Berpikir positif, bersikap & bertindak bijak

Judul: Al-Qur`an Berjalan, Potret Keagungan Manusia Agung

Penulis: DR. ‘A’id ‘Abdullah al-Qarni

Penerjemah: Abad Badruzaman

Penerbit: Sahara Publishers, Jakarta

Cetakan: I, 2004

Tebal: 399 halaman.

Membincang pribadi Muhammad ibarat menyelami lautan nan luas. Mutiara yang ditemukan di dasarnya hanyalah satu dari sekian mutiara yang jumlahnya tak terhingga. Keindahan dasar laut yang terlihat di sekitar penyelam hanyalah satu dari berjuta panorama lautan yang mahakaya. Membicarakan manusia agung bernama Muhammad Saw. ibarat kerkelana di hamparan sahara yang teramat luas. Sebelum seluruh hamparan sahara terjelajahi, si pengelana mungkin sudah tutup usia. Segala kekaguman dan pujian kita tentang sosok Muhammad tak lebih dari sebutir mutiara di antara mutiara-mutiara keagungan beliau yang tak terhingga jumlahnya. Atau ibarat sebutir pasir di tengah hamparan sahara kemuliaan beliau yang tak berbatas. Semua shalawat dan salam yang dipanjatkan umat Islam untuk Muhammad Saw. tidak akan mampu memenuhi hak beliau untuk dipuji, diagungkan dan dimuliakan. Betapa tidak, Allah dan malaikat-Nya sekali pun memanjatkan shalawat untuk pribadi agung itu (QS. Al-Ahzâb [33] 56).

Banyak karya yang mengupas sosok dan keagungan Muhammad Saw. Salah satunya adalah buku berjudul Al-Qur`an Berjalan; Potret Keagungan Manusia Agung. Secara umum, buku ini memberi tekanan pada aspek akhlak dan budi perkerti. Mengapa demikian? Sebab, seperti diisyaratkan oleh penulisnya, predikat apapun yang disandangkan kepada beliau, pada akhirnya akan bermuara pada sosok kepribadian dan keagungan akhlaknya (hlm. 15-26). Penulis juga ingin menggiring pembaca kepada pemahaman bahwa akhlak mulia dan budi pekerti luhur yang dimiliki oleh baginda Rasulullah merupakan kunci sukses dakwah yang diemban oleh beliau (hlm. 309-370).

Beberapa sampel kemuliaan pribadi Rasulullah Saw., baik pra kenabian, menjelang kenabian, maupun masa-masa awal dakwah beliau di Mekah, dibeberkan dengan gamblang dan cukup “menggugah”. Dengan gaya bahasa yang lebih mirip bahasa ceramah, penulis mengajak pembaca untuk “hidup” bersama Rasulullah menjalani hari-harinya.

Dengan cukup lugas dan tajam penulis mengupas sejarah Muhammad Saw. setelah diangkat menjadi nabi dan rasul, tepatnya kisah perjuangan beliau pada masa-masa awal di Mekah yang dapat dibilang sebagai masa-masa sulit dalam perjalanan dakwah Islam. Masa di mana penentangan, cercaan, cemoohan, bahkan gangguan fisik tak jarang diperagakan oleh kaum musyrik Mekah. Yaitu orang-orang yang dulu, sebelum Muhammad menyatakan diri sebagai utusan Allah, kerap memuji beliau akan keindahan dan kemuliaan akhlaknya. Tentu mereka masih ingat ketika menjuluki Muhammad sebagai al-Amîn (orang yang jujur terpercaya). Namun begitulah, para penggede Quraisy dan pentolan kaum musyrik Mekah lebih melihat Muhammad sebagai ancaman ketimbang pembawa kebaikan bagi mereka. Ya, bagi mereka Muhammad Saw. memang ancaman, karena beliau mengobarkan perlawanan terhadap segala bentuk penyimpangan akidah dan menyatakan pemberontakan terhadap tatanan sosial yang zalim dan eksploitatif (hlm. 107). Tema seruan Muhammad ini sungguh menyentuh hati “kaum kusam” Mekah, yakni para budak dan mereka yang teraniaya hak-hak hidupnya. Tak heran jika kemudian kebanyakan pengikut awal Muhammad berasal dari kalangan hamba sahaya dan orang-orang yang secara sosial-ekonomi terhitung wong cilik (hlm. 167).

Penulis sadar, membincang kisah dakwah Muhammad Saw. sama dengan memunculkan kisah perjuangan beliau pada dua peride dakwahnya, yakni periode Mekah dan Madinah. Karena itu, setelah mengajak pembaca merenungkan perjuangan Muhammad di Mekah, penulis “membawa” pembaca ke Madinah. Di sini penulis memunculkan kisah pengepungan kota Madinah (perang Ahzâb) seraya menujukkan keberanian Nabi bersama para sahabat bersatu bahu-membahu melawan kekuatan koalisi kaum kafir yang terdiri dari orang-orang Yahudi, Bani Fizarah dan Bani Ghathfan. Kisah pengepungan ini berakhir dengan kemenangan di pihak kaum muslimin (hlm. 213).

Namun tidak semua lembaran dakwah Madinah berisi kisah kemenangan. Perang Uhud merupakan salah satu kisah sedih yang tidak mungkin dilupakan dalam sejarah perjuangan Islam dalam menegakkan kebenaran. Perang ini dikupas dengan cukup mendalam. Kedalaman kupasannya disempurnakan dengan menampilkan beberapa hikmah dan pelajaran yang dapat dipetik dari perang yang berakhir dengan kekalahan kaum muslimin tersebut (hlm. 193).

Membincang kisah Nabi Muhammad Saw. tidak akan sempurna jika yang ditinjau hanya aspek dakwahnya saja. Maka, dengan tepat penulis membidik sosok Muhammad Saw. pada sisi akhlak dan perilakunya. Dalam tinjauan penulis, setidaknya ada enam butir keunggulan akhlak Muhammad Saw., yaitu ketawadhuan, kemurahan hati, kesabaran, kesantunan, keberanian, dan kezuhudan (hlm. 263-270).

Jika diakui bahwa Muhammad adalah pribadi agung, lalu apa sebenarnya rahasia sukses dakwah yang diembannya? Penulis nampaknya sadar bahwa pertanyaan semacam itu pasti muncul ketika nama Muhammad Saw. dibicarakan. Menurut penulis, ada sepuluh kunci sukses dakwah yang diemban Rasulullah Saw., yaitu: (1) bekal tauhid yang benar dan tawakkal yang mantap; (2) semangat yang membaja (ath-thumûh); (3) komitmen dan keteguhan (tsabât); (4) mengenyampingkan kenikmatan duniawi; (5) pengorbanan dan perjuangan yang lestari; (6) menjadikan ibadah sebagai bekal perjuangan; (7) menempuh metode yang benar dan tepat; (8) mengamalkan apa yang diserukan; (9) proporsional dalam memanfaatkan potensi; (10) menjanjikan ridha Allah dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi kepada para pengikutnya (hlm. 309-370). Di sini penulis agaknya hendak menjelaskan bahwa kegungan akhlak dan keluhuran pribadi Muhammad Saw. mengejewantah dalam sepuluh perilaku di atas yang kesemuanya merupakan kunci sukses dakwah yang diusung oleh beliau.

&

Di samping sejumlah kelebihan yang ada, buku ini memiliki beberapa titik lemah. Ketika membaca buku ini, pembaca akan mendapat kesan bahwa sebelum menjadi buku, semula ia merupakan kumpulan ceramah. Kesegaran dan retorika ceramah masih sangat kental. Kenyataan ini tentu bukan sepenuhnya tanggung jawab pengarang. Penyunting bahasalah yang mesti cakap mengolah bahasa lisan menjadi bahasa tulisan. 

Ketika berbicara tentang perang Uhud dan perang Ahzab, kita mengharapkan kajian kesejarahan lebih dikedepankan dan mendapat porsi yang dominan ketimbang kajian akhlak. Namun yang kita dapatkan adalah sebaliknya. Meski sejak awal penulis buku telah mengatakan bahwa tujuan dari buku ini adalah menunjukkan keagungan pribadi dan keluhuran akhlak Rasulullah, namun kiranya ketika pembahasan berkaitan langsung dengan aspek kesejarahan seperti kisah peperangan dalam Islam, maka—tanpa mengenyampingkan kajian akhlak—porsi kajian historis hendaknya lebih mengemuka.

Bahwa sosok yang dibicakan oleh buku ini adalah manusia agung yang layak dipuji dan dimuliakan, tak dapat dibantah. Tapi persoalannya, pembaca tentu tidak ingin buku yang dibacanya lebih mirip buku kumpulan puji-pujian seperti kitab al-Barjanzi atau qasidah Burdah. Sementara itu, buku ini terasa agak berlebihan ketika memuji dan menyanjung tokoh sentral yang sedang dibicarakannya. Pujian bukan tidak perlu, tapi yang lebih penting lagi adalah mengaitkan setiap pembahasan tentang ketokohan dan kebesaran Muhammad Saw. dengan realitas kekinian umat beliau. Ketika memaparkan enam sisi kepribadian Muhammad (hlm. 263-270) misalnya, kita menginginkan pemaparan yang mengaitkan langsung keenam sisi tersebut dengan sikap dan pola perilaku umat Islam dewasa ini yang kebanyakannya jauh dari nilai-nilai ideal kenabian.

‘Ala kulli hal, buku ini setidaknya dapat menjadi bahan bacaan sekaligus bahan renungan tentang keagungan akhlak dan keluhuran pribadi Muhammad Saw., melengkapi bacaan dengan tema serupa yang telah ada.

Wallâhu a’lam

Comments on: "Menyelami Keagungan Muhammad Saw." (9)

  1. Bila LapoTuak membaca buku ini…?
    Subhanallah, Maha Suci Engkau Ya Allah yang telah memilih Rasul SAW manusia pilihan ini…:)

  2. LapoTuak, apa artinya Ustadz?
    Subhanallah…!

  3. LapoTuak adalah ID di WP yang kemarin sempat menggegerkan kita karena memuat komik Nabi SAW yg kini sudah dipending Tim WP, salam katur keluarga di Tulungagung…

  4. Oooh..berarti saya yang ketinggalan info yah he he. Syukron Ustadz. Salamnya sudah saya sampaikan.
    Salam juga bwt klrg Antum di Solo.

  5. Subhanallah..semoga kajian semacam ini akan semakin memberikan pencerahan kepada ummat…agar moral ummat tidak semakin terpuruk…!!

  6. Amin, semoga…

  7. YAA SAYIDII YAA ROSULALLOH

  8. Membaca tulisan ini, jdi teringat lagu2 nya haddad Alwi `Cinta Rasul` bah. .🙂

    • Abad Badruzaman said:

      Juga lagunya Bimbo: Rinku kami padamu ya Rasul, rindu tiada terperi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: