Berpikir positif, bersikap & bertindak bijak

Sebab-sebab Kegagalan Dakwah

Fathi Yakan

Paling tidak, ada sepuluh sebab mangapa dakwah sering berakhir dengan kegagalan. Kesepuluh sebab itu sebagai berikut:  

Kurangnya Aspek Pendidikan

Gerakan-gerakan dakwah yang ada, kurang memperhatikan sisi pendidikan. Porsinya kalah banyak dan kalah mutu oleh sisi lain yang sifatnya manajerial dan teknis-strategis. Akhirnya timbul semacam keterputusan para aktor dakwah dengan aspek pendidikan dakwah—baik dalam tataran teoritis maupun praktis, hal mana membuat hubungan dan interaksi mereka dengan masyarakatnya luput dari pancaran sinar Rabbâni, kering dari curahan dan sentuhan ruhani. Suasana seperti ini selalu menghembuskan ketegangan dan sensitivitas yang tidak kondusif.

Tidak Tepat Memosisikan Seseorang dalam Lahan Dakwah

Dalam poin ini penulis ingin mengingatkan agar dalam dakwah jangan sampai terjadi a right man in the wrong place, terlebih a wrong man in the wrong place, tapi mesti a right man in the right place. Sebuah gerakan dakwah yang matang dan sadar adalah gerakan yang tahu betul akan kemampuan, kecenderungan serta bakat para pelakunya, tahu akan titik kuat dan lemahnya. Dari sini, setiap pelaku dakwah akan diserahi lahan garapan yang sesuai dengan potensi dan kualifikasi yang dimilikinya.

Di sinilah pentingnya identifikasi potensi dan kapabilitas para aktor dakwah. Ini dilakukan agar potensi yang ada dan telah terukur diproyeksikan terhadap lahan garapan yang sesuai dengan potensi dan kapasitas aktor bersangkutan. Setiap segmen dari objek dakwah mempunyai karakteristik tersendiri yang mesti digarap oleh para pelaku dakwah yang mempunyai kualifikasi tersendiri yang relevan dengan karakteristrik itu.

Tidak Memperhatikan Kondisi Objektif Para Pelaku Dakwah

Satu hal yang sering terlupakan oleh sebuah gerakan dakwah, bahwa para aktivis yang dimilikinya adalah manusia biasa, layaknya manusia lain. Mereka kerap tak bisa menghindar dari kondisi sulit, mesti berhadapan dengan bermacam kesulitan dan persoalan hidup. Bila salah seorang aktivis tertimpa kejadian semacam ini, maka sebuah organisasi gerakan harus tanggap dan cepat mengambil tindakan dengan memberikan pertolongan dan jalan keluar bagi persoalan yang tengah dihadapinya. Tindakan ini akan sangat membantu dalam mengembalikan kepercayaan diri dan semangat dakwahnya. Jika tidak, maka asanya bisa terputus, jiwanya terguncang dan jangan terlalu disalahkan kalau malah hengkang dari pergerakan dakwah yang digelutinya.

Lamban dalam Merumuskan dan Memutuskan Persoalan Dakwah

Kelambanan ini dapat berakibat fatal. Ia tidak hanya berakibat buruk pada satu sisi pergerakan saja, tapi semua sisinya bisa menjadi ruwet, bermacam masalah bisa terpancing mengemuka dan semuanya berakhir pada jalan buntu. Semua jenis persoalan harus disikapi dan ditangani dengan serius. Jangan anggap enteng persoalan kecil, sebab bila dibiarkan berlarut akan membengkak menjadi soal besar dan meruyak melahirkan persoalan-persoalan lain. Sebaliknya, bila setiap persoalan segera ditangani begitu ia nampak, gerakan dakwah akan lebih menghemat tenaga dan biaya

Inkonsistensi

Ada orang yang tertarik dengan pergerakan dakwah dalam satu kondisi dan karena sebab tertentu. Tapi tak lama setelah ia terjun di dalamnya, ia merasa tak sanggup beradaptasi dengan pola aturan yang diterapkan oleh pergerakan yang diikutinya. Biasanya, orang seperti ini adalah orang yang tidak mau terikat oleh aturan. Orang tipe begini sulit diajak berdisiplin, sukar diajak bekerja dengan tekun dan konsisten serta komit dengan aturan yang telah ditetapkan. Karenanya, para pelaku dakwah hendaknya menjauhkan diri dari sifat-sifat seperti itu. Sebab dakwah adalah sebuah proses yang memerlukan kesabaran, ketelatenan, kepatuhan akan aturan, konsistensi dan kedisiplinan.

 

Khawatir akan Diri dan Jaminan Rezeki

Jalan dakwah sarat dengan aral dan onak, jiwa pun kadang terancam keselamatannya. Jalan dakwah bukan jalan lempang yang mulus tanpa hambatan. Hanya orang-orang yang berbekal keberanian dan kesiapan berkorbanlah yang sanggp menjalaninya. Jalan dakwah bukan jalannya para pengecut. Jalan dakwah adalah jalan mereka yang berselera pemberani, berani penuh perhitungan tentunya.

 

Sikap Ekstrim dan Intoleran

Keberanian dalam menempuh jalan dakwah memang niscaya. Namun, keberanian yang diperlukan adalah yang berpadu dengan sikap penuh pengertian. Kebenaran acap memerlukan kemasan yang beragam sesuai kondisi objektif lahan dakwah yang dihadapi. Menyamaratakan kemasan dan pendekatan atas objek yang beragam bisa membuahkan hasil yang tidak menggembirakan. Semangat yang menggebu tidak harus melahirkan sikap yang ekstrim dan kurang menghargai keragaman. Dan sikap moderat tidak berarti tidak teguh memegang keyakinan dan kebenaran.

 

Sikap Acuh tak Acuh

Sikap ekstrim memang bukan sikap terpuji. Tapi sikap acuh tak acuh dan menganggap enteng kewajiban dakwah lebih tidak terpuji. Sikap acuh tak acuh terhadap persoalan-persoalan kecil, bila dibiasakan akan merembet kepada sikap acuh tak acuh terhadap persoalan-persolan besar. Dan sikap acuh tak acuh terhadap satu jenis persoalan, bila dibiarkan akan menjadi sikap yang sama terhadap semua jenis persoalan. Jalan dakwah bukan jalan orang-orang yang “cuek” dan tidak pedulian. Jalan dakwah adalah jalan orang yang tidak pernah menganggap enteng setiap persoalan, seraya memecahkannya penuh kesungguhan. 

Berbangga Diri dan Suka Popularitas

Jalan dakwah bukan jalan orang-orang yang suka membanggakan diri dan cinta kesohoran. Sosok pengemban dakwah adalah pribadi yang tawâdlu’, berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan sesamanya. Ia adalah pelayan ummatnya. Ia tidak segan menerima saran dan kritik dari mana pun datangnya, selama mendatangkan kebaikan bagi dakwahnya. Di hadapannya manusia adalah sama; tidak pernah mengistimewakan kaum berkedudukan dan menghinakan kaum rendahan. Da’i adalah manusia, bukan malaikat.

 

Kecemburuan

Kecemburuan para pelakon dakwah terhadap orang atau kelompok lain yang menggeluti bidang serupa, dapat juga menyebabkan proyek dakwah mengalami kegagalan. Cemburu karena orang lain lebih maju, lebih semarak, lebih profesional dan lebih prestatif.

Cemburu yang dilarang tentunya yang mempunyai implikasi negatif, seperti iri, dengki dan menghasut pihak lain yang lebih maju. Adapun cemburu yang mempunyai pengertian positif tentu sah saja adanya, malah dianjurkan. Kecemburuan mana mendorongnya untuk meniru dan mempelajari anasir-anasir yang dimiliki orang lain sehingga dapat melangkah lebih maju dan berhasil.

Wallâhu A’lam…?

Comments on: "Sebab-sebab Kegagalan Dakwah" (2)

  1. munibmuhammed said:

    Ustadz, bagaimana dengan materi dakwah yang disampaikan secara monoton, lebih-lebih dari “kyai desa”, bukanya kita harus dinamis dalam hal apapun. Ada kecenderungan jenuh dengan materi yang disampaikan karena metode yang inovatif. Saya selalu mengcopy tulisan ustadz, tapi yang baru kok belum ada…

    • abualitya said:

      Sdr Munib. Saya sependapat dengan Anda bahwa dakwah yang kita sampaikan harus dinamis, baik diri sisi konten maupun cara penyampaian (penyajian)-nya.
      Oya, maaf saya belum dapat menampilkan tulisan-tulisan baru di blog ini. Beberapa kesibukan di Jurusan Ushuluddin membuat saya tidak sempat mempublish beberapa tulisan yang sudah tersedia di file laptop. Terimakasih untuk kunjungan Anda ke “gubuk reyot” saya ini…:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: