Berpikir positif, bersikap & bertindak bijak

Yanuar Arifin *) (09/06/2008 – 04:15 WIB)
Jurnalnet.com (Jogja):
Judul Buku : Teologi Kaum Tertindas
Penulis : Abad Badruzaman
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan : I, Desember 2007
Tebal : xvii + 248 Halaman

Dalam dataran histories-empiris, kehadiran Islam di bumi Arab pada satu sisi merupakan risalah pentauhidan, pengesaan Tuhan sebagai sesembahan Tunggal. Risalah pentauhidan ini disampaikan oleh seorang manusia sempurna, Muhammad kepada masyarakat Arab Jahiliyah yang telah menciptakan objek sesembahan baru berupa patung-patung berhala seperti Latta dan Uzza. Di sisi lainnya, kehadiran Islam di tengah masyarakat Arab Jahiliyah juga diyakini sebagai awal lahirnya risalah pembebasan manusia dari ketertindasan, kebodohan, perbudakan dan diskriminasi struktur sosial di masyarakat Arab Jahiliyah.

Maka, kehadiran Muhammad di bumi Arab dengan risalah keislamannya telah berhasil membawa perubahan, baik dalam dataran teologis tauhid yang berwujud pengesaan Tuhan, maupun teologi sosial yang berimplikasi pada perubahan system struktur masyarakat Arab Jahiliyyah.

Buku karya Abad Badruzaman berjudul “Teologi Kaum Tertindas” ini adalah salah satu karya yang mencoba mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an terkait dengan persoalan teologis, baik tauhid maupun sosial. Berangkat dari pemahaman akan banyaknya ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang kaum mustadh’afin, kaum tertindas dan termarjinalkan menginspirasi penulis untuk mengelaborasikannya dengan pendekatan keindonesiaan. Sehingga, ayat-ayat yang semula hanya dapat dipahami sebagai teks yang bersifat temporal dan melangit dapat diterjemahkan dan diaplikasikan dalam konteks kekinian dan keindonesiaan.

Secara umum pembahasan buku ini terdiri atas dua bagian pokok. Pertama, berupa pembahasan tentang ayat-ayat mustadh’afin, baik ayat-ayat yang secara eksplisit menyebut kata mustadh’afin dalam berbagai bentuknya maupun ayat-ayat yang hanya menggambarkan substansinya semata. Bagian kedua berupa pembahasan khusus tentang kaum mustadh’afin dalam bidang ekonomi. Dengan demikian, buku ini menjadi sebuah kajian tematik berkenaan dengan ayat-ayat mustadh’afin yang memang banyak dibicarakan dalam Al-Qur’an.

Sementara itu, penggunaan pendekatan keindonesiaan yang dilakukan penulis pada dasarnya dilatar belakangi oleh adanya keyakinan, lebih tepatnya suatu pemahaman yang mengakar di tengah umat Islam. Keyakinan ini berhubungan dengan anggapan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an merupakan teks yang sempurna. Artinya, ayat-ayat Al-Qur’an mampu meneropong segala zaman ataupun ajarannya dipercaya akan mampu diaplikasikan dimanapun dan sampai kapanpun. Sejalan dengan pemikiran penulis, Alm. Nur Cholis Najib berpendapat bahwa substansi ajaran Islam memang relevan dengan setiap zaman dan di setiap tempat.

Dalam konteks inilah, umat Islam yang memiliki perspektif demikian belum memahami dengan baik akan dimensi temporal teks-teks Al-Qur’an. Dengan kata lain bahwa ayat-ayat Al-Qur’an seharusnya juga dipahami sebagai teks yang turunnya menyesesuaikan dengan kondisi dan situasi pada saat itu. Teks tersebut adalah jawaban yang memiliki relevansi dengan problematika masyarakat Arab di masa Muhammad.

Maka, ayat-ayat Al-Qur’an harus ditafsirkan ulang dengan menggunakan pendekatan-pendekatan di masa kini. Oleh karenanya, Abad Badruzaman melihat bahwa sangat penting adanya sebuah pendekatan keindonesiaan untuk mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an agar sesuai dengan problematika yang dihadapi umat Islam, khususnya di Indonesia.

Sebagaimana telah disinggung, penulis buku ini hanya mengkhususkan kajiannya pada ayat-ayat yang berbicara tentang persoalan teologis, baik tauhid dan sosial. Terutama pada persoalan yang kedua, menurut penulis, fakir miskin, anak yatim, peminta-minta dan hamba sahaya adalah kaum mustadh’afin yang berarti orang-orang yang dianggap lemah, dilemahkan atau tertindas. Istilah mustadh’afin muncul sebagai akibat dari proses istidh’af (penghinaan, pelemahan atau penindasan). Proses ini kemudian menjadi salah satu prolematika yang harus dihadapi oleh umat muslim dalam berbagai aspek kehidupannya.

Penggunaan istilah mustadh’afin sendiri menjadi tema pokok yang diangkat oleh Al-Qur’an sebagai seruan untuk membebaskan manusia dari beban ataupun kesulitan ekonomi yang menjerat mereka. Rupanya, ayat-ayat Al-Qur’an yang terkait dengan permasalahan ini tidak hanya berupa teks-teks naratif informative.

Lebih dari itu, Al-Qur’an juga menyertakan solusi atas problematika yang ada. Solusi yang ditawarkan Al-Qur’an pada gilirannya sejalan dengan risalah keislaman itu sendiri. Al-Qur’an yang merupakan sumber utama dari teks-teks ajaran Islam kemudian menguatkan stereotip bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam semesta.

Dalam konteks keindonesiaan, menurut Abad Badruzaman, solusi Al-Qur’an atas problematika kemiskinan, krisis ekonomi tidak akan dapat diaplikasikan dengan baik apabila pemerintah tidak mengambil bagian di dalamnya. Bagaimanapun, problematika yang begitu komplek di negeri ini mewajibkan seluruh elemen, baik pemerintah maupun rakyat untuk selalu menjalin kerjasama dalam mengatasi permasalahan tersebut.

Relevansinya bertemali dengan seruan Al-Qur’an yang memerintahkan kepada rakyat suatu Negara untuk selalu mentaati perintah penguasa selama dalam konteks kebenaran. Namun, solusi yang diberikan Al-Qur’an tidak akan berjalan efektif selama kedua elemen tersebut ; penguasa dan rakyat, tidak pernah menemukan titik temu. Penguasa bertindak lalim dengan mengkorupsi uang rakyatnya, sementara itu rakyatnya akan terus membangkang mereka dan tetap hidup dalam jerat kemiskinan.

Melalui buku ini, penulis sangat berharap agar problematika bangsa Indonesia, yakni krisis ekonomi yang membelenggu negeri ini selama 1 dekade terakhir dapat segera menemukan solusinya. Dan solusi tersebut, menurut penulis, hanya dapat ditemukan apabila umat mau kembali merujuk pada teks-teks Al-Qur’an. Kehadiran buku ini setidaknya menjadi salah satu usaha seorang Abad Badruzzaman dalam rangka pencarian solusi problematik yang ada dalam Al-Qur’an itu.

Selain itu, buku ini diharapkan juga dapat memperkaya khazanah keilmuan kita, khususnya dalam bidang ilmu tafsir mengingat Indonesia masih belum banyak melahirkan para ahli ilmu tafsir. Akhirnya, buku ini sangat menarik untuk dijadikan sumber teks kajian keilmuan tafsir yang tematik sesuai dengan sesuai dengan pengambilan objek kajian buku ini yang cenderung tematik.***

*) Penulis adalah Peneliti pada Hasyim Asy’ari Institute dan Center For Developing Islamic Education (CDIE) Yogyakarta.

Comments on: "Islam Sebagai Teologi Pembebasan" (2)

  1. makasih atas ilmunya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: