Berpikir positif, bersikap & bertindak bijak

Mengoptimalkan Fungsi Zakat

Abad Badruzaman

Ada dua corak dalam memersepsikan zakat, pertama, zakat dipandang sebagai institusi untuk mencapai keadilan sosial; sebagai mekanisme penekanan akumulasi modal pada sekelompok kecil masyarakat. Lalu apakah dengan porsi 2,5 persen sudah cukup adil? Kedua, mempersepsi zakat sebagai lembaga karitas. Yang kaya harus memerhatikan yang tidak punya, namun tidak dalam konteks untuk mendistribusikan kekayaan secara adil sehingga tidak terkumpul pada sekelompok orang saja.[1] 

Zakat memiliki fungsi sosial sebagai mekanisme mencapai keadilan sosial. Karena fungsinya, porsi zakat sebesar 2,5 persen itu perlu dipertanyakan kembali. Bila di suatu wilayah, misalnya, dengan hampir seluruh penduduknya hidup dalam kemiskinan, pengenaan zakat 2,5 persen kepada minoritas orang kaya raya terasa tidak akan memadai. Karena kelompok minoritas, katakanlah pemilik tanah atau pengusaha, dengan tingkat pengenaan zakat seperti itu akan bertambah kaya turun temurun. Sedang mayoritas yang miskin, katakanlah mereka itu kuli kenceng, akan tetap papa sengsara seumur hidupnya. Karenanya pengenaan zakat 2,5 persen itu tidak relevan lagi. Ingatan kita perlu disegarkan kembali bahwa zakat bukan sekadar kebaikan hati (karitas), tetapi terutama merupakan kewajiban umat. Pada zaman Abû Bakar, orang yang tidak mengeluarkan zakat dikejar-kejar. Pernah, zakat malah dianggap sebagai pajak.

Karena itu, interpretasi baru terhadap zakat sangat penting, termasuk besar-kecilnya porsi zakat. Kekayaan hendaknya mampu mendorong peningkatan martabat kemanusiaan, dan menjadi cermin ketakwaan. Kita jangan merasa telah memenuhi kewajiban setelah mengeluarkan zakat sebesar 2,5 persen. Itu terlalu formal. Kita juga jangan punya pikiran bahwa zakat dikeluarkan hanya untuk meredam kecemburuan sosial terhadap orang-orang kayakaum fakir-miskin diberi zakat agar mereka tidak cemburu kepada orang kaya. Itu berarti suatu karitas: biaya sosial dikeluarkan hanya bertujuan agar terwujud social security. Yang benar, zakat harus berfungsi sebagai reformasi sosial.[2]

Ada dua fungsi zakat atau sedekah yang diambil dari kekayaan orang-orang Muslim: pertama, untuk menghapuskan perbedaan sosial dan ekonomi dan menegakkan tatanan sosial yang egaliter; kedua, menafkahkan sebagian dari harta mereka, yaitu kelebihan dari kebutuhan-kebutuhan dasar, mensucikan orang-orang Muslim dari dosa-dosa, ketidaksempurnaan, dan perbuatan-perbuatan tercela karena membagi sebagian besar harta kekayaan adalah sebuah pengorbanan, tindakan altruistik (mengutamakan kepentingan orang lain), dan amal saleh. Ketidaksetaraan ekonomi, yang membiakkan kejahatan-kejahatan di dalam sebuah masyarakat, adalah sebuah cacat, kekurangan, dan kelemahan sosial, sedangkan kesetaraan ekonomi adalah kekuatan dan solidaritas sosial.

Secara umum, yang dimaksud dengan konsep-konsep al-Qur`an tentang zakat adalah bersama-sama berbagi kekayaan dan alat-alat produksi sosial atau komunal dengan semua anggota masyarakat tanpa adanya pembedaan apapun. Konsep sosial-ekonomi ini merupakan landasan revolusi sosial yang dibawa oleh para nabi-revolusioner.[3]

Menurut al-Qur`an dan Sunnah, keadilan adalah sesuatu yang utuh. Kekeliruan besar jika kita hanya mengupas keadilan hukum dan mengabaikan keadilan sosial dan keadilan ekonomi. Banyak ayat al-Qur`an yang mengingatkan bahwa harta kekayaan tidak boleh hanya berputar-putar di tangan kelompok kaya;[4] bahwa orang-orang bertakwa adalah mereka yang menyadari bahwa dalam harta kekayaan yang ia miliki ada hak bagi fakir miskin;[5] bahwa perhatian yang penuh harus kita berikan kepada lapisan masyarakat yang belum hidup wajar sebagai manusia,[6] dan seterusnya.[7]

Ajaran-ajaran Islam bersifat dinamis dan selalu tanggap terhadap tuntutan-tuntutan perkembangan zaman.  Jika Islam terlihat jumud, maka sesungguhnya yang beku adalah pemikiran-pemikiran umat Islam tentang agamanya. Islam sendiri, sebagai agama wahyu untuk manusia, sampai akhir zaman niscaya punya potensi untuk selalu dinamis, responsif, dan dapat memecahkan segala masalah manusia.

Ketika presentasi zakat mâl dirumuskan oleh para ulama sebesar 2,5 persen berdasarkan beberapa hadis, jelas sekali belum muncul beberapa profesi modern seperti yang kita lihat dewasa ini. Al-Qur`an berpuluh-puluh kali menganjurkan kaum Muslimin untuk membayar zakat di samping menegakkan salat. Akan tetapi, rate atau presentasi zakat sama sekali tidak disinggung oleh al-Qur`an.

Pada masa Nabi Saw. dan pada zaman para ulama penentuan presentasi zakat dapat dilakukan secara terperinci karena jenis-jenis profesi masyarakat pada masa itu masih sangat terbatas. Itu berbeda dengan zaman sekarang, saat berbagai profesi bermunculan sesuai dengan perkembangan kehidupan modern yang kiranya tidak pernah terbayangkan oleh para ulama zaman dahulu. Profesi yang mendatangkan rezeki secara gampang dan melimpah di masa ini, jumlahnya sangat banyak, seperti komisaris perusahaan, bankir, konsultan, analis, pialang, dokter spesialis, pemborong berbagai konstruksi, eksportir, importir, akuntan, notais, artis, dan berbagai penjual jasa, serta bermacam-macam profesi white-collar lain.

Yang menjadi persoalan adalah zakat untuk profesi yang mendatangkan rezeki dengan gampang dan cukup melimpah. Setidak-tidaknya dibandingkan dengan penghasilan rata-rata penduduk. Presentasi zakat yang 2,5 persen itu perlu ditinjau lagi dan kalau perlu ditingkatkan, sebut saja, sampai 10 persen (usyur) atau 20 persen (khumus). Ini bukan ditujukan untuk semua penghasilan dari setiap profesi, tapi khusus untuk profesi yang mudah mendatangkan rezeki.

Terhadap kaum profesional Muslim yang diberi nikmat oleh Allah dalam bentuk rezeki banyak itu layak dipertanyakan kembali, apakah zakat 2,5 persen sudah sesuai dengan spirit keadilan Islam? Memang, bisa saja mereka mengajukan dalih: “Sudah tentu penghasilan kami besar karena risiko pekerjaan kami juga besar,” atau “dulu kami sekolah dengan susah-payah sehingga pantas kalau kami sekarang menjadi kelompok the haves.” Tetapi, adakah pekerjaan yang tanpa risiko dan adakah menuntut ilmu yang tidak lewat usaha keras dan susah payah? [8]

Kita tahu bahwa zakat hasil pertanian berkisar antara lima sampai sepuluh persen. Untuk sawah tadah hujan, dikenakan zakat sepuluh persen, sedangkan untuk sawah dengan irigasi dikenakan lima persen. Padahal, pekerjaan tani jelas merupakan pekerjaan berat, setidaknya secara fisik. Di samping itu, petani harus langsung membayar zakat begitu panen selesai[9] tanpa menunggu masa satu tahun. Bila petani yang bekerja keras harus membayar zakat lima persen atau sepuluh persen dan langsung dibayarkan pada waktu panen, cukupkah kira-kira zakat 2,5 persen bagi profesi modern yang begitu gampang dengan kemampuan making money?[10]

Dalam hadis diterangkan bahwa rikâz atau harta temuan (galian) dikenakan zakat 20 persen. Zakat untuk harta rikâz agak besar karena harta temuan memang diperoleh tanpa susah payah. Ada kemiripan antara penghasilan profesi-profesi tertentu dengan rikâz, yaitu dalam hal kemudahan. Seorang pialang bisa memeroleh big shot lewat profesinya, seperti orang menggali tanah kemudian memperoleh rikâz. Pertanyaannya, cukupkah dan sesuaikah dengan spirit keadilan Islam jika zakat terhadap berbagai profesi modern yang bersifat making money, yang pada zaman Nabi memang belum ada, tetap 2,5 persen saja?

Dalam pada itu, satu-satunya rate yang disebutkan al-Qur`an adalah kewajiban khumus atau potongan seperlima atas harta rampasan perang (QS. al-Anfâl/8: 41). Yang perlu diingat dalam hal ini adalah bahwa kegiatan berperang adalah kegiatan di mana segenap kemampuan dimobilisasi secara total dan mereka yang berperang telah memertaruhkan segala-galanya, termasuk jiwa raganya. Jika kaum Muslim yang telah memertaruhkan segala yang dimiliki dalam berperang, lalu harus mengikhlaskan potongan khumus (20 persen) dari rampasan perang yang mereka peroleh, tidak pantaskah kita mengutip zakat terhadap profesi-profesi modern lebih dari 2,5 persen? Toh semuanya demi kehidupan sosial yang lebih sehat agar jarak antara the haves dan the haves-not tidak semakin lebar.[11]

Kita, seperti dikatakan Kang Jalal, memang merasakan ada yang tidak adil dalam konsep zakat yang kita. Petani yang memeroleh penghasilan 1.000 kg beras setahun wajib mengeluarkan zakat 10 persen dari hasil itu. Berapa zakat untuk dokter spesialis? Bila sehari ia menerima rata-rata sepuluh orang pasien, sebulan ia bisa mendapat 60 kali penghasilan petani itu. Petani wajib mengeluarkan sepuluh persen pendapatannya. Dokter, menurut sebagian ilmuwan fikih, tidak wajib zakat.[12] Pernah sekelompok ulama tidak berani mewajibkan zakat atas penghasilan dokter. Dokter hanya diwajibkan infak saja. Bersama dokter, dibebaskan juga dari kewajiban zakat semua pekerjaan di luar yang lima itu: pegawai negeri, TNI, konsultan, pemilik media-massa, penguasaha jasa angkutan, penulis buku, kontraktor, psikolog, dan ratusan profesi lainnya, termasuk para pialang saham. Padahal penghasilan mereka ini jauh di atas penghasilan petani.

Ketika Amien Rais dengan ijtihadnya menemukan ketentuan 20 persen untuk zakat profesi, orang-orang mengerubutinya dengan sejumlah pertanyaan: dalilnya apa, ayat atau hadisnya mana, metode istinbāth-nya bagaimana? Konon Amien menjawab pendek: “Saya bukan ahli fikih.” Emha Ainun Nadjib memberikan penjelasan: “Di atas hukum formal ada moralitas, di atas moralitas ada cinta. Di atas fikih ada akhlāq, di atas akhlāq ada taqwā dan tawakkal dan hubb.” Menurut fikih, kita cukup membayar zakat 2,5 persen; menurut cinta (hubb) mungkin kita harus membayar bahkan 100 persen. Tentu saja ahli fikih tidak akan menerima argumentasi Emha. Soalnya tidak ada kaidah cinta dalam ushūl fiqh.

Dalam penilaian Kang Jalal, kemelut zakat ini sebetulnya dapat dilacak pada satu penyebab saja: kerancuan ushūl fiqh. Bukan fikih kita yang kapitalis, bukan pula Islam tidak sempurna, tetapi ushūl fiqh-lah yang harus diluruskan. Qiyās, adalah salah satu metode istinbath dalam ushūl fiqh yang dinilai Jalal sebagai metode yang rancu. Buktinya, ushûl fiqh yang ada tidak bisa menyelesaikan kemelut zakat profesi dan kewajiban mengeluarkan 20 persen yang ditawarkan oleh Amien Rais.  Sehingga fikih kita mengesankan sebagai fikih kapitalis.[13]

Menurut Kang Jalal, sebenarnya tanpa menggunakan qiyâs pun zakat profesi ada dalinya, yaitu QS. al-Anfâl ayat 41:

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى….

Terjemahan yang benar untuk penggalan ayat ini, tegas Kang Jalal adalah: “Dan ketahuilah bahwa apa-apa yang kamu peroleh sebagai kelebihan penghasilan (keuntungan), yang seperlima adalah kepunyaan Allah, Rasul, kerabat,…” dan seterusnya.

غنمتم (ghanimtum) berasal dari kata ghanîmah. Ghanîmah tidak selalu berarti rampasan perang. Ghanîmah dapat juga berarti pahala atau keuntungan.[14] Dalam hadis surga disebut sebagai ghanimah majlis dzikr[15] dan puasa disebut sebagai ghanîmah orang beriman.[16] Dalam doa salat hajat yang terkenal, ada kalimat “aku memohon ghanîmah untuk segala kebajikan”. Ghanîmah di sini artinya “keuntungan lebih.”

Secara singkat, di luar zakat, ada kewajiban mengeluarkan perlimaan dari pekerjaan-pekerjaan yang tidak dikenai kewajiban zakat; pekerjaan-pekerjaan ini kita sebut sekarang sebagai profesi. Banyak keterangan dari Sunnah bahwa Nabi memungut khumus di luar zakat untuk kelebihan penghasilan selain rampasan perang.[17]

Akhirnya, perlimaan bukan saja menyelesaikan kemusykilan fikih tetapi juga menegakkan keadilan Islam. Sehingga tidak satu pun profesi yang dapat lolos dari kewajiban menyantuni kaum mustadhafîn. Para konsultan, penjual jasa, konglomerat, keluarkanlah 20 persen dari penghasilan lebihmu![18]



[1]Moeslim Abdurrahman, Islam Transformatif, Jakarta; Pustaka Firdaus, cet. III, 1997, hal. 19.

[2]Moeslim, Islam Transformatif…, hal. 19-22.

[3]Ziaul Haque, Revelation & Revolution in Islam (terj. E. Setiyawati al Khattab, Wahyu dan Revolusi), Yogyakarta: LKíS, cet. I, 2000, hal. 255-256.

[4]Seperti QS. al-Hasyr/59: 7.

[5]Lihat misalnya QS. al-Dzâriyat/51: 19

[6]Lihat antara lain QS. al-Hâqqah/69: 33-34, al-Fajr/89: 17-18, dan al-Mâûn/107: 1-2.

[7]Amien Rais, Tauhid Sosial, Formula Menggempur Kesenjangan, Bandung: Mizan, cet. III, 1998, hal. 130-131.

[8]Rais, Tauhid Sosial…, hal. 126-129.

[9]QS. al-Anâm/6: 141.

[10]Rais, Tauhid Sosial…, hal. 129. 

[11]Rais, Tauhid Sosial…, hal. 129-130.

[12]Rakhmat, Islam Aktual: Refleksi Sosial Seorang Cendekiawan Muslim, Bandung: Mizan, cet. XIV, 2003, hal. 145-146.

[13]Rakhmat, Islam Aktual…, hal. 146-147. 

[14]QS. al-Nisâ`/4: 94.

[15]Musnad Ahmad, 2: 330. Hadisnya berbunyi: عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا غَنِيمَةُ مَجَالِسِ الذِّكْرِ قَالَ غَنِيمَةُ مَجَالِسِ الذِّكْرِ الْجَنَّةُ الْجَنَّةُ.

[16]Musnad Ahmad, 2: 177: عَنْ عَامِرِ بْنِ مَسْعُودٍ الْجُمَحِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّوْمُ فِي الشِّتَاءِ الْغَنِيمَةُ الْبَارِدَةُ.

[17]Sebagian di antaranya: Pertama, Rombongan Bani Qays menemui Nabi Saw. Mereka mengeluh tidak dapat menemui Nabi kecuali di bulan Haram. Mereka takut kepada kaum musyrik Mudhar. Nabi memerintahkan mereka untuk mengucapkan syahadat, menegakkan shalat, dan mengeluarkan seperlima dari kelebihan penghasilan mereka (Shahih al-Bukhari 4: 205; Shahih Muslim 1: 35-36; Musnad Ahmad 3: 318).” Tidak mungkin mereka disuruh mengeluarkan seperlima dari rampasan perang, karena mereka justru selalu menghindari peperangan. Kedua, Ketika Nabi mengutus ‘Umar bin Hazm ke Yaman, Nabi menyuruhnya untuk mengumpulkan perlimaan di samping zakat (Futûh al-Buldân 1: 81; Sirah Ibnu Hisyam, 4: 265). Begitu pula ketika beliau menulis surat kepada kepala-kepala suku (Tanwîr al-Hawâlik; Syarh al-Muwatha 1: 157; Thabaqat Ibnu Saad 1: 270, dan lain-lain). Kepada Juhaynah bin Zaid, Nabi juga menyuruh, “Minumlah airnya dan keluarkan perlimaannya” (Al-Watsâ`iq al-Siyâsiyah, 142).

[18]Rakhmat, Islam Aktual…, hal. 153.

Comments on: "Mengoptimalkan Fungsi Zakat" (7)

  1. salut Pak……….kayaknya haarus bikin komunitas blogger ya Pak..supaya aku cepet canggih

  2. Terima kasih. Kapan ngundang saya jadi pemandu di acara keilmuan PMII TA? hehe…

  3. menjadilah orang yang yang pertama setiap pagi memberikan secuil dari apa yang kita punya. dan perdebatan mereda.

  4. marilah berzakat…

  5. abualitya said:

    Ke ari tos nishab..:D

  6. trmksh sdh berbagi ilmu, sy lg buat artikel mengenai terobosan agar masyarakat sadar zakat. tp msh blm dpt nh.

  7. abualitya said:

    sama-sama. lanjutkan artikelnya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: