Berpikir positif, bersikap & bertindak bijak

Iman dan Harapan

Bagi orang beriman, harapan merupakan salah satu sumber rasa aman dan ketenangan. Harapan adalah cahaya saat kehidupan terasa gelap. Dengan harapan, pohon kehidupan tumbuh. Harapan adalah kekuatan yang mendorong seseorang bangkit bekerja. Harapan membangkitkan semangat juang dan etos kerja pada jiwa dan raga. Harapan mengusir kemalasan dan menggantinya dengan semangat kerja. Harapan menyadarkan orang putus asa untuk bangkit dan kembali berusaha sampai berhasil. Harapan mendorong orang sukses untuk meningkatkan usahanya sehingga kesuksesannya terus bertambah.

Harapan akan hasil panen mendorong petani bekerja keras dan memeras keringat. Harapan akan keuntungan membangkitkan pedagang mengadakan perjalanan menantang segala resiko. Harapan akan kesuksesan membangunkan pencari ilmu untuk bersungguh-sunguh dan tekun belajar. Harapan akan kemenangan memecut prajurit terjun ke medan tempur melawan musuh. Harapan akan kemerdekaan menjadikan bangsa yang dijajah merasa ringan menanggung beban perjuangan. Harapan akan kesembuhan membuat si sakit tidak ragu meminum obat yang pahit. Harapan akan ridha dan surga-Nya menjadikan si Mukmin sanggup melawan hawa nafsu dan menaati Tuhannya. Harapan, dengan demikian, merupakan obat mujarab hidup, membangkitkan semangatnya, dan meringankan beban-bebannya. Dengan harapan hidup jadi ceria dan penuh warna. Sungguh sempit hidup tanpa lapangnya harapan.

Harapan lahir dari iman. Di sisi lain, iman dan harapan saling terkait. Orang beriman adalah manusia paling luas harapannya, paling banyak optimisme dan keceriaannya dalam menatap masa depan, serta paling jauh dari psimisme, kemurungan dan kepanikan. Iman, yang melahirkan harapan itu, maknanya adalah keyakinan akan adanya kekuatan yang mengendalikan semesta ini yang tidak ada yang tersembunyi baginya sesuatu pun, kuasa atas segala sesuatu; keyakinan akan sebuah kekuatan tak terbatas, kasih sayang tiada henti, kemurahan tiada terhingga; keyakinan akan Tuhan Yang Mahakuasa lagi Maha Penyayang yang mengabulkan doa orang dalam kesempitan, mengenyahkan keburukan, memberi banyak nikmat, mengampuni dosa-dosa, menerima tobat hamba-hamba-Nya, memaafkan kesalahan-kesalahan. Dia-lah Tuhan Yang kasih sayang-Nya kepada hamba-hamba-Nya melebihi kasih sayang seorang ibu kepada anaknya, kebaikan-Nya kepada makhluk-Nya melebihi kebaikan mereka kepada dirinya. 

Seorang Mukmin yang berpegang teguh pada Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Memberi ini mempunyai harapan tiada batas, asa tiada tara; selalu optimistis, memandang hidup dengan wajah ceria, menghadapi semua kejadiannya dengan raut muka penuh suka cita, bukan dengan wajah masam bermuram durga. Jika ia harus berjuang, ia yakin akan kemenangan sebab ia bersama Allah dan Dia bersamanya:

إِنَّهُمْ لَهُمُ الْمَنْصُورُونَ(172)وَإِنَّ جُنْدَنَا لَهُمُ الْغَالِبُونَ

Sesungguhnya mereka Itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan Sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang (QS. al-Shâffât/37: 172-173).

Jika ia sakit, tidak putus asanya akan kesembuhan:

الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ(78)وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ(79)وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

Yaitu Tuhan yang telah menciptakan aku, maka Dia-lah yang menunjuki aku, dan Tuhanku, yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkan aku (QS. al-Syu’arâ`/26: 78-80).

Bila terpeleset melakukan dosa, ia tidak putus asa akan ampunan-Nya betapa pun besar dosanya sebab ampunan-Nya lebih besar:

قُلْ يَاعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah: ”Hai hamba-hambaku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. al-Zumar/39: 53).

Manakala ditimpa kesulitan, tak henti ia berharap akan kemudahan:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا(5)إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (QS. al-Syarh/94: 5-6).

Ibn Mas’ûd berkata: ”Seandainya kesulitan masuk suatu lubang, pastilah kemudahan mengikutinya.”

Saat ditimpa musibah, seorang Mukmin senantiasa berharap Allah memberinya pahala karena musibah itu dan menggantinya dengan kebaikan:

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ(156)أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

 (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk (QS. al-Baqarah/2: 156-157).

Jika timbul rasa benci kepada seseorang, segera ia hubungkan silaturrahmi dan ulurkan tangan perdamaian seraya berharap kebeningan dan kasih sayang segera menghapus kebencian karena ia percaya Allah kuasa membalikkan hati:

عَسَى اللَّهُ أَنْ يَجْعَلَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ الَّذِينَ عَادَيْتُمْ مِنْهُمْ مَوَدَّةً وَاللَّهُ قَدِيرٌ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. dan Allah adalah Maha Kuasa. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. al-Mumtahanah/60: 7).

Saat melihat kebatilan beraksi karena kebenaran sedang lengah, ia yakin bahwa kebatilan pasti sirna dan kebenaran pasti tampil dan menang:

بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ وَلَكُمُ الْوَيْلُ مِمَّا تَصِفُونَ

Sebenarya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu mensifati [Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya] (QS al-Anbiyâ`/21: 18).

فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ

Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi (QS. al-Ra’d/13: 17).

Dan saat tiba masa tua, tak henti ia berharap akan kehidupan lain di mana ia akan selalu muda tak pernah tua, selalu hidup tak pernah mati dan selalu bahagia tak pernah sengsara.

جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدَ الرَّحْمَنُ عِبَادَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّهُ كَانَ وَعْدُهُ مَأْتِيًّا.لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا إِلَّا سَلَامًا وَلَهُمْ رِزْقُهُمْ فِيهَا بُكْرَةً وَعَشِيًّا

Yaitu surga `Adn yang telah dijanjikan oleh Tuhan Yang Maha Pemurah kepada hamba-hamba-Nya, sekalipun (surga itu) tidak nampak. Sesungguhnya janji Allah itu pasti akan ditepati. Mereka tidak mendengar perkataan yang tak berguna di dalam surga, kecuali ucapan salam. Bagi mereka rezkinya di surga itu tiap-tiap pagi dan petang (QS. Maryam/19: 61-62).

Comments on: "Iman dan Harapan" (2)

  1. engkaudanaku said:

    Assalamu’alaikum.,,

    Harapan itu selalu ada,…
    Salam semangat mencapai harapan,..

    Wassalamu’alaikum,🙂

  2. abualitya said:

    Wa’alaykum salam..
    Ya…dan memang harus selalu ada
    Tetap semangat…!
    Terimakasih
    Salam..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: