Berpikir positif, bersikap & bertindak bijak

Bangsa Indonesia saat ini merupakan salah satu bangsa di dunia yang sangat merindukan munculnya seorang pemimpin yang adil. Angka kemiskinan yang tinggi, pengangguran yang merajalela, jurang kesenjangan yang menganga, tingkat pendidikan rakyat yang rendah, rasa aman yang kian menipis, dan persoalan lainnya adalah sederet nestapa negeri ini. Semua itu meniscayakan kehadiran seorang pemimpin bangsa yang bukan hanya fasih mengidentifiksi persoalan-persoalan bangsa, namun—yang lebih penting—cakap menyelesaikan segenap persoalan tersebut dalam waktu yang tidak terlalu menguras kesabaran rakyat.

Siapapun yang akhirnya menjadi orang nomor satu di negeri ini, haruslah menjadi seorang pemimpin yang adil. Kata “pemimpin yang adil” sendiri sesungguhnya merupakan penyederhanaan kata. Di balik kata tersebut tersimpan sekian piranti penting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin agar layak disebut sebagai pemimpin yang adil. Di antara piranti penting itu adalah:

Pertama, sandaran vertikal yang kuat. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang beragama—paling tidak secara formal. Seorang yang memimpin bangsa seperti itu haruslah membekali dirinya dengan nilai-nilai dan semangat spiritual yang menjadikan dirinya senantiasa merasa diawasi, bukan saja oleh rakyat yang nampak, tetapi yang lebih penting oleh Yang Maha Melihat. Penglihatan rakyat bisa saja dikelabui dan karenanya pengadilan mereka bisa saja dihindari dengan beribu dalih dan ditutupi dengan bermacam topeng. Tapi pengadilan Yang Maha Waspada, tidak seorang pun dapat lepas dan lari darinya. Jika pengadilan dunia bisa ‘diakali’, lalu siapa yang bisa menghindar dari datangnya hari penghisaban amal kelak atas semua orang untuk setiap tindakannya?

Kedua, semangat yang membaja, komitmen dan keteguhan hati. Tidak cukup hanya menjadi orang saleh untuk bisa menjadi pemimpin yang baik. Persoalan di negeri ini begitu kompleks dan berat. Orang yang terpilih memimpin negeri ini haruslah mengerahkan seluruh kemampuan dan sebagian besar waktunya untuk memberikan solusi terbaik bagi setiap persoalan pelik yang dihadapi bangsa. Puluhan juta rakyat yang dililit kemiskinan, jutaan anak yang tak dapat bersekolah, puluhan juta usia kerja yang menganggur, gap kaya-miskin yang kian menganga, semua itu menghajatkan seorang pemimpin yang mempunyai semangat untuk bersungguh-sungguh menyelamatkan puluhan juta anak negeri yang sedang diterpa beraneka penderitaan.

Ketiga, sederhana dan bersahaja. Orang miskin akan lebih merasa sakit hatinya ketika melihat di sekelilingnya orang-orang kaya memamerkan kekayaannya. Anak-anak putus sekolah akan lebih teriris perasaannya ketika melihat anak-anak seusianya berpakaian seragam menggendong tas pergi ke gedung-gedung sekolah yang dibangun pemerintah dengan uang rakyat. Dan rakyat yang sengsara akan lebih terkoyak nuraninya ketika pemimpin negerinya hanya pintar melantunkan nyanyian pemerataan kesejahteraan saat berkampanye saja. Sementara itu, setelah terpilih, sang pemimpin lebih giat membagi-bagikan kue kekuasaannya kepada orang-orang partainya atau kelompoknya sendiri sambil mendata jumlah kekayaannya dan meningkatkan saldo tabungannya. Pemimpin rakyat miskin tentu tidak harus menjadi miskin seperti mereka. Yang harus ia miliki adalah kepekaan yang tinggi akan nasib rakyatnya sembari melakukan upaya-upaya terukur, terpadu dan terarah dalam rangka mengentaskan setiap persoalan yang melilit rakyatnya. Akan lebih kuat dukungan dari rakyatnya jika semua itu dilakukan sambil menampilkan diri sebagai sosok pribadi yang sederhana dan bersahaja.

Keempat, pengorbanan dan perjuangan yang lestari. Sebuah pepatah mengatakan, “Sayyidul qaumi khadimuhum (pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka).” Seorang pemimpin sejati bukanlah yang hanya pandai berteriak membangkitkan semangat rakyatnya, tapi yang lebih penting, menjadi teladan bagi mereka. Ia adalah orang yang berada di garis paling depan dalam menghadapi berbagai kesulitan dan persoalan rakyatnya. Ketika KKN menggerogoti pilar-pilar negeri ini, ia adalah orang pertama yang membersihkan dirinya dari anasir KKN sekaligus memberantasnya di dalam tubuh pemerintahannya, meski untuk itu ia menghadapi sejumlah tantangan dan rintangan. Perjuangannya untuk menegakkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa tidak pernah kendur.

Kelima, menempuh metode yang benar dan tepat. Semangat menggebu untuk memperbaiki bangsa tidak banyak membantu jika tidak disertai kecermatan yang tepat lagi benar dalam menentukan pola dan cara kerja. Termasuk dalam kerangka ini, ketepatan menunjuk para pembantu dan kecakapan menggali potensi yang dimiliki oleh mereka. Dalam menunjuk para pembantu, seorang pemimpin harus menghilangkan prinsip ‘bagi-bagi kursi’ kepada mereka yang telah berjasa melempangkan jalannya menuju kursi paling bergengsi di negeri ini. Prinsip the right man in the right place harus dipedomani dan diaplikasikan dengan benar. 

Keenam, belajar dan terus belajar. Menduduki kursi paling terhormat di satu negeri sama sekali tidak berarti seseorang boleh berhenti belajar. Ia harus terus memupuk akal nalar dan hati nuraninya dengan bermacam rupa ilmu dan kebijaksanaan, terutama yang menunjang tugasnya sebagai pengayom rakyat, penegak keadilan, penabur kesejahteraan, penyemai pemerataan, pengamal pertama hukum dan perundang-undangan serta sederet tugas mulia sekaligus berat lainnya.

Dari para pendahulunya seorang pemimpin harus banyak belajar tentang banyak hal. Ia, misalnya, harus sadar betul bahwa meski negara ini bukan negara agama, akan tetapi nilai-nilai spiritual mesti mendasari semua sendi kehidupan bangsa. Dengan demikian, paham, aliran atau ajaran apapun yang coba merenggut nilai-nilai spiritual dari akal pikir dan moralitas bangsa haruslah dicegah jangan sampai tumbuh di negeri yang rakyatnya meyakini ajaran-ajaran agama ini.

Dalam bidang ekonomi, seorang pemimpin harus paham benar bahwa geliat dan kemajuan ekonomi yang hendak dicapai haruslah dibangun di atas pondasi yang kuat. Harus ditegakkan di atas kekaryaan dan kemandirian bangsa yang tahan akan guncangan kala badai krisis menerpa, bukan atas dasar tumpukan hutang dan pinjaman asing. Serta harus dibangun di atas paham ekonomi kerakyatan, di mana rakyat kecil dilibatkan sebagai subjek sekaligus objek pembangunan ekonomi. Rakyat kecil harus dipacu semangatnya serta diberdayakan untuk sama-sama membangun sistem perekonomian yang kuat serta memihak kepada mereka, dan hasilnya dimanfaatkan sebesar-besarnya demi kesejahteraan mereka.

Dalam bidang politik, pemimpin yang sedang berkuasa harus sepenuhnya sadar bahwa kebutuhan mendasar rakyat yang harus dipenuhi bukan hanya isi perut, penutup tubuh dan tempat tinggal semata. Mereka adalah manusia, makhluk yang selain ingin cukup makan, berpakaian dan punya tempat bernaung, mereka juga mendambakan hawa kebebasan. Bebas bicara, mengemukakan gagasan, saran dan bahkan kritikan terhadap perilaku para pengelola negara yang dianggap menyimpang dari kontrak politik yang telah disepakati antara rakyat dan para pejabat.

Itulah di antara harapan sekaligus pesan rakyat yang harus dicamkan dan diamalkan secara sungguh-sungguh oleh siapapun yang diamanati rakyat untuk memimpin negeri yang kita cintai ini.

Wallahu a’lam.

Comments on: "Pesan Rakyat untuk Presiden Mendatang" (7)

  1. Harapan seperti di atas memang menjadi harapan kita bersama. Tapi sampai saat ini belum terlihat tanda-tanda calon pemimpin dengan ciri-ciri seperti di atas. Masih “konseptual belum “aktual”.
    Wslmww.

  2. Kang Abad, Punten seratan diluhur ku simkuring ditaplokeun di web simkuring. Hatur Nuhun. Can diidinan geus ditaplokeun.. Wayahna.

    Abulfatih

  3. abualitya said:

    teu sawios-wios Akang

    • Hatur Nuhun Atuh.
      Ieu teh nuju ngolembar milih saha nya, saparantosna maos seratan Kang Abad asa merenah pisan sanajan can panceg engke’ milih nu mana2 na. Tina tilu aya dua, diantara dua tina tangtungna jeung tagogna mah asana dua2na teu patebih. Beu … pulitik2… nu saluyu jeung leuwih hade’ atawa lanjutkan…nu mana ?
      Nuhun ah Kang,
      Nu keur Mikir

  4. abualitya said:

    Ngolembar? Asa wararaas nguping kecap ngolembar. Jadi inget ka lembur: inget ka si abah, ambu, jeung dulur-dulur salembur, barya sadesa…

  5. hasan kurniawan said:

    Menurut saya Jakarta agar tidak macet jangan semua sarana di tempatkan di ibu kota…. contoh: Perkantoran atau pusat pekerja bisa di tempatkan daerah cikarang..
    .
    Saya yakin jakarta bisa maju n berkembang..

  6. abualitya said:

    setuju…!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: