Berpikir positif, bersikap & bertindak bijak

Puasa dalam QS al-Baqarah

QS al-Baqarah, 183:

Ayat ini menyatakan, puasa bukan hanya diwajibkan atas orang-orang yang beriman (umat Islam) saja. Umat-umat terdahulu juga diwajibkan berpuasa. Baik atas umat ini maupun umat terdahulu, tujuan akhir dari puasa adalah melahirkan insan-insan yang bertakwa dalam arti sejati. Di antara point yang dapat diambil dari ayat ini: Pertama, puasa adalah ibadah universal; lintas waktu, tempat dan umat. Kedua, puasa diwajibkan bukan untuk puasa itu sendiri, melainkan guna melahirkan ketakwaan. Ibarat orang disuruh menggunakan kereta api ketika akan pergi ke Jakarta. Maka orang itu dituntut mewujudkan dua hal sekaligus; pertama, menggunakan kereta api, dan kedua, benar-benar sampai ke Jakarta. Orang Islam dituntut berpuasa dan menjadi orang takwa.

QS al-Baqarah, 184:

Seperti ibadah mahdhah lainnya, puasa harus mengikuti tata-cara, tata waktu dan tata-ritual lainnya sebagaimana digariskan oleh syariat. Kajian tentang ini sudah dikupas tuntas dalam kitab-kitab fikih. Di sini bukan tempatnya untuk mengupas soal itu. Tapi Islam bukan agama besi yang tidak mengenal kompromi. Bagi orang sakit atau dalam perjalanan ada keringanan untuk berbuka dengan keharusan membayarnya di lain hari. Dan bagi orang yang benar-benar merasa berat menjalankannya, ia diberi keringanan menggantinya dengan fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Sampai di sini, satu hal menarik, bahwa ketidaksanggupan menjalankan ketaatan ritual harus ditebus dengan menebarkan kebaikan sosial; tidak sanggup puasa harus dibayar dengan memberi makan kepada yang lapar.

Al-Baqarah, 185:

Memang puasa wajib dilaksanakan di bulan Ramadhan. Tapi kejadian besar di bulan ini bukan hanya puasa. Ayat ini menerangkan bahwa pada bulan Ramadhan permulaan al-Qur’an diturunkan. Dari ayat ini dapat diambil tiga konsep mengenai al-Qur`an. Pertama, al-Qur`an adalah kitab yang berisi petunjuk atau pedoman (hudâ). Kedua, al-Qur`an memberikan penjelasan mengenai petunjuk itu, dan ketiga, petunjuk itu sekaligus merupakan kriteria atau tolok ukur untuk menilai segala sesuatu, terutama untuk membedakan antara yang benar dan yang salah, yang buruk dan yang baik, yang seronok dan yang indah.

QS al-Baqarah, 187:

Islam agama fitrah. Semua ajaran, aturan dan pranata yang dibangunnya, tidak ada satu pun yang dimaksudkan guna mengingkari atau memberangus fitrah manusia. Puasa memang mengharuskan orang menahan lapar, dahaga dan syahwat lainnya termasuk berhubungan suami-istri. Tujuannya jelas, di antaranya untuk melatih orang yang berpuasa menahan dan mengendalikan diri dalam rangka mencapai keluhuran-keluhuran nilai, perilaku dan akal-nalar serta budi-pekerti. Namun larangan makan, minum dan bercampur denga istri itu hanya berlaku siang hari. Tepatnya semenjak terbit fajar hingga terbenam matahari. Di malam hari, Islam—dengan segala keluwesannya—mencabut larangan-larangan itu.

Di sini bukan tempat yang tepat untuk membahas seperti apa dan bagaimana makan, minum dan bercampur dengan istri yang dipersilakan oleh Islam itu. Ulasan ini hanya ingin menegaskan bahwa Islam tidak hendak menjadikan umatnya para rahib yang mengebiri fitrah dasar manusia seperti makan, minum dan bercampur dengan pasangan sah. Berdasar ayat yang sedang kita bincang ini, bercampur dengan istri merupakan salah satu sarana dalam menjadikan pasangan sebagai pakaian; pelindung, penghias, pemberi citra dan identitas, dan semacamnya.

Namun tidak ada kebebasan mutlak. Silakan makan, minum dan mencampuri istri. Tapi beberapa aturan (batasan) terkait kadar, volume, waktu dan lain hal harus diindahkan. Aturan itu dibuat tak lain guna melahirkan insan-insan muttaqin. Inilah pesan moral penggalan ayat, “Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.”

QS al-Baqarah, 196:

Bagi orang yang sedang berhaji atau umrah lalu terkepung oleh musuh atau jatuh sakit, maka ia harus menyembelih hewan kurban yang mudah didapat, dan ia tidak boleh mencukur kepalanya sebelum hewan kurban sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfid-yah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban. Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan `umrah sebelum haji (didalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil-haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.

Comments on: "Puasa dalam QS al-Baqarah" (2)

  1. Terima kasih atas ilmu di artikel ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: