Berpikir positif, bersikap & bertindak bijak

Abstrak

Sejatinya kemukjizatan al-Qur’an tidak sebatas tantangan Nabi Saw. kepada orang Arab untuk membuat suatu bacaan yang sebanding atau, paling tidak, mirip dengan al-Qur’an. Kalau pengertiannya serupa itu malah mempersempit hakikatnya yang sedemikian luas dan ideal. Kemukjizatan al-Qur’an bukan hanya terletak pada segi uslûb ayat-ayatnya saja. Tema-tema pokok (al-mahâwir; the major theme) yang termuat dalam al-Qur’an, itulah dimensi-dimensi kemukjizatan al-Qur’an.

  1. A.    Pendahuluan

Kaum Muslim dewasa ini, menurut Muhammad al-Ghazâli, telah melakukan kesalahan (menzalimi) terhadap agamanya dua kali. Pertama, ketika mereka tidak mampu mengaplikasikan ajaran agamanya dengan baik dan benar, dan kedua, ketika mereka tidak sanggup menyampaikan ajaran agamanya kepada orang “di luar” mereka.[1] Ketika kaum Muslim melakukan kesalahan yang pertama, ketika itulah mereka mereduksi ajaran serta menampilkannya dalam bentuk yang dapat mengundang tuduhan “mereka” bahwa Islam berjalan berseberangan dengan fitrah, kebebasan dan akal. Dan ketika mereka melakukan kesalahan yang kedua, ketika itu mereka sedang membiarkan penduduk bumi di belahan barat dan timur tidak mengenal Islam.[2]

Adalah kenyataan, masih banyak di kalangan kaum Muslim yang menyikapi dan memperlakukan al-Qur’an sebatas kitab keramat penangkal bala. Adapun al-Qur’an sebagai mukjizat terbesar Nabi Saw., pilar pokok ajaran Islam, pegangan utama setiap Muslim dalam segala aspek kehidupannya, masih luput dari pemahaman sebagian kaum Muslim. Intrekasi sebagian besar kaum Muslim dengan al-Qur’an tidak melampaui pembacaan lahiriah untuk mendatangkan keberkahan, pengulangan kata tanpa merasakan makna yang dimuatnya, dan masih jarang sampai kepada tahap tadabbur.[3]

Ini berarti bahwa sebagian umat Islam belum mampu memahami kedudukan al-Qur’an sebagai risâlah samâwiyah nan kekal abadi yang Allah peruntukkan bagi manusia dan kemanusiaannya. Risalah al-Qur’an yang mencakup semua aspek kehidupan itu terjamin keabadian, keutuhan, orisinalitas serta kesinambungannya. Menurut penulis, itulah arti sebenarnya dari i’jâz (kemukjizatan) al-Qur’an, dan pengertian ideal dari statemen “Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad Saw.,”[4] yang setiap orang Islam pintar melafalkannya.

  1. B.     Definisi I’jâz

Kata i’jâz secara kebahasaan berarti itsbât al-‘ajz (menetapkan ketidakmampuan). Sedang kata ‘ajz sendiri berarti ketidakmampaun atau ketidakkuasaan melakukan sesuatu, yakni kebalikan kata al-qudrah (kuasa).[5] Kata i’jâz merupakan bentuk mashdar, artinya sama dengan al-dha’f (lemah).[6]

Dalam semua literatur ‘Ulûm al-Qur`ân, tepatnya pada pembahasan tentang kemukjizatan al-Qur’an, dijelaskan bahwa pengertian mukjizat secara umum adalah suatu kejadian di luar kebiasaan yang dibarengi dengan tantangan dan musuh yang ditantang tidak dapat memberikan perlawanan.[7] Nabi Saw. sendiri ketika menantang bangsa Arab dengan mukjizat terbesarnya, yakni al-Qur’an, mereka tidak mampu melawan atau menandinginya, betapa pun mereka terkenal dengan kefasihan dan kesusastraannya.[8]

Sesuatu dapat dikatakan sebagai mukjizat apabila sekurangnya memenuhi tiga syarat. Pertama, adanya tantangan. Yaitu tuntutan untuk diadakannya sebuah perlombaan atau pertandingan. Kedua, adanya dorongan untuk melayani (membalas) tantangan. Ketiga, tidak ada penghalang untuk melakukan dua syarat sebelumnya.[9] Sementara itu Masmû’ Ahmad Thâlib menyebut tujuh syarat: Pertama, keluar dari kebiasaan. Kedua, dilakukan oleh seseorang yang mengklaim sebagai nabi atau rasul. Ketiga, dibarengi dengan klaim nubuwah dan risalah. Keempat, tidak dapat dikalahkan oleh tantangan musuh. Kelima, sesuai dengan apa yang diklaim oleh orang yang mengaku sebagai nabi atau rasul. Keenam, mukjizat yang timbul tidak justeru membohongkan orang yang mengaku sebagai nabi atau rasul, dan ketujuh, para nabi dan rasul menantang mereka yang mengingkari nubuwah dan risalah dengan mukjizat itu.[10]

Sedangkan pengertian i’jâz ketika diidhafatkan kepada kata al-Qur’ân (i’jâz al-Qur’ân) adalah memperlihatkan kebenaran klaim risalah Nabi Muhammad Saw. dengan cara menampakkan ketidakmampuan bangsa Arab pada waktu itu dan generasi-generasi berikutnya untuk melawan mukjizat abadi Nabi saw., yakni al-Qur’an.[11]

  1. C.    Macam-macam Mukjizat

Dari definisi di atas dapat diambil pengertian bahwa mukjizat merupakan salah satu sarana yang dipersiapkan Allah untuk memperteguh kebenaran risalah dan nubuwah yang dibawa para nabi-Nya. Sementara itu dalam sîrah nabawiyah dikenal beberapa bentuk mukjizat. Ada mukjizat hissiyah[12]dan ada pula mukjizat ma’nawiyah. Imam al-Suyûthî menamai mukjizat ma’nawiyah[13] dengan mukjizat ‘aqliyah.[14]

Menurut al-Suyûthî, karena tingkat kemampuan akalnya yang rendah serta minimnya kekuatan pandangan nalar Bani Israil pada waktu Musâ diutus kepada mereka,[15] maka kebanyakan mukjizat yang ditampakkan kepada mereka bersifat hissiyah. Sementara itu, kebanyakan mukjizat yang ditampakkan kepada umat ini bersifat ‘aqliyah. Itu tidak lain karena mereka mempunyai tingkat kecerdasan yang tinggi dan kemampuan kognisi yang sempurna.[16] Hal ini dapat dipahami segera setelah kita sadar bahwa syari’at yang dibawa Nabi saw. berkarakteristik kekal-abadi sepanjang bentangan masa hingga hari kiamat. Jelasnya, syari’at dengan karakter seperti ini tentu membutuhkan mukjizat penopang yang menitikberatkan sentuhan-sentuhan rasional yang berdaya tahan abadi agar dapat dicerna dan diterima oleh umat manusia yang mempunyai daya nalar tinggi.[17] Dalam hal ini al-Qur’an termasuk dalam kelompok mukjizat ma’nawiyah-‘aqliyah.

Dalam memperjuangkan risalah yang diembannya, mukjizat ma’nawiyah-‘aqliyah (al-Qur’an) inilah yang menjadi penopang dan rahasia utama kesuksesan Rasulullah Saw. Walau diakui memang banyak pula mukjizat-mukjizat lain yang sifatnya hissiyah yang mempunyai arti tidak kecil bagi perjuangan risalahnya. Hanya saja, mukjizat-mukjizat hissiyah ini sifatnya temporer, kondisional, dan kadang berkenaan dengan person tertentu.[18] Hal mana memberi kesan yang tidak sealur dengan visi dan misi al-Qur’an yang tidak mengenal limitasi ruang dan waktu.

  1. D.    Hakikat Mukjizat al-Qur’an

Nabi Saw. menantang orang Arab dengan al-Qur’an melewati tiga fase. Pertama, Nabi Saw. menantang mereka dengan keseluruhan al-Qur’an dan dengan redaksi tantangan yang umum mencakup orang Arab dan non-Arab, bahkan jin dan manusia agar mereka bergabung mengerahkan segenap kemampuannya untuk membuat sesuatu yang semisal dengan al-Qur’an. Seperti digambarkan dalam QS. al-Isrâ`/17: 88. Kedua, Nabi Saw. menantang mereka untuk membuat sepuluh ayat saja yang semisal dengan al-Qur’an. Sebagaimana diceritakan dalam QS. Hûd/11: 13-14. Ketiga, terakhir, Nabi Saw. menantang mereka untuk membuat satu surat terpendek saja yang semisal al-Qur’an. Seperti diceritakan dalam QS. Yûnus/10: 38 dan al-Baqarah/2: 23.[19]

Sejatinya, mukjizat al-Qur’an tidak sebatas tantangan Nabi Saw. kepada orang Arab untuk membuat suatu bacaan yang sebanding atau, paling tidak, mirip dengan al-Qur’an seperti disebutkan di atas. Kalau pengertiannya serupa itu malah mempersempit hakikatnya yang sedemikian luas dan ideal. Sampel di atas lebih menggambarkan kemukjizatan al-Qur’an pada segi uslûb (redaksional) ayat-ayat al-Qur’an saja. Padahal al-Qur’an memuat multi dimensi mukjizat. Dalam keyakinan penulis, tema-tema pokok (al-mahâwir; the major theme) yang termuat dalam al-Qur’an, itulah dimensi-dimensi kemukjizatan al-Qur’an.[20]

Hal ini segera mendorong kita untuk lebih lanjut membahas segi-segi kemukjizatan al-Qur’ân (wujûh i’jâz al-Qur’ân). Namun sebelum sampai pada sub-bahas tersebut, dipandang perlu terlebih dulu menunjukkan beberapa bukti kemukjizatan al-Qur’an, sebagai pijakan bagi pembahasan tentang segi-segi kemukjizatan al-Qur’an lebih lanjut.

  1. E.     Beberapa Bukti Kemukjizatan al-Qur’an

Adabeberapa fakta historis dan sejumlah nas yang dapat kita nilai sebagai bukti bahwa al-Qur’an adalah benar-benar Kitab Mukjizat. Di antaranya:

Pertama, keyakinan kita bahwa al-Qur’an yang sekarang kita baca, yang terjaga dan termaktub dalam lembaran-lembaran mushhaf adalah benar- benar al-Qur’an yang dibawa Muhammad Saw., yang beliau bacakan kepada kaum sezamannya dalam rentang waktu sekitar 23 tahun.[21] Keyakinan ini berdasar atas kenyataan bahwa al-Qur’an diterima dan disampaikan dengan sandaran sanad yang mutawatir dari satu generasi ke generasi berikutnya, hal mana memberi jaminan akan orisinalitas dan otentisitas al-Qur’an.[22] Selain kemutawatiran periwayatannya, otentisitas al-Qur’an lebih diperkuat lagi dengan kenyataan historis bahwa al-Qur’an segera dikodifikasi dari catatan-catatan yang masih tercecer tidak lama setelah Nabi Saw. meninggalkan generasi awal umat ini. Hafalan-hafalan para penghafal yang tidak pernah luput dari generasi-generasi semakin memperkuat keutuhan dan kemurnian al-Qur’an yang telah terkodifikasi dalam catatan.[23]

Kedua, setelah kita yakin akan kemurnian al-Qur’an, dengan sendirinya kita mesti percaya atas kebenaran warta yang dibawanya. Dalam QS. al-Baqarah/2: 23-24, Hûd/11: 13-14, al-Isrâ`/17: 88 dan al-Thûr/52: 33-34,[24] al-Qur’an mengabarkan bahwa ia pernah menantang orang Arab yang terkenal dengan kesusastraannya yang tinggi untuk membuat rangkaian kata berupa ayat atau surat yang semisal dengan al-Qur’an. Mereka tidak mampu melakukan apa yang diminta al-Qur’an itu.[25] Adanya tantangan al-Qur’an dan ketidakmampuan pihak yang ditantang, dua hal yang merupakan syarat terwujudnya mukjizat, merupakan bukti bahwa al-Qur’an itu betul-betul merupakan mukjizat.[26] Jika mereka tidak mampu untuk menciptakan ayat atausurat yang semisal dengan al-Qur’an, maka mereka lebih tidak akan sanggup lagi untuk mendatangkan makna-makna, ajaran-ajaran dan dimensi-dimensi seperti yang dikandung oleh ayat-ayat al-Qur’an, sampai kapan pun.

Ketiga, pengaruh al-Qur’an terhadap orang Arab. Pengaruhnya terhadap orang Arab musyrikin terlihat pada pengakuan mereka akan keindahan gaya dan tata bahasa serta susunan redaksionalnya yang sangat memikat. Kenyataan inilah yang memaksa al-Walîd bin al-Mughîrah al-Makhzûmî untuk mengakui dan berterus terang kepada Abû Jahal bahwa al-Qur’an adalah al-haqq (kebenaran) yang luhur dan tidak ada yang lebih tinggi darinya.[27]

Sedang pengaruhnya terhadap orang Arab yang beriman, al-Qur’an lewat pendidikan yang diberikan pembawanya kepada para sahabat, telah mengubah jiwa mereka yang sebelumnya sarat dengan nilai-nilai buruk jahiliah menjadi jiwa-jiwa suci yang telah mencatat revolusi mental-sosial maha dahsyat dalam sejarah.[28]

Demikian beberapa bukti kemukjizatan al-Qur’an yang dapat dijadikan landasan historis dan normatif ketika membahas aspek-aspek kemukjizatan al-Qur’an.

  1. F.     Beberapa Aspek Kemukjizatan al-Qur’an

Merupakan kesepakatan para ulama bahwa al-Qur’an mempunyai mukjizat bukan hanya dalam satu sisi tertentu saja, melainkan dalam banyak aspek: lafzhiyah (aspek kebahasaan), ma’nawiyah dan hiyah. Semuanya menjadi satu kesatuan mukjizat yang manusia tidak mampu berbuat apa pun di hadapannya.[29]

Terdapat perbedaan dalam menentukan berapa jumlah aspek kemukjizatan al-Qur’an. Penulis dan pemikir Muslimah Mesir, Fâthimah Ismâ’îl dalam bukunya al-Qur’ân wa al-Nazhr al-‘Aql misalnya, lebih menekankan bahwa kemukjizatan al-Qur’an terdapat pada sisi rasionalitasnya. Al-Qur’an, menurutnya, senantiasa menyeru manusia dengan menggunakan bahasa akal. Contoh paling kentara adalah ketika kaum musyrik menuntut Muhammad mendatangkan ayat-ayat (mukjizat) yang bersifat materi-indrawi, dengan tegas al-Qur’an membalas tuntutan itu dengan jawaban rasional (QS. al-‘Ankabût/29: 50-51). Selain itu Rasul Saw. menyeru kaumnya seraya menegaskan bahwa al-Qur’an bukanlah tipe mukjizat yang menyepelekan akal dan budaya berpikir. Melainkan berupa ayat-ayat yang memerlukan tadabur dan penelaahan saksama yang mendalam akan isi kandungannya.[30]

Penulis dan pemikir Mesir lainnya, ‘Abbâs Mahmûd al-‘Aqqâd, lebih menyoroti sisi kemukjizatan al-Qur’an pada keseluruhan ideal-moralnya. Menurutnya, kemukjizatan al-Qur’an tertumpu pada relevansi ajaran akidah (falsafah qur’âniyah) yang dibawanya bagi kehidupan manusia tanpa mengenal batas ruang dan waktu.[31]

Bagi Râyid Ridhâ, selain terdapat pada keindahan uslub dan balaghahnya yang luar biasa, dia lebih menilik kemukjizatan al-Qur’an pada pengaruh kejiwaannya terhadap bangsa Arab umunya, dan terhadap penganutnya secara khusus. Al-Qur’an, menurutnya, telah melahirkan perubahan besar dan revolusi dahsyat yang dilakukan oleh mereka yang mempedomaninya dengan benar dan baik.[32]

Mannâ’ al-Qaththân mempunyai sorotan yang sama dengan Râsyid Ridhâ, yaitu ketika ia mengatakan bahwa al-Qur’an, bagaimana pun adalah Kitab Suci yang telah mengubah bangsa Arab para penggembala binatang ternak menjadi pemimpin dan pemegang kendali peradaban manusia. Kenyataan ini saja cukuplah menjadi kesaksian bagi kamukjizatan al-Qur’an.[33]

Sedangkan menurut ‘Abdul Wahhâb Khallaf, aspek-aspek kemukjizatan al-Qur’an antara lain: Pertama, keterpaduan dan keserasian antara ungkapan-ungkapan, makna-makna, hukum-hukum dan konsep-konsep yang dibawa dan ditawarkannya.[34] Al-Qur’an, dengan 6000 lebih ayat yang dikandungnya, ketika ia mengungkapkan sesuatu yang hendak disampaikannya, baik tentang masalah keimanan, akhlak, hukum, maupun beberapa konsep dasar tentang semesta, kehidupan sosial dan individual, menggunakan ungkapan-ungkapan dan redaksi yang bercorak dan beragam. Dalam keragaman ini tidak ditemukan adanya pertentangan dan kontradiksi satu sama lainnya.[35]

Kedua, kesesuaian ayat-ayatnya dengan penemuan-penemuan ilmiah.[36] Ketiga, kandungan beritanya tentang berbagai peristiwa yang hanya diketahui oleh Yang Maha Mengetahui tentang alam gaib.[37] Keempat, kefasihan kata-kata yang dipilihnya, keindahan redaksi yang digunakannya serta kekuatan pengaruh yang ditimbulkannya.[38]

Sementara itu al-Shabûnî menandai tidak kurang dari sepuluh aspek kemukjizatan al-Qur’an, sebagai berikut:

  1. Susunan kata-katanya yang sangat indah dan menarik, sangat berbeda dengan susunan yang kerap diucapkan oleh bangsa Arab.
  2. Susunan redaksional yang indah menawan, sangat berbeda dengan uslub-uslub orang Arab umunya.
  3. Kekayaan dan kepadatan makna yang dikandungnya. Tidak mungkin ada makhluk yang mampu mendatangkan ayat serupa ayat al-Qur’an.
  4. Muatan ajaran tasyriknya yang lengkap dan sempurna. Sama sekali berbeda dengan hukum-hukum buatan manusia.
  5. Berita-berita gaib yang diceritakannya yang tidak mungkin diketahui selain lewat wahyu.
  6. Tidak adanya pertentangan dengan ilmu-ilmu kealamsemestaan.
  7. Ketepatan janji dan ancamannya sesuai dengan apa yang diberitakannya.
  8. Ilmu dan pengetahuan yang dikandungnya (ilmu-ilmu syariah dan kauniyah).
  9. Memenuhi segala kebutuhan manusia.
  10. Pengaruhnya yang mendalam dalam hati para pengikutnya.[39]

Dari sekian aspek kemukjizatan al-Qur’an tersebut di atas, ada tiga sisi yang penulis anggap perlu dibahas secara tersendiri, yaitu al-i’jâz al-‘ilmî (kemukjizatan al-Qur’an dalam aspek ilmu pengetahuan kealaman), al-i’jâz al-lughawî (kemukjizatan al-Qur’an dalam aspek kebahasaan, uslub yang digunakan dan susunan serta tertib ayatnya) dan al-i’jâz al-tasyrî’î (kemukjizatan al-Qur’an dalam aspek ajaran syariat yang dikandungnya).

  1. 1.      Al-I’jâz al-‘Ilmî

Tentang hubungan al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan, Quraish Shihab menyatakan bahwa ada sekian kebenaran ilmiah yang dipaparkan oleh al-Qur’an, tetapi tujuan pemaparan ayat-ayat tersebut adalah untuk menunjukkan kebesaran Tuhan dan keesaan-Nya, serta mendorong manusia seluruhnya untuk mengadakan observasi dan penelitian demi lebih menguatkan keimanan dan kepercayaan kepada-Nya. Quraish lalu mengutip pendapat Mahmûd Syaltut yang mengatakan bahwa sesungguhnya Tuhan tidak menurunkan al-Qur’an untuk menjadi satu kitab yang menerangkan kepada manusia mengenai teori-teori ilmiah, problem-problem seni serta aneka warna pengetahuan.

Tentang hal ini, Quraish menyimpulkan enam hal:

  1. Al-Qur’an adalah kitab hidayah yang memberikan petunjuk kepada manusia seluruhnya dalam persoalan-persoalan akidah, tasyrik dan akhlak demi kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
  2. Tiada pertentangan antara al-Qur’an dan ilmu pengetahuan.
  3.  Memahami hubungan al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan bukan dengan melihat adakah teori-teori ilmiah atau penemuan-penemuan baru tersimpul di dalamnya, tapi dengan melihat adakah al-Qur’an atau jiwa ayat-ayatnya menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan atau mendorong lebih maju.
  4. Membenarkan atau menyalahkan teori-teori ilmiah berdasarkan al-Qur’an bertentangan dengan tujuan pokok atau sifat al-Qur’an dan bertentangan pula dengan ciri khas ilmu pengetahuan.
  5. Sebab-sebab meluasnya penafsiran ilmiah (pembenaran teori-teori ilmiah berdasarkan al-Qur’an) adalah akibat perasaan rendah diri dari masyarakat Islam dan akibat pertentangan antara golongan gereja (agama) dengan ilmuan yang dikuatirkan akan terjadi pula dalam Islam, sehingga cendekiawan Islam berusaha menampakkan hubungan antara al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan.
  6. Memahami ayat-ayat al-Qur’an sesuai dengan penemuan-penemuan baru adalah ijtihad yang baik, selama paham tersebut tidak dipercayai sebagai akidah Qur’aniyah dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip atau ketentuan bahasa.[40]

Pendapat Quraish ini senada dengan Mannâ’ al-Qaththân yang dengan tegas menyatakan bahwa orang telah melakukan kesalahan ketika dengan menggebu mengatakan bahwa al-Qur’an mengandung segala teori ilmiah. Keyakinan serupa ini, kata al-Qaththân, akan bertabrakan dengan kenyataan bahwa sifat teori-teori ilmu pengetahuan senantiasa berubah sejalan dengan dinamika perubahan waktu sesuai dengan sunnah kemajuan. Apa yang diklaim sebagai kebenaran ilmiah pada satu saat, pada saat mendatang tidak mustahil terbukti kesalahannya. Kemukjizatan ilmiah al-Qur’an, tegas al-Qaththân, justru terletak pada motivasinya untuk berpikir. Ia mendorong manusia untuk memperhatikan dan mencermati alam dan gejalanya, sambil memberikan akses dan porsi yang baik dan besar bagi akal. Al-Qur’an tidak pernah menghalang-halangi pemeluknya untuk menambah ilmu pengetahuannya kapan dan di mana pun.[41]

Sedangkan menurut Ahmad Baiquni, hubungan al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan kealaman adalah bahwa sebagai hamba Allah manusia dikaruniai akal serta pikiran untuk dapat memilih tindakan mana yang baik dan mana yang tidak untuk kebahagiaan akhiratnya, tetapi juga untuk bertahan hidup di dunia dan memanfaatkan lingkungannya sebagai sumber bahan pangan dan papan, sehingga ia dapat memperoleh kebahagiaan dunia sebagai khalifah yang bertanggung jawab. Untuk itu semua, Allah telah menurunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi seluruh manusia, secara garis besar, baik untuk ilmu keakhiratannya yang rinciannya ada di dalam Sunnah Rasul, maupun ilmu keduniaan yang rinciannya berada di dalam al-kaun (semesta).

Dengan bimbingan al-Qur’an manusia diarahkan agar mengembangkan sains untuk mengetahui sifat dan tingkah laku alam sekitarnya pada kondisi-kondisi tertentu, dan dengan penguasaan sains ini manusia dapat membuat kondisi yang sedemikian rupa hingga alam beraksi, yang mengarah pada hasil yang menguntungkannya; ia menciptakan teknologi. Dengan sains dan teknologilah manusia memanfaatkan dan melestarikan alam sekelilingnya sebagai layaknya penguasa yang baik. Kemampuan manusia untuk mengarahkan alam lingkungannya dengan teknologi agar alam beraksi yang menguntungkannya itu disebabkan karena Allah, Sang Pemurah dan Penyayang telah menetapkan peraturan-peraturan-Nya yang harus diikuti dengan taat oleh seluruh alam, dan manusia mengetahui Sunnatullah yang telah diberlakukan itu dari nazhr pada sisi langit dan bumi yang menghasilkan sains.[42]

  1. 2.      Al-I’jâz al-Lughawî

Al-Shabûnî menandai adanya tujuh karakteristik uslub al-Qur’an:

  1. Sentuhan serta nuansa kata-kata al-Qur’an yang indah dan menawan, seperti terlihat dalam keindahan bunyi dan nada yang ditimbulkan serta bahasa yang elok menarik.
  2. Membuat rela dan puas semua kalangan, baik khalayak awam maupun kalangan khusus tertentu. Dalam arti, semua sepakat mengakui keagungannya dan merasakan keindahannya.
  3. Memberikan kepuasan bagi akal dan emosi secara berbarengan. Ia menyentuh akal dan hati serta memadukan kebenaran dan keindahan secara apik dan indah.
  4. Kualitas pemaparan yang tinggi serta cara penuangan makna-makna yang kokoh. Keseluruhan al-Qur’an bak satu jalinan yang memikat dan memesona akal serta mengundang perhatian pandangan hati.
  5. Kelihaiannya dalam mengolah kata dan menuangkan aneka ragam penyampaian. Artinya, ia kerap menuangkan satu makna dengan beragam kata dan cara penuturan. Semua mempunyai nilai keindahan yang amat tinggi.
  6. Memadukan antara penuturan global dengan penjelasan detil.
  7. Singkat redaksi padat arti.[43]

Sekaitan dengan hal ini Rasyîd Ridhâ menulis:

Jika semua ajaran akidah Islam yang disampaikan al-Qur’an, seperti tentang keimanan kepada Allah, malaikat, rasul dan seterusnya disatukan secara urut dalam tiga surat saja; jika semua ajaran tentang ibadah disusun dan disatukan dalam beberapa surat saja; jika semua hukum, etika, nilai-nilai keutamaan yang diajarkannya disampaikan dalam sepuluh surat saja atau lebih; seandainya kaidah-kaidah dasar tentang hukum syariah, hukum-hukum perdata, politik, ekonomi, kepemilikan, sosial dan hukum-hukum pidana lainnya diurut dan disatukan dalam beberapa surat secara tersendiri; jika kisah-kisah yang dibawakan al-Qur’an dengan ajaran, petuah, dan wejangan yang dikandungnya dipaparkan dalam satu atau dua surat saja secara tersendiri layaknya buku sejarah; jika semua muatan al-Qur’an yang telah disebutkan dan yang belum disebutkan dipisahkan secara sendiri-sendiri, pastilah al-Qur’an akan kehilangan keistimewaan hidayah teragungnya dari ajaran tasyrik yang dibawanya, juga akan kehilangan hikmah dari diturunkannya al-Qur’an itu sendiri, yaitu ta’abbud, juga tentulah para penghafalnya akan kehilangan banyak ajaran, pelajaran, dan nilai-nilai ideal yang dikandungnya. Sebab, misalnya, jika ada orang yang hafal satu atau dua surat saja, maka yang akan ia dapatkan hanya satu ajaran saja, umpamanya tentang tentang akidah atau tentang hukum saja, sementara ajaran-ajaran lainnya luput darinya. Selain akan kehilangan banyak mutiara kandungan al-Qur’an, juga seandainya disusun secara sendiri-sendiri berdasarkan tema-tema tertentu, maka ia akan kehilangan ciri paling khas dari kemukjizatan al-Qur’an itu sendiri.[44]

  1. 3.      Al-Ij’jâz al-Tasyrî’î

Kemukjizatan al-Qur’an dalam aspek ini adalah bahwa al-Qur’an datang membawa manhaj tasyrî’ yang sempurna, yang menjamin terpenuhinya segala kebutuhan manusia seluruhnya pada setiap zaman dan tempat. Dengan ajaran ini kondisi manusia, baik sebagai individu maupun kelompok, menjadi mulia dan luhur, di dunia dan akhirat. Model tasyrî’ qur’ânî ini sangat berbeda dengan semua jenis hukum, aturan dan perundangan buatan manusia.[45]

Masmû’ Abû Thâlib menilik beberapa butir yang menjadi bukti kemukjizatan al-Qur’an dalam aspek ini. Sebagai berikut:

  1. Memperbaiki dan meluruskan akidah dengan jalan menunjukkan manusia akan hakikat asal kejadian (al-mabda`) dan akhir (al-ma’âd) kehidupan serta kehidupan di antara keduanya. Butir ini berisi ajaran tentang keimanan kepada Allah, malaikat, kitab, para rasul dan hari akhir.
  2. Memperbaiki dan meluruskan praktik ibadah dengan jalan menunjukkan manusia akan ajaran-ajaran dan nilai-nilai yang dapat menyucikan jiwa dan mental manusia.
  3. Memperbaiki akhlak dengan jalan menunjukkan manusia akan nilai-nilai keutamaan dan perintah untuk menjauhi segala bentuk kekejian dan keburukan, serta menjaga keseimbangan.
  4. Memperbaiki dan meluruskan kehidupan dengan jalan memerintahkan manusia agar mereka menyatukan barisan, menghapus segala benih fanatisme dan gap yang membawa kepada perpecahan. Ini dilakukan dengan jalan mengingatkan mereka bahwa mereka berasal dari jenis dan jiwa yang sama.
  5. Meluruskan kehidupan politik dan tata kehidupan bernegara. Ini dilakukan dengan jalan memancangkan keadilan mutlak, persamaan antara sesama manusia dan memelihara nilai-nilai luhur keutamaan seperti keadilan, dedikasi, kasih sayang, persamaan dan kecintaan dalam segala bentuk hukum dan interaksi sosial.
  6. Memperbaiki dan meluruskan perilaku ekonomi dan pendayagunaan harta, dengan jalan anjuran untuk membudayakan hidup hemat, memelihara harta dari kesia-siaan dan kepunahan.
  7. Meluruskan aturan perang dan perdamaian, dengan jalan memberikan pengertian hakiki tentang perang, larangan menganiaya, kewajiban menepati perjanjian dan mengutamakan perdamaian daripada peperangan.
  8. Memerangi sistem perbudakan dan anjuran untuk memerdekakan para budak.
  9. Membebaskan akal budi dan nalar pikir dari segala tiran yang membelenggunya, seraya memerangi pemaksaan, intimidasi dan absolutisme.[46]

 

  1. G.    Kesimpulan

Al-Qur’an memuat multidimensi yang kesemuanya diperuntukkan bagi kebaikan umat manusia. Sebanyak dimensi yang dikandung al-Qur’an sebanyak itu pula mukjizat yang dimilikinya. Itu tidak lain karena setiap dimensi yang dimilikinya, pada saat yang sama juga merupakan dimensi-dimensi kemukjizatan al-Qur’an. Dari sini kita dapat dengan tegas mengatakan bahwa al-Qur’an adalah seluruhnya mukjizat. Tidak ada pemilahan. Tidak ada di antara muatan al-Qur’an yang bukan mukjizat.

Wallâhu a’lam.


Daftar Pustaka

 

Abû Thâlib, Masmû Ahmad, Khulashah al-Bayân fî Mabâhits min ‘Ulûm al-Qur’ân,Cairo: Dâr al-Thibâ’ah al-Muhammadiyah, cet. I, 1994.

Al-‘Aqqâd, ‘Abbâs Mahmûd, al-Falsafah al-Qur’âniyah,Cairo: Dâr al-Hilâl, tt.

Baiquni, Achmad, al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan Kealaman,Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Primayasa, cet. I, 1996.

Al-Ghazâlî, Muhammad, al-Mahâwir al-Khamsah lî al-Qur’ân al-Karîm, Mansoura: Dâr al-Wafâ`, cet. I, 1989.

———-, Kayfa Nata’âmal ma’a al-Qur’ân,Virginia: International Institute of Islamic Though, cet. III, 1992.

Ismâ’îl, Fâthimah, al-Qur’ân wa al-Nazhr al-‘Aqlî, Virginia: International Institute of Islamic Though, cet. I, 1993.     

Khalaf, ‘Abdul Wahhâb, ‘Ilm Ushûl al-Fiqh,Cairo: Maktabah al-Da’wah al-Islâmiyah, cet. VIII, 1990.

Muhammad, Mamdûh Hasan, I’jâz al-Qur’ân lî al-Bâqilânî,Cairo: Dâr al-Amîn, cet. I, 1993.

Al-Qaththân, Mannâ’, Mabâhits fî ‘Ulûm al-Qur’ân,Beirut: Mansyûrât al-‘Ashr al-Hadîts, cet. III, 1973.

Ridhâ, Muhammad Rasyîd, al-Wahy al-Muhammadî,Beirut: al-Maktab al-Islâmî, cet. X, 1985.

Al-Shabûnî, Muhammad ‘Alî, al-Tibyân fî ‘Ulûm al-Qur’ân,Beirut: Mu`assasah Manâhil al-‘Irfân, cet. II, 1980.

Shihab, Muhammad Quraish, Membumikan al-Qur’an,Bandung: Mizan, cet. XIII, 1996.

Al-Suyûthî, Jalâluddîn, al-Itqân fî ‘Ulûm al-Qur’ân,Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah, cet. III, 1995.


[1]Muhammad al-Ghazâli, al-Mahâwir al-Khamsah lî al-Qur’ân al-Karîm, Mansoura: Dâr al-Wafâ`, cet. I, 1989, hal. 67.

[2]Al-Ghazâli, al-Mahâwir…, hal. 67.

[3]Lihat Muhammad al-Ghazâli, Kayfa Nata’âmal M’a al-Qur’ân, Virginia: International Institute of Islamic Though, cet. III, 1992, hal. 27.

[4]Penjelasan lebih gamblang tentang kedudukan al-Qur’an sebagai mukjizat terbesar Nabi Saw. dapat dilihat dalam Fâthimah Ismâ’îl, al-Qur’ân wa al-Nazhr al-‘Aqlî, Virginia: International Institute of Islamic Though, cet. I, 1993, hal. 188-192.

[5]Mannâ’ al-Qaththân, Mabâhits fî ‘Ulûm al-Qur’ân, Riyad: Mansyûrât al-‘Ashr al-Hadîts, cet. III, 1973, hal. 258.

[6]Masmû’ Ahmad Abû Thâlib, Khulashah al-Bayân fî Mabâhits min ‘Ulûm al-Qur’ân, Cairo: Dâr al-Thibâ’ah al-Muhammadiyah, cet. I, 1994, hal. 5.

[7]Yang dimaksud “tidak dapat memberikan perlawanan” adalah perlawanan yang dilakukan musuh selalu berakhir dengan kekalahan. Dengan demikian dianggap tidak ada perlawanan.

[8]Al-Qaththân, Mabâhits…, hal. 259.

[9]Muhammad Ali al-Shabûnî, al-Tibyân fî ‘Ulûm al-Qur’ân, Beirut: Mu`assasah Manâhil al-Irfân, cet. II, 1980, hal 90. Lihat juga ‘Abdul Wahhâb Khalaf, ‘Ilm Ushûl al-Fiqh, Cairo: Maktabah al-Da’wah al-Islâmiyah, cet. VIII, 1990, hal. 258-259.

[10] Masmû’ Abû Thâlib, Khulashah al-Bayân…, hal. 7-9.

[11]Al-Qaththân, Mabâhits…, hal. 258-259.

[12]Mukjizat hissiyah adalah mukjizat yang sifatnya materi atau inderawi; dapat dilihat dengan mata dan dapat ditangkap dengan panca indra seperti mengalirnya air pada jari-jari tangan Rasul, memperbanyak makanan yang sedikit, menyembuhkan penglihatan sahabat Qatâdah, dan lainnya.

[13]Masmû’ Abû Thâlib, Khulashah al-Bayân…, hal. 6.

[14]Jalâluddîn al-Suyûthî, al-Itqân fî ‘Ulûm al-Qur’ân, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah, cet. III, 1995, jilid 2, hal. 252.

[15]Selain dua alasan ini, kiranya dapat ditambahkan pula alasan lain seperti yang dikatakan oleh Masmû’ Ahmad Abû Thâlib, yaitu mukjizat-mukjizat nabi-nabi terdahulu masih mengenal limitasi waktu dan tempat, dan yang dapat menyaksikannya pun masih terbatas.

[16]Al-Suyûthî, al-Itqân…, jilid 2, hal. 252.

[17]Al-Suyûthî, al-Itqân…, jilid 2, hal. 252.

[18]Mamdûh Hasan Muhammad, I’jâz al-Qur’ân lî al-Bâqilânî, Mesir: Dâr al-Amîn al-Haram, cet. I, 1993, hal. 21.

[19]Al-Qaththân, Mabâhits…, hal. 259.

[20]Lihat misalnya al-Ghazâli, al-Mahâwir…Dalam buku ini Muhammad al-Ghazâlî secara umum menegaskan bahwa keitimewaan al-Qur’an itu terletak pada kesempurnaan ajaran-ajaran yang dibawanya yang menjamin kehidupan mereka yang mempedomaninya lebih baik, maju dan memiliki sosok peradaban yang dapat dijadikan anutan, jika mereka mampu menangkap pesan-pesan al-Qur’an. Karena itulah maka al-Qur’an tidak dapat dipersamakan dengan catatan-catatan biasa, dan situlah sebenarnya letak kemukjizatan al-Qur’an. Tentang hal ini ia tegaskan pula dalam bukunya yang lain, Kayfa Nata’âmal m’a al-Qur’ân. Hal senada juga diungkapkan oleh ‘Abbâs Mahmûd al-‘Aqqâd dalam  al-Falsafah al-Qur’âniyah, Cairo: Dâr al-Hilâl, tt. Penegasan lebih tajam dan mendalam tentang hal ini dapat pula disimak dalam Muhammad Rasyîd Ridhâ, al-Wahy al-Muhammadî, Beirut: al-Maktab al-Islâmî, cet. X, 1985, hal- 142-165.

[21]Mamdûh Hasan, I’jâz al-Qur’ân…, hal. 29.

[22]Mamdûh Hasan, I’jâz al-Qur’ân…, hal. 29.

[23]Mamdûh Hasan, I’jâz al-Qur’ân…, hal. 29. Dalam hemat penulis, hal ini selain sebagai dalil kemukjizatan al-Qur’an, pada saat yang sama juga merupakan salah satu sisi kemukjizatan al-Qur’an itu sendiri.

[24]Mamdûh Hasan, I’jâz al-Qur’ân…, hal. 30-31.

[25]Mamdûh Hasan, I’jâz al-Qur’ân…, hal. 31.

[26]Mamdûh Hasan, I’jâz al-Qur’ân…, hal. 31.

[27]Rasyîd Ridhâ, al-Wahy…, hal. 157.

[28]Rasyîd Ridhâ, al-Wahy…, hal. 163. Dalam buku ini dapat pula kita simak penjelasan mendalam Rasyîd Ridhâ ketika ia membandingkan pengaruh al-Qur’an terhadap bangsa Arab—utamanya para sahabat Nabi Saw.—dengan Toret terhadap Bani Israil. Dijelaskan bahwa betapa al-Qur’an betul-betul telah menjadi jiwa para sahabat yang nantinya melahirkan perubahan super cepat dan revolusi sosial yang maha besar. Adapun tentang efektifitas al-Qur’an dalam mengubah pola kehidupan dan jiwa para sahabat ini terekam dalam QS. al-Zumar/39: 23.

[29]Khalaf, ‘Ilm Ushûl…, hal. 27.

[30] Fâthimah Ismâ’îl, Al-Qur’ân wa al-Nazhr…, hal. 188-192.

[31]Al-‘Aqqâd, al-Falsafah al-Qur’âniyah…, hal. 10

[32]Rasyîd Ridhâ, al-Wahy…, hal. 163.

[33]Al-Qaththân, Mabâhits…, hal. 259.

[34]Khalaf, ‘Ilm Ushûl…, hal. 27. Di antara keserasian atau keseimbangan itu adalah:

  1. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan antonimnya. Seperti kata al-hayâh (hidup) dengan al-maut (mati) masing-masing sebanyak 145 kali, kata al-naf’ (manfaat) dan al-madharah (mudarat) masing-masing sebanyak 50 kali, dan sebagainya.
  2. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan sinonimnya/makna yang dikandungnya. Seperti kata al-harts dan al-zirâ’ah (membajak/bertani) masing-masing 14 kali, kata al- ‘ushb dan al-dhurur (membanggakan diri/angkuh) masing-masing 27 kali, kata al-Qur’ân, al-wahy dan al-Islâm masing-masing 70 kali.
  3. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan jumlah kata yang menunjuk kepada akibatnya. Seperti kata al-infâq (infak) dengan al-ridhâ (kerelaan) masing-masing 73 kali, kata al-bukhl (kekikiran) dan al-hasarah (penyesalan) masing-masing 12 kali, al-zakâh (zakat/penyucian) dan al-barakât (kebajikan yang banyak) masing-masing 32 kali.
  4. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan kata penyebabnya. Seperti kata al-isrâf (pemborosan) dengan kata al-sur’ah (ketergesa-gesaan) masing-masing 32 kali, al-maw’izhah (nasihat/petuah) dengan al-lisân (lidah) masing-masing 25 kali.
  5. Di samping keseimbangan-keseimbangan tersebut, ditemukan juga keseimbangan khusus, seperti kata yaum (hari) dalam bentuk tunggal sejumlah 365 kali, sebanyak hari-hari dalam setahun. Sedangkan kata hari yang menunjuk kepada bentuk plural (ayyâm) atau dua (yaumân), jumlah keseluruhannya hanya 30, sama dengan jumlah hari dalam sebulan. Di sisi lain, kata yang berarti bulan (syahr) hanya terdapat 12 kali, sama dengan jumlah bulan dalam setahun (lihat M. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an,Bandung: Mizan, cet. XIII, 1996, hal. 29-31).

[35]Khalaf, ‘Ilm Ushûl…, hal. 28.

[36]Khalaf, ‘Ilm Ushûl…, hal. 29.

[37]Khalaf, ‘Ilm Ushûl…, hal. 30.

[38]Khalaf, ‘Ilm Ushûl…, hal. 31.

[39]Al-Sahabûnî, al-Tibyân…, hal. 101-102.

[40]Shihab, Membumikan…,  hal. 51-60.

[41]Al-Qaththân, Mabâhits…, hal. 270.

[42]Ahmad Baiquni, al-Qur’an dan Ilmu Pengertahuan Kealaman, Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Prima Yasa, cet. I, 1996, hal. 19-20). Tentang hal ini baca juga al-Ghazâlî, Kaifa Nata’âmal…, hal. 137-146 dan al-‘Aqqâd, al-Falsafah al-Qur’âniyah…, hal. 11-13.

[43]Al-Sahabûnî, al-Tibyân…, hal. 105-106. Lihat juga al-Qaththân, Mabâhits…, hal. 264-269.

[44]Rasyîd Ridhâ, al-Wahy…, hal. 142-143.

[45]Masmû’ Abû Thâlib, Khulashah al-Bayân…, hal. 80.

[46]Masmû’ Abû Thâlib, Khulashah al-Bayân…, hal. 80-82.

Comments on: "I’JÂZ AL-QUR’AN; Wawasan tentang Beberapa Aspek Kemukjizatan al-Qur’an" (7)

  1. dudung basori alwi said:

    فتح الله عليك يا فضيلة الدكتور wa’ala barakatillah…!! tulisannya telah dikopas (permisi) berguna untuk mengajar di madrasah aliyah sesuai standar isi..LANJUTKAN…!!

  2. Assalamu’alaikum
    maaf, mohon izin kopas tulisannya yha
    untuk keperluan tugas kuliah Ushlubul-Qur’an

  3. kang ngiring copas…nembe tiasa calik deui di babancik kuliah heu…… nuhun pisan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: