Berpikir positif, bersikap & bertindak bijak

Tentang Shalat Kita

Coba ingat-ingat kembali, sejak kapan Anda belajar shalat? Mungkin banyak dari kita tidak lagi ingat pada usia berapa persisnya mulai belajar shalat. Tapi hampir bisa dipastikan, rata-rata dari kita belajar shalat sejak usia anak-anak. Mungkin sejak usia 7, 8, 9, 10 atau bahkan mungkin cukup terlambat hingga 15. Hingga sekarang, di usia kita masing-masing, entah sudah berapa rakaat shalat kita tunaikan, baik yang fardu maupun yang sunnah; entah sudah berapa ribu liter air kita habiskan untuk berwudhu; entahlah!

Yang jelas, yang menempel pada benak kita, rajin shalat dan rajin mengaji sering menjadi ukuran kesalehan seorang anak. Kurang-lebih seperti dalam lagu Si Doel Anak Sekolahan. Begitu pentingnya shalat di mata banyak orangtua bagi anak-anak mereka. Bagi sebagian, tidak terlalu menjadi soal jika anak-anak mereka tidak termasuk berprestasi di sekolahnya. Tapi mereka akan cukup terpukul jika anak-anak mereka tidak mau shalat dan enggan mengaji. Memang, dalam mendidik putra-putri, sedemikian pentingnya mengajarkan shalat, sehingga Rasulullah Saw. bersabda:

مُرُوا أوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أبْنَاءُ سَبْعِ سِنينَ ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أبْنَاءُ عَشْرٍ

Suruhlah anak-anak kalian shalat saat mereka usia tujuh tahun, dan pukullah mereka (jika mereka enggan shalat) saat mereka usia sepuluh tahun (HR Ahmad, Ibn Abî Syaybah, Abû Dâwud, al-Hâkim, dan al-Bayhaqî).

 

Bukan tempatnya di sini untuk menerangkan berapa jumlah pukulan orangtua terhadap anaknya yang di usia sepeluh tahun belum mau mengerjakan shalat; seperti apa pukulan itu; dengan apa mereka memukul; dan segala hal yang mungkin terkait dengan soal ini. Di sini cukup dikatakan bahwa dilibatkannya “pukulan” dalam mengajarkan shalat menandakan betapa pentingnya shalat dalam mendidik anak-anak kita.

Kekuatiran para orangtua terhadap anak-anak mereka yang enggan shalat merupakan sikap yang benar. Hanya saja satu hal perlu dicatat, yaitu bahwa mengajarkan shalat harus berlanjut hingga tahap memahamkan anak tentang makna-makna moral dan sosial yang dikandung oleh shalat; tidak hanya mengajarkan praktek shalat lalu menyuruh mengerjakannya secara tertib tanpa pemantauan yang ketat terhadap perilaku anak di luar shalat. Pembiasaan shalat atas anak oleh orangtua adalah baik adanya. Tapi setelah itu ada hal penting yang juga harus diperhatikan orangtua, yaitu pengejawantahan nilai-nilai shalat oleh anak para tataran perilaku mereka.

Namun jika kita melongok pendidikan formal, kita akan mendapati bahwa mata pelajaran keagamaan, termasuk di dalamnya pelajaran shalat, sering berhenti di tingkat pengajaran murni; guru mengajarkan, murid paham dan bisa mempraktekkan demi kepentingan test, selesai perkara. Padahal, di lain pihak, para orangtua telah mempercayakan pendidikan anak-anak mereka pada lembaga pendidikan formal. Maka anak-anak kita pun berada di antara dua institusi yang sama-sama tidak tuntas dalam mendidik mereka; sekolah formal yang hanya mengandalkan aspek kognitif, dan rumah (keluarga) yang terlalu mempercayakan pendidikan anak pada sekolah formal. Sementara itu komunikasi antara kedunya tidak pernah terbangun. Rupanya inilah salah satu borok di wajah pendidikan kita. Semoga ke depan semakin banyak rumah dan sekolah yang menyadari adanya borok ini.

Kesadaran akan hal itu harus muncul sesegera mungkin. Terlebih di negeri ini yang mayoritas penduduknya menunjuk shalat sebagai rukun kedua agama mereka. Lebih jelas, kesadaran yang harus kita bangun adalah kesadaran tentang pentingnya keutuhan dalam pribadi setiap Muslim. Kesadaran inilah yang dikandung dan dipesankan oleh ayat 3 Surat al-Baqarah. Berdasar urutan ayat dan surat dalam mushhaf, ayat ini merupakan ayat pertama yang menyebut shalat:

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka (QS al-Baqarah/2: 3).

 

Ayat ini sedang berbicara tentang ciri-ciri orang yang bertakwa (muttaqîn). Berdasar ayat ini, ciri pertama mereka adalah memiliki kesatuan atau keutuhan kesadaran yang aktif-positif (al-wahdah al-syu’ûriyah al-îjâbiyah al-fa’âlah). Sebuah keutuhan yang tumbuh dalam jiwa mereka, yang terpadu di dalamnya iman kepada yang ghaib, ketaatan menjalankan berbagai kewajiban, iman kepada seluruh utusan Tuhan, serta keyakinan akan adanya kehidupan akhirat. Keutuhan dan keterpaduan inilah yang seharusnya dimiliki oleh setiap pribadi Muslim; keterpaduan antara akidah-imaniah dengan amal-praksis, antara keyakinan-keyakinan teologis dengan karya-karya nyata di ranah kehidupan.

Shalat merupakan pembuktian nyata orang-orang bertakwa bahwa mereka hanya mengabbdikan diri kepada Allah. Shalat merupakan pernyataan tegas bahwa mereka benar-benar membebaskan diri dari penyembahan kepada apa pun selain-Nya. Dengan shalat mereka pasrah total pada Kekuatan tak berbatas; mereka sujud tanda tunduk-pasrah pada Yang serba-maha, bukan pada hamba yang serba tak terbatas.

Ayat di atas, setelah menyebut shalat, segera menyebut infak. Antara keduanya merupakan satu-kesatuan bagai dua sisi mata uang. Tidak boleh berhenti pada shalat sementara pengejawantahan nilai-nilainya, antara lain infak, tidak ditunaikan. Inilah salah satu implikasi dari kesadaran akan keutuhan yang disinggung di atas. Alih-alih sebagai terminal akhir, shalat seharusnya menjadi starting point bagi pengabdian-pengabdian lainnya di ranah sosial. Dalam hal ini, infak pada ayat di atas menyimbolkan pengabdian (kesalehan) sosial tersebut.

Ayat di atas mengajarkan mereka yang baru saja menunaikan shalat untuk mengakui bahwa harta yang ada di tangan mereka adalah rezki dari Allah, bukan bikinan mereka sendiri. Dari kesadaran dan pengakuan ini tumbuh keringanan hati untuk berbagi dengan sesama dari kalangan lemah; tumbuh kelapangan jiwa untuk menjalin solidaritas dengan hamba-hamba-Nya yang kurang beruntung; terbit kesadaran akan ketunggalan asal dan persaudaraan manusia.

Hikmah tertinggi dari kewajiban infak adalah mensucikan jiwa dari sifat kikir serta menghiasinya dengan sifat pemurah. Hikmah mulia lainnya adalah menjadikan hidup sebagai wahana kerjasama dan tolong-menolong, bukan arena permusuhan dan peperangan. Infak memberi harapan pada si lemah, si tidak mampu, dan si serba terbatas bahwa mereka memiliki banyak saudara yang siap melindungi mereka. Infak memberi mereka perasaan bahwa mereka hidup di antara hati hati yang bening, wajah wajah nan ramah dan jiwa jiwa yang lapang, bukan di antara kuku kuku yang mencengkeram, taring taring dan paruh paruh yang menerkam. Infak mencakup zakat, sedekah dan apa pun yang dibelanjakan di jalan kebajikan. Infak diwajibkan sebelum zakat. Infak merupakan pangkal yang mencakup zakat, tapi zakat tidak mencakup infak. Dalam sebuah hadits Nabi Saw. bersabda:

إِنَّ فِي الْمَالِ حَقًّا سِوَى الزَّكَاةِ

Sesunguhnya dalam harta ada hak selain zakat (HR al-Tirmidzî).

 

Bahwa shalat merupakan satu-kesatuan dengan kesalehan-kesalehan sosial seperti infak, zakat, sedekah dan pengabdian-pengabdian horisontal lainnya dapat dibaca pada banyak sekali ayat yang mengintrodusir shalat dengan berbagai penekanannya. QS al-Baqarah/2: 43, 83, 110, 177; al-Nisâ`/4: 77, 162; al-Tawbah/9: 71 memerintah mengeluarkan zakat segera setelah menyuruh mendirikan shalat. Surat yang sama ayat 277 menyebutkan bahwa orang-orang yang akan mendapat pahala dari Tuhan, tidak merasa khawatir dan tidak bersedih hati adalah mereka yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat.

Hingga di sini, menarik untuk mencermati lebih lanjut QS Hûd/11: 87. Ayat ini menunjukkan hubungan yang tidak terpisahkan antara ketaatan ritual dengan kesalehan sosial. Ini terlihat dari penolakan kaum Syu’ayb ketika beliau menyuruh mereka menghentikan kebiasaan mempermainkan timbangan. Mereka berkata:

يَاشُعَيْبُ أَصَلَاتُكَ تَأْمُرُكَ أَنْ نَتْرُكَ مَا يَعْبُدُ ءَابَاؤُنَا أَوْ أَنْ نَفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاءُ إِنَّكَ لَأَنْتَ الْحَلِيمُ الرَّشِيد

“Hai Syu’aib, apakah sembahyangmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami? Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal (QS Hûd/11: 87).”

 

Mereka, seperti kata al-Thabarî, hendak mengatakan: “Ini adalah harta kami. Kami berhak melakukan apa saja yang kami inginkan terhadap harta ini. Kami bisa mengambil sebagiannya, atau mengolahnya, atau bahkan membuangnya.” Syu’ayb menolak pola pikir egois mereka. Benar bahwa harta itu harta milik mereka. Tetapi dari sudut pandang sosial, mereka tidak memiliki hak untuk mempermainkan timbangan dan takarannya. Sebab itu merugikan harta milik orang lain. Dalam ungkapan lain, pengakuan atas kepemilikan pribadi tidak berarti setiap orang mempunyai kebebasan mutlak. Yang ada adalah kebebasan yang dibatasi oleh kemaslahatan umum.

Di antara kaum Nabi Syu’ayb, orang-orang yang melakukan hal ini, yakni mempermainkan harta milik pribadi seenaknya sehingga merugikan orang lain, adalah para pembesar, orang-orang kaya, dan para pejabat yang tidak punya tujuan hidup selain mengumpul harta dengan cara apa saja. Mereka tidak pernah segan mengorbankan kepentingan umum demi kepentingan pribadi. Sementara itu Syu’ayb berjuang mewujudkan kemaslahatan dan kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Inilah sejatinya yang diperjuangkan Syu’ayb ketika ia menyeru mereka;

وَلَا تَقْعُدُوا بِكُلِّ صِرَاطٍ تُوعِدُونَ وَتَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ مَنْ ءَامَنَ بِهِ وَتَبْغُونَهَا عِوَجًا

Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok (QS al-A’râf/7: 86).

 

Dalam konteks sosial, term sabîlillâh (jalan Allah) pada ayat ini dapat dimaknai secara luas. Jalan Allah adalah jalan kebenaran, kejujuran, keadilan, kerja sama, kasih sayang dan solidaritas.

Seperti biasa, yang menolak ajaran yang diserukan Syu’ayb adalah mereka yang disebut al-Qur`an sebagai al-malâ`; kaum elite, para pembesar, kalangan terkemuka, mereka yang punya kuasa dan harta. Mereka menentang Nabi Syu’ayb bukan hanya karena ia menyerukan menyembah Allah, tetapi terutama karena ia memerintahkan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan tuntutan iman kepada Allah seperti mengurangi takaran dan timbangan serta kegiatan ekonomi lainnya yang merugikan orang lain. Ajaran sosial yang dibawa Syu’ayb mengancam kepentingan pribadi mereka. Maka berbagai cara mereka gunakan untuk melawan Syu’ayb dan memberantas ajarannya.

Satu-kesatuan atau kemanunggalan antara shalat dan kesalehan-kesalehan di ranah sosial, seperti yang sudah disebutkan berulang-kali, juga terbaca pada QS Luqmân/31: 17. Setelah memerintahkan shalat, ayat ini segera menyuruh melakukan amar makruf nahyi munkar. Terlihat pula pada QS Luqmân/31: 17. Ayat ini memuji orang-orang yang bersegera memenuhi seruan Tuhannya, mendirikan shalat, mengedepankan musyawarah dalam mengambil keputusan, serta menginfakkan sebagian rezkinya. Demikian halnya QS al-Jumu’ah/62: 10. Segera setelah menyebut shalat, ayat ini memerintahkan bertebaran di bumi dan mencari karunia-Nya.

Kemanunggalan atau keutuhan antara shalat dan kesalehan-kesalehan sosial sangat kentara pada QS al-Mâ’ûn/107: 1-7. Surat ini sejak awal menegaskan bahwa orang yang mendustakan agama adalah orang yang tidak memiliki kepedulian sosial. Yaitu orang yang, antara lain, suka menghardik anak-anak yatim—alih-alih menyantuni mereka, dan tidak menganjurkan untuk memberi makan ke orang-orang miskin—alih-alih menolong serta memberdayakan mereka. Setelah menunjukkan siapa sesungguhnya pendusta agama, surat ini kemudian menyebutkan bahwa ternyata orang-orang yang mengerjakan shalat tidak semuanya selamat. Ada di antara mereka yang justru celaka. Yaitu mereka yang shalatnya lalai, asal-asalan; asal terpenuhi syarat-rukunnya secara formal, riya; melakukan amal perbuatan tidak untuk mencari ridha Allah melainkan guna mendapat pujian atau  popularitas dari masyarakat, dan enggan menolong sesama yang hidup berkekurangan serta memerlukan uluran tangan saudara-saudara mereka yang berkecukupan.

Surat al-Mâ’ûn memberi pelajaran bahwa ukuran kesalehan seseorang dalam beragama terletak pada sejauh mana ia peduli terhadap nasib sesamanya; sejauh mana ia peduli terhadap nasib anak-anak yatim, sejauh mana ia care terhadap nasib kaum tak berpunya. Selama kepedulian-kepedulian sosial tidak menghiasi keberagamaan seseorang, betapa pun giatnya orang itu menjalankan kewajiban agama yang bersifat ritualistik-formalistik, al-Qur`an—lewat surat al-Mâ’ûn—tidak menyebutnya sebagai pengamal sejati agama, justru sebaliknya; pendusta agama.

Surat al-Mâ’ûn mengguratkan bahwa shalat formalistik yang ditunaikan hanya untuk mengundang pujian orang; shalat yang tidak melahirkan keringanan hati untuk menolong sesama yang dililit kesusahan, didera kemiskinan dan dihimpit persoalan ekonomi; shalat yang demikian adalah shalat yang tidak menyelematkan pelakunya. Surat al-Mâ’ûn memberi ketegasan bahwa shalat, seperti pernah dikatakan, harus menjadi starting point (titik-awal) bagi setiap Muslim untuk melakukan pengabdian-pengabdian sosial di ranah kehidupan dengan segala dimensi dan problematikanya.

Namun dalam kenyataan, hal sebaliknya yang kerap kita temukan. Alih-alih menjadi titik-awal bagi berbagai pengabdian (kesalehan) sosial, shalat (dan ketaatan-ketaatan ritual lainnya) lebih sering menjadi ajang pemutihan bagi segala bentuk dosa sosial. Anggapan bahwa shalat (dan ketaatan-ketaatan ritual lainnya) berfungsi sebagai pemutih inilah yang kemudian melahirkan istilah STMJ; Shalat Terus, Maksiat Jalan. Kerap kita temukan berbagai keganjilan dalam perilaku keberagamaan. Di satu sisi masjid ramai dengan pengunjung, namun di saat sama tempat-tempat maksiat juga tidak pernah sepi peminat. Di satu pihak orang berduyun-duyun pergi ke Tanah Suci untuk menunaikan haji dan umrah, tapi di pihak lain sentra-sentra kemaksiatan juga tidak pernah surut pengunjung. Di satu sisi majelis-majelis taklim terus digalakkan, namun di saat berbarengan pusat-pusat kegiatan asusila tidak pernah kehilangan pelanggan.

Yang paling menyedihkan, pelaku yang sama kerap-kali melakukan dua tindakan yang bertolak belakang, yakni dosa sosial dan amal ritual, dengan dalih bahwa yang kedua dapat menghapus dosa yang pertama. Gambarannya seperti yang diceritakan dalam hadits berikut:

أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

Tahukah kalian siapa yang disebut orang bangkrut? Mereka (para sahabat) berkata, “Orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki harta.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa (pahala) shalat, puasa, dan zakat. Akan tetapi ia datang sementara (sewaktu di dunia) ia menyakiti si A, menuduh si B, memakan harta si C, menumpahkan darah si D, memukul si E. Maka kemudian si A, B, C, D, dan E itu mendapat kebaikan-kebaikan (pahala) orang itu. Jika pahala orang itu sudah habis sebelum tanggungannya selesai, maka kejelekan-kejelekan mereka (si A, B, C, D, dan E) ditimpakan kepada orang itu lalu ia dilemparkan ke neraka (HR Muslim, al-Tirmidzî, dan Ahmad).

Hadits di atas menyentil orang-orang yang begitu getol menjalankan amal-amal ritual, namun di saat sama mereka begitu rajin melakukan tindakan yang menindas, memperkosa, menyakiti dan merugikan hak-hak orang lain. Mereka pikir dosa-dosa sosial itu serta-merta dapat dibersihkan dengan ketaatan-ketaatan ritual yang tidak pernah mereka tinggalkan.

Sambil mengulang sesuatu yang sudah amat jelas, ibadah-ibadah ritual tidak diperintahkan untuk ibadah ritual itu sendiri; shalat difardukan bukan untuk shalat itu sendiri, puasa diwajibkan bukan untuk puasa itu sendiri; zakat diperintahkan bukan untuk zakat itu sendiri. Artinya, setelah shalat dilaksanakan, setelah puasa dijalankan, dan setelah zakat ditunaikan, bukan berarti selesai semua urusan; tidak berarti aman dari segala tuntutan. Maka jangan mentang-mentang shalat sudah ditunaikan lalu dengan seenaknya tangan bisa diumbar untuk memukul (menindas), mulut dibiarkan untuk menyakiti, kaki dimanjakan untuk menendang (menganiaya), kekuasaan disalahgunakan untuk memperbudak, jabatan dieksploitir untuk memperkaya diri, kekayaan dialihfungsikan untuk memperkuda kaum tak berpunya, dan seterusnya.

Shalat, dengan demikian memiliki fungsi sebagai pengendali baik pada tingkat individu maupun sosial. Pada tingkat yang pertama, shalat merupakan olah-ruhani (riyâdhah rûhiyah). Tanpa shalat, seorang Muslim hatinya sempit dan dadanya sumpek, meski raganya kenyang dan materinya berlimpah. Peradaban modern yang dibangun di atas materialisme telah menyediakan apa pun bagi kebutuhan jasadiah; kesenangan, perhiasan dan berbagai rupa sarana hiburan. Namun di luar itu peradaban modern telah melahirkan manusia-manusia yang sempit dadanya, terguncang jiwanya, rapuh mentalnya, tidak jelas orientasi hidupnya dan sederet gejala lainnya yang memerosotkan nilai-nilai insaniah. Jelasnya, peradaban modern telah memanjakan raga tapi menelantarkan jiwa.

Akibat dari lahirnya manusia-manusia yang hanya mengenyangkan raga tapi menelantarkan jiwa, berjangkitlah penyakit-penyakit kejiwaan seperti depresi dan disorientasi hidup. Angka bunuh diri, baik yang dilakukan sendiri-sendiri maupun berkelompok, pun meningkat. Yang tersisa hidup tanpa hati, tanpa tujuan dan hampa makna. Shalat hadir dan menjadikan hati si Muslim bening, jiwanya cerdas, ruhnya suci. Shalat membasuh dan menyembuhkan penyakit-penyakit kejiwaan.

Pada tingkat sosial, shalat mengendalikan seorang Muslim untuk selalu menjadi pribadi yang akrab, hangat, menjunjung tinggi kesetaraan, penuh kasih, jauh dari keangkuhan, kesombongan, menonjolkan diri, atau membanggakan diri. Jika ada orang yang rajin shalat, tapi egois, dingin, suka menonjolkan diri, tidak punya rasa belas-kasihan, angkuh, sombong, dan membanggakan diri, maka sejatinya nilai-nilai shalat belum meresap ke dalam hati dan jiwanya. Jika ada orang getol shalat, tapi tindak, ucap, sikap dan perilakunya selalu membuat sesamanya tidak nyaman, terganggu dan teraniaya, maka sesungguhnya substansi shalat belum mewarnai hidupnya. Jika ada orang rajin ke mushalla, surau atau masjid untuk shalat, tapi setelah itu berbagai kekejian dan kemungkaran diakrabinya, maka pesan-pesan shalat belum sampai ke pemahamannya. Pada sekup yang lebih luas, jika ada orang yang rajin shalat, pergi haji berkali-kali, umrah sudah terbiasa, tapi korupsi sudah menjadi hobi, merampas uang rakyat merupakan hal biasa, memanipulasi angka sudah bukan hal yang tabu, maka pesan-pesan moral shalat belum terpatri dalam diri dan nuraninya.

Comments on: "Tentang Shalat Kita" (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: