Berpikir positif, bersikap & bertindak bijak

Jika manusia membiarkan egoisme menguasai dirinya, mengendalikan perilakunya, dan mengarahkan sikapnya dalam berhubungan dengan sesamanya, maka kita tidak akan menemukan selain manusia yang rakus dan kikir, hanya ingin mengambil keuntungan, tidak pernah terpikir untuk memberi keuntungan, hanya mengambil tidak pernah memberi, hanya menginginkan keuntungan tapi tidak mau bekerja, hanya bisa berkata: “Ini milikku…untukku”, dan tidak pernah berkata: “Ini beban tanggunganku…”. Manusia yang akan kita temukan hanya manusia-manusia yang pintar berkata: “Diriku….diriku”, tak pernah berucap: “Umatku…umatku.”

Manusia, jika dibiarkan mengikuti egoismenya, maka ia hanya akan mencari selamat dan tidak pernah merelakan dirinya menghadapi bahaya atau ancaman demi sebuah konsep mulia, misi luhur, atau nilai agung. Jika semangat “cari selamat” ini merebak maka roda kemajuan akan berhenti, mentari peradaban akan tenggelam, rambu-rambu kebenaran akan sirna, dan sumber-sumber kebaikan akan punah. Sebab risalah agung para nabi dan pemikiran brilian para pembaru tidak akan tegak tanpa pengorbanan jiwa, raga, harta, serta segala yang berharga dan dicinta seperti pasangan hidup dan keluarga. Ini terjadi bukan hanya di dunia ide dan pemikiran saja tapi juga kita temukan karya-karya besar, proyek-proyek raksasa dan revolusi-revolusi dahsyat di dunia produksi, ekonomi, industri dan perdagangan. Semuanya ini terwujud karena hasil dari perjuangan dan pengorbanan.  

Masyarakat yang ingin membangun keagungan, menorehkan peradaban dan menegakkan sebuah risalah, membutuhkan usaha ekstra untuk bangun, bangkit dan bekerja; membutuhkan nalar-nalar yang tak pernah bosan berpikir, orang-orang giat bekerja tanpa kenal lelah, tekad membara tak kenal rasa bosan; memerlukan manusia yang memberi sebelum mengambil, menunaikan kewajiban sebelum menuntut hak; orang yang dengan senang hati berpisah dari keluarga demi umat, jauh dari rumah demi tanah air, ringan memberikan harta saat diperlukan, memberikan jiwa ketika tak ada pilihan, mengorbankan kepentingan pribadinya demi kemaslahatan umum; rela hidup bersusah payah demi menang serta tegaknya kebenaran dan kebaikan, bahkan rela dengan kepahitan hidup, penyiksaan fisik dan kematian demi apa yang diyakininya sebagai kebenaran dan kebaikan.

Pertanyaannya, lembaga pendidikan apa yang sanggup melahirikan manusia-manusia seperti itu? Manusia-manusia berkualitas itu adalah jebolan sekolah iman (madrasah al-îmân). Imanlah yang menjadikan seseorang menganggap hina syahwat dan tuntutan duniawinya. Dengan iman, cukup baginya sedikit saja makanan yang sekadar dapat mengganjal rasa laparnya, pakaian yang hanya dapat menutupi auratnya. Jika seseorang rela dengan harta yang sedikit dan tempat tinggal yang sederhana, maka ringan baginya untuk mengeluarkan hartanya, meninggalkan tempat tinggal dan keluarganya; bahkan hidupnya sendiri dirasanya begitu ringan. Ketika maut menjemputnya di medan jihad, disambutnya dengan tenang dan gembira sebab ia yakin bahwa ada surga di belakangnya: Dan keridhaan Allah adalah lebih besar (QS. al-Tawbah/9: 72).”

Manusia hampir tidak pernah memberi sesuatu kecuali untuk mengambil sesuatu sebagai imbalannya, baik tunai atau ditangguhkan. Jiwanya selalu menantikan balasan yang adil atas apa yang pernah diberikannya. Para filosof materialis mencoba menjawab masalah ini dengan apa yang mereka namai dengan al-dhamîr (hati nurani). Hati nuranilah, menurut mereka, yang memberi balasan kepada pelaku kebaikan dan penunai kewajiban berupa rasa puas dan nyaman yang dirasakan seseorang dalam dirinya.

Tapi para filosof itu tidak dapat menjawab pertanyaan tentang bagaimana balasan bagi orang yang mengorbankan jiwa dan nyawanya lalu mati sebagai syahid di jalan kebenaran. Apakah setelah mati orang itu akan merasakan kepuasan dan kenyamanan jiwa? Bukankah—menurut mereka (para filosof materialis itu), kematian hanyalah kepunahan belaka?

Hanya iman kepada Allah dan kepada pembalasan hari akhir yang dapat menjawab masalah ini. Perjuangan dan pengorbanan demi agamalah yang dapat memecahkan persoalan ini dalam diri manusia. Sebab bagi orang yang beriman, apa yang ia berikan akan kembali padanya berlipat-lipat banyaknya, harta yang ia berikan akan diganti oleh Allah, apa yang menimpa jiwa dan raganya akan diganti pula oleh Allah, dan jika ia mempersembahkan nyawanya di jalan Allah lalu mati atau terbunuh, pada hakikatnya ia tidak mati melainkan hidup di sisi Tuhannya dan diberi rezeki. Tentang ini semua Allah berfirman:

وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (QS. al-Baqarah/2: 272).

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezki yang sebaik-baiknya (QS. Sabâ`/34: 39).

وَلَئِنْ قُتِلْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ مُتُّمْ لَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرَحْمَةٌ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Dan sungguh kalau kamu gugur di jalan Allah atau meninggal, tentulah ampunan Allah dan rahmat-Nya lebih baik (bagimu) dari harta rampasan yang mereka kumpulkan (QS. Âli ‘Imrân/3: 157).

وَالَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَلَنْ يُضِلَّ أَعْمَالَهُمْ(4)سَيَهْدِيهِمْ وَيُصْلِحُ بَالَهُمْ(5)وَيُدْخِلُهُمُ الْجَنَّةَ عَرَّفَهَا لَهُمْ

Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Allah akan memberi pimpinan kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka, dan memasukkan mereka ke dalam jannah yang telah diperkenankan-Nya kepada mereka (QS. Muhammad/47: 4-6).

Segala yang diberikan—baik materil maupun non-materi, jiwa maupun raga—oleh seorang Mukmin di jalan Allah, sekecil apa pun, akan ditulis dalam catatan kebaikannya di sisi-Nya. Tidak akan ada yang terlewat, sampai langkah yang ia ayunkan, uang receh yang ia keluarkan, lapar, haus dan lelah yang ia rasakan.

مَا كَانَ لِأَهْلِ الْمَدِينَةِ وَمَنْ حَوْلَهُمْ مِنَ الْأَعْرَابِ أَنْ يَتَخَلَّفُوا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ وَلَا يَرْغَبُوا بِأَنْفُسِهِمْ عَنْ نَفْسِهِ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ لَا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلَا نَصَبٌ وَلَا مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلَا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ(120)وَلَا يُنْفِقُونَ نَفَقَةً صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً وَلَا يَقْطَعُونَ وَادِيًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri rasul. yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik, dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula) karena Allah akan memberi balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (QS. al-Tawbah/9: 120-121).

Tidak heran jika kita lihat agama ini pada masa kejayaan dan kemajuannya sanggup memberikan contoh-contoh yang indah tentang perjuangan dan pengorbanan, serta mampu melahirkan dalam jumlah yang amat besar manusia-manusia yang selalu siap mempersembahkan jiwa dan hartanya di jalan Allah dengan penuh kerelaan dan suka hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: