Berpikir positif, bersikap & bertindak bijak

Manisnya Iman

Abad Badruzaman

“Ada tiga hal apabila dimiliki oleh seseorang maka ia akan merasakan manisnya iman, yaitu: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai ketimbang yang lain, mencintai seseorang karena Allah, dan enggan kembali kepada kekufuran seperti enggannya ia dilemparkan ke dalam neraka (HR. al-Bukhârî).”

Sudah barang tentu semua orang Islam mengaku beriman. Tapi belum tentu semua merasakan manisnya iman. Dari sabda Rasulullah Saw. di atas kita mendapatkan beberapa poin penting menyangkut keimanan. Pertama, iman tidak sebatas pengakuan hati dan pengucapan lisan, namun harus mengejawantah dalam bentuk amal. Ini sekaligus mengajarkan bahwa kesetiaan menuntut komitmen yang sifatnya amaliyah, bukan sekadar pengakuan verbal. Kedua, di antara banyak amal yang merupakan bukti iman, setidaknya ada tiga perbuatan yang pelakunya dapat benar-benar merasakan manisnya iman, yakni amal-amal yang tersebut dalam hadis di atas. Ketiga, setiap orang yang mengaku beriman dituntut untuk senantiasa meningkatkan keimanan sehingga manisnya iman dapat benar-benar dicicipi.

Bahwa kita sebagai manusia mempunyai kecenderungan kuat untuk mencintai teman hidup (suami atau istri), anak keturunan, harta benda dan lainnya, itu tak dapat dinafikan. Bahkan Al-Qur`an sendiri mengakui kecenderungan tersebut: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas dan perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (QS. 3: 14).” Akan tetapi hadis di atas menegaskan bahwa untuk mencapai taraf iman yang manisnya benar-benar terasa, maka Allah dan Rasul-Nya harus lebih dicintai. Anda harus mencintai anak dan isteri, tapi Allah dan Rasul-Nya harus lebih Anda cintai. Anda dapat dengan mudah mengaku beriman, tapi selama Allah dan Rasul-Nya tidak lebih Anda cintai ketimbang yang lain, maka Anda belum akan merasakan manisnya iman yang Anda klaim. Kurang lebih inilah penjelasan penggalan sabda Nabi: “…Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai…” di atas. 

Sebagai manusia normal, tentu tak aneh bila kita menaruh cinta kepada seseorang. Namun sebagai orang beriman yang ingin merasakan manisnya iman, kecintaan kepada seseorang haruslah berada dalam kerangka penilaian Ilahi. Orang yang kita cintai hendaklah orang yang dicintai Allah. Orang yang kita cintai seharusnya orang yang dalam pandangan Allah pantas untuk dicintai. Setidaknya demikian penjelasan dari penggalan: “mencintai seseorang karena Allah” pada hadis di atas.

Terakhir, beningnya mata air iman dan manisnya madu keyakinan belum sepenuhnya dapat direguk dengan hanya mengerjakan dua hal di atas. Ketika dua hal di atas disempurnakan dengan keengganan kembali kepada kekufuran, barulah manisnya iman dapat direguk dengan sempurna. Implementasi dari penggalan “enggan kembali kepada kekufuran” bagi kita yang terlahir sebagai mukmin adalah dengan membenci kekufuran dan hal-hal yang dapat menyeret kepada kekufuran.

Tentu saja orang yang belum mencicipi manisnya iman tidak dihitung sebagai orang tidak beriman. Hanya saja, setiap mukmin jangan pernah puas hanya dengan memiliki iman yang manisnya tidak pernah dirasakan. Nabi Saw. telah memberikan kiat bagi setiap mukmin bagaimana mereka dapat mereguk manisnya iman yang mereka yakini. Tinggal kita, segenap kaum mukmin, bertanya kepada diri sendiri: “Sudah sejauh manakah usaha kita untuk merengkuh iman yang manisnya kita reguk sepenuh keyakinan?”

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: