Berpikir positif, bersikap & bertindak bijak

Beberapa Rahasia Puasa

Rahasia puasa, demikian Yûsuf al-Qardhâwî, tidak akan terungkap sebelum terlebih dahulu terungkap apa hakikat manusia. Apakah hakikat manusia itu adalah tubuh yang berdiri, anatomi yang tegak? Apakah ia sekumpulan dari persendian, urat nadi, daging, tulang dan otot? Jika manusia adalah demikian maka betapa hina dan kerdilnya ia. Hakikat manusia tak lain dari “ruh samawi” yang menempati “jasad bumi” ini. 

Dengan ruh samawi inilah manusia menalar dan berpikir, merasa dan mempersepsi, mengamati dan merenungi kerajaan langit dan bumi. Allah memerintahkan para malaikat sujud kepada Âdam karena ia memiliki ruh Rabbani, bukan karena ia terbuat dari lumpur hitam yang diberi bentuk.

 (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah”. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan) Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya” (QS. Shâd/38: 71-72).

Itulah manusia; ruh dan jasad. Jasad adalah rumah sedang ruh adalah pemilik dan penghuninya. Jasad adalah bahtera sedang ruh adalah pemilik dan penumpangnya. Rumah tercipta bukan untuk dirinya melainkan untuk kebaikan penghuninya. Bahtera dibuat untuk kepentingan penumpangnya. Sangat mengherankan orang-orang yang mengabaikan jiwa dan hanya mementingkan rumah tempat jiwa berada di dalamnya; mengabaikan ruh dan memuja jasad. Hanya untuk jasad mereka bekerja; hanya untuk memuaskan naluri dunia mereka beraktivitas; hanya seputar perut dan kemaluan mereka berkisar.

Ketika manusia mengetahui nilai dirinya, menemukan rahasia Allah di dalamnya, mengunggulkan sisi samawi dari dirinya atas sisi jasadinya, lebih memperhatikan tuntutan ruh ketimbang dorongan jasad; ketika itu semua ia telah menjadi “malaikat” bahkan lebih baik.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk (QS. al-Bayyinah/98: 7).

Dari sini maka Allah mewajibkan puasa untuk membebaskan manusia dari belenggu naluri jasadiahnya, lepas dari penjara ragawinya, mengalahkan dorongan-dorongan syahwatnya, menguasai sisi-sisi hewaniahnya, dan berusaha menyerupai malaikat. Tidak mengherankan jika ruhani orang puasa naik dan mendekat kepada Yang Mahatinggi, lalu mengetuk pintu-pintu langit dengan doa-doanya dan pintu-pintu itu pun terbuka; ia berdoa kepada Tuhannya dan Dia mengabulkannya seraya memanggilnya: “Selamat datang hamba-Ku.” Tentang hal ini Nabi Saw. bersabda: “Tiga orang doanya tidak ditolak: Yang puasa sampai berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang dizalimi” (HR. Tirmidzî, Ahmad, Ibn Mâjah, Ibn Khuzaymah, dan Ibn Hibbân).

Ibn Qayyim berkata:

(Di antara) tujuan puasa adalah menahan nafsu dari syahwat, menahannya dari banyak hal yang sudah biasa dilakukannya, mengarahkannya kepada hal-hal yang dapat membawanya meraih puncak kebahagiaan dan kenikmatan hakiki, menjadikannya suci dan siap menghadapi kehidupan abadi; merasakan lapar dan dahaga sehingga mengingatkannya akan keadaan orang-orang miskin yang (terbiasa) lapar; mempersempit jalan masuk setan dengan mempersempit jalan masuk makanan dan minuman; menahan anggota badan dari kebiasaannya diumbar mengikuti apa yang diinginkannya lalu membawanya kepada hal-hal berguna bagi kehidupan dunia dan akhirat; mengistirahatkan seluruh bagian jiwa serta seluruh kekuatan yang dimilikinya lalu memecutnya dengan pecut puasa. Puasa merupakan pecutnya orang-orang takwa, tamengnya para pejuang, latihannya orang-orang yang berbuat kebajikan dan orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah. Puasa itu meninggalkan apa-apa yang disukai dan dinikmati nafsu karena memilih cinta dan keridhaan-Nya. Puasa memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam memelihara anggota badan lahiriah dan potensi-potensi batiniah dan melindunginya dari berbaur dengan kekuatan-kekuatan perusak.

Puasa membangun benteng yang kuat antara orang yang berpuasa dengan hal-hal yang diharamkan Allah. Saat berpuasa, dengan niat dan tekad yang kuat, orang mampu menahan diri dari makanan dan minuman yang sejatinya halal. Jika demikian halnya maka orang itu tentu akan lebih mampu lagi untuk menahan diri dari sesuatu yang sejatinya memang haram kapan pun. Itu karena, orang tertarik pada sesuatu yang haram dikarenakan dirinya dikendalikan hawa nafsu dan syahwatnya. Nah, kekuatan-kekuatan syahwatiah ini, pada orang puasa sudah diperangi oleh puasanya selama sebulan. Belum lagi puasa-puasa sunnah sepanjang setahun.

Puasa juga membebaskan orang dari kungkungan kebiasaan. Orang terbiasa sarapan pagi, makan siang dan makan malam. Selain makan, sebagian terbiasa dengan minuman yang dianggap dapat membangkitkan semangat kerja seperti teh atau kopi. Puasa Ramadhan atau puasa-puasa sunnah memutus kebiasaan ini untuk membebaskan manusia dari belenggu yang mengungkungnya. Juga untuk mengangkat kehormatan mereka; bahwasanya manusia tidaklah pantas menjadi makhluk yang pikiran dan perasaannya selalu tertuju dan tertaut pada makanan dan minuman. Puasa mendidik kita supaya tidak memakan sembarang makanan. Bahkan makanan yang halal pun tidak boleh dimakan sebelum datang waktunya yang tepat.  

Puasa membebaskan seorang Muslim dari sifat kikir. Kikir merupakan penyakit yang membinasakan siapa saja. Dalam sebuah hadis Rasulullah Saw. bersabda:

Takutlah (dari berbuat) kezaliman, karena sesunguhnya kezaliman (akan menjadi) kegelapan pada hari kiamat. Dan takutlah akan sifat kikir, karena sesungguhnya kikir telah membinasakan umat sebelum kalian, telah membawa mereka menumpahkan darahnya dan menghalalkan hal-hal yang diharamkan (HR. Muslim).

Puasa memberikan terapi untuk penyakit kikir dengan beberapa cara, di antaranya:

1.        Mendorong setiap Muslim untuk memberi makanan kepada mereka yang berpuasa untuk dijadikan santapan saat berbuka. Dalam sebuah hadis dikatakan:

Barangsiapa memberi makanan untuk berbuka kepada orang yang berpuasa maka (pemberiannya) itu menjadi ampunan bagi dosa-dosanya, membebaskan dirinya dari neraka, dan baginya pahala seperti pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun. Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, tidak setiap dari kami memiliki sesuatu yang dapat dijadikan makanan untuk berbuka orang yang berpuasa.” Rasulullah bersabda: “Allah memberikan pahala ini kepada orang yang memberi makanan kepada orang yang berpuasa untuk berbuka walau dengan satu biji kurma, atau seteguk air, atau susu yang dicampur air” (al-Targhîb wa al-Tarhîb).

Pahala yang banyak untuk pemberian yang sedikit seperti digambarkan dalam hadis di atas menggerakkan seorang Muslim untuk bermurah hati dan memberi.

2.        Mendorong setiap Muslim untuk meneladani Nabi Saw.

Yaitu bahwasanya Nabi Saw. adalah orang yang paling murah hati dan lebih murah hati lagi pada bulan Ramadhan ketika ditemui malaikat Jibril.

3.        Zakat fitrah.

Zakat fitrah pada bulan Ramadhan sampai menjelang salat ‘Ied merupakan salah satu ibadah terpenting dalam Ramadhan yang dapat mengobati penyakit kikir. Ia diwajibkan atas si kaya dan si miskin, besar dan kecil, laki-laki dan perempuan, merdeka dan hamba sahaya. Sampai bayi yang lahir sebelum salat ‘Ied orang tuanya wajib membayarkan zakat fitrah untuknya. Ibn Mâjah meriwayatkan dari Ibn ‘Abbâs ra. bahwasanya Nabi Saw. mewajibkan zakat fitrah guna membersihkan orang yang berpuasa dari kata-kata yang kotor dan kata-kata yang tidak berguna serta untuk memberi makan kepada orang-orang miskin. Barangsiapa memberikannya sebelum salat (‘Ied), itulah zakat fitrah. Dan barangsiapa memberikannya setelah salat maka itu hanya salah satu sedekah. Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda:

(Zakat fitrah adalah mengeluarkan) satu sha’ atas setiap orang; kecil atau besar, merdeka atau hamba, laki-laki atau perempuan, kaya atau miskin. Adapun yang kaya dari kalian maka Allah mensucikannya (dengan zakat fitrah itu), sedangkan yang miskin dari kalian maka Allah akan mengembalikannya kepadanya lebih banyak dari yang ia beri.     

Selain sebagai sarana penguatan ruh, puasa juga merupakan sarana penguatan jasmani. Kebanyakan penyakit timbul dari perut yang dijejali apa saja yang diinginkannya tanpa membedakan mana yang penting dan mana yang tidak. Nabi Saw. bersabda:

Tidaklah seseorang memenuhi wadah lebih buruk dari perutnya. Cukup bagi seseorang makan sedikit makanan yang dapat menegakkan tubuhnya. Jika memang benar-benar harus (memasukkan makanan ke perut), maka sepertiganya untuk makanan, sepertiga untuk minum dan sepertiga untuk napas (HR. Tirmidzî, Ibn Mâjah dan Ibn Hibbân).

Jika perut merupakan sarang wabah atau rumah penyakit maka menahan makan merupakan obat utama. Tidak ada yang semampu puasa dalam mengistirahatkan perut dan membersihkan tubuh dari sisa-sisa makanan yang merugikan. Rasulullah Saw. bersabda: “Puasalah kalian maka kalian akan sehat (HR. Thabrânî).”

Puasa juga mengendalikan keinginan dan melatih kesabaran. Orang puasa merasa lapar sedang di hadapanya makanan yang lezat, haus sedang di depannya air dingin nan segar, menahan diri sedang di sampingnya sang isteri. Tidak ada yang mengawasi selain Tuhannya, tidak ada yang mengendalikan selain hatinya, dan tidak ada yang menguatkannya selain keinginannya yang tegar lagi kuat. Kejadian seperti ini terulang selama 13 jam lebih setiap hari, 29 atau 30 hari setiap tahun. Tidak ada institusi yang sanggup mengendalikan keinginan manusia dan mengajarkan kesabaran selain puasa yang diwajibkan Islam atas kaum Muslim dalam bulan Ramadhan dan dianjurkan di luar Ramadhan. Kepada para pemuda Nabi Saw. berseru:

Wahai segenap pemuda, siapa yang mampu di antara kalian untuk kawin maka kawinlah karena sesungguhnya ia lebih menahan pandangan dan menjaga kemaluan. Siapa yang tidak mampu maka hendaklah ia berpuasa karena sesungguhnya ia merupakan tameng (HR. Bukhârî). 

Mengomentari hadis ini Ibn Hajar berkata:

Pangkal dari puasa adalah “menghancurkan” syahwat. Oleh karena banyak makan dan minum menimbulkan gejolak syahwat yang berlebihan, maka puasa menjadi tameng atau peredam syahwat kemaluan. Dan oleh karena banyak makan dan minum mendorong berlebihnya gejolak syahwat maka puasa menjadi tameng atau peredam syahwat nikah.

Oleh karena Ramadhan mengajarkan kesabaran, Rasul Saw. kemudian menamai bulan ini sebagai bulan sabar: “Puasa pada bulan sabar dan tiga hari pada setiap bulan dapat menghilangkan kedengkian di dalam dada” (HR. Ahmad, Ibn Hibbân, dan al-Bayhaqî). Dalam hadits lain diriwayatkan: “Segala sesuatu ada zakatnya, dan zakat tubuh adalah puasa, dan puasa itu separuh dari sabar” (HR. Ibn Mâjah).

Islam bukan agama istislâm (nrimo tanpa usaha) dan kemalasan, melainkan agama jihad dan perjuangan yang berkesinambungan. Persiapan awal jihad itu adalah sabar dan keinginan yang kuat. Orang yang tidak sanggup melawan nafsunya, bagaimana bisa melawan musuh; orang yang tidak mampu mengalahkan dirinya bagaimana sanggup mengalahkan musuhnya; orang yang tidak bisa bersabar menahan lapar selama sehari bagaimana mampu bersabar untuk berpisah dari keluarga dan tanah air demi satu tujuan yang agung. Puasa—dengan kesabaran dan pelatihan jiwa di dalamnya—merupakan salah satu cara paling menonjol yang digunakan Islam dalam rangka menyiapkan pribadi Mukmin yang sabar, mujahid yang tegar lagi gigih yang siap menanggung lapar dan dahaga, siap menyambut kesulitan, kepahitan dan kerasnya hidup selama semua itu di jalan Allah.

Selain itu, puasa pun membersihkan penyakit lidah. Dalam hal ini Nabi Saw. menegaskan bahwa orang yang berpuasa tapi puasanya tidak membuatnya meninggalkan kata-kata dusta, maka Allah tidak punya urusan dengan lapar dan dahaganya. Sejatinya puasa adalah puasanya seluruh anggota tubuh dari segala hal yang dapat membuat Allah marah. Ketika iktikaf Ramadhan, orang yang sedang puasa dianjurkan untuk sedikit bicara walaupun pembicaraan yang halal. Ini merupakan sarana yang amat baik bagi pembersihan lidah dari berbagai penyakitnya. Orang yang berpuasa namun lidahnya tetap diumbar menyakiti orang lain, berdusta, bersumpah palsu, bertengkar dan sebagainya, maka puasanya hanya menjadi debu yang beterbangan. 

Di antara hikmah puasa lainnya adalah bahwa dengannya orang yang berpuasa sadar betapa besarnya nikmat Allah kepadanya. Di antara sifat jelek manusia adalah bahwa ia sering tidak merasakan betapa besarnya suatu nikmat justeru ketika ia dilimpahi nikmat itu. Ia baru akan sadar akan besarnya nikmat justeru ketika nikmat itu hilang darinya. Nikmatnya manis baru disadari saat merasakan pahit. Arti siang baru disadari saat malam tiba. Dengan lawannya sesuatu dapat dikenal. Dengan puasa seseorang menghargai nikmat makan, minum, kenyang dan kesegaran. Dengan teriknya dahaga dan pahitnya lapar, nikmat makan dan minum disadari dan dihargai. Karena itu, Nabi Saw. bersabda:

Tuhanku menawarkan kepadaku untuk menjadikan bukit Mekah emas untukku. Aku berkata: “Tidak, hai Tuhanku. Melainkan aku kenyang sehari dan lapar sehari. Ketika aku lapar maka aku merendahkan diri kepada-Mu dan mengingat-Mu. Dan ketika aku kenyang maka aku bersyukur kepada-Mu dan memuji-Mu” (HR. Tirmidzî).

Di atas itu semua, puasa mengandung penyerahan diri dan penghambaan yang sempurna kepada Allah. Hal ini merupakan benang merah semua ibadah dan merupakan tujuan tertinggi dari semua kewajiban. Ibadah tidak disebut ibadah dan si hamba tidak disebut hamba tanpa penyerahan dan penghambaan. Penyerahan diri dan penghambaan ini terlihat lebih jelas dalam puasa. Kalau bukan karena kecintaan kepada Allah dan berhadap akan ridha-Nya serta mementingkan apa yang ada di sisi-Nya, buat apa orang berlapar-lapar dan menahan dahaga sementara aneka makanan dan minuman segar tersaji di hadapannya. Karenanya, Allah menisbahkan puasa kepada Diri-Nya dan menangani sendiri pahala orang-orang yang berpuasa. Firman-Nya dalam hadis qudsi:

Setiap amal anak Adam bagi dirinya kecuali puasa. Sesungguhnya ia bagi-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Ia meninggalkan makanannya demi Aku, meningalkan minumannya demi Aku, meninggalkan kenikmatannya demi Aku dan meninggalkan isterinya demi Aku (HR. Ibn Khuzaymah).

Allah tidak mewajibkan puasa untuk menyiksa atau memberatkan manusia. Firman-Nya di akhir ayat puasa: Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu (QS. al-Baqarah/2: 183). Allah mewajibkannya guna menghaluskan jiwa, menyehatkan raga, meneguhkan tekad, melatih kesabaran, mengingatkan akan nikmat, mengoptimalkan pengabdian, dan menumbuhkan kepedulian sosial.

Comments on: "Beberapa Rahasia Puasa" (4)

  1. puasa terus ya….

    mari belajar agama di saat puasa. malaikat penjaga surga siapa?

  2. ya..
    mari!
    malaikat Ridhwan

  3. muantap om…….lanjutkan ane lg saur nh………..

  4. abualitya said:

    thanks juga…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: