Berpikir positif, bersikap & bertindak bijak

Beberapa Petuah al-Qarni

Kata-kata yang Memikat

 

Kata-kata yang indah bagaikan sihir yang memikat hati, mempengaruhi tatanan jiwa, mengubah bentuk, kejadian, sesuatu dan keadaan. Ceramah dengan kata-kata yang indah mengubah pengecut menjadi pemberani, melenturkan orang yang keras kepala, menghentikan kesedihan orang yang tertimpa musibah, membuat orang yang bakhil menjadi murah hati dan mendorong penakut maju ke depan pantang mundur.

Sihir (daya pikat) sebuah ceramah ditentukan oleh ketinggian nilainya (bobotnya), kedalaman maknanya, efektivitasnya, keragaman maknanya, serta kemampuannya menyentuh hati dan perasaan pendengarnya.

Sihir sebuah ceramah juga ditentukan oleh cara penyampaiannya, daya tariknya, serta keindahan dan kelugasan kata-katanya. Kata-kata yang “bertuah” sanggup menciptakan banyak keajaiban, melahirkan banyak kejadian dan mendesain banyak peristiwa.

Dikisahkan bahwa George Washington, presiden Amerika Serikat pertama, mengutus seorang laki-laki ke Texas, negara bagian yang memberontak kepadanya dan menolak menjadi bagian dari Amerika Serikat. Laki-laki utusan George Washington itu bernama Houston, yang namanya dijadikan nama sebuah kota di sana (Texas). George Washington mengutus Houston seorang diri tanpa pengawalan angkatan bersenjata. Houston hanya berbekalkan lidah yang tajam, fasih, lantang, tegas, lugas dan cerdas. Houston masuk ke Texas sebagai orang miskin dan sebatangkara. Kemudian ia mendirikan lembaga konsultasi hukum. Di tangannya orang yang mengaku teraniaya berubah menjadi penganiaya, penganiaya menjadi teraniaya, pencuri menjadi bebas dan orang bebas dihukum sebagai pencuri. Ia berhasil meraih simpati mayoritas penduduk Texas dan sedikit sekali yang antipati. Dengan kepiawaian dan kecerdasannya mengolah kata, akhirnya Texas mau bergabung bersama negara-negara bagian lainnya di bawah bendera Amerika Serikat.

Al-Ahnaf bin Qais, tubuhnya memang kecil, fisiknya boleh lemah, penampilannya mungkin kurang sedap dipandang. Tapi ketika bicara, ia sanggup menyita perhatian, mampu menjadikan semua pasang mata tertuju ke arahnya, semua pasang telinga mendengarkan kata-katanya, dan semua hati dikuasainya. Itulah pengaruh kata-kata yang indah dan memikat.

Sebagian dari penceramah ada yang ceramahnya seperti angin topan yang menerjang. Saat bicara tampak seperti marah, geram, meluap-luap, berapi-api. Bahasa tubuhnya seakan bicara: Jangan hentikan aku!” Pedang kefasihannya yang tajam membabat habis jaring-jaring kebatilan, argumen dan dalil yang meluncur dari mulutnya memutuskan semua simpul keraguan. Ketika itu dialah satu-satunya penguasa keadaan, satu-satunya guru dan rujukan, dan satu-satunya pemilik tempat di mana ia bicara.

Ceramah meniscayakan keberanian yang benar, maju tak gentar, tak mengenal kata mundur atau berhenti, menghadapi khalayak tanpa rasa takut, cemas atau malu.

Ceramah mengharuskan hadirnya apa yang ingin disampaikan sebelum mengatakannya, menuntut terpenuhinya benak dengan tema-tema yang hendak diutarakan, dan memerlukan persediaan yang cukup untuk menjamin mengalirnya pembicaraan. Ketika semua prasyarat itu dimiliki oleh seorang penceramah maka ceramahnya akan lancar, lantang dan penuh percaya diri, sebab materinya telah ia kuasai, jalan pikirannya telah terpetakan dengan matang, dan mentalnya telah siap untuk menghadapi ribuan massa.

Awal kegagalan seorang penceramah adalah ketidaksiapan materi dan kekosongan bahan pembicaraan dalam pikirannya. Ia mengira bahwa materi, tema, ide dan bahan pembicaraan akan muncul dengan sendirinya begitu ia berdiri di depan publik. Anggapan seperti ini sama sekali tidak benar.

وَلَوْ أَرَادُواْ الْخُرُوجَ لأَعَدُّواْ لَهُ عُدَّةً

 

Artinya:

Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu.[1]

Seorang penceramah sejati menghayati ceramahnya dengan hati, perasaan dan jiwanya. Ia tidak bicara de depan khalayak kecuali dengan aliran darahnya, jiwa dan perasaannya. Ketika bicara di depan orang-orang yang menderita ia benar-benar merasakan penderitaan dan kepahitan mereka. Ia bicara bukan hanya dengan mulutnya melainkan juga dengan segenap perasaannya. Ketika ia bicara tentang kesedihan, maka kesedihan akan tampak pada gerak tubuhnya, pada guratan wajahnya, terdengar pada intonasi suaranya, terlihat pada sorot mata dan gerak tangannya. Dan ketika bicara tentang sesuatu yang menggembirakan, maka kebahagiaan tampak pada gerak tubuhnya, pada guratan wajahnya, terdengar pada intonasi suaranya, terlihat pada sorot mata dan gerak tangannya.

Penceramah yang cerdas ibarat ensiklopedi ilmiah, tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan tentang tema apa pun, mengalir deras bagaikan banjir; mengisi semua tempat yang kosong, memenuhi tempat yang rendah. Banyak menelaah, banyak berpikir dan banyak berlatih, maka jadilah kata-kata yang diucapkannya terdengar indah, ceramah yang disampaikannya tertata rapi, tersusun dengan bagus, terarah dengan jelas, tidak ada kerancuan dan jauh dari kesamaran.

Untuk menjadi seorang penceramah sukses harus terus berlatih dan berlatih. Tidak cukup hanya dengan mempelajari sifat-sifat penceramah lain yang sudah sukses atau sekadar membaca buku tentang kiat-kiat berceramah. Tapi harus terjun langsung, sama seperti latihan renang. Bagi orang yang ingin bisa renang, membaca berjilid-jilid buku tentang teori renang tidak akan ada gunanya jika ia sendiri tidak pernah terjun ke sungai untuk mempraktekkan ilmu renang yang sudah ia baca dan ketahui.

 

Penghapus Dosa

Tidak ada bagiku dan bagimu sesuatu yang lebih bermanfaat dari penghapus dosa (mukaffirât) yang dapat menghilangkan dosa-dosa dan membersihkan kejelekan-kejelekan. Mukaffirât itu antara lain salat lima waktu, wudhu, zikir, puasa Ramadhan, sedekah, dan amal-amal lainnya. Kamu harus mengucapkan puji dan bersyukur kepada Tuhan yang telah menjadikan pahala satu kebaikan sepuluh kali lipat bahkan sampai tujuh ratus kali lipat, sedangkan satu kejelekan hanya dibalas dengan satu kejelekan serupa.

Wahai orang yang berat dengan dosa sehingga hatinya menjadi keras, segeralah mohon ampunan kepada Tuhan dan bertaubatlah. Sesungguhnya pintu taubat masih terbuka dan ampunan masih dapat diperoleh. Mintalah kepada-Nya, sekarang juga, supaya Dia memaafkan kekelirian, mengampuni dosa dan menghapus kesalahan. Sesungguhnya Dia Maha Mengampuni orang yang mau kembali kepada-Nya.

 

Kehidupan yang Aman dan Damai

Hendaknya setiap hamba menjalani hidup secara wajar dan normal-normal, tidak melakukan sesuatu yang dapat memancing datangnya kesulitan dan kebingungan. Tentu saja ini di luar musibah yang datang bukan akibat kekeliruan dan kecerobohan sendiri, melainkan di luar kekuasaannya dan ia mendapat pahala bila sabar menghadapinya.

Hendaklah setiap hamba beribadah kepada Tuhannya dengan mudah dan tanpa beban sehingga tidak memberatkan dan menyulitkan dirinya. Demikian pula dalam berinteraksi dengan sesama manusia. Janganlah ia membebani dirinya dengan terlalu banyak menjalin hubungan yang tidak perlu, mengadakan berbagai perjanjian, atau membuat bermacam-macam ikatan. Sebab itu hanya akan menempatkan dirinya bukan pada tempatnya yang wajar.

Yang harus dilakukan oleh setiap hamba adalah berusaha menciptakan hidupnya aman dengan menjalankan setiap amal pada waktunya dalam suasana jiwa yang tenang dan hati yang damai. Jangan melakukan sesuatu yang dapat memancing datangnya kesulitan sehingga ia harus menguras energi untuk mengatasi kesulitan itu. Bersikap dan bertindaklah sewajarnya, penuh perhitungan dan kebijaksanaan, sesuai dengan hadis: “Sesungguhnya Tuhanmu mempunyai hak atas kamu, dirimu mempunyai hal atas kamu, keluargamu mempunyai hak atas kamu, dan tamumu mempunyai hak atas kamu. Maka berikan kepada masing-masing sesuai dengan haknya.”

Adapun sikap kurang perhitungan, tindakan gegabah dan kecerobohan merupakan siksaan dunia yang turun kepada orang yang menyimpang dari aturan dan tata tertib kehidupan. Jangan bertindak ekstrim dalam membela kepentingan diri sendiri sehingga mencurangi dan mengorbankan orang lain. Bersikaplah adil, seimbang, taat aturan dan terkendali.

وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ

 

 

Artinya:

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang.[2]

 

Sebuah Renungan

Banyak dari kaum intektual yang hanya sibuk dengan ilmu-ilmu mereka dan melupakan akhirat. Yang satu tenggelam dalam bidang sastra sampai meliputi telinganya. Yang satu lagi tenggelam dalam bidang kritik sastra sampai meliputi lehernya. Dan yang lainnya tenggelam dalam bidang geografi hingga tetesan darahnya yang terakhir. Melihat itu aku berkata: “Kapan mereka itu punya waktu untuk membersihkan hati, menghapus dosa-dosa, menutupi kekurangan, dan menemui Yang Maha Tahu akan alam gaib?”

 

Tunjukkan padaku Jalan ke Pasar!

Menurutku rezki yang paling berkah adalah rezki hasil jual beli, kalau si tukang jual belinya seorang yang jujur dan merasakan pengawasan Tuhan saat ia berjual beli. Rezki dari jual beli seperti itu adalah rezki yang baik dan berkah. Jual beli yang jujur merupakan pekerjaan orang-orang yang saleh dari umat ini. Jual beli yang jujur lebih baik dan lebih bermanfaat daripada pekerjaan di lembaga pemerintahan (PNS). Bahkan dapat dikatakan pekerjaan PNS merupakan pintu rezki yang paling sempit. Dalam berjual beli ada dinamika, kebebasan, serta keleluasaan mengatur waktu dan beraktivitas. Jika kamu seorang mahasiswa, maka hendaknya tidak melakukan kegiatan bisnis secara langsung. Memberikan modalmu kepada orang lain yang terpercaya dan mahir mengelola keuangan untuk ia kelola dalam bentuk mudhârabah adalah lebih baik.

Orang yang memilih jual beli sebagai lahan mencari penghidupan haruslah jujur, memelihara takbiratul ihram (salat) berjamaah, menunaikan zakat dan menjauhi sumpah palsu. Kita lihat orang yang semula kehidupan ekonominya sempit, setelah terjun ke dunia jual beli Allah memberinya rezki yang banyak dari setiap tempat. Kita memohon perlindungan kepada Allah dari kemalasan, sesungguhnya kemalasan menghalangi pemiliknya dari mencari ilmu dan rezki. Ada orang yang membungkus kemalasannya dengan dalih zuhud di dunia dan demi menghindari keburukannya. Tapi pada saat yang sama kita lihat orang itu malas juga beribadah dan sedikit melakukan amal saleh. Sejatinya orang seperti itu adalah pemalas sejati yang hanya menghabiskan waktunya dengan bersenda gura dan bermain-main.

Wahai hamba-hamba Allah, apabila kalian telah menunaikan salat, maka bepencarlah di muka bumi dan carilah karunia Allah. Sesungguhnya Allah satu-satunya Pemberi rezki. Maha Suci Dia.

 

Petikan Hikmah

Barang yang tidak boleh ditumpuk di tangan pemiliknya karena dibutuhkan oleh semua orang adalah ilmu tentang halal dan haram (ilmu fikih). Setiap kaum Muslimin, dengan berbagai macam tingkatannya, membutuhkan ilmu tersebut. Orang yang tidak bisa mencari ilmu sastra, bahasa, atau sejarah bisa dimaafkan. Tapi tidak ada maaf bagi orang yang tidak mengetahui ilmu fikih.  

 

Keutamaan Jihad

Amal yang paling banyak dilakukan oleh para sahabat setelah melakukan kefarduan adalah jihad di jalan Allah. Oleh karena itu kamu menemukan dalam Al-Qur`an dan Sunnah keutamaan jihad berlipat-lipat di atas keutamaan ilmu.

Para sahabat mengaplikasikan ilmu dalam kehidupan dan menerapkannya dalam ibadah, jihad, jual beli dan akhlak mereka. Tidak ada pada mereka yang namanya kelebihan ilmu. Mereka belajar ilmu hanya untuk amal dan mengajarkannya.

 

Waktu Terus Berjalan

Al-Suyûthî dalam Târîkh al-Khulafâ` mengatakan bahwa al-Ma`mûn menasihati sebagian sahabatnya, ia berkata: “Lakukanlah kebajikan, sesungguhnya planet berputar dan waktu berlari meninggalkan orang yang berpangku tangan.”

Menurutku ucapan al-Ma`mûn ini adalah ucapan yang cerdas dan brilian. Orang yang tidak memanfaatkan setiap kesempatan dengan berbuat baik kepada orang lain akan kehilangan banyak kebaikan. Orang yang tidak memberi kemanfaatan kepada orang lain dengan kedudukan yang dimilikinya akan menyesal ketika ia tak lagi punya kedudukan. Orang yang tidak mau menolong orang lain dengan hartanya akan nelangsa ketika ia jatuh miskin. Dan orang yang tidak mau membantu orang lain dengan jabatan yang didudukinya akan bersedih hati ketika ia tidak lagi menduduki jabatan.

Maka berlombalah dalam melakukan kebaikan, amal saleh dan menolong sesama hamba Allah sebelum waktu berlalu, keadaan berubah, hari berganti dan kesempatan hilang tak datang lagi.

 

Dalam Situasi Kritis

Suatu kali aku naik pesawat terbang. Ketika mau landing pesawat mengalami gangguan. Maka selama lebih dari satu jam kami berdoa, menangis, bertaubat dan memohon ampunan. Namun begitu kami berhasil mendarat dengan selamat, kami semua lupa; tak ada lagi doa, tangisan, pertaubatan, dan permohonan ampunan. Aku jadi berpikir, seandainya keadaan seorang hamba dalam situasi normal sama dengan keadaannya dalam situasi kritis, maka akan besarlah keimanannya dan bertambah terus kesalehannya. Akan tetapi manusia memang keras kepala dan pelupa.


[1]QS. al-Tawbah [9]: 46.

[2] QS. al-Muthaffifîn [83]: 1.

Comments on: "Beberapa Petuah al-Qarni" (2)

  1. Belum tau Al-Qarni, tapi petuahnya menarik juga. Salam Kenal

  2. Beliau adl Muhammad ‘A’idh al-Qarni, penulis La Tahzan (Don’t be Sad) yang Best Seller itu.
    Salam kenal juga. Urang Ciamis yeuh?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: