Berpikir positif, bersikap & bertindak bijak

PUASA DAN KESALEHAN SOSIAL

Abad Badruzaman

Puasa Ramadhan merupakan salah satu pilar (rukun) Islam. Dalam Q.S. 2: 183 disebutkan, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Dari ayat ini dapat diambil beberapa titik simpul, pertama, puasa Ramadhan merupakan salah satu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh kaum Muslim. Kata orang-orang yang beriman dalam al-Qur`an merujuk kepada para pemeluk agama Islam. Kedua, kewajiban puasa bukan hanya ada dalam Islam. Dalam agama-agama pendahulu Islam, Yahudi dan Nasrani, pun dikenal kewajiban serupa dengan jumlah hari dan beberapa aturan yang berbeda. Ketiga, tujuan yang hendak dicapai oleh puasa adalah melahirkan pribadi-pribadi yang takwa.

Dalam leteratur-literatur Islam klasik, takwa selalu didefinisikan sebagai, “Menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.” Dengan demikian, puasa diorientasikan untuk membentuk pribadi-pribadi yang taat menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Dari sini dapat dikatakan bahwa selain merupakan salah satu bentuk ketakwaan, pada saat sama puasa juga merupakan sarana membangun ketakwaan dalam pengertian dan cakupannya yang lebih luas dan menyeluruh.

Bahwa takwa adalah seperti yang didefinisikan di atas mungkin dapat kita sepakati bersama. Namun dalam tataran pemahaman masih banyak dari kita yang beranggapan bahwa perintah dan larangan-Nya hanya terbatas pada ajaran-ajaran yang sifatnya ritualistik. Dengan taat menjalankan salat lima waktu, kita merasa telah menjalankan perintah agama paling mendasar. Sementara itu, fungsi salat sebagai sebuah kekuatan untuk menggempur segala perbuatan keji dan kemungkaran (Q.S. 29: 45) sering luput dari agenda hidup kita setelah menunaikan salat. Alih-alih sebagai penghacur kekejian dan kemungkaran, salat lebih dianggap sebagai “pemutihan” bagi kekejian dan kemungkaran yang baru saja dilakukan sesaat sebelum salat.

Demikian halnya dengan puasa. Dengan menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari kita sudah merasa paling saleh. Sementara itu mata, telinga, mulut dan hati kita tidak ikut berpuasa dari melihat, mendengar, mengatakan dan meniatkan keburukan. Padahal puasa, seperti didefinisikan para ulama, adalah menahan lapar, dahaga dan hal-hal lain yang membatalkannya. Mengumbar pandangan mata, menguping hal-hal yang buruk, membebaskan mulut berkata-kata yang jelek dan membiarkan hati meniatkan sesuatu yang tidak pantas adalah hal-hal yang membatalkan puasa. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan kata-kata buruk (sewaktu berpuasa) maka Allah tidak peduli dengan lapar dan dahaganya.”

Semarak Ramadhan memang selalu kita lihat setiap tahun. Masjid-masjid mendadak dipenuhi jamaah setiap malamnya. Ayat-ayat al-Qur`an—baik yang dibacakan langsung oleh manusia maupun yang dikasetkan—mengumandang di masjid-masjid dan surau-surau. Stasiun-stasiun TV berlomba mengemas berbagai acara khas Ramadhan, mulai dari sinetron, tanya-jawab, kuis, ceramah, pengantar makan sahur hingga siaran langsung salat tarawih dari masjid Haram. Infotainment pun menyuguhkan berita tentang bagaimana para selebritis memaknai Ramadhan dan apa saja yang mereka lakukan di bulan itu. Pada saat yang sama, tayangan-tayangan seronok dikurangi. Namun, begitu Ramadhan pergi, semarak dan tayangan-tayangan “religius” itu lenyap meninggalkan kesan bahwa kita dituntut untuk menjadi orang saleh hanya pada bulan suci saja.

 

Pesan Sosial Puasa

Bahwa puasa Ramadhan itu wajib dilaksanakan, tidak ada orang Islam yang menggugatnya. Namun pesan sosial yang disuarakan oleh puasa tidak semua orang Islam dapat menangkapnya. Puasa sejatinya mengajarkan kepedulian sosial, bukan hanya pada bulan puasa tapi sepanjang hayat. Sahur dan buka puasa bersama kaum papa dan anak-anak jalanan belumlah menyentuh kepedulian sosial yang dipesankan puasa. Itu hanya semacam pelipur lara bagi “kaum kusam” untuk sesaat melupakan himpitan hidup di tengah-tengah dunia yang rakus dan hedonis.

Kepedulian sosial yang diinginkan puasa lebih bermakna pemberdayaan kaum dhu’afa. Sahur dan buka puasa bersama mereka ibarat memberi ikan. Setelah ikan habis disantap mereka kembali ke dunia mereka yang sesungguhnya; lapar, mengemis, mencari sisa-sisa makanan, memulung dan sebagainya, karena mereka tidak punya kail. Memberdayakan kaum alit bukan dengan memberi mereka ikan melainkan kail sembari membimbing mereka bagaimana menggunakan kail agar mendapatkan ikan yang cukup. Dengan hanya memberi sisa makanan atau pakaian bekas kepada tetangga miskin belum dapat dikatakan sebagai memberi kemanfataan kepada sesama. Itu hanya upaya kecil supaya tidak dicap bakhil.

Laparnya puasa di siang hari selama sebulan mengajarkan bahwa di sekeliling masih terlalu banyak orang yang lapar, bukan hanya di siang hari tapi siang dan malam, bukan hanya sebulan namun sepanjang tahun. Puasa mengajarkan pengendalian diri; mata, telinga, mulut, hati dan seluruh anggota badan, bukan hanya sepanjang bulan Ramadhan tapi sepanjang hayat dikandung badan. Puasa mengajarkan kejujuran. Tidak ada yang mengetahui apakah kita berpuasa atau tidak selain diri kita sendiri. Selama kita tidak makan, minum atau merokok di depan orang, orang pun akan percaya kalau kita sedang berpuasa. Di sinilah kejujuran diuji. Puasa menginginkan kejujuran bukan hanya pada bulan Ramadhan, namun selama-lamanya, dalam hal apa pun, kapan dan di mana pun.

Puasa juga mengajarkan kesederhanaan. Selama berpuasa kita makan hanya dua kali; makan sahur dan saat berbuka. Ini mengajarkan kita untuk menempuh pola hidup hemat dan tidak berlebih-lebihan. Puasa bukan memindahkan kebiasaan makan dari siang ke malam. Puasa mengajarkan keteraturan dan ketepatan waktu. Imsak (menghentikan makan dan minum beberapa menit sebelum awal waktu berpuasa dimulai) mengajarkan kehati-hatian dan kewaspadaan. Ta’jil (bergegas berbuka puasa) mengajarkan kita untuk bersegera memberikan hak. Setelah sehari penuh tubuh menjalankan tugasnya, yaitu berpuasa, maka sudah sepantasnya kita bergegas untuk memenuhi haknya akan makan begitu waktu buka tiba. Dan segera setelah haknya dipenuhi, kita dapat menuntutnya kembali untuk menjalankan kewajiban-kewajiban lainnya. Keseimbangan antara hak dan kewajiban tercermin di sini.

Bagi umat Islam Indonesia, Ramadhan kali ini—seperti halnya beberapa Ramadhan sebelumnya—hadir di tengah-tengah kondisi bangsa yang (sangat) tidak menggembirakan dalam hampir semua aspek kehidupannya. Mayoritas umat Islam Indonesia berpuasa di bawah tekanan ekonomi yang amat menghimpit. Harga-harga kebutuhan pokok melambung. Kebijakan-kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintah dirasa tidak berpihak kepada mereka. Harapan adanya perbaikan taraf hidup hingga kini belum jua terwujud. Rakyat masih saja diminta untuk bersabar. Namun kesabaran rakyat tidak diimbangi dengan upaya serius pemerintah untuk memperbaiki kondisi ekonomi mereka.

Puasa Ramadhan kali ini hendaklah menjadi titik awal bagi semua pihak di negeri ini untuk mengevaluasi diri. Bagi para pemegang kendali kekuasaan, puasa kali ini harus menjadi momentum untuk benar-benar memerhatikan nasib rakyat yang sebagian besarnya masih harus berjuang keras untuk bisa sekadar bertahan hidup. Kini saatnya bagi para pejabat untuk berpuasa dari mengumbar janji tentang perbaikan taraf hidup rakyat kecil. Rakyat sudah teramat kenyang dengan janji. Kini yang mereka perlukan adalah bukti.

Bagi kalangan berpunya, Ramadhan kali ini harus menjadi awal untuk berpuasa dalam pengertiannya yang luas seperti puasa dari pamer kemewahan di depan jutaan umat yang melarat. Kini saatnya mereka membuka hati, rasa dan pemahaman bahwa mereka mempunyai tanggung sosial yang tidak ringan. Tanggung jawab sosial mereka belum terlunasi hanya dengan menjalankan ketaatan-ketaatan ritual semata. Tanggung jawab kaum kaya adalah mendistribusikan sebagian harta milik mereka dalam rangka memberdayakan—bukan sekadar menyantuni—kaum lemah. Kewajiban zakat, infak dan sedekah harus dimaknai sebagai institusi pemberdayaan, bukan cuma karitas.

Puasa kali ini diharapkan dapat menyegarkan kembali pemahaman kita bahwa di balik setiap ajaran agama terkandung pesan sosial yang amat kental. Puasa mengajarkan setiap Muslim bahwa selain harus taat secara ritual mereka juga harus saleh secara sosial.

Comments on: "PUASA DAN KESALEHAN SOSIAL" (2)

  1. Akhirnya, ketemu oge blog kang abad. kapungkur pernah milarian no.hp kang abad, bade aya priogi, tapi teu kenging-kenging.
    Tepangkeun sim kuring kang abad.
    kapungkur abi pernah diajar ku kang abad basa di darussalam (MAKD).
    maaf, udah gak lancar bahasa sunda lagi🙂. sekarang saya di jogja, ngaulang di STIS Magelang. kalau main ke jogja mampir nya!
    tiasa nyuhunken no hp sareung email na nya kang!
    nuhun pisan
    wassalam

  2. Bagea Rayi…saha atuh salira teh? maklum simkuring mah tos umuran, jadi leuwih loba pohona batan ingetna. Tapi, simkuring nya ngiring bingah, salira tos ngawulang. Insya allah sawaktos-waktos mampir ka dinya. Upami teu aya halangan insya Allah pertengahan oktober abdi kenging jadwal ngawulang di prog S2 STAIN solo. mudah-mudahan ti solo tiasa mampir ka magelang. perkawis alamat e-mail sareng nohp ke urang kirimkeun via e-mail bae.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: