Berpikir positif, bersikap & bertindak bijak

Iman dan Kekuatan Jiwa

Manusia memiliki harapan dan tujuan. Namun sering jalan menuju harapan dan tujuan itu panjang, penuh duri, sarat tantangan dan rintangan. Sebagian dari rintangan dan tantangan itu berasal dari alam dan sunnatullah, sebagian lainnya berasal dari manusia sendiri. Maka tak ada jalan selain terus berjuang dan bekerja supaya dapat mengalahkan berbagai tantangan dan rintangan itu. Winston Churcill mengatakan, “Jangan pernah menyerah, jangan pernah menyerah, jangan pernah, jangan pernah, dan jangan pernah.”

Manusia sangat memerlukan kekuatan yang dapat mengencangkan semangatnya, membimbing tangannya, menaklukkan berbagai tantangan, melumpuhkan aneka kesulitan dan menerangi jalan yang akan ditempuhnya. Kekuatan yang didambakan ini hanya ada di bawah naungan dan pelataran iman kepada Allah. Iman kepada Allah-lah yang memberi kita ruh kekuatan dan kekuatan ruh. Seorang Mukmin tidak mengharap selain karunia-Nya, tidak takut kecuali siksa-Nya dan tidak peduli kecuali terhadap-Nya. Seorang Mukmin akan kuat meski di tangannya tak ada senjata, kaya walau dalam lemarinya tidak ada emas dan perak, tegar meski perahu kehidupannya goyah dan dikepung ombak dari semua arah. Dengan imannya, ia lebih kuat dari laut, ombak dan angin. Dalam sebuah hadis dikatakan, “Jika kamu mengenal Allah dengan sebenar-benarnya maka dengan doamu gunung sekalipun pasti hilang.”

Kekuatan yang dimiliki oleh setiap individu merupakan sumber kekuatan masyarakat seluruhnya. Orang-orang yang kuat dan tegar melahirkan masyarakat yang kuat dan tegar, dan orang-orang yang lemah serta rapuh melahirkan masyarakat yang lemah dan rapuh. Orang-orang yang lemah tidak memiliki sifat setia kawan, tidak diperhitungkan lawan, tidak sanggup melahirkan kebangkitan, dan tidak mampu mengukir keagungan.

Kekuatan yang dimiliki seorang Mukmin berasal dari Allah yang kepada-Nya ia beriman dan bertawakal: “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. al-Anfâl/8: 49). Maha Perkasa; tidak akan menghinakan orang yang bertawakal kepada-Nya, Maha Bijaksana; tidak akan menyia-nyiakan orang yang berpegang dengan kebijaksanaan dan aturan-Nya.

يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal (QS. Âli ‘Imrân/3: 160).

Kita harus belajar kepada Nabi Hûd yang memiliki jiwa yang kokoh dalam menyampaikn risalah. Dalam perjuangannya menegakkan kebenaran di tengah kaum ‘Âd, Nabi Hûd menjadikan tawakal sebagai tameng perlindungan:

قَالُوا يَاهُودُ مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ وَمَا نَحْنُ بِتَارِكِي ءَالِهَتِنَا عَنْ قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ(53)إِنْ نَقُولُ إِلَّا اعْتَرَاكَ بَعْضُ ءَالِهَتِنَا بِسُوءٍ قَالَ إِنِّي أُشْهِدُ اللَّهَ وَاشْهَدُوا أَنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ(54)مِنْ دُونِهِ فَكِيدُونِي جَمِيعًا ثُمَّ لَا تُنْظِرُونِ(55)إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلَّا هُوَ ءَاخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Kaum ‘Ad berkata: “Hai Hûd, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu. Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu.” Hûd menjawab: “Sesungguhnya Aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus ” (QS. Hûd/11: 53-56).

Kita juga patut belajar kepada Nabi Syu’ayb yang memiliki jiwa yang tawakal ketika kaumnya sendiri justru mengancamnya:

قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لَنُخْرِجَنَّكَ يَاشُعَيْبُ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَكَ مِنْ قَرْيَتِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا قَالَ أَوَلَوْ كُنَّا كَارِهِينَ(88)قَدِ افْتَرَيْنَا عَلَى اللَّهِ كَذِبًا إِنْ عُدْنَا فِي مِلَّتِكُمْ بَعْدَ إِذْ نَجَّانَا اللَّهُ مِنْهَا وَمَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَعُودَ فِيهَا إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّنَا وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا

Pemuka-pemuka dan kaum Syu’ayb yang menyombongkan dan berkata: “Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu’ayb dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, atau kamu kembali kepada agama kami”. Berkata Syu’ayb: “Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya? Sungguh kami mengada-adakan kebohongan yang benar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah melepaskan kami dari padanya. dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendaki(nya). Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah sajalah kami bertawakkal” (QS. al-A’râf/7: 88-89).

Kepada kaumnya Mûsâ berkata:

وَقَالَ مُوسَى يَاقَوْمِ إِنْ كُنْتُمْ ءَامَنْتُمْ بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ(84)فَقَالُوا عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ(85)وَنَجِّنَا بِرَحْمَتِكَ مِنَ الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri.” Lalu mereka berkata: “Kepada Allahlah kami bertawakkal! Ya Tuhan kami; janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zalim, dan selamatkanlah kami dengan rahmat Engkau dari (tipu daya) orang-orang yang kafir” (QS. Yûnus/10: 84-86).

Semua rasul bertawakal kepada Allah dalam menghadapi pembangkangan dan penghinaan umatnya. Mereka berkata:

وَمَا لَنَا أَلَّا نَتَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ وَقَدْ هَدَانَا سُبُلَنَا وَلَنَصْبِرَنَّ عَلَى مَا ءَاذَيْتُمُونَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ

“Mengapa kami tidak akan bertawakal kepada Allah padahal dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakal itu berserah diri” (QS. Ibrâhîm/14: 12).

Selain tawakal, kekuatan seorang Mukmin juga berasal dari kebenaran (al-haqq) yang dipedomaninya. Seorang Mukmin sejati bekerja bukan demi syahwat sesaat, bukan untuk kepentingan pribadi, tidak karena fanatisme jahiliah, dan bukan pula untuk menganiaya orang lain. Ia bekerja hanya demi kebenaran yang diyakininya sebagaimana diajarkan oleh Allah. Merupakan sesuatu yang pasti terjadi dimana kebenaran pasti menang dan kebatilan pasti lenyap:

بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ

Sebenarya kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya (QS. al-Anbiyâ`/21: 18).

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap (QS. al-Isrâ`/17: 81).

Seorang Mukmin, dengan imannya kepada Allah dan kepada kebenaran, berdiri tegak, tegar, tidak takut dan tidak goyah. Berbagai hambatan, tantangan, godaan, dan segala hal yang menghadang akan mampu dihadapinya dengan tabah, sebab ia memegang tali yang kuat dan bersandar pada pilar yang kokoh.

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا

Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus (QS. al-Baqarah/2: 256).

Kekuatan lain seorang Mukmin juga berasal dari keabadian (al-khulûd) yang ia yakini. Ia yakin bahwa hidupnya bukanlah hari-hari yang dapat dihitung pada tempat-tempat yang terbatas ini. Kehidupan sejatinya adalah kehidupan yang abadi. Kematian hanya perpindahan dari satu negeri ke negeri lainnya.

Pada perang Badar, ‘Umayr bin al-Hamâm al-Anshârî mendengar Rasulullah Saw. bersabda kepada para sahabatnya: “Demi Zat Yang diriku di Tangan-Nya, tidak ada orang yang pada hari ini memerangi mereka (orang-orang musyrik) lalu ia terbunuh dalam keadaan mengharap ridha-Nya, menghadapkan diri tidak membelakang, melainkan Allah memasukkannya ke surga.” ‘Umayr berkata: “Bakh…bakh! (kata-kata takjub).” Rasulullah Saw. bertanya kepadanya: “Mengapa kamu mengeluarkan kata-kata bakh…bakh, hai Ibn al-Hamâm?” ‘Umayr berkata: “Bukankah antara aku dan surga kecuali aku melangkah lalu memerangi mereka kemudian aku terbunuh?” Rasul menjawab: “Ya.” Waktu itu ‘Umayr sedang memakan beberapa biji kurma. Ia lalu berkata: “Apakah aku hidup untuk makan kurma-kurma ini? Masih ada di sana kehidupan yang panjang.” Lalu dilemparkannya kurma-kurma di tangannya itu kemudian bangkit berperang.

Kekuatan seorang Mukmin berasal pula dari takdir (al-qadr) yang ia imani. Iman kepada takdir—dalam pengertian yang jauh dari watak fatalisme (jabariyah)—melahirkan sifat pemberani, watak pejuang, dan mental petarung. Sifat, watak dan mental inilah yang telah menjadikan kaum Muslim generasi awal para penakluk banyak kerajaan dan negeri. Jadilah kekuasaan mereka terbentang dari pegunungan yang memisahkan Spanyol dengan Prancis hingga tembok Cina, padahal senjata dan jumlah mereka sedikit saja.

Terakhir, kekuatan seorang Mukmin juga berasal dari persaudaraan (al-ukhuwwah) yang ia jalin dengan saudara-saudara Mukminnya. Ia merasa bahwa mereka ada untuknya dan ia ada untuk mereka. Mereka membantunya saat ia bersama mereka, memeliharanya saat ia tidak bersama mereka, membesarkan hatinya ketika ia dalam kesulitan, menghiburnya saat ia dalam kesusahan, mendukungnya ketika mengendur kekuatannya, dan membimbing tangannya saat langkahnya salah arah. Nabi Saw. menggambarkan kekuatan seorang Mukmin dengan saudara-saudara Mukminnya seperti satu bagian dari sebuah bangunan yang kokoh: “Seorang Mukmin bagi Mukmin lainnya seperti sebuah bangunan (setiap bagiannya) saling menguatkan satu sama lainnya” (HR. al-Bukhârî).

Namun zaman telah mengubah kaum Muslim; kini mereka lemah setelah kuat, kepalanya menunduk setelah tegak. Hal ini disebabkan karena karakteristik yang dimiliki para Muslim awal yang mengantarkan kepada kejayaan telah mengalami perubahan. Iman tidak lagi menguasai jiwa mereka. Iman tak lagi mengarahkan akhlak dan perilaku mereka. Kini, sebagian kaum Muslim memiliki iman yang sekadar “iman geografis”; karena mereka terlahir di negeri Muslim. Atau “iman warisan” yang mereka warisi dari nenek moyangnya. Iman mereka kini hanya “iman tidur” yang tak punya pengaruh, kehilangan elan vital-nya. Memang, tidak semua kaum Muslim kondisinya semacam ini, tetapi kecenderungan secara umum menunjukkan bahwa kaum Muslim telah kehilangan spirit yang dimiliki oleh kaum Muslim sebelumnya. Godaan zaman modern menjadikan iman menghadapi tantangan yang kian berat. Banyak kaum Muslim yang tergoda dengan tantangan zaman sekarang ini.

Jauh-jauh hari Nabi Saw. telah menyingkap rahasia terdalam di balik kelemahan umatnya saat mereka lemah dan ketidakberdayaan mereka saat mereka tidak berdaya atas musuh-musuhnya. Beliau bersabda: “Telah dekat (waktu) di mana umat-umat (yang lain) mengeroyok kalian seperti para penyantap (makanan) mengeroyok mangkuk makanan.” Mereka (para sahabat) bertanya: “Apakah kita termasuk umat yang sedikit pada waktu itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Bahkan kalian pada waktu itu banyak, akan tetapi kalian buih seperti buih air bah, dan Allah benar-benar mencabut dari dada musuh-musuh kalian rasa takut dari kalian serta benar-benar melemparkan al-wahn dalam hati kalian.” Mereka bertanya: “Apa itu al-wahn?” Beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati” (HR. Abû Dâwûd dan Ahmad).

usia memiliki harapan dan tujuan. Namun sering jalan menuju harapan dan tujuan itu panjang, penuh duri, sarat tantangan dan rintangan. Sebagian dari rintangan dan tantangan itu berasal dari alam dan sunnatullah, sebagian lainnya berasal dari manusia sendiri. Maka tak ada jalan selain terus berjuang dan bekerja supaya dapat mengalahkan berbagai tantangan dan rintangan itu. Winston Churcill mengatakan, “Jangan pernah menyerah, jangan pernah menyerah, jangan pernah, jangan pernah, dan jangan pernah”

Manusia sangat memerlukan kekuatan yang dapat mengencangkan semangatnya, membimbing tangannya, menaklukkan berbagai tantangan, melumpuhkan aneka kesulitan dan menerangi jalan yang akan ditempuhnya. Kekuatan yang didambakan ini hanya ada di bawah naungan dan pelataran iman kepada Allah. Iman kepada Allah-lah yang memberi kita ruh kekuatan dan kekuatan ruh. Seorang Mukmin tidak mengharap selain karunia-Nya, tidak takut kecuali siksa-Nya dan tidak peduli kecuali terhadap-Nya. Seorang Mukmin akan kuat meski di tangannya tak ada senjata, kaya walau dalam lemarinya tidak ada emas dan perak, tegar meski perahu kehidupannya goyah dan dikepung ombak dari semua arah. Dengan imannya, ia lebih kuat dari laut, ombak dan angin. Dalam sebuah hadis dikatakan, “Jika kamu mengenal Allah dengan sebenar-benarnya maka dengan doamu gunung sekalipun pasti hilang.”

Kekuatan yang dimiliki oleh setiap individu merupakan sumber kekuatan masyarakat seluruhnya. Orang-orang yang kuat dan tegar melahirkan masyarakat yang kuat dan tegar, dan orang-orang yang lemah serta rapuh melahirkan masyarakat yang lemah dan rapuh. Orang-orang yang lemah tidak memiliki sifat setia kawan, tidak diperhitungkan lawan, tidak sanggup melahirkan kebangkitan, dan tidak mampu mengukir keagungan.

Kekuatan yang dimiliki seorang Mukmin berasal dari Allah yang kepada-Nya ia beriman dan bertawakal: “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. al-Anfâl/8: 49). Maha Perkasa; tidak akan menghinakan orang yang bertawakal kepada-Nya, Maha Bijaksana; tidak akan menyia-nyiakan orang yang berpegang dengan kebijaksanaan dan aturan-Nya.

يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal (QS. Âli ‘Imrân/3: 160).

Kita harus belajar kepada Nabi Hûd yang memiliki jiwa yang kokoh dalam menyampaikn risalah. Dalam perjuangannya menegakkan kebenaran di tengah kaum ‘Âd, Nabi Hûd menjadikan tawakal sebagai tameng perlindungan:

قَالُوا يَاهُودُ مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ وَمَا نَحْنُ بِتَارِكِي ءَالِهَتِنَا عَنْ قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ(53)إِنْ نَقُولُ إِلَّا اعْتَرَاكَ بَعْضُ ءَالِهَتِنَا بِسُوءٍ قَالَ إِنِّي أُشْهِدُ اللَّهَ وَاشْهَدُوا أَنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ(54)مِنْ دُونِهِ فَكِيدُونِي جَمِيعًا ثُمَّ لَا تُنْظِرُونِ(55)إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلَّا هُوَ ءَاخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Kaum ‘Ad berkata: “Hai Hûd, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu. Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu.” Hûd menjawab: “Sesungguhnya Aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus ” (QS. Hûd/11: 53-56).

Kita juga patut belajar kepada Nabi Syu’ayb yang memiliki jiwa yang tawakal ketika kaumnya sendiri justru mengancamnya:

قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لَنُخْرِجَنَّكَ يَاشُعَيْبُ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَكَ مِنْ قَرْيَتِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا قَالَ أَوَلَوْ كُنَّا كَارِهِينَ(88)قَدِ افْتَرَيْنَا عَلَى اللَّهِ كَذِبًا إِنْ عُدْنَا فِي مِلَّتِكُمْ بَعْدَ إِذْ نَجَّانَا اللَّهُ مِنْهَا وَمَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَعُودَ فِيهَا إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّنَا وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا

Pemuka-pemuka dan kaum Syu’ayb yang menyombongkan dan berkata: “Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu’ayb dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, atau kamu kembali kepada agama kami”. Berkata Syu’ayb: “Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya? Sungguh kami mengada-adakan kebohongan yang benar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah melepaskan kami dari padanya. dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendaki(nya). Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah sajalah kami bertawakkal” (QS. al-A’râf/7: 88-89).

Kepada kaumnya Mûsâ berkata:

وَقَالَ مُوسَى يَاقَوْمِ إِنْ كُنْتُمْ ءَامَنْتُمْ بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ(84)فَقَالُوا عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ(85)وَنَجِّنَا بِرَحْمَتِكَ مِنَ الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri.” Lalu mereka berkata: “Kepada Allahlah kami bertawakkal! Ya Tuhan kami; janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zalim, dan selamatkanlah kami dengan rahmat Engkau dari (tipu daya) orang-orang yang kafir” (QS. Yûnus/10: 84-86).

Semua rasul bertawakal kepada Allah dalam menghadapi pembangkangan dan penghinaan umatnya. Mereka berkata:

وَمَا لَنَا أَلَّا نَتَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ وَقَدْ هَدَانَا سُبُلَنَا وَلَنَصْبِرَنَّ عَلَى مَا ءَاذَيْتُمُونَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ

“Mengapa kami tidak akan bertawakal kepada Allah padahal dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakal itu berserah diri” (QS. Ibrâhîm/14: 12).

Selain tawakal, kekuatan seorang Mukmin juga berasal dari kebenaran (al-haqq) yang dipedomaninya. Seorang Mukmin sejati bekerja bukan demi syahwat sesaat, bukan untuk kepentingan pribadi, tidak karena fanatisme jahiliah, dan bukan pula untuk menganiaya orang lain. Ia bekerja hanya demi kebenaran yang diyakininya sebagaimana diajarkan oleh Allah. Merupakan sesuatu yang pasti terjadi dimana kebenaran pasti menang dan kebatilan pasti lenyap:

بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ

Sebenarya kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya (QS. al-Anbiyâ`/21: 18).

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap (QS. al-Isrâ`/17: 81).

Seorang Mukmin, dengan imannya kepada Allah dan kepada kebenaran, berdiri tegak, tegar, tidak takut dan tidak goyah. Berbagai hambatan, tantangan, godaan, dan segala hal yang menghadang akan mampu dihadapinya dengan tabah, sebab ia memegang tali yang kuat dan bersandar pada pilar yang kokoh.

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا

Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus (QS. al-Baqarah/2: 256).

Kekuatan lain seorang Mukmin juga berasal dari keabadian (al-khulûd) yang ia yakini. Ia yakin bahwa hidupnya bukanlah hari-hari yang dapat dihitung pada tempat-tempat yang terbatas ini. Kehidupan sejatinya adalah kehidupan yang abadi. Kematian hanya perpindahan dari satu negeri ke negeri lainnya.

Pada perang Badar, ‘Umayr bin al-Hamâm al-Anshârî mendengar Rasulullah Saw. bersabda kepada para sahabatnya: “Demi Zat Yang diriku di Tangan-Nya, tidak ada orang yang pada hari ini memerangi mereka (orang-orang musyrik) lalu ia terbunuh dalam keadaan mengharap ridha-Nya, menghadapkan diri tidak membelakang, melainkan Allah memasukkannya ke surga.” ‘Umayr berkata: “Bakh…bakh! (kata-kata takjub).” Rasulullah Saw. bertanya kepadanya: “Mengapa kamu mengeluarkan kata-kata bakh…bakh, hai Ibn al-Hamâm?” ‘Umayr berkata: “Bukankah antara aku dan surga kecuali aku melangkah lalu memerangi mereka kemudian aku terbunuh?” Rasul menjawab: “Ya.” Waktu itu ‘Umayr sedang memakan beberapa biji kurma. Ia lalu berkata: “Apakah aku hidup untuk makan kurma-kurma ini? Masih ada di sana kehidupan yang panjang.” Lalu dilemparkannya kurma-kurma di tangannya itu kemudian bangkit berperang.

Kekuatan seorang Mukmin berasal pula dari takdir (al-qadr) yang ia imani. Iman kepada takdir—dalam pengertian yang jauh dari watak fatalisme (jabariyah)—melahirkan sifat pemberani, watak pejuang, dan mental petarung. Sifat, watak dan mental inilah yang telah menjadikan kaum Muslim generasi awal para penakluk banyak kerajaan dan negeri. Jadilah kekuasaan mereka terbentang dari pegunungan yang memisahkan Spanyol dengan Prancis hingga tembok Cina, padahal senjata dan jumlah mereka sedikit saja.

Terakhir, kekuatan seorang Mukmin juga berasal dari persaudaraan (al-ukhuwwah) yang ia jalin dengan saudara-saudara Mukminnya. Ia merasa bahwa mereka ada untuknya dan ia ada untuk mereka. Mereka membantunya saat ia bersama mereka, memeliharanya saat ia tidak bersama mereka, membesarkan hatinya ketika ia dalam kesulitan, menghiburnya saat ia dalam kesusahan, mendukungnya ketika mengendur kekuatannya, dan membimbing tangannya saat langkahnya salah arah. Nabi Saw. menggambarkan kekuatan seorang Mukmin dengan saudara-saudara Mukminnya seperti satu bagian dari sebuah bangunan yang kokoh: “Seorang Mukmin bagi Mukmin lainnya seperti sebuah bangunan (setiap bagiannya) saling menguatkan satu sama lainnya” (HR. al-Bukhârî).

Namun zaman telah mengubah kaum Muslim; kini mereka lemah setelah kuat, kepalanya menunduk setelah tegak. Hal ini disebabkan karena karakteristik yang dimiliki para Muslim awal yang mengantarkan kepada kejayaan telah mengalami perubahan. Iman tidak lagi menguasai jiwa mereka. Iman tak lagi mengarahkan akhlak dan perilaku mereka. Kini, sebagian kaum Muslim memiliki iman yang sekadar “iman geografis”; karena mereka terlahir di negeri Muslim. Atau “iman warisan” yang mereka warisi dari nenek moyangnya. Iman mereka kini hanya “iman tidur” yang tak punya pengaruh, kehilangan elan vital-nya. Memang, tidak semua kaum Muslim kondisinya semacam ini, tetapi kecenderungan secara umum menunjukkan bahwa kaum Muslim telah kehilangan spirit yang dimiliki oleh kaum Muslim sebelumnya. Godaan zaman modern menjadikan iman menghadapi tantangan yang kian berat. Banyak kaum Muslim yang tergoda dengan tantangan zaman sekarang ini.

Jauh-jauh hari Nabi Saw. telah menyingkap rahasia terdalam di balik kelemahan umatnya saat mereka lemah dan ketidakberdayaan mereka saat mereka tidak berdaya atas musuh-musuhnya. Beliau bersabda: “Telah dekat (waktu) di mana umat-umat (yang lain) mengeroyok kalian seperti para penyantap (makanan) mengeroyok mangkuk makanan.” Mereka (para sahabat) bertanya: “Apakah kita termasuk umat yang sedikit pada waktu itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Bahkan kalian pada waktu itu banyak, akan tetapi kalian buih seperti buih air bah, dan Allah benar-benar mencabut dari dada musuh-musuh kalian rasa takut dari kalian serta benar-benar melemparkan al-wahn dalam hati kalian.” Mereka bertanya: “Apa itu al-wahn?” Beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati” (HR. Abû Dâwûd dan Ahmad).

Comments on: "Iman dan Kekuatan Jiwa" (6)

  1. Alhamdulillah, teks yang hebat. terima kasih banyak2

  2. abualitya said:

    sama-sama. terimakasih

  3. thanks banget kang abad artikelnya untuk bahan ceramah/ pengajian…lumayan panjang 6 lemabareun…..

  4. abualitya said:

    sami-sami…

  5. Assalamualaikum Ustadz, boleh ana copy yaa, tuk kumpulan artikel. Jzklh

  6. abualitya said:

    Wa’alaikum salam. Boleh, silakan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: