Berpikir positif, bersikap & bertindak bijak

A.    Pendahuluan

Alquran adalah sumber ajaran Islam. Kitab Suci ini menempati posisi sentral, bukan saja dalam perkembangan dan pengembangan ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga merupakan inspirator, pemandu dan pemadu gerakan-gerakan umat Islam sepanjang empat belas abad sejarah umat ini.[1] 

Jika demikian halnya, maka pemahaman terhadap ayat-ayat Alquran melalui penafsiran-penafsirannya, mempunyai peranan yang sangat besar bagi maju-mundurnya umat. Sekaligus, penafsiran-penafsiran itu dapat mencerminkan perkembangan serta corak pemikiran para mufasir.[2]

Istanthiq al-Qur`ân (ajaklah Alquran berbicara atau biarkan ia menguraikan maksudnya), konon itu pesan Imam ‘Ali bib Abî Thâlib kw. Pesan ini antara lain mengharuskan penafsir untuk merujuk kepada Alquran dalam rangka memahami kandungannya.[3]

Makalah ini mencoba untuk sedapat mungkin “membiarkan” Alquran menguraikan pandangannya tentang distribusi harta (al-mâl). Dalam arti, mencoba melihat aturan, norma, prinsip dan nilai moral apa saja yang harus mendasari segenap aktivitas manusia yang berkaitan—langsung atau tidak—dengan penggunaan harta kekayaan.

Apa yang kami tulis dalam makalah sederhana ini tentu tidak akan sanggup untuk menjadikan Alquran sebagai inspirator, pemandu dan pemadu gerakan umat Islam, khususnya berkaitan dengan soal harta kekayaan. Makalah ini pun tidak pantas untuk dapat dikatakan sebagai suatu upaya pemahaman terhadap ayat-ayat Alquran melalui penafsirannya. Juga sangat tidak layak untuk dikatakan sebagai sebuah respon atas ajakan Imam ‘Ali ketika beliau berkata, istanthiq al-Qur`ân. Oleh karena itu semua, alih-alih menemukan butir-butir hikmah dan pandangan Alquran yang utuh tentang bahasan yang kami ketengahkan, pembaca akan menemukan sekian banyak kekeliruan, kesalahan dan cacat-cacat lainnya. Yang jelas, ini hanyalah sebuah makalah yang harus diajukan oleh peserta Mata Kuliah Tafsir Maudhû`î.

 

B.     Pengenalan Awal Kata Harta (al-Mâl)

Harta atau kekayaan yang dimaksud dalam makalah ini adalah terjemahan dari kata al-mâl. Dengan demikian, salah satu bagian dari makalah ini akan menelusuri kata al-mâl dalam lembaran-lembaran mushhaf Alquran. Namun sebelum itu, terlebih dahulu akan dibahas makna kata ini dalam kamus-kamus bahasa.

Dalam al-Munjid kata al-Mâl (bentuk jamaknya, al-amwâl), diartikan sebagai “Segala sesuatu yang kamu miliki (mâ malaktahu min jamî’ al-syyâ`). Orang Arab perkampungan biasa memakai kata ini untuk menunjukan binatang ternak atau binatang untuk kendaraan, seperti unta dan kambing. Bentuk mudzakar atau mua`annats dari kata ini sama saja, yakni al-mâl.[4] Dalam al-Mu’jam al-Wasîth, ia dimaknai, “Segala yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok berupa kekayaan, atau barang perdagangan, rumah, uang atau hewan atau lainnya.”[5] Sementara itu Elias A. Elias mengartikannya dengan rizq (property; esatate), badlâ`i’ (goods; wares; commodities) dan nuqûd (money).[6]

Dari beberapa arti yang diberikan oleh kamus bahasa di atas, tidak keliru sekiranya kita sepakat untuk mengartikan kata “al-mâl” dengan “harta benda atau kekayaan.”

Kata al-mâl dalam Alquran disebut tidak kurang dari 86 kali.[7] Kata ini disebutkan Alquran dalam dua bentuk. Pertama, dalam bentuk tidak disandarkan kepada kataganti (ghair mudhâf ilâ dlâmir), seperti al-mâl, mâlan, al-amwâl dan amwâlan (32 kali). Kedua, disandarkan kepada kataganti, seperti mâluhu, mâliyah, amwâlukum dan amwâluhum (54 kali).[8]

Kata mâl dalam bentuknya yang tidak di-idlâfat-kan kepada dlamîr disampaikan dalam dua bentuk kata. Pertama, bentuk nakirah (indefinite noun), seperti mâlan dan amwâlan (17 kali), dan kedua, bentuk ma’rifat (definite noun) sebanyak 15 kali. Tujuh di antaranya ma’rifat dengan alif-lâm, seperti al-mâl dan al-amwâl, dan delapan kali ma’rifat dengan di-idlâfat-kan bukan kepada kepada dlamîr, seperti mâl Allâh (sekali), mâl al-yatîm (dua kali), amwâl al-yatâmâ (sekali) dan amwâl al-nâs (empat kali). Kata al-mâl yang tidak di-idlâfat-kan disampaikan dalam dua bentuk: pertama, mufrad (singular) seperti al-mâl dan mâlan (18 kali). Kedua, jama’ (plural) seperti al-amwâl dan amwâlan (14 kali).[9]

Dari segi i’râb,[10] kata al-mâl yang tidak di-idlâfat-kan disampaikan dalam tiga keadaan i’râb, pertama, rafa’ (dua kali), kedua, manshûb (17 kali) dan ketiga, majrûr (13 kali). Ini berarti kata al-mâl jarang sekali disampaikan dengan i’râb rafa’ (cuma dua kali). Dalam dua kali ini, semuanya mengonotasikan makna negatif (lihat Qs. Al-Kahfi, 18: 46 dan al-Syu’arâ`, 26: 88).  Dari 13 kali kata ­al-mâl yang majrûr, 11 di antaranya majrûr dengan harf al-jâr (min, fî, dan lainnya). Ini menunjukkan bahwa ia selalu berputar dan bergerak; dari dan kepadanya (minhu wa ilaih). Ketika al-mâl di-manshûb-kan (paling sering, 17 kali), menunjukkan bahwa ia merupakan objek aktivitas dan berada pada tangan manusia. Dalam bentuk dan kedudukan i’râb ini kita dapat mengambil, paling tidak, tiga konotasi makna. Pertama, celaan kepada manusia yang mencintai dan mengikat diri dengan harta, seperti dalam Qs. Al-Fajr, 89: 20, al-Humazah, 104: 2, al-Balad, 90: 6, Maryam, 19: 71, al-Mudatstsir, 74: 12, al-Kahfi, 18: 34, 39, al-Tawbah, 9: 69, Yûnus, 10: 88, Sabâ, 34: 35. Kedua, larangan mendekati, apalagi mengambil, harta orang lain yaitu kaum yang membutuhkan, anak-anak yatim dan manusia umumnya (tidak termasuk di dalamnya orang-orang kaya), seperti dalam Qs. Al-An’âm, 6: 34, al-Nisâ, 4: 10, 161, al-Tawbah, 9: 34. Dan ketiga, memberikan harta kepada pihak-pihak yang lebih membutuhkan, seperti Qs. Al-Baqarah, 2: 177, atau bekerja dalam rangka menegakkan risalah, bukan untuk menunggu bayaran harta, seperti Qs. Hûd, 11: 29.[11]

Adapun kata al-mâl yang di-­idlâfat-kan kepada dlamîr, disampaikan dalam dua bentuk: Pertama di-idlâfat-kan kepada dlamîr mufrad seperti mâluhu dan mâliyah.  Dalam bentuk ini disampaikan tujuh kali. Satu di antaranya idlâfat kepada dlamîr mutakallim, seperti mâliyah (Qs. Al-Hâqqah, 19: 28), dan enam kali lainnya idlâfat kepada dlamîr ghâib, seperti mâluhu (Qs. Al-Baqarah, 2: 264, Nûh, 71: 21, al-Lail, 92: 11, 18, al-Humazah, 104: 3, al-Masad, 111: 2). Kedua, di-dlâfat-kan kepada dlamîr jama’ dengan bentuk kata yang jama’ pula seperti amwâlukum, amwâlunâ dan amwâluhum. Bentuk ini disampaikan sebanyak 47 kali. Dua di antaranya idlâfat kepada dlamîr mutakallim ma’a al-ghair seperti amwâlunâ (Qs. Hûd, 11: 87, al-Fath, 48: 11), 14 kali kepada dlamîr al-mukhâthab seperti amwâlukum (di antaranya Qs. Al-Baqarah, 2: 188, 279, Âli ‘Imrân, 3: 186, al-Nisâ, 4: 2, 5, 24, 29), dan 31 kali kepada dlamîr al-ghâib seperti amwâluhum (antara lain dalam Qs. Al-Baqarah, 2: 261, 262, 265, 274, Âli ‘Imrân, 3: 10, 116, al-Nisâ, 4: 2, 6, 34, 38, 95).[12]

 

C.    Beberapa Pandangan Alquran tentang Distribusi Harta

Dari sekian ayat yang secara tersurat menyatakan kata al-mâl, kiranya kita dapat menarik beberapa benang merah yang dapat kita nilai sebagai pandangan Alquran yang harus mendasari segenap aktivitas pendistribusian harta. Pandangan itu antara lain:

1.      Harta adalah Milik Allah (al-mâl mâl Allâh)

Dalam Alquran hanya sekali kata al-mâl yang secara tegas dinisbahkan kepada Allah (mâl Allâh), yaitu dalam Qs. al-Nûr, 24: 33:

“Dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepada kamu).”

Ayat ini berkenaan dengan salah satu cara yang ditempuh Islam dalam menghilangkan perbudakan, yaitu seorang hamba boleh meminta kepada tuannya untuk dimerdekakan, dengan perjanjian bahwa budak itu akan membayar jumlah uang yang ditentukan. Pemilik budak itu hendaklah menerima perjanjian itu kalau budak itu menurut penglihatannya sanggup melunasi pembayaran dengan harta yang halal. Untuk mempercepat lunasnya perjanjian, hendaklah budak-budak itu ditolong dengan harta-harta yang diambil dari mâl Allâh (harta Allah).

Al-Thabathabâ`î, dalam tafsir al-Mîzân-nya mengartikan mâl Allâh dalam ayat tersebut dengan harta zakat.[13] Wahbah Zuhailî dalam tafsir Al-Munîr-nya juga mengartikan demikian.[14] Al-Zamakhsyarî mengartikannya dengan harta yang diambil dari bayt al-mâl.[15]

Tentu saja, bukan hanya mâl yang disebut dalam ayat itu saja yang merupakan milik Allah. Sebab semua harta, bahkan alam raya beserta isinya, adalah milik-Nya. Dengan demikian, tidak keliru kalau kita menegaskan bahwa harta dalam pandangan Alquran pada hakikatnya hanya milik Allah. Penegasan ini sebenarnya tidak hanya didasarkan kepada ayat di atas. Bahkan ia lebih didasarkan kepada keseluruhan pesan Alquran berkenaan dengan harta.

Pandangan bahwa harta adalah milik Allah akan melahirkan sejumlah prinsip yang secara langsung ada kaitannya dengan pemanfaatan kekayaan dan semangat sosialisme. Prinsip-prinsip itu di antaranya:

a.      Benda-benda ekonomi adalah milik Tuhan (dengan sendirinya), yang kemudian dititipkan kepada manusia; kekayaan sebagai amanat (Qs. Al-Anfâl, 8: 28, al-Taghâbun, 64: 15, al-Nisâ, 4: 6).

b.      Penerima amanat harus memperlakukan benda-benda itu sesuai dengan “kemauan” Sang Pemberi amanat (Tuhan), yaitu hendaknya diinfakkan menurut jalan Allah (Qs. Al-Nisâ, 4: 95, al-Anfâl, 8: 72, al-Tawbah, 9: 88, 11, 20, 44).

c.       Harta yang halal itu setiap tahun harus dibersihkan dengan zakat (Qs. Al-Tawbah, 9: 103, al-Lail, 92: 18).

d.     Penerima amanat harta tidak berhak menggunakan (untuk diri sendiri) harta itu semaunya, melainkan harus dengan timbang rasa begitu rupa sehingga tidak menyinggung rasa keadilan umum, tidak kikir dan juga tidak boros, melainkan berada di antara keduanya (Qs. Al-Furqân, 25: 67, al-Isrâ, 17: 28, al-Lail, 92: 18).

e.      Orang miskin mempunyai hak yang pasti dalam harta orang-orang kaya (Qs. Al-Ma’ârij, 70: 24, al-Dzâriyât, 51: 19).

f.        Kejahatan tertinggi terhadap kemanusiaan ialah menumpukkan kekayaan pribadi tanpa memberinya fungsi sosial (Qs. Al-Humazah, 104: 2-3, al-Hasyr, 59: 7, al-Tawbah, 9: 34).

g.      Manusia tidak akan memperoleh kebajikan sebelum mendistribusikan harta yang dicintainya (Qs. Âli ‘Imrân, 3: 92).[16]

Dalam hukum fikih, cita-cita keadilan sosial/ekonomi[17] ini dijabarkan menjadi ketentuan tentang halal dan haram dalam perolehan ekonomi (tidak boleh ada penindasan oleh manusia atas manusia, Qs. Al-Baqarah, 2: 279; dan tidak boleh ada pembenaran pada “struktur atas”, khususnya sistem pemerintahan dan perundangan, terhadap praktek-praktek penindasan, Qs. Al-Baqarah, 2: 188). Kemudian dilembagakan ketentutan kewajiban zakat, yang harus ditambah dengan anjuran kuat sekali untuk berderma. Penggunaan harta secara demikian selalu dilukiskan sebagai penggunaan “di jalan Tuhan”, karena memang mendukung cita-cita kenabian seperti terdapat dalam Kitab Suci. Karena zakat dan derma itu hanya sah bila harta kita halal, maka zakat dan derma itu boleh dikata sebagai finishing touch usaha pemerataan.[18]

 

2. Perintah dan Anjuran Menyangkut Distribusi Kekayaan

a.    Perintah:

Perintah Alquran menyangkut distribusi harta di antaranya adalah mengeluarkan zakat. Firman-Nya dalam Qs. al-Tawbah, 9: 103:

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka…”

 

Ayat ini berkaitan erat dengan ayat sebelumnya (102). Ia berbicara tentang seorang sahabat yang bernama Abû Lubâbah dan beberapa rekannya yang tidak ikut dalam perang Tabûk, dan memilih tinggal bersama keluarga mereka, namun mereka sadar sehingga mengikat diri mereka masing-masing di tiang masjid dan enggan dilepas oleh siapa pun selain Rasul Saw.[19]

Mereka yang mengakui dosanya sewajarnya dibersihkan dari nodanya, dan karena sebab utama ketidakikutan mereka ke medan juang adalah ingin bersenang-senang dengan harta yang mereka miliki, atau disebabkan karena hartalah yang menghalangi mereka berangkat, maka ayat ini (103) memberi tuntunan tentang cara membersihkan diri, dan untuk itu Allah memerintahkan Nabi mengambil harta mereka untuk disedekahkan kepada yang berhak.[20]

Dalam tafsir al-Manâr dikatakan bahwa tiga ayat dari surat al-Tawbah (102,103 dan 104)) sedang menjelaskan faidah dan manfaat menyedekahkan harta seraya mendorong untuk melakukannya, juga sedang mendorong mereka yang tidak ikut berjuang di jalan Allah dengan harta atau jiwanya untuk segera bertobat.[21]

Dapat juga dikatakan, bahwa ayat sebelumnya berbicara tentang sekelompok orang yang imannya masih lemah, yang memcampurbaurkan amal baik dan buruk dalam kegiatannya. Mereka diharapkan dapat diampuni Allah. Salah satu cara pengampunan-Nya adalah melalui sedekah dan pembayaran zakat. Karena itu, di sini Nabi Saw. diperintah: Ambillah atas nama Allah sedekah, yakni harta berupa zakat dan sedekah yang hendaknya mereka serahkan dengan penuh kesunguhan dan ketulusan hati.

Dengan harta yang engkau ambil itu engkau membersihkan harta dan jiwa mereka, dan mensucikan jiwa lagi mengembangkan harta mereka.[22] 

Walau ayat ini dalam konteks uraian tentang Abû Lubâbah dan kawan-kawan, namun ia berlaku umum. Demikian juga walau redaksi ayat ini tertuju kepada Rasul Saw. namun ia pun bersifat umum, yakni perintah itu ditujukan kepada siapa pun yang menjadi penguasa. Karena itu, ketika sekelompok orang pada masa Khalîfah Abû Bakar enggan membayar zakat dengan dalih bahwa perintah ini hanya ditujukan kepada Rasul, dan bukan kepada selain beliau, Khalîfah Abû Bakar menolak dalih tersebut, dan ketika mereka berkeras enggan membayar zakat beliau memerangi kelompok pembangkang itu.[23]

Kewajiban penunaian zakat kepada segmen masyarakat tertentu, bukanlah berupa perilaku kemurahan hati (charity) dari pihak penunai tapi merupakan keharusan yang setaraf dengan hutang yang harus dipenuhi.[24]

Dalam memahami ayat 103 surat al-Tawbah di atas, Hassan Hanafi sampai berpendapat bahwa pemerintahan yang sah berkewajiban untuk turun tangan secara langsung mengambil harta yang berada di tangan kaum kaya yang merupakan hak kaum yang membutuhkan, jika pihak yang pertama ingkar dan tidak mau mendistribusikan kekayaannya kepada pihak yang kedua. Itu karena, kata Hanafî, harta kekayaan harus mengalir di tengah-tengah anggota masyarakat seperti mengalirnya air, di mana siapa pun yang membutuhkan dapat mengambil dan mempergunakannya. Harta kekayaan, lanjut Hanafî, harus didistribusikan, jangan ditimbun.[25]

Zakat merupakan salah satu kiat Islam dalam rangka meraih cita-cita sosialnya. Ia juga merupakan penegasan bahwa dalam harta milik pribadi terdapat hak-hak mereka yang membutuhkan yang harus disalurkan kepada mereka. Kiat ini ditempuh Islam sambil melarang beberapa praktek transaksi yang dapat mengganggu keserasian hubungan antara anggota masyarakat.[26]

Adapun signifikansi zakat yang paling menonjol, didasarkan atas nilai-nilai dan prinsip-prinsip ideal sebagai berikut:

a.      Zakat merupakan cerminan falsafah Islam tentang harta, dan bahwasanya harta dalam pandangan Islam adalah milik Allah, manusia hanya mempunyai hak pendayagunaan dan pemanfaatan (QS. Al-Nûr, 24: 33).

b.      Zakat merupakan institusi Islam tentang keharusan terwujudnya keadilan sosial, yaitu dengan cara distribusi harta dari kaum kaya kepada fakir miskin dan pihak-pihak lain yang membutuhkan. Saking pentingnya zakat dilihat dari segi ini, tidak aneh kalau ia dijadikan salah satu pilar agama yang keislaman seseorang tidak dianggap sah tanpa terpenuhi rukun ini. Ayat-ayat Alquran tentang zakat pun senantiasa diiringi nada penegasan, peringatan dan ancaman baik di dunia maupun akhirat. Tak kurang dari empat puluh ayat menunjukkan makna ini dengan sangat jelas.

c.       Ia juga merupakan sarana pendidikan hati bagi kaum Muslim untuk ikut menanggung beban dan derita sesamanya. Sebab dengan mengeluarkan zakat berarti seorang Muslim telah mengenyahkan kepentingan priomordial, individual dan egoisnya.[27]

 

b.       Anjuran:

Adapun anjuran Alquran menyangkut distribusi kekayaan, barangkali Qs. al-Baqarah, 2: 261-262 dapat kita jadikan sampel yang mewakili ayat-ayat lain yang mempunyai kandungan makna yang serupa dengannya. Ayat termaksud adalah:

“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tipa butir seratus biji, Allah melipat gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui (261). Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti perasaan si penerima, mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati (262). 

 

Dalam tafsir al-Munîr, Wahbah Zuhailî mengutip al-Kalabî yang mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan sayyidinâ ‘Utsmân bin ‘Affân dan ‘Abd al-Rahmân bin ‘Auf yang membelanjakan sebagian harta mereka di jalan Allah, tepatnya untuk mendanai perang Tabûk.[28]

Ayat di atas mengandung perumpamaan tentang pelipatgandaan pahala bagi orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah dan demi rida-Nya. Ia juga menjelaskan bahwa setiap kebaikan yang diberikan akan dilipatkan pahalanya sepuluh hingga 700 kali lipat.[29]

Ayat-ayat ini terkait dengan ayat 259 yang menjelaskan tentang pertanyaan bagaimana Allah menghidupkan negeri yang telah hancur berantakan. Dalam ayat itu dikemukakan bahwa membangun dunia dan memakmurkannya mengharuskan adanya manusia yang hidup, tinggal, bergerak, giat dan berusaha. Tanpa kehadiran manusia dan kehidupannya, maka satu negeri tidak akan makmur. Hidup bukan hanya menarik nafas dan menghembuskannya. Hidup adalah gerak, rasa, tahu, kehendak dan pilihan. Manusia tidak dapat memenuhi semua kebutuhannya. Ia harus saling membantu, saling melengkapi, dan karena itu pula mereka harus beragam dan berbeda-beda agar mereka saling membutuhkan. Yang tidak mampu dalam satu bidang dibantu oleh yang lain yang mumpuni, atau berlebih di bidang itu. Yang kuat membantu yang lemah. Inilah yang dijelaskan kelompok ayat 261-262.[30] Ayat 261 berpesan kepada yang berpunya agar tidak merasa berat membantu, karena apa yang dinafkahkan akan tambah berkembang dengan berlipat ganda.[31]

Pendangan bahwa membantu yang lemah itu sebenarnya memperkuat yang kuat, kita sebut sebagai solidaritas. Bantaun yang kita berikan sebetulnya bukan anugerah, tetapi harga yang harus kita bayar untuk kerja sama yang saling menguntungkan. Pada kehidupan sosial yang makro, uluran tangan pihak yang beruntung dalam menolong yang tidak beruntung akan memperkukuh integritas sosial. Sebaliknya, acuh tak acuh atas penderitaan orang lain akan berbalik menjadi bumerang.[32]

Menurut Hassan Hanafî, infak harta yang disebut ayat bukanlah zakat, melainkan investasi produktif yang menghasilkan sumber produksi.[33] Hal ini berarti bahwa al-mâl harus diupayakan untuk tidak idle (diam), agar fungsinya untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat dapat terpenuhi. Menurut syariat, investasi harus mengutamakan hal-hal yang menyentuh kebutuhan pokok masyarakat yakni sandang, pangan, dan papan, di samping pendidikan, pelayanan kesehatan, dan hal-hal lain yang dinilai vital dalam peningkatan kesejahteraan orang banyak.[34]

Infak tersebut bisa dilakukan secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan (dengan tidak bermaksud mencari perhatian orang, tapi untuk mencapai kemaslahatan yang lebih besar), dan harus dilakukan murni untuk mencari rida Allah dan membela kepentingan umum (Qs. Al-Baqarah, 2: 265, 274). Tidak jarang infak yang dikeluarkan hanya untuk mencari perhatian dan pujian orang (riyâ), atau untuk menyakiti perasaan orang yang menerima (Qs. Al-Baqarah, 2: 264). Para penginfak yang akan mendapat ganjaran Tuhan adalah mereka yang berinfak di “jalan Allah”, tulus karena-Nya, dan tidak mengiringi infaknya dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti perasaan si penerima (Qs. Al-Baqarah, 2: 262).

Dengan infak, akan terlihat keunggulan seseorang atas orang lain, kelebihan seorang mukmin atas mukmin lainnya. Kelebihan seseorang atas orang lain bukan terletak pada jumlah harta yang dimiliki, tapi pada kadar infak yang diberikan.[35]

Sedang infak yang bertolak belakang dengan kemaslahatan umum dan dimaksudkan untuk membendung laju agama Allah, maka hal seperti itu merupakan tindakan kekufuran (Qs. Al-Anfâl, 8: 36). Kufur dalam arti membelanjakan harta dalam rangka merusak tatanan nilai sosial serta mencederai hati nurani dan keadilan, dan dalam rangka menanamkan nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai Ilahiyah.[36] 

 

3. Larangan-larangan Menyangkut Pemanfaatan Harta

Secara umum, larangan-larangan menyangkut penggunaan harta mencakup empat aspek:

a.      Pemilik harta tidak diperkenankan untuk mempergunakan atau menginvestasikannya yang akan mengakibatkan kesulitan, gangguan, dan penganiayaan serta ketidakadilan pihak lain. Misalnya, investasi yang akan membawa pencemaran lingkungan atau meningkatkan peluang kriminalitas (8: 36).

b.      Dalam pemanfataan al-mâl, segala bentuk transaksi dengan pendekatan riba, monopoli, dan penipuan dikecam keras (4: 161; 30: 39; 2: 278-279; 59: 7-8).

c.       Kebijaksanaan pemilik al-mâl harus jauh dari penimbunan atau kekikiran atau pemborosan (9: 34; 25: 67). Kedua cara ini menimbulkan dampak negatif terhadap roda ekonomi. Penimbunan harta mengantar kepada stagnasi yang menghambat lajunya perkembangan ekonomi, sebaliknya pembelanjaan secara semena-mena berarti penghamburan sumber kekayaan yang dapat dinikmati oleh masyarakat.

d.     Larangan penggunaan al-mâl untuk mempengaruhi penguasa guna mencapai keuntungan material (2: 188). Larangan ini mencakup sogok menyogok, kolusi antara pemegang harta dan penguasa yang merugikan masyarakat banyak.[37]

Dari kelima butir di atas, penulis akan mengambil tiga di antaranya yaitu surah al-Baqarah, 2: 278-279, al-Tawbah, 9: 34-35, dan al-Hasyr, 59: 7-8 sebagai sampel. Berikut secara ringkas akan kami kutip penafsiran beberapa mufasir tentang masing-masing ayat tersebut:

Qs. Al-Baqarah:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan riba jika kamu orang-orang yang beriman (278). Maka jika kamu tidak mengerjakan (perintah itu) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat, maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya (279).”

 

Diriwayatkan bahwa ayat ini (278) turun berkenaan dengan Banî ‘Amru bin ‘Umair dari Tsaqîf. Mereka mempunyai piutang yang menjadi tanggungan Banî al-Mughîrah dari Banî Makhzûm. Dikatakan juga bahwa ia turun berkenaan dengan ‘Abbâs. Ada pula yang bilang ia berkenaan dengan ‘Utsmân. Kata Al-Sadî, ia turun berkenaan dengan ‘Abbâs dan Khâlid bin al-Walîd. Keduanya, pada zaman jahiliah, merupakan mitra yang biasa bertansaksi dengan riba. Terlepas dari itu, yang jelas ketika mereka hendak melakukan transaksi ribawi, ayat ini turun.[38]

Ayat ini memerintahkan orang-orang yang beriman untuk meninggalkan sisa riba (yang belum dipungut) yang masih berada dalam transaksi yang telah mereka buat sebelum ayat ini turun. Penyebutan kata iman (âmanû) dan perintah bertakwa kepada Allah (ittaqû Allâha) di awal ayat dimaksudkan untuk mendorong mereka agar mau menerima perintah meninggalkan sisa riba itu.[39] Perintah untuk meninggalkan sisa riba dengan sendirinya merupakan larangan untuk mengadakan traksaksi ribawi baru.[40]

“Jika kalian tidak mengerjakan perintah itu (ayat 279),” sasaran khitâb dari penggalan ini adalah kaum mukminin. Tapi ada juga yang mengatakan, ia seruan untuk kaum kafir yang menghalalkan riba.[41]

“Maka ketahuilah, bahwa Allah dan rasul-Nya akan memerangimu,” artinya, menurut al-Marâghî, ketahuilah bahwa kalian diperangi oleh Allah dan Rasul-Nya. Perang yang dilakukan Allah adalah kemarahan dan pembalasan-Nya atas orang yang memakan riba.[42]

“Dan jika kamu bertaubat maka bagimu pokok harta…”  Sebagian mufasir ada yang mengatakan bahwa jika mereka tidak bertaubat, maka mereka menjadi kafir, karena menolak hukum Allah dan menghalalkan apa yang diharamkan-Nya. Dari ayat ini kita memahami bahwa jika mereka tidak bertaubat, maka mereka tidak berhak memperoleh ra’s al-mâl (pokok harta).

“Kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” Penggalan ini merupakan pemberitahuan (ikhbâr) dari Allah bahwa jika mereka hanya mengambil pokok harta, maka mereka telah berlaku adil.[43]

Ayat lain yang kami angkat dalam konteks larangan menyangkut harta ini adalah surat al-Tabwah, 9: 34:

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi manusia dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan peras dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.”

 

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak..,”

Bisa jadi penggalan ini merujuk kepada banyak dari para pendeta Yahudi dan rahib Nasrani (yang disebutkan sifat-sifatnya dalam penggalan sebelumnya dari ayat ini) untuk menunjukkan bahwa mereka melakukan dua hal yang tercela, yaitu mengambil suap dan menyimpan (menimbun) harta serta tidak menginfakannya di jalan kebaikan. Termasuk di dalamnya, kaum muslimin yang mempunyai sifat-sifat yang sama dengan sifat tercela yang dimiliki oleh para pendeta dan rahib itu. Bisa juga yang dimaksud oleh ayat adalah para penimbun harta dari kalangan kaum muslimin. Penyertaan penyebutan mereka dengan para pengambil suap dari kalangan Ahli Kitab merupakan bentuk ancaman yang keras (taghlîzhan).[44]

Ayat terakhir yang kami masukkan dalam kategori larangan Alquran menyangkut harta benda adalah surah al-Hasyr, 59: 7-8: 

     “Apa saja harta rampasan yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk negeri-negeri maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya kamu mengerjakannya maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya (7). Juga bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halamannya dan dari harta benda mereka karena mencari karunia dari Allah dan keridaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar (8).”

 

Semua harta benda dan harta rampasan yang diperoleh dari musuh tanpa terjadinya pertempuran adalah untuk Allah, Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Pendistribusian ini dilakukan agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang yang kaya saja, sedang orang-orang miskin tidak mendapat apa-apa. Kata Ibnu Katsîr, sebagaimana dikutip Sa’îd Hawâ, pembagian ini ditempuh agar harta kekayaan itu tidak hanya menjadi milik beberapa gelintir orang kaya yang dapat mereka pergunakan sesuka mereka tanpa ada sedikit pun bagian yang diberikan kepada kaum fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan lainnya.[45] Ini menunjukkan bahwa tujuan yang hendak dicapai oleh aturan Islam mengenai harta adalah tidak adanya terkonsentrasi harta kekayaan di tangan orang-orang kaya saja. Oleh sebab itu Allah mengharamkan riba, monopoli (al-ihtikâr), penimbunan (iktinâz) dan menetepakan aturan waris. Demikian Sa’îd Hawâ.[46]

Solusi yang ditawarkan Islam lewat ayat-ayat di atas—dan masih banyak lagi ayat-ayat lainnya—dimaksudkan, di antaranya, untuk membebaskan masyarakat dari rasa lapar dan ketakutan akan kekurangan sumber pangan, dengan cara distribusi kekayaan yang adil antarmasyarakat, sehingga tercipta keadilan sosial.[47]

&

Akhirnya, dapatlah dikatakan bahwa ayat-ayat yang kami nilai berisi perintah, anjuran dan larangan menyangkut harta, sejatinya mengajarkan kita tentang makna kepedulian dan kesejahteraan sosial. Kepedulian sosial yang ditunjukan oleh kalangan yang berkuasa dan kaya setidaknya dapat menjadikan—seperti kata Jalaluddin Rakhmat dalam Catatan Kang Jalal-nya—orang-orang miskin melihat orang-orang kaya sebagai manusia juga. Kecemburuan sosial karena deprivasi kekayaan sedikitnya dapat meminimalkan mobil mengkilat tidak lagi dan tidak hanya mengingatkan mereka pada jalan-jalan yang menggusur ‘tanah air’ mereka. Rumah besar tidak lagi dan tidak hanya menjadi raksasa rakus yang meluluh-lantahkan kampung mereka. Perut-perut  besar tidak lagi dan tidak hanya berisi keringat, air mata, dan darah mereka.

Kesenjangan sosial tidak serta merta diakhiri, tetapi keresahan karena kesenjangan itu sedikitnya terobati. Bila zakat, infak shadaqah dikeluarkan, orang-orang yang terpuruk itu mungkin akan melupakan derita mereka sejenak. Tampaknya Tuhan memang membagikan nasib berlainan, supaya saling menolong. Orang kaya memerlukan orang miskin sebagai pembantunya, dan orang miskin menghajatkan orang kaya sebagai pembelanya. Dengan begitu, keresahan dan kerusuhan dapat diredam. Orang-orang yang radikal bisa kecewa, karena revolusi terhambat.[48] 

D. Penutup

Al-mâl dalam pandangan Islam tidak sebatas sebagai harta milik yang dapat dimiliki oleh siapa pun, tanpa ada hak dan kewajiban berkaitan dengannya. Melihat jumlah penyebutan kata ini dalam Alquran (86 kali), dapat kiranya dikatakan bahwa al-mâl dalam pandangan Alquran menduduki posisi yang cukup signifikan. Signifikansi itu bukan hanya diukur dari kenyataan bahwa untuk dapat bertahan hidup manusia memerlukan al-mâl, tetapi, yang lebih penting, diukur dari banyak hal menyangkut harta kekayaan. Hal-hal itu antara lain, perintah dan anjuran serta larangan menyangkut kekayaan.

Hal lain yang penting dicatat adalah bahwa harta dalam pandangan Alquran (Islam) adalah milik Allah. Pandangan ini dengan sendirinya menuntut sikap-sikap tertentu dari orang yang “dititipi” Allah kekayaan-Nya. Di antara tuntutan itu adalah kesadaran bahwa hidup ini tidak sendiri, hidup ini layaknya sebuah jaringan yang satu sama lain saling terkait; saling membutuhkan, dan karenanya harus saling berbagi dan bahu-membahu, bantu-membantu. Bila kesadaran ini tertanam, maka salah satu pesan moral Alquran ketika ia membicarakan harta, yaitu terciptanya sebuah tatanan masyarakat yang berkeadilan sosial-ekonomi, tak akan terlalu sulit untuk diwujudkan. Demikian kiranya.

Wallâhu A’lam…?

 

Daftar Pustaka

 

Al-Qur`ân al-Karîm

 

Abû al-Qâsim Jâr Allâh Mahmûd bin ‘Umar bin Muhammad al-Zamakhsyarî, Al-Kasysyâf ‘an Haqâ`iq Ghawâmidl al-Tanzîl wa ‘Uyûn al-Aqâwîl fî Wujûh al-Ta`wîl, Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah: Beirut, cet. I vol. III, 1995.

 

Ahmad Mushtafâ al-Marâghî, Tafsîr al-Marâghî, Dâr al-Fikr: Kairo, tt.

 

Dr. Alwi Shihab, Islam Inklusif, Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama, Mizan: Bandung, cet. IV 1998.

 

Eko Prasetyo, Islam Kiri Melawan Kapitalisme Modal, Dari Wacana Menuju Gerakan, Insist Press & Pustaka Pelajar: Yogyakarta, cet. I, 2002. 

 

Elias A. Elias & Ed. E. Elias, Elias’ Modern Dictionary, Arabic-English, Dâr al-Jayl: Beirut, 1979.

 

Fahmî Huwaidî, Al-Tadayyun al-Manqûsh, Dâr al-Syurûq: Kairo, cet. I, 1994.

 

Hans Wehr, A Dictionary of Modern Written Arabic (Arabic-English), Librairie du Liban: Beirut, cet. V, 1980.

 

Hassan Hanafî, Al-Dîn wa al-Tsawrah fî Mishr (1952-1981), vol. VII (Al-Yamîn al-Yasâr fî al-Fikr al-Dînî), Maktabah Madbûlî: Kairo, tt.

 

————-, Dirâsât Falsafiyah, Maktabah Anglo al-Mishriyah: Kairo, cet. I, 1987.

 

Hujjat al-Islâm ‘Ali Akbar Hashemi Rafsanjanî, Keadilan Sosial (terj. Social Justice & Problem of Racial Discrimination), Yayasan Nuansa Cendekia: Bandung, cet. I, 2001.

 

Jalaluddin Rakhmat, Catatan Kang Jalal, PT Remaja Rosda Karya: Bandung, cet. I, 1997.

 

————-, Islam Aktual, Refleksi Sosial Seorang Cendekiawan Muslim, Mizan: Bandung, cet. X 1998.

 

————-, Islam Alternatif, Mizan: Bandung, cet. II, 1991.  

 

Louis Ma’lûf, Al-Munjid fî al-Lughah wa al-A’lâm, Dâr al-Masyriq: Beirut, cet. XXXIV, 1994. 

 

Al-Mu’jam al-Wasîth, Majma’ al-Lughah al-‘Arabiyah: Kairo, cet. III, tt.

 

Muhammad Fuâd ‘Abd al-Bâqî, Al-Mu’jam al-Mufahras lî Alfâzh al-Qur`ân, Muassasah Jamâl li al-Nasyr: Beirut, tt.

 

Muhammad Rasyîd Ridlâ, Tafsîr al-Qurân al-Hakîm (Tafsîr al-Manâr), Dâr al-Ma’rifah li al-Thibâ’ah wa al-Nasyr: Beirut, cet. II.

 

Muhammad Sayyid Thanthawî, Mu’jam I’râb Alfâzh al-Qur`ân al-Karîm, Al-Azhar Islamic Academy (Majma’ al-Buhûts al-Islâmiyah Al-Azhar): Kairo, 1994.

 

Muhammad bin Yûsuf (Abû Hayyân al-Andalusî al-Gharnâthî), Al-Bahr al-Muhîth fî al-Tafsîr, Dâr al-Fikr: Beirut, 1992.

 

Muhy al-Dîn al-Darwîsy, I’râb al-Qur`ân al-Karîm wa Bayânuh, Dâr Ibn Katsîr: Beirut, cet. IV, 1994. 

 

Nurcholish Madjid, Islam Kemodernan dan Keindonesiaan, Mizan: Bandung, cet. XI, 1998.

 

Prof. Dr. Quraish Shihab, MA, Membumikan Al-Qur’an, Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Mizan: Bandung, cet. XII, 1996.

 

—————, Tafsîr al-Mishbâh, Pesan, Kesan dan Keserasian Alquran, Lentera Hati: Jakarta, cet. I, 2002.

 

—————, Wawasan Alquran, Tafsir Maudlui atas Pelbagai Persoalan Umat, Mizan: Bandung, cet. VIII, 1998.

 

Sa’îd Hawâ, Al-Asâs fî al-Tafsîr, Dâr al-Salâm: Kairo, cet. II, 1989.

 

Sayyid Muhammad Husein al-Thabathabâ`î, Al-Mîzân fî Tafsîr al-Qurân, Muassasah al-A’lamî li al-Mathbû’ât: Beirut, cet. II, 1973.

 

Sayyid Quthb, Al-‘Adâlah al-Ijtimâ’iyah fî al-Islâm, Kairo: Dâr al-Syurûq, cet. VII, 1980.

 

—————-, Fî Zhilâl al-Qur`ân, Dâr Ihyâ al-Turâts al-‘Arabî: Beirut, cet. V, tt.

 

Wahbah Zuhailî, Al-Tafsîr al-Munîr fî al-‘Aqîdah wa al-Syarî’ah wa al-Manhaj, Dâr al-Fikr: Beirut, cet. II, 1998.

 

Yûsuf al-Qadlâwî, Al-Hall al-Islâmî Farîdlah wa Dlarûrah, vol. II dari Hatmiyah al-Hall al-Islâmî, Maktabah Wahbah: Kairo, cet. IV, 1987.

&



[1]Prof. Dr. Quraish Shihab, MA, Membumikan Al-Qur’an, Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Mizan: Bandung, cet. XII 1996, h. 83.

[2]Ibid.

[3]Ibid, h. 87.

[4]Louis Ma’lûf, Al-Munjid fî al-Lughah wa al-A’lâm, Dâr al-Masyriq: Beirut, cet. XXXIV, 1994, h. 780. 

[5]Majma’ al-Lughah al-‘Arabiyah, Al-Mu’jam al-Wasîth, Kairo, cet. III, vol. II, tt, h. 927.

[6]Property (tanah milik; milik), esatate (perkebunan; tanah; tanah milik), goods (harta benda; barang-barang), wares (barang-barang), commodities (barang-barang perdagangan; bahan-bahan keperluan), money (uang) [Lihat Elias A. Elias & Ed. E. Elias, Elias’ Modern Dictionary (Arabic-English), Dâr al-Jayl: Beirut, 1979, tp, h. 678]. Lihat juga Hans Wehr, A Dictionary of Modern Written Arabic (Arabic-English), Libraire du Liban: Beirut, cet. V, 1980, h. 931-932.

[7]Bandingkan dengan kata al-nabî (nabi) serta bentuk-bentuk derivasinya yang disebut sebanyak 80 kali dan kata al-wahy (wahyu) serta segala bentuk derivasinya sebanyak 78 kali. Ini “seakan” menunjukan bahwa tema tentang al-mâl (harta) menduduki posisi penting dalam Alquran (Islam), sehingga jumlah penyebutannya dalam Alquran sedikit melebihi jumlah penyebutan kata al-nabî (lebih enam kali) dan al-wahy (lebih delapan kali) [Lihat Hassan Hanafî, Al-Dîn wa al-Tsawrah fî Mishr (1952-1981), vol. VII (Al-Yamîn al-Yasâr fî al-Fikr al-Dînî), Maktabah Madbûlî: Kairo, tt, h. 123].

-Untuk mengetahui tempat-tempat (surat dan nomor ayat) ke-86 kata al-mâl dan segala bentuk turunannya dalam Alquran dapat kita lihat dalam Muhammad Fuâd ‘Abd al-Bâqî, Al-Mu’jam al-Mufahras lî Alfâzh al-Qur`ân, Muassasah Jamâl lî al-Nasyr: Beirut, tt, h. 682-683.

[8]Kata Hassan Hanafî, dua bentuk seperti ini menunjukkan bahwa harta, pertama sebagai wujud tersendiri yang terlepas dari kegiatan manusia; ia tidak dinisbahkan kepada seseorang atau kelompok. Kedua, berada dalam kegiatan manusia dalam bentuk usaha, investasi dan lain-lain. Alquran lebih sering menyebutnya dalam bentuk yang di-idlafat-kan daripada yang tidak (54:32). Ini menunjukkan bahwa al-mâl yang berada dalam kegiatan manusia dalam bentuk usaha, investasi dan pendayagunaan lainnya merupakan tema utama (mihwar) dari pandangan Alquran tentang harta (lihat Hassan Hanafî, Al-Dîn wa al-Tsawrah… Op Cit. h. 123).

[9]Ibid, h. 123-125. 

[10]Untuk mengetahui kedudukan i’râb kata perkata dalam Alquran, kita dapat merujuk Dr. Muhammad Sayyid Thanthawî, Mu’jam I’râb Alfâzh al-Qur`ân al-Karîm, Al-Azhar Islamic Academy (Majma’ al-Buhûts al-Islâmiyah Al-Azhar): Kairo, 1994. Lihat juga Muhy al-Dîn al-Darwîsy, I’râb al-Qur`ân al-Karîm wa Bayânuh, Dâr Ibn Katsîr: Beirut, cet. IV 1994. 

[11]Hassan Hanafî, Al-Dîn wa al-Tsawrah… Op Cit. h. 125.  

[12]Ibid, h. 129-131.

-Tentang implikasi makna dari perubahan-perubahan bentuk kata al-mâl dalam Alquran, yakni perubahan dalam bentuk mudlâf-ghair mudlâf, ma’rifat-nakirah, mufrad-jama’, i’râb (rafa’, nashab, dan jar), dlamîr (mutakallim wahdah, mutakallim ma’a al-ghair, dlamîr ghâib dan mukhâthab) dan lain-lain, dapat kita simak lebih lanjut dalam Hassan Hanafî, Al-Dîn wa al-Tsawrah…Op Cit, h. 123-134.

[13]Lihat Al-Sayyid Muhammad Husein al-Thabathabâ`î, Al-Mîzân fî Tafsîr al-Qurân, Muassasah al-A’lamî li al-Mathbû’ât: Beirut, cet. II 1973, vol. XV h. 113.

[14]Lihat Dr. Wahbah Zuhailî, Al-Tafsîr al-Munîr fî al-‘Aqîdah wa al-Syarî’ah wa al-Manhaj, Dâr al-Fikr: Beirut, cet. II 1998, vol. XVIII, h. 228.  

[15]Lihat Abû al-Qâsim Jâr Allâh Mahmûd bin ‘Umar bin Muhammad al-Zamakhsyarî, Al-Kasysyâf ‘an Haqâ`iq Ghawâmidl al-Tanzîl wa ‘Uyûn al-Aqâwîl fî Wujûh al-Ta`wîl, Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah: Beirut, cet. I 1995, vol. III, h. 232.

[16]Nurcholish Madjid, Islam Kemodernan dan Keindonesiaan, Mizan: Bandung, cet. XI 1998, h. 110-111.

[17]Wacana tentang Keadilan Sosial, Kesenjangan Sosial, Kapitalisme, Sosialisme dan persoalan lain yang terkait dengan wacana itu, secara panjang lebar dapat kita kaji Hassan Hanafî, Al-Dîn wal al-Tsawrah fî Mishr (1952-1981), vol. VII (Al-Yamîn wa al-Yasâr fî al-Fikr al-Dînî), Maktabah Madbûlî: Kairo, tt. h. 203-236. Lihat juga “Mâdzâ Ya’nî al-Yasâr al-Islâmî” dalam buku yang sama, vol. VIII (Al-Yasâr al-Islâmî wa al-Wahdah al-Wathaniyah), h. 51-58. Simak juga Eko Prasetyo, Islam Kiri Melawan Kapitalisme Modal, Dari Wacana Menuju Gerakan, Insist Press & Pustaka Pelajar: Yogyakarta, cet. I 2002. 

[18]Cak Nur, Op Cit, h. 104.

[19]Quraish Shihab, Tafsîr al-Mishbâh, Pesan, Kesan dan Keserasian Alquran, Lentera Hati: Jakarta, cet. I 2002, vol. V, h. 663.   

[20]Lihat Sayyid Quthb, Fî Zhilâl al-Qur`ân, Dâr Ihyâ al-Turâts al-‘Arabî: Beirut, cet. V, vol. X, tt, h. 300.

[21]Muhammad Rasyîd Ridlâ, Tafsîr al-Qurân al-Hakîm (Tafsîr al-Manâr), Dâr al-Ma’rifah li al-Thibâ’ah wa al-Nasyr: Beirut, cet. II, vol. XI, h. 23-24.    

[22]Ibid.

[23]Ibid, h. 666.  Lihat juga Muhammad Husein al-Thabâthabâ`î, Al-Mîzan…, vol. IX, h. 377, Wahbah Zuhailî, Al-Tafsîr al-Munîr…vol. XI, h. 29.

[24]Dr. Alwi Shihab, Islam Inklusif, Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama, Mizan: Bandung, cet. IV 1998, h. 266.

[25]Hassan Hanafî, al-Dîn wa al-Tsawrah…Op Cit, h. 135.

[26]Prof. Dr. Quraish Shihab, MA, Membumikan Alquran…Op Cit, h. 243. Islam juga memandang bahwa kemunduran umat Islam bukan hanya terletak pada kejahilan tentang syariat Islam, tetapi juga pada ketimpangan struktur ekonomi dan sosial. Ini dilukiskan oleh Alquran ketika menjelaskan kemiskinan sebagai disebabkan oleh tidak adanya usaha bersama untuk membantu kelompok lemah, adanya kelompok yang memakan kekayaan alam dengan rakus dan mencintai kekayaan dengan kecintaan yang berlebihan (al-Fajr, 89:18-22). Karena itu, Islam menghendaki agar kekayaan tidak berputar pada kalangan orang kaya. Simak Qs. Al-Hasyr, 59:7 (Lihat Jalaluddin Rakhmat, Islam Alternatif, Mizan: Bandung, cet. II 1991, h. 41-42).  

[27]Fahmî Huwaidî, Al-Tadayyun al-Manqûsh, Kairo: Dâr al-Syurûq, cet. I 1994, h. 32-35. Menurut Prof. Dr. Quraish Shihab, ada tiga landasan filosofis bagi kewajiban zakat:

1.    Istikhlâf (Penugasan sebagai Khalifah di Bumi).

      Allah adalah pemilik seluruh alam raya dan segala isinya, termasuk pemilik harta benda. Seseorang yang beruntung memperolehnya pada hakikatnya hanya menerima titipan sebagai amanat untuk disalurkan dan dibelanjakan sesuai kehendak pemiliknya (Allah).

2.    Solidaritas Sosial.

      Manusia adalah makhluk sosial. Kebersamaan antara beberapa individu dalam satu wilayah membentuk masyarakat yang walaupun berbeda sifatnya dengan individu-individu tersebut, namun ia tidak dapat dipisahkan darinya. Manusia tidak dapat hidup tanpa masyarakatnya.

3.    Persaudaraan.

      Manusia berasal dari satu keturunan, antara seorang dengan lainnya terdapat pertalian darah, dekat atau jauh. Kita semua bersaudara. Pertalian darah tersebut akan menjadi lebih kokoh dengan adanya persamaan-persamaan lain yaitu agama, kebangsaan, lokasi domisili dan sebagainya.

            Kebersamaan dan persaudaraan inilah yang mengantarkan kepada kesadaran menyisihkan sebagian harta kekayaan khususnya kepada mereka yang butuh, baik dalam bentuk zakat, maupun shadaqah dan infak (Lihat Prof. Dr. Quraish Shihab, MA, “Soal Zakat dan Amil Zakat” dalam Membumikan Al-Quran…, Op Cit, h. 323-330. Lihat juga Prof. Dr. Quraish Shihab Wawasan Alquran, Tafsir Maudlui atas Pelbagai Persoalan Umat, Mizan: Bandung, cet. VIII 1998, h. 456).

[28]Wahbah Zuhailî, al-Tafsîr al-Munîr…, Op Cit, vol. III, h. 42.   

[29]Ibid, h. 43.

[30]Prof. Dr. Quraish Shihab, MA, Tafsîr al-Mishbâh…Op Cit, vol. I, h. 529-530.

[31]Ibid, h. 530.

-Dalam tafsir al-Mizân, al-Thabâthabâ`î mempunyai catatan khusus yang cukup menarik berkenaan dengan signifikansi infak dalam Islam. Catatan itu ia beri judul “Kalâm fî al-Infâq” (lihat al-Thabâthabâ`î, al-Mîzân… Op Cit. vol. II h. 383-384).

[32]Jalaluddin Rakhmat, Islam Aktual, Mizan: Bandung, cet. X, h. 234.   

[33]Hassan Hanafî, al-Dîn wa al-Tsawrah…h. 139.

[34]Dr. Alwi Shihab, Islam Inklusif…, Bandung: Mizan, cet. IV 1998, h. 268.

[35]Hassan Hanafî, Al-Dîn wa al-Tsawrah…, h. 139.  

[36]Ibid

-Islam mengatur jalannya produksi agar dilakukan secara adil dan wajar. Al-Mâl (kekayaan) berupa kapital dan tanah, dan al-‘amal (karya) berupa tenaga, baik fisik maupun mental, diatur secara cermat oleh Islam. Untuk itu syariat mengatur kepemilikan (sementara) al-mâl serta cara memperoleh dan menginvestasikannya. Di samping itu Islam menjunjung tinggi al-‘amal (usaha/karya), sampai-sampai ia ditempatkan sebagai bagian dari iman. Proses pemilikan harta tidak dijadikan sebagai tujuan akhir, tapi justru sebagai sarana untuk berbakti kepada Allah. Oleh karena itu kesuksesan seseorang dalam proses pemilikan harta ini diukur dari kontribusinya untuk meningkatkan standar kehidupan masyarakat serta usahanya untuk memperkecil tingkat ketimpangan dan ketidakadilan antarmanusia (Lihat Dr. Alwi Shihab, Islam Inklusif, h. 262-264).    

[37]Alwi Shihab, Islam Inklusif, h. 268.

-Dapat kita tarik benang merah dari poin-poin di atas bahwa Islam sangat konsern dengan masalah-masalah yang tekait, baik langsung maupun tidak, dengan keadilan sosial dan persamaan, seperti pemberantasan ketidakberesan dalam distribusi ekonomi dan menghilangkan gap-gap yang teramat mencolok antara kelompok kaya dan kaum miskin. Umat Islam sekarang ini, kata Hassan Hanafi, diliputi berbagai kontradiksi internal; kekayaan alamnya melimpah, namun kemiskinan merebak di mana-mana, perut kosong melantunkan nyanyian keroncongan terdengar di berbagai penjuru, mulut-mulut lapar menganga di setiap pelosok, pada saat istana-istana megah berdiri dengan angkuhnya dan tak pernah peduli dengan mereka yang tak punya tempat berlindung, dengan mereka yang harus banting tulang mencari sesuap sekedar untuk bisa bertahan hidup (lihat Hassan Hanafî, Dirâsât Falsafiyah, Maktabah Anglo al-Mishriyah: Kairo, cet. I 1987).

[38]Muhammad bin Yûsuf (Abû Hayyân al-Andalusî al-Gharnâthî), Al-Bahr al-Muhîth fî al-Tafsîr, Dâr al-Fikr: Beirut, 1992, vol. II, h. 711-712.

[39]Ibid, h. 712.

-Tentang sebab-sebab mengapa riba diharamkan, dapat kita kaji Ahmad Mushtafâ al-Marâghî, “Asrâr Tahrîm al-Ribâ” dalam Tafsîr al-Marâghî, Dâr al-Fikr: Kairo, tt, vol.  I, h. 56-63.

[40]Abû Hayyân al-Andalusî, Al-Bahr al-Muhîth…, Op Cit, h. 713.

[41]Ibid, h. 714.

[42]Ahmad Mushtafâ al-Marâghî, Tafsîr al-Marâghî…, Op Cit, h. 67.

[43]Abû Hayyân, Al-Bahr al-Muhîth…, Op Cit, h. 716.

[44]Sa’îd Hawâ, al-Asâs fî al-Tafsîr, Dâr al-Salâm: Kairo, cet. II 1989, vol. IV, h. 2277.

-Sa’îd Hawâ mengutip Ibn Katsîr yang mengatakan bahwa Abû Dzar berpendapat, haram hukumnya menyimpan harta yang melebihi kebutuhan nafkah keluarga. Abû Dzar, kata Ibn Katsir, berfatwa demikian, memerintahkan manusia untuk melaksanakan fatwanya, dan mengecam mereka yang menyimpang dari perintahnya. Tindakan Abû Dzar ini dicegah oleh Mu’âwiyah, tapi Abû Dzar tidak mau berhenti. Karena kuatir hal itu akan memberatkan manusia, maka Mu’âwiyah mengadukannya kepada Amîr al-Mu’minîn ‘Utsmân bin ‘Affân. ‘Utsmân lalu menyuruh Abû Dzar datang ke Madinah. Abû Dzar selanjutnya ditempatkan (dibuang?) di Rabadzah (suatu tempat sekitar tiga mil dari kota Madinah). Di sana ia meninggal pada masa khilâfah ‘Utsmân (Sa’îd Hawâ, Al-Asâs …, Op Cit, h. 2281).

[45]Ibid, h. 5822.

[46]Ibid.

[47]Lebih lanjut tentang masalah keadilan sosial dalam Islam dapat kita lihat dalam Sayyid Quthb, Al-‘Adâlah al-Ijtimâ’iyah fî al-Islâm, Dâr al-Syurûq: Kairo, cet. VII, 1980, Yûsuf al-Qadlâwî, Al-Hall al-Islâmî Farîdlah wa Dlarûrah, seri kedua dari Hatmiyah al-Hall al-Islâmî, Maktabah Wahbah: Kairo, cet. IV, 1987, h. 53-59, dan lihat juga Hujjatul Islam Ali Akbar Hashemi Rafsanjani, Keadilan Sosial (Social Justice & Problem of Racial Discrimination), Yayasan Nuansa Cendekia: Bandung, cet. I 2001.

[48]Lihat Jalaluddin Rakhmat, Catatan Kang Jalal, PT Remaja Rosda Karya: Bandung, cet. I 1997, h. 220-221. Lihat juga tulisan-tulisan Kang Jalal dalam “Jasa-jasa Orang Miskin: Refleksi atas Masalah Penderitaan Umat” dalam Islam Aktual, Op Cit, h. 225-257.  

Comments on: "WAWASAN ALQURAN TENTANG DISTRIBUSI HARTA" (1)

  1. […] https://abualitya.wordpress.com/2008/12/15/wawasan-alquran-tentang-distribusi-harta/ 0 Komentar Tidak ada Komentar sejauh ini Tinggalkan komentar RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik Tinggalkan komentar Klik di sini untuk membatalkan balasan. Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: