Berpikir positif, bersikap & bertindak bijak

Kalau kita kaji secara mendalam keseluruhan ajaran agama baik yang bersifat kewajiban maupun larangan, semuanya bermuara pada satu tujuan yaitu melahirkan akhlak yang mulia pada diri para pelakunya. Nabi Saw. sendiri menyimpulkan keseluruhan risalah yang dibawanya dalam sebuah term: makârim al-akhlâq, akhlak yang mulia. “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”[1]

Maka ukuran keberagamaan dan kesalehan seseorang sesungguhnya adalah akhlak. Kesalehan, dengan demikian, dinilai dengan sejauh mana keberagamaan seseorang melahirkan tindak, ucap, sikap serta perilaku mulia. Dalam al-Qur`an dan Sunnah akan ditemukan pernyataan bahwa keimanan ditunjukkan dengan akhlak yang baik. Di bagian awal surat al-Mu`minûn terlihat bahwa kekafiran ditandai dengan akhlak yang buruk. Kata kafir sering didampingakn dengan kata-kata sifat berikut: tidak setia (QS. Luqmân/31: 32), pengkhianat (QS. al-Hajj/22: 38), pendusta (QS. al-Zumar/39: 3), kepala batu (QS. Qâf/50: 24), dan bermaksiat (QS. Nûh/71: 27).[2]

Dalam beberapa hadits Nabi Saw. menggunakan kata lâ yu`minu untuk menunjukkan kekafiran. Orang yang lâ yu`minu adalah orang yang berakhlak buruk: suka mengganggu tetangganya, tidur kenyang sementara tetangganya kelaparan di sampingnya, tidak memegang amanah dan sebagainya.[3] Hadits-hadits yang menunjukkan keimanan selalu dengan ciri-ciri akhlak: Hendaknya memuliakan tamu, menghormati tetangganya, berbicara yang benar atau diam dan sebaginya.[4]

Yang paling menarik adalah kenyataan bahwa ayat-ayat tentang fikih (ibadah ritual-formal) selalu dihubungkan dengan akhlak. Salat dalam definisi al-Qur`an adalah sesuatu yang dapat mencegah kekejian dan kemungkaran (QS. al-‘Ankabût/29: 45). Puasa diwajibkan untuk melatih orang agar menjadi orang yang takwa (QS. al-Baqarah/2: 183), dan orang-orang yang takwa adalah: orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang (QS. Âli ‘Imrân/3: 134). Haji harus dilakukan dengan memelihara akhlak:  Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji (QS. al-Baqarah/2: 197). Zakat menjadi sia-sia apabila diikuti dengan kecaman dan kata-kata yang melukai hati: Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan sipenerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian (QS. al-Baqarah/2: 264).[5]    

Disampaikan kepada Rasulullah Saw. bahwa seorang perempuan berpuasa pada siang hari dan salat malam di malam hari tetapi ia berakhlak buruk. Ia menyakiti tetangganya dengan lidahnya. Rasulullah Saw. bersabda: “Tidak ada kebaikan padanya. Ia termasuk penghuni neraka.”[6] Dalam pandangan Rasulullah Saw. orang yang kurang beribadat tetapi berakhlak baik adalah lebih baik daripada orang yang taat beribadat tetapi berakhlak buruk.[7]

Jadi, membekali diri dengan amal-ibadah selama di dunia untuk meraih kebahagiaan di akhirat sesungguhnya adalah menghiasi diri dengan akhlak mulia. Kita memang dituntut untuk membekali diri dengan amal-ibadah sebanyak-banyaknya. Namun yang lebih penting lagi adalah bagaimana amal-ibadah itu melahirkan kesalehan-kesalehan sosial serta kemuliaan-kemuliaan laku, ucap dan sikap kita.

Agaknya kutipan hadits berikut relevan untuk menutup pembahasan pada sub ini. Rasulullah Saw. bersabda: “Tahukah kalian siapa yang muflis (bangkrut)?” Mereka (para sahabat) berkata: “Yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak memiliki Dirham (uang) dan barang (harta).” Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) salat, puasa dan zakat. Tapi ia (sewaktu di dunia) memaki si A, memakan harta si B, menumpahkan darah si C, dan memukul si D. Maka kebaikan orang itu diberikan kepada si A, si B dan seterusnya. Sehingga ketika semua kebaikannya habis sebelum ia memenuhi semua yang menjadi tanggungannya, maka kesalahan mereka (orang-orang yang pernah dizaliminya) ditimpakannya kepadanya lalu ia dilemparkan ke neraka.”[8]


[1]Lihat hadits ini di antaranya dalam Muhammad bin ‘Abdullâh al-Nîsâbûrî, al-Mustadrak ‘alâ al-Shahîhayn, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah, cet. I, 1990, vol. 2, hal. 670, hadits no. 4221.   

[2]Jalaluddin Rakhmat, Dahulukan Akhlak di atas Fikih, Bandung: Muthahhari Press, cet. III, 2003, hal. 138.

[3]Lihat antara lain Muhammad bin Ismâ’îl al-Bukhârî, al-Jâmi’ al-Shahîh al-Mukhtashar (ed. Mushthafâ al-Bughâ), Beirut: Dâr Ibn Katsîr, cet. III, 1987, vol. 5, hal. 2240, hadits no. 5670.   

[4]Rakhmat, Dahulukan Akhlak…, hal. 138. Hadits-hadits tersebut dapat dibaca antara lain dalam Mâlik bin Anas, Muwaththa` al-Imâm Mâlik (ed. Muhammad Fu`ad ‘Abdul Bâqî), Mesir: Dâr Ihyâ` al-Turâts al-‘Arabî, vol. 2, hal. 929, hadits no. 1660.    

 

[5]Rakhmat, Dahulukan Akhlak…, hal. 141.

[6]Muhammad bin Ismâ’îl al-Bukhârî, al-Adab al-Mufrad (ed. Muhammad Fu`ad ‘Abdulbâqî), Beirut: Dâr al-Basyâ`ir al-Islâmiyah, cet. III, 1989, vol. 1, hal. 54, hadits no. 119. Lihat pula Abû Bakar Ahmad al-Bayhaqî, Sya’b al-Îmân (ed. Muhammad Zaghlûl), Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah, cet. I, 1410 H, vol. 7, hal. 78, hadits no. 9545.  

[7]Rakhmat, Dahulukan Akhlak…, hal. 147.   

[8]Lihat di antaranya Muslim bin al-Hajjâj, Shahîh Muslim (ed. Muhammad Fu`ad ‘ABdulbâqî, Beirut: Dâr Ihyâ` al-Turâts al-‘Arabî, vol. 4, hal. 1997, hadits no. 2581, dan Muhammad bin ‘Îsâ al-Tirmidzî, Sunan al-Tirmidzî (ed. Ahmad Syâkir), Beirut: Dâr Ihyâ` al-Turâts al-‘Arabî, vol. 4, hal. 613, hadits no. 2418.      

Comments on: "Beramal dengan Paradigma Akhlak" (14)

  1. Subhânallah…
    Begitu signifikannya fungsi akhlak untuk kehidupan kita…

  2. abualitya said:

    Subhânallah…
    Syukran atas kunjungan & komennya.

  3. Af1 ustadz..
    Jadi terbersit dalam pikiran saya, kira-kira Bunda Teresa dan Lady Diana yang selama hidupnya memiliki jiwa sosial yg tinggi bagaimana kabarnya ya di alam barzah sana?!!.
    ^_^

  4. abualitya said:

    Wallah a’lam. Saya hanya merekom Anda baca buku Kang Jalal, “Islam dan Pluralisme; Akhlak al-Qur`an Menyikapi Perbedaan.”

  5. Syukr0n katsir atas rekomnya…
    InsyâAllah, saya akan cari dan baca.
    Terus terang belum pernah tahu bukunya.

  6. abualitya said:

    Boleh tahu sedikit ttg Anda? Kalau benar Anda anak petani, saya juga demikian.

  7. Kulo lare ingkang jenengan ucal. .
    Taksih enggal anggenipun ngangsu kawruh bab amal kalian akhlak..
    Mulanipun kulo tertarik sanget kalian artikel niki, pak Jalal ugi..
    ^_^

  8. Tolong terjemahkan ke dalam bahasa Arab yg baik dan benar. hehehe. Orang TA ya?

  9. Kumaha damang kang? Punten tulisana di update deui. Sibuk nih garap proyek ya, bagi2 donk hihihi…

  10. hehe… “sok sibuk” Jang Iqbal. di jurusan lagi “pontang-panting” bikin proposal pendirian prodi baru. deadlinenya tgl 15 bulan ini. daramang di dinya?

  11. Mo buat prodi apa kang? Oya, kemarin saya lihat promosi doktor. Ada hal yang menarik dari kata-kata Prof. Machasin, begini, “Yang pintar itu banyak, tapi yang tekun hanya sedikit”.

  12. Prodi Akfil sama Pemikiran Politik Islam, sugan cukup waktu pengajuanna. Soalna tanggal 15 bulan ieu kudu tos sampai Jakarta berkasnya.

    “Yang pintar itu banyak, tapi yang tekun hanya sedikit”.
    Jigana saya mah kaasup jalma nu teu pinter katambah teu rajin, euy…hehehe Sok atuh Jang Iqbal mah sing jadi jalma pinter tur rajin! Didoakeun ku kolot!!

  13. Kayaknya lebih tepat jika dikatakan bahwa fikih (ibadah ritul formal) tanpa akhlak buta dan akhlak tanpa fikih adalah sesat. Punten ah ngiring ulu biung sareng pak duktur…

  14. “ulu biung” atawa “ilu biung”, ajengan? hehe hatur nuhun tos masihan komen sae di blog butut sim kuring.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: