kemampuan kognisi yang sempurna.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn16">[16]</a> Hal ini dapat dipahami segera setelah kita sadar bahwa syari&#8217;at yang dibawa Nabi saw. berkarakteristik kekal-abadi sepanjang bentangan masa hingga hari kiamat. Jelasnya, syari&#8217;at dengan karakter seperti ini tentu membutuhkan mukjizat penopang yang menitikberatkan sentuhan-sentuhan rasional yang berdaya tahan abadi agar dapat dicerna dan diterima oleh umat manusia yang mempunyai daya nalar tinggi.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn17">[17]</a> Dalam hal ini al-Qur&#8217;an termasuk dalam kelompok mukjizat <em>ma&#8217;nawiyah-&#8217;aqliyah</em>.</p>
<p dir="LTR">Dalam memperjuangkan risalah yang diembannya, mukjizat <em>ma&#8217;nawiyah-&#8217;aqliyah</em> (al-Qur&#8217;an) inilah yang menjadi penopang dan rahasia utama kesuksesan Rasulullah Saw. Walau diakui memang banyak pula mukjizat-mukjizat lain yang sifatnya <em><span style="text-decoration:underline;">h</span>issiyah</em> yang mempunyai arti tidak kecil bagi perjuangan risalahnya. Hanya saja, mukjizat-mukjizat <em><span style="text-decoration:underline;">h</span>issiyah</em> ini sifatnya temporer, kondisional, dan kadang berkenaan dengan person tertentu.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn18">[18]</a> Hal mana memberi kesan yang tidak sealur dengan visi dan misi al-Qur&#8217;an yang tidak mengenal limitasi ruang dan waktu.</p>
<p dir="LTR">
<ol>
<li><strong>D.    </strong><strong>Hakikat Mukjizat al-Qur&#8217;an</strong></li>
</ol>
<p dir="LTR">Nabi Saw. menantang orang Arab dengan al-Qur&#8217;an melewati tiga fase. <em>Pertama</em>, Nabi Saw. menantang mereka dengan keseluruhan al-Qur&#8217;an dan dengan redaksi tantangan yang umum mencakup orang Arab dan non-Arab, bahkan jin dan manusia agar mereka bergabung mengerahkan segenap kemampuannya untuk membuat sesuatu yang semisal dengan al-Qur&#8217;an. Seperti digambarkan dalam QS. al-Isrâ`/17: 88. <em>Kedua</em>, Nabi Saw. menantang mereka untuk membuat sepuluh ayat saja yang semisal dengan al-Qur&#8217;an. Sebagaimana diceritakan dalam QS. Hûd/11: 13-14. <em>Ketiga</em>, terakhir, Nabi Saw. menantang mereka untuk membuat satu surat terpendek saja yang semisal al-Qur&#8217;an. Seperti diceritakan dalam QS. Yûnus/10: 38 dan al-Baqarah/2: 23.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn19">[19]</a></p>
<p dir="LTR">Sejatinya, mukjizat al-Qur&#8217;an tidak sebatas tantangan Nabi Saw. kepada orang Arab untuk membuat suatu bacaan yang sebanding atau, paling tidak, mirip dengan al-Qur&#8217;an seperti disebutkan di atas. Kalau pengertiannya serupa itu malah mempersempit hakikatnya yang sedemikian luas dan ideal. Sampel di atas lebih menggambarkan kemukjizatan al-Qur&#8217;an pada segi <em>uslûb</em> (redaksional) ayat-ayat al-Qur&#8217;an saja. Padahal al-Qur&#8217;an memuat multi dimensi mukjizat. Dalam keyakinan penulis, tema-tema pokok (<em>al-ma<span style="text-decoration:underline;">h</span>âwir; the major theme</em>) yang termuat dalam al-Qur&#8217;an, itulah dimensi-dimensi kemukjizatan al-Qur&#8217;an.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn20">[20]</a></p>
<p dir="LTR">Hal ini segera mendorong kita untuk lebih lanjut membahas segi-segi kemukjizatan al-Qur&#8217;ân (<em>wujûh i&#8217;jâz al-Qur&#8217;ân</em>). Namun sebelum sampai pada sub-bahas tersebut, dipandang perlu terlebih dulu menunjukkan beberapa bukti kemukjizatan al-Qur&#8217;an, sebagai pijakan bagi pembahasan tentang segi-segi kemukjizatan al-Qur&#8217;an lebih lanjut.</p>
<p dir="LTR">
<ol>
<li><strong>E.     </strong><strong>Beberapa Bukti Kemukjizatan al-Qur&#8217;an</strong></li>
</ol>
<p dir="LTR">Adabeberapa fakta historis dan sejumlah nas yang dapat kita nilai sebagai bukti bahwa al-Qur&#8217;an adalah benar-benar Kitab Mukjizat. Di antaranya:</p>
<p dir="LTR"><em>Pertama</em>, keyakinan kita bahwa al-Qur&#8217;an yang sekarang kita baca, yang terjaga dan termaktub dalam lembaran-lembaran mushhaf adalah benar- benar al-Qur&#8217;an yang dibawa Muhammad Saw., yang beliau bacakan kepada kaum sezamannya dalam rentang waktu sekitar 23 tahun.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn21">[21]</a> Keyakinan ini berdasar atas kenyataan bahwa al-Qur&#8217;an diterima dan disampaikan dengan sandaran sanad yang mutawatir dari satu generasi ke generasi berikutnya, hal mana memberi jaminan akan orisinalitas dan otentisitas al-Qur&#8217;an.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn22">[22]</a> Selain kemutawatiran periwayatannya, otentisitas al-Qur&#8217;an lebih diperkuat lagi dengan kenyataan historis bahwa al-Qur&#8217;an segera dikodifikasi dari catatan-catatan yang masih tercecer tidak lama setelah Nabi Saw. meninggalkan generasi awal umat ini. Hafalan-hafalan para penghafal yang tidak pernah luput dari generasi-generasi semakin memperkuat keutuhan dan kemurnian al-Qur&#8217;an yang telah terkodifikasi dalam catatan.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn23">[23]</a></p>
<p dir="LTR"><em>Kedua</em>, setelah kita yakin akan kemurnian al-Qur&#8217;an, dengan sendirinya kita mesti percaya atas kebenaran warta yang dibawanya. Dalam QS. al-Baqarah/2: 23-24, Hûd/11: 13-14, al-Isrâ`/17: 88 dan al-Thûr/52: 33-34,<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn24">[24]</a> al-Qur&#8217;an mengabarkan bahwa ia pernah menantang orang Arab yang terkenal dengan kesusastraannya yang tinggi untuk membuat rangkaian kata berupa ayat atau surat yang semisal dengan al-Qur&#8217;an. Mereka tidak mampu melakukan apa yang diminta al-Qur&#8217;an itu.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn25">[25]</a> Adanya tantangan al-Qur&#8217;an dan ketidakmampuan pihak yang ditantang, dua hal yang merupakan syarat terwujudnya mukjizat, merupakan bukti bahwa al-Qur&#8217;an itu betul-betul merupakan mukjizat.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn26">[26]</a> Jika mereka tidak mampu untuk menciptakan ayat atausurat yang semisal dengan al-Qur&#8217;an, maka mereka lebih tidak akan sanggup lagi untuk mendatangkan makna-makna, ajaran-ajaran dan dimensi-dimensi seperti yang dikandung oleh ayat-ayat al-Qur&#8217;an, sampai kapan pun.</p>
<p dir="LTR"><em>Ketiga</em>, pengaruh al-Qur&#8217;an terhadap orang Arab. Pengaruhnya terhadap orang Arab musyrikin terlihat pada pengakuan mereka akan keindahan gaya dan tata bahasa serta susunan redaksionalnya yang sangat memikat. Kenyataan inilah yang memaksa al-Walîd bin al-Mughîrah al-Makhzûmî untuk mengakui dan berterus terang kepada Abû Jahal bahwa al-Qur&#8217;an adalah <em>al-<span style="text-decoration:underline;">h</span>aqq</em> (kebenaran) yang luhur dan tidak ada yang lebih tinggi darinya.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn27">[27]</a></p>
<p dir="LTR">Sedang pengaruhnya terhadap orang Arab yang beriman, al-Qur&#8217;an lewat pendidikan yang diberikan pembawanya kepada para sahabat, telah mengubah jiwa mereka yang sebelumnya sarat dengan nilai-nilai buruk jahiliah menjadi jiwa-jiwa suci yang telah mencatat revolusi mental-sosial maha dahsyat dalam sejarah.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn28">[28]</a></p>
<p dir="LTR">Demikian beberapa bukti kemukjizatan al-Qur&#8217;an yang dapat dijadikan landasan historis dan normatif ketika membahas aspek-aspek kemukjizatan al-Qur&#8217;an.</p>
<p dir="LTR">
<ol>
<li><strong>F.     </strong><strong>Beberapa Aspek Kemukjizatan al-Qur&#8217;an</strong></li>
</ol>
<p dir="LTR">Merupakan kesepakatan para ulama bahwa al-Qur&#8217;an mempunyai mukjizat bukan hanya dalam satu sisi tertentu saja, melainkan dalam banyak aspek: <em>lafzhiyah</em> (aspek kebahasaan), <em>ma&#8217;nawiyah</em> dan <em>rû<span style="text-decoration:underline;">h</span>iyah</em>. Semuanya menjadi satu kesatuan mukjizat yang manusia tidak mampu berbuat apa pun di hadapannya.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn29">[29]</a></p>
<p dir="LTR">Terdapat perbedaan dalam menentukan berapa jumlah aspek kemukjizatan al-Qur&#8217;an. Penulis dan pemikir Muslimah Mesir, Fâthimah Ismâ&#8217;îl dalam bukunya <em>al-Qur&#8217;ân wa al-Nazhr al-&#8217;Aql</em> misalnya, lebih menekankan bahwa kemukjizatan al-Qur&#8217;an terdapat pada sisi rasionalitasnya. Al-Qur&#8217;an, menurutnya, senantiasa menyeru manusia dengan menggunakan bahasa akal. Contoh paling kentara adalah ketika kaum musyrik menuntut Muhammad mendatangkan ayat-ayat (mukjizat) yang bersifat materi-indrawi, dengan tegas al-Qur&#8217;an membalas tuntutan itu dengan jawaban rasional (QS. al-&#8217;Ankabût/29: 50-51). Selain itu Rasul Saw. menyeru kaumnya seraya menegaskan bahwa al-Qur&#8217;an bukanlah tipe mukjizat yang menyepelekan akal dan budaya berpikir. Melainkan berupa ayat-ayat yang memerlukan tadabur dan penelaahan saksama yang mendalam akan isi kandungannya.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn30">[30]</a></p>
<p dir="LTR">Penulis dan pemikir Mesir lainnya, &#8216;Abbâs Ma<span style="text-decoration:underline;">h</span>mûd al-&#8217;Aqqâd, lebih menyoroti sisi kemukjizatan al-Qur&#8217;an pada keseluruhan ideal-moralnya. Menurutnya, kemukjizatan al-Qur&#8217;an tertumpu pada relevansi ajaran akidah (<em>falsafah qur&#8217;âniyah</em>) yang dibawanya bagi kehidupan manusia tanpa mengenal batas ruang dan waktu.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn31">[31]</a></p>
<p dir="LTR">Bagi Râyid Ridhâ, selain terdapat pada keindahan uslub dan balaghahnya yang luar biasa, dia lebih menilik kemukjizatan al-Qur&#8217;an pada pengaruh kejiwaannya terhadap bangsa Arab umunya, dan terhadap penganutnya secara khusus. Al-Qur&#8217;an, menurutnya, telah melahirkan perubahan besar dan revolusi dahsyat yang dilakukan oleh mereka yang mempedomaninya dengan benar dan baik.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn32">[32]</a></p>
<p dir="LTR">Mannâ&#8217; al-Qaththân mempunyai sorotan yang sama dengan Râsyid Ridhâ, yaitu ketika ia mengatakan bahwa al-Qur&#8217;an, bagaimana pun adalah Kitab Suci yang telah mengubah bangsa Arab para penggembala binatang ternak menjadi pemimpin dan pemegang kendali peradaban manusia. Kenyataan ini saja cukuplah menjadi kesaksian bagi kamukjizatan al-Qur&#8217;an.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn33">[33]</a></p>
<p dir="LTR">Sedangkan menurut &#8216;Abdul Wahhâb Khallaf, aspek-aspek kemukjizatan al-Qur&#8217;an antara lain: <em>Pertama</em>, keterpaduan dan keserasian antara ungkapan-ungkapan, makna-makna, hukum-hukum dan konsep-konsep yang dibawa dan ditawarkannya.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn34">[34]</a> Al-Qur&#8217;an, dengan 6000 lebih ayat yang dikandungnya, ketika ia mengungkapkan sesuatu yang hendak disampaikannya, baik tentang masalah keimanan, akhlak, hukum, maupun beberapa konsep dasar tentang semesta, kehidupan sosial dan individual, menggunakan ungkapan-ungkapan dan redaksi yang bercorak dan beragam. Dalam keragaman ini tidak ditemukan adanya pertentangan dan kontradiksi satu sama lainnya.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn35">[35]</a></p>
<p dir="LTR"><em>Kedua</em>, kesesuaian ayat-ayatnya dengan penemuan-penemuan ilmiah.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn36">[36]</a> <em>Ketiga</em>, kandungan beritanya tentang berbagai peristiwa yang hanya diketahui oleh Yang Maha Mengetahui tentang alam gaib.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn37">[37]</a> <em>Keempat</em>, kefasihan kata-kata yang dipilihnya, keindahan redaksi yang digunakannya serta kekuatan pengaruh yang ditimbulkannya.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn38">[38]</a></p>
<p dir="LTR">Sementara itu al-Shabûnî menandai tidak kurang dari sepuluh aspek kemukjizatan al-Qur&#8217;an, sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Susunan kata-katanya yang sangat indah dan menarik, sangat berbeda dengan susunan yang kerap diucapkan oleh bangsa Arab.</li>
<li>Susunan redaksional yang indah menawan, sangat berbeda dengan uslub-uslub orang Arab umunya.</li>
<li>Kekayaan dan kepadatan makna yang dikandungnya. Tidak mungkin ada makhluk yang mampu mendatangkan ayat serupa ayat al-Qur&#8217;an.</li>
<li>Muatan ajaran tasyriknya yang lengkap dan sempurna. Sama sekali berbeda dengan hukum-hukum buatan manusia.</li>
<li>Berita-berita gaib yang diceritakannya yang tidak mungkin diketahui selain lewat wahyu.</li>
<li>Tidak adanya pertentangan dengan ilmu-ilmu kealamsemestaan.</li>
<li>Ketepatan janji dan ancamannya sesuai dengan apa yang diberitakannya.</li>
<li>Ilmu dan pengetahuan yang dikandungnya (ilmu-ilmu syariah dan kauniyah).</li>
<li>Memenuhi segala kebutuhan manusia.</li>
<li>Pengaruhnya yang mendalam dalam hati para pengikutnya.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn39">[39]</a></li>
</ol>
<p dir="LTR">Dari sekian aspek kemukjizatan al-Qur&#8217;an tersebut di atas, ada tiga sisi yang penulis anggap perlu dibahas secara tersendiri, yaitu <em>al-i’jâz al-‘ilmî</em> (kemukjizatan al-Qur&#8217;an dalam aspek ilmu pengetahuan kealaman), <em>al-i&#8217;jâz al-lughawî</em> (kemukjizatan al-Qur&#8217;an dalam aspek kebahasaan, uslub yang digunakan dan susunan serta tertib ayatnya) dan <em>al-i&#8217;jâz al-tasyrî&#8217;î</em> (kemukjizatan al-Qur&#8217;an dalam aspek ajaran syariat yang dikandungnya).</p>
<p dir="LTR">
<ol>
<li><strong>1.      </strong><strong><em>Al-I’jâz al-‘Ilmî</em></strong></li>
</ol>
<p dir="LTR">Tentang hubungan al-Qur&#8217;an dengan ilmu pengetahuan, Quraish Shihab menyatakan bahwa ada sekian kebenaran ilmiah yang dipaparkan oleh al-Qur&#8217;an, tetapi tujuan pemaparan ayat-ayat tersebut adalah untuk menunjukkan kebesaran Tuhan dan keesaan-Nya, serta mendorong manusia seluruhnya untuk mengadakan observasi dan penelitian demi lebih menguatkan keimanan dan kepercayaan kepada-Nya. Quraish lalu mengutip pendapat Ma<span style="text-decoration:underline;">h</span>mûd Syaltut yang mengatakan bahwa sesungguhnya Tuhan tidak menurunkan al-Qur&#8217;an untuk menjadi satu kitab yang menerangkan kepada manusia mengenai teori-teori ilmiah, problem-problem seni serta aneka warna pengetahuan.</p>
<p dir="LTR">Tentang hal ini, Quraish menyimpulkan enam hal:</p>
<ol>
<li>Al-Qur&#8217;an adalah kitab hidayah yang memberikan petunjuk kepada manusia seluruhnya dalam persoalan-persoalan akidah, tasyrik dan akhlak demi kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.</li>
<li>Tiada pertentangan antara al-Qur&#8217;an dan ilmu pengetahuan.</li>
<li> Memahami hubungan al-Qur&#8217;an dengan ilmu pengetahuan bukan dengan melihat adakah teori-teori ilmiah atau penemuan-penemuan baru tersimpul di dalamnya, tapi dengan melihat adakah al-Qur&#8217;an atau jiwa ayat-ayatnya menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan atau mendorong lebih maju.</li>
<li>Membenarkan atau menyalahkan teori-teori ilmiah berdasarkan al-Qur&#8217;an bertentangan dengan tujuan pokok atau sifat al-Qur&#8217;an dan bertentangan pula dengan ciri khas ilmu pengetahuan.</li>
<li>Sebab-sebab meluasnya penafsiran ilmiah (pembenaran teori-teori ilmiah berdasarkan al-Qur&#8217;an) adalah akibat perasaan rendah diri dari masyarakat Islam dan akibat pertentangan antara golongan gereja (agama) dengan ilmuan yang dikuatirkan akan terjadi pula dalam Islam, sehingga cendekiawan Islam berusaha menampakkan hubungan antara al-Qur&#8217;an dengan ilmu pengetahuan.</li>
<li>Memahami ayat-ayat al-Qur&#8217;an sesuai dengan penemuan-penemuan baru adalah ijtihad yang baik, selama paham tersebut tidak dipercayai sebagai akidah Qur&#8217;aniyah dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip atau ketentuan bahasa.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn40">[40]</a></li>
</ol>
<p dir="LTR">Pendapat Quraish ini senada dengan Mannâ&#8217; al-Qaththân yang dengan tegas menyatakan bahwa orang telah melakukan kesalahan ketika dengan menggebu mengatakan bahwa al-Qur&#8217;an mengandung segala teori ilmiah. Keyakinan serupa ini, kata al-Qaththân, akan bertabrakan dengan kenyataan bahwa sifat teori-teori ilmu pengetahuan senantiasa berubah sejalan dengan dinamika perubahan waktu sesuai dengan sunnah kemajuan. Apa yang diklaim sebagai kebenaran ilmiah pada satu saat, pada saat mendatang tidak mustahil terbukti kesalahannya. Kemukjizatan ilmiah al-Qur&#8217;an, tegas al-Qaththân, justru terletak pada motivasinya untuk berpikir. Ia mendorong manusia untuk memperhatikan dan mencermati alam dan gejalanya, sambil memberikan akses dan porsi yang baik dan besar bagi akal. Al-Qur&#8217;an tidak pernah menghalang-halangi pemeluknya untuk menambah ilmu pengetahuannya kapan dan di mana pun.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn41">[41]</a></p>
<p dir="LTR">Sedangkan menurut Ahmad Baiquni, hubungan al-Qur&#8217;an dengan ilmu pengetahuan kealaman adalah bahwa sebagai hamba Allah manusia dikaruniai akal serta pikiran untuk dapat memilih tindakan mana yang baik dan mana yang tidak untuk kebahagiaan akhiratnya, tetapi juga untuk bertahan hidup di dunia dan memanfaatkan lingkungannya sebagai sumber bahan pangan dan papan, sehingga ia dapat memperoleh kebahagiaan dunia sebagai khalifah yang bertanggung jawab. Untuk itu semua, Allah telah menurunkan al-Qur&#8217;an sebagai petunjuk bagi seluruh manusia, secara garis besar, baik untuk ilmu keakhiratannya yang rinciannya ada di dalam Sunnah Rasul, maupun ilmu keduniaan yang rinciannya berada di dalam <em>al-kaun</em> (semesta).</p>
<p dir="LTR">Dengan bimbingan al-Qur&#8217;an manusia diarahkan agar mengembangkan sains untuk mengetahui sifat dan tingkah laku alam sekitarnya pada kondisi-kondisi tertentu, dan dengan penguasaan sains ini manusia dapat membuat kondisi yang sedemikian rupa hingga alam beraksi, yang mengarah pada hasil yang menguntungkannya; ia menciptakan teknologi. Dengan sains dan teknologilah manusia memanfaatkan dan melestarikan alam sekelilingnya sebagai layaknya penguasa yang baik. Kemampuan manusia untuk mengarahkan alam lingkungannya dengan teknologi agar alam beraksi yang menguntungkannya itu disebabkan karena Allah, Sang Pemurah dan Penyayang telah menetapkan peraturan-peraturan-Nya yang harus diikuti dengan taat oleh seluruh alam, dan manusia mengetahui Sunnatullah yang telah diberlakukan itu dari <em>nazhr</em> pada sisi langit dan bumi yang menghasilkan sains.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn42">[42]</a></p>
<p dir="LTR">
<ol>
<li><strong>2.      </strong><strong><em>Al-I&#8217;jâz al-Lughawî</em></strong></li>
</ol>
<p dir="LTR">Al-Shabûnî menandai adanya tujuh karakteristik uslub al-Qur&#8217;an:</p>
<ol>
<li>Sentuhan serta nuansa kata-kata al-Qur&#8217;an yang indah dan menawan, seperti terlihat dalam keindahan bunyi dan nada yang ditimbulkan serta bahasa yang elok menarik.</li>
<li>Membuat rela dan puas semua kalangan, baik khalayak awam maupun kalangan khusus tertentu. Dalam arti, semua sepakat mengakui keagungannya dan merasakan keindahannya.</li>
<li>Memberikan kepuasan bagi akal dan emosi secara berbarengan. Ia menyentuh akal dan hati serta memadukan kebenaran dan keindahan secara apik dan indah.</li>
<li>Kualitas pemaparan yang tinggi serta cara penuangan makna-makna yang kokoh. Keseluruhan al-Qur&#8217;an bak satu jalinan yang memikat dan memesona akal serta mengundang perhatian pandangan hati.</li>
<li>Kelihaiannya dalam mengolah kata dan menuangkan aneka ragam penyampaian. Artinya, ia kerap menuangkan satu makna dengan beragam kata dan cara penuturan. Semua mempunyai nilai keindahan yang amat tinggi.</li>
<li>Memadukan antara penuturan global dengan penjelasan detil.</li>
<li>Singkat redaksi padat arti.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn43">[43]</a></li>
</ol>
<p dir="LTR">Sekaitan dengan hal ini Rasyîd Ridhâ menulis:</p>
<p dir="LTR">Jika semua ajaran akidah Islam yang disampaikan al-Qur&#8217;an, seperti tentang keimanan kepada Allah, malaikat, rasul dan seterusnya disatukan secara urut dalam tiga surat saja; jika semua ajaran tentang ibadah disusun dan disatukan dalam beberapa surat saja; jika semua hukum, etika, nilai-nilai keutamaan yang diajarkannya disampaikan dalam sepuluh surat saja atau lebih; seandainya kaidah-kaidah dasar tentang hukum syariah, hukum-hukum perdata, politik, ekonomi, kepemilikan, sosial dan hukum-hukum pidana lainnya diurut dan disatukan dalam beberapa surat secara tersendiri; jika kisah-kisah yang dibawakan al-Qur&#8217;an dengan ajaran, petuah, dan wejangan yang dikandungnya dipaparkan dalam satu atau dua surat saja secara tersendiri layaknya buku sejarah; jika semua muatan al-Qur&#8217;an yang telah disebutkan dan yang belum disebutkan dipisahkan secara sendiri-sendiri, pastilah al-Qur&#8217;an akan kehilangan keistimewaan hidayah teragungnya dari ajaran tasyrik yang dibawanya, juga akan kehilangan hikmah dari diturunkannya al-Qur&#8217;an itu sendiri, yaitu <em>ta&#8217;abbud</em>, juga tentulah para penghafalnya akan kehilangan banyak ajaran, pelajaran, dan nilai-nilai ideal yang dikandungnya. Sebab, misalnya, jika ada orang yang hafal satu atau dua surat saja, maka yang akan ia dapatkan hanya satu ajaran saja, umpamanya tentang tentang akidah atau tentang hukum saja, sementara ajaran-ajaran lainnya luput darinya. Selain akan kehilangan banyak mutiara kandungan al-Qur&#8217;an, juga seandainya disusun secara sendiri-sendiri berdasarkan tema-tema tertentu, maka ia akan kehilangan ciri paling khas dari kemukjizatan al-Qur&#8217;an itu sendiri.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn44">[44]</a></p>
<p dir="LTR">
<ol>
<li><strong>3.      </strong><strong><em>Al-Ij&#8217;jâz al-Tasyrî&#8217;î</em></strong></li>
</ol>
<p dir="LTR">Kemukjizatan al-Qur&#8217;an dalam aspek ini adalah bahwa al-Qur&#8217;an datang membawa <em>manhaj tasyrî&#8217;</em> yang sempurna, yang menjamin terpenuhinya segala kebutuhan manusia seluruhnya pada setiap zaman dan tempat. Dengan ajaran ini kondisi manusia, baik sebagai individu maupun kelompok, menjadi mulia dan luhur, di dunia dan akhirat. Model <em>tasyrî&#8217; qur&#8217;ânî</em> ini sangat berbeda dengan semua jenis hukum, aturan dan perundangan buatan manusia.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn45">[45]</a></p>
<p dir="LTR">Masmû&#8217; Abû Thâlib menilik beberapa butir yang menjadi bukti kemukjizatan al-Qur&#8217;an dalam aspek ini. Sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Memperbaiki dan meluruskan akidah dengan jalan menunjukkan manusia akan hakikat asal kejadian (<em>al-mabda`</em>) dan akhir (<em>al-ma&#8217;âd</em>) kehidupan serta kehidupan di antara keduanya. Butir ini berisi ajaran tentang keimanan kepada Allah, malaikat, kitab, para rasul dan hari akhir.</li>
<li>Memperbaiki dan meluruskan praktik ibadah dengan jalan menunjukkan manusia akan ajaran-ajaran dan nilai-nilai yang dapat menyucikan jiwa dan mental manusia.</li>
<li>Memperbaiki akhlak dengan jalan menunjukkan manusia akan nilai-nilai keutamaan dan perintah untuk menjauhi segala bentuk kekejian dan keburukan, serta menjaga keseimbangan.</li>
<li>Memperbaiki dan meluruskan kehidupan dengan jalan memerintahkan manusia agar mereka menyatukan barisan, menghapus segala benih fanatisme dan gap yang membawa kepada perpecahan. Ini dilakukan dengan jalan mengingatkan mereka bahwa mereka berasal dari jenis dan jiwa yang sama.</li>
<li>Meluruskan kehidupan politik dan tata kehidupan bernegara. Ini dilakukan dengan jalan memancangkan keadilan mutlak, persamaan antara sesama manusia dan memelihara nilai-nilai luhur keutamaan seperti keadilan, dedikasi, kasih sayang, persamaan dan kecintaan dalam segala bentuk hukum dan interaksi sosial.</li>
<li>Memperbaiki dan meluruskan perilaku ekonomi dan pendayagunaan harta, dengan jalan anjuran untuk membudayakan hidup hemat, memelihara harta dari kesia-siaan dan kepunahan.</li>
<li>Meluruskan aturan perang dan perdamaian, dengan jalan memberikan pengertian hakiki tentang perang, larangan menganiaya, kewajiban menepati perjanjian dan mengutamakan perdamaian daripada peperangan.</li>
<li>Memerangi sistem perbudakan dan anjuran untuk memerdekakan para budak.</li>
<li>Membebaskan akal budi dan nalar pikir dari segala tiran yang membelenggunya, seraya memerangi pemaksaan, intimidasi dan absolutisme.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftn46">[46]</a></li>
</ol>
<p dir="LTR"><strong> </strong></p>
<ol>
<li><strong>G.    </strong><strong>Kesimpulan</strong></li>
</ol>
<p dir="LTR">Al-Qur&#8217;an memuat multidimensi yang kesemuanya diperuntukkan bagi kebaikan umat manusia. Sebanyak dimensi yang dikandung al-Qur&#8217;an sebanyak itu pula mukjizat yang dimilikinya. Itu tidak lain karena setiap dimensi yang dimilikinya, pada saat yang sama juga merupakan dimensi-dimensi kemukjizatan al-Qur&#8217;an. Dari sini kita dapat dengan tegas mengatakan bahwa al-Qur&#8217;an adalah seluruhnya mukjizat. Tidak ada pemilahan. Tidak ada di antara muatan al-Qur&#8217;an yang bukan mukjizat.</p>
<p dir="LTR"><em>Wallâhu a’lam</em>.<em></em></p>
<p><strong><br /> </strong></p>
<p dir="LTR" align="center"><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p dir="LTR" align="center"><strong> </strong></p>
<p dir="LTR">Abû Thâlib, Masmû Ahmad, <em>Khulashah al-Bayân fî Mabâ<span style="text-decoration:underline;">h</span>its min &#8216;Ulûm al-Qur&#8217;ân</em>,Cairo: Dâr al-Thibâ&#8217;ah al-Muhammadiyah, cet. I, 1994.</p>
<p dir="LTR">Al-&#8217;Aqqâd, &#8216;Abbâs Ma<span style="text-decoration:underline;">h</span>mûd, <em>al-Falsafah al-Qur&#8217;âniyah</em>,Cairo: Dâr al-Hilâl, tt.</p>
<p dir="LTR">Baiquni, Achmad, <em>al-Qur&#8217;an dan Ilmu Pengetahuan Kealaman</em>,Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Primayasa, cet. I, 1996.</p>
<p dir="LTR">Al-Ghazâlî, Muhammad, <em>al-Ma<span style="text-decoration:underline;">h</span>âwir al-Khamsah lî al-Qur&#8217;ân al-Karîm</em>, Mansoura: Dâr al-Wafâ`, cet. I, 1989.</p>
<p dir="LTR">&#8212;&#8212;&#8212;-, <em>Kayfa Nata&#8217;âmal ma&#8217;a al-Qur&#8217;ân</em>,Virginia: International Institute of Islamic Though, cet. III, 1992.</p>
<p dir="LTR">Ismâ&#8217;îl<em>, </em>Fâthimah, <em>al-Qur&#8217;ân wa al-Nazhr al-&#8217;Aqlî, Virginia: International Institute of Islamic Though, cet. I, 1993.      </em></p>
<p dir="LTR">Khalaf, &#8216;Abdul Wahhâb, <em>&#8216;Ilm Ushûl al-Fiqh</em>,Cairo: Maktabah al-Da&#8217;wah al-Islâmiyah, cet. VIII, 1990.</p>
<p dir="LTR">Mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>ammad, Mamdû<span style="text-decoration:underline;">h</span> <span style="text-decoration:underline;">H</span>asan, <em>I&#8217;jâz al-Qur&#8217;ân lî al-Bâqilânî</em>,Cairo: Dâr al-Amîn, cet. I, 1993.</p>
<p dir="LTR">Al-Qaththân, Mannâ&#8217;, <em>Mabâ<span style="text-decoration:underline;">h</span>its fî &#8216;Ulûm al-Qur&#8217;ân</em>,Beirut: Mansyûrât al-&#8217;Ashr al-Hadîts, cet. III, 1973.</p>
<p dir="LTR">Ridhâ, Muhammad Rasyîd, <em>al-Wa<span style="text-decoration:underline;">h</span>y al-Mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>ammadî</em>,Beirut: al-Maktab al-Islâmî, cet. X, 1985.</p>
<p dir="LTR">Al-Shabûnî, Muhammad &#8216;Alî, <em>al-Tibyân fî &#8216;Ulûm al-Qur&#8217;ân</em>,Beirut: Mu`assasah Manâhil al-&#8217;Irfân, cet. II, 1980.</p>
<p dir="LTR">Shihab, Muhammad Quraish, <em>Membumikan al-Qur&#8217;an</em>,Bandung: Mizan, cet. XIII, 1996.</p>
<p dir="LTR">Al-Suyûthî, Jalâluddîn, <em>al-Itqân fî &#8216;Ulûm al-Qur&#8217;ân</em>,Beirut: Dâr al-Kutub al-&#8217;Ilmiyah, cet. III, 1995.</p>
<div></p>
<hr align="right" size="1" width="33%" />
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref1">[1]</a>Muhammad al-Ghazâli, <em>al-Ma<span style="text-decoration:underline;">h</span>âwir al-Khamsah lî al-Qur&#8217;ân al-Karîm</em>, Mansoura: Dâr al-Wafâ`, cet. I, 1989, hal. 67.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref2">[2]</a>Al-Ghazâli, <em>al-Ma<span style="text-decoration:underline;">h</span>âwir</em>…, hal. 67.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref3">[3]</a>Lihat Muhammad al-Ghazâli, <em>Kayfa Nata&#8217;âmal M&#8217;a al-Qur&#8217;ân</em>, Virginia: International Institute of Islamic Though, cet. III, 1992, hal. 27.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref4">[4]</a>Penjelasan lebih gamblang tentang kedudukan al-Qur&#8217;an sebagai mukjizat terbesar Nabi Saw. dapat dilihat dalam Fâthimah Ismâ&#8217;îl, <em>al-Qur&#8217;ân wa al-Nazhr al-&#8217;Aqlî</em>, Virginia: International Institute of Islamic Though, cet. I, 1993, hal. 188-192.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref5">[5]</a>Mannâ&#8217; al-Qaththân, <em>Mabâ<span style="text-decoration:underline;">h</span>its fî &#8216;Ulûm al-Qur&#8217;ân</em>, Riyad: Mansyûrât al-&#8217;Ashr al-<span style="text-decoration:underline;">H</span>adîts, cet. III, 1973, hal. 258.<em> </em></p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref6">[6]</a>Masmû&#8217; Ahmad Abû Thâlib, <em>Khulashah al-Bayân fî Mabâ<span style="text-decoration:underline;">h</span>its min &#8216;Ulûm al-Qur&#8217;ân</em>, Cairo: Dâr al-Thibâ&#8217;ah al-Muhammadiyah, cet. I, 1994, hal. 5.<em> </em></p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref7">[7]</a>Yang dimaksud &#8220;tidak dapat memberikan perlawanan&#8221; adalah perlawanan yang dilakukan musuh selalu berakhir dengan kekalahan. Dengan demikian dianggap tidak ada perlawanan.<em> </em></p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref8">[8]</a>Al-Qaththân, <em>Mabâ<span style="text-decoration:underline;">h</span>its…</em>,<em> </em>hal. 259.<em> </em></p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref9">[9]</a>Muhammad Ali al-Shabûnî, <em>al-Tibyân fî &#8216;Ulûm al-Qur&#8217;ân</em>, Beirut: Mu`assasah Manâhil al-Irfân, cet. II, 1980, hal 90. Lihat juga &#8216;Abdul Wahhâb Khalaf, <em>&#8216;Ilm Ushûl al-Fiqh</em>, Cairo: Maktabah al-Da&#8217;wah al-Islâmiyah, cet. VIII, 1990, hal. 258-259.<em></em></p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref10">[10]</a> Masmû&#8217; Abû Thâlib, <em>Khulashah al-Bayân…, </em>hal. 7-9.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref11">[11]</a>Al-Qaththân, <em>Mabâ<span style="text-decoration:underline;">h</span>its…, </em>hal. 258-259.<em></em></p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref12">[12]</a>Mukjizat <em><span style="text-decoration:underline;">h</span>issiyah</em> adalah mukjizat yang sifatnya materi atau inderawi; dapat dilihat dengan mata dan dapat ditangkap dengan panca indra seperti mengalirnya air pada jari-jari tangan Rasul, memperbanyak makanan yang sedikit, menyembuhkan penglihatan sahabat Qatâdah, dan lainnya.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref13">[13]</a>Masmû&#8217; Abû Thâlib, <em>Khulashah al-Bayân…, </em>hal. 6.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref14">[14]</a>Jalâluddîn al-Suyûthî, <em>al-Itqân fî &#8216;Ulûm al-Qur&#8217;ân</em>, Beirut: Dâr al-Kutub al-&#8217;Ilmiyah, cet. III, 1995, jilid 2, hal. 252.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref15">[15]</a>Selain dua alasan ini, kiranya dapat ditambahkan pula alasan lain seperti yang dikatakan oleh Masmû&#8217; Ahmad Abû Thâlib, yaitu mukjizat-mukjizat nabi-nabi terdahulu masih mengenal limitasi waktu dan tempat, dan yang dapat menyaksikannya pun masih terbatas.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref16">[16]</a>Al-Suyûthî, <em>al-Itqân…</em>,<em> </em>jilid 2, hal. 252.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref17">[17]</a>Al-Suyûthî, <em>al-Itqân…</em>,<em> </em>jilid 2, hal. 252.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref18">[18]</a>Mamdû<span style="text-decoration:underline;">h</span> <span style="text-decoration:underline;">H</span>asan Mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>ammad, <em>I&#8217;jâz al-Qur&#8217;ân lî al-Bâqilânî</em>, Mesir: Dâr al-Amîn al-Haram, cet. I, 1993, hal. 21.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref19">[19]</a>Al-Qaththân, <em>Mabâ<span style="text-decoration:underline;">h</span>its…, </em>hal. 259.<em></em></p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref20">[20]</a>Lihat misalnya al-Ghazâli, <em>al-Ma<span style="text-decoration:underline;">h</span>âwir…</em>Dalam buku ini Muhammad al-Ghazâlî secara umum menegaskan bahwa keitimewaan al-Qur&#8217;an itu terletak pada kesempurnaan ajaran-ajaran yang dibawanya yang menjamin kehidupan mereka yang mempedomaninya lebih baik, maju dan memiliki sosok peradaban yang dapat dijadikan anutan, jika mereka mampu menangkap pesan-pesan al-Qur&#8217;an. Karena itulah maka al-Qur&#8217;an tidak dapat dipersamakan dengan catatan-catatan biasa, dan situlah sebenarnya letak kemukjizatan al-Qur&#8217;an. Tentang hal ini ia tegaskan pula dalam bukunya yang lain, <em>Kayfa Nata&#8217;âmal m&#8217;a al-Qur&#8217;ân</em>. Hal senada juga diungkapkan oleh &#8216;Abbâs Mahmûd al-&#8217;Aqqâd dalam  <em>al-Falsafah al-Qur&#8217;âniyah,</em> Cairo: Dâr al-Hilâl, tt. Penegasan lebih tajam dan mendalam tentang hal ini dapat pula disimak dalam Muhammad Rasyîd Ridhâ, <em>al-Wa<span style="text-decoration:underline;">h</span>y al-Mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>ammadî</em>, Beirut: al-Maktab al-Islâmî, cet. X, 1985, hal- 142-165.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref21">[21]</a>Mamdû<span style="text-decoration:underline;">h</span> <span style="text-decoration:underline;">H</span>asan, <em>I&#8217;jâz al-Qur&#8217;ân…</em>,<em> </em>hal. 29.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref22">[22]</a>Mamdû<span style="text-decoration:underline;">h</span> <span style="text-decoration:underline;">H</span>asan, <em>I&#8217;jâz al-Qur&#8217;ân…</em>,<em> </em>hal. 29.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref23">[23]</a>Mamdû<span style="text-decoration:underline;">h</span> <span style="text-decoration:underline;">H</span>asan, <em>I&#8217;jâz al-Qur&#8217;ân…</em>,<em> </em>hal. 29. Dalam hemat penulis, hal ini selain sebagai dalil kemukjizatan al-Qur&#8217;an, pada saat yang sama juga merupakan salah satu sisi kemukjizatan al-Qur&#8217;an itu sendiri.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref24">[24]</a>Mamdû<span style="text-decoration:underline;">h</span> <span style="text-decoration:underline;">H</span>asan, <em>I&#8217;jâz al-Qur&#8217;ân…</em>,<em> </em>hal. 30-31.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref25">[25]</a>Mamdû<span style="text-decoration:underline;">h</span> <span style="text-decoration:underline;">H</span>asan, <em>I&#8217;jâz al-Qur&#8217;ân…</em>,<em> </em>hal. 31.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref26">[26]</a>Mamdû<span style="text-decoration:underline;">h</span> <span style="text-decoration:underline;">H</span>asan, <em>I&#8217;jâz al-Qur&#8217;ân…</em>,<em> </em>hal. 31.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref27">[27]</a>Rasyîd Ridhâ, <em>al-Wa<span style="text-decoration:underline;">h</span>y…</em>, hal. 157.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref28">[28]</a>Rasyîd Ridhâ, <em>al-Wa<span style="text-decoration:underline;">h</span>y…</em>, hal. 163. Dalam buku ini dapat pula kita simak penjelasan mendalam Rasyîd Ridhâ ketika ia membandingkan pengaruh al-Qur&#8217;an terhadap bangsa Arab—utamanya para sahabat Nabi Saw.—dengan Toret terhadap Bani Israil. Dijelaskan bahwa betapa al-Qur&#8217;an betul-betul telah menjadi jiwa para sahabat yang nantinya melahirkan perubahan super cepat dan revolusi sosial yang maha besar. Adapun tentang efektifitas al-Qur&#8217;an dalam mengubah pola kehidupan dan jiwa para sahabat ini terekam dalam QS. al-Zumar/39: 23.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref29">[29]</a>Khalaf, <em>&#8216;Ilm Ushûl…</em>, hal. 27.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref30">[30]</a> Fâthimah Ismâ&#8217;îl, <em>Al-Qur&#8217;ân wa al-Nazhr…</em>, hal. 188-192.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref31">[31]</a>Al-&#8217;Aqqâd, <em>al-Falsafah al-Qur&#8217;âniyah</em>…, hal. 10</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref32">[32]</a>Rasyîd Ridhâ, <em>al-Wa<span style="text-decoration:underline;">h</span>y…</em>, hal. 163.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref33">[33]</a>Al-Qaththân, <em>Mabâ<span style="text-decoration:underline;">h</span>its…, </em>hal. 259.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref34">[34]</a>Khalaf, <em>&#8216;Ilm Ushûl…</em>, hal. 27. Di antara keserasian atau keseimbangan itu adalah:</p>
<ol>
<li>Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan antonimnya. Seperti kata <em>al-<span style="text-decoration:underline;">h</span>ayâh </em>(hidup) dengan <em>al-maut</em> (mati) masing-masing sebanyak 145 kali, kata <em>al-naf&#8217;</em> (manfaat) dan <em>al-madharah</em> (mudarat) masing-masing sebanyak 50 kali, dan sebagainya.</li>
<li>Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan sinonimnya/makna yang dikandungnya. Seperti kata <em>al-<span style="text-decoration:underline;">h</span>arts</em> dan <em>al-zirâ&#8217;ah</em> (membajak/bertani) masing-masing 14 kali, kata <em>al- &#8216;ushb</em> dan <em>al-dhurur</em> (membanggakan diri/angkuh) masing-masing 27 kali, kata <em>al-Qur&#8217;ân, al-wa<span style="text-decoration:underline;">h</span>y</em> dan <em>al-Islâm</em> masing-masing 70 kali.</li>
<li>Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan jumlah kata yang menunjuk kepada akibatnya. Seperti kata <em>al-infâq</em> (infak) dengan <em>al-ridhâ</em> (kerelaan) masing-masing 73 kali, kata <em>al-bukhl</em> (kekikiran) dan <em>al-<span style="text-decoration:underline;">h</span>asarah</em> (penyesalan) masing-masing 12 kali, <em>al-zakâh</em> (zakat/penyucian) dan <em>al-barakât</em> (kebajikan yang banyak) masing-masing 32 kali.</li>
<li>Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan kata penyebabnya. Seperti kata <em>al-isrâf</em> (pemborosan) dengan kata <em>al-sur&#8217;ah</em> (ketergesa-gesaan) masing-masing 32 kali, <em>al-maw&#8217;izhah</em> (nasihat/petuah) dengan <em>al-lisân</em> (lidah) masing-masing 25 kali.</li>
<li>Di samping keseimbangan-keseimbangan tersebut, ditemukan juga keseimbangan khusus, seperti kata <em>yaum</em> (hari) dalam bentuk tunggal sejumlah 365 kali, sebanyak hari-hari dalam setahun. Sedangkan kata hari yang menunjuk kepada bentuk plural (<em>ayyâm</em>) atau dua (<em>yaumân</em>), jumlah keseluruhannya hanya 30, sama dengan jumlah hari dalam sebulan. Di sisi lain, kata yang berarti bulan (<em>syahr</em>) hanya terdapat 12 kali, sama dengan jumlah bulan dalam setahun (lihat M. Quraish Shihab, <em>Membumikan al-Qur&#8217;an</em>,Bandung: Mizan, cet. XIII, 1996, hal. 29-31).</li>
</ol>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref35">[35]</a>Khalaf, <em>&#8216;Ilm Ushûl…</em>, hal. 28.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref36">[36]</a>Khalaf, <em>&#8216;Ilm Ushûl…</em>, hal. 29.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref37">[37]</a>Khalaf, <em>&#8216;Ilm Ushûl…</em>, hal. 30.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref38">[38]</a>Khalaf, <em>&#8216;Ilm Ushûl…</em>, hal. 31.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref39">[39]</a>Al-Sahabûnî, <em>al-Tibyân…</em>, hal. 101-102.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref40">[40]</a>Shihab, <em>Membumikan…</em>,  hal. 51-60.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref41">[41]</a>Al-Qaththân, <em>Mabâhits</em>…, hal. 270.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref42">[42]</a>Ahmad Baiquni, <em>al-Qur&#8217;an dan Ilmu Pengertahuan Kealaman</em>, Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Prima Yasa, cet. I, 1996, hal. 19-20). Tentang hal ini baca juga al-Ghazâlî, <em>Kaifa Nata&#8217;âmal…</em>, hal. 137-146 dan al-&#8217;Aqqâd, <em>al-Falsafah al-Qur&#8217;âniyah…</em>, hal. 11-13.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref43">[43]</a>Al-Sahabûnî, <em>al-Tibyân…</em>, hal. 105-106. Lihat juga al-Qaththân, <em>Mabâ<span style="text-decoration:underline;">h</span>its…</em>, hal. 264-269.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref44">[44]</a>Rasyîd Ridhâ, <em>al-Wa<span style="text-decoration:underline;">h</span>y</em>…, hal. 142-143.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref45">[45]</a>Masmû&#8217; Abû Thâlib, <em>Khulashah al-Bayân…, </em>hal. 80.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/I'jaz%20al-Qur'an%20(sudah%20terbit%20di%20Sosio-Religia%20YK).doc#_ftnref46">[46]</a>Masmû&#8217; Abû Thâlib, <em>Khulashah al-Bayân…, </em>hal. 80-82.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abualitya.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abualitya.wordpress.com/245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abualitya.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abualitya.wordpress.com/245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abualitya.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abualitya.wordpress.com/245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abualitya.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abualitya.wordpress.com/245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abualitya.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abualitya.wordpress.com/245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abualitya.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abualitya.wordpress.com/245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abualitya.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abualitya.wordpress.com/245/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&amp;blog=3401246&amp;post=245&amp;subd=abualitya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abualitya.wordpress.com/2012/01/09/ijaz-al-quran-wawasan-tentang-beberapa-aspek-kemukjizatan-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/af2bf86b31ef30cccc6bf9168f250ae4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>STUDI ANALISIS ATAS TAFSIR AL-AZHAR Karya Prof. DR. Hamka</title>
		<link>http://abualitya.wordpress.com/2011/12/30/studi-analisis-atas-tafsir-al-azhar-karya-prof-dr-hamka/</link>
		<comments>http://abualitya.wordpress.com/2011/12/30/studi-analisis-atas-tafsir-al-azhar-karya-prof-dr-hamka/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Dec 2011 01:30:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abad Badruzaman</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://abualitya.wordpress.com/2011/12/30/studi-analisis-atas-tafsir-al-azhar-karya-prof-dr-hamka/</guid>
		<description><![CDATA[Pendahuluan Al-Qur&#8217;an merupakan sumber tasyri’ dan hukum yang menuntut kaum muslimin untuk mengetahui, mendalami dan mengamalkan segala isinya. Di dalamnya terdapat penjelasan tentang halal-haram, perintah dan larangan, etika dan akhlak, dan lainnya, yang kesemuanya itu harus dipedomani oleh mereka yang mengaku menjadikan Al-Qur&#8217;an sebagai Kitab Sucinya. Keharusan itu dapat dipahami, karena memegang-teguh ajaran Al-Qur&#8217;an merupakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&amp;blog=3401246&amp;post=244&amp;subd=abualitya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>Pendahuluan</h3>
<p>Al-Qur&#8217;an merupakan sumber <em>tasyri’ </em>dan hukum yang menuntut kaum muslimin untuk mengetahui, mendalami dan mengamalkan segala isinya. Di dalamnya terdapat penjelasan tentang halal-haram, perintah dan larangan, etika dan akhlak, dan lainnya, yang kesemuanya itu harus dipedomani oleh mereka yang mengaku menjadikan Al-Qur&#8217;an sebagai Kitab Sucinya. Keharusan itu dapat dipahami, karena memegang-teguh ajaran Al-Qur&#8217;an merupakan sumber kebahagiaan, petunjuk dan kemenangan di sisi Tuhan berupa surga yang penuh kenikmatan.<span id="more-244"></span></p>
<p>Jika demikian halnya, maka aktivitas tafsir Al-Qur&#8217;an serta upaya penjelasan makna-maknanya yang dianggap musykil oleh kebanyakan kaum Muslimin menjadi suatu keniscayaan, semenjak ia turun pada masa hidup Rasulullah Saw. dan sepeninggal beliau, bahkan hingga sekarang dan yang akan datang. Untuk merespon kenisacayaan itu, dalam sejarah perjalanan umat ini bersama Kitab Sucinya, banyak sudah ulama yang mencurahkan perhatiannya untuk membidangi tafsir dengan berbagai <em>manhaj, </em>bentuk serta coraknya. Pada setiap fase waktu dapat kita temukan “peninggalan” tafsir yang sejalan dengan tuntutan dan dinamika masanya. Kemunculan para mufasir dari satu masa ke masa berikutnya memperpanjang daftar perbendaharaan rahasia dan ilmu-ilmu Al-Qur&#8217;an. Pergantian zaman, penemuan ilmu-pengetahuan dan kemajuan akal-pikir manusia semakin memperjelas betapa luasnya samudera hikmah yang dikandung Al-Qur&#8217;an.</p>
<p>Di antara karya tafsir modern Indonesia yang dapat kita jumpai dengan cukup mudah dan banyak dibicarakan (dikaji) orang adalah <em>Tafsir Al-Azhar. </em>Tulisan ini akan coba menampilkan sosok tafsir tersebut. Sosok yang ditampilkan sangat mungkin tidak utuh (karena berbagai pertimbangan). Yang penulis coba tampilkan dalam makalah ini memang hanya sisi-sisi yang dianggap penting saja, terutama tentang <em>manhaj </em>yang ditempuh oleh sang mufasir serta bagaimana penerapannya dalam tafsirnya.</p>
<p> </p>
<h2>Sekilas Biografi Prof. Dr. Hamka</h2>
<p>Hamka adalah nama singkatan Haji ‘Abdul Malik Karim Amrullah. Lahir di Maninjau, Sumatera Barat, 16 Februari 1908 dan wafat di Jakarta, 24 Juli 1981. Beliau dikenal sebagai seorang tokoh dan pengarang (pujangga) Islam. Ia adalah putera seorang ulama terkemuka, yang terkenal dengan sebutan Haji Rasul, yang mendapat gelar doktor kehormatan dari Universitas Al-Azhar Mesir dan membawa pembaharuan dalam soal agama di Minangkabau.</p>
<p>Pendidikan formalnya hanya sampai SD, tetapi banyak belajar sendiri (otodidak), terutama dalam bidang agama. Keahliannya dalam Islam diakui dunia internasional sehingga kemudian mendapat gelar kehormatan dari Universitas Al-Azhar (1955) dan dari Universiti Kebangsaan Malaysia (1976).</p>
<p>Tahun 1924 mulai merantau ke tanah Jawa untuk belajar antara lain kepada HOS Cokroaminoto, lalu aktif dalam organissi Muhammadiyah. Tahun 1927 berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Kemudian menetap di Medan di mana ia aktif sebagai ulama dan bekerja sebagai redaktur majalah Pedoman Masyarakat dan Pedoman Islam (1938-1941). Pada waktu itu ia mulai banyak menulis roman, sehingga timbul <em>heboh</em> karena ada pihak yang tidak setuju kiai mengarang roman. Di antara roman yang ditulisnya adalah <em>Di Bawah Lindungan Ka’bah </em>(1938),<em> Merantau ke Deli </em>(1940), <em>Di Dalam Lembah Kehidupan </em>(1940; kumpulan cerita pendek),<em> Ayahku </em>(1949; merupakan riwayat hidup dan kisah perjuangan ayahnya).<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Di zaman Orde Lama pernah meringkuk dalam tahanan beberapa tahun. Dalam kesempatan itulah ia menyelesaikan <em>Tafsir Al-Azhar</em>-nya. Hamka banyak sekali menulis buku tentang Islam, seluruhnya ratusa judul. Beliau adalah imam masjid Al-Azhar Kebayoran. Pernah memimpin majalah Panji Masyarakat yang terbit sejak 1959. Sementara itu sejak tanggal 21 Mei 1981 Hamka meletakkan jabatannya selaku ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI).<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftn2">[2]</a></p>
<p><strong>Sekilas Profil Tafsir Al-Azhar  </strong><strong></strong></p>
<p>Kitab Tafsir berbahasa Indonesia yang akan kita kaji sekarang ini adalah terbitan Pustaka Panjimas, Jakarta, cetakan I, 1982. Sebelum betul-betul masuk dalam tafsir ayat Al-Qur&#8217;an, sang mufasir terlebih dahulu memberikan banyak pembukaan, yang terdiri dari: Kata Pengantar, Pandahuluan, Al-Qur&#8217;an, <em>I’jâz </em>Al-Qur&#8217;an, Isi Mu’jizat Al-Qur&#8217;an, Al-Qur&#8217;an Lafaz dan Makna, Menafsirkan Al-Qur&#8217;an, Haluan Tafsir, Mengapa Dinamai “Tafsir Al-Azhar”, dan terakhir Hikmat Ilahi.<strong></strong></p>
<p>Dalam <em>Kata Pengantar</em>, Hamka menyebut beberapa nama yang ia anggap berjasa bagi dirinya dalam pengembaraan dan pengembangan keilmuan keislaman yang ia jalani. Nama-nama yang disebutnya itu boleh jadi merupakan orang-orang pemberi motivasi untuk segala karya cipta dan dedikasinya terhadap pengembangan dan penyebarluasan ilmu-ilmu keislaman, tidak terkecuali karya tafsirnya. Nama-nama tersebut selain disebut Hamka sebagai orang-orang tua dan saudara-saudaranya, juga disebutnya sebagai guru-gurunya. Nama-nama itu antara lain, ayahnya sendiri, Doktor Syaikh Abdulkarim Amrullah, Syaikh Muhammad Amrullah (kakek), Ahmad Rasyid Sutan Mansur (kakak iparnya).<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftn3">[3]</a></p>
<h3>Di bawah <em>Pendahuluan</em> Hamka menyitir beberapa patokan dan persyaratan yang mesti dimiliki oleh seseorang yang akan memasuki gelanggang tafsir. Ia menulis:</h3>
<h3>“Syarat-syarat itu memang berat dan patut. Kalau tidak ada syarat demikian tentu segala orang dapat berani saja menafsirkan Al-Qur&#8217;an. Ilmu-ilmu yang dijadikan syarat oleh ulama-ulama itu <em>alhamdulillah </em>telah penulis ketahui ala kadarnya, tetapi penulis tidaklah mengakui bahwa penulis sudah sangat alim dalam segala itu……Maka kalau menurut syarat yang dikemukakan ulama tentang ilmu-ilmu itu, wajiblah ilmu sangat dalam benar lebih dahulu, tidaklah akan jadi ‘Tafsir’ ini dilaksanakan. Jangankan bahasa Arab dengan segala <em>nahwu </em>dan <em>sharaf-</em>nya, sedangkan bahasa Indoensia sendiri, tempat Al-Qur&#8217;an ini akan diterjemah dan ditafsirkan tidaklah penulis tafsir ini termasuk ahli yang sangat terkemuka.”<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftn4">[4]</a></h3>
<h3>Intinya, dalam sub ini Hamka sadar betul akan pentingnya pemenuhan syarat-syarat tafsir bagi orang yang hendak menafsir. Hanya saja, patokan-patokan yang berat itu tidak harus menjadi kendala dan penghalang bagi lahirnya karya-karya baru tafsir, terutama bagi ia yang sudah memiliki standar minimal dalam pemenuhan syarat-syarat tersebut.</h3>
<h3>Bagian yang penulis anggap menarik dari sub-sub yang terdapat dalam pembukaan tafsir <em>Al-Azhar </em>adalah sub “Haluan Tafsir” dan “Mengapa Dinamai <em>Tafsir Al-Azhar”. </em>Karena itu, dua sub itu akan penulis jadikan sub juga dalam makalah ini.</h3>
<h3> </h3>
<h3><em>Haluan Tafsir</em></h3>
<h3>“Tiap-tiap tafsir Al-Qur&#8217;an memberikan corak haluan daripada peribadi penafsirnya,” demikian Hamka mengawali paparannya tentang haluan tafsir. Dalam <em>Tafsir Al-Azhar</em>-nya, Hamka, seperti diakuinya, memelihara sebaik mungkin hubungan antara <em>naqal </em>dan <em>‘aql</em>’; antara <em>riwâyah </em>dan <em>dirâyah. </em>Hamka menjanjikan bahwa ia tidak hanya semata-mata mengutip atau menukil pendapat yang telah terdahulu, tetapi mempergunakan juga tinjauan dan pengalaman pribadi. Pada saat yang sama, tidak pula melulu menuruti pertimbangan akal seraya melalaikan apa yang dinukil dari penafsir terdahulu. Suatu tafsir yang hanya mengekor riwayat atau <em>naqal </em>dari ulama terdahulu, berarti hanya suatu <em>textbook thinking </em>belaka. Sebaliknya, kalau hanya memperturutkan akal sendiri, besar bahayanya akan terpesona keluar dari garis tertentu yang digariskan agama melantur ke mana-mana, sehingga dengan tidak disadari boleh jadi menjauh dari maksud agama.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftn5">[5]</a></h3>
<h3>Masih dalam kerangka “Haluan Tafsir”, Hamka mengabarkan bahwa <em>Tafsir Al-Azhar </em>ditulis dalam suasana baru, di negara yang penduduk Muslimnya adalah mayoritas, sedang mereka haus akan bimbingan agama haus akan pengetahuan tentang rahasia Al-Qur&#8217;an, maka perselisihan-perselisihan mazhab dihindari dalam Tafsirnya. Dan Hamka sendiri, sebagai penulis Tafsir, mengakui bahwa ia tidaklah <em>ta’ashshub </em>kepada satu paham, “melainkan sedaya upaya mendekati maksud ayat, menguraikan makna dan lafaz bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia dan memberi kesempatan orang buat berpikir.”<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftn6">[6]</a></h3>
<h3>Masih dalam kerangka “Haluan Tafsir”<em>, </em>Hamka mengemukakan ketertarikan hatinya terhadap beberapa karya tafsir. Di antara karya tafsir yang jelas-jelas ia menyatakan ketertarikan hati terhadapnya adalah tafsir <em>Al-Manâr </em>karya Sayyid Rasyîd Ridhâ. Tafsir ini ia nilai sebuah sosok tafsir yang mampu menguraikan ilmu-ilmu keagamaan sebangsa hadis, fikih, sejarah dan lainnya lalu menyesuaikannya dengan perkembangan politik dan kemasyarakatan yang sesuai dengan zaman di waktu tafsir itu ditulis.</h3>
<h3>Selain tafsir <em>Al-Manâr, </em>tafsir <em>al-Marâghî, al-Qâsimî </em>dan <em>Fî Zhilâl Al-Qur&#8217;ân </em>juga termasuk tafsir-tafsir yang Hamka ‘saluti’. Tafsir yang disebut terakhir misalnya, ia nilai sebagai “satu tafsir yang <em>munasabah</em> buat zaman ini. Meskipun dalam hal <em>riwâyah </em>ia belum (tidak) mengatasi <em>al-Manâr, </em>namun dalam <em>dirâyah </em>ia telah mencocoki pikiran setelah Perang Dunia II.” Secara jujur Hamka mengatakan bahwa Tafsir karya Sayyid Quthub itu banyak mempengaruhinya dalam menulis tafsir <em>Al-Azhar</em>-nya.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftn7">[7]</a></h3>
<h3>Hingga di sini penulis makalah hendak mengatakan bahwa Tafsir <em>Al-Azhar </em>mempunyai corak <em>non-mazhabi</em>, dalam arti menghindar dari perselisihan kemazhaban, baik fikih maupun kalam.</h3>
<h3>Di sisi lain, ia juga, seperti diakuinya, banyak diwarnai (diberi corak) oleh tafsir ‘modern’ yang telah ada sebelumnya, seperti <em>Al-Manâr </em>dan <em>Fî Zhilâl Al-Qur&#8217;ân. </em>Selama ini, dua tafsir tersebut dikenal bercorak <em>adabi-ijtimâ`î, </em>dalam makna selalu mengaitkan pembahasan tafsir dengan persoalan-persoalan riil umat Islam. Warna-warna tafsir itu mempengaruhi Tafsir <em>Al-Azhar </em>yang penulisnya jelas-jelas menyatakan kekaguman dan keterpengaruhannya. Dengan begitu, dapat dengan mudah kita katakan bahwa corak Tafsir yang sedang kita kaji ini bercorak <em>Adabi-Ijtimâ`î, </em>dengan <em>setting </em>sosial-kemasyarakatan keindonesiaan sebagai objek sasarannya.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftn8">[8]</a></h3>
<h3>Hal lain yang dimasukkan Hamka dalam sub ini adalah janjinya untuk menyuguhkan sebuah tafsir yang ‘tengah-tengah’. Dalam bahasa dia: “…penafsiran tidak terlalu tinggi mendalam, sehingga yang dapat memahaminya tidak hanya semata-mata sesama ulama, dan tidak terlalu rendah, sehingga tidak menjemukan.”<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftn9">[9]</a></h3>
<h3><em> </em></h3>
<h3><em>Mengapa Dinamai “Tafsir Al-Azhar”?</em></h3>
<h3>Nama Al-Azhar diambil dari nama masjid tempat kuliah-kuliah tafsir yang disampaikan oleh Hamka sendiri, yakni masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru. Nama masjid Al-Azhar sendiri adalah pemberian dari Syaikh Mahmoud Syaltout, syaikh (rektor) Universitas Al-Azhar, yang pada bulan Desember 1960 datang ke Indonesia sebagai tamu agung dan mengadakan lawatan ke masjid tersebut yang waktu itu namanya masih Masjid Agung Kebayoran Baru.</h3>
<h3>Pengajian tafsir setelah shalat shubuh di masjid Al-Azhar telah terdengar di mana-mana, terutama sejak terbitnya majalah <em>Gema Islam. </em>Majalah ini selalu memuat kuliah tafsir ba’da shubuh tersebut. Hamka langsung memberi nama bagi kajian tafsir yang dimuat di majalah itu dengan <em>Tafsir Al-Azhar, </em>sebab tafsir itu—sebelum dimuat di majalah—digelar di dalam masjid agung Al-Azhar.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftn10">[10]</a></h3>
<h3> </h3>
<h3>Studi Kritis Tafsir Al-Azhar:</h3>
<h3><em>Metode Tafsir</em></h3>
<h3><em>Manhaj </em>yang ditempuh tafsir <em>Al-Azhar </em>adalah <em>Tahlili. </em>Dalam arti menafsir ayat demi ayat sesuai urutannya dalam <em>mushhaf </em>serta menganalisis begitu rupa hal-hal penting yang terkait langsung dengan ayat, baik dari segi makna atau aspek-aspek lain yang dapat memperkaya wawasan pembaca tafsirnya.</h3>
<h3>Ketika membahas ayat pertama surat al-Baqarah, yang berupa huruf-huruf yakni <em>Alif Lâm Mîm</em>, misalnya, ia katakan bahwa dalam Al-Qur&#8217;an kita akan menemukan beberapa surat yang dimulai dengan huruf-huruf seperti: <em>Kâf Hâ Yâ ‘Aîn Shâd, Alif Lâm Mîm Râ, Thâ Hâ </em>dan semacamnya. Pandangan para mufasir tentang huruf-huruf pembuka surat (<em>fawâtih al-suwar</em>) seperti itu, kata Hamka, terbagi kepada dua golongan. <em>Pertama, </em>mereka yang memberikan arti sendiri bagi huruf-huruf tersebut. Yang banyak memberikan arti bagi huruf-huruf itu adalah sahabat-mufasir yang terkenal yakni ‘Abdullah bin ‘Abbas. <em>Alif Lam Mim, </em>menurut Ibnu ‘Abbas, merupakan isyarat bagi tiga nama; <em>Alif </em>untuk nama Allah; <em>Lam </em>untuk nama Jibril, dan <em>Mim </em>untuk nama Nabi Muhammad Saw. Demikian halnya huruf-huruf pembuka surat lainnya, menurut Ibnu ‘Abbas ada maknanya sendiri. <em>Kedua, </em>pendapat yang mengatakan bahwa huruf-huruf di pangkal surat itu adalah rahasia Allah, termasuk ayat <em>mutasyabihat </em>yang kita baca dan percayai saja. Tuhanlah yang lebih tahu akan artinya.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftn11">[11]</a></h3>
<h3>Ada pula, lanjut Hamka, segolongan ahli tafsir yang menyatakan bahwa huruf-huruf itu adalah sebagai pemberitahuan, atau sebagai panggilan untuk menarik perhatian tentang ayat-ayat yang akan turun mengiringinya.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftn12">[12]</a></h3>
<h3>Hamka menutup pembahasan tentang huruf-huruf <em>fawâti<span style="text-decoration:underline;">h</span> al-suwar </em>ini dengan mengatakan:</h3>
<h3>“Nyatalah bahwa huruf-huruf itu bukan kalimat bahasa yang bisa diartikan. Kalau dia suatu kalimat yang mengandung arti, niscaya tidak akan ragu-ragu lagi seluruh bangsa Arab akan artinya. Oleh sebab itu maka lebih baiklah kita terima saja huruf-huruf itu menurut keadaannya…</h3>
<h3>“Sebab mendalami Al-Qur&#8217;an tidaklah bergantung daripada mencari-cari arti dari huruf-huruf itu. Apatah lagi kalau sudah dibawa pula kepada arti rahasia-rahasia huruf, angka-angka dan tahun…..sehingga telah membawa Al-Qur&#8217;an terlampau jauh dari pangkalan aslinya.”<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftn13">[13]</a></h3>
<h3>Hingga di sini dapat kita nilai bahwa Hamka dalam hal yang berkaitan dengan makna huruf-huruf di pangkal surat lebih cenderung menyerahkan pengertiannya semata kepada Allah. Sebab hal itu dinilainya lebih selamat, pula hal itu tidak bersentuhan langsung dengan tujuan pendalaman dan pengkajian Al-Qur&#8217;an.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftn14">[14]</a></h3>
<h3>Ketajaman analisis Hamka juga teruji ketika, misalnya, dengan jeli menunjukkan korelasi antara makna yang terdapat pada akhir surat al-Fâti<span style="text-decoration:underline;">h</span>ah dengan makna yang ada pada awal surat al-Baqarah (ayat 2: <em>“Inilah Kitab itu; tidak ada sebarang keraguan padanya; satu petunjuk bagi orang-orang yang hendak bertakwa”</em>). Hamka menulis:</h3>
<h3>“Kita baru saja selesai membaca surat al-Fatihah. Di sana kita telah memohon kepada Tuhan agar ditunjuki jalan yang lurus, jalan orang yang diberi nikmat, jangan jalan orang yang dimurkai atau orang yang sesat. Baru saja menarik nafas selesai membaca surat itu, kita langsung kepada surat al-Baqarah dan kita langsung kepada ayat ini. Permohonan kita di surat al-Fatihah sekarang diperkenankan. Kamu bisa mendapat jalan yang lurus, yang diberi nikmat, bukan yang dimurkai dan tidak yang sesat, asal saja kamu suka memakai pedoman kitab ini. Tidak syak lagi, dia adalah petunjuk bagi orang yang suka bertakwa.”<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftn15">[15]</a></h3>
<h3>Kendati kita akui ketajaman analisis Hamka, ada satu hal menarik yang ia lewatkan yang sepatutnya disitir barang sedikit sebelum lebih jauh membahas korelasi antara akhir surat al-Fatihah dengan awal ayat surat al-Baqarah, atau sebelum membincang soal takwa dan ciri-ciri <em>muttaqin, </em>yaitu soal penggunaan isyarat jauh untuk menunjuk Al-Qur&#8217;an (<em>Dzâlik al-Kitâb</em>). Padahal di tempat lain, seperti kata Pak Quraish dalam <em>Al-Mishbah-</em>nya, semua ayat yang menunjuk kepada firman-firman Allah dengan nama Al-Qur&#8217;an (bukan al-Kitab) ditunjuk dengan isyarat dekat (<em>Hâdzâ Al-Qur&#8217;ân</em>). Penggunaan isyarat jauh ini, masih kata Pak Quraish, bertujuan memberi kesan bahwa kitab suci berada dalam kedudukan yang amat tinggi dan sangat jauh dari jangkauan makhluk, karena dia bersumber dari Allah Yang Maha Tinggi, sedang penggunaan kata <em>hadza/ini, </em>untuk menunjukkan betapa dekat tuntunan-tuntunannya pada fithrah manusia.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftn16">[16]</a></h3>
<h3>Kembali ke <em>Tafsir Al-Azhar</em>, bila kita tinjau dari sisi sumber rujukan penafsiran yang dipergunakan, Hamka juga menempuh <em>manhaj naqlî </em>(<em>tafsîr bi al-ma`tsûr/bi al-riwâyah</em>). Itu terlihat misalnya ketika ia menukil riwayat dari Abu Hurairah ra. tatkala membahas arti takwa dalam kerangka penafsiran ayat <em>hudan li al-muttaqîn. </em>Tentang hal ini Hamka menulis:</h3>
<h3>“Pernah ditanyakan orang kepada sahabat Rasulullah Saw., Abu Hurairah ra., apa arti takwa? Beliau berkata: ‘Pernahkah engkau bertemu jalan yang banyak duri dan bagaimana tindakanmu waktu itu?’ Orang itu menjawab: ‘Apabila aku melihat duri, aku mengelak ke tempat yang tidak ada durinya atau aku langkahi, atau aku mundur.’ Abu Hurairah menjawab: ‘Itulah dia takwa!’ (Riwayat dari Ibnu Abi ad-Dunya).”<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftn17">[17]</a></h3>
<h3>Kejadian serupa (menukil riwayat) juga kita dapati ketika Hamka menerangkan ciri-ciri orang yang takwa, yaitu orang-orang yang percaya bahwa di balik benda yang nampak ini, ada lagi hal-hal yang gaib. Kaum Muslimin yang telah hidup belasan abad sepeninggal Rasulullah Saw. dan keturunan-keturunan kita mendatang, bertambah lagi keimanan kepada yang gaib itu, karena kita tidak melihat wajah beliau. Itu pun termasuk iman kepada yang gaib. Tentang hal ini Hamka memperkuatnya dengan banyak riwayat, di antaranya dari Imam Ahmad, al-Baqawardi dan Ibu Qani di dalam <em>Majma’ al-Shahabah, </em>juga Imam al-Bukhari di dalam Tarikh-nya, al-Tahbrani dan al-Hakim. Mereka meriwayatkan dari Abu Jum’ah al-Anshârî.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftn18">[18]</a> <em></em></h3>
<h3><em> </em></h3>
<h3><em>Mekanisme Kerja (Langkah-langkah) Tafsir</em></h3>
<h3>Sejauh pengamatan penulis atas tafsir surat al-Baqarah, dapat kiranya penulis menyebut mekanisme kerja <em>Tafsir Al-Azhar </em>sebagai berikut:</h3>
<h3><em>Pertama, </em>menyebut nama surat dan artinya dalam bahasa Indonesia, nomor urut surat dalam susunan <em>mush<span style="text-decoration:underline;">h</span>af, </em>jumlah ayat dan tempat diturunkannya surat. Seperti berikut:</h3>
<h3 align="center"><em>Surat </em></h3>
<h3 align="center"><em>Al-Baqarah</em><em></em></h3>
<h3 align="center">(Lembu Betina)</h3>
<h3 align="center">Surat 2: 286 ayat</h3>
<h3 align="center">Diturunkan di MADINAH</h3>
<h3>Hemat penulis, langkah seperti ini dilakukan oleh semua penafsir. Hanya saja Hamka tidak membincang lebih panjang tentang kata <em>Al-Baqarah </em>yang menjadi nama surat ini. Komentar dia tentang kata ini hanya sedikit saja, seperti ini:</h3>
<h3>“Surat yang kedua ini bernama Surat <em>Al-Baqarah</em> yang berarti lembu betina, karena ada kisah tentang Bani Israil (yang) disuruh oleh Nabi Musa mencari seekor lembu betina (yang) akan disembelih, yang tersebut pada ayat 67 sampai 74. Adapun nama surat-surat Al-Qur&#8217;an bukanlah sebagai <em>judul</em> dari satu rencana atau nama dari satu buku yang menerangkan suatu yang khas. (Ia) hanyalah sebagai tanda belaka dari Surat yang dinamai itu, dan bukan karena nama itu lebih penting dari yang lain yang diuraikan di dalamnya, karena semuanya penting. Yang menentukan nama-nama ini adalah Rasulullah Saw. sendiri dengan petunjuk Jibril as.”<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftn19">[19]</a></h3>
<h3>Di sini kita melihat bahwa Hamka tidak menjadikan nama <em>Al-Baqarah </em>sebagai tema sentral keseluruhan surat <em>Al-Baqrah. </em>Ini berbeda dengan, misalnya, Quraish Shihab yang justru memandang nama tersebut sebagai tema pokok surat. Quraish menulis, “Surah ini dinamai <em>al-Baqarah </em>karena tema pokok-nya adalah inti ayat-ayat yang menguraikan kisah <em>al-Baqarah, </em>yakni kisah Bani Israil dengan seekor sapi.” <a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftn20">[20]</a></h3>
<h3><em>Kedua, </em>mengelompokkan ayat-ayat dalam satu surat menjadi beberapa kelompok sesuai tuntutan sub-tema dari keseluruhan tema surat. Kelompok pertama dari surat al-Baqarah terdiri dari lima ayat pertama (dari <em>Alif Lâm Mîm </em>sampai <em>wa ulâ`ika hum al-muflihûn</em>). Setiap kelompok ayat diberi nama sub-tema. Kelompok pertama, sebagai misal, diberi nama <em>Takwa dan Iman. </em></h3>
<h3>Catatan penulis, pengelompokkan semacam itu pun bisa dibilang sebagai salah satu langkah para mufasir. Perbedaan antara mereka hanya terletak pada penentuan jumlah ayat yang berada dalam satu kelompok tertentu. Tafsir <em>Al-Marâghî </em>dan <em>Al-Manâr </em>misalnya, menjadikan kelompok pertama dari surat al-Baqarah hanya terdiri dari dua ayat saja: <em>Alif Lâm Mîm </em>(ayat 1)<em> Dzâlik al-kitâb lâ raib fîh hudan li al-muttaqîn </em>(ayat 2).<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftn21">[21]</a><em> </em>Sementara itu Pak Quraish baru melakukan pengelompokkan pada ayat 3, 4 dan 5 (baca: ayat 3, 4 dan 5 menjadi satu kelompok), sedang ayat 1 dan 2 ditafsirkan secara terpisah.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftn22">[22]</a></h3>
<h3>Tidak penulis temukan dasar bagi masing-masing Hamka, al-Maraghi, Rasyid Ridha dan Quraish Shihab dalam menentukan jumlah ayat dalam satu kelompok tertentu tersebut. Yang jelas bahwa penentuan itu terkait dengan penilaian masing-masing tentang kesatuan sub tema antara ayat-ayat yang tergabung dalam satu kelompok tertentu. Hamka barangkali memandang bahwa lima ayat pertama itu memiliki kesatuan sub tema. Sementara al-Maraghi dan Ridha melihat bahwa sub tema pertama surat al-Baqarah hanya diwakili oleh dua ayat saja (ayat 1 dan 2), dan demikian seterusnya.</h3>
<h3><em>Ketiga, </em>memberi pendahuluan sebelum betul-betul masuk pada penafsiran atas ayat-ayat yang sudah dipenggal dalam satu kelompok ayat.</h3>
<h3>Hemat penulis, peletakkan pendahuluan setelah sebelumnya menampilkan satu kelompok ayat yang memiliki kesatuan sub-tema, kurang proporsional. Sebab pendahuluan ini isinya berupa gambaran umum dan inti sari tentang seluruh surat al-Baqarah, bukan gambaran umum tentang kelompok ayat yang akan ditafsir. Jadi, yang tepat pendahuluan ini diletakkan sebelum menampilkan kelompok ayat yang akan ditafsir, sehingga tidak ‘mengaburkan’ konsentrasi yang telah tertuju untuk membaca tafsir atas penggalan ayat yang sudah ditampilkan sebelumnya.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftn23">[23]</a></h3>
<h3>Terlepas dari itu, pendahuluan tersebut berisikan antara lain arti nama surat, tiga front masyarakat yang dihadapi Rasulullah di Madinah, pembinaan masyarakat Muslim oleh Nabi Saw., dan pembentukan jiwa kaum Mukminin di dalam memegang teguh agama, serta beberapa karakteristik ayat dalam surat al-Baqarah yang tergolong sebagai surat <em>Madaniyah </em>dibanding ayat-ayat lain yang tergolong dalam kelompok surat-surat <em>Makiyah</em>.</h3>
<h3><em>Keempat, </em>menafsirkan ayat perayat dari satu kelompok ayat. Misalnya, kelompok pertama dari surat al-Baqarah terdiri atas lima ayat (1-5). Dalam operasional tafsirnya, Hamka menafsirakan ayat 1, kemudian ayat 2, lalu 3 dan begitu seterusnya hingga ayat 5. Tidak menafsirkan satu kelompok secara sekaligus.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftn24">[24]</a></h3>
<h3>Langkah ini berbeda dengan tafsir <em>Al-Maraghi </em>dan <em>Al-Manar</em> yang memenggal satu ayat yang ada dalam satu kelompok tertentu menjadi beberapa penggalan. Ayat kedua (<em>dzâlik al-kitâb lâ raiba fîh hudan li al-muttaqîn</em>) misalanya, al-Maraghi pecah lagi menjadi tiga penggalan: <em>dzalik al-kitab, lâ raiba</em> <em>fîh, hudan li al-muttaqin</em>. Demikian juga Rasyid Ridha dalam <em>Al-Manâr. </em></h3>
<h3>Menurut penulis, langkah Hamka yang menafsir satu ayat sekaligus, dan tidak memenggalnya menjadi beberapa penggalan, lebih tepat dan efektif bagi para pembaca Indonesia, karena mereka dapat membaca dan menangkap kandungan ayat tersebut secara lengkap dalam waktu yang relatif singkat. Pula langkah Hamka, penulis nilai, lebih menjaga kesinambungan isi-isi yang terdapat dalam satu ayat tertentu, ketimbang membaginya menjadi beberapa penggal kecil.  <em></em></h3>
<h3><em>Kelima, </em>memberikan butiran-butiran hikmah atas satu persoalan yang dianggapnya krusial dalam bentuk pointers. Sebagai sampel dapat dilihat ketika Hamka menunjuk lima hikmah dari iman kepada hari akhirat tatkala menafsirkan penggalan kedua ayat 4 surat al-Baqarah (<em>wa bi al-âkhirati hum yûqinûn</em>).<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftn25">[25]</a></h3>
<h3>Dalam pengamatan penulis, langkah seperti ini tidaklah baku. Artinya tidak setiap akhir penafsiran atas satu ayat mesti diakhiri dengan pemberian buturan-butiran hikmah dalam bentuk pointers. Hal ini sepenuhnya terpulang kepada tuntutan tema ayat yang sedang ditafsir. Buktinya, dari ayat 1 hingga ayat 3 dari surat al-Baqarah tidak kita temukan bentuk pounters semacam itu. Baru pada ayat 4 kita temukan. Pada ayat 5 juga tidak ada. Ini menandakan bahwa langkah itu sifatnya situasional.</h3>
<h3>Terlepas dari itu, ada baiknya kita tuangkan di sini lima butir yang disebut Hamka sebagai hikmah dari beriman kepada hari akhir itu. Sebagai berikut:</h3>
<h3>1.      Apa yang kita kerjakan di dunia ini adalah dengan tanggung jwab yang penuh. Bukan tanggung jawab kepada manusia, tetapi kepada Tuhan yang selalu mengawasi kita;</h3>
<h3>2.      Kepercayaan kepada hari akhir meyakinkan kita bahwa apapun peraturan atau susunan yang berlaku di alam dunia ini tidaklah kekal; semuanya bergantian, semuanya berputar, dan yang kekal hanyalah peraturan <em>kekal </em>dari Allah;</h3>
<h3>3.      Setelah hancur alam ini, Tuhan akan menciptakan alam yang lain, dan manusia dipanggil buat hidup kembali di alam yang baru dan akan ditentukan tempatnya sesudah penyaringan dan perhitungan amal di dunia;</h3>
<h3>4.      Tempat baru itu adalah surga bagi mereka yang berat amal baiknya, dan neraka bagi mereka yang berat amal jahatnya. Semua itu akan diperhitungkan dengan adil;</h3>
<h3>5.      Kepercayaan kepada hari akhirat memberikan satu pandangan khas tentang menilai bahagia atau celakanya manusia. Harta yang melimpah, kegagahan dan pencapaian duniawi bukan ukuran kebahagiaan. Kejayaan yang hakiki adalah pada nilai iman dan takwa di sisi Allah, di hari kiamat.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftn26">[26]</a></h3>
<h3><em>Keenam</em>, memperkuat penjelasan dengan ayat-ayat dan riwayat-riwayat yang sepadan kandungannya dengan ayat yang sedang ditafsirkan.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftn27">[27]</a></h3>
<h3>Dalam pengamatan penulis, riwayat hadis yang dikutip Hamka tidak menampilkan semua untaian <em>rawi </em>yang ada dalam <em>sanad </em>hadis, tapi hanya menampilkan <em>râwî a’lâ </em>(<em>rawi </em>pada level shahabat) saja dan penulis kitab hadis tersebut, seperti Imam al-Bukhârî, Muslim dan lainnya. Jadi, bagi mereka yang ingin mengetahui untaian <em>rawi </em>bagi hadis yang dikutip Hamka secara lengkap harus merujuk langsung kepada kitab hadis yang disebut oleh Hamka.</h3>
<h3>Langkah seperti ini nampaknya sengaja ditempuh Hamka untuk menjadikan tafsirnya lebih praktis dan efektif bagi pembaca Indonesia yang umumnya awam tentang ilmu hadis dan “kurang peduli” dengan validitas <em>sanad </em>sebuah hadis. Perbincangan tentang <em>sanad </em>hadis bagi umumnya orang Indonesia bisa dibilang sudah tak lagi urgen, sebab mereka berpikiran bahwa persolaan tentang <em>sanad </em>telah usai dengan telah dibukukannya hadis ke dalam berbagai bentuk kitab hadis, seperti <em>Jâmi’ Shahîh, Sunan, Mu’jam </em>dan sebagainya. Jadi yang penting <em>matan-</em>nya, bukan <em>sanad. </em>Seperti itu barangkali pertimbangan Hamka. </h3>
<h3><em>Ketujuh</em>, menyuguhkan tafsir dalam kemasan bahasa yang mudah dipahami dengan sentuhan logika yang tidak sulit dicerna, serta dilengkapi dengan pendekatan sosio-kultural keindonesiaan. Semua ini penulis nilai sebagai upaya “membumikan Al-Qur&#8217;an”.</h3>
<h3>Barangkali kutipan dari tafsir Hamka atas ayat 3 surat al-Baqarah sedikitnya dapat memperkuat apa yang penulis nyatakan dalam poin <em>ketujuh </em>di atas. Berikut kutipanya:</h3>
<h3>“Inilah tiga tanda pada taraf yang pertama: Percaya kepada yang gaib. Yang gaib adalah yang tidak dapat disaksikan oleh pancaindera; tidak nampak oleh mata, tidak terdengar oleh telinga, yaitu dua indera yang utama dari kelima (panca) indera kita. Tetapi dia dapat dirasa adanya oleh akal. Maka yang pertama sekali adalah percaya kepada Allah, zat yang menciptakan sekalian alam, kemudian itu percaya akan adanya hari kemudian, yaitu kehidupan kekal yang sesudah dibangkitkan dari maut.</h3>
<h3>Iman yang berarti percaya, yaitu pengakuan hati yang terbukti dengan perbuatan yang diucapkan oleh lidah menjadi keyakinan hidup. Maka iman akan yang gaib itulah tanda pertama atau syarat pertama dari takwa.</h3>
<h3>Kita sudah sama tahu bahwa manusia itu dua juga coraknya; <em>pertama</em> orang yang hanya percaya kepada benda yang nyata, dan tidak mengakui bahwa ada pula di balik kenyataan ini sesuatu yang lain. Mereka tidak percaya ada Tuhan, atau Malaikat, dan dengan sendirinya mereka tidak percaya akan ada lagi hidup akhirat itu. Malahan terhadap adanya nyawapun, atau roh, mereka tidak percaya. Orang yang seperti ini niscaya tidak akan dapat mengambil petunjuk dari Al-Qur&#8217;an. Bagi mereka koran pembungkus gula sama dengan Al-Qur&#8217;an.</h3>
<h3><em>Kedua </em>ialah orang-orang yang percaya bahwa di balik benda yang nampak ini, ada lagi hal-hal yang gaib. Bertambah banyak pengalaman dalam arena penghidupan, bertambah mendalamlah kepercayaan mereka kepada yang gaib itu.</h3>
<h3>Kita kaum Muslimin yang telah hidup empat belas abad sesudah wafatnya Rasulullah Saw. dan keturunan-keturunan kita yang akan datang di belakang pun insya Allah, bertambah lagi keimanan kepada yang gaib itu, karena kita tidak melihat wajah beliau.”<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftn28">[28]</a> </h3>
<h3>Hingga di sini penulis mencatat beberapa hal, antara lain:</h3>
<h3>1.      Hamka tidak mengawali tafsirnya dengan memberikan penjelasan arti kata-kata tertentu dalam ayat (<em>syar<span style="text-decoration:underline;">h</span> al-mufradât</em>). Kuat dugaan, hal ini sengaja ditempuh karena masyarakat pembaca tafsirnya (orang Indonesia) tidak membutuhkan kajian kebahasaan seperti itu yang sifatnya suplemen atau pelengkap sekunder semata.</h3>
<h3>2.      Hamka tidak mengawali tafsirnya atas beberapa ayat yang sudah ia penggal ke dalam satu kelompok dengan makna global (<em>al-ma’nâ al-jumalî</em>) seperti yang kerap dilakukan oleh <em>Tafsîr Al-Maraghi, </em>salah satu karya tafsir yang dikaguminya. Besar dugaan, hal itu ditempuh karena ia ingin membawa pembacanya untuk meneliti tafsir ayat demi ayat secara teliti dan tuntas. Sebab bisa saja kalau didahului oleh tafsir global, di antara pembaca ada yang mencukupkan dengan tafsiran singkat tersebut. Hal demikian menjadikan pembacaan tafsir tidak tuntas dan menyeluruh.</h3>
<h3>3.      Menghindari persoalan <em>na<span style="text-decoration:underline;">h</span>w </em>dan <em>sharf. </em>Ini dapat dimaklumi sebab konsumen tafsirnya adalah masyarakat Indonesia yang umumnya awam dengan persoalan semacam itu. Jika persoalan semacam itu ditampilkan, hasilnya malah akan kontra-prorduktif, tidak efektif bagi pembaca tafsir Indonesia yang diharapkan mendapatkan pencerahan Qur’ani, bukan wawasan kebahasaan.</h3>
<h3>4.      Hanya menuangkan hal-hal yang benar-benar diinginkan oleh para pembaca tafsir, seraya menghindari perselisihan paham dan takwil-takwil jauh yang tidak perlu. Ini sejalan dengan apa yang dikatakan (dijanjikan) Hamka dalam <em>Haluan Tafsir-</em>nya ketika menulis:</h3>
<h3>“<em>Tafsir Al-Azhar </em>ini ditulis dalam suasana baru, di negara yang penduduk Muslimnya lebih besar jumlahnya dari penduduk lain, sedang mereka haus akan bimbingan agama, haus hendak mengetahui rahasia Al-Qur&#8217;an, maka pertikaian-pertikaian mazhab tidaklah dibawakan dalam tafsir ini, dan tidaklah penulisnya <em>ta’ashshub </em>kepada suatu faham, melainkan mencoba sedaya upaya mendekati maksud ayat, menguraikan makna dan lafaz bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia dan memberi kesempatan orang buat berfikir.”<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftn29">[29]</a></h3>
<h3>5.      Tidak menyebutkan sumber rujukan tafsir. Pikir penulis, seorang mufasir berkaliber tinggi pun hampir bisa dipastikan tidak dapat menghidar dari menukil dan merujuk karya atau pendapat orang lain. Hamka sendiri dalam <em>Haluan Tafsir-</em>nya mengakui bahwa <em>Al-Manâr, Al-Marâghî, Al-Qâsimî, </em>dan <em>Fî Zhilâl Al-Qur&#8217;ân </em>adalah karya-karya tafsir yang banyak memberikan “masukan” baginya dalam menulis <em>Tafsir Al-Azhar</em>. Harap penulis, ketika ia merujuk suatu pendapat dari tafsir lain ia menyebut, paling tidak, nama <em>Tafsir </em>dan penulisnya; tidak harus menyebut tempat, nomor halaman, jilid dan lainnya secara detail.<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftn30">[30]</a> Namun demikian, kebesaran dan nilai <em>Tafsir Al-Azhar </em>tidak berkurang barang sedikit pun.</h3>
<h3> </h3>
<h3><em>Corak Tafsir</em></h3>
<h3>Sub ini terkait erat dengan sub sebelumnya yaitu <em>Haluan Tafsir. </em>Bila dalam sub <em>Haluan Tafsir </em>sudah disitir beberapa karakter yang dapat diasumsikan sebagai corak tafsir <em>Al-Azhar </em>secara umum dan teoritis, pada sub ini sitiran tersebut akan dibuktikan secara nyata dan praktis dengan mengemukakan contoh-contoh nyata dari penafsiran langsung atas ayat.</h3>
<h3>Kiranya lebih dari satu corak yang dapat kita tunjuk buat tafsir <em>Al-Azhar, </em>tergantung dari sudut mana kita meninjau. Dari sudut pandang mazhab yang dianut dapat kita sebut tafsir <em>Al-Azhar </em>bercorak <em>Salafi.</em> Dalam arti penulisnya menganut mazhab Rasulullah dan sahabat-sahabat beliau serta ulama yang mengikuti jejak beliau. Ini seperti ia akui dalam <em>Haluan Tafsir-</em>nya:</h3>
<h3>“Mazhab yang dianut oleh Penafsir ini adalah <em>Mazhab Salaf</em>, yaitu mazhab Rasulullah dan sahabat-sahabat beliau dan ulama-ulama yang mengikuti jejak beliau. Dalam hal akidah dan ibadah, semata-mata <em>taslim, </em>artinya menyerah dengan tidak banyak tanya lagi. Tetapi tidaklah semata-mata taklid kepada pendapat manusia, melainkan meninjau mana yang lebih dekat kepada kebenaran untuk diikuti, dan meninggalkan mana yang jauh menyimpang. Meskipun penyimpangan yang jauh itu bukanlah atas suatu sengaja yang buruk dari yang mengeluarkan pendapat itu.”<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftn31">[31]</a></h3>
<h3>Contoh nyata untuk menunjukan ke-<em>salaf-</em>an tafsir Al-Azhar adalah ketika membahas huruf-huruf pembuka suatu surat (<em>fawâti<span style="text-decoration:underline;">h</span> al-suwar</em>). Dalam hal ini mufasir <em>Al-Azhar </em>memilih menyerahkan pengertiannya semata kepada Allah. Sebab hal itu dinilainya lebih selamat, pula tidak bersentuhan langsung dengan tujuan pendalaman dan pengkajian Al-Qur&#8217;an. Hamka menulis:</h3>
<h3>“…mendalami Al-Qur&#8217;an tidaklah bergantung daripada mencari-cari arti dari huruf-huruf itu. Apatah lagi kalau sudah dibawa pula kepada arti rahasia-rahasia huruf, angka-angka dan tahun…sehingga telah membawa Al-Qur&#8217;an terlampau jauh dari pangkalan aslinya.”<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftn32">[32]</a></h3>
<h3>Dalam sub <em>Haluan Tafsir, </em>Hamka mengemukakan ketertarikan hatinya terhadap beberapa karya tafsir, di antaranya tafsir <em>Al-Manar</em>. Tafsir ini menurutnya sebuah tafsir yang sanggup menguraikan ilmu-ilmu keagamaan sebangsa hadis, fikih, sejarah dan lainnya lalu menyesuaikannya dengan perkembangan politik dan kemasyarakatan yang sesuai dengan zaman di waktu tafsir itu ditulis. Tafsir yang demikian dinilai oleh para ahli sebagai tafsir bercorak <em>adabi-ijtima’î </em>(sosial-kemasyarakatan). Maka dapatlah diasumsikan bahwa sedikit banyak tafsir <em>Al-Azhar </em>mewarisi corak tersebut. Contoh konkret untuk corak ini adalah ketika mufasir <em>Al-Azhar </em>membincang wacana iman. Menurutnya, pengakuan iman perlu pembuktian dalam tataran sosial-praktis, misalnya dengan memperbanyak derma, sedekah, suka menolong sesama dan amal-amal sosial lainnya.</h3>
<h3>“Di tingkat pertama percaya kepada yang gaib, dan kepercayaan kepada yang gaib dibuktikan dengan sembahyang, sebab hatinya dihadapkannya kepada Allah yang diimaninya. Maka dengan kesukaan memberi, berderma, bersedekah, membantu dan menolong, imannya telah dibuktikannya pula kepada masyarakat. Orang Mukmin tidak mungkin hidup nafsi-nafsi dalam dunia. Orang Mukmin tidak mungkin menjadi budak dari benda, sehingga ia lebih mencintai benda pemberian Allah itu daripada sesamanya manusia. Orang yang Mukmin apabila dia ada kemampuan, karena imannya sangatlah dia percaya bahwa dia hanya saluran saja dari Tuhan untuk membantu hamba Allah yang lemah.”<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftn33">[33]</a></h3>
<h3>Warna <em>ijtimâ`î </em>tafsir <em>Al-Azhar </em>juga dapat kita lihat ketika mufasirnya menjadikan pengalaman pribadi dalam bermasyarakat sebagai anasir pelengkap tafsirnya. Sekadar sampel, ketika sang mufasir membahas soal takwa ia katakan bahwa kebudayaan Islam adalah kebudayaan takwa. Kesimpulan untuk mengatakan kebudayaan Islam adalah kebudayaan takwa ini diambil dari kesepakatan Konferensi Kebudayaan Islam di Jakarta yang diselenggarakan pada akhir Desember 1962. Selanjutnya mufasir menegaskan bahwa dalam takwa terkandung cinta, kasih, harap, cemas, tawakal, ridha, sabar dan lainnya. Takwa lebih mengumpul akan banyak hal. Bahkan dalam takwa, lanjutnya, terdapat juga berani!<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftn34">[34]</a></h3>
<h3>Menandai sebuah karya tafsir sebagai bercorak <em>ijtimâ`î, </em>hampir dapat dipastikan akan membawa pada kesimpulan lain tentang corak tafsir tersebut, yaitu bahwa tafsir itu juga bercorak <em>hida`î. </em>Dikatakan demikian karena tafsir <em>ijtimâ`î </em>adalah tafsir yang banyak mengedepankan fenomena-fenomena sosial-kemasyarakatan dalam upayanya me-<em>landing</em>-kan pesan, kesan, tuntutan dan tuntunan Al-Qur&#8217;an. Upaya demikian tak lepas dari tujuan sang mufasir untuk menjadikan Al-Qur&#8217;an benar-benar sebagai <em>sumber petunjuk</em> dan pedoman hidup setiap Muslim dalam memerankan fungsi <em>khilafah-</em>nya di muka bumi ini.</h3>
<h3>Tafsir <em>Al-Azhar—</em>seperti diakui mufasirnya dalam <em>Haluan Tafsir—</em>memanglah dirancang seperti itu. Yaitu bagaimana tafsir ini dapat menjadi obor penerang bagi sebanyak mungkin masyarakat Muslim dengan berbagai latar belakang pendidikan, jenis profesi dan beragam status sosial lainnya. Paling kurang, itu nampak dalam pernyataan mufasir berikut:</h3>
<h3>“Ketika menyusun (tafsir) ini terbayanglah oleh penafsirnya corak ragam dari murid-murid dan anggota jamaah yang ma’mum di belakangnya sebagai imam. Ada mahasiswa-mahasiswa yang tengah tekun berstudi dan terdidik dalam keluarga Islam. Ada sarjana-sarjana yang bertitel SH, Insinyur, Dokter dan Profesor. Ada pula perwira-perwira tinggi yang berpangkat jenderal dan laksamana dan ada juga anak buah mereka yang masih berpangkat letnan, kapten, mayor dan para bawahan. Dan ada pula saudagar-sudagar besar, agen automobil dengan relasinya yang luas, importir dan exportir kawakan di samping saudagar perantara. Dan ada juga pelayan-pelayan dan tukang tukang pemelihara kebun dan pegawai negeri, di samping isteri mereka masing-masing. Semuanya bersatu membentuk masyarakat yang beriman, dipadukan oleh jamaah subuh, kasih-mengasihi dan harga menghargai. Bersatu di dalam <em>shaf </em>yang teratur, menghadapkan muka bersama, dengan khusyu’ kepada Ilahi.”<a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftn35">[35]</a></h3>
<h3>Hingga titik ini, tidak keliru rupanya jika kita katakan bahwa <em>Tafsir Al-Azhar </em>bercorak <em>hida`î. </em>Ke-<em>hida`î-</em>an <em>Al-Azhar</em> juga nampak pada tipe paparan tafsir yang disuguhkan. Ia tidak terpancing memunculkan perselisihan pendapat (fikih dan teologi) yang memang tidak menyuntuh inti tafsir. Ia juga menghindar dari kajian kebahasaan, <em>qira’at </em>dan <em>tetek bengek </em>non-tafsir lainnya. Kajian-kajian semacam itu memang dalam banyak hal sering cukup ‘mengaburkan’ tujuan semula pembaca tafsir—terlebih jika ia orang non-Arab—yaitu mencari butiran-butiran hikmah dan hidayah Al-Qur&#8217;an.</h3>
<h3> </h3>
<h3>Penutup</h3>
<h3>Tafsir Al-Azhar adalah salah satu tafsir buah tangan salah satu putra terbaik bumi pertiwi. Mufasirnya, Prof Dr Hamka, telah membuktikan betapa seorang Muslim non-Arab pun mampu menghasilkan sebuah karya tafsir yang cukup membanggakan, sekurangnya bagi kaum cerdik-cendekia Muslim Indonesia.</h3>
<h3>Penulis makalah ini menyerahkan sepenuhnya kepada Anda, pembaca tafsir <em>Al-Azhar</em>, untuk menilai <em>plus-minus </em>yang terkandung dalam tafsir tersebut. Penulis hanya mengatakan bahwa apa pun kesan Anda tentang tafsir <em>Al-Azhar</em>, ia harus diakui sebagai “maha karya” Hamka yang patut dipuji. Dan yang lebih penting tentu bukan sekadar memuji, tapi mengelaborasikan pesan-pesan Qur’ani yang disampaikannya dalam tata kehidupan keseharian kita sebagai Muslim yang mengaku diri menjadikan Al-Qur&#8217;an sebagai pedoman hidup. Bagi para pengkaji tafsir, kekaguman terhadap Hamka dan tafsirnya tentu harus menjadi pemicu untuk menghasilkan karya serupa. Kalaupun tidak sanggup secara sendiri-sendiri, kerja kolektif pun akan sangat berarti dan cukup menggembirakan. <em>Wallâhu A’lam…</em></h3>
<h3><span style="text-decoration:underline;"> </span></h3>
<h3><span style="text-decoration:underline;">Bahan Bacaan</span></h3>
<p> </p>
<p>Ensiklopedi Tematis Dunia Islam [ed. Taufik Abdullah], Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve cet. I, vol. IV.</p>
<p> </p>
<p>Ensikopedi Indonesia, Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve, cet. I, 1990, vol. II.</p>
<p> </p>
<p>Federspiel, Howard M., <em>Popular Indonesian Literature of the Al-Qur&#8217;an (</em>terj. Dr. Tajul Arifin, MA, <em>Kajian Al-Qur&#8217;an di Indonesia)</em>, Bandung: Mizan, cet. I, 1996.</p>
<p> </p>
<p>Hamka, Prof. Dr., <em>Tafsir Al-Azhar</em>, Jakarta: Penerbit Pustaka  Panjimas, cet. I 1982, juz I.</p>
<p> </p>
<p>Ma’lûf, Louis, <em>Al-Mujid fî al-Lughah wa al-A’lâm, </em>Beirut: Dâr al-Masyriq, cet. XXXVII, tt. <em></em></p>
<p> </p>
<p>Al-Marâghî, Ahmad Mushtafâ, <em>Tafsîr al-Marâghî, </em>Kairo: Syirkah wa Mathba’ah Mushtafâ al-Bâbî al-Halabî, cet. IV, 1969, vol. I.<em> </em> </p>
<p> </p>
<p>Ridhâ, Muhammad Rasyîd, <em>Tafsîr Al-Manâr, </em>Beirut: Dâr al-Ma’rifah li al-Thibâ’ah wa al-Nasyr, cet. II, tt, vol. I.</p>
<p> </p>
<p>Shihab, M. Quraish, <em>Tafsir al-Mishbâ<span style="text-decoration:underline;">h</span>, </em>Jakarta: Lentera Hati, cet. I 2000, vol. I.
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftnref1">[1]</a>Ensikopedi Indonesia, Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve, cet. I 1990, vol. II h. 1217.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftnref2">[2]</a><em>Ibid, </em>h. 1218</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftnref3">[3]</a>Lihat “Kata Pengantar Penulis” dalam <em>Tafsir Al-Azhar</em>, Jakarta: Penerbit Pustaka  Panjimas, cet. I 1982, juz` I, h. 1.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftnref4">[4]</a><em>Ibid, </em>h. 3-4.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftnref5">[5]</a>Lihat “Haluan Tafsir” dalam <em>Mukaddimah Tafsir Al-Azhar, Op Cit, </em>h. 40.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftnref6">[6]</a><em>Ibid, </em>h. 41.<em> </em></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftnref7">[7]</a>Lihat <em>Ibid</em>.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftnref8">[8]</a><em>Ibid</em>. h. 42. Di berbagai penafsiran ayatnya menyangkut ajaran keesaan Tuhan (Tauhid), Hamka tidak sekadar menjelaskan ayat, tetapi juga banyak mengecam praktek ziarah kubur, kepercayaan kepada keris, dan adat kebiasaan lain dalam masyarakat Indonesia (lihat Ensiklopedi Tematis Dunia Islam [ed. Taufik Abdullah], Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve cet. I, vol. IV, h. 55).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftnref9">[9]</a>“Haluan Tafsir”, <em>Mukaddimah Tafsir Al-Azhar, </em>h. 42. Dalam penelitian Howard M. Federspiel, <em>Tafsir Al-Azhar</em> termasuk tafsir yang mewakili tafsir-tafsir generasi ketiga. Tafsir-tafsir generasi ini bertujuan untuk memahami kandungan Al-Qur&#8217;an secara komprehensif dan, oleh karena itu berisi materi tentang teks dan metodologi dalam menganalisis tafsir. Tafsir-tafsir ini menekankan ajaran-ajaran Al-Qur&#8217;an dan konteksnya dalam bidang keislaman (lihat Howard M. Federspiel, <em>Popular Indonesian Literature of the Al-Qur&#8217;an </em>[terj. Dr. Tajul Arifin, MA, <em>Kajian Al-Qur'an di Indonesia</em>], Bandung: Mizan, cet. I, 1996, h. 137).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftnref10">[10]</a><em>Mukaddimah Tafsir Al-Azhar, </em>h. 48.   </p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftnref11">[11]</a><em>Tafsir Al-Azhar, </em>juz` I, h. 121-122. </p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftnref12">[12]</a><em>Ibid, </em>h. 122. Al-Maraghi berpendapat seperti itu. Menurutnya, <em>Alif Lâm Mîm </em>dan huruf-huruf pembuka surat lainnya merupakan huruf-huruf <em>li al-tanbih </em>(pemberitahuan atau panggilan) sama seperti <em>Alâ </em>dan <em>Yâ</em>. Di sini tujuannya untuk membangkitkan perhatian <em>mukhâthâb </em>kepada Al-Qur&#8217;an, menunjukkan kemukjizatannya dan menampakkan <em>hujjah-</em>nya<em> </em>atas Ahli Kitab serta lainnya yang terkandung dalam surat al-Baqarah (lihat <em>Tafsîr al-Marâghî,</em> Kairo: Mathba’ah al-Bâbî al-Halabî, cet. IV, 1969, vol. I h. 39).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftnref13">[13]</a><em>Tafsir Al-Azhar, Loc Cit. </em></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftnref14">[14]</a>Pakar tafsir Indonesia pasca Hamka, M. Quraish Shihab, juga mengambil sikap seperti itu. Ia menulis: “Tampaknya jawaban: <em>‘Allah A’lam, </em>yakni Allah lebih mengetahui, masih merupakan jawaban yang relevan hingga kini, kendati tidak memuaskan nalar manusia (lihat M. Quraish Shihab, <em>Tafsir al-Mishbah, </em>Jakarta: Lentera Hati, cet. I 2000, vol. I, h. 84). Rasyid Ridha, meski sepakat dengan Muhammad ‘Abduh yang menyerahkan makna dan rahasia di balik huruf-huruf itu kepada Allah, ia menuangkan juga pendapat mufasir-mufasir lain yang mencoba menguak rahasia di balik huruf-huruf itu (lihat <em>Tafsir al-Manâr, </em>Beirut: Dâr al-Ma’rifah, cet. II, tt, vol. I h. 122).    </p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftnref15">[15]</a><em>Tafsir Al-Azhar, </em>juz` I, h. 122.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftnref16">[16]</a>M. Quraish Shihab, <em>Tafsir Al-Mishbâ<span style="text-decoration:underline;">h</span>, Op Cit, </em>h. 85.  </p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftnref17">[17]</a><em>Tafsir Al-Azhar, </em>h. 123.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftnref18">[18]</a><em>Ibid, </em>h. 124-125.<strong> </strong>Jika pun pengambilan riwayat seperti itu tidak terkategorikan sebagai <em>manhaj, </em>bolehlah disebut sebagai pendekatan. Tapi penulis sendiri lebih suka menamainya sebagai <em>manhaj.</em></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftnref19">[19]</a><em>Tafsir Al-Azhar, </em>h. 117.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftnref20">[20]</a>M. Quraish Shihab, <em>Tafsir Al-Mishbâ<span style="text-decoration:underline;">h</span>, Op Cit, </em>h. 81. Kelanjutan keterangan Quraish di atas adalah: “Ada seseorang yang terbunuh dan tidak diketahui siapa pembunuhnya. Masyarakat Bani Israil saling mencurigai bahkan tuduh-menuduh tentang pelaku pembunuhan tanpa ada bukti, sehingga mereka tidak memperoleh kepastian. Menghadapi hal tersebut mereka menoleh kepada Nabi Musa as. meminta beliau berdoa agar Allah menunjukkan siapa pembunuhnya. Maka Allah memerintahkan mereka menyembelih seekor sapi. Dari sini dimulai kisah <em>l-Baqarah. </em>Akhir dari kisah itu adalah, mereka menyembelihnya—setelah dialog tentang sapi berkepanjangan—dan dengan memukulkan bagian sapi itu kepada mayat yang terbunuh, maka atas kudrat Allah korban hidup kembali dan menyampaikan siapa pembunuhnya” (lihat <em>Ibid, </em>h. 81-82). </p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftnref21">[21]</a>Lihat <em>Tafsir al-Manâr, </em>Beirut: Dâr al-Ma’rifah, cet. II, tt, vol. I h. 122 dan <em>Tafsîr al-Marâghî, </em>Kairo: Syirkah wa Mathba’ah Mushtafâ al-Bâbî al-Halabî, cet. IV, 1969, vol. I, h. 39.  </p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftnref22">[22]</a>Lihat <em>Tafsir Al-Mishbah, </em>h. 83-88.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftnref23">[23]</a>Untuk lebih jelasnya lihat <em>Ibid, </em>h. 117. Bandingkan misalnya dengan <em>Tafsir Al-Mishbah</em> yang secara tepat meletakkan pendahuluan sebelum betul-betul menampilkan ayat-ayat dalam surat yang akan ditafsir (lihat <em>Tafsir Al-Mishbâh, </em>h. 81-82). </p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftnref24">[24]</a>Lihat <em>Tafsir Al-Azhar, </em>h. 120-128.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftnref25">[25]</a>Lihat <em>Ibid, </em>h. 128.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftnref26">[26]</a>Lihat <em>Ibid, </em>h. 129.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftnref27">[27]</a>Lihat misalnya <em>Ibid, </em>h. 123-125.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftnref28">[28]</a>Lihat <em>Ibid, </em>h. 124.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftnref29">[29]</a>Lihat “Haluan Tafsir” dalam <em>Mukaddimah Tafsir Al-Azhar, </em>h. 40-41.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftnref30">[30]</a>Bandingkan misalnya dengan tafsir <em>Al-Manâr </em>dan <em>Al-Marâghî </em>yang kerap kali menyebut <em>“Qâla al-Ustâdz al-Imâm”</em> untuk menunjukkan bahwa mereka menukil pendapat Syaikh Muhammad ‘Abduh, atau tafsir <em>Al-Mishbâh</em> yang acap kali menyebut nama seperti al-Thabâthabâ`î, al-Biqâ`î, Al-Syarâ’wî, Murtadha Muthahhari atau Sayyid Quthub. </p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftnref31">[31]</a>Lihat “Haluan Tafsir” dalam <em>Mukaddimah Tafsir Al-Azhar, </em>h. 41.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftnref32">[32]</a><em>Tafsir Al-Azhar, </em>h. 122.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftnref33">[33]</a><em>Ibid, </em>h. 127.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftnref34">[34]</a><em>Ibid</em>, h. 123.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="/DATA_ABAH/Tulisan%20Jurnal/TAFSIR%20AL-AZHAR%20(sdh%20diterbitkan%20jurnal%20Kontemplasi).rtf#_ftnref35">[35]</a>Lihat “Haluan Tafsir” dalam <em>Tafsir Al-Azhar, </em>h. 41-42.<em> </em></p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abualitya.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abualitya.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abualitya.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abualitya.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abualitya.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abualitya.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abualitya.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abualitya.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abualitya.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abualitya.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abualitya.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abualitya.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abualitya.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abualitya.wordpress.com/244/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&amp;blog=3401246&amp;post=244&amp;subd=abualitya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abualitya.wordpress.com/2011/12/30/studi-analisis-atas-tafsir-al-azhar-karya-prof-dr-hamka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/af2bf86b31ef30cccc6bf9168f250ae4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tata Tertib Kerja PT. Kadang Sukses (Dicomot dari duniadownload.com)</title>
		<link>http://abualitya.wordpress.com/2011/10/15/tata-tertib-kerja-pt-kadang-sukses/</link>
		<comments>http://abualitya.wordpress.com/2011/10/15/tata-tertib-kerja-pt-kadang-sukses/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Oct 2011 08:44:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abad Badruzaman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Guyon Sunda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abualitya.wordpress.com/?p=232</guid>
		<description><![CDATA[Pakaian Kerja Anda disarankan berpakaian sesuai gaji yang anda terima. Bila kami melihat anda berpakaian mewah, membawa tas Aigner, atau sepatu gucci, maka kami anggap anda hidup berkecukupan dengan gaji anda dan karenanya tidak akan ada kenaikan gaji sampai anda terlihat melarat lagi. Ijin Sakit. Kami tidak menerima lagi surat keterangan sakit dari dokter sebagai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&amp;blog=3401246&amp;post=232&amp;subd=abualitya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<pre>Pakaian Kerja
Anda disarankan berpakaian sesuai gaji yang anda terima.
Bila kami melihat anda berpakaian mewah, membawa tas Aigner, atau sepatu gucci,
maka kami anggap anda hidup berkecukupan dengan gaji anda dan karenanya tidak akan
ada kenaikan gaji sampai anda terlihat melarat lagi.</pre>
<p><span id="more-232"></span></p>
<pre>Ijin Sakit.
Kami tidak menerima lagi surat keterangan sakit dari dokter sebagai bukti bahwa anda
sakit. Kalau anda mampu mengunjungi dokter, kami nilai anda juga mampu bekerja.
Tindakan Operasi
Tindakan operasi sekarang dilarang!.
Selama anda menjadi kayawan disini, anda harus tetap memiliki seluruh organ tubuh
anda, jangan sampai ada organ tubuh anda yang diambil dalam tindakan operasi.
Dulu kami merekrut anda dengan organ-organ tubuh yang lengkap. Mengurangi jumlah
organ tubuh kami nilai sebagai pelanggaran perjanjian kerja.
Hari Bebas
Semua karyawan berhak mendapatkan 104 hari bebas kerja setiap tahunnya, yaitu pada
hari sabtu dan minggu!
Hak Cuti
Semua karyawan diberikan masa cuti pada waktu yang bersamaan setiap tahunnya
sebagai berikut: 1 januari
Hak Cuti Berduka/Keluarga Meninggal
Ini bukan alasan untuk cuti!.
Anda tidak dapat berbuat apa2 bila sahabat, rekan-kerja, tetangga atau famili anda
meninggal.
Anda harus mengatur orang lain yang non-karyawan untuk melayat.
Dalam kasus khusus dimana karyawan tetap harus terlibat, upacara penguburan harus
dijadwalkan sore hari.
Kami mengijinkan anda bekerja pada jam istirahat siang dan anda boleh meninggalkan
pekerjaan satu jam lebih awal, bila pekerjaan anda telah selesai.
Pengecualian :
Peraturan diatas tidak berlaku bila yang meninggal adalah karyawan ybs sendiri.
Akan tetapi harus dengan pemberitahuan 2 minggu sebelumnya karena anda harus mentrain
karyawan pengganti anda.
Penggunaan WC Kantor
Terlampau banyak waktu dibuang di WC!.
Mulai saat ini, kami akan mengatur jadwal ke WC bagi karyawan sesuai urutan alfabet
nama.
Sebagai contoh: Karyawan dengan awal nama "A" boleh ke WC jam 8.00 sampai jam
8.20. Karyawan dengan awal nama "B" dari jam 8.20 sampai 8.40, dst..,dst...
Bila anda tidak sempat ke WC dalam jadwal tersebut, anda harus menunggu sampai
keesokan harinya.
Dalam kasus emergency, karyawan boleh menukar jadwal WC dengan karyawan lain.
Supervisor dari kedua karyawan tersebut harus memberi ijin tertulis sebelumnya.
Jam Makan Siang
Karyawan yang kurus mendapatkan istirahat makan selama satu jam, karena mereka
perlu makan lebih banyak supaya kelihatan sehat.
Karyawan yang berukuran "normal" mendapat jam istirahat makan siang selama 30 menit
agar mendapatkan pola makan yang tidak berlebihan untuk mempertahankan bentuk
tubuhny.
Karyawan yang gendut, mendapat waktu istirahat 5 menit, karena mereka cuma butuh
minum VEGETTA dan pil diet.
Terima kasih atas kesetiaan anda pada perusahaan.
Kami adalah perusahaan yang sangat peduli dengan sikap positif dan keseimbangan
karyawan</pre>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abualitya.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abualitya.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abualitya.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abualitya.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abualitya.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abualitya.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abualitya.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abualitya.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abualitya.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abualitya.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abualitya.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abualitya.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abualitya.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abualitya.wordpress.com/232/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&amp;blog=3401246&amp;post=232&amp;subd=abualitya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abualitya.wordpress.com/2011/10/15/tata-tertib-kerja-pt-kadang-sukses/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/af2bf86b31ef30cccc6bf9168f250ae4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Shalat Kita</title>
		<link>http://abualitya.wordpress.com/2011/09/28/tentang-shalat-kita/</link>
		<comments>http://abualitya.wordpress.com/2011/09/28/tentang-shalat-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Sep 2011 07:20:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abad Badruzaman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulas-tulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abualitya.wordpress.com/?p=230</guid>
		<description><![CDATA[Coba ingat-ingat kembali, sejak kapan Anda belajar shalat? Mungkin banyak dari kita tidak lagi ingat pada usia berapa persisnya mulai belajar shalat. Tapi hampir bisa dipastikan, rata-rata dari kita belajar shalat sejak usia anak-anak. Mungkin sejak usia 7, 8, 9, 10 atau bahkan mungkin cukup terlambat hingga 15. Hingga sekarang, di usia kita masing-masing, entah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&amp;blog=3401246&amp;post=230&amp;subd=abualitya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Coba ingat-ingat kembali, sejak kapan Anda belajar shalat? Mungkin banyak dari kita tidak lagi ingat pada usia berapa persisnya mulai belajar shalat. Tapi hampir bisa dipastikan, rata-rata dari kita belajar shalat sejak usia anak-anak. Mungkin sejak usia 7, 8, 9, 10 atau bahkan mungkin cukup terlambat hingga 15. Hingga sekarang, di usia kita masing-masing, entah sudah berapa rakaat shalat kita tunaikan, baik yang fardu maupun yang sunnah; entah sudah berapa ribu liter air kita habiskan untuk berwudhu; entahlah!<span id="more-230"></span></p>
<p>Yang jelas, yang menempel pada benak kita, rajin shalat dan rajin mengaji sering menjadi ukuran kesalehan seorang anak. Kurang-lebih seperti dalam lagu <em>Si Doel Anak Sekolahan</em>. Begitu pentingnya shalat di mata banyak orangtua bagi anak-anak mereka. Bagi sebagian, tidak terlalu menjadi soal jika anak-anak mereka tidak termasuk berprestasi di sekolahnya. Tapi mereka akan cukup terpukul jika anak-anak mereka tidak mau shalat dan enggan mengaji. Memang, dalam mendidik putra-putri, sedemikian pentingnya mengajarkan shalat, sehingga Rasulullah Saw. bersabda:</p>
<p dir="RTL">مُرُوا أوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أبْنَاءُ سَبْعِ سِنينَ ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أبْنَاءُ عَشْرٍ<strong> </strong></p>
<p>Suruhlah anak-anak kalian shalat saat mereka usia tujuh tahun, dan pukullah mereka (jika mereka enggan shalat) saat mereka usia sepuluh tahun (HR A<span style="text-decoration:underline;">h</span>mad, Ibn Abî Syaybah, Abû Dâwud, al-<span style="text-decoration:underline;">H</span>âkim, dan al-Bayhaqî).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bukan tempatnya di sini untuk menerangkan berapa jumlah pukulan orangtua terhadap anaknya yang di usia sepeluh tahun belum mau mengerjakan shalat; seperti apa pukulan itu; dengan apa mereka memukul; dan segala hal yang mungkin terkait dengan soal ini. Di sini cukup dikatakan bahwa dilibatkannya “pukulan” dalam mengajarkan shalat menandakan betapa pentingnya shalat dalam mendidik anak-anak kita.</p>
<p>Kekuatiran para orangtua terhadap anak-anak mereka yang enggan shalat merupakan sikap yang benar. Hanya saja satu hal perlu dicatat, yaitu bahwa mengajarkan shalat harus berlanjut hingga tahap memahamkan anak tentang makna-makna moral dan sosial yang dikandung oleh shalat; tidak hanya mengajarkan praktek shalat lalu menyuruh mengerjakannya secara tertib tanpa pemantauan yang ketat terhadap perilaku anak di luar shalat. Pembiasaan shalat atas anak oleh orangtua adalah baik adanya. Tapi setelah itu ada hal penting yang juga harus diperhatikan orangtua, yaitu pengejawantahan nilai-nilai shalat oleh anak para tataran perilaku mereka.</p>
<p>Namun jika kita melongok pendidikan formal, kita akan mendapati bahwa mata pelajaran keagamaan, termasuk di dalamnya pelajaran shalat, sering berhenti di tingkat pengajaran murni; guru mengajarkan, murid paham dan bisa mempraktekkan demi kepentingan test, selesai perkara. Padahal, di lain pihak, para orangtua telah mempercayakan pendidikan anak-anak mereka pada lembaga pendidikan formal. Maka anak-anak kita pun berada di antara dua institusi yang sama-sama tidak tuntas dalam mendidik mereka; sekolah formal yang hanya mengandalkan aspek kognitif, dan rumah (keluarga) yang terlalu mempercayakan pendidikan anak pada sekolah formal. Sementara itu komunikasi antara kedunya tidak pernah terbangun. Rupanya inilah salah satu borok di wajah pendidikan kita. Semoga ke depan semakin banyak rumah dan sekolah yang menyadari adanya borok ini.</p>
<p>Kesadaran akan hal itu harus muncul sesegera mungkin. Terlebih di negeri ini yang mayoritas penduduknya menunjuk shalat sebagai rukun kedua agama mereka. Lebih jelas, kesadaran yang harus kita bangun adalah kesadaran tentang pentingnya keutuhan dalam pribadi setiap Muslim. Kesadaran inilah yang dikandung dan dipesankan oleh ayat 3 Surat al-Baqarah. Berdasar urutan ayat dan surat dalam <em>mush<span style="text-decoration:underline;">h</span>af</em>, ayat ini merupakan ayat pertama yang menyebut shalat:</p>
<p dir="RTL">الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ</p>
<p><em>(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka</em> (QS al-Baqarah/2: 3).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ayat ini sedang berbicara tentang ciri-ciri orang yang bertakwa (<em>muttaqîn</em>). Berdasar ayat ini, ciri pertama mereka adalah memiliki kesatuan atau keutuhan kesadaran yang aktif-positif (<em>al-wa<span style="text-decoration:underline;">h</span>dah al-syu’ûriyah al-îjâbiyah al-fa’âlah</em>). Sebuah keutuhan yang tumbuh dalam jiwa mereka, yang terpadu di dalamnya iman kepada yang ghaib, ketaatan menjalankan berbagai kewajiban, iman kepada seluruh utusan Tuhan, serta keyakinan akan adanya kehidupan akhirat. Keutuhan dan keterpaduan inilah yang seharusnya dimiliki oleh setiap pribadi Muslim; keterpaduan antara akidah-imaniah dengan amal-praksis, antara keyakinan-keyakinan teologis dengan karya-karya nyata di ranah kehidupan.</p>
<p>Shalat merupakan pembuktian nyata orang-orang bertakwa bahwa mereka hanya mengabbdikan diri kepada Allah. Shalat merupakan pernyataan tegas bahwa mereka benar-benar membebaskan diri dari penyembahan kepada apa pun selain-Nya. Dengan shalat mereka pasrah total pada Kekuatan tak berbatas; mereka sujud tanda tunduk-pasrah pada Yang serba-maha, bukan pada hamba yang serba tak terbatas.</p>
<p>Ayat di atas, setelah menyebut shalat, segera menyebut infak. Antara keduanya merupakan satu-kesatuan bagai dua sisi mata uang. Tidak boleh berhenti pada shalat sementara pengejawantahan nilai-nilainya, antara lain infak, tidak ditunaikan. Inilah salah satu implikasi dari kesadaran akan keutuhan yang disinggung di atas. Alih-alih sebagai terminal akhir, shalat seharusnya menjadi <em>starting point</em> bagi pengabdian-pengabdian lainnya di ranah sosial. Dalam hal ini, infak pada ayat di atas menyimbolkan pengabdian (kesalehan) sosial tersebut.</p>
<p>Ayat di atas mengajarkan mereka yang baru saja menunaikan shalat untuk mengakui bahwa harta yang ada di tangan mereka adalah rezki dari Allah, bukan bikinan mereka sendiri. Dari kesadaran dan pengakuan ini tumbuh keringanan hati untuk berbagi dengan sesama dari kalangan lemah; tumbuh kelapangan jiwa untuk menjalin solidaritas dengan hamba-hamba-Nya yang kurang beruntung; terbit kesadaran akan ketunggalan asal dan persaudaraan manusia.</p>
<p>Hikmah tertinggi dari kewajiban infak adalah mensucikan jiwa dari sifat kikir serta menghiasinya dengan sifat pemurah. Hikmah mulia lainnya adalah menjadikan hidup sebagai wahana kerjasama dan tolong-menolong, bukan arena permusuhan dan peperangan. Infak memberi harapan pada si lemah, si tidak mampu, dan si serba terbatas bahwa mereka memiliki banyak saudara yang siap melindungi mereka. Infak memberi mereka perasaan bahwa mereka hidup di antara hati hati yang bening, wajah wajah nan ramah dan jiwa jiwa yang lapang, bukan di antara kuku kuku yang mencengkeram, taring taring dan paruh paruh yang menerkam. Infak mencakup zakat, sedekah dan apa pun yang dibelanjakan di jalan kebajikan. Infak diwajibkan sebelum zakat. Infak merupakan pangkal yang mencakup zakat, tapi zakat tidak mencakup infak. Dalam sebuah hadits Nabi Saw. bersabda:</p>
<p dir="RTL">إِنَّ فِي الْمَالِ حَقًّا سِوَى الزَّكَاةِ</p>
<p>Sesunguhnya dalam harta ada hak selain zakat (HR al-Tirmidzî).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bahwa shalat merupakan satu-kesatuan dengan kesalehan-kesalehan sosial seperti infak, zakat, sedekah dan pengabdian-pengabdian horisontal lainnya dapat dibaca pada banyak sekali ayat yang mengintrodusir shalat dengan berbagai penekanannya. QS al-Baqarah/2: 43, 83, 110, 177; al-Nisâ`/4: 77, 162; al-Tawbah/9: 71 memerintah mengeluarkan zakat segera setelah menyuruh mendirikan shalat. Surat yang sama ayat 277 menyebutkan bahwa orang-orang yang akan mendapat pahala dari Tuhan, tidak merasa khawatir dan tidak bersedih hati adalah mereka yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat.</p>
<p>Hingga di sini, menarik untuk mencermati lebih lanjut QS Hûd/11: 87. Ayat ini menunjukkan hubungan yang tidak terpisahkan antara ketaatan ritual dengan kesalehan sosial. Ini terlihat dari penolakan kaum Syu’ayb ketika beliau menyuruh mereka menghentikan kebiasaan mempermainkan timbangan. Mereka berkata:</p>
<p dir="RTL">يَاشُعَيْبُ أَصَلَاتُكَ تَأْمُرُكَ أَنْ نَتْرُكَ مَا يَعْبُدُ ءَابَاؤُنَا أَوْ أَنْ نَفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاءُ إِنَّكَ لَأَنْتَ الْحَلِيمُ الرَّشِيد</p>
<p><em>“Hai Syu&#8217;aib, apakah sembahyangmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami? Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal </em>(QS Hûd/11: 87).”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mereka, seperti kata al-Thabarî, hendak mengatakan: “Ini adalah harta kami. Kami berhak melakukan apa saja yang kami inginkan terhadap harta ini. Kami bisa mengambil sebagiannya, atau mengolahnya, atau bahkan membuangnya.” Syu’ayb menolak pola pikir egois mereka. Benar bahwa harta itu harta milik mereka. Tetapi dari sudut pandang sosial, mereka tidak memiliki hak untuk mempermainkan timbangan dan takarannya. Sebab itu merugikan harta milik orang lain. Dalam ungkapan lain, pengakuan atas kepemilikan pribadi tidak berarti setiap orang mempunyai kebebasan mutlak. Yang ada adalah kebebasan yang dibatasi oleh kemaslahatan umum.</p>
<p>Di antara kaum Nabi Syu’ayb, orang-orang yang melakukan hal ini, yakni mempermainkan harta milik pribadi seenaknya sehingga merugikan orang lain, adalah para pembesar, orang-orang kaya, dan para pejabat yang tidak punya tujuan hidup selain mengumpul harta dengan cara apa saja. Mereka tidak pernah segan mengorbankan kepentingan umum demi kepentingan pribadi. Sementara itu Syu’ayb berjuang mewujudkan kemaslahatan dan kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat.</p>
<p>Inilah sejatinya yang diperjuangkan Syu’ayb ketika ia menyeru mereka;</p>
<p dir="RTL">وَلَا تَقْعُدُوا بِكُلِّ صِرَاطٍ تُوعِدُونَ وَتَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ مَنْ ءَامَنَ بِهِ وَتَبْغُونَهَا عِوَجًا</p>
<p><em>Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok </em>(QS al-A’râf/7: 86).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam konteks sosial, term <em>sabîlillâh</em> (jalan Allah) pada ayat ini dapat dimaknai secara luas. Jalan Allah adalah jalan kebenaran, kejujuran, keadilan, kerja sama, kasih sayang dan solidaritas.</p>
<p>Seperti biasa, yang menolak ajaran yang diserukan Syu’ayb adalah mereka yang disebut al-Qur`an sebagai <em>al-malâ`</em>; kaum elite, para pembesar, kalangan terkemuka, mereka yang punya kuasa dan harta. Mereka menentang Nabi Syu’ayb bukan hanya karena ia menyerukan menyembah Allah, tetapi terutama karena ia memerintahkan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan tuntutan iman kepada Allah seperti mengurangi takaran dan timbangan serta kegiatan ekonomi lainnya yang merugikan orang lain. Ajaran sosial yang dibawa Syu’ayb mengancam kepentingan pribadi mereka. Maka berbagai cara mereka gunakan untuk melawan Syu’ayb dan memberantas ajarannya.</p>
<p>Satu-kesatuan atau kemanunggalan antara shalat dan kesalehan-kesalehan di ranah sosial, seperti yang sudah disebutkan berulang-kali, juga terbaca pada QS Luqmân/31: 17. Setelah memerintahkan shalat, ayat ini segera menyuruh melakukan amar makruf nahyi munkar. Terlihat pula pada QS Luqmân/31: 17.<strong> </strong>Ayat ini memuji orang-orang yang bersegera memenuhi seruan Tuhannya, mendirikan shalat, mengedepankan musyawarah dalam mengambil keputusan, serta menginfakkan sebagian rezkinya. Demikian halnya<strong> </strong>QS al-Jumu’ah/62: 10. Segera setelah menyebut shalat, ayat ini memerintahkan bertebaran di bumi dan mencari karunia-Nya.</p>
<p>Kemanunggalan atau keutuhan antara shalat dan kesalehan-kesalehan sosial sangat kentara pada QS al-Mâ’ûn/107: 1-7. Surat ini sejak awal menegaskan bahwa orang yang mendustakan agama adalah orang yang tidak memiliki kepedulian sosial. Yaitu orang yang, antara lain, suka menghardik anak-anak yatim—alih-alih menyantuni mereka, dan tidak menganjurkan untuk memberi makan ke orang-orang miskin—alih-alih menolong serta memberdayakan mereka. Setelah menunjukkan siapa sesungguhnya pendusta agama, surat ini kemudian menyebutkan bahwa ternyata orang-orang yang mengerjakan shalat tidak semuanya selamat. Ada di antara mereka yang justru celaka. Yaitu mereka yang shalatnya lalai, asal-asalan; asal terpenuhi syarat-rukunnya secara formal, riya; melakukan amal perbuatan tidak untuk mencari ridha Allah melainkan guna mendapat pujian atau  popularitas dari masyarakat, dan enggan menolong sesama yang hidup berkekurangan serta memerlukan uluran tangan saudara-saudara mereka yang berkecukupan.</p>
<p>Surat al-Mâ’ûn memberi pelajaran bahwa ukuran kesalehan seseorang dalam beragama terletak pada sejauh mana ia peduli terhadap nasib sesamanya; sejauh mana ia peduli terhadap nasib anak-anak yatim, sejauh mana ia <em>care</em> terhadap nasib kaum tak berpunya. Selama kepedulian-kepedulian sosial tidak menghiasi keberagamaan seseorang, betapa pun giatnya orang itu menjalankan kewajiban agama yang bersifat ritualistik-formalistik, al-Qur`an—lewat surat al-Mâ’ûn—tidak menyebutnya sebagai pengamal sejati agama, justru sebaliknya; pendusta agama.</p>
<p>Surat al-Mâ’ûn mengguratkan bahwa shalat formalistik yang ditunaikan hanya untuk mengundang pujian orang; shalat yang tidak melahirkan keringanan hati untuk menolong sesama yang dililit kesusahan, didera kemiskinan dan dihimpit persoalan ekonomi; shalat yang demikian adalah shalat yang tidak menyelematkan pelakunya. Surat al-Mâ’ûn memberi ketegasan bahwa shalat, seperti pernah dikatakan, harus menjadi <em>starting point</em> (titik-awal) bagi setiap Muslim untuk melakukan pengabdian-pengabdian sosial di ranah kehidupan dengan segala dimensi dan problematikanya.</p>
<p>Namun dalam kenyataan, hal sebaliknya yang kerap kita temukan. Alih-alih menjadi titik-awal bagi berbagai pengabdian (kesalehan) sosial, shalat (dan ketaatan-ketaatan ritual lainnya) lebih sering menjadi ajang pemutihan bagi segala bentuk dosa sosial. Anggapan bahwa shalat (dan ketaatan-ketaatan ritual lainnya) berfungsi sebagai pemutih inilah yang kemudian melahirkan istilah STMJ; <em>Shalat Terus, Maksiat Jalan</em>. Kerap kita temukan berbagai keganjilan dalam perilaku keberagamaan. Di satu sisi masjid ramai dengan pengunjung, namun di saat sama tempat-tempat maksiat juga tidak pernah sepi peminat. Di satu pihak orang berduyun-duyun pergi ke Tanah Suci untuk menunaikan haji dan umrah, tapi di pihak lain sentra-sentra kemaksiatan juga tidak pernah surut pengunjung. Di satu sisi majelis-majelis taklim terus digalakkan, namun di saat berbarengan pusat-pusat kegiatan asusila tidak pernah kehilangan pelanggan.</p>
<p>Yang paling menyedihkan, pelaku yang sama kerap-kali melakukan dua tindakan yang bertolak belakang, yakni dosa sosial dan amal ritual, dengan dalih bahwa yang kedua dapat menghapus dosa yang pertama. Gambarannya seperti yang diceritakan dalam hadits berikut:</p>
<p dir="RTL">أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ</p>
<p>Tahukah kalian siapa yang disebut orang bangkrut? Mereka (para sahabat) berkata, “Orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki harta.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa (pahala) shalat, puasa, dan zakat. Akan tetapi ia datang sementara (sewaktu di dunia) ia menyakiti si A, menuduh si B, memakan harta si C, menumpahkan darah si D, memukul si E. Maka kemudian si A, B, C, D, dan E itu mendapat kebaikan-kebaikan (pahala) orang itu. Jika pahala orang itu sudah habis sebelum tanggungannya selesai, maka kejelekan-kejelekan mereka (si A, B, C, D, dan E) ditimpakan kepada orang itu lalu ia dilemparkan ke neraka (HR Muslim, al-Tirmidzî, dan A<span style="text-decoration:underline;">h</span>mad).</p>
<p>Hadits di atas menyentil orang-orang yang begitu getol menjalankan amal-amal ritual, namun di saat sama mereka begitu rajin melakukan tindakan yang menindas, memperkosa, menyakiti dan merugikan hak-hak orang lain. Mereka pikir dosa-dosa sosial itu serta-merta dapat dibersihkan dengan ketaatan-ketaatan ritual yang tidak pernah mereka tinggalkan.</p>
<p>Sambil mengulang sesuatu yang sudah amat jelas, ibadah-ibadah ritual tidak diperintahkan untuk ibadah ritual itu sendiri; shalat difardukan bukan untuk shalat itu sendiri, puasa diwajibkan bukan untuk puasa itu sendiri; zakat diperintahkan bukan untuk zakat itu sendiri. Artinya, setelah shalat dilaksanakan, setelah puasa dijalankan, dan setelah zakat ditunaikan, bukan berarti selesai semua urusan; tidak berarti aman dari segala tuntutan. Maka jangan <em>mentang-mentang </em>shalat sudah ditunaikan lalu dengan seenaknya tangan bisa diumbar untuk memukul (menindas), mulut dibiarkan untuk menyakiti, kaki dimanjakan untuk menendang (menganiaya), kekuasaan disalahgunakan untuk memperbudak, jabatan dieksploitir untuk memperkaya diri, kekayaan dialihfungsikan untuk memperkuda kaum tak berpunya, dan seterusnya.</p>
<p>Shalat, dengan demikian memiliki fungsi sebagai pengendali baik pada tingkat individu maupun sosial. Pada tingkat yang pertama, shalat merupakan olah-ruhani (<em>riyâdhah rû<span style="text-decoration:underline;">h</span>iyah</em>). Tanpa shalat, seorang Muslim hatinya sempit dan dadanya sumpek, meski raganya kenyang dan materinya berlimpah. Peradaban modern yang dibangun di atas materialisme telah menyediakan apa pun bagi kebutuhan jasadiah; kesenangan, perhiasan dan berbagai rupa sarana hiburan. Namun di luar itu peradaban modern telah melahirkan manusia-manusia yang sempit dadanya, terguncang jiwanya, rapuh mentalnya, tidak jelas orientasi hidupnya dan sederet gejala lainnya yang memerosotkan nilai-nilai insaniah. Jelasnya, peradaban modern telah memanjakan raga tapi menelantarkan jiwa.</p>
<p>Akibat dari lahirnya manusia-manusia yang hanya mengenyangkan raga tapi menelantarkan jiwa, berjangkitlah penyakit-penyakit kejiwaan seperti depresi dan disorientasi hidup. Angka bunuh diri, baik yang dilakukan sendiri-sendiri maupun berkelompok, pun meningkat. Yang tersisa hidup tanpa hati, tanpa tujuan dan hampa makna. Shalat hadir dan menjadikan hati si Muslim bening, jiwanya cerdas, ruhnya suci. Shalat membasuh dan menyembuhkan penyakit-penyakit kejiwaan.</p>
<p>Pada tingkat sosial, shalat mengendalikan seorang Muslim untuk selalu menjadi pribadi yang akrab, hangat, menjunjung tinggi kesetaraan, penuh kasih, jauh dari keangkuhan, kesombongan, menonjolkan diri, atau membanggakan diri. Jika ada orang yang rajin shalat, tapi egois, dingin, suka menonjolkan diri, tidak punya rasa belas-kasihan, angkuh, sombong, dan membanggakan diri, maka sejatinya nilai-nilai shalat belum meresap ke dalam hati dan jiwanya. Jika ada orang getol shalat, tapi tindak, ucap, sikap dan perilakunya selalu membuat sesamanya tidak nyaman, terganggu dan teraniaya, maka sesungguhnya substansi shalat belum mewarnai hidupnya. Jika ada orang rajin ke mushalla, surau atau masjid untuk shalat, tapi setelah itu berbagai kekejian dan kemungkaran diakrabinya, maka pesan-pesan shalat belum sampai ke pemahamannya. Pada sekup yang lebih luas, jika ada orang yang rajin shalat, pergi haji berkali-kali, umrah sudah terbiasa, tapi korupsi sudah menjadi hobi, merampas uang rakyat merupakan hal biasa, memanipulasi angka sudah bukan hal yang tabu, maka pesan-pesan moral shalat belum terpatri dalam diri dan nuraninya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abualitya.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abualitya.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abualitya.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abualitya.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abualitya.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abualitya.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abualitya.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abualitya.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abualitya.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abualitya.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abualitya.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abualitya.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abualitya.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abualitya.wordpress.com/230/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&amp;blog=3401246&amp;post=230&amp;subd=abualitya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abualitya.wordpress.com/2011/09/28/tentang-shalat-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/af2bf86b31ef30cccc6bf9168f250ae4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Puasa dalam QS al-Baqarah</title>
		<link>http://abualitya.wordpress.com/2011/08/23/puasa-dalam-qs-al-baqarah/</link>
		<comments>http://abualitya.wordpress.com/2011/08/23/puasa-dalam-qs-al-baqarah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Aug 2011 04:37:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abad Badruzaman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulas-tulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abualitya.wordpress.com/?p=223</guid>
		<description><![CDATA[QS al-Baqarah, 183: Ayat ini menyatakan, puasa bukan hanya diwajibkan atas orang-orang yang beriman (umat Islam) saja. Umat-umat terdahulu juga diwajibkan berpuasa. Baik atas umat ini maupun umat terdahulu, tujuan akhir dari puasa adalah melahirkan insan-insan yang bertakwa dalam arti sejati. Di antara point yang dapat diambil dari ayat ini: Pertama, puasa adalah ibadah universal; [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&amp;blog=3401246&amp;post=223&amp;subd=abualitya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>QS al-Baqarah, 183:</p>
<p dir="RTL">Ayat ini menyatakan, puasa bukan hanya diwajibkan atas orang-orang yang beriman (umat Islam) saja. Umat-umat terdahulu juga diwajibkan berpuasa. Baik atas umat ini maupun umat terdahulu, tujuan akhir dari puasa adalah melahirkan insan-insan yang bertakwa dalam arti sejati. Di antara point yang dapat diambil dari ayat ini: <em>Pertama</em>, puasa adalah ibadah universal; lintas waktu, tempat dan umat. <span id="more-223"></span><em>Kedua</em>, puasa diwajibkan bukan untuk puasa itu sendiri, melainkan guna melahirkan ketakwaan. Ibarat orang disuruh menggunakan kereta api ketika akan pergi ke Jakarta. Maka orang itu dituntut mewujudkan dua hal sekaligus; <em>pertama</em>, menggunakan kereta api, dan <em>kedua</em>, benar-benar sampai ke Jakarta. Orang Islam dituntut berpuasa dan menjadi orang takwa.</p>
<p>QS al-Baqarah, 184:</p>
<p dir="RTL">Seperti ibadah <em>mahdhah</em> lainnya, puasa harus mengikuti tata-cara, tata waktu dan tata-ritual lainnya sebagaimana digariskan oleh syariat. Kajian tentang ini sudah dikupas tuntas dalam kitab-kitab fikih. Di sini bukan tempatnya untuk mengupas soal itu. Tapi Islam bukan agama besi yang tidak mengenal kompromi. Bagi orang sakit atau dalam perjalanan ada keringanan untuk berbuka dengan keharusan membayarnya di lain hari. Dan bagi orang yang benar-benar merasa berat menjalankannya, ia diberi keringanan menggantinya dengan <em>fidyah</em>, yaitu memberi makan seorang miskin. Sampai di sini, satu hal menarik, bahwa ketidaksanggupan menjalankan ketaatan ritual harus ditebus dengan menebarkan kebaikan sosial; tidak sanggup puasa harus dibayar dengan memberi makan kepada yang lapar.</p>
<p>Al-Baqarah, 185:</p>
<p dir="RTL">Memang puasa wajib dilaksanakan di bulan Ramadhan. Tapi kejadian besar di bulan ini bukan hanya puasa. Ayat ini menerangkan bahwa pada bulan Ramadhan permulaan al-Qur&#8217;an diturunkan. Dari ayat ini dapat diambil tiga konsep mengenai al-Qur`an. <em>Pertama</em>, al-Qur`an adalah kitab yang berisi petunjuk atau pedoman (<em>hudâ</em>). <em>Kedua</em>, al-Qur`an memberikan penjelasan mengenai petunjuk itu, dan <em>ketiga</em>, petunjuk itu sekaligus merupakan kriteria atau tolok ukur untuk menilai segala sesuatu, terutama untuk membedakan antara yang benar dan yang salah, yang buruk dan yang baik, yang seronok dan yang indah.</p>
<p>QS al-Baqarah, 187:</p>
<p dir="RTL">Islam agama fitrah. Semua ajaran, aturan dan pranata yang dibangunnya, tidak ada satu pun yang dimaksudkan guna mengingkari atau memberangus fitrah manusia. Puasa memang mengharuskan orang menahan lapar, dahaga dan syahwat lainnya termasuk berhubungan suami-istri. Tujuannya jelas, di antaranya untuk melatih orang yang berpuasa menahan dan mengendalikan diri dalam rangka mencapai keluhuran-keluhuran nilai, perilaku dan akal-nalar serta budi-pekerti. Namun larangan makan, minum dan bercampur denga istri itu hanya berlaku siang hari. Tepatnya semenjak terbit fajar hingga terbenam matahari. Di malam hari, Islam—dengan segala keluwesannya—mencabut larangan-larangan itu.</p>
<p>Di sini bukan tempat yang tepat untuk membahas seperti apa dan bagaimana makan, minum dan bercampur dengan istri yang dipersilakan oleh Islam itu. Ulasan ini hanya ingin menegaskan bahwa Islam tidak hendak menjadikan umatnya para <em>rahib</em> yang mengebiri fitrah dasar manusia seperti makan, minum dan bercampur dengan pasangan sah. Berdasar ayat yang sedang kita bincang ini, bercampur dengan istri merupakan salah satu sarana dalam menjadikan pasangan sebagai pakaian; pelindung, penghias, pemberi citra dan identitas, dan semacamnya.</p>
<p>Namun tidak ada kebebasan mutlak. Silakan makan, minum dan mencampuri istri. Tapi beberapa aturan (batasan) terkait kadar, volume, waktu dan lain hal harus diindahkan. Aturan itu dibuat tak lain guna melahirkan insan-insan <em>muttaqin</em>. Inilah pesan moral penggalan ayat, “<em>Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa</em>.”</p>
<p>QS al-Baqarah, 196:</p>
<p dir="RTL">Bagi orang yang sedang berhaji atau umrah lalu terkepung oleh musuh atau jatuh sakit, maka ia harus menyembelih hewan kurban yang mudah didapat, dan ia tidak boleh mencukur kepalanya sebelum hewan kurban sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfid-yah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban. Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan `umrah sebelum haji (didalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil-haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abualitya.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abualitya.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abualitya.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abualitya.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abualitya.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abualitya.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abualitya.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abualitya.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abualitya.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abualitya.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abualitya.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abualitya.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abualitya.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abualitya.wordpress.com/223/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&amp;blog=3401246&amp;post=223&amp;subd=abualitya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abualitya.wordpress.com/2011/08/23/puasa-dalam-qs-al-baqarah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/af2bf86b31ef30cccc6bf9168f250ae4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aku Malu…</title>
		<link>http://abualitya.wordpress.com/2011/07/21/aku-malu%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://abualitya.wordpress.com/2011/07/21/aku-malu%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jul 2011 08:08:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abad Badruzaman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulas-tulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abualitya.wordpress.com/?p=220</guid>
		<description><![CDATA[Rabb, aku malu menemui-Mu di bulan suci-Mu Janji-janjiku pada-Mu Ramadhan lalu belum sempat kutunaikan Sementara Ramadhan tahun ini sudah menjelang Aku malu menemui-Mu di Ramadhan-Mu tahun ini Beban dosa dan khilaf di pundak terasa amat berat Aku malu menemui-Mu di Ramadhan-Mu tahun ini Hati, tangan, kaki, dan tubuhku berlumur kesalahan Aku malu menemui-Mu di Ramadhan-Mu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&amp;blog=3401246&amp;post=220&amp;subd=abualitya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rabb, aku malu menemui-Mu di bulan suci-Mu</p>
<p>Janji-janjiku pada-Mu Ramadhan lalu belum sempat kutunaikan</p>
<p>Sementara Ramadhan tahun ini sudah menjelang</p>
<p>Aku malu menemui-Mu di Ramadhan-Mu tahun ini</p>
<p>Beban dosa dan khilaf di pundak terasa amat berat<span id="more-220"></span></p>
<p>Aku malu menemui-Mu di Ramadhan-Mu tahun ini</p>
<p>Hati, tangan, kaki, dan tubuhku berlumur kesalahan</p>
<p>Aku malu menemui-Mu di Ramadhan-Mu</p>
<p>Tanggungan kewajibanku menggunung dan belum tersampaikan</p>
<p>Aku malu menemui-Mu di Ramadhan-Mu</p>
<p>Hak-hak sesama masih teramat banyak belum kutuntaskan</p>
<p>Aku malu menemui-Mu di Ramadhan-Mu</p>
<p>Belum sempat kuamalkan pesan-pesan-Mu di Ramadhan lalu</p>
<p>Aku malu menemui-Mu di Ramadhan-Mu</p>
<p>Aku bahkan belum menamatkan suratan firman-Mu di Kitab Suci-Mu</p>
<p>Aku malu menemui-Mu di Ramadhan-Mu</p>
<p>Aku selalu mengeluh karena sedikit saja kerikil di jalanku</p>
<p>Padahal tak terhingga nikmat-Mu padaku</p>
<p>Aku malu menemui-Mu di Ramadhan-Mu</p>
<p>Aku masih saja merasa kurang beruntung dengan rezki yang ada</p>
<p>Padahal tak terhitung limpahan karunia-Mu padaku</p>
<p>Aku malu menemui-Mu di Ramadhan-Mu</p>
<p>Aku sering merasa belum puas dengan ketersediaan sandang di lemari pakaian</p>
<p>Padahal di luar sana sungguh banyak saudaraku bahkan nyaris telanjang</p>
<p>Aku malu menemui-Mu di Ramadhan-Mu</p>
<p>Aku sering merasa kurang aman dengan ketersediaan pangan di periuk</p>
<p>Padahal di luar sana banyak sekali saudaraku mengais rezki di onggokan sampah</p>
<p>Aku malu menemui-Mu di Ramadhan-Mu</p>
<p>Aku kerap merasa kurang puas dengan papan yang kumiliki</p>
<p>Padahal di luar sana amat banyak saudaraku hanya berumahkan kardus bekas</p>
<p>Aku malu menemui-Mu di Ramadhan-Mu</p>
<p>Aku sering merasa puas hanya dengan memberi recehan pada saudaraku yang terpaksa mengemis</p>
<p>Padahal tidak akan jatuh miskin hanya karena memberi lebih banyak lagi</p>
<p>Aku malu menemui-Mu di Ramadhan-Mu</p>
<p>Aku sering memasang muka tak bersahabat saat memberi  sedikit makan pada saudaraku yang lapar</p>
<p>Padahal rezki tak bakal berkurang barang sedikit dengan memberi sepiring nasi sambil memasang muka ramah</p>
<p>Aku malu menemui-Mu di Ramadhan-Mu</p>
<p>Aku acap memandang rendah makhluk-Mu selainku, padahal kutahu di depan-Mu semua setara sederajat</p>
<p>Aku malu menemui-Mu di Ramadhan-Mu</p>
<p>Aku kerap berharap pada selain-Mu, padahal aku tahu hanya Engkau tempat menggantungkan segala asa</p>
<p>Aku malu menemui-Mu di Ramadhan-Mu</p>
<p>Aku sering memuja selain-Mu, padahal aku tahu kesempurnaan hanya milik-Mu</p>
<p>Aku malu menemui-Mu di Ramadhan-Mu</p>
<p>Aku sering bersandar pada selain-Mu, padahal kutahu selain Engkau lemah belaka</p>
<p>Aku malu menemui-Mu di Ramadhan-Mu</p>
<p>Aku sering melanggar keinginan-Mu padahal kutahu Engkau selalu mengawasiku</p>
<p>Aku malu, tapi pesona Ramadhan-Mu teramat kuat untuk kuabaikan</p>
<p>Maka, dengan segala maluku, sampaikan aku pada Ramadhan-Mu..</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abualitya.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abualitya.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abualitya.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abualitya.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abualitya.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abualitya.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abualitya.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abualitya.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abualitya.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abualitya.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abualitya.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abualitya.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abualitya.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abualitya.wordpress.com/220/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&amp;blog=3401246&amp;post=220&amp;subd=abualitya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abualitya.wordpress.com/2011/07/21/aku-malu%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/af2bf86b31ef30cccc6bf9168f250ae4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Peran Shalat dalam Kehidupan Individual</title>
		<link>http://abualitya.wordpress.com/2011/06/10/peran-shalat-dalam-kehidupan-individual/</link>
		<comments>http://abualitya.wordpress.com/2011/06/10/peran-shalat-dalam-kehidupan-individual/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jun 2011 09:52:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abad Badruzaman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulas-tulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abualitya.wordpress.com/?p=217</guid>
		<description><![CDATA[Shalat yang dilakukan seorang Muslim setiap hari haruslah melahirkan sejumlah kebaikan bagi dirinya pada tingkat individu. Di antara kebaikan shalat pada tingkat ini adalah: Pertama, shalat menjadikan seorang Muslim senantiasa menaati aturan Allah. Shalat menjadikan seorang Muslim selalu memperbaiki dan membersihkan diri sepanjang hari; siang dan malam. Dengan shalat, seorang Muslim bermunajat pada Tuhannya sambil [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&amp;blog=3401246&amp;post=217&amp;subd=abualitya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Shalat yang dilakukan seorang Muslim setiap hari haruslah melahirkan sejumlah kebaikan bagi dirinya pada tingkat individu. Di antara kebaikan shalat pada tingkat ini adalah: <em>Pertama</em>, shalat menjadikan seorang Muslim senantiasa menaati aturan Allah. Shalat menjadikan seorang Muslim selalu memperbaiki <span id="more-217"></span>dan membersihkan diri sepanjang hari; siang dan malam. Dengan shalat, seorang Muslim bermunajat pada Tuhannya sambil meninggalkan gemerlapnya dunia demi memperkaya diri dengan bekal-bekal akhirat. Seusai shalat, saat ia kembali ke dunia nyata, shalat membekalinya kejelian penglihatan. Ia tidak silau dengan dunia. Ia selamat dari jebakan lumpur dan kehinaan dunia. Shalat menjadikannya paham bahwa dunia bukan tujuan. Maka dijadikannya dunia sarana menuju akhirat. Diambilnya dari dunia apa yang baik guna memperkuat langkah dan tenaganya dalam mengabdi pada-Nya. Saat perhiasan dunia berpihak padanya ia tidak larut dalam kegembiraan, dan saat dunia berpaling darinya ia tidak larut dalam kesedihan.</p>
<p><em>Kedua</em>, shalat menjadikan seorang Muslim gemar melakukan kebiasaan-kebiasaan yang baik dan menjauhi kebiasaan-kebiaasan buruk. Shalat menjadikan seorang Muslim menghargai waktu. Hal ini diajarkan oleh kebiasaannya menunggu waktu shalat serta shalat pada waktunya. Selain menghargai waktu, shalat juga mengajarkan seorang Muslim budaya tepat waktu, pantang mengakhir-akhirkan menunaikan kewajiban, dan pengendalian diri sepanjang waktu. Yang disebut terakhir ini diajarkan oleh pengendalian diri sepanjang shalat dari segala ucapan dan gerakan yang bukan bagian dari shalat.</p>
<p>Pengendalian diri dari tindakan dan ucapan yang tidak baik semakin dirasa keharusannya mengingat bahwa sebagian besar prahara yang menimpa manusia timbul karena ucapan. Nabi Saw. bersabda:</p>
<p>وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ عَلَى وجوههم فِي جَهَنَّمَ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ</p>
<p>Tidaklah manusia masuk neraka jahanan kecuali akibat lidah mereka (HR Ibn Mâjah)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Shalat menjadikan seorang Muslim mampu mengendalikan ucapannya, karena ia sudah terbiasa menahan ucapan selain zikir selama shalat. Maka di luar shalat ia hanya akan berkata-kata yang baik.</p>
<p><em>Ketiga</em>, shalat menjadikan seorang Muslim pandai menyelami, menakar dan menjaga perasaan serta kondisi psikologis orang lain. Ia sadar bahwa setiap orang memiliki watak, sifat dan karakter sendiri-sendiri. Tidak bisa semua orang diperlakukan dengan sikap dan pendekatan yang sama. Hal ini diajarkan oleh beberapa aturan terkait shalat, sebagai berikut</p>
<p>-          Apabila seseorang merasa sangat lapar, lalu datang waktu shalat, maka tidak boleh memaksakan diri shalat terlebih dahulu baru shalat, melainkan seperti disabdakan Nabi Saw:</p>
<p>إذا حضر العشاء وحضرت الصلاة فابدؤا بالعشاء</p>
<p>Jika datang waktu makan dan lalu datang waktu shalat, maka mulailah dengan makan (HR Muslim).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>-          Jika cuaca sangat panas di saat masuk waktu zhuhur atau jumat, maka disunnahkan mengakhirkan shalat sampai suhu agak turun. Sabda Nabi Saw.:</p>
<p>إذا اشتدّ الحَرُّ فأَبْرِدُوا بالصلاة فإنَّ شِدَّةَ الحَرِّ من فَيْح جهنّم</p>
<p>Jika panas sangat menyengat, maka shalatlah ketika (suhu sudah) dingin. Karena sesungguhnya panas yang sangat menyengat berasal dari panasnya jahanam (HR Muslim).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>-          Orang yang bertindak menjadi imam, hendaknya “meringankan” shalat sehingga tidak memberatkan para makmum. Abû Mas’ûd al-Anshârî menceritakan bahwa seorang laki-laki mendatangi Rasulullah Saw. dan berkata, “Aku benar-benar datang terlambat untuk shalat subuh karena si Fulan (yang menjadi imam) memanjangkan shalatnya atas kami.” Nabi Saw. kemudian bersabda:</p>
<p>يا أيها الناس إن منكم منفرين فأيكم أم الناس فليوجز فإن من ورائه الكبير والصغير وذا الحاجة</p>
<p>Wahai manusia, sesungguhnya di antara kalian ada orang yang membuat orang lain lari. Siapa di antara kalian mengimami orang lain, maka pendekkanlah (shalatnya), karena di belakangnnya ada makmum yang sudah tua, anak-anak dan yang punya keperluan (HR al-Bukhârî).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Semua ini memberi pelajaran praktis tentang keharusan menjaga perasaan dan memerhatikan kondisi objektif orang lain serta ketidakbolehan memberatkan mereka. Melalui shalat, Nabi Saw. telah mengajari kita meraba perasaan orang lain. Beliau pernah bersabda:</p>
<p>إِنِّى لأَقُومُ إِلَى الصَّلاَةِ وَأَنَا أُرِيدُ أَنْ أُطَوِّلَ فِيهَا ، فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِىِّ ، فَأَتَجَوَّزُ كَرَاهِيَةَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمِّهِ</p>
<p>Sesungguhnya aku berdiri untuk shalat dan aku ingin memanjangkannya. Lalu aku mendengar tangisan anak kecil, maka aku perpendek karena tidak ingin memberatkan ibunya (HR al-Bukhârî).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Keempat</em>, dari doa iftitah yang selalu dibacanya saat shalat, seorang Muslim sadar akan kedudukannya di antara sesama manusia, yaitu sebagai seorang Muslim, teladan yang diikuti, panutan yang ditiru, dan menjadi pusat perhatian manusia. Kaum Muslim awal paham betul akan makna dan pesan yang diusung oleh doa iftitah ini. Maka jadilah mereka para pemegang kendali dunia. Mereka pergi ke arah barat; ke Syam, Irak dan Mesir hingga Maroko sebagi pembebas dan penebar kedamaian. Lalu mereka pergi ke arah timur; ke India. Konstantinpel mereka bebaskan, Spanyol mereka kuasai dengan kekuasaan yang berperadaban. Maka jadilah mereka para pemegang kendali dunia.</p>
<p><em>Kelima</em>, seorang Muslim yang membaca surat al-Fatihah sekurangnya 17 kali setiap hari diajari bagaimana dan kepada siapa berterimakasih. Ia menjadi orang yang pandai berterimakasih dan tahu kepada siapa saja ia harus berterimakasih. Tentu saja ia tahu bahwa yang utama dan pertama harus mendapat ucapan syukur adalah Allah. Surat al-Fatihah yang selalu dibacanya juga menjadikannya tidak pernah putus asa akan kasih-sayang-Nya yang tak terbatas. Penggalan ayat <em>al-ra<span style="text-decoration:underline;">h</span>mân al-ra<span style="text-decoration:underline;">h</span>îm</em> (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang) dalam surat al-Fatihah, mengajarinya untuk tidak pernah putus asa akan kasih-sayang-Nya.</p>
<p><em>Keenam</em>, seorang Muslim yang senantiasa rukuk dan sujud dalam shalat akan enggan, seenggan-enggannya, untuk menundukkan kepalanya selain kepada Allah. Rukuk dan sujud mengajarinya menjadi pribadi yang punya harga diri. Dalam menegakkan kebenaran ia tidak takut akan celaan siapa pun. Dalam menjunjung keadilan ia tidak tergoda rayuan harta. Dalam menyuarakan hak ia tidak gentar dengan ancaman. Setiap sujud yang dilakukannya menjadikannya tembah dekat dengan Yang Maha Mulia lagi Maha Perkasa. Kedekatan ini melahirkan kekuatan dan keberanian dalam dirinya sehingga kekuatan para tiran dan keangkaramurkaan para penindas tampak hina dan kecil belaka di matanya.</p>
<p>Sejak awal Islam memang tidak rela dari umatnya selain keluhuran, kemuliaan, dan kehormatan. Nilai-nilai inilah yang ditanamkan Islam di setiap sendi masyarakat Muslim. Semua ajaran, tuntutan dan tuntunan Islam diarahkan untuk keluhuran, kemuliaan, dan kehormatan umatnya. Buat apa seorang muazin mengumandangkan azan lima kali sehari dengan meneriakkan takbir di awal dan di akhirnya? Mengapa takbir selalu menjadi penanda setiap pergerakan shalat? Semua itu guna menancapkan keyakinan yang mendalam di jiwa setiap Muslim; tidak goyah dan tidak gentar untuk meyakini dan mengatakan bahwa setiap kesombongan selain Allah adalah kecil semata, hina belaka. Untuk tujuan ini, Allah menetapkan <em>takbîr</em> dan <em>tasbî<span style="text-decoration:underline;">h</span></em> supaya diulang-ulang oleh setiap Muslim dalam shalatnya.</p>
<p><em>Ketujuh</em>, dari shalat seorang Muslim belajar tentang ketenangan dan kedamaian jiwa. Meskipun shalat sangat penting, tapi untuk pergi menujunya tidak baik sambil tergesa-gesa. Tidak baik keluar rumah untuk shalat dengan terburu-buru sehingga tidak mengindahkan kesopanan dan tatakerama. Jika menuju shalat saja harus tetap dalam keadaan tenang, maka terlebih menuju selainnya. Shalat mengajari setiap Muslim untuk menyikapi segala persoalan dengan tenang jiwa dan damai hati. Dalam hal ini Rasulullah Saw. bersabda:</p>
<p>إذا سمعتم الإقامةَ فامشوا إلى الصلاةِ وعليكم بالسكينةِ والوقارِ ولا تُسْرِعُوا فما أدركتم فصلُّوا وما فاتكم فأتموا</p>
<p>Jika kalian mendengar iqamah, maka berjalanlah menuju shalat dan kalian harus tetap tenang dan sopan, jangan tergesa-gesa. Apa yang kalian dapatkan (dari gerakan shalat jamaah) maka ikutilah dan apa yang kalian kehilangan (dari rakaat shalat berjamaah) maka sempurnakanlah (HR al-Bukhârî).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hadits ini memberi pelajaran bahwa dalam mengejar apa pun harus tetap melibatkan ketenangan dan kesopanan. Apa yang kita dapatkan dari apa yang kita kejar, itulah bagian kita. Dan apa yang tidak (belum) kita dapatkan dari apa yang kita kita, sempurnakanah.</p>
<p><em>Kedelapan</em>, shalat mengajarkan setiap Muslim bersegera menunaikan kewajiban pada waktunya, tidak menunda-nundanya. Jika kondisi menghalanginya menjalankan kewajiban pada waktunya maka kewajiban tetap berlaku, tidak gugur hanya karena waktunya habis. Ia tetap harus menunaikannya di luar waktu yang telah ditetapkan. Pelajaran ini diambil dari sebuah riwayat bahwa ketika pulang dari perang Khaibar, Rasulullah Saw. bersama pasukan kaum Muslim tidur di jalan dan memerintahkan Bilâl untuk memantau fajar (membangunkan mereka dengan azan). Akan tetapi semua tertidur lelap sampa matahari membangunkan mereka. Di antara mereka, Rasulullah Saw. yang pertama bangun. Lalu beliau bersabda:</p>
<p>أَيْ بِلَالُ فَقَالَ بِلَالٌ أَخَذَ بِنَفْسِي الَّذِي أَخَذَ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ بِنَفْسِكَ قَالَ اقْتَادُوا فَاقْتَادُوا رَوَاحِلَهُمْ شَيْئًا ثُمَّ تَوَضَّأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَمَرَ بِلَالًا فَأَقَامَ الصَّلَاةَ فَصَلَّى بِهِمْ الصُّبْحَ فَلَمَّا قَضَى الصَّلَاةَ قَالَ مَنْ نَسِيَ الصَّلَاةَ فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا فَإِنَّ اللَّهَ قَالَ أَقِمْ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي</p>
<p>“Di mana Bilâl.” Bilâl berkata, “Telah menimpaku apa yang telah menimpamu, demi ayahku, engkau dan ibuku, ya Rasulullah.” Rasulullah Saw. bersabda, “Giringlah (hewan tunggangan kalian).” Mereka pun menggiring hewan-hewan tunggangan mereka ke satu tempat. Kemudian Rasulullah Saw. mengambil wudhu dan memerintahkan Bilâl untuk iqamah. Setelah Bilâl iqamah, Rasulullah mengimami mereka shalat subuh. Setelah selesai shalat, beliau bersabda, “Barangsiapa lupa shalat, maka shalatlah ketika ia ingat. Karena Allah berfirman, ‘<em>Dirikanlah shalat</em> <em>untuk mengingat Aku</em>’”  (HR Muslim, al-Tirmidzî dan Ibn Mâjah).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hadits ini menjelaskan betapa setiap orang harus merasa benar-benar bertanggung jawab atas kewajiban yang harus dilaksanakannya. Bahkan ketika waktu yang ditetapkan untuk menjalankan kewajiban itu luput karena satu dan lain hal, mereka harus tetap berusaha menggantinya di waktu lain yang memungkinkannya.</p>
<p><em>Kesembilan</em>, shalat juga memberi pelajaran tentang kehidupan sosial. Di waktu shalat seorang Muslim melihat saudara-saudaranya di masjid dalam sebuah pertemuan yang akrab, hangat, setara dan penuh kasih, jauh dari keangkuhan, kesombongan, menonjolkan diri, atau membanggakan diri. Mereka berbaris rapi, menghadap ke arah yang sama, membacakan bacaan yang sama, memeragakan gerakan yang sama, demi menunjukkan kehinaan dan ketakberdayaan di hadapan Yang Maha segalanya. Mereka saling bersalaman, satu sama lain saling mendoakan, baik selagi shalat maupun sesudahnya, dalam suasana dan nuansa yang diliputi kasih-sayang. Semua ini menanamkan pendidikan etika sosial yang menafikan individualisme. Individualisme tidak melahirkan kecuali rasa takut terhadap sesama, iri, dengki, enggan berbaur dan menghindar dari menjalin komunikasi dengan mereka.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abualitya.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abualitya.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abualitya.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abualitya.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abualitya.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abualitya.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abualitya.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abualitya.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abualitya.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abualitya.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abualitya.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abualitya.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abualitya.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abualitya.wordpress.com/217/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&amp;blog=3401246&amp;post=217&amp;subd=abualitya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abualitya.wordpress.com/2011/06/10/peran-shalat-dalam-kehidupan-individual/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/af2bf86b31ef30cccc6bf9168f250ae4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sedikit Tentang Ibu</title>
		<link>http://abualitya.wordpress.com/2011/05/07/sedikit-tentang-ibu/</link>
		<comments>http://abualitya.wordpress.com/2011/05/07/sedikit-tentang-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 May 2011 06:03:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abad Badruzaman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulas-tulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abualitya.wordpress.com/?p=193</guid>
		<description><![CDATA[Sejarah tidak pernah mengenal agama atau aturan apa pun yang memuliakan dan mengangkat derajat serta kedudukan perempuan sebagai seorang ibu sedemikian tinggi, selain Islam. Perintah Allah untuk berbuat baik kepada ibu datang segera setelah perintah-Nya untuk bertauhid dan menyembah-Nya. Islam mejadikan berbakti kepada ibu sebagai salah satu pangkal-pokok kebaikan dan menjadikan hak ibu lebih besar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&amp;blog=3401246&amp;post=193&amp;subd=abualitya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejarah tidak pernah mengenal agama atau aturan apa pun yang memuliakan dan mengangkat derajat serta kedudukan perempuan sebagai seorang ibu sedemikian tinggi, selain Islam. Perintah Allah untuk berbuat baik kepada ibu datang segera setelah perintah-Nya untuk bertauhid dan menyembah-Nya. Islam mejadikan berbakti kepada ibu sebagai salah satu pangkal-pokok <span id="more-193"></span>kebaikan dan menjadikan hak ibu lebih besar ketimbang bapak. Hak ibu lebih besar daripada bapak karena ibu menanggung beban berat saat mengandung, melahirkan, menyusui dan mendidik anak. Hal ini ditegaskan al-Qur`an dan diulanginya pada lebih dari satu surat agar para anak memerhatikan dan mencamkannya di jiwa dan hati mereka. Firman-Nya:</p>
<p><em>Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu </em>(QS Luqmân/31: 14).</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan</em> (QS al-A<span style="text-decoration:underline;">h</span>qâf/46: 15).</p>
<p>Seorang laki-laki datang menemui Nabi Saw. dan bertanya:</p>
<p dir="RTL">يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ</p>
<p>“Ya Rasulullah, siapakah yang paling berhak mendapat perlakuan baikku?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Ia bertanya lagi:<br />
“Lalu siapa?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Ia bertanya lagi:<br />
“Lalu siapa?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Ia bertanya lagi:<br />
“Lalu siapa?” Beliau menjawab: “Bapakmu” (HR Bukhârî).</p>
<p>Berbuat baik pada ibu meliputi antara lain memperlakukannya dengan baik, menghormati, merendahkan diri, menaati selain dalam maksiat, dan meminta ridhanya dalam segala urusan. Bahkan dalam berjihad, jika jihadnya fardu kifayah, haruslah atas seizin ibu. Berbakti pada ibu juga merupakan jihad. Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw. dan berkata:</p>
<p dir="RTL">يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَدْتُ أَنْ أَغْزُوَ وَقَدْ جِئْتُ أَسْتَشِيرُكَ فَقَالَ هَلْ لَكَ مِنْ أُمٍّ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَالْزَمْهَا فَإِنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ رِجْلَيْهَا</p>
<p>“Ya Rasulullah, aku ingin berperang. Aku datang untuk meminta nasihatmu.” Beliau bertanya: “Kamu masih punya ibu?” Ia menjawab: “Ya.” Beliau bersabda: “Berbaktilah kepadanya. Sesungguhnya surga berada di kedua kakinya” (HR al-Nasâ`î).</p>
<p>Beberapa ajaran pra-Islam mengabaikan posisi dan kemuliaan ibu. Lalu Islam datang dengan seperangkat ajaran yang memuliakan serta menjunjung tinggi martabat dan kedudukan ibu. Bukan hanya ibu; bibi—baik bibi dari pihak ayah maupun dari pihak ibu—pun dimuliakan Islam begitu rupa. Seorang laki-laki mendatangi Nabi Saw. dan berkata:</p>
<p dir="RTL">إِنِّي أَصَبْتُ ذَنْبًا عَظِيمًا فَهَلْ لِي تَوْبَةٌ قَالَ هَلْ لَكَ مِنْ أُمٍّ قَالَ لَا قَالَ هَلْ لَكَ مِنْ خَالَةٍ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَبِرَّهَا</p>
<p>“Aku telah melakukan dosa besar. Adakah kesempatan bagiku bertobat?” Nabi Saw. bersabda: “Apakah kamu masih punya ibu?” Ia menjawab: “Tidak.” Nabi bertanya lagi: “Apakah kamu masih punya <em>khâlah</em> (bibi dari pihak ibu)?” Ia menjawab: “Ya.” Nabi bersabda: “Maka berbuat baiklah kepadanya” (HR. Tirmidzî).</p>
<p>Dalam hal ini, di antara ajaran Islam paling mengagumkan adalah bahwa Islam tetap menyuruh berbuat baik kepada ibu walaupun ia seorang musyrik. Asmâ` bint Abi Bakr bertanya kepada Nabi Saw. tentang bagaimana ia berhubungan dengan ibunya yang musyrik. Nabi Saw. berkata padanya:</p>
<p dir="RTL">نَعَمْ صِلِي أُمَّكِ</p>
<p>“Ya, tetaplah berhubungan dengan ibumu” (HR Muslim).</p>
<p>Di antara perhatian serta penghargaan Islam terhadap ibu dan hak-haknya adalah bahwa ia menjadikan ibu lebih berhak atas pengasuhan anak-anaknya daripada ayah. Seorang perempuan berkata kepada Rasulullah Saw.:</p>
<p dir="RTL">يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ ابْنِي هَذَا كَانَ بَطْنِي لَهُ وِعَاءً وَثَدْيِي لَهُ سِقَاءً وَحِجْرِي لَهُ حِوَاءً وَإِنَّ أَبَاهُ طَلَّقَنِي وَأَرَادَ أَنْ يَنْتَزِعَهُ مِنِّي فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْتِ أَحَقُّ بِهِ مَا لَمْ تَنْكِحِي</p>
<p>“Ya Rasulullah, sesungguhnya anakku ini, dulu di perutku ia hidup, dari payudaraku ia menetek, dan di punggungku ia kugendong. Kemudian bapaknya menceraikanku dan bermaksud merebutnya dariku.” Nabi Saw. berkata padanya: “Kamu lebih berhak atas anakmu itu selama kamu belum menikah” (HR Abû Dâwud).   <strong></strong></p>
<p>‘Umar dan istri yang diceraikannya mengadu kepada Abû Bakar tentang anak mereka, ‘Âshim. Abû Bakar pun memutuskan bahwa ‘Âshim jatuh ke tangan ibunya. Kepada ‘Umar, Abû Bakar berkata: “Aroma mantan isterimu, penciumannya, dan kata-katanya lebih baik untuk anakmu daripada kamu.” Kekerabatan ibu lebih dekat dan lebih utama dari bapak dalam hal kepengasuhan anak.</p>
<p>Al-Qur`an mengabadikan beberapa nama ibu salehah sebagai pelajaran dan arahan bagi kaum Mukmin. Bagi pembinaan iman, kisah mereka memiliki pengaruh yang cukup signifikan.</p>
<p>Ada ibunda Nabi Mûsâ yang memenuhi petunjuk Allah lewat ilham untuk menghanyutkan anaknya, belahan jiwanya, ke sungai Nil. Ia yakin seutuhnya akan janji Tuhan yang akan mengembalikan anaknya.</p>
<p><em>Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa: “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul”</em> (QS al-Qashash/28: 7).</p>
<p>Ada ibunda Siti Maryam yang menazarkan janin di rahimnya untuk Allah. Dia berdoa setulus hati kepada Allah supaya Dia menerima nazanya:</p>
<p><em>“Terimalah (nazar) itu daripadaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”</em> (QS Âli ‘Imrân/3: 35).</p>
<p>Ketika bayi yang lahir ternyata perempuan—tidak seperti yang dia angankan—ibunda Maryam tetap menunaikan nazarnya seraya memohon kepada Allah untuk menjaga anaknya (Maryam) dari segala keburukan:</p>
<p><em>“Aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada setan yang terkutuk”</em> (QS Âli ‘Imrân/3: 36).</p>
<p>Kemudian Maryam puteri ‘Imrân, ibunda ‘Îsâ al-Masî<span style="text-decoration:underline;">h</span>. Al-Qur`an menjadikannya ikon kesucian, pengabdian kepada Allah dan keyakinan akan ayat-ayat-Nya:</p>
<p><em>Dan Maryam puteri ‘Imrân yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab-Nya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat </em>(QS al-Ta<span style="text-decoration:underline;">h</span>rîm/66: 12).</p>
<p>Islam tidak mengkhususkan tanggal tertentu untuk merayakan hari ibu, sebab Islam memuliakan ibu sepanjang hayatnya, bahkan setelah kematiannya. Adalah kewajiban para anak untuk memuliakan, berbuat baik, dan menjaga ibu mereka setiap saat, setiap waktu. Ibulah yang mengandung, melahirkan, mengasuh, mendidik, berjuang, berkorban, dan menanggung banyak beban demi kebahagiaan anak-anaknya. Ibu selalu menjaga nikmat yang dianugerahkan Allah, yakni nikmat <em>umûmah</em> (keibuan), membimbing dan meluruskan anak-anaknya agar mereka tumbuh menjadi generasi yang unggul berbekal iman, kasih-sayang, kebaikan, kemurahan hati, dan kesetiaan yang total terhadap kebenaran. Seorang ibu begitu berharga dan mulia, selamanya. Tidak ada pilihan selain memuliakan dan berbuat baik kepadanya, setiap saat—baik selagi ia masih hidup maupun setelah meninggal.</p>
<p>Kata-kata berikut kiranya dapat menggambarkan sosok ibu:</p>
<p>Ibu: Perasaan yang lembut, batin yang halus, jiwa yang peka, air mata bahagia, keindahan, ketegaran, dan ketangguhan.</p>
<p>Ibu: Padanan kehidupan, tempat mengadu, tiang pancang tegaknya banyak urusan, penentu damainya rumah, dan kunci kesuksesan.</p>
<p>Ibu: Kebeningan hati, kesucian batin, kesetiaan, ketulusan, kasih-sayang, kebaikan, kesungguhan, pengorbanan, dan ketulusan.</p>
<p>Ibu: Makhluk paling tegar, jiwanya paling berharga, perasaannya paling halus, kakinya paling tangguh, pribadinya paling mandiri, tekadnya paling teguh, tangannya paling pemurah, dan dadanya paling lapang.</p>
<p>Ibu: Teman terbaik di kala susah, sahabat terdekat di saat senang.</p>
<p>Ibu: Sumber kasih-sayang, perhatian, dan kebaikan tanpa batas; penunjuk jalan iman dan ketenangan jiwa, sumber ketenangan dan rasa aman, cahaya kehidupan, dan cinta tak berbatas.</p>
<p>Kata-kata sepanjang apa pun dan lembaran-lembaran sebanyak apa pun, tidak akan cukup untuk menghitung keutamaan ibu serta semua haknya untuk mendapatkan penghormatan, pemuliaan, perlakuan baik dan pengabdian. Namun mungkin kita bisa menyimpulkan sosok ibu dalam kata-kata singkat ini: “Ketulusan dan pengorbanan dalam keseluruhan bentuk dan maknanya.” Al-Qur`an memberikan perhatian khusus terhadap ibu dan menyuruh manusia untuk memerhatikannya. Perhatian khusus itu diberikan terutama karena ibu telah menanggung banyak beban demi kelangsungan dan kebahagiaan hidup anak-anaknya. Allah telah memerintahkan berbakti kepada ibu, melarang mendurhakainya, dan mengaitkan ridha-Nya dengan ridha ibu. Nabi Saw. pun mewanti-wantikan tentang hak ibu. Dibanding ayah, ibu lebih berhak untuk mendapatkan budi baik dari anak-anaknya. Dalam hal ini, keutamaan ibu atas ayah dikarenakan dua hal: <em>Pertama</em>, ibu menanggung beban mengandung anak, melahirkan, menyusui, mengurus, mengasuh, dan mendidiknya. QS Luqmân/31: 14 menegaskan hal ini. <em>Kedua</em>, fithrah kasih sayang, kelembutan, cinta, dan perhatian ibu lebih besar dari ayah.</p>
<p>Di antara bukti betapa besarnya kasih sayang ibu adalah bahwa betapa pun durhakanya seorang anak kepada ibunya, ibu akan melupakan kedurhakaan anaknya itu ketika sang anak tertimpa musibah atau mendapat kesulitan hidup. Tidak ada seorang pun yang mampu menghitung atau menakar hak orang tua atas anak-anaknya. Di antara dua orang tua, ibulah yang lebih berhak atas segala pengabdian, budi baik, pemuliaan dan penghormatan anak.</p>
<p>Islam sangat menjunjung tinggi dan mensucikan hubungan atau ikatan dengan ibu. Untuk menjaga kesucian ini, Islam mengharamkan menikah dengan ibu:</p>
<p><em>Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu </em>(QS al-Nisâ`/4: 23).</p>
<p>Dengan tegas Islam menyatakan bahwa ikatan suami-istri tidak akan pernah berubah menjadi ikatan anak-ibu. Sangat jauh perbedaan antara keduanya:</p>
<p><em>Dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu </em>(QS al-A<span style="text-decoration:underline;">h</span>zâb/33: 4).</p>
<p>Ada baiknya di sini ditampilkan kata-kata para tokoh tentang sosok ibu:</p>
<p>“Keibuan adalah anugerah terbesar yang Tuhan peruntukkan bagi kaum perempuan” (Marry Hopkins).</p>
<p>“Tidak ada di dunia ini bantal yang lebih lembut dari pangkuan ibu” (Shakespear).</p>
<p>“Aku tidak akan menamaimu wanita. Aku akan menamaimu segalanya” (Ma<span style="text-decoration:underline;">h</span>mûd Darwîsy).</p>
<p>“Ibu adalah segalanya dalam hidup ini. Dia adalah pelipur lara dalam kesedihan, pembawa harapan dalam keputusasaan, dan kekuatan dalam kelemahan” (Kahlil Gibran).</p>
<p>“Tanpa ibu, umat tidak akan ada. Karena ibulah umat ada” (Khalil Mathran).</p>
<p>“Jika dunia ada di tangan yang satu dan ibu di tangan satunya lagi, pastilah aku pilih tangan di mana ibu berada” (Jean Jaques Rouseou).</p>
<p>“Ibulah yang menggoyang ayunan dengan tangan kanannya dan mengoyang (mengguncang) dunia dengan tangan kirinya” (Napoleon Bonaparte).</p>
<p>“Di dunia, hanya satu yang lebih baik dari istri; ibu” (Syafir).</p>
<p>“Tidak ada dalam hidup ini seorang perempuan yang menghibahkan seluruh hidup, kasih sayang dan cintanya tanpa meminta imbalan, selain ibu. Maka berilah ia, ya Tuhan, umur yang lebih panjang dari umur manusia” (Schuber).</p>
<p>“Satu-satunya tempat di mana aku dapat menyandarkan kepala padanya dan tidur di dalamnya dengan tenang dan nyaman, adalah pangkuan ibu” (Voltaire).</p>
<p>“Ketika aku menunduk mencium tanganmu, mencucurkan airmata di dadamu, dan menangkap tanda rela dari sorot matamu; hanya ketika itu aku merasakan kesempurnaan diri sebagai seorang laki-laki” (Islam Syamsuddîn).</p>
<p>“Tak ada sesuatu pun di dunia yang lebih manis dari hati ibu” (Martin Luther).</p>
<p>“Anda boleh melupakan segala hal tentangku, kecuali apa yang telah diajarkan ibu kepadaku” (Nixon).</p>
<p>“Ibu selalu mencintai dan hanya mengetahui cinta” (Cyrus).</p>
<p>“Seandainya seluruh semesta menjadi kecil, maka ibu akan tetap besar” (Victor Hugo).</p>
<p>“Segala yang dikerahkan oleh para bapak tidak akan sebanding dengan satu kasih sayang saja dari kasih sayang ibu yang tanpa batas” (Voltaire).</p>
<p>“Lantunan terlembut dan senandung terindah hanya dapat diberikan oleh hati ibu” (Bethoven).</p>
<p>“Saat paling bahagia bagi seorang wanita; saat dimana ia merasakan kesejatian dan keabadian dirinya sebagai wanita serta sebagai ibu, adalah saat ia melahirkan” (‘Abbâs Ma<span style="text-decoration:underline;">h</span>mûd al-‘Aqqâd).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abualitya.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abualitya.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abualitya.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abualitya.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abualitya.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abualitya.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abualitya.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abualitya.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abualitya.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abualitya.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abualitya.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abualitya.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abualitya.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abualitya.wordpress.com/193/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&amp;blog=3401246&amp;post=193&amp;subd=abualitya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abualitya.wordpress.com/2011/05/07/sedikit-tentang-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/af2bf86b31ef30cccc6bf9168f250ae4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TERM FITNAH DALAM AL-QUR`AN: Kajian Tematik</title>
		<link>http://abualitya.wordpress.com/2010/12/02/term-fitnah-dalam-al-quran-kajian-tematik/</link>
		<comments>http://abualitya.wordpress.com/2010/12/02/term-fitnah-dalam-al-quran-kajian-tematik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Dec 2010 03:08:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abad Badruzaman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulas-tulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abualitya.wordpress.com/?p=189</guid>
		<description><![CDATA[A. Pendahuluan Dalam keseharian sering terdengar kata-kata, &#8220;Itu fitnah. Saya sama sekali tidak melakukannya.&#8221; Kata-kata ini disampaikan seseorang ketika membantah tuduhan yang diarahkan kepadanya. Orang juga berkata, &#8220;Hati-hati, fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan!&#8221; ketika mengingatkan supaya tidak sembarang menuduh. Dua kata fitnah di sini berarti tuduhan tidak berdasar. Dalam bahasa Indonesia, fitnah berarti demikian. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&amp;blog=3401246&amp;post=189&amp;subd=abualitya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>A. </strong><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p>Dalam keseharian sering terdengar kata-kata, &#8220;Itu fitnah. Saya sama sekali tidak melakukannya.&#8221; Kata-kata ini disampaikan seseorang ketika membantah tuduhan yang diarahkan kepadanya. Orang juga berkata, &#8220;Hati-hati, fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan!&#8221; ketika mengingatkan supaya tidak sembarang menuduh. Dua kata fitnah di sini berarti tuduhan tidak berdasar. Dalam bahasa Indonesia, fitnah berarti demikian.<span id="more-189"></span></p>
<p>Kata yang sama juga terdapat al-Qur`an. Ia cukup sering menyebut kata tersebut.  Bahkan ketika kita berkata, &#8220;Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan,&#8221; kita bermaksud mengutip al-Qur`an yang pada salah satu ayatnya menyatakan demikian. Pertanyaannya adalah, apakah makna fitnah yang dikehendaki al-Qur`an sama dengan yang kita maksud? Dalam hal apa saja al-Qur`an mengggunakan kata tersebut? Makna-makna apa saja yang ditimbulkan oleh kata tersebut ketika al-Qur`an menyebutkannya dalam berbagai konteks ayat dan dalam aneka bentuknya?</p>
<p><strong>B. </strong><strong>Makna Leksikal Fitnah</strong></p>
<p>Kata <em>fitnah</em> memiliki arti antara lain <em>al-ibtilâ`, al-imti<span style="text-decoration:underline;">h</span>ân</em> dan <em>al-ikhtibâr</em>. Kesemuanya berarti cobaan dan ujian. Akar kata <em>fitnah</em> adalah <em>fatana</em>. Ketika seseorang berkata <em>fatantu al-fidhdhah wa al-dzahab</em>, artinya adalah bahwa ia membakar perak dan emas dengan api untuk memilah keduanya yang baik dari yang kurang baik. <em>Fatn</em>, salah satu derivasi fitnah, berarti <em>al-i<span style="text-decoration:underline;">h</span>râq</em> (membakar). Sebagaimana firman-Nya: يومَ هم على النارِ يُفْتَنُونَ. <em>Yuftanûn</em> di sini artinya <em>yu<span style="text-decoration:underline;">h</span>raqûn</em> (dibakar). Ibn al-Arabî seperti dikutip Ibn Manzhur dalam <em>Lisân al-&#8217;Arab</em> berkata: &#8220;Fitnah itu (beragam arti dan bentuknya), ia dapat berarti <em>ikhtibar</em> (ujian), <em>mi<span style="text-decoration:underline;">h</span>nah</em> (cobaan), <em>mâl</em> (harta), <em>awlâd</em> (anak keturunan), <em>kufr</em> (kufur), <em>ikhtilâf al-nâs bî al-arâ</em> (perselisihan paham manusia),<em> </em>dan<em> i<span style="text-decoration:underline;">h</span>râq</em> (membakar). Fitnah juga ditujukan kepada takwil yang zalim (penafsiran liar tanpa dasar yang tujuannya membela kepentingan pribadi). Seseorang yang tergila-gila mencari dunia juga disebut sebagai terfitnah oleh dunia.&#8221;<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p><strong>C. </strong><strong>Term Fitnah dalam al-Qur`an</strong></p>
<p>Term fitnah dalam al-Qur`an dalam semua derivasinya terulang tidak kurang dari 87 kali. Dari jumlah ini, ada yang disampaikan dalam bentuk <em>fi&#8217;il mâdhî</em>, <em>fiil mudhâri&#8217;</em>, <em>mashdar</em>, <em>isim fâ&#8217;il</em>, dan <em>isim maf&#8217;ûl</em>. Berikut ulasan singkat untuk masing-masing bentuk tersebut.</p>
<p>1.      <em>Fiil Mâdhi</em> (فَتَنَّا, فَتَنْتُمْ  , فُتِنُوا, dan فُتِنْتُمْ)</p>
<p>Term فَتَنَّا terdapat dalam QS al-An&#8217;âm/6: 53, Thâhâ/20: 40, 85, Shâd/38: 24, 34, al-Dukhân/44: 17, فَتَنْتُمْ  terdapat dalam QS al-<span style="text-decoration:underline;">H</span>adîd/57: 14), فَتَنُوا ada dalam QS al-Burûj/85: 10, فُتِنُوا terdapat pada QS al-Nahl/16: 110, danفُتِنْتُمْ  terdapat pada QS Thâhâ/20: 90. Dalam kesemua ayat ini, term fitnah bermakna <em>ujian</em> dan <em>cobaan</em>, kecuali pada QS al-<span style="text-decoration:underline;">H</span>adîd/57: 14 yang berarti <em>mencelakakan diri sendiri</em>.</p>
<p>2.      <em>Fiil Mudhâri&#8217; </em>(يَفْتِن, يَفْتِنُو, يَفْتِنَنَّ, يُفْتَنُونَ, dan sebagainya)</p>
<p>Term يَفْتِن terdapat pada QS al-Nisâ`/4: 101. Pada ayat ini term fitnah berarti <em>menyerang</em>. Term ini juga terdapat pada QS Yûnus/10: 83. Pada ayat ini berarti <em>menyiksa</em>. يَفْتِنُو terdapat pada QS al-Mâ`idah/5: 49, artinya <em>memalingkan</em>. يَفْتِنَنَّ terdapat pada QS al-A&#8217;râf/7: 27, artinya <em>menipu</em>. يُفْتَنُونَ terdapat pada QS al-Tawbah/9: 126 dan al-&#8217;Ankabût/29: 2-3, pada keduanya berarti <em>ujian</em>. Term ini juga terdapat dalam QS al-Dzâriyât/51: 13, artinya <em>azab</em>. يَفْتِنُونَ terdapat pada QS al-Isrâ`/17: 73, artinya <em>memalingkan</em>. نَفْتِنَ terdapat pada QS Thâhâ/20: 131, artinya <em>cobaan</em>. تُفْتَنُونَ terdapat pada QS al-Naml/27: 47, artinya <em>ujian</em>. نَفْتِنَ terdapat pada QS al-Jinn/72: 17, artinya <em>cobaan</em>.</p>
<p>3.      <em>Mashdar</em><em> </em>(فِتْنَة)</p>
<p>Term ini terdapat dalam tidak kurang dari 32 ayat. Dalam QS al-Baqarah/2: 102, al-A&#8217;râf/7: 155, al-Anfâl/8: 25, al-Anbiyâ`/21: 35, al-Anbiyâ`/21: 111, al-<span style="text-decoration:underline;">H</span>ajj`/22: 53, al-Nûr/24: 63, al-Furqân/25: 20, al-Qamar/54: 27, al-Taghâbun/64: 15, dan al-Mudatstsir/74: 31 term fitnah berarti <em>cobaan</em>. Pada QS al-Baqarah/2: 191, 193, al-Anfâl/8: 73 dan al-Tawbah/9: 47-49 term fitnah merujuk pada makna <em>kekacauan</em>. Pada QS al-Baqarah/2: 217 term fitnah berarti <em>penganiayaan (penindasan)</em>. Dalam QS Âli &#8216;Imrân/3: 7 term fitnah berarti <em>keraguan dan kesamaran</em>. Pada QS al-Nisâ`/4: 91 term fitnah bermakna <em>syirik</em>. Dalam QS al-Mâ`idah/5: 41 term fitnah berarti <em>kesesatan</em>. Pada QS al-Mâ`idah/5: 71 term fitnah berarti <em>bencana</em>. Pada QS al-An&#8217;âm/6: 23 term fitnah berarti <em>jawaban dusta</em> (<em>kedustaan</em>). Dalam QS al-Anfâl/8: 39 term fitnah berarti <em>gangguan</em>. Dalam QS Yûnus/10: 85 dan al-Mumta<span style="text-decoration:underline;">h</span>anah/60: 5 term fitnah berarti <em>sasaran kezaliman</em>. Dalam QS al-Isrâ`/17: 60 dan al-Zumar/39: 49 term fitnah berarti <em>ujian</em>. Dalam QS al-<span style="text-decoration:underline;">H</span>ajj`/22: 11 term fitnah berarti <em>bencana</em>. Dalam QS al-&#8217;Ankabût/29: 10 term fitnah berarti <em>penganiayaan</em>. Pada QS al-A<span style="text-decoration:underline;">h</span>zâb/33: 14 term fitnah berarti <em>murtad</em>. Dan dalam QS al- Shâffât/37: 63 term fitnah berarti <em>siksaan</em>.</p>
<p>4.      <em>Isim Fâ&#8217;il </em>(فَاتِنِينَ)</p>
<p>Term ini terdapat dalam QS al- Shâffât/37: 162 dan berarti <em>orang-orang yang menyesatkan</em>.</p>
<p>5.      <em>Isim Maf&#8217;ûl </em>(مَفْتُونُ)</p>
<p>Term ini terdapat dalam QS al-Qalam/68: 6 dan berarti <em>gila</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>D. </strong><strong>Term-term yang Berhubungan dengan Term Fitnah</strong></p>
<p>Dalam QS al-Nisâ`/4: 101 term fitnah yang berarti <em>serangan</em> ditimbulkan oleh orang-orang kafir. Dalam QS al-A&#8217;râf/7: 27 term fitnah berarti <em>tipuan</em>. Dalam ayat ini tipuan tersebut dilakukan oleh setan. Dalam QS al-Tawbah/9: 126 dinyatakan bahwa orang-orang munafik difitnah dalam arti <em>diuji</em>, tapi mereka tidak juga bertobat dan tidak pula mengambil pelajaran. Pada QS Yûnus/10: 83 disebutkan bahwa fitnah yang berarti <em>siksaan</em> berasal dari Fir`aun dan pemuka-pemuka kaumnya. Dalam QS al-Isrâ`/17: 73 dinyatakan bahwa orang-orang kafir hampir mem-fitnah dalam arti <em>memalingkan</em> orang-orang Mukmin dari apa yang telah diwahyukan Allah.</p>
<p>Dalam QS Thâhâ/20: 131 term fitnah berarti <em>cobaan</em> berupa bunga kehidupan dunia di mana orang-orang Mukmin dilarang mengarahkan matanya kepada orang-orang yang mendapat cobaan tersebut. Pada QS al-Naml/27: 47 dinyatatakan bahwa kaum yang mendapat fitnah yang berarti ujian adalah kaum Nabi Shaleh. Dalam QS al-&#8217;Ankabût/29: 2 dinyatakan bahwa orang-orang yang secara lisan telah mengatakan beriman akan mendapat fitnah dalam arti <em>ujian</em>. Sedang dalam ayat selanjutnya (ayat 3) disebutkan bahwa Allah telah memfitnah dalam arti <em>menguji</em> orang-orang terdahulu yang dengan ujian itu diketahui mana orang-orang yang benar dan mana orang-orang yang dusta.</p>
<p>Dalam QS al-Dzâriyât/51: 13 disebutkan bahwa pada hari pembalasan orang-orang durhaka akan mendapatkan fitnah dalam arti <em>azab</em> di atas api neraka. Dalam QS al-Baqarah/2: 102 dinyatakan bahwa apa yang diajarkan oleh dua malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut, kepada manusia sebagai fitnah dalam arti <em>cobaan</em> bagi mereka. Dalam QS al-Baqarah/2: 191 ditegaskan bahwa fitnah dalam arti <em>kekacauan</em> yang disulut oleh orang-orang kafir lebih besar bahayanya dari pembunuhan. Dalam QS al-Baqarah/2: 193 Allah menyuruh memerangi orang-orang kafir yang menyulut fitnah dalam arti <em>kekacauan</em> agar ketaatan hanya semata-mata untuk Allah.</p>
<p>Dalam QS al-Baqarah/2: 217 ditegaskan bahwa fitnah dalam arti <em>penganiayaan </em>atau<em> penindasan</em> yang dilakukan oleh orang-orang kafir lebih besar dosanya daripada membunuh. Dalam QS Âli &#8216;Imrân/3: 7 disebutkan bahwa orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang <em>mutasyâbihât</em> untuk menimbulkan fitnah dalam arti <em>keraguan</em> dan <em>kesamaran</em>. Dalam QS al-Nisâ`/4: 91 disebutkan bahwa akan didapati golongan yang setiap mereka diajak kembali kepada fitnah dalam arti <em>syirik</em>, mereka pun terjun ke dalamnya. Dalam QS al-Mâ`idah/5: 41 dinyatakan bahwa barangsiapa yang Allah menghendaki fitnahnya dalam arti <em>kesesatannya</em>, maka sekali-kali kita tidak akan mampu menolak sesuatu pun yang datang daripada-Nya.</p>
<p>Dalam QS al-Mâ`idah/5: 71 disebutkan bahwa para pembunuh para nabi mengira bahwa tidak akan terjadi suatu fitnah dalam arti <em>bencana</em> terhadap mereka dengan membunuh nabi-nabi itu. Dalam QS al-An&#8217;âm/6: 23 dinyatakan bahwa fitnah dalam arti <em>jawaban dusta</em> dari orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya adalah: &#8220;Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah.&#8221; Dalam QS al-A&#8217;râf/7: 155 disebutkan bahwa gempa bumi yang menggoncang tujuh puluh orang yang dipilih Nabi Musa dari kaumnya untuk memohonkan tobat kepada Allah sebagai fitnah dalam arti <em>cobaan</em> dari-Nya. Dalam QS al-Anfâl/8: 25 dinyatakan bahwa fitnah dalam arti <em>azab </em>di dunia tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja.</p>
<p>Dalam QS al-Anfâl/8: 28 ditegaskan bahwa harta dan anak-anak hanyalah fitnah dalam arti <em>cobaan</em>. Dalam QS al-Anfâl/8: 39 Allah memerintahkan memerangi kaum kafir yang menimbulkan fitnah dalam arti <em>gangguan</em> supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Dalam QS al-Anfâl/8: 73 ditegaskan bahwa jika kaum Muslimin tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah, niscaya akan terjadi fitnah dalam arti <em>kekacauan</em> di muka bumi dan kerusakan yang besar. Dalam QS al-Tawbah/9: 47 dinyatakan bahwa fitnah dalam arti <em>kekacauan</em> ditimbulkan oleh orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian serta hati mereka diliputi keragu-raguan. Dalam ayat selanjutnya (ayat 48) disebutkan bahwa mereka itu dari dahulu telah mencari-cari fitnah dalam arti <em>kekacauan</em>. Sedang dalam ayat 49 dinyatakan bahwa meskipun mereka menginginkan tidak terjerumus dalam fitnah (kekacauan), sesungguhnyalah mereka telah terjerumus ke dalamnya.</p>
<p>Dalam QS Yûnus/10: 85 disebutkan bahwa orang-orang yang beriman kepada Nabi Musa memohon kepada Allah agar mereka tidak dijadikan sasaran fitnah yang ditimbulkan oleh kaum yang zalim. Dalam QS al-Isrâ`/17: 60 disebutkan bahwa mimpi yang telah Allah perlihatkan kepada Muhammad sebagai fitnah dalam arti <em>ujian</em> bagi manusia. Dalam QS al-Anbiyâ`/21: 35 dinyatakan bahwa keburukan dan kebaikan sebagai fitnah dalam arti <em>cobaan</em>. Dalam QS al-<span style="text-decoration:underline;">H</span>ajj`/22: 11 disebutkan bahwa ada orang yang jika ditimpa suatu fitnah dalam arti <em>bencana</em> ia kembali kepada kekafiran.</p>
<p>Dalam QS al-<span style="text-decoration:underline;">H</span>ajj`/22: 53 dinyatakan bahwa godaan setan merupakan fitnah dalam arti <em>cobaan</em> bagi orang-orang yang kasar hatinya dan orang yang dalam hatinya ada penyakit. Dalam QS al-Nûr/24: 63 ditegaskan bahwa orang-orang yang menyalahi perintah Rasul hendaklah takut akan ditimpa fitnah berupa <em>cobaan</em> atau azab yang pedih. Dalam QS al-Furqân/25: 20 ditegaskan bahwa Allah menjadikan sebagian kita sebagai fitnah yang berarti <em>cobaan</em> bagi sebagian lainnya. Pada QS al-&#8217;Ankabût/29: 10 dinyatakan bahwa ada orang yang mengaku beriman kepada Allah, tetapi ketika ia mendapat fitnah dalam arti <em>penganiayaan</em> dari manusia ia menganggap fitnah itu sebagai azab Allah.</p>
<p>Dalam QS al-A<span style="text-decoration:underline;">h</span>zâb/33: 14 disebutkan bahwa kalau kota Yatsrib diserang dari segala penjuru, kemudian orang-orang munafik dan orang-orang yang hatinya berpenyakit diminta supaya melakukan fitnah dalam arti <em>murtad</em>, niscaya mereka mengerjakannya. Dalam QS al- Shâffât/37: 63 disebutkan bahwa Allah menjadikan pohon zaqqum sebagai fitnah dalam arti <em>siksaan</em> bagi orang-orang yang zalim. Dalam QS al-Zumar/39: 49 dinyatakan bahwa bahaya dan nikmat merupakan fitnah dalam arti <em>ujian</em>. Dalam QS al-Qamar/54: 27 disebutkan bahwa unta betina yang keluar dari batu merupakan fitnah dalam arti <em>cobaan</em> bagi kaum Nabi Shaleh. Dalam QS al-Mumta<span style="text-decoration:underline;">h</span>anah/60: 5 disebutkan bahwa Nabi Ibrahim pernah memohon kepada Allah supaya tidak menjadikan dirinya sebagai fitnah dalam arti <em>sasaran fitnah</em> bagi orang-orang kafir.</p>
<p>Dalam QS al-Taghâbun/64: 15 ditegaskan bahwa harta dan anak-anak hanyalah fitnah dalam arti <em>cobaan</em>. Dalam QS al-Mudatstsir/74: 31 disebutkan bahwa bilangan para malaikat penjaga neraka merupakan fitnah dalam arti <em>cobaan</em> bagi orang-orang kafir. Dalam QS al-Dzâriyât/51: 13-14 dinyatakan bahwa pada hari pembalasan kelak orang-orang durhaka difitnah dalam arti <em>diazab</em> di atas api neraka. Dalam QS al- Shâffât/37: 162 ditegaskan bahwa siapa pun tidak dapat mem-fitnah dalam arti <em>menyesatkan</em> seseorang terhadap Allah. Sedang dalam QS al-Qalam/68: 6 disebutkan bahwa orang-orang kafir yang biasa mengolok-olok Muhammad gila akhirnya akan tahu siapa di antara mereka yang sebenarnya terkena fitnah dalam arti <em>gila</em>.</p>
<p><strong>E. </strong><strong>Wawasan al-Qur`an Tentang </strong><strong><em>Fitnah</em></strong><strong> </strong></p>
<p>1.      <em>Bentuk-bentuk Fitnah</em></p>
<p>Dari data tentang ayat-ayat fitnah di atas diperoleh banyak sekali arti dan bentuk fitnah dalam al-Qur`an. Sebagai berikut:</p>
<p>-          Permusuhan/serangan seperti terlihat dalam QS al-Nisâ`/4: 101.</p>
<p>-          Siksaan sebagaimana termaksud dalam QS. Yûnus/10: 83.<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>-          Upaya memalingkan seperti terdapat dalam QS al-Mâ`idah/5: 49.<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>-          Tipuan sebagaimana termaksud dalam QS al-A&#8217;râf/7: 27.</p>
<p>-          Ujian sebagaimana disebutkan dalam banyak ayat seperti QS al-Tawbah/9: 126.<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>-          Azab  sebagaimana termaksud dalam QS al-Dzâriyât/51: 13.</p>
<p>-          Cobaan seperti termaksud dalam QS Thâhâ/20: 131.<a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>-          Kekacauan seperti termaksud dalam QS al-Baqarah/2: 191.<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>-          Penindasan seperti termaksud dalam QS al-Baqarah/2: 217.</p>
<p>-          Keraguan dan kesamaran sebagaimana terdapat dalam QS Âli &#8216;Imrân/3: 7:</p>
<p>-          Syirik sebagaimana termaksud dalam QS al-Nisâ`/4: 91.</p>
<p>-          Kesesatan seperti termaksud dalam QS al-Mâ`idah/5: 41.<a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>-          Bencana sebagaimana termaksud dalam QS al-Mâ`idah/5: 71.<a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>-          Jawaban dusta sebagaimana termaksud dalam QS al-An&#8217;âm/6: 23.</p>
<p>-          Penganiayaan sebagaimana termaksud dalam QS al-&#8217;Ankabût/29: 10.</p>
<p>-          Murtad seperti termaksud dalam QS al-Ahzâb/33: 14.</p>
<p>-          Gila seperti termaksud dalam QS al-Qalam/68: 6.</p>
<p>Dari banyak term berikut arti dan bentuk fitnah di atas serta sejumlah ayat yang memuatnya, dalam tulisan ini akan dibahas tiga ayat saja yang—dalam hemat penulis—paling sering muncul dalam perbincangan mengenai fitnah dalam kehidupan keseharian. Yaitu QS al-Baqarah/2: 191, 217 dan QS al-Anfâl/8: 28.</p>
<p>- QS al-Baqarah/2: 191:</p>
<p>وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ</p>
<p><em>Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan</em>.</p>
<p>Dengan ayat ini Allah, kata al-Thabarî, memerintahkan kaum Mukmin untuk memerangi orang-orang yang memerangi mereka, yaitu kaum musyrik. &#8220;Bunuh dan perangi mereka di mana pun kalian dapat melakukanya.&#8221; Mereka (kaum musyrik) telah mengusir kaum Muhajirin dari tanah air dan tempat tinggal mereka di Mekah. Kepada kaum Muhajrin Allah berkata: &#8220;Usirlah mereka yang memerangi kalian dan telah mengusir kalian dari tempat tinggal dan tanah air kalian (Mekah), sebagaimana mereka telah mengusir kalian darinya.&#8221;<a href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p><em>&#8220;Dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan.&#8221;</em> Membuat kekacauan di muka bumi, mengusir kaum  Mukmin dari tanah air dan tempat tinggal mereka, menyakiti, menggangu, menganiaya kaum Mukmin karena agama yang mereka yakini, semua itu merupakan fitnah terhadap agama. Fitnah terhadap agama merupakan penganiayaan terhadap sesuatu yang paling suci dan agung dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, ia lebih bahaya dari membunuh jiwa atau menghilangkan nyawa. Sama saja apakah fitnah ini baru berupa ancaman atau berupa tindakan nyata mengganggu (menyakiti), atau menimbulkan suasana kacau yang menyesatkan manusia, merusak dan menjauhkan mereka dari agama Allah.</p>
<p>Hal termulia dalam diri manusia adalah kebebasan beragama dan berkeyakinan. Berangsiapa merampas kebebasan ini dari seseorang, atau berupaya memalingkannya dari agama yang diyakininya secara langsung atau tidak, maka ia dihukum dengan hukuman yang lebih berat dari hukuman pembunuhan. Karena beratnya hukuman itu, ayat kemudian menggunakan kata وَاقْتُلُوهُمْ (bunuhlah mereka) bukan وقاتلوهم (perangilah mereka). &#8220;Bunuhlah mereka di mana pun kalian menjumpai mereka, dalam keadaan apa pun mereka, dan dengan cara apa pun yang kalian miliki.&#8221; Tentu saja dengan tetap menjaga etika Islam seperti tidak membunuh secara berlebihan, tidak membunuh dengan cara membakar, dan tidak melakukannya di Masjid Haram, kecuali terhadap orang-orang kafir yang tidak mengindahkan kehormatan masjid ini di mana mereka memulai memerangi kaum Muslim di masjid tersebut.<a href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p>- QS al-Baqarah/2: 217:</p>
<p>يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِنْدَ اللَّهِ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ</p>
<p><em>Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: &#8220;Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh</em>.</p>
<p>Ayat ini turun dalam rangka menegaskan kemuliaan bulan haram dan bahwa berperang dalam bulan ini merupakan dosa besar. Ya, memang demikian. Akan tetapi, menghalangi manusia dari jalan Allah, kafir kepada-NYa, menghalangi masuk Masjid Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar dosanya di sisi Allah.</p>
<p>Kaum Muslim tidak memulai perang. Mereka tidak memulai mengadakan serangan. Kaum kafirlah yang menghalangi manusia dari jalan Allah, kafir kepada-Nya dan menghalangi masuk Masjid Haram. Mereka telah melakukan segala dosa besar untuk menghalangi manusia dari jalan Allah. Mereka telah kafir kepada Allah dan menjadikan manusia kafir kepada-Nya. Mereka telah berbuat kafir terhadap Masjid Haram; melanggar kemuliaannya dengan mengganggu kaum Muslim di dalamnya, serta menganiaya kaum Muslim selama 13 tahun sebelum hijrah. Mereka telah mengusir penduduk tanah haram darinya padahal Allah telah menjadikannya tempat yang aman.</p>
<p>Mengusir penduduk tanah haram lebih besar dosanya di sisi Allah dari perang di bulan haram. Dan berbuat aniaya terhadap manusia karena agama dan keyakinan mereka lebih besar bahayanya di sisi Allah dari pembunuhan. Kaum musyrikin telah melakukan dua dosa besar ini. Maka, kejahatan dan kezaliman mereka yang lebih besar dosa dan bahayanya daripada berperang di bulan haram itu, harus ditumpas di manapun dan kapan pun; di bulan haram sekalipun.<a href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p>- QS al-Anfâl/8: 28:</p>
<p>وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ</p>
<p><em>Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar</em>.</p>
<p>Kata <em>fitnah</em> pada ayat di atas, menurut Ibn Katsîr, berarti <em>ikhtibâr wa imti<span style="text-decoration:underline;">h</span>ân</em> (cobaan dan ujian). Berdasarkan ayat ini, harta dan anak-anak merupakan cobaan dan ujian dari-Nya bagi manusia yang mendapatkan keduanya supaya diketahui apakah mereka bersyukur kepada-Nya atas harta dan anak-anak itu serta menaati-Nya, ataukah mereka disibukan dan dipalingkan dengan keduanya dari-Nya. Senada dengan ayat ini, QS al-Taghâbun/64: 14, 51, al-Anbiyâ`/21: 53, dan al-Munâfiqûn/63: 9.</p>
<p>Jika harta dan anak-anak hanya cobaan, maka di sisi Allah-lah pahala yang besar. Pahala, karunia dan surga-Nya lebih baik dari harta dan anak-anak. Sebab terkadang ada di antara mereka yang malah menjadi musuh dan banyak pula yang tidak mampu memberi kebaikan apa-apa. Allah-lah Pangatur dan Pemilik dunia dan akhirat. Di sisi-Nya pahala yang banyak di hari kiamat. Demikian Ibn Katsîr mengomentari ayat ini.<a href="#_ftn12">[12]</a> Menguatkan pernyataannya ini, ia mengutip hadits:</p>
<p>Ada tiga hal yang jika dimiliki seseorang maka ia akan menemukan manisnya iman. Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya; mencintai seseorang dan ia tidak mencintanya melainkan karena Allah; dan ia lebih suka dilemparkan ke dalam api daripada kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya darinya (HR. al-Bukhârî).</p>
<p>Bahkan, demikian Ibn Katsîr, kecintaan kepada Rasulullah Saw. harus melebihi kecintaan pada anak-anak, harta dan jiwa. Sebagaimana sabda beliau:</p>
<p>Demi Zat Yang jiwaku di Tangan-Nya, tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga aku lebih ia cintai dari dirinya, keluarganya, hartanya dan manusia seluruhnya (HR. al-Bukhârî dan Muslim).<a href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p>2.      <em>Pelaku Fitnah</em><em></em></p>
<p>Dari data tentang ayat-ayat fitnah, diperoleh keterangan bahwa para pelaku fitnah itu antara lain:</p>
<p>a.      Orang-orang Kafir</p>
<p>Fitnah yang dilakukan oleh orang-orang kafir berupa:</p>
<p>1)      Serangan atau permusuhan terhadap kaum Mukmin seperti dapat dibaca dalam QS al-Nisâ`/4: 101.</p>
<p>2)      Upaya memalingkan orang-orang Mukmin dari apa yang telah diwahyukan Allah sebagai mana terbaca dalam QS al-Isrâ`/17: 73.</p>
<p>3)      Kekacauan sebagaimana terlihat dalam QS al-Baqarah/2: 191, 193 dan al-Tawbah/9: 47, 48 dan 49.</p>
<p>4)      Penganiayaan atau penindasan sebagaimana terdapat dalam QS al-Baqarah/2: 217 dan al-Mumta<span style="text-decoration:underline;">h</span>anah/60: 5.</p>
<p>5)      Gangguan sebagaimana terlihat dalam QS al-Anfâl/8: 39.</p>
<p>6)      Olok-olok seperti terbaca dalam QS al-Qalam/68: 6.</p>
<p>b.      Setan</p>
<p>Fitnah yang dilakukan oleh setan adalah berupa tipuan, sebagaimana terlihat dalam QS al-A&#8217;râf/7: 27.</p>
<p>c.       Fir&#8217;aun dan Para Pemukanya</p>
<p>Fitnah yang dilakukan oleh Fir&#8217;aun dan para pemukanya adalah berupa siksaan, seperti terlihat dalam QS al-Yûnus/10: 83.</p>
<p>d.      Malaikat Harut dan Marut</p>
<p>Fitnah dalam arti cobaan yang dilakukan oleh malaikat Harut dan Marut adalah berupa ilmu sihir yang mereka ajarkan kepada manusia, seperti terbaca dalam QS al-Baqarah/2: 102.</p>
<p>e.      Orang-orang yang Hatinya Condong pada Kesesatan</p>
<p>Fitnah yang mereka lakukan adalah dengan menimbulkan keraguan dan kesamaran seperti dapat dibaca dalam QS Âli &#8216;Imrân/3: 7.</p>
<p>f.        Orang-orang yang Mendustakan Allah dan Ayat-ayat-Nya</p>
<p>Fitnah yang mereka lakukan adalah berupa jawaban dusta sebagaimana terlihat dalam QS al-An&#8217;âm/6: 23.</p>
<p>g.      Orang-orang Zalim</p>
<p>Fitnah yang mereka lakukan adalah berupa kezaliman sebagaimana terlihat dalam QS Yûnus/10: 85 dan al-Anfâl/8: 25.</p>
<p>h.      Allah</p>
<p>Beberapa ayat menunjukkan bahwa Allah melakukan fitnah dalam arti:</p>
<p>1)            Memberi cobaan, sebagaimana terdapat dalam QS al-Furqân/25: 20, al-Anfâl/8: 28, al-A&#8217;râf/7: 155, al-Anbiyâ`/21: 35, Thâhâ/20: 131, al-Taghâbun/64: 15, al-Mudatstsir/74: 31 dan al-Qamar/54: 27.</p>
<p>2)            Menguji, seperti dinyatakan dalam QS al-Naml/27: 47, al-Isrâ`/17: 60, al-Zumar/39: 49 dan al-&#8217;Ankabût/29: 2-3.</p>
<p>3)            Menimpakan azab, seperti terlihat dalam QS al-Dzâriyât/51: 13 dan al-Shâffât/37: 63.</p>
<p>4)            Menghendaki kesesatan seseorang sebagaimana terbaca dalam QS al-Mâ`idah/5: 41.</p>
<p>5)            Memimpakan bencana, sebagaimana dapat terbaca dalam QS al-<span style="text-decoration:underline;">H</span>ajj/22: 11.</p>
<p>Dari para pelaku fitnah di atas, beberapa di antaranya menarik untuk dibahas lebih lanjut. Di antaranya:</p>
<p>-            Setan</p>
<p>Ayat terkait yang akan dibahas adalah QS al-A&#8217;râf/7: 27:</p>
<p>يَابَنِي ءَادَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ</p>
<p><em>Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya `auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman</em>.</p>
<p>Dengan ayat ini Allah, seperti dikatakan al-Baydhâwî, mengingatkan manusia agar tidak tertipu oleh setan. Tipuan setan kepada manusia adalah bahwa ia menghalangi mereka masuk surga dengan jalan menyesatkan mereka, sebagaimana ia telah menipu Adam dan Hawa dengan mengeluarkan keduanya dari surga. Larangan <em>janganlah sekali-kali kamu</em> …bermakna, &#8220;Janganlah kalian mengikuti setan dan tertipu olehnya.&#8221;</p>
<p>Salah satu alasan sekaligus penegasan mengapa manusia jangan sampai tertipu (disesatkan) oleh setan terdapat dalam penggalan ayat &#8220;<em>Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kalian dari suatu tempat yang kalian tidak bisa melihat mereka.</em>&#8221; Dijadikannya setan pemimpin bagi orang yang tidak beriman adalah karena di antara keduanya terdapat kesesuaian (<em>tanâsub</em>). Atau karena setan telah berhasil menundukan orang kafir menjadi manusia hina serta membawanya kepada apa yang diinginkan setan.<a href="#_ftn14">[14]</a></p>
<p>-       Orang-orang Zalim</p>
<p>Ayat terkait yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah QS al-Anfâl/8: 25:</p>
<p>وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ</p>
<p><em>Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya</em>.</p>
<p>Al-Thabârî menjelaskan bahwa dengan ayat ini Allah berkata kepada orang-orang yang beriman: &#8220;Takutlah, wahai orang-orang yang beriman, akan fitnah (ujian dan bencana) yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja. Yaitu orang-orang yang mengerjakan sesuatu yang telah dilarang; baik dosa-dosa besar yang berhubungan dengan sesama manusia (<em>ijrâm</em>) maupun dosa-dosa yang berhubungan dengan Tuhan.&#8221;<a href="#_ftn15">[15]</a></p>
<p>Al-Qur`an, seperti dikatakan Jalaluddin Rakhmat dalam <em>The Road to Allah</em>, menjelaskan bahwa akibat amal itu tidak hanya akan menimpa palakunya, tetapi juga orang-orang yang tidak bersalah. Mereka mungkin saja anak-anak, masyarakat sekitar, bangsa, dan negara:</p>
<p><em>Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat</em> (QS al-Na<span style="text-decoration:underline;">h</span>l/16: 112).</p>
<p><em>Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, Maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, Maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami), Kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya</em> (QS al-Isrâ`/17: 16).</p>
<p>Orang yang berbuat jahat di suatu negeri itu bisa jadi hanya sebagian kecil. Tetapi kehancuran akan diderita oleh seluruh bangsa. Penderitaan kita sekarang, demikian Jalaluddin Rakhmat, adalah perwujudan dari amal buruk sebagian dari bangsa kita. Beberapa orang di antara kita mengambil kekayaan negara, dan jutaan orang harus membayar utang. Segelintir orang merusak hutan, tetapi semua makhluk menderita.<a href="#_ftn16">[16]</a></p>
<p>Sampai di sini, mungkin ada yang bertanya, apakah ini bertentangan dengan prinsip keadilan Ilahi? Seseorang berbuat salah, tapi orang lain menanggung akibatnya. Bukankah Tuhan berkata: <em>&#8220;Tidaklah seseorang akan menanggung dosa yang lain.&#8221;</em> Jawabnya singkat. Yang tidak akan ditanggung adalah dosa. Dampak atau akibat akan mengenai bukan hanya kepada yang berbuat dosa, sebagaimana dinyatakan dalam QS al-Anfâl/8: 26 di atas. Seperti seorang bapak yang membakar rumahnya. Di rumah itu ada anaknya yang sedang tidur pulas, anak itu mati terbakar. Bapak yang membakar tentu saja masih hidup. Anak itu dikenai dampak dosa bapaknya, tetapi dia tidak menganggung dosa apa pun. Dia bahkan mendapat pahala mati syahid, karena menjadi korban kekejaman bapaknya. Si bapak menanggung dosa berlipat ganda sesuai dengan jumlah korban yang menderita karena dampak dosanya.<a href="#_ftn17">[17]</a></p>
<p>2.      <em>Sasaran Fitnah</em><em></em></p>
<p>Hampir semua ayat yang terdapat term fitnah di dalamnya menunjukkan siapa atau apa yang menjadi objek atau sasaran fitnah. QS al-An&#8217;âm/6: 53 menunjukkan bahwa yang menjadi sasaran fitnah (ujian) dari Allah adalah orang-orang kaya. Yang menjadi bahan ujiannya adalah orang-orang miskin. QS Thâhâ/20: 40 menyebutkan bahwa yang menjadi sasaran fitnah (cobaan) dari Allah adalah Nabi Mûsâ. Pada ayat 85 surat yang sama disebutkan bahwa yang menjadi sasaran fitnah (ujian) dari Allah adalah kaum Nabi Mûsâ. Sedang pada ayat 90 surat ini ditunjukkan bahwa yang menjadi sasaran fitnah (cobaan) berupa anak lembu adalah kaum Nabi Hârûn. Sementara itu pada ayat 131 masih pada surat yang sama ditunjukkan bahwa yang menjadi sasaran fitnah (cobaan) berupa bunga kehidupan dunia adalah seluruh manusia.</p>
<p>Dalam QS Shâd/38: 24 ditunjukkan bahwa yang mendapat fitnah (ujian) dari Allah adalah Nabi Dâwud. Sedang pada ayat 34 surat yang sama disebutkan bahwa yang mendapat fitnah (ujian) dari Allah adalah Nabi Sulaymân. Dalam QS al-Dukhân/44: 17 ditunjukkan bahwa yang mendapat fitnah (ujian) adalah kaum Fir&#8217;aun. QS al-Burûj/85: 10 dan al-Na<span style="text-decoration:underline;">h</span>l/16: 110 menunjukkan bahwa yang mendapat fitnah (cobaan) adalah kaum Mukmin.</p>
<p>QS al-Mâ`idah/5: 71 mengisyaratkan bahwa para pembunuh para nabi mendapat fitnah (bencana) akibat pembunuhan atas para nabi itu. QS al-A&#8217;râf/7: 155 menunjukkan bahwa 70 orang yang dipilih Nabi Mûsâ dari kaumnya untuk memohonkan tobat kepada Allah, mendapat fitnah (cobaan) berupa gempa bumi. QS al-Tawbah/9: 126 menunjukkan bahwa orang-orang munafik mendapatkan fitnah (ujian) supaya mereka bertobat dan mendapat pelajaran, tapi mereka tidak mau bertobat tidak pula mengambil pelajaran. Dalam QS al-&#8217;Ankabût/29: 2 dan 10 disebutkan bahwa orang-orang yang secara lisan telah berkata iman akan mendapat fitnah (ujian). Pada ayat 3 surat ini dijelaskan bahwa orang-orang terdahulu telah mendapat fitnah (ujian) dari Allah.</p>
<p>Dalam QS al-Dzâriyât/51: 13 dijelaskan bahwa orang-orang durhaka akan mendapat fitnah (azab) pada hari pembalasan kelak. QS al-Isrâ`/17: 60 menyebutkan bahwa yang mendapatkan fitnah (ujian) dari Allah berupa mimpi yang diperlihatkan kepada Nabi Saw. adalah manusia. Dalam QS al-Naml/27: 47 disebutkan bahwa yang mendapat fitnah (ujian) berupa kambing betina adalah kaum Nabi Shaleh. QS al-Jinn/72: 17 menunjukkan bahwa manusia yang tetap berjalan lurus di atas agama Islam, akan mendapat fitnah (cobaan) dari Allah berupa rezki yang banyak. QS al-Anfâl/8: 25 menunjukkan bahwa orang-orang yang zalim dan orang-orang yang ada di sekitarnya akan mendapat fitnah (bencana) akibat ulah orang-orang zalim itu. Ayat 39 surat yang sama menunjukkan bahwa orang-orang yang mendapat fitnah (gangguan dan penyiksaan) dari orang-orang kafir adalah orang-orang yang beriman.</p>
<p>QS al-<span style="text-decoration:underline;">H</span>ajj/22: 53 menyatakan bahwa orang-orang yang hatinya kasar dan berpenyakit merupakan sasaran fitnah (cobaan dan godaan) yang dilakukan setan. QS al-Furqân/25: 20 menyatakan bahwa sebagian manusia merupakan sasaran fitnah (cobaan) bagi sebagian lainnya. QS al-Mudatstsir/74: 31 menyatakan bahwa yang menjadi sasaran fitnah (cobaan), berupa bilangan para malaikat penjaga neraka, adalah orang-orang kafir. QS al-Shâffât/37: 63 menyebutkan bahwa yang menjadi sasaran fitnah (azab akhirat) berupa pohon zaqqum adalah orang-orang zalim.</p>
<p>Dari sejumlah pihak (objek) yang menjadi sasaran fitnah di atas, yang menarik untuk sekilas dibahas lebih lanjut adalah yang disebut dalam QS al-An&#8217;âm/6: 53, Thâhâ/20: 131, dan al-&#8217;Ankabût/29: 10.</p>
<p>-            QS al-An&#8217;âm/6: 53:</p>
<p>وَكَذَلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لِيَقُولُوا أَهَؤُلَاءِ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِنَا أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِينَ</p>
<p><em>Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata: &#8220;Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?&#8221; (Allah berfirman): &#8220;Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?&#8221;</em></p>
<p>Ayat ini berhubungan erat dengan dua ayat sebelumnya; ayat 51-52:</p>
<p><em>Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan kepada Tuhannya (pada hari kiamat), sedang bagi mereka tidak ada seorang pelindung dan pemberi syafa`atpun selain daripada Allah, agar mereka bertakwa. </em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedang mereka menghendaki keredhaan-Nya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim.</em></p>
<p>Jalaluddîn al-Suyûthî mengutip riwayat dari Ibn Mas&#8217;ûd yang melaporkan bahwa pada suatu hari sekelompok tokoh Quraisy menemui Nabi Saw. yang ketika itu sedang bersama Shuhayb, &#8216;Ammâr, Bilâl, Khabbâb dan orang-orang Islam dari kalangan kaum dhu&#8217;afa lainnya. Para pentolan Quraisy itu berkata: &#8220;Hai Muhammad, apakah kamu rela jika di antara kami (justru) kaummu itu yang mendapat anugerah dari Allah, atau haruskah kami mengikuti mereka? Usirlah mereka darimu, supaya jika kamu mengusir mereka, kami mengikutimu.&#8221; Maka turunlah firman-Nya: <em>&#8220;Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan kepada Tuhannya…</em>sampai…<em>Dan Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang zalim</em> (QS al-An&#8217;âm/6: 51-58).<a href="#_ftn18">[18]</a></p>
<p>Berdasarkan riwayat ini maka yang dimaksud<em> mereka</em> <em>(orang-orang yang kaya) </em>dalam QS al-An&#8217;âm/6: 53 di atas adalah para pemuka Quraisy, sedangkan<em> mereka (orang-orang miskin) </em>adalah para pengikut awal Nabi Saw. dari kalangan kaum lemah dan kaum kecil lainnya.</p>
<p>QS al-An&#8217;âm/6: 53 menjelaskan bahwa Allah menguji para pemuka Quraisy itu  dengan para pengikut awal Nabi Saw dari kalangan kaum lemah dan kaum kecil lainnya. Seperti biasa, dengan nada mengejek dan menghina para pentolan Quraisy itu berkata: &#8220;Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?&#8221;<a href="#_ftn19">[19]</a> <em></em></p>
<p>-            Thâhâ/20: 131:</p>
<p>وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى</p>
<p><em>Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.</em><em></em></p>
<p>Menujukan mata pada sesuatu berarti memperlama pandangan mata sehingga nyaris tidak mau menghentikannya karena menilai indah dan mengagumi sesuatu itu seraya berharap menjadi miliknya, seperti yang dilakukan oleh orang-orang ketika melihat harta milik Qârûn. Ketika itu mereka berkata: <em>&#8220;Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qârûn. Sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar&#8221; </em>(QS al-Qashash/28: 79). Sampai orang-orang yang berilmu dan beriman mengingatkan mereka yang kagum dengan harta milik Qârûn itu: <em>&#8220;Kecelakaan yang besarlah bagi kalian, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh&#8221;</em> (QS al-Qashash/28: 80).<a href="#_ftn20">[20]</a></p>
<p>Dari penjelasan di atas, seperti dikatakan al-Zamakhsyarî, dapat diambil kesimpulan bahwa dimaafkan pandangan mata atas sesuatu yang indah, menarik dan mengagumkan tapi dilakukan hanya sebentar saja lalu pandangan mata dipalingkan darinya. Larangan pada penggalan <em>&#8220;dan janganlah kamu tujukan kedua matamu</em><em>&#8230;&#8221;</em> ditujukan terhadap pandangan mata yang terfokus pada bunga kehidupan dunia sehingga menimbulkan kekaguman dan kecintaan atas keindahan dunia tersebut. Orang-orang beriman dan bertakwa diwajibkan memalingkan mata dari keindahan dan kemewahan dunia yang dengannya Allah menguji golongan-golongan dari orang kafir.</p>
<p>Ayat juga memberi penjelasan mengapa orang-orang beriman tidak boleh memusatkan matanya pada keindahan dunia dan memenuhi hatinya dengan kekaguman pada keindahan tersebut. Yaitu karena <em>karunia Tuhan adalah lebih baik dan lebih kekal</em>. Karunia Tuhan yang lebih baik dan lebih kekal itu bisa berupa pahala dan nikmat akhirat yang disiapkan Allah bagi kaum beriman dan bertakwa. Atau beruoa nikmat Islam dan kenabian. Kenapa karunia Tuhan lebih baik dari keindahan dunia yang dimiliki beberapa golongan kaum kafir? Karena, tegas, al-Zamakhsyarî, harta kekayaan mereka umumnya diliputi harta hasil rampasan, pencurian dan harta haram lainnya. Tentu saja karunia Allah lebih baik. Sebab Dia tidak pernah menisbahkan sesuatu kepada diri-Nya kecuali yang halal dan baik.<a href="#_ftn21">[21]</a></p>
<p>-            Al-&#8217;Ankabût/29: 10:</p>
<p>وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ ءَامَنَّا بِاللَّهِ فَإِذَا أُوذِيَ فِي اللَّهِ جَعَلَ فِتْنَةَ النَّاسِ كَعَذَابِ اللَّهِ</p>
<p><em>Dan di antara manusia ada orang yang berkata: &#8220;Kami beriman kepada Allah&#8221;, maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah.</em></p>
<p>Keseluruhan surat al-&#8217;Ankabût, dari awal hingga akhirnya, terjalin dalam satu benang merah. Ia dibuka dengan pembicaraan tentang iman, ujian yang timbul akibat iman (fitnah) dan konsekuensi iman sejati. Iman bukan kata-kata lisan, melainkan kesabaran menghadapi berbagai kesulitan dan segala rintangan. Jalan iman memang dipenuhi aneka kesulitan dan bermacam rintangan. Namun, seperti dikatakan ayat, ada orang yang mengaku beriman, ketika ia disakiti karena imannya itu, ia menganggap hal itu sebagai azab-Nya. Orang seperti ini mengira bahwa iman itu ringan, tanpa beban, dan tidak menuntut selain pengucapan lisan. Tatkala ia mendapat ujian, cobaan dan gangguan dari manusia karena iman yang diucapkan dengan lidahnya, ia anggap semua penganiayaan manusia itu sebagai azab Allah.</p>
<p>Ia menghadapinya dengan panik dan keluh kesah. Maka hilanglah dalam dirinya nilai keimanan dan sirnalah dalam hatinya akidah keyakinan. Karena begitu beratnya siksaan dan gangguan dari manusia yang ia terima akibat kata iman yang baru diucapkannya secara lisan, ia sampai berkeyaninan bahwa tidak akan ada lagi siksaan setelah siksaan manusia yang dirasakannya. Yang namanya azab Allah pun baginya tidak ada. Seiring dengan keyakinan ini, hilanglah iman darinya yang sejak awal memang baru sebatas pengakuan lisan.<a href="#_ftn22">[22]</a></p>
<p>3.      <em>Penyebab Fitnah</em><em></em></p>
<p>Dalam QS al-Anfâl/8: 73 dinyatakan:</p>
<p>وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ</p>
<p><em>Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.</em><em></em></p>
<p>Dari ayat ini diperoleh kesimpulan bahwa di antara penyebab timbulnya fitnah dalam arti kekacauan adalah tidak dilaksanakannya perintah Allah oleh kaum Muslim.</p>
<p>Sementara itu dalam QS al-Nûr/24: 63 dinyatakan:</p>
<p>لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِوَاذًا فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ</p>
<p><em>Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.</em><em></em></p>
<p>Dari ayat ini dapat diambil makna bahwa di antara penyebab timbulnya fitnah dalam arti cobaan atau azab adalah menyalahi perintah Rasul.</p>
<p>Sedangkan dalam QS Yûnus/10: 83 dinyatakan:</p>
<p>فَمَا ءَامَنَ لِمُوسَى إِلَّا ذُرِّيَّةٌ مِنْ قَوْمِهِ عَلَى خَوْفٍ مِنْ فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِمْ أَنْ يَفْتِنَهُمْ وَإِنَّ فِرْعَوْنَ لَعَالٍ فِي الْأَرْضِ وَإِنَّهُ لَمِنَ الْمُسْرِفِينَ</p>
<p><em>Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa) dalam keadaan takut bahwa Fir`aun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Fir`aun itu berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas</em>.</p>
<p>Dari ayat in diperoleh keterangan bahwa salah satu penyebab fitnah dalam arti penyiksaan adalah ketidakpatuhan terhadap perintah Fir`aun dan para pemuka kaumnya. Dalam hal ini Fir&#8217;aun adalah simbol dari penguasa tiran, dan para pemuka kaumnya adalah simbol dari perangkat pendukung kekuasaan penguasa tiran itu. Di mana-mana, penguasa tiran dan perangkat kekuasaannya selalu menggunakan cara-cara intimidasi dan penyiksaan atas siapa saja yang membangkang perintah penguasa itu.</p>
<p><strong>F. </strong><em> </em><strong>Kesimpulan</strong><strong></strong></p>
<p>Secara etimologi <em>fitnah</em> memiliki arti antara lain <em>al-ibtilâ`, al-imti<span style="text-decoration:underline;">h</span>ân</em> dan <em>al-ikhtibâr</em>. Kesemuanya berarti cobaan dan ujian. Dalam al-Qur`an, term fitnah memiliki banyak makna seperti ujian dan cobaan, mencelakakan diri sendiri, menyerang, menyiksa, upaya memalingkan, menipu, azab, kekacauan, penganiayaan (penindasan), keraguan dan kesamaran, syirik, kesesatan, bencana, jawaban dusta (kedustaan), gangguan, kezaliman, murtad, siksaan, dan gila.<strong> </strong></p>
<p>Dari penelusuran terhadap term fitnah dalam al-Qur`an ditemukan keterangan bahwa term tersebut dilakukan oleh banyak pihak seperti orang-orang kafir, setan, Fir&#8217;aun dan para pemukanya, malaikat Harut dan Marut, orang-orang yang hatinya condong pada kesesatan, orang-orang yang mendustakan Allah dan ayat-ayat-Nya, orang-orang zalim, dan bahkan Allah.</p>
<p>Kecuali Allah serta malaikat Harut dan Marut, semua pelaku fitnah di atas melakukan fitnah dalam pengertian negatif. Orang-orang kafir melakukan fitnah dalam arti serangan atau permusuhan, memalingkan dari apa yang telah diwahyukan Allah, kekacauan, penganiayaan dan penindasan, gangguan, dan mengolok-olok. Setan melakukan fitnah dalam arti tipuan. Fir&#8217;aun dan para pemukanya melakukan fitnah dalam arti siksaan. Orang-orang yang hatinya condong pada kesesatan melakukan fitnah dalam arti menimbulkan keraguan dan kesamaran. Orang-orang yang mendustakan Allah dan ayat-ayat-Nya melakukan fitnah dalam arti memberikan jawaban dusta. Orang-orang zalim melakukan fitnah dalam arti kezaliman.</p>
<p>Sedangkan malaikat Harut dan Marut memberikan fitnah dalam arti memberikan cobaan. Sementara itu Allah memberikan fitnah dalam arti memberi cobaan dan ujian, menimpakan azab kepada yang berhak mendapatkannya, menghendaki kesesatan seseorang, dan menimpakan bencana akibat ulah manusia.</p>
<p>Dari ayat-ayat fitnah juga diperoleh kesimpulan bahwa jika fitnah itu berasal dari Allah, maka di antara penyebabnya adalah tidak dilaksanakannya perintah Allah oleh kaum Muslim serta penyimpangan atas perintah Rasul. Sedangkan jika fitnah itu  berasal dari penguasa tiran dan para pendukungnya—yang dalam al-Qur`an disimbolkan dengan Fir`aun dan para pemuka kaumnya, maka penyebabnya adalah ketidakpatuhan terhadap perintah penguasa tiran dan para pendukungnya itu.</p>
<p>Terakhir, namun terpenting. Sejauh penelusuran penulis atas term-term fitnah dalam al-Qur`an, tidak ditemukan term fitnah dalam arti tuduhan dusta seperti yang kita artikan selama ini ketika berkata: &#8220;Ini fitnah. Ini mengada-ada!&#8221; Namun bisa saja fitnah sebagaimana kita artikan itu menimbulkan salah satu pengertian fitnah seperti yang dimaksudkan dalam al-Qur`an misalnya kekacauan, penganiayaan, bencana atau siksaan.</p>
<p><em>Wallâh a&#8217;lam.</em><strong></strong></p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Al-Alûsî, Ma<span style="text-decoration:underline;">h</span>mûd, <em>Rû<span style="text-decoration:underline;">h</span> al-Ma’ânî fî Tafsîr al-Qur`ân al-‘Azhîm wa al-Sab’ al-Matsânî</em>, Beirut: Dâr I<span style="text-decoration:underline;">h</span>yâ` al-Turâts al-’Arabî, tt.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Al-Baydhâwî, ‘Abdullâh bin ‘Umar, <em>Anwâr al-Tanzîl wa Asrâr al-Ta`wîl Tafsir</em>, Beirut: Dâr al-Fikr, 1996.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ibn Fâris, Abû al-<span style="text-decoration:underline;">H</span>usayn A<span style="text-decoration:underline;">h</span>mad, <em>Mu’jam al-Maqâyîs fî al-Lughah</em>, Beirut: Dâr al-Fikr lî al-Thibâ’ah wa al-Nasyr wa al-Tawzî’, cet. I, 1994.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ibn Katsîr, Ismâ&#8217;îl, <em>Tafsîr al-Qur`ân al-&#8217;Azhîm</em>, Beirut: Dâr Ihyâ` al-Turâts al-&#8217;Arabî, tt.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ibn Manzhur, Muhammad bin Makram, <em>Lisân al-&#8217;Arab</em>, Beirut: Dâr Shâdir, cet. I,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Al-Ishfahanî, al-Raghib, <em>Mu’jam Mufradât Alfâzh al-Qur`ân</em>, Beirut: Dâr al-Fikr, tt.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Al-Qurthubî, Abû &#8216;Abdullâh, <em>Tafsîr al-Qurthubî</em>, Beirut: Dâr al-Kutub al-&#8217;Ilmiyah, tt.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Quthb, Sayyid, <em>Fî Zhilâl Al-Qur`an</em>, Kairo: Dâr al-Syurûq, cet. XVII, 1990.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rakhmat, Jalaluddin, <em>The Road to Allah</em>, Bandung: Mizan &amp; Muthahhari Press, cet. II, 2007.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Al-Suyûthî, Jalaludîn, <em>al-Durr al-Mantsûr</em>, Beirut: Dâr al-Fikr, tt.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Al-Thabarî, Ibn Jarîr, Muhammad, <em>Tafsîr al-Thabarî</em>, Beirut: Dâr al-Ma&#8217;rifah, 1990.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Yûsuf ’Ali, ’Abdullah, <em>The Glorious Kur`an: Translation and Commentary,</em> Lahore: Idârât al-Bu<span style="text-decoration:underline;">h</span>ûts al-’Ilmiyah wa al-Iftâ` wa al-Da’wah wa al-Irsyâd, tt.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Al-Zamakhsyarî, Ma<span style="text-decoration:underline;">h</span>mûd, <em>Tafsîr al-Kasysyâf</em>, Beirut: Dâr al-Ma&#8217;rifah, cet. I, 2005.</p>
<div>
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> Muhammad bin Makram bin Manzhur, <em>Lisân al-&#8217;Arab</em>, Beirut: Dâr Shâdir, cet. I, vol. 13, hal. 317.. Lihat pula al-Raghib al-Ishfahanî, <em>Mu’jam Mufradât Alfâzh al-Qur`ân</em>, Beirut: Dâr al-Fikr, tt., hal. 385-386, dan Abû al-<span style="text-decoration:underline;">H</span>usayn A<span style="text-decoration:underline;">h</span>mad Ibn Fâris, <em>Mu’jam al-Maqâyîs fî al-Lughah</em>, Beirut: Dâr al-Fikr lî al-Thibâ’ah wa al-Nasyr wa al-Tawzî’, cet. I, 1994, hal. 835.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Lihat juga QS. al-Shâffât/37: 63.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a>Lihat juga QS al-Isrâ`/17: 73.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Lihat juga QS al-&#8217;Ankabût/29: 2-3, al-Naml/27: 47, al-Isrâ`/17: 60, dan al-Zumar/39: 49..</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Lihat juga QS al-Jinn/72: 17, al-Baqarah/2: 102, dan al-A&#8217;râf/7: 155.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Lihat juga QS al-Baqarah/2: 193, al-Anfâl/8: 73, al-Tawbah/9: 47-49.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Lihat pula QS al-Shâffât/37: 162.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Lihat pula QS al-<span style="text-decoration:underline;">H</span>ajj/22: 11.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Muhammad bin Jarîr al-Thabarî, <em>Tafsîr al-Thabarî</em>, Beirut: Dâr al-Ma&#8217;rifah, 1990, vol. 2, hal. 111.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Sayyid Quthb, <em>Fî Zhilâl Al-Qur`an</em>, Kairo: Dâr al-Syurûq, cet. XVII, 1990, vol. 1, hal. 189-190. Baca juga<em> </em>’Abdullah Yûsuf ’Ali,<em> The Glorious Kur`an: Translation and Commentary,</em> Lahore: Idârât al-Bu<span style="text-decoration:underline;">h</span>ûts al-’Ilmiyah wa al-Iftâ` wa al-Da’wah wa al-Irsyâd, tt., hal. 76.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Quthb, <em>Fî Zhilâl Al-Qur`an</em>&#8230;, vol. 1, hal. 226. Lihat juga Yûsuf  ’Ali,<em> The Glorious Kur`an&#8230;</em>,<em> </em>hal. 85.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> Ismâ&#8217;îl bin Katsîr, <em>Tafsîr al-Qur`ân al-&#8217;Azhîm</em>, Beirut: Dâr Ihyâ` al-Turâts al-&#8217;Arabî, vol. 4, hal. 35.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> Ibn Katsîr, <em>Tafsîr al-Qur`ân</em>…, vol. 4, hal. 35.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> ‘Abdullâh bin ‘Umar al-Baydhâwî, <em>Anwâr al-Tanzîl wa Asrâr al-Ta`wîl Tafsir</em>, Beirut: Dâr al-Fikr, 1996, vol. 3, hal. 14. Lihat juga Ma<span style="text-decoration:underline;">h</span>mûd al-Alûsî, <em>Rû<span style="text-decoration:underline;">h</span> al-Ma’ânî fî Tafsîr al-Qur`ân al-‘Azhîm wa al-Sab’ al-Matsânî</em>, Beirut: Dâr I<span style="text-decoration:underline;">h</span>yâ` al-Turâts al-’Arabî, tt. vol. 8, hal. 106.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> Al-Thabârî,<em> </em><em>Tafsîr al-Thabarî</em><em>&#8230;,</em> vol. 9, hal. 114.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> Jalaluddin Rakhmat, <em>The Road to Allah</em>, Bandung: Mizan &amp; Muthahhari Press, cet. II, 2007, hal. 123-124.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref17">[17]</a> Rakhmat, <em>The Road&#8230;</em>, hal. 125-126.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref18">[18]</a> Jalaludîn al-Suyûthî, <em>al-Durr al-Mantsûr</em>, Beirut: Dâr al-Fikr, tt., vol. 3, hal. 271.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref19">[19]</a> Lihat Abû &#8216;Abdullâh al-Qurthubî, <em>Tafsîr al-Qurthubî</em>, Beirut: Dâr al-Kutub al-&#8217;Ilmiyah, tt., vol. 6, hal. 434.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref20">[20]</a> Ma<span style="text-decoration:underline;">h</span>mûd al-Zamakhsyarî, <em>Tafsîr al-Kasysyâf</em>, Beirut: Dâr al-Ma&#8217;rifah, cet. I, 2005, hal. 670.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref21">[21]</a> Al-Zamakhsyarî, <em>Tafsîr al-Kasysyâf</em>&#8230;, hal. 670-671.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref22">[22]</a> Quthb, <em>Fî Zhilâl Al-Qur`an&#8230;</em>,  vol. 5, hal. 2723.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abualitya.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abualitya.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abualitya.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abualitya.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abualitya.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abualitya.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abualitya.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abualitya.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abualitya.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abualitya.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abualitya.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abualitya.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abualitya.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abualitya.wordpress.com/189/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&amp;blog=3401246&amp;post=189&amp;subd=abualitya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abualitya.wordpress.com/2010/12/02/term-fitnah-dalam-al-quran-kajian-tematik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/af2bf86b31ef30cccc6bf9168f250ae4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Puasa Kita</title>
		<link>http://abualitya.wordpress.com/2010/08/13/tentang-puasa-kita/</link>
		<comments>http://abualitya.wordpress.com/2010/08/13/tentang-puasa-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Aug 2010 05:56:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abad Badruzaman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulas-tulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abualitya.wordpress.com/?p=187</guid>
		<description><![CDATA[Bila usia Anda sekarang 40 dan sudah mulai belajar berpuasa Ramadhan secara penuh sejak usia 10, maka kurang-lebih hingga sekarang Anda sudah 30 kali berpuasa Ramadhan. Dan begitu seterusnya. Hitungan sederhananya demikian. Coba ingat-ingat kembali kesan-kesan tentang puasa waktu kita pertama kali belajar berpuasa. Seingat saya, dulu sepanjang bulan puasa sekolah diliburkan. Sebagai anak usia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&amp;blog=3401246&amp;post=187&amp;subd=abualitya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bila usia Anda sekarang 40 dan sudah mulai belajar berpuasa Ramadhan secara penuh sejak usia 10, maka kurang-lebih hingga sekarang Anda sudah 30 kali berpuasa Ramadhan. Dan begitu seterusnya. Hitungan sederhananya demikian.<span id="more-187"></span> Coba ingat-ingat kembali kesan-kesan tentang puasa waktu kita pertama kali belajar berpuasa. Seingat saya, dulu sepanjang bulan puasa sekolah diliburkan. Sebagai anak usia 8-9 tahunan, agenda harian dibuka dengan bermain bersama teman sebaya; mulai dari mancing ikan di sungai, mancing belut di pematang sawah, mencari anak burung di hutan, <em>rorodaan</em>, <em>sosorodotan</em>, layangan, dan aneka-ragam permainan khas anak kecil tahun 80-an. Sebagai catatan sisipan, permainan-permainan semacam ini sekarang sudah hampir punah di kampus asalku. Semua tergantikan oleh mainan dan permainan modern.</p>
<p>Capek bermain di darat, anak-anak kecil itu melepaskan pakaian, terjun ke sungai, mandi sepuasnya sambil tak henti melepas tawa; saling sembur, saling ledek dan saling kejar. “Awas airnya tertelan. Batal <em>loh</em> puasanya!” Teriak salah satu dari mereka. “Yang kentut dalam air juga batal!” Koar yang lain. “Yang menangis juga!” Sahut yang lainnya.</p>
<p>Selama hampir sebulan penuh kegiatan kami, anak-anak kampung, adalah seperti itu; seputar itu. Bermain dan bermain. Selama kami mau berpuasa, orang tua hampir tidak pernah mempersoalkan kebiasaan bermain kami. Kecuali kalau kami berenang di kolam milik warga, atau mancing belut di pematang sawah karena merusak pematangnya. Tetapi sesungguhnya bukan ini yang ingin saya bincang lebih lanjut. Bukan tentang pengalaman berpuasa di masa kecil. Biarkan itu menjadi bagian perjalanan hidup masing-masing dari kita.</p>
<p>Ada yang lebih utama untuk disoal lebih jauh terkait puasa Ramadhan. Seperti semua ibadah formal-ritual lainnya, puasa dirancang Islam untuk melahirkan pribadi-pribadi takwa. Jika terhitung mulai usia 10 tahun hingga sekarang kita sudah 30 kali melaksanakan puasa Ramadhan, adakah kita merasakan 30 kali peningkatan kualitas takwa? Ataukah 29 dari 30 kali itu hanya akumulasi pengulangan dari tahun-tahun sebelumnya? Pada level individu, orang-orang saleh-takwa terlihat tidak sedikit baik di bulan suci maupun bulan-bulan lainnya. Yang berpuasa banyak. Yang berjamaah tarawih tak sedikit. Pengajian di mana-mana. Masjid ramai. Yang mengantri giliran berangkat ke tanah suci membludak. Yang sudah berkali-kali berhaji dan berumrah tak terhitung.</p>
<p>Namun hingga titik ini beberapa pertanyaan mencuat. Kenapa kesalehan-kesalehan itu hanya ada di surau, masjid dan tempat-tempat kegiatan keagamaan lainnya? Kenapa di arena dan pusat-pusat pelayanan publik susah sekali ditemukan pesan shalat, sukar sekali didapati ideal-moral puasa, hampir tidak dapat ditemukan spirit ibadah ritual yang harus mengejewantah di ranah sosial.</p>
<p>Akadah kenyaataan ini merupakan buah dari sistem pendidikan (tepatnya pengajaran) Islam kita yang diawali dengan dan berorientasi pada fikih? Segala tindak tanduk keberagamaan kita menjadi sangat bercorak dan berorientasi fikih. Serba fikih. Shalat sebagai misal. Selama ia memenuhi kaidah-kaidah fikih, cukup syarat-rukun berdasar aturan fikih, selesai perkara. Soal kelakuan, ucapan, sikap dan pola hidup pasca shalat, itu urusan lain yang tidak ada hubungannya dengan shalat <em>a la</em> fikih tadi. Pun demikian dengan puasa dan ibadah-ibadah <em>mahdhah</em> lainnya, tanpa kecuali haji.</p>
<p>Salah satu pesan-moral puasa yang sedang kita jalani ini adalah penghargaan akan waktu; tepat waktu, memanfaatkan waktu, berlomba mengejar waktu dan segala kegiatan positif menyangkut waktu. Pesan-moral ini setidaknya diambil dari adanya patokan waktu yang jelas menyangkut awal dan akhir waktu berpuasa (sebenarnya hal ini berlaku pula pada ibadah-ibadah lainnya). Namun mari kita amati jejak-keseharian kita menyangkut waktu; di mana pun tempat kita bekerja. Jika kita orang kantoran, selama kita menjadi orang kantoran, sudah berapa kali di kantor kita diselenggarakan rapat? Dari sekian rapat yang pernah digelar, berapa kali rapat yang benar-benar dimulai tepat waktu sesuai undangan?</p>
<p>Kita sering menunjuk negara A sekuler, negara B memisahkan agama dari politik, dan sejenisnya. Pada saat sama kita berbangga diri menunjuk negara sendiri sebagai negara bertuhan dan bangsanya sebagai bangsa agamis. Kiranya tidak keliru dengan apa yang kita tunjuk. Tapi mari kita tengok ranah lain di luar pemilahan sekuler-agamis ini. Penghargaan akan waktu, etos kerja, kejujuran, transparansi, budaya meneliti, penghargaan terhadap para peneliti dan hasil-hasil penelitian, kebersihan lingkungan, ketertiban umum, pelayanan kesehatan dan pendidikan, dan layanan-layanan sosial lainnya yang semuanya dititahkan oleh amal-amal ritual agama, semua itu dapat kita jumpai di negara-negara yang kerap kita tunjuk dengan (agak) sinis sebagai negara sekuler.</p>
<p>Jangan bahas soal korupsi! Kita malu dibuatnya. Saya jadi menduga-duga, jangan-jangan orang-orang di luar negeri sana—terutama di negara-negara maju—jika mereka mendengar kara “korupsi” maka yang pertama kali <em>nyembul</em> dalam benak mereka adalah Indonesia. Ampuun!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abualitya.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abualitya.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abualitya.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abualitya.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abualitya.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abualitya.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abualitya.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abualitya.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abualitya.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abualitya.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abualitya.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abualitya.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abualitya.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abualitya.wordpress.com/187/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualitya.wordpress.com&amp;blog=3401246&amp;post=187&amp;subd=abualitya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abualitya.wordpress.com/2010/08/13/tentang-puasa-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/af2bf86b31ef30cccc6bf9168f250ae4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zam</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
