Berpikir positif, bersikap & bertindak bijak

Iman dan Cinta

Nabi Saw. bersabda: ”Demi Zat Yang jiwaku di Tangan-Nya, kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai” (HR Muslim).

Cinta mengandung makna yang lebih khusus dan dalam dari ridha (rela). Boleh jadi seseorang rela dengan sesuatu, tapi kerelaannya ini tidak sampai membawanya mencintai sesuatu itu. Urusan cinta lain dari urusan rela. Cinta adalah ruh wujud, obat hati yang mujarab, dan kunci kedamaian manusia. Jika gravitasi sanggup menahan bumi, planet-planet dan benda-benda angkasa lainnya dari saling berbenturan sehingga benda-benda itu tidak berjatuhan, terbakar dan hancur, maka cinta mampu menjaga hubungan-hubungan antar manusia dari benturan, bentrokan dan pertumpahan darah.

Dulu, seorang sufi dan penyair besar, Jalaluddîn Rumi berkata:

Cinta mengubah pahit jadi manis, lumpur jadi emas, keruh jadi bening, sakit jadi sembuh, penjara jadi taman, sengsara jadi nikmat, tekanan jadi kasih sayang. Cintalah yang meluluhkan besi, menghancurkan batu, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya.

Sesungguhnya cinta ini adalah sayap yang dengannya manusia-materil yang berat bisa terbang di angkasa, dari bumi bisa sampai ke langit, dari tanah bisa sampai ke bintang.

Allah memberkahi budak materi dan para pemuja jasmani pada benda milik dan harta mereka. Kami tidak menggugat mereka sedikit pun. Sedangkan kami membangun negara cinta yang tidak akan musnah dan berubah.

Allah memberkahi hidupmu wahai cinta! Wahai dokter penyakit dan laraku! Wahai penghilang rasa takut dan sombongku! Wahai dokterku yang berpengalaman! Wahai penyembuh duka lara!!

Seorang wartawan-sastrawan Mesir ternama, Muhammad Zaki ’Abdul Qadir menulis:

Dari kejauhan kulihat kilau cahaya di tengah laut bagaikan bintang yang bersinar. Aku berangan seandainya nanti di suatu waktu aku memiliki sesuatu seperti bintang itu. Siapakah di antara kita tak berangan memiliki bintang yang bersinar di suatu waktu nanti…bintang bersinar di sisa hari-hari kita…gerangan apa yang akan terjadi?

Filsafat…tidak memberi kita selain logika hampa.

Hati-hati…tidak memberi kita selain rasa rakut berketerusan.

Kerja…tidak memberi kita selain keringat bercucuran dan iri yang berkobar.

Harta…tidak memberi kita selain rasa takut, khawatir, keringat dan masalah.

Cinta…dialah satu-satunya mutiara yang memberi kita rasa aman, nyaman dan damai.

Kita mencintai segala sesuatu…setiap orang…bahkan ujian hidup kita cintai seperti kita mencintai nikmat. Ujian kita cintai untuk membangkitkan semangat juang sehingga jiwa penuh gelora…Nikmat kita cintai sebab ia adalah angin sepoi yang mendinginkan panasnya pertempuran. Kita mencintai wujud semuanya; awal dan akhirnya, kematian dan kehidupannya.

Adakah seseorang yang sanggup mencintai cinta ini? Jika ada maka ia adalah malaikat…   

Pertanyaan di atas dapat kita jawab, bahwa yang sanggup mencintai cinta yang agung ini hanya satu manusia, yaitu manusia yang hatinya berpadu dengan iman. Hanya iman yang merupakan sumber cinta murni nan abadi. Hanya orang yang beriman yang sanggup mencintai segala sesuatu, hatta kesulitan hidup. Mencintai wujud sepenuhnya; awal dan akhirnya, kematian dan kehidupannya.

Dengan akidah Islam, orang beriman sanggup menembus sampai ke rahasia wujud. Maka ia mencintai Allah; pemberi kehidupan dan sumber penciptaan. Ia mencintai-Nya karena keindahan-Nya yang terlihat pada keindahan dan keteraturan alam semesta ciptaan-Nya.

مَا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ

Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang (QS. al-Mulk/67: 3).

Manusia seperti inilah yang mencintai-Nya karena kesempurnaan-Nya. Sejatinya tidak ada kesempurnaan kecuali kesempurnaan-Nya. Semua kesempurnaan yang kita lihat  hanyalah kesempurnaan nisbi yang berasal dari kesempurnaan-Nya nan hakiki.

Ia mencintai-Nya karena kebaikan-Nya. Tidak ada kebaikan yang setara dengan kebaikan Zat Yang telah menciptakannya dari tidak ada, menjadikannya manusia sempurna, menjadikannya pemimpin di bumi, dan menaklukkan baginya semesta alam.

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu (QS. al-Baqarah/2: 29).

Selain mencintai Allah, seorang Mukmin juga mencintai alam dan segenap wujud, sebab itu merupakan salah satu ayat Tuhan-Nya. Alam bukan musuh manusia melainkan tercipta untuk melayani dan membantu manusia menjalankan tugas khilafah di bumi. Semua yang ada di alam semesta memanjatkan puji bagi Allah dengan bahasa yang tidak dapat ditangkap oleh akal manusia yang terbatas.

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka (QS. al-Isrâ`/17: 44).

Seorang Mukmin juga mencintai hidup. Ia tidak menganggap hidup sebagai dosa warisan dari kedua orang tuanya, atau kesia-siaan yang harus dijauhi, atau penjara yang harus ditakuti. Baginya, hidup adalah risalah yang harus diemban dan nikmat yang harus disyukuri. Sabda Nabi Saw.: ”Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalnya” (HR Ahmad dan Tirmidzî).

Namun kecintaan seorang Mukmin pada hidup bukan cinta pada kenikmatan-kenikmatannya yang rendah, kelezatan-kelezatannya yang sementara yang menjadikannya takut pada mati dan terikat kuat dengan dunia. Ia mencintai hidup karena di dalamnya ia mampu menjalankan kewajibannya pada Allah.

Ia juga mencintai mati karena dengannya ia dapat segera menemui Tuhannya. Dalam sebuah hadis dikatakan, ”Orang yang menginginkan pertemuan dengan Allah, Allah menginginkan pertemuan dengannya” (HR Muttafaq ‘Alayh ).

Dan seorang Mukmin mencintai seluruh manusia sebab mereka adalah saudaranya dalam hal keturunan dan temannya dalam hal penyembahan kepada Tuhan. Antara mereka dan dirinya dipersatukan oleh nasab keturunan, tujuan dan musuh yang sama. Kesamaan nasab ditegaskan firman-Nya:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim (QS. al-Nisâ`/4: 1).

Tentang kesamaan tujuan dan musuh, Allah SWT. berfirman:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ(5)إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan- setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala (QS. Fâthir/35: 5-6).

Buah pertama dari cinta yang ditanam iman dalam hati seorang Mukmin adalah selamatnya si Mukmin dari iri dan dengki. Cahaya iman menjadi jaminan larinya dengki dari hatinya. Karena itu, hari-harinya dihiasi dengan kelapangan dada dan kebeningan hati, serta dipanjatkannya doa orang-orang saleh:

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang (QS. al-Hasyr/59: 10).

Sedangkan derajat cinta yang tertinggi adalah al-îtsâr; yaitu seseorang mendahulukan saudaranya atas dirinya. Maka diberikannya sesuatu kepada saudaranya padahal ia sendiri membutuhkannya. Ia memilih lapar asalkan saudarnya kenyang, memilih bersusah payah yang penting saudarnya senang, dan memilih terjaga malam asalkan saudaranya tidur.

Dunia tidak pernah melihat cinta mulia nan hakiki mengalahkan keinginan dan kepentingan pribadi seperti cinta yang pilar-pilarnya ditegakkan Islam di tengah-tengah kaum Muslimin dalam masyarakat Madinah. Lihatlah kaum Muhajirin meninggalkan kampung halaman dan harta mereka untuk mencari karunia dan keridhaan Allah serta untuk membela Allah dan Rasul-Nya. Mereka disambut oleh saudaranya, kaum Anshar, penduduk Madinah dengan dada yang lapang. Kaum Anshar menyambut kaum Muhajirin layaknya orang yang kehausan menyambut air yang dingin dan segar. Mereka berlomba, masing-masing dari mereka ingin mendapatkan satu orang Muhajrin untuk dibawa ke rumahnya, sehingga memaksa mereka untuk mengadakan undian. Kemudian Rasulullah Saw. mempersudarakan mereka dengan persaudaraan yang setara dengan persaudaraan nasab dan darah. Maka leburlah perbedaan-perbedaan kedaerahan dan keturunan; tidak ada lagi orang Qahthân dan ’Adnan, orang utara dan selatan, orang Yaman dan Hijaz, orang Aus dan Khazraj. Hapus pula perbedaan strata dan profesi, tidak ada kaya dan miskin, pedagang dan petani. Yang ada hanya persaudaraan sejati, cinta, ikhlas, dan îtsâr.

وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah Telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya dia Maha gagah lagi Maha Bijaksana (QS. al-Anfâl/8: 63).

Dalam Kitab-Nya, Allah mengabadikan pujian-Nya atas sikap kaum Anshar:

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan (QS. al-Hasyr/59: 9).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: