Berpikir positif, bersikap & bertindak bijak

Sumber:  http://gp-ansor.org/?p=3980

Judul buku : Teologi Kaum Tertindas: Kajian Tematik Ayat-ayat Mustadh’afin dengan Pendekatan Keindonesiaan
Penulis : Abad Badruzaman
Penerbit : Pustaka Pelajar Yogyakarta
Cetakan : 1, Desember 2007
Tebal : xvii + 248 halaman

Oleh: Muhammadun AS, Pengelola Perpustakaan Al-Hikmah Pati.
Setiap Nabi dan Rasul hadir didunia bukan sekedar membawa wahyu berupa ibadah ritual. Mereka hadir untuk membebaskan masyarakat dari ketimpangan dan ketertindasan sosial. Karena komitmen pemihakan terhadap kaum tertindas, tidak salah kalau mereka berhadapan dengan para penguasa yang despotik. Tetapi mereka tidak menyerah. Justru mereka semakin gigih untuk memperjuangkan keyakinan dalam mengentaskan kaum tertindas dari despotisme kekuasaan. Muhammad sampai di usir dari Makkah. Musa sampai diburu-buru Fir’aun. Ibrahim akan dipenggal dan dibakar oleh Namrud, walaupun akhirnya selamat. Isa dikejar-kejar oleh penguasa suku. Karena kegigihan dan keikhlasan ditengah despotisme kekuasaan, mereka justru menjadi Rasul terpilih ( ulu al-azmi) yang spirit perjuangannya selalu dikenang dan menjadi teladan pejuang kemanusiaan dalam menggelorakan perlawanan atas penindasan.

Pembelaan para Nabi dan Rasul terhadap kaum tertindas inilah yang coba dianalisis dalam buku ” Teologi Kaum Tertindas”. Abad Badruzaman melihat bahwa penindasan dan despotisme kekuasaan merupakan musuh utama Nabi dan Rasul. Muhammad telah membebaskan kaum lemah Arab dari despotisme suku Arab. Kaum budak, kaum miskin, dan kaum perempuan diangkat harkat dan martabatnya oleh Muhammad. Mereka kemudian menjadi orang yang tangguh, dan menyerahkan hidupnya untuk menopang perjuangan Nabi dalam membebaskan kaum Arab dari penindasan social. Dari sini Abad melihat bahwa kaum tertindas sebenarnya mempunyai potensi sendiri yang mampu membebakan diri mereka dari ketertindasan social.

Perintah membebaskan diri sendiri ini telah ditancapkan dalam firman Allah dalam QS. Al-Nisa’ (4: 97). Dalam ayat ini Tuhan memberikan spirit untuk melawan penindasan social. Bahkan Tuhan melihat bahwa orang yang mempunyai kekuatan, tetapi tidak mau melakukan perlawanan atas penindasan dianggap sebagai orang zalim (berbuat aniaya) terhadap dirinya sendiri. Tugas Nabi dan para pejuang kemanusiaan adalah memberikan spirit perjuangan untuk melawan penindasan, dan sekaligus “turun gunung” menggugat despotisme kekuasaan (hal. 81). Karena spirit inilah, Asghar Ali Engineer melihat Islam sebagai agama pembebas dan Muhammad sebagai Nabi pembebas. Bagi Engineer, nabi sukses melaksanakan tugas profetiknya dalam membebaskan kaum tertindas Arab, dan bahkan Nabi menjadi teladan utama dunia dalam memangkas penindasan.

Dalam kajian tematiknya, penulis menganalisis bahwa kaum tertindas yang dijelaskan dalam al-Quran antara lain; fakir, miskin, anak yatim, peminta-minta, dan hamba sahaya (hal. 102). Mereka, dalam apapun, termasuk konteks ke-Indonesia-an, adalah kaum tertindas. Ketertindasan bukan sekedar peminggiran ekonomi, tetapi juga peminggiran hak-hak social, hak politik, dan budaya. Kini, mereka hanya menjadi proposal seminar, diskusi, dan lokakarya. Cerita mereka adalah cerita kekalah ditengah cerita kemenangan kaum pemilik modal. Mereka hanya menjadi bahan tertawaan “takdir” yang dibuat oleh saudaranya sendiri. Inilah yang digugat dalam al-Quran, sehingga al-Quran bahkan membabtis mereka sebagai pendusta agama bagi yang menindas anak yatim dan tidak segera memberdayakan kaum miskin.

Bagaimana Nabi dengan spirit al-Quran membebaskan ketertindasan social? Pertama, mebangun semangat kerja. Dalam QS. 28: 77, dijelaskan bahwa manusia jangan sampai melupakan tugas-tugas kemanusiaan dalam menggali rizki Allah dibumi ditengah kesibukannya dalam mengabdi kepada Allah. Harus berimbang. Dengan begitu, maka harkat-martabat kemanusiaannya akan bisa tegak, dan sulit ditaklukkan oleh penindas. Kedua, mewajibkan umat Islam untuk membayar zakat. Dengan zakat inilah Nabi memutus kuasa kaum modal, sehingga orang kaya mau membagikan rizkinya kepada yang miskin.

Dengan zakat, Islam melihat agar harta tidak harta berputar ( dulatan) dan menumpuk dikalangan kaum kaya. Harta harus dibagi sesuai dengan aturan agama yang ditetapkan dalam kitab suci (hal. 137-139).
Ketiga, mengharamkan riba. Nabi mengecam habis para pengedar riba, karena riba ini akan menjadi batu loncatan dalam mencekik kaum miskin yang kekuarangan modal untuk usaha. Riba merupakan manifetasi penindasan yang sangat kentara, terlebih ditengah lilitan krisis multidimensional. Keempat, mengharamkan monopoli dan menimbun harta. Praktek monopoli dan menimbun harta adalah bagian dari upaya mengekang sumber daya alam untuk disebarkan kepada public. Dengan monopoli dan menumbun harta, kaum kaya biasanya dengan seenaknya menentukan harga sesuai dengan keinginan nalar despotiknya. Siapa yang tercekik, pastilah kaum miskin yang merengek-rengek di pinggir jalan kepada kaum kaya yang berderet-deret mobilnya. Dan kelima, membudayakan infak dan shadaqoh. Bahkan al-Quran melihat bahwa orang akan mendapatkan kebaikan yang hakiki kalau orang itu mau menginfakkan sesuatu yang paling dicintainya (hal. 169-173).

Dalam analisis penulis, spirit membebaskan kaum terindas dapat dijalankan dalam konteks ke-Indonesia-an. Krisis berkepanjangan yang tak kunjung usai dan berbagai praktek penindasan social yang terus menyeruak diberbagai lapisan masyarakat perlu mendapatkan solusi strategis dari seluru komponen bangsa. Umat Islam sebagai mayoritas bertanggungjawab mencipa solusi strategis dengan menyerap spirit perjuangan Nabi Muhammad sebagai terurai dalam buku ini, sehingga umat Islam tidak hanya sibuk dengan praktek ritual. Umat Islam dan umat beragama lainnya seharusnya menjadi tulang punggung dalam mengatasi krisis berkpenjangan sebagai manifestasi pewaris ajaran para Nabi yang luhur.

Comments on: "Teologi Kaum Tertindas: Kajian Tematik Ayat-ayat Mustadh’afin" (10)

  1. Wilujeng Kang Doktor, insya allah pami mendak di gramedia abdi meser bukuna. Waktos buku nukahiji mendak di Yogya nuju jalan-jalan, kabujeng meser…tangtos atuh reueus gaduh rerencangan nu hebat.
    Ke pami pendak ungkeun tanda tangana nya dina buku juragan nudipeser ku pribados.

    Many congratulations. Sok uih ka Panawangan?

  2. abualitya said:

    Hatur nuhun Kang Ali (Nurdin). Ieu irung simkuring ngabeukahan meni asa rek ngapung dipuji ku salira, dipanggil juragan deuih…he he
    Ah teu kedah ditanda tangan ku simkuring atuh Kang, salira tos meser ge simkuring mah bingah kacida…
    Ka Panawangan, jarang uih puguh ge, “jauh di mata berat di ongkos euy!” heu heu
    Hatur nuhun Kang kunjunganna!

  3. Hatur nuhun Kang Abad, bukuna sae euy…. Iraha bade ngaluncurkeun buku deui? Kaleresan buku nu nuju diaos ku simkuring ieu tos aya tanda tangan ti DR. Abad…hehe, ngke mah simkuring oge bakalan ngungudag tanda tangan salira utk karya2 selanjutnya…..selamat berkarya! sukses selalu! hidub persib!

  4. abualitya said:

    Sami-sami Jang Irfan, buku awon disebat sae! Piduana mudah-mudahan kapayun tiasa ngaluncurkeun deui buku; buku yang murni ditulis berdasarkan niat untuk nulis buku. Sanes buku “kurut” disertasi sapertos nu tipayun.
    Teu kedah diudag-udag atuh Jang, sapertos selebriti wae diudag-udag untuk dimintai tanda tangannya ha ha.
    Dalam seminggu ini ada 5 teman di kampus yang minta dibikinkan blog.. jadi isin euy.. asa pang jagona we sakampus. Padahal elmuna ti Jang Irfan nu nepi ka kiwari teu acan patepang wajah. Iraha atuh aya lawatan ka Jawa Timur? Sugan aya tugas ti kantor..!?

  5. muntahibunnafis said:

    hebat euy…!

  6. abualitya said:

    Apanya yang hebat euy!? Nggak keliru tuh sampeyan punya nama? ha ha “muntahibun” artine perampok, “nafis” maknane “sesuatu yg berharga.” jadi sampeyan ini “perampok kehormatan,” he he ..Cuma canda Cak? gimana kul S Telu-nya di UIN SUKIJO?

  7. ‘andak kutub bi ta-ak bi balasy ?
    from fan’s Hasan Hanafi

  8. ngiring promosi nya, urang promosikeun oge di blog sim kuring ieu
    http://subhan-nurdin.blogspot.com

  9. Mangga ajengan. Hatur nuhun. Geus sabaraha bati euy? Terus nu mere bati oge geus sabaraha? hehehe…

  10. Untuk Mbah Snoor nu ngageugeuh Kopo:
    “‘andak kutub bi ta-ak bi balasy ?
    from fan’s Hasan Hanafi.”
    Maksudnya minta buku saya gitu? Minta…beli dong! hehe…ke ari aya waktu I.A ku sayah diposkeun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: