Berpikir positif, bersikap & bertindak bijak

Shalat yang dilakukan seorang Muslim setiap hari haruslah melahirkan sejumlah kebaikan bagi dirinya pada tingkat individu. Di antara kebaikan shalat pada tingkat ini adalah: Pertama, shalat menjadikan seorang Muslim senantiasa menaati aturan Allah. Shalat menjadikan seorang Muslim selalu memperbaiki dan membersihkan diri sepanjang hari; siang dan malam. Dengan shalat, seorang Muslim bermunajat pada Tuhannya sambil meninggalkan gemerlapnya dunia demi memperkaya diri dengan bekal-bekal akhirat. Seusai shalat, saat ia kembali ke dunia nyata, shalat membekalinya kejelian penglihatan. Ia tidak silau dengan dunia. Ia selamat dari jebakan lumpur dan kehinaan dunia. Shalat menjadikannya paham bahwa dunia bukan tujuan. Maka dijadikannya dunia sarana menuju akhirat. Diambilnya dari dunia apa yang baik guna memperkuat langkah dan tenaganya dalam mengabdi pada-Nya. Saat perhiasan dunia berpihak padanya ia tidak larut dalam kegembiraan, dan saat dunia berpaling darinya ia tidak larut dalam kesedihan.

Kedua, shalat menjadikan seorang Muslim gemar melakukan kebiasaan-kebiasaan yang baik dan menjauhi kebiasaan-kebiaasan buruk. Shalat menjadikan seorang Muslim menghargai waktu. Hal ini diajarkan oleh kebiasaannya menunggu waktu shalat serta shalat pada waktunya. Selain menghargai waktu, shalat juga mengajarkan seorang Muslim budaya tepat waktu, pantang mengakhir-akhirkan menunaikan kewajiban, dan pengendalian diri sepanjang waktu. Yang disebut terakhir ini diajarkan oleh pengendalian diri sepanjang shalat dari segala ucapan dan gerakan yang bukan bagian dari shalat.

Pengendalian diri dari tindakan dan ucapan yang tidak baik semakin dirasa keharusannya mengingat bahwa sebagian besar prahara yang menimpa manusia timbul karena ucapan. Nabi Saw. bersabda:

وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ عَلَى وجوههم فِي جَهَنَّمَ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ

Tidaklah manusia masuk neraka jahanan kecuali akibat lidah mereka (HR Ibn Mâjah)

 

Shalat menjadikan seorang Muslim mampu mengendalikan ucapannya, karena ia sudah terbiasa menahan ucapan selain zikir selama shalat. Maka di luar shalat ia hanya akan berkata-kata yang baik.

Ketiga, shalat menjadikan seorang Muslim pandai menyelami, menakar dan menjaga perasaan serta kondisi psikologis orang lain. Ia sadar bahwa setiap orang memiliki watak, sifat dan karakter sendiri-sendiri. Tidak bisa semua orang diperlakukan dengan sikap dan pendekatan yang sama. Hal ini diajarkan oleh beberapa aturan terkait shalat, sebagai berikut

–          Apabila seseorang merasa sangat lapar, lalu datang waktu shalat, maka tidak boleh memaksakan diri shalat terlebih dahulu baru shalat, melainkan seperti disabdakan Nabi Saw:

إذا حضر العشاء وحضرت الصلاة فابدؤا بالعشاء

Jika datang waktu makan dan lalu datang waktu shalat, maka mulailah dengan makan (HR Muslim).

 

–          Jika cuaca sangat panas di saat masuk waktu zhuhur atau jumat, maka disunnahkan mengakhirkan shalat sampai suhu agak turun. Sabda Nabi Saw.:

إذا اشتدّ الحَرُّ فأَبْرِدُوا بالصلاة فإنَّ شِدَّةَ الحَرِّ من فَيْح جهنّم

Jika panas sangat menyengat, maka shalatlah ketika (suhu sudah) dingin. Karena sesungguhnya panas yang sangat menyengat berasal dari panasnya jahanam (HR Muslim).

 

–          Orang yang bertindak menjadi imam, hendaknya “meringankan” shalat sehingga tidak memberatkan para makmum. Abû Mas’ûd al-Anshârî menceritakan bahwa seorang laki-laki mendatangi Rasulullah Saw. dan berkata, “Aku benar-benar datang terlambat untuk shalat subuh karena si Fulan (yang menjadi imam) memanjangkan shalatnya atas kami.” Nabi Saw. kemudian bersabda:

يا أيها الناس إن منكم منفرين فأيكم أم الناس فليوجز فإن من ورائه الكبير والصغير وذا الحاجة

Wahai manusia, sesungguhnya di antara kalian ada orang yang membuat orang lain lari. Siapa di antara kalian mengimami orang lain, maka pendekkanlah (shalatnya), karena di belakangnnya ada makmum yang sudah tua, anak-anak dan yang punya keperluan (HR al-Bukhârî).

 

Semua ini memberi pelajaran praktis tentang keharusan menjaga perasaan dan memerhatikan kondisi objektif orang lain serta ketidakbolehan memberatkan mereka. Melalui shalat, Nabi Saw. telah mengajari kita meraba perasaan orang lain. Beliau pernah bersabda:

إِنِّى لأَقُومُ إِلَى الصَّلاَةِ وَأَنَا أُرِيدُ أَنْ أُطَوِّلَ فِيهَا ، فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِىِّ ، فَأَتَجَوَّزُ كَرَاهِيَةَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمِّهِ

Sesungguhnya aku berdiri untuk shalat dan aku ingin memanjangkannya. Lalu aku mendengar tangisan anak kecil, maka aku perpendek karena tidak ingin memberatkan ibunya (HR al-Bukhârî).

 

Keempat, dari doa iftitah yang selalu dibacanya saat shalat, seorang Muslim sadar akan kedudukannya di antara sesama manusia, yaitu sebagai seorang Muslim, teladan yang diikuti, panutan yang ditiru, dan menjadi pusat perhatian manusia. Kaum Muslim awal paham betul akan makna dan pesan yang diusung oleh doa iftitah ini. Maka jadilah mereka para pemegang kendali dunia. Mereka pergi ke arah barat; ke Syam, Irak dan Mesir hingga Maroko sebagi pembebas dan penebar kedamaian. Lalu mereka pergi ke arah timur; ke India. Konstantinpel mereka bebaskan, Spanyol mereka kuasai dengan kekuasaan yang berperadaban. Maka jadilah mereka para pemegang kendali dunia.

Kelima, seorang Muslim yang membaca surat al-Fatihah sekurangnya 17 kali setiap hari diajari bagaimana dan kepada siapa berterimakasih. Ia menjadi orang yang pandai berterimakasih dan tahu kepada siapa saja ia harus berterimakasih. Tentu saja ia tahu bahwa yang utama dan pertama harus mendapat ucapan syukur adalah Allah. Surat al-Fatihah yang selalu dibacanya juga menjadikannya tidak pernah putus asa akan kasih-sayang-Nya yang tak terbatas. Penggalan ayat al-rahmân al-rahîm (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang) dalam surat al-Fatihah, mengajarinya untuk tidak pernah putus asa akan kasih-sayang-Nya.

Keenam, seorang Muslim yang senantiasa rukuk dan sujud dalam shalat akan enggan, seenggan-enggannya, untuk menundukkan kepalanya selain kepada Allah. Rukuk dan sujud mengajarinya menjadi pribadi yang punya harga diri. Dalam menegakkan kebenaran ia tidak takut akan celaan siapa pun. Dalam menjunjung keadilan ia tidak tergoda rayuan harta. Dalam menyuarakan hak ia tidak gentar dengan ancaman. Setiap sujud yang dilakukannya menjadikannya tembah dekat dengan Yang Maha Mulia lagi Maha Perkasa. Kedekatan ini melahirkan kekuatan dan keberanian dalam dirinya sehingga kekuatan para tiran dan keangkaramurkaan para penindas tampak hina dan kecil belaka di matanya.

Sejak awal Islam memang tidak rela dari umatnya selain keluhuran, kemuliaan, dan kehormatan. Nilai-nilai inilah yang ditanamkan Islam di setiap sendi masyarakat Muslim. Semua ajaran, tuntutan dan tuntunan Islam diarahkan untuk keluhuran, kemuliaan, dan kehormatan umatnya. Buat apa seorang muazin mengumandangkan azan lima kali sehari dengan meneriakkan takbir di awal dan di akhirnya? Mengapa takbir selalu menjadi penanda setiap pergerakan shalat? Semua itu guna menancapkan keyakinan yang mendalam di jiwa setiap Muslim; tidak goyah dan tidak gentar untuk meyakini dan mengatakan bahwa setiap kesombongan selain Allah adalah kecil semata, hina belaka. Untuk tujuan ini, Allah menetapkan takbîr dan tasbîh supaya diulang-ulang oleh setiap Muslim dalam shalatnya.

Ketujuh, dari shalat seorang Muslim belajar tentang ketenangan dan kedamaian jiwa. Meskipun shalat sangat penting, tapi untuk pergi menujunya tidak baik sambil tergesa-gesa. Tidak baik keluar rumah untuk shalat dengan terburu-buru sehingga tidak mengindahkan kesopanan dan tatakerama. Jika menuju shalat saja harus tetap dalam keadaan tenang, maka terlebih menuju selainnya. Shalat mengajari setiap Muslim untuk menyikapi segala persoalan dengan tenang jiwa dan damai hati. Dalam hal ini Rasulullah Saw. bersabda:

إذا سمعتم الإقامةَ فامشوا إلى الصلاةِ وعليكم بالسكينةِ والوقارِ ولا تُسْرِعُوا فما أدركتم فصلُّوا وما فاتكم فأتموا

Jika kalian mendengar iqamah, maka berjalanlah menuju shalat dan kalian harus tetap tenang dan sopan, jangan tergesa-gesa. Apa yang kalian dapatkan (dari gerakan shalat jamaah) maka ikutilah dan apa yang kalian kehilangan (dari rakaat shalat berjamaah) maka sempurnakanlah (HR al-Bukhârî).

 

Hadits ini memberi pelajaran bahwa dalam mengejar apa pun harus tetap melibatkan ketenangan dan kesopanan. Apa yang kita dapatkan dari apa yang kita kejar, itulah bagian kita. Dan apa yang tidak (belum) kita dapatkan dari apa yang kita kita, sempurnakanah.

Kedelapan, shalat mengajarkan setiap Muslim bersegera menunaikan kewajiban pada waktunya, tidak menunda-nundanya. Jika kondisi menghalanginya menjalankan kewajiban pada waktunya maka kewajiban tetap berlaku, tidak gugur hanya karena waktunya habis. Ia tetap harus menunaikannya di luar waktu yang telah ditetapkan. Pelajaran ini diambil dari sebuah riwayat bahwa ketika pulang dari perang Khaibar, Rasulullah Saw. bersama pasukan kaum Muslim tidur di jalan dan memerintahkan Bilâl untuk memantau fajar (membangunkan mereka dengan azan). Akan tetapi semua tertidur lelap sampa matahari membangunkan mereka. Di antara mereka, Rasulullah Saw. yang pertama bangun. Lalu beliau bersabda:

أَيْ بِلَالُ فَقَالَ بِلَالٌ أَخَذَ بِنَفْسِي الَّذِي أَخَذَ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ بِنَفْسِكَ قَالَ اقْتَادُوا فَاقْتَادُوا رَوَاحِلَهُمْ شَيْئًا ثُمَّ تَوَضَّأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَمَرَ بِلَالًا فَأَقَامَ الصَّلَاةَ فَصَلَّى بِهِمْ الصُّبْحَ فَلَمَّا قَضَى الصَّلَاةَ قَالَ مَنْ نَسِيَ الصَّلَاةَ فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا فَإِنَّ اللَّهَ قَالَ أَقِمْ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Di mana Bilâl.” Bilâl berkata, “Telah menimpaku apa yang telah menimpamu, demi ayahku, engkau dan ibuku, ya Rasulullah.” Rasulullah Saw. bersabda, “Giringlah (hewan tunggangan kalian).” Mereka pun menggiring hewan-hewan tunggangan mereka ke satu tempat. Kemudian Rasulullah Saw. mengambil wudhu dan memerintahkan Bilâl untuk iqamah. Setelah Bilâl iqamah, Rasulullah mengimami mereka shalat subuh. Setelah selesai shalat, beliau bersabda, “Barangsiapa lupa shalat, maka shalatlah ketika ia ingat. Karena Allah berfirman, ‘Dirikanlah shalat untuk mengingat Aku’”  (HR Muslim, al-Tirmidzî dan Ibn Mâjah).

 

Hadits ini menjelaskan betapa setiap orang harus merasa benar-benar bertanggung jawab atas kewajiban yang harus dilaksanakannya. Bahkan ketika waktu yang ditetapkan untuk menjalankan kewajiban itu luput karena satu dan lain hal, mereka harus tetap berusaha menggantinya di waktu lain yang memungkinkannya.

Kesembilan, shalat juga memberi pelajaran tentang kehidupan sosial. Di waktu shalat seorang Muslim melihat saudara-saudaranya di masjid dalam sebuah pertemuan yang akrab, hangat, setara dan penuh kasih, jauh dari keangkuhan, kesombongan, menonjolkan diri, atau membanggakan diri. Mereka berbaris rapi, menghadap ke arah yang sama, membacakan bacaan yang sama, memeragakan gerakan yang sama, demi menunjukkan kehinaan dan ketakberdayaan di hadapan Yang Maha segalanya. Mereka saling bersalaman, satu sama lain saling mendoakan, baik selagi shalat maupun sesudahnya, dalam suasana dan nuansa yang diliputi kasih-sayang. Semua ini menanamkan pendidikan etika sosial yang menafikan individualisme. Individualisme tidak melahirkan kecuali rasa takut terhadap sesama, iri, dengki, enggan berbaur dan menghindar dari menjalin komunikasi dengan mereka.

Comments on: "Peran Shalat dalam Kehidupan Individual" (4)

  1. muhtahida said:

    ke dicontek ku urang lah. ting bating iraha2 aya nu nyuruh khutbah

  2. abualitya said:

    nya heug…ngan ngke keur khutbah kade ulah poho ka saya…:)

  3. irsyadul ibad said:

    di copy bolehkah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: