Berpikir positif, bersikap & bertindak bijak

Tentang Puasa Kita

Bila usia Anda sekarang 40 dan sudah mulai belajar berpuasa Ramadhan secara penuh sejak usia 10, maka kurang-lebih hingga sekarang Anda sudah 30 kali berpuasa Ramadhan. Dan begitu seterusnya. Hitungan sederhananya demikian. Coba ingat-ingat kembali kesan-kesan tentang puasa waktu kita pertama kali belajar berpuasa. Seingat saya, dulu sepanjang bulan puasa sekolah diliburkan. Sebagai anak usia 8-9 tahunan, agenda harian dibuka dengan bermain bersama teman sebaya; mulai dari mancing ikan di sungai, mancing belut di pematang sawah, mencari anak burung di hutan, rorodaan, sosorodotan, layangan, dan aneka-ragam permainan khas anak kecil tahun 80-an. Sebagai catatan sisipan, permainan-permainan semacam ini sekarang sudah hampir punah di kampus asalku. Semua tergantikan oleh mainan dan permainan modern.

Capek bermain di darat, anak-anak kecil itu melepaskan pakaian, terjun ke sungai, mandi sepuasnya sambil tak henti melepas tawa; saling sembur, saling ledek dan saling kejar. “Awas airnya tertelan. Batal loh puasanya!” Teriak salah satu dari mereka. “Yang kentut dalam air juga batal!” Koar yang lain. “Yang menangis juga!” Sahut yang lainnya.

Selama hampir sebulan penuh kegiatan kami, anak-anak kampung, adalah seperti itu; seputar itu. Bermain dan bermain. Selama kami mau berpuasa, orang tua hampir tidak pernah mempersoalkan kebiasaan bermain kami. Kecuali kalau kami berenang di kolam milik warga, atau mancing belut di pematang sawah karena merusak pematangnya. Tetapi sesungguhnya bukan ini yang ingin saya bincang lebih lanjut. Bukan tentang pengalaman berpuasa di masa kecil. Biarkan itu menjadi bagian perjalanan hidup masing-masing dari kita.

Ada yang lebih utama untuk disoal lebih jauh terkait puasa Ramadhan. Seperti semua ibadah formal-ritual lainnya, puasa dirancang Islam untuk melahirkan pribadi-pribadi takwa. Jika terhitung mulai usia 10 tahun hingga sekarang kita sudah 30 kali melaksanakan puasa Ramadhan, adakah kita merasakan 30 kali peningkatan kualitas takwa? Ataukah 29 dari 30 kali itu hanya akumulasi pengulangan dari tahun-tahun sebelumnya? Pada level individu, orang-orang saleh-takwa terlihat tidak sedikit baik di bulan suci maupun bulan-bulan lainnya. Yang berpuasa banyak. Yang berjamaah tarawih tak sedikit. Pengajian di mana-mana. Masjid ramai. Yang mengantri giliran berangkat ke tanah suci membludak. Yang sudah berkali-kali berhaji dan berumrah tak terhitung.

Namun hingga titik ini beberapa pertanyaan mencuat. Kenapa kesalehan-kesalehan itu hanya ada di surau, masjid dan tempat-tempat kegiatan keagamaan lainnya? Kenapa di arena dan pusat-pusat pelayanan publik susah sekali ditemukan pesan shalat, sukar sekali didapati ideal-moral puasa, hampir tidak dapat ditemukan spirit ibadah ritual yang harus mengejewantah di ranah sosial.

Akadah kenyaataan ini merupakan buah dari sistem pendidikan (tepatnya pengajaran) Islam kita yang diawali dengan dan berorientasi pada fikih? Segala tindak tanduk keberagamaan kita menjadi sangat bercorak dan berorientasi fikih. Serba fikih. Shalat sebagai misal. Selama ia memenuhi kaidah-kaidah fikih, cukup syarat-rukun berdasar aturan fikih, selesai perkara. Soal kelakuan, ucapan, sikap dan pola hidup pasca shalat, itu urusan lain yang tidak ada hubungannya dengan shalat a la fikih tadi. Pun demikian dengan puasa dan ibadah-ibadah mahdhah lainnya, tanpa kecuali haji.

Salah satu pesan-moral puasa yang sedang kita jalani ini adalah penghargaan akan waktu; tepat waktu, memanfaatkan waktu, berlomba mengejar waktu dan segala kegiatan positif menyangkut waktu. Pesan-moral ini setidaknya diambil dari adanya patokan waktu yang jelas menyangkut awal dan akhir waktu berpuasa (sebenarnya hal ini berlaku pula pada ibadah-ibadah lainnya). Namun mari kita amati jejak-keseharian kita menyangkut waktu; di mana pun tempat kita bekerja. Jika kita orang kantoran, selama kita menjadi orang kantoran, sudah berapa kali di kantor kita diselenggarakan rapat? Dari sekian rapat yang pernah digelar, berapa kali rapat yang benar-benar dimulai tepat waktu sesuai undangan?

Kita sering menunjuk negara A sekuler, negara B memisahkan agama dari politik, dan sejenisnya. Pada saat sama kita berbangga diri menunjuk negara sendiri sebagai negara bertuhan dan bangsanya sebagai bangsa agamis. Kiranya tidak keliru dengan apa yang kita tunjuk. Tapi mari kita tengok ranah lain di luar pemilahan sekuler-agamis ini. Penghargaan akan waktu, etos kerja, kejujuran, transparansi, budaya meneliti, penghargaan terhadap para peneliti dan hasil-hasil penelitian, kebersihan lingkungan, ketertiban umum, pelayanan kesehatan dan pendidikan, dan layanan-layanan sosial lainnya yang semuanya dititahkan oleh amal-amal ritual agama, semua itu dapat kita jumpai di negara-negara yang kerap kita tunjuk dengan (agak) sinis sebagai negara sekuler.

Jangan bahas soal korupsi! Kita malu dibuatnya. Saya jadi menduga-duga, jangan-jangan orang-orang di luar negeri sana—terutama di negara-negara maju—jika mereka mendengar kara “korupsi” maka yang pertama kali nyembul dalam benak mereka adalah Indonesia. Ampuun!

Comments on: "Tentang Puasa Kita" (4)

  1. Betul Kang, sudah berapa kali ramadhan yach kalau dihitung-hitung banyak juga tapi atsarnya? Saya juga ampuun, malu.

  2. ieu mah nuju mapatahan diri sorangan, Kang…:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: