Berpikir positif, bersikap & bertindak bijak

Beberapa Pesan Haji

Abad Badruzaman

Beberapa hal menjadikan haji ke Baitullah (Masjid Haram) berkedudukan tinggi dan memiliki atsar (efek, pengaruh) yang mulia. Masjid Haram merupakan masjid pertama di muka bumi yang dibangun untuk menyembah Allah setelah berhala-berhala dan tempat-tempatnya dihancurkan. Dibangunnya Masjid Haram setelah hancurnya berhala-berhala menjadi penanda bagi kemenangan tauhid dan ketinggian panjinya. Yang membangunnya adalah dua nabi mulia: Ibrâhîm dan putranya, Ismâ’îl. Yang pertama dilemparkan ke dalam api oleh para penyembah berhala karena telah menghancurkan berhala-berhala mereka. Al-Qur’an merekam salah satu ucapannya:

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. Dan dia dibantah oleh kaumnya. dia berkata: “Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku”. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)? (QS. al-An’âm/6: 79-80).”

Seperti dicatat sejarah, Ibrâhîm adalah penentang kemusyrikan, penghancur berhala, simbol tauhid, bapak millah hanîfiyah; yaitu millah Islam. Dialah yang dulu menamai kita sebagai orang-orang muslim (muslimîn).

Dia telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu (QS. al-Hajj/22: 78).

Tidak heran jika kemudin antara beliau dan kaum Muslimin terdapat ikatan-ikatan spiritual yang tidak terpisahkan atau terlemahkan oleh rentang waktu yang panjang. Ikatan-ikatan inilah yang menjadikan mereka selalu ingat kepada perjalanan hidup, perjuangan, dan keutamaan bapak tauhid yang mulia itu.

Ibrâhîm bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman [kepada Muhammad] (QS. Âli ‘Imrân/3: 67-68).

Dalam kerangka makna, rasa dan ikatan spiritual-historis yang mempertalikan kaum Muslim dengan Baitullah dan pendirinya inilah Allah mewajibkan haji atas setiap orang yang mampu.

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrâhîm; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam (QS. Âli ‘Imrân/3: 96-97).

Sedang yang kedua adalah Ismâ’îl yang telah merelakan lehernya disembelih ketika sang ayah berkata kepadanya: “Aku diperintah menyembelihmu.”

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar (QS. al-Shâffât/37: 102).”

Dua orang mulia inilah yang membangun Masjid Haram—yang terkenal dengan Ka’bah, tempat kaum Mukmin berkumpul dan salat di dalamnya seraya mengakui kedudukan dan keagungannya. Ini pertama.

Kemudian, umat Islam sejatinya adalah buah dari doa Ibrâhîm yang dipanjatkan selama pembangunan Masjid Haram:

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur’an) dan al-Hikmah (Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. al-Baqarah/2: 127-129).

Jasa Ibrâhîm ini layak mendapat penghormatan dan pantas untuk selalu diingat. Nampaknya tidak keliru jika kita berkeyakinan bahwa di antara bentuk syukur kita kepada Allah adalah dengan mengagungkan dan menghormati masjid yang pembangunannya disertai doa bagi generasi-generasi yang akan datang itu. Siapa tahu, hidayah yang kita dapatkan merupakan bagian dari keberkahan doa mustajab yang dipanjatkan Ibrâhîm tersebut.

Selanjutnya, salat—yang merupakan ibadah amaliah paling utama—terkait erat dengan rumah tua ini. Sudah pasti ketika seorang Muslim berdiri, rukuk dan sujud, yang ia tahu hanya bahwa dirinya sedang berada di hadapan Tuhan. Sudah pasti hanya Zat-Nya yang diucap dan diharap dalam setiap bacaan, tasbih dan tahmidnya. Dan sudah barang tentu pula bahwa semua arah, pada dasarnya, nilainya sama. Tidak ada sesuatu pun darinya yang pantas dikultuskan.

Hanya saja kemudian Allah mengarahkan seluruh umat Islam ke satu kiblat di mana seluruh masjid yang ada di lima benua berhubungan erat dengan masjid pertama di muka bumi ini. Di masjid paling tua ini umat Islam “bertemu” dengan bapak tauhid mereka, Ibrâhîm, untuk mengumumkan bahwa dengan “pertemuan” ini mereka tidak menyimpang dari kaidah-kaidah kenabian terdahulu. Dinyatakan dalam al-Qur’an:

Dan dari mana saja kamu ke luar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjid Haram; sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. Dan dari mana saja kamu keluar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjid Haram. Dan di mana saja kamu sekalian berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Dan agar Kusempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk (QS. al-Baqarah/2: 149-150).

Oleh karena adanya hubungan-hubungan historis-spiritual inilah kemudian Allah mewajibkan umat Islam, yang mampu di antara mereka, untuk mengunjungi Masjid Haram sekali selama hidupnya. Di balik ziarah ini terdapat banyak pelajaran, namun yang paling penting adalah mempertajam keyakinan dan memperdalam keikhlasan kepada Allah.

Kata-kata yang tiada henti keluar dari mulut orang yang sedang berhaji mencerminkan makna ini: Labbaik allâhumma labbaik, labbaik lâ syarîka laka labbaik. Kalimat talbiyah ini seolah jawaban atas seruan yang diwahyukan Allah kepada Ibrâhîm:

Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku` dan sujud. Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh (QS. al-Hajj/22: 26-27).

Demikianlah. Mereka datang sambil tak henti melantunkan talbiyah, menyertai segenap makhluk lainnya yang juga memanjatkan puji bagi-Nya. Lembah terpencil itu berubah menjadi lautan manusia di mana tidak ada suara terdengar dari mereka selain zikir, syukur, puja dan puji. Hari-hari haji adalah hari-hari ibadah. Sepenuh jiwa-raga dihadapkan kepada Allah, segenap puji dipanjatkan bagi-Nya, dan seluruh perhatian hanya tertuju kepada-Nya.

 (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal (QS. al-Baqarah/2: 197).

Manasik haji bukanlah sesuatu yang sulit. Ia adalah sejumlah besar manusia yang berkumpul di ‘Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai selepas terbenam matahari. Kemudian thawaf mengelilingi Ka’bah. Itulah rukun haji yang penting. Di luar itu ada beberapa tuntutan; yang ringan atau pun yang ditekankan, seperti penghormatan kepada Masjid Haram dengan melakukan thawaf ketika tiba di Mekah (thawâf qudûm), melempar tiga jumrah, serta sa’y antara bukit shafa dan marwah.

Ada yang menganggap manasik haji sebagai ritual yang berat, membebani dan sulit dilakukan. Ini keliru. Haji adalah sebuah perjalanan ruhiah yang menyenangkan, kunjungan spiritual yang mulia. Allah mewajibkannya untuk mengisi ruang hati melengkapi sisi nalar dalam Islam.

Banyak dari ritual haji ini di zaman jahiliah mereka warisi dari millah Ibrârîm. Tetapi mereka telah mencampurkan yang benar dengan yang batil, yang baik dengan yang buruk. Mereka telah menyimpangkan haji dari arahnya semula. Mereka penuhi Ka’bah dengan patung-patung berhala yang mereka anggap sebagai tuhan sekutu Allah. Mereka sembah berhala-berhala itu dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah. Ketika bernazar, mereka persembahkan nazarnya untuk berhala-berhala itu, dan ketika menyembelih hewan mereka sebut nama-nama berhala itu. Dalam ritual haji mereka juga membuat tradisi yang tidak berdasar sama sekali. Misalnya thawaf di Ka’bah dalam keadaan telanjang dengan dalih bahwa tidak pantas thawaf di Rumah Allah dengan pakaian yang biasa mereka pakai dalam melakukan dosa. Mereka juga mengharamkan memakan beberapa makanan yang halal lagi baik seperti susu.

Islam datang membersihkan haji dari kesesatan-kesesatan jahiliah dan kotoran-kotoran keberhalaan, menjadikan haji sepenuhnya hanya untuk Allah, memberantas keseronokkan, dan menghalalkan rezki yang halal lagi baik:

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik? (QS. al-A’râf/7: 31-32).”

Haji dimulai dengan mîqât, yaitu tempat yang ditentukan oleh syarak untuk dijadikan tempat ihram. Ihram diimplementasikan dengan niat berhaji dan menanggalkan pakaian apa pun yang kerap dijadikan ajang kebanggaan dan kesombongan. Yang dikenakan hanya pakaian putih sederhana yang belum tersentuh jahitan; pakaian yang lebih mirip dengan kain kafan. Ihram adalah semacam upaya merealisasikan prinsip “kembali ke kesucian alam (al-‘awdah ilâ thahârah al-thabî’ah)”, seperti yang didengungkan Jean Jacques Rousseau dan para filosof lainnya namun tidak mereka buktikan.  

Tentang hal ini Ali Shariati menjelaskan bahwa pakaian melambangkan pola, preferensi, status, dan perbedaan-perbedaan tertentu. Pakaian menciptakan batas palsu yang menyebabkan perpecahan di antara umat manusia. Hampir semua perpecahan melahirkan diskriminasi. Dari perpecahan itu selanjutnya timbul konsep “aku”, bukan “kami/kita”. “Aku” digunakan di dalam berbagai konteks seperti: ras, kelas, klan, kelompok, kedudukan, keluarga, dan nilai. “Aku” di sini bukan “aku” sebagai manusia.

Di mîqât, para hujjâj melepaskan pakaian mereka dan meninggalkannya di mîqât. Mereka mengenakan “kain kafan”, sehelai kain putih sederhana. Yang mereka kenakan adalah pakaian yang sama satu sama lainnya. Saksikan betapa keseragaman yang terjadi! Setiap orang dari mereka menjadi sebuah partikel yang mengikuti massa. Laksana setetes air, mereka masuk ke dalam samudera!

Di sini mereka tidak boleh tinggi hati. Mereka harus berendah hati karena mereka hendak mengunjungi Allah. Mereka harus menjadi manusia yang menyadari kefanaannya atau menjadi manusia fana yang menyadari eksistensinya. Setelah menanggalkan pakaian beserta semua tanda yang membedakan seseorang dengan yang lain barulah mereka boleh bergabung dengan orang banyak. Di dalam keadaan ihram ini, mereka harus melupakan segala sesuatu yang mengingatkan mereka kepada kehidupan.

Di antara ritual haji terpenting setelah ihram adalah thawaf di Ka’bah. Ka’bah merupakan simbol tauhid dan kesatuan (ramz al-tawhîd wa al-wahdah). Secara fisik tidak ada yang istimewa dari Ka’bah. Ia hanya sebuah bangunan persegi yang kosong, terbuat dari batu-batu hitam keras yang disusun dengan sangat sederhana. Kapur putih digunakan untuk menutup celah-celahnya. Di dalam Ka’bah tidak ada keahlian arsitektural, keindahan, seni, prasasti, atau pun kualitas lainnya yang dapat kita saksikan. Selain itu, di dalam bangunan pun ini tidak ada apa-apa; tidak ada kuburan atau apa saja yang dapat menjadi pusat untuk mencurahkan perhatian, perasaan dan kenangan.

Ka’bah adalah sebuah bangunan kosong. Kekosongannya ini mengingtkan kita bahwa sejatinya tidak ada penghalang untuk dapat berhubungan dengan Yang Mutlak dan Yang Abadi. Ke mana pun kita berpaling, kita dapat menyaksikan Yang Mutlak, Yang tidak dibatasi oleh arah.  

Ka’bah hanyalah bangunan tua yang sederhana. Sederhana namun menggugah segenap rasa di relung-relung jiwa. Sebagai “Rumah Tauhid” Ka’bah memang sederhana sebab ajaran tauhid juga begitu simpel, murni, dan mudah dicerna.

Di hari Pembebasan Kota Mekah (Fath Makkah), Nabi Saw. mendatangi Ka’bah diiringi para sahabatnya. Beberapa pembesar dan pemuka masyarakat Mekah di belakang para sahabat. Setelah thawaf tujuh putaran, Nabi Saw. berdiri di depan pintu Ka’bah. Orang-orang semakin banyak mengelilinginya. Kepada mereka Nabi Saw. membacakan ayat:

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. al-Hujurât/49: 13).

Kemudian beliau bertanya kepada penduduk Mekah: “Wahai segenap orang Quraisy, menurut kalian apa yang akan aku perbuat terhadap kalian?” Mereka menjawab: “Kebaikan, (sebab engkau) saudara yang mulia anak saudara yang mulia.” Nabi Saw. berkata: “Pergilah, kalian bebas!”

Lalu beliau berjalan mengelilingi Ka’bah. Dilihatnya rumah tua yang dibangun Ibrâhîm dan Ismâ’îl sebagai Rumah Tauhid itu telah berubah menjadi rumah berhala dan syirik. Kesederhanaan, kewibawaan dan kekuatan tauhid sudah tidak ada lagi; dihilangkan oleh tangan-tangan jahiliah. Dinding luar dan dinding dalam Ka’bah kini dipenuhi gambar-gambar dan patung-patung.

Ka’bah, sampai ketika Muhammad datang membebaskan kota Mekah, merupakan kuil berhala dan kemusyrikan. Muhammad datang mengembalikan Rumah Allah sebagai Rumah Tauhid seperti dulu. Maka gambar-gambar dan patung-patung berhala yang mengotori Ka’bah itu diperintahkanya untuk dihancurkan. Ka’bah pun kini suci dan kesederhanaan serta kekuatan tauhid dengan makna ruhiahnya nan mulia kembali lagi kepadanya. Kesederhanaan dan kekuatan itu dirasakan oleh orang yang thawaf di Ka’bah dan memasukinya. Hatinya hanya tertuju kepada Allah semata. Hanya bagi-Nya puji dan kepemilikan serta kepada-Nya segala urusan kembali.

Sungguh agung detik-detik sejarah di mana Muhammad menyucikan Ka’bah dari aneka ragam syirik dan pernik-perniknya. Bagi umat Islam, Ka’bah adalah penghubung antara “yang lama” dan “yang baru” dalam sejarah iman. Ia menegaskan tentang kesatuan agama di sisi Allah. Ka’bah mempertalikan millah Ibrâhîm dengan dîn Muhammad. Di sisi-Nya keduanya sama; Islâm.

Ka’bah dan thawaf mengelilinginya, hajar aswad dan mencium atau melambaikan tangan untuknya, semua ini sarat dengan makna simbolis yang indah. Seorang Muslim yang thawaf di Ka’bah atau melambaikan tangan tanda salam kepada hajar aswad, yakin sepenuhnya bahwa Ka’bah dan hajar aswad secara fisik hanyalah batu yang tidak memberi manfaat dan mudarat. Yang ia agungkan dan ia hormati bukan batu-batu itu melainkan makna-makna simbolis nan agung yang ada di dalamnya, seperti makna persaudaraan kemanusiaan yang menyeluruh (al-ukhuwwah al-insâniyah al-syâmilah) dan makna kesatuan dunia yang universal (al-wahdah al-‘âlamiyah al-jâmi’ah).  Inilah sesungguhnya yang diingatkan firman-Nya dalam QS. al-Mâ`idah/5: 97:

Allah telah menjadikan Ka`bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia, dan (demikian pula) bulan Haram, had-ya, qalaid. (Allah menjadikan yang) demikian itu agar kamu tahu, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Ketika makna-makna yang dalam tidak dapat digambarkan dengan kata-kata, atau ketika perasaan-perasaan yang indah yang tidak bisa dijelaskan lewat ungkapan, maka perlambang atau simbol menjadi satu-satunya bahasa yang dapat mengungkapkan semua makna dan perasaan itu. Seorang yang menghormat bendera negaranya tahu bahwa bendera itu hanyalah sehelai kain yang secara materi tidak ada nilainya. Namun di saat sama ia sadar bendera itu melambangkan keagungan dan kemuliaan yang menjadi kebanggaan tanah airnya. Bendera menggambarkan perasaan paling dalam tentang nasionalisme.

Ka’bah adalah “bendera” Allah di bumi. Dengannya Allah menggambarkan makna-makna persaudaraan kemanusiaan yang paling mulia. Dengannya Dia melambangkan nilai-nilai kesatuan yang paling luhur. Sebagai sebuah bangunan, Ka’bah memberi pesan hendaklah mereka seperti satu bangunan kokoh yang bagian-bagiannya saling menguatkan satu sama lain. Sungguh amat indah, yang membangun bangunan ini adalah al-Khalîl Ibrâhîm, bapak para nabi.

Ka’bah merupakan lambang nan abadi. Padanya Islam menyematkan makna-makna kemanusiaan universal yang paling abadi, suci dan luhur serta persaudaraan antar seluruh umat manusia. Demikian seperti dinyatakan QS. al-Baqarah/2: 125:

Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat salat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i`tikaaf, yang ruku` dan yang sujud.”

Seperti telah disinggung, di antara ritual haji terpenting setelah ihram adalah thawaf.

Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu [Baitullah] (QS. al-Hajj/22: 29).

Thawaf adalah berputarnya hati mengelilingi kesucian Ilahi. Demikianlah keadaan si pecinta bersama Sang Kekasih Pemberi aneka nikmat; meski Zat-Nya tak nampak, namun nikmat-nikmat-Nya jelas terlihat. Ka’bah yang dikelilingi lautan manusia yang diliputi keharuan bagaikan matahari yang menjadi pusat sistem tata surya dikelilingi bintang-bintang yang beredar dalam orbitnya. Ka’bah melambangkan konstansi dan keabadian Allah, sedang lautan manusia yang mengelilinginya melambangkan aktivitas dan transisi makhluk-makhluk-Nya yang terjadi secara terus menerus.

Ketika berthawaf, seseorang tidak dapat memasuki atau berhenti di sisi Ka’bah. Ia harus mencebur dan hilang di tengah lautan manusia. Ia harus terbenam dan hanyut dalam arus lautan manusia yang sedang bergerak mengelilingi Ka’bah. Hal ini mengajarkan bahwa jalan Allah adalah jalan manusia. Untuk menghampiri Allah terlebih dahulu seseorang harus harus menghampiri manusia. Untuk mencapai kesalehan seseorang harus benar-benar terlibat dalam masalah-masalah yang dihadapi umat manusia. Ia tidak boleh bersikap seperti seorang rahib yang memencilkan dirinya dalam biara. Ia harus terjun ke medan kehidupan dan terlibat secara aktif.

Karena jalan Allah adalah jalan umat manusia maka jalan ini tidak boleh ditempuh secara sendiri-sendiri melainkan harus secara bersamaan. Kebersamaan menuntut karya bakti, pengabdian, kemurahan hati, pengorbanan, dan menghilangkan egoisme. Setetes air yang tidak menjadi bagian dari sungai adalah embun. Keberadaannya sebentar saja karena ia akan hilang begitu matahari terbit. Seseorang tidak boleh seperti embun yang terpisah dari sungai. Ia harus ikut hanyut dalam aliran sungai menuju lautan dan menjadi abadi.  

Selanjutnya sa’y:

Sesungguhnya Shafaa dan Marwah adalah sebahagian dari syi`ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber`umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa`y antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui (QS. al-Baqarah/2: 158).

Secara leksikal sa’y berarti upaya, usaha, pengerahan tenaga dan perjuangan. Sa’y tak lain dari kegiatan pergi-pulang antara dua bukit harapan berusaha mendapatkan ampunan dan keridhaan. Sa’y adalah sebuah pencarian. Jadi ia adalah sebuah gerakan yang memiliki tujuan dan digambarkan dengan sebuah gerak berlari-lari serta bergegas-gegas. Ketika bersa’y, seseorang sedang meneladani dan menapaktilasi Hajar.

Hajar yang merupakan teladan kepasrahan itu tidak duduk berdiam diri. Ia bangkit berlari-lari dari satu bukit tandus ke bukit tandus lainnya untuk mencari air. Ia terus mencari, bergerak dan berjuang. Tekadnya adalah bersandar kepada dirinya sendiri, kepada usahanya, kepada kemauannya dan kepada pikirannya. Hajar adalah sosok perempuan yang bertanggung jawab. Karena tanggung jawabnya ia rela hidup sendirian, mengelana dan terus mencari sambil menanggung penderitaan demi sebuah harapan. Yang diharapkannya bukanlah hal-hal yang “aneh” atau sesuatu yang metafisis, melainkan sesuatu yang sederhana tapi nyata; air. Pencarian air ini melambangkan pencarian kehidupan materil di dunia ini. Kebutuhan materil adalah kebutuhan riil manusia; sebuah kebutuhan yang menunjukkan adanya hubungan yang niscaya antara manusia dengan alam.

Hajar memulai usahanya dari bukit Shafâ. Secara harfiah shafâ berarti kesucian dan ketegaran. Ini memberi pesan bahwa hidup harus dicapai dengan usaha yang dimulai dengan kesucian dan ketegaran. Usaha Hajar berakhir di bukit Marwa. Dari kata marwa, yang secara harfiah berarti air yang menghilangkan rasa haus, tercermin makna-makna ini: ideal manusia, sikap menghargai, bermurah hati, dan memaafkan orang lain. Begitulah, hidup harus diawali dengan sebuah usaha berdasarkan kesucian dan ketegaran demi meraih hasil sesuai yang diharapkan. Setelah yang diharap didapat, jadilah manusia sejati yang pandai menghargai, bermurah hati dan memaafkan orang lain.

Jika dalam thawaf orang seperti kupu-kupu yang berputar-putar menghampiri nyala lilin sehingga tubuhnya terbakar dan hangus sedang abunya diterbangkan angin lalu hilang dalam cinta dan mati dalam cahaya; maka dalam sa’y orang bagaikan elang yang melayang-layang di atas bukit dengan mengepak-ngepakkan sayapnya yang kuat untuk mencari makan dan menyambar mangsanya yang ada di antara bebatuan. Angin yang bertiup menerpa sayapnya sehingga ia dapat dengan leluasa terbang di angkasa. Di bawah rentangan sayapnya bumi terlihat begitu hina. Bumi takluk kepada tatapan matanya yang tajam serta awas.

Jika dari thawaf terpancar nilai-nilai ini: penghambaan, spiritualitas, moralitas, kesucian, kebenaran, kesalehan, pengabdian, kepasrahan, keagungan dan kehendak Tuhan, perjuangan demi orang lain, berorientasi pada akhirat dan segalanya demi Allah; maka dari sa’y terpancar nilai-nilai berikut: ilmu pengetahuan, logika, kebutuhan, fakta, objektif, bumi, materil, alam, akal-pikiran, sains, industri, ekonomi, peradaban, kemerdekaan, kemauan dan keberdayaan di dunia.

Jika dalam thawaf yang ada hanya cinta yang mutlak maka dalam sa’y yang ada hanya akal yang mutlak. Jika dalam thawaf semuanya adalah “Dia” maka dalam sa’y semuanya “kamu”. Jika  dalam thawaf yang ada hanya kehendak Allah maka dalam sa’y yang ada hanya kehendakmu. Dan jika thawaf melambangkan jiwa maka sa’y menyimbolkan raga. Haji memadukan kedua kelompok nilai ini; kelompok nilai yang ada dalam thawaf dan kelompok nilai yang terbingkai dalam sa’y, sehingga terjadi keseimbangan. Demikian Ali Shariati dalam Hajj.

Selain sa’y, ritual haji terpenting lainnya adalah wukuf di Arafât. Wukuf tidak lain dari pengerahan semangat dalam sebuah ketundukan hati yang penuh dengan rasa takut berbaur takzim; tangan-tangan yang menengadah penuh harap, lidah-lidah yang tiada henti memanjatkan doa, dan permintaan-permintaan tulus akan kasih sayang Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Perjalanan meninggalkan Ka’bah menuju ‘Arafat melambangkan awal kejadian manusia. Manusia dan ma’rifah[1] (pengetahuan) tercipta dalam waktu bersamaan. Di sanalah mereka seharusnya menemukan ma’rifah sejati tentang dirinya dan akhir perjalanan hidupnya. Di sana pula mereka hendaknya menyadari jejak langkahnya selama ini serta menyadari betapa agung Tuhan yang kepada-Nya seluruh makhluk bersembah. Kesadaran-kesadaran ini mengantarkan seseorang menjadi ‘ârif; orang yang sadar dan mengetahui. Begitu Quraish Shihab dalam Membumikan al-Qur`an.

Di antara tempat-tempat yang harus dikunjungi selama melakukan ibadah haji, Arafat merupakan tempat yang paling jauh dari Mekah. ‘Arafat adalah padang gersang. Ditengah-tengah padang ini terdapat bukit batu kecil bernama Jabal Rahmah. Pada Haji Wada’, di atas Jabal Rahmah, Nabi Saw. menyampaikan khutbah yang isinya antara lain wasiat kepada setiap suami untuk berlaku baik terhadap istrinya. Wasiat itu berbunyi sebagai berikut:

Ingatlah, aku wasiatkan kalian untuk memperlakukan para isteri dengan baik. Sebab sesungguhnya mereka adalah para penolong kalian. Kalian tidak memiliki sesuatu dari mereka selain itu, kecuali mereka melakukan kekejian yang nyata. Jika mereka melakukannya maka pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai. Jika mereka menaati kalian maka janganlah kalian mencari-cari jalan (untuk menyakiti) mereka. Ingatlah bahwa sesungguhnya kalian memiliki hak atas isteri-isteri kalian dan isteri-isteri kalian memiliki hak atas kalian. Hak kalian atas isteri-isteri kalian adalah mereka tidak memberikan tempat tidur kalian kepada orang yang kalian tidak sukai dan tidak mengizinkan orang yang tidak kalian sukai masuk ke rumah kalian. Sedangkan hak mereka atas kalian adalah kalian berbuat baik kepada mereka dalam hal sandang dan pangan mereka.

Wukuf di ‘Arafat dimulai di siang hari ketika matahari sedang terik-teriknya. Hal ini mengandung titah bahwa mereka yang sedang wukuf di ‘Arafat harus memperoleh kesadaran, wawasan, kemerdekaan, dan pengetahuan.

Selanjutnya kita biarkan Ali Shariati mengakhiri pembicaraan tentang wukuf di ‘Arafat ini. Shariati menulis:

Jangan hindari terik matahari, cahaya, kemerdekaan, dan orang banyak. Hendaklah engkau senantiasa berada di tengah-tengah orang banyak.

Di waktu-waktu sebelumnya hidupmu tertindas dan engkau berada di dalam kebodohan seperti lumut di dalam air yang tergenang. Wahai manusia! Sekarang keluarlah engkau dari kemahmu, menceburlah ke dalam lautan manusia ini, biarkan egomu hangus terbakar oleh matahari ‘Arafat yang terik. Wahai manusia! Pada hari ini hendaklah engkau menjadi sebuah pelita yang terbakar sendiri karena menerangi hati umat manusia! Janganlah engkau menjadi lunak dan lumer di tangan para penindas! Jangalah engkau mau menjadi boneka!

Dari ‘Arafat, para jamaah pergi ke Masy`ar al-Haram (Muzdalifah) untuk mengumpulkan senjata (berupa batu-batu kerikil) dalam menghadapi musuh utama yakni setan.

Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari `Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy`arilharam. Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat. Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (`Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. al-Baqarah/2: 198-199).  

Jika ‘Arafat melambangkan pengetahuan, maka masy’ar melambangkan kesadaran.[2] Menarik, demikian Shariati, ‘arafât disebut dalam bentuk jamak (bentuk tunggalnya ‘arafah) sedang masy’ar dalam bentuk tunggal (bentuk jamaknya masyâ’ir). Ini mempunyai arti bahwa sebuah realitas dapat dinyatakan dengan cara-cara yang berbeda walaupun realitas itu sendiri adalah tunggal. Sesungguhnya bukan pengetahuan melainkan kesadaran yang membuat seseorang menjadi algojo atau martir, menjadi penindas atau pecinta kemerdekaan, menjadi pendurhaka atau manusia saleh. Tentu saja ibadah haji menginginkan kesadaran yang tumbuh dalam diri para jamaah adalah kesadaran yang mulia sehingga mereka tidak memilih menjadi algojo melainkan menjadi martir, tidak mau menjadi penindas tetapi menjadi pecinta kemerdekaan, dan tidak memilih menjadi manusia durhaka melainkan menjadi manusia saleh. Karena itu masy’ar tidak disebut “masy’ar” saja melainkan ditambah dengan al-Haram; Masy’ar al-Haram; kesadaran yang mulia.

Jika dalam tahap ‘Arafat wukuf dilakukan di siang hari, maka dalam tahap Masy’ar al-Haram wukuf dilakukan di malam hari. Demikian itu karena ‘Arafat adalah tahap pengetahuan dan sains yang merupakan sebuah hubungan objektif antara ide dan fakta yang ada. Pada tahap ini diperlukan pandangan yang tajam dan karena itu dibutuhkan cahaya yang terang (siang hari). Sedangkan Masy’ar merupakan tahap kesadaran atau hubungan subjektif di antara ide-ide. Pada tahap ini kita mencapai kesanggupan memahami dengan lebih banyak melakukan konsentrasi dalam kegelapan dan keheningan malam. Menakjubkan, kesadaran yang lahir dari pengetahuan.

Di kegelapan malam Masy’ar, lautan manusia mengumpulkan senjata dan bersiap-siap menghadapi pertempuran hari esok melawan musuh mereka di medan pertempuran Mina. Kini matahari Masy’ar membangunkan balatentara tauhid. Mereka segera berkumpul dan menjadi sungai manusia yang besar. Mereka bersiap-siap meninggalkan Masy’ar dan meneruskan perjalanan ke Mina.

Kini balatentara itu sudah berada di medan pertempuran Mina. Mina berada di sebelah barat sedang ‘Arafat di sebelah timur mereka. Pasukan tauhid itu menghadap ke Mina. Sementara matahari terbit di belakang mereka melewati bukit-bukit ‘Arafat dan menerobos masuk ke dalam lorong Mina. Jadi, matahari juga melakukan ibadah haji; terbit di ‘Arafat, melalui Mina lalu memasuki Mina.

Gelombang manusia itu mendobrak batas tembok Mina dan menaklukkan negeri iblis itu. Sementara mereka mengalahkan setan, matahari 10 Dzulhijjah mengibarkan bendera kemenangan. Dengan senyuman pertamanya ia memberi aba-aba untuk maju menggempur dan menyerang. Lagi-lagi, kita biarkan Ali Shariati menggambarkan pertempuran hebat di Mina pada pagi 10 Dzulhijjah itu:

Allah Akbar! Betapa dalam makna yang dikandung oleh ucapan ini! Balatentara tauhid telah tiba! Masing-masing dari mereka memiliki senjata (batu-batu kerikil) yang telah siap untuk ditembakkan. Jangan tembak dan lewati saja berhala pertama yang kalian jumpai! Demikian pula dengan berhala yang kedua! Tetapi ketika kalian sampai kepada berhala yang ketiga, tembaklah ia; janganlah ia kalian lewati begitu saja! Mengapa? Guru-guru yang bijaksana dan berpengalaman biasanya menganjurkan agar kalian bertindak dengan tenang, setahap demi setahap, dan bergiliran. Tetapi di sini yang menjadi komandan adalah Ibrâhîm dan ia memerintahkan: “Tembaklah yang terakhir di dalam seranganmu yang pertama!”

….Pertempuran telah selesai. Ketika berhala yang terakhir telah jatuh, maka yang pertama dan yang kedua tidak berdaya lagi. Berhala yang terakhir adalah pendukung berhala-berhala lainnya. Setelah meninggalkan medan pertempuran, maka selain melakukan acara korban tidak ada lagi yang harus kalian lakukan. Kalian boleh mengumandangkan dan merayakan kemenangan yang telah kalian raih. Tanggalkan pakaian ihrammu, kenakan pakaian yang engkau senangi, potong rambutmu, gunakan wewangian jika engkau suka, dan rangkullah suami atau isterimu! Sekarang engkau telah bebas! Sekarang engkau telah menjadi seorang manusia! Mina telah engkau taklukkan dan setan telah engkau kalahkan!…Kini engkau adalah seorang Ibrâhîm! Dan kini engkau hendak mengorbankan anakmu Ismâ’îl untuk Dia.

Yûsuf al-Qardhâwî menutup perbincangan tentang pertempuran di Mina ini:

Melempar jumrah setelah perjalanan yang membawa cahaya Ilahi ke dalam hati tidak lain dari simbol kebencian dan penghinaan terhadap segala unsur dan bentuk kejahatan serta semua gejolak nafsu. Ia juga merupakan lambang kebulatan tekad untuk mengusir hawa nafsu yang merusak kehidupan individu dan kelompok.

Terakhir, menyembelih hewan kurban. Menyembelih hewan kurban, yang merupakan tahap akhir dari tahapan-tahapan mencapai kesucian dan kemurnian, tidak lain dari menumpahkan darah kehinaan dengan tangan yang amat bersemangat membangun kemuliaan. Ia juga merupakan simbol pengorbanan demi meraih kesucian dan kemuliaan.

Beberapa Makna dan Pesan Haji

Selain merupakan satu paket ibadah yang paling banyak mencakup rangkaian ritual, haji juga merupakan ibadah yang paling banyak mengandung makna dan pesan bagi kehidupan kaum Muslim, baik secara personal maupun sosial.

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfa`at bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah (QS. al-Hajj/22: 27-28).

Haji dan Kekayaan Spiritual

Haji memberi kekayaan yang besar bagi kehidupan ruhaniah seorang Muslim, sehingga seluruh relung jiwanya diliputi rasa takut dan takwa kepada Allah, tekad yang kuat untuk selalu menaati-Nya, dan penyesalan yang dalam atas kemaksiatan yang pernah dilakukannya; tumbuh dalam jiwanya kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, dan kepada orang-orang yang membela beliau dan mengikuti petunjuk yang dibawanya; bangkit dalam dirinya rasa persaudaraan terhadap saudara-saudara seagamanya di mana pun; dan menyala dalam dadanya api semangat membela agama dan kehormatannya.

Tanah suci dengan segala kenangannya, ritual-ritual haji dengan segenap pengaruhnya bagi jiwa, kekuatan jamaah dengan semua efeknya bagi pola pikir dan pola perilaku; semua ini meninggalkan bekas yang jelas pada jiwa seorang Muslim. Maka ia pun pulang dari perjalanan ruhaninya itu dengan hati lebih bening, perilaku lebih suci, semangat pada kebaikan lebih kuat, dan benteng pertahanan dari keburukan lebih kokoh. Selama hajinya mabrur, tulus karena Allah, maka pengalaman serta kekayaan ruhani dan emosi yang amat berharga ini akan mengubah eksistensi maknawinya, bahkan akan menjadikannya “makhluk lain”, serta mengembalikannya seolah-olah bayi yang baru menyambut kehidupan; segalanya serba suci dan murni. Tentang hal ini Rasulullah Saw. bersabda: “Barangsiapa menunaikan haji dan tidak mengucapkan kata-kata yang tidak senonoh dan tidak berbuat kefasikan maka ia pulang dari dosa-dosanya seperti hari dilahirkan ibunya” (HR. Bukhârî, Ahmad dan Nasâ`î).

Haji, Wawasan dan Pelatihan Mental

Haji memperluas wawasan pengetahuan seorang Muslim dan membawanya melihat kebesaran alam ini. Sebuah pepatah mengatakan, “Perjalanan merupakan separuh ilmu.” Dikatakan pula, “Orang yang membuka mata akan melihat banyak hal. Tapi orang yang melakukan perjalanan akan melihat lebih banyak lagi.”    

Perjalanan haji melatih para hujjaj tegar melalui aneka kesulitan; meninggalkan keluarga dan kampung halaman, serta mengorbankan ketenangan serta kesenangan hidup di tengah-tengah keluarga dan sahabat dekat. Allah tidak menjadikan haji ini sebuah perjalanan ke suatu negara semacam Swiss atau Libanon atau negara-negara berpemandangan indah lainnya yang biasa dijadikan tujuan liburan musim panas atau musim dingin. Melainkan ke sebuah lembah gersang tanpa pepohonan baik di musim dingin atau pun di musim semi. Hikmah di balik ini adalah mendidik seorang Muslim tegar menanggung kesulitan, sabar menghadapi bermacam rintangan, dan siap menghadapi kehidupan dengan aneka dinamika yang dibawanya; bunga-bunga dan durinya, manis dan pahitnya, lautan dan daratannya. Bersama puasa, haji mempersiapkan seorang Muslim untuk selalu siap berjuang.

Orang yang sedang berhaji menyerupai seorang anggota pramuka dalam kebersahajaan hidup dan beratnya rintangan yang dihadapi: berpindah dari satu tempat ke tempat lain, menempuh perjalanan, bersandar pada diri sendiri, jauh dari kemewahan, dan hidup apa adanya. Demikianlah kehidupan di perkemahan Mina dan ‘Arafat.

Hikmah ini terlihat lebih jelas lagi ketika Allah menjadikan haji mengikuti sistem penanggalan qamariyah. Bulan-bulan haji yang dimulai Syawal sampai Dzulhijjah kadang datang di musim dingin dan terkadang tiba di musim panas. Hal ini menjadikan seorang Muslim mesti siap menghadapi segala musim dan tegar menjalani segapa rupa kesulitan.

Haji dan Kegiatan Bisnis

Dari segi materi, haji merupakan kesempatan bagi terjadinya kegiatan perdagangan (bisnis) dalam sekala yang luas di antara kaum Muslim. Dulu,di zaman Rasulullah Saw., sebagian kaum Muslim merasa berdosa untuk mengadakan kegiatan dunia yang mendatangkan keuntungan atau menarik rezki, karena takut hal itu dapat mengurangi bobot ibadah atau menurunkan pahala mereka di sisi Allah. Maka kemudian Allah menerangkan bahwa kegiatan tersebut dibolehkan selama niat mereka tetap tulus dan tujuan utamanya adalah haji. Setiap orang mendapatkan apa yang ia niatkan.

Imam al-Bukhârî meriwayatkan dari Ibn ‘Abbâs:

Di zaman jahiliah ‘Ukâzh, Majnah, dan Dzulmajâz adalah pasar. Maka kemudian (di zaman Islam) mereka (kaum Muslim) merasa berdosa untuk melakukan jual-beli selama musim haji. Lalu mereka bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang hal itu. Maka turunlah ayat “Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu (QS. al-Baqarah/2: 198).

Penggalan kata dari Tuhanmu pada ayat di atas memberi pesan bahwa mencari rezki disertai kesadaran bahwa rezki itu merupakan karunia Allah merupakan salah satu bentuk ibadah.

Haji, Persamaan, Kesatuan dan Perdamaian

Haji merupakan pelatihan untuk mempraktekkan nilai-nilai luhur kemanusiaan yang diajarkan Islam. Islam menghendaki dasar-dasar dan nilai-nilai sosialnya bukan sekadar jargon atau slogan semata, melainkan terkait erat dengan ibadah-ibadah dan syiar-syiarnya. Sehingga jargon-jargon dan slogan-slogan itu bukan hanya terpateri dalam pemahaman dan perasaan hati semata melainkan, yang lebih penting, terimplementasi dalam perilaku.

Kita telah membahas bagaimana salat jamaah menumbuhkan semangat persaudaraan, persamaan dan kebebasan. Di sini, dalam haji, kita melihat makna persamaan dalam bentuk yang lebih jelas dan sempurna. Dalam haji semua jamaah mengenyahkan pakaian mewah sesuai dengan negara, kelas (sosial), kemampuan dan selera masing-masing dari mereka. Kini semuanya mengenakan pakaian sederhana yang lebih mirip kain kafan. Yang dipakai raja dan penguasa sama dengan yang dipakai si miskin papa. Mereka sama-sama mengelilingi Ka’bah, tidak ada beda antara orang yang memiliki harta segunung dengan orang yang bahkan tidak memiliki sesuatu untuk dimakan hari itu. Mereka semuanya wukuf di padang ‘Arafat; di mana si miskin tidak merasakan kemiskinannya dan si kaya tidak merasakan kekayaannya. Kini, di padang ‘Arafat, dengan pakaian yang sama, mereka terlihat seperti sedang berada di padang mahsyar pada hari di mana mereka dihadapkan kepada Tuhannya.

Di zaman jahiliah suku Quraisy memandang dirinya lebih utama atas suku-suku Arab lainnya. Mereka pun enggan wukuf di ‘Arafat dan menjadikan Muzdalifah sebagai tempat wukufnya. Islam datang membatalkan adat ini. Setelah menyebutkan sebagian ritual haji, Allah berfirman:

Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (`Arafah) (QS. al-Baqarah/2: 199).

Seakan-akan Dia berfirman, “Setelah jelas bagi kalian apa yang telah terdahulu dari rangkaian haji, di mana tidak ada keunggulan seseorang atas yang lain, satu suku atas suku yang lain; dan setelah kalian tahu bahwa persamaan dan meninggalkan kesombongan merupakan salah satu tujuan ibadah ini, kini tinggal satu hal lagi. Yaitu bahwa ibadah yang amat menonjol ini belum memiliki arah. Maka sekarang bertolaklah kalian bersama orang-orang dari tempat yang sama.”  

Di zaman jahiliah orang-orang menjadikan musim haji sebagai ajang untuk menyombongkan keturunan dan nenek moyang mereka. Di zaman Islam, pada pertengahan hari tasyriq, Nabi Saw. berceramah dan mengumumkan prinsip universal Islam:

Wahai segenap manusia. Sesungguhnya Tuhan kalian satu dan bapak kalian juga satu. Ketahuilah, tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas orang ‘ajam (non-Arab), orang non-Arab atas orang Arab, kulit merah atas kulit hitam, dan kulit hitam atas kulit merah, kecuali dengan takwa. Apakah aku telah menyampaikan (pesan ini)?. Mereka berkata: “(Ya), Rasulullah Saw. telah menyampaikannya” (Riwayat Ahmad). 

Dalam ibadah haji kita juga dapat melihat makna kesatuan begitu jelas. Satu rasa, satu syiar, satu tujuan, satu perbuatan, dan satu ucapan. Tidak ada sentimen kebangsaan dan etnis, tidak ada fanatisme warna kulit, suku bangsa atau strata sosial. Mereka semuanya kaum Muslim; beriman kepada tuhan yang sama, berthawaf di Ka’bah yang sama, membaca kitab suci yang sama, mengikuti rasul yang sama, dan menunaikan amalan-amalan yang sama. Tidak ada kesatuan yang lebih mendalam dan agung dari kesatuan ini.

Di antara prinsip yang pertama didengungkan oleh Islam adalah al-salâm (perdamaian). Haji adalah media yang sangat tepat untuk mengajarkan perdamaian dan meniupkan semangat perdamaian kepada setiap Muslim. Haji adalah perjalanan damai menuju negeri damai, pada waktu yang damai. Negeri haji adalah negeri yang mulia. Di dalamnya terdapat rumah yang mulia (Baytullâh) yang dijadikan Allah sebagai tempat berkumpul manusia yang aman.

وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ ءَامِنًا

Barangsiapa memasukinya menjadi amanlah dia (QS. Âli ‘Imrân/3: 97).

Negeri yang tentangnya ‘Umar pernah berkata: “Seandainya aku menemukan pembunuh ayahku di dalamnya, maka tanganku tidak akan menyentuhnya.”

Kawasan ini merupakan kawasan aman yang amat unik. Burung-burung beterbangan menghiasi angkasanya, hewan-hewan di daratannya dan tumbuh-tumbuhan di tanahnya hidup dan tumbuh tanpa ancaman perburuan atau pemusnahan. Sebab di kawasan ini hewan-hewan dan burung-burungnya tidak boleh diburu dan tumbuh-tumbuhannya tidak boleh ditebang atau dimusnahkan.

Sebagian besar ritual haji terjadi dalam dua bulan haram yakni Dzulqa’dah dan Dzulhijjah. Bulan haram adalah bulan di mana Allah memerintahkan supaya pedang diletakkan, darah tidak boleh ditumpahkan dan perang dihentikan.

Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia, dan (demikian pula) bulan haram (QS. al-Mâ`idah/5: 97).

Selama berihram, seorang Muslim berada dalam perdamaian hakiki. Damai dengan siapa dan apa saja yang ada di sekitarnya. Tidak boleh mematahkan tetumbuhan atau menebang  pepohonan. Tidak boleh memburu dan menyembelih binatang:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram (QS. al-Mâ`idah/5: 95).

Dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram (QS. al-Mâ`idah/5: 96)

Bahkan orang yang sedang ihram tidak boleh mencukur rambut atau memotong kuku sampai ia bertahalul. 

Sungguh perjalanan haji menunjukkan kepada dunia bagaimana perdamaian diajarkan dan diamalkan secara nyata. Haji tak lain dari perjalanan damai ke negeri damai di waktu yang damai. 

Haji Adalah Muktamar Internasional

Haji memberi kesempatan kepada seorang Muslim untuk menyaksikan muktamar tahunan Islam paling besar. Muktamar yang pengundangnya bukan raja, presiden, pemerintahan atau sebuah lembaga melainkan Tuhan Yang Maha Mulia lagi Maha Besar. Dia-lah yang mengharuskan terselenggaranya muktamar ini atas kaum Muslimin setiap tahunnya.

Di sana seorang Muslim menemui saudara-saudaranya dari lima benua dengan keragaman bangsa, warna kulit dan bahasa. Mereka semua dipersatukan oleh ikatan iman dan Islam, melantunkan kalimat yang sama: Labbaykallâhumma labbayk.

Muktamar ini menebarkan banyak makna dan pesan, menghembuskan harapan dan mengusir segala hal yang membawa pada keputusasaan, membangkitkan semangat, dan memacu tekad. Perkumpulan selalu menghembuskan kekuatan dan membangkitkan harapan. Serigala hanya mengincar domba yang menyendiri dari kawanannya.

Muktamar ini mengingatkan si Muslim akan hak saudaranya, mengingatkan akan persaudaraan Islam dan ikatan iman, betapa pun negeri mereka berjauhan. Muktamar haji adalah kawah panas yang meluluhkan segala sentimen kebangsaan dan kesukuan. Semua slogan srina kecuali slogan “Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara” (QS. al-Hujurât/49: 10).

Pada muktamar ini, para ilmuan, para tokoh pembaharu dan para tokoh politik bertemu. Dalam tujuan yang sama, sudah seharusnya mereka saling mengenal, membangun kesepahaman, dan bekerja sama guna merancang strategi yang paling baik dan mencari jalan yang paling tepat dalam rangka mencapai tujuan serta mewujudkan harapan-harapan.

Semenjak haji dalam Islam dimulai, ia dimanfaatkan untuk memberikan pengarahan-pengarahan umum dan membahas persoalan-persoalan penting. Pada haji pertama, yakni tahun sembilan hijrah, diumumkan pembatalan perjanjian-perjanjian dengan kaum musyrik. Yaitu perjanjian-perjanjian yang hanya dipatuhi oleh satu pihak saja, yakni kaum Muslimin. Sedangkan kaum musyrik menganggap sepele perjanjian-perjanjian itu dan tidak menaatinya. Sampai akhirnya, pada tahun kesembilan, Allah mengizinkan kaum Muslim membatalkan semua kesepakatan dengan orang-orang yang tidak menaatinya.

Dulu, para khalifah sadar betul akan nilai dan makna muktamar ini. Maka mereka menjadikannya ajang pertemuan dengan rakyat yang datang dari berbagai penjuru dan para gubernur wilayah. Pada kesempatan ini, jika di antara rakyat ada yang merasa diperlakukan tidak adil, atau ada hal yang perlu diadukan maka ia mengajukannya langsung kepada sang khalifah tanpa perantara, tanpa tedeng aling-aling. Dalam perhelatan ini, rakyat bertatap muka dengan pemimpinnya tanpa rasa takut dan tidak ada yang ditutup-tutupi. Maka yang lemah mendapat pembelaan dan yang dizalimi mendapat keadilan, serta hak-hak dikembalikan kepada pemiliknya meskipun hak itu ada pada seorang gubernur bahkan khalifah sekalipun.

Satu hal penting dikemukakan di sini. Muktamar ini bukan hanya kesempatan bagi kaum Muslim saja untuk menuntut keadilan dan hak-hak mereka dari para penguasa. Kalangan non-Muslim pun yang hidup di bawah pemerintahan Islam merasakan makna dan kesempatan tersebut.

Suatu hari, anak seorang qibthî (orang Mesir yang beragama Kristen Koptik) berangkat dari Mesir menuju Madinah. Ditempuhnya jarak yang jauh, hanya untuk mengadukan halnya kepada ‘Umar bin al-Khaththâb. “Ya Amîr al-Mu’minîn,” ujar tamu dari Mesir ini, “suatu hari aku bertanding menunggang kuda dengan anak ‘Amr bin ‘Âsh, gubernur Islam di Mesir. Ia memukulku dengan cambuknya sambil menyombongkan diri, ‘Aku anak orang yang mulia!’ Berita ini sampai kepada bapaknya. Karena kuatir aku datang melapor kepadamu, ayahnya memasukkan aku ke penjara. Aku berhasil lolos, dan sekarang datang mengadu kepadamu.”

‘Umar segera mengirim surat kepada Gubernur ‘Amr bin ‘Âsh. Dimintanya ia dan anaknya datang pada musim haji. Setelah selesai haji, di muka orang banyak, ‘Umar melemparkan cambuk kepada rakyat kecil dari Mesir: “Pukul anak orang mulia itu (idhrib ibn al-akramîn)!” kini anak orang besar itu harus meraung-raung dalam cambukan keadilan Islam. ‘Umar bahkan menyuruh agar bapaknya dicambuk pula, “Pukulkan cambuk itu di atas rusuk ‘Amr!” Namun pengadu itu hanya berkata: “Aku sudah cukup memukul orang yang memukulku.” Ketika itu ‘Umar berkata kepada ‘Amr bin ‘Âsh dengan suatu perkataan yang baru digunakan di Eropa pada Revolusi Prancis, dan digunakan di Amerika Serikat ketika Declaration of Independence ditulis: “Wahai ‘Amr bin ‘Âsh, mengapa kauperbudak manusia, padahal mereka dilahirkan ibunya dalam keadaan merdeka?”

Namun, kaum Muslim sekarang tidak mengambil faedah dari muktamar nan agung ini sebagaimana mestinya. Demikian seperti disayangkan Yûsuf al-Qardhâwî. Mudah-mudahan mereka segera sadar.?

[1]Ma’rifah dan ‘arafat satu akar kata yaitu ‘arafa, artinya tahu, kenal, sadar, insaf.  

[2]Akar kata masy’ar adalah sya’ara, artinya antara lain merasa dan menyadari.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: