Berpikir positif, bersikap & bertindak bijak

Sekilas Tentang Rezeki

Bertalian dengan bagaimana meraih rezeki, pertama al-Qur`an mendorong kuat untuk bekerja serta melarang menganggur dan bermalasan. Dalam banyak ayatnya al-Qur`an mendorong manusia untuk giat bekerja. QS al-Tawbah/9: 105 dan al-Mulk/67: 15 hanya contoh dari ayat-ayat termaksud. Rasulullah Saw. dan para sahabat mulia adalah contoh terbaik para pegiat di arena kerja. Tentang nilai dan keutamaan kerja Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Jika kiamat terjadi dan di tangan seseorang dari kalian ada benih tanaman, maka tanamlah benih itu” (HR Muslim).

Berikut petunjuk Rasulullah Saw. kepada seorang laki-laki dari Anshar saat datang kepada beliau. Beliau bertanya, “Adakah di rumahmu sesuatu?” Laki-laki itu menjawab, “Ya. Sehelai kain hilas; sebagiannya kami jadikan pakaian dan sebagiannya lagi kami jadikan alas (tikar), dan qa’ab (cangkir) yang biasa kami gunakan untuk minum.” Beliau berkata padanya, “Bawa keduanya padaku!” Orang itu pun membawa keduanya kepada beliau. Rasulullah Saw. lalu mengambil keduanya dan bersabda, “Siapa yang sudi membeli keduanya?” Seorang laki-laki berkata, “Saya membeli keduanya dengan satu Dirham.” Beliau bersabda lagi, “Siapa berani lebih dari satu Dirham?” Beliau mengulangi pertanyaannya dua atau tiga kali. Seorang laki-laki berkata, “Saya membelinya dengan dua Dirham.” Rasulullah Saw. pun memberikan kedua barang tersebut ke laki-laki itu dan mengambil dua Dirham darinya. Kemudian beliau memberikan dua Dirham ke laki-laki dari Anshar itu dan bersabda, “Gunakan salah satunya untuk membeli makanan lalu berikan ke keluargamu, dan gunakan satunya lagi untuk membeli kapak lalu berikan padaku.” Kemudian Rasulullah Saw. mengikat kayu dengan tangannya lalu bersabda kepada laki-laki itu, “Pergilah, jadikan kayu ini kayu bakar untuk dijual, lalu juallah dan jangan menemuiku selama 15 hari!” Laki-laki itu pergi, lalu mengolah kayu pemberian Nabi Saw. menjadi kayu bakar, kemudian menjualnya. Dari penjualan kayu bakar itu ia mendapat uang 10 Dirham. Sebagiannya ia belikan baju dan sebagian lainnya ia belikan makanan. Lalu ia mendatangi Rasulullah Saw. Melihat itu Rasulullah Saw. bersabda, “Ini lebih baik bagimu daripada meminta-minta yang akan menjadi sesuatu yang memalukan di wajahmu pada hari kiamat” (HR Abu Daud).

Ini merupakan dorongan nyata dari Rasulullah Saw. untuk bekerja, betapa pun sulitnya kondisi yang dihadapi. Beliau sangat tidak suka umatnya memilih kehinaan dengan meminta-minta. Bagaimana pun, kerja lebih baik dan memuliakan.

Kedua, sembari memacu usaha dan kerja guna meraih rezeki dan kehormatan diri, al-Qur`an juga menanamkan keyakinan bahwa hanya Allah pemberi dan penjamin rezeki semua hamba. Dia memberi rezeki tanpa lelah, tiada kata penat atau sulit. Sekiranya seluruh makhluk meminta-Nya dan Dia memberi mereka semuanya, sama sekali itu tidak akan mengurangi keluasan kepemilikan-Nya. Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman:

“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan aku telah menjadikannya haram di antara kalian. Maka janganlah kalian saling menzalimi. Wahai hamba-hamba-Ku, setiap kalian sesat kecuali orang yang Aku beri petunjuk. Mohonlah petunjuk pada-Ku maka Aku akan memberi petunjuk kepada kalian. Wahai hamba-hamba-Ku, setiap kalian lapar kecuali orang yang Aku beri makan. Maka mintalah makan kepada-Ku, Aku akan memberimu makan. Wahai hamba-hamba-Ku, setiap kalian telanjang kecuali orang yang aku beri pakaian. Maka mintalah pakaian kepada-Ku, Aku akan memberi kalian pakaian. Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian melakukan kesalahan malam dan siang dan Aku mengampuni dosa-dosa semuanya. Maka mintalah ampunan kepada-Ku, Aku akan mengampuni bagi kalian. Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan sanggup menimpakan kemudaratan pada-Ku dan kalian juga tidak akan mampu memberikan kemanfaatan bagi-Ku. Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang-orang terdahulu dari kalian dan orang-orang terakhir dari kalian, golongan manusia dari kalian dan golongan jin dari kalian, semuanya memiliki hati seperti hati orang yang paling takwa dari kalian, maka hal itu tidak akan menambah kerajaan-Ku sedikit pun. Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang-orang terdahulu dari kalian dan orang-orang terakhir dari kalian, golongan manusia dari kalian dan golongan jin dari kalian, semuanya memiliki hati seperti hati orang yang paling jahat dari kalian, maka hal itu tidak akan mengurangi kerajaan-Ku sedikit pun. Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang-orang terdahulu dari kalian dan orang-orang terakhir dari kalian, golongan manusia dari kalian dan golongan jin dari kalian, semuanya berdiri di satu tempat lalu mereka meminta-Ku dan Aku memberi setiap orang dari mereka semua permintaannya, maka hal itu tidak akan mengurangi apa yang ada pada-Ku kecuali seperti memasukkan jarum ke laut. Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya itu semua adalah amal-amal kalian, Aku mencatatkannya bagi kalian kemudian Aku membalasnya atas amal-amal itu. Barangsiapa menemukan kebaikan (pada catatan itu), maka pujilah Allah azza wa jalla. Dan barangsiapa menemukan selain itu (kejelekan), maka janganlah mencela selain dirinya” (HR Muslim).

 

Dari sini, yang harus dilakukan setiap insan terkait rezeki adalah berusaha sekuat tenaga dan seluas kemampuan disertai tawakkal kepada Allah.

Ketiga, rezeki sudah dijamin Allah. Maka buat apa gundah-gulana soal rezeki? Firman-Nya:

وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ * فَوَرَبِّ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ إِنَّهُ لَحَقٌّ مِّثْلَ مَا أَنَّكُمْ تَنطِقُونَ

Dan di langit ada rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti yang kamu ucapkan (QS al-Dzâriyyât/51: 22-23).

Al-Qur`an mengutuk orang-orang yang membunuh anak-anak mereka tanpa alasan apa pun selain ketakutan akan kemiskinan yang bakal menimpa anak-anak mereka:

وَلاَ تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئاً كَبِيراً

Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kami-lah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar (QS al-Isrâ`/17: 31).

وَكَأَيِّن مِّن دَابَّةٍ لاَّ تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ

Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS al-‘Ankabût/29: 60).

Suatu hari Ibrahim bin Adham duduk dan meletakkan beberapa kerat daging panggang di hadapanya. Seekor kucing datang dan mengambil sekerat daging itu lalu lari. Ibrahim mengikuti kucing itu dan mengawasinya di belakang. Ia mendapati kucing itu menyimpan sekerat daging di tempat tertutup di mulut sebuah lubang yang tembus ke dalam tanah. Sang kucing lalu pergi. Ibrahim semakin penasaran. Ia terus memantau dengan saksama apa gerangan yang akan terjadi selanjutnya. Tiba-tiba ia melihat seekor ular buta keluar dari dalam lubang lalu menarik daging ke dalam lubang. Ketika itu Ibrahim mengangkat wajah ke langit lalu berkata, “Mahasuci Engkau, wahai Zat Yang telah menjadikan pihak-pihak yang bermusuhan itu saling memberi makan satu sama lain.”

Pada kisah ini terdapat pelajaran bahwa rezeki yang telah Allah tentukan untuk seseorang tidak akan luput dari orang itu. Hanya saja ia harus berusaha untuk mendapatkannya, tidak cukup menunggu. Seandainya semua orang tahu dan mempercayai hakikat ini, maka tidak akan ada pencurian, perampokan, perampasan, korupsi, penggelapan, dan semacamnya. Tidak perlu gundah, tidak usah bekeluh-kesah, dan tidak boleh rakus. Santai saja, tapi penuh kepastian! Nabi Saw. pernah bersanda, “Anak Adam berkata, ‘Hartaku, hartaku!’ Lalu dikatakan padanya, ‘Wahai anak Adam, tidak ada hartamu kecuali apa yang kamu makan lalu habis, apa yang kamu pakai lalu lusuh, dan apa yang kamu berikan lalu habis’” (HR Muslim).

Keempat, banyak diberi rezeki bukan tanda dicintai Allah. Allah memberi rezeki bagi semua. Namun kadangkala orang jahat dan sesat mendapat rezeki lebih banyak, meraih dunia lebih luas. Di pihak lain, orang beriman dan baik-baik hidup dengan sempit rezeki. Jangan kira kelimpahan dan kelapangan rezeki merupakan tanda cinta Allah dan ridha-Nya terhadap yang bersangkutan.

Manusia termulia, manusia paling agung, makhluk paling dicintai dan mencintai Allah, Muhammad Saw., adalah pemimpin orang kecil, pembebas kaum dhu’afâ. Beliau memilih hidup seperti mereka. Ia hidup sederhana. Karena ia tahu, sebagian besar sahabatnya masih menderita. Ditahannya rasa lapar berhari-hari, karena ia mengerti bahwa sebagian sahabatnya juga sering mengalami kelaparan. “Aku duduk sebagaimana duduknya budak belian,” kata Rasulullah, “dan aku makan sebagaimana makannya budak belian.” Ia tidur di atas tikar kasar yang dianyamnya dengan tangan sendiri, dan sering tampak pada pipinya bekas-bekas tikar itu. ‘Umar bin Khaththab pernah meneteskan air mata karena terharu melihat rumah Rasulullah Saw. hanya diperlengkapi dengan ghariba (wadah air dari kulit) dan roti yang sudah menghitam. Ia memilih hidup sederhana, bukan karena ia mengharamkan yang halal, melainkan karena ingin merasa dekat dengan mereka yang paling miskin. Dia, sebagai pemimpin, tak ingin membuat jarak dengan mereka.

Suatu hari, beliau membeli sebuah sandal yang bagus. Dipandangnya dengan penuh kekaguman. Tapi setelah itu, beliau sujud memohon ampun kepada Allah, dan menyalahkan dirinya. Segera beliau keluar dan memberikan sandal itu kepada seorang miskin yang pertama beliau temui. Pada suatu hari, setelah perjalanan jauh, beliau dijamu oleh Aus bin Khaulah dengan susu dan madu. Rasulullah Saw. menolaknya, seraya berkata, “Aku tak ingin mengatakan bahwa ini haram, tetapi aku tak ingin pada hari kiamat nanti Allah bertanya kepadaku tentang hidup berlebihan di dunia ini (HR Ahmad bin Hanbal).

Kelima, setiap orang dibekali kemampuan, daya dan potensi diri. Namun dalam perkembangannya, antara yang satu dengan lainnya berbeda dalam hal kapasitas dan kualitasnya; bergantung pada sejauh mana masing-masing mereka menggali, mengasah, memupuk, mengembangkan dan memperkaya potensi dirinya. Perbedaan ini pada gilirannya berpengaruh pula terhadap perolehan mereka di lahan rezeki. Ini sudah merupakan aturan baku. Maka sikap iri dan dengki sangatlah bertentangan dengan aturan tersebut.

Alih-alih menyimpan sikap iri terhadap orang sukses di arena rezeki, mengapa tidak bangkit belajar kepada orang itu bagaimana menapaki tangga-tangga kesuksesan. Ketimbang mengembangkan sikap dengki kepada orang yang maju dalam bidang raihan rezeki, mengapa tidak belajar darinya dan kepadanya tentang bagaimana mengelola dan mengembangkan potensi diri menjadi kekuatan nyata di bidang tersebut.

Keenam, ketaatan (kesalehan) menjadikan rezeki diberkahi dan kemaksiatan membuat rezeki dicabut keberkahannya meski secara lahir banyak jumlanya. Keridhaan Allah hanya dapat diraih dengan ketaatan pada-Nya. Firman-Nya:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ القُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, pastilah Kami limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (QS al-A’râf/7: 96).

Dalam hal ini perhatikan juga QS al-Nahl/16: 112 dan al-Qalam/68: 17-20.

Ketujuh, orang yang rela dengan rezeki yang haram akan tercegah dari rezeki yang halal. Diriwayatakan dari Imam ‘Ali ra., bahwa beliau masuk masjid Kufah. Sebelum shalat beliau menitipkan hewan tunggangannya kepada seorang anak laki-laki. Setelah selesai shalat, beliau mengeluarkan uang Dinar untuk diberikan ke anak laki-laki itu. Tapi beliau mendapati anak laki-laki itu telah pergi sambil membawa tali pengikat hewan tunggangan yang dititipkan padanya. Lalu Imam ‘Ali menyuruh seorang laki-laki untuk membeli tali pengikat hewan tunggangannya tersebut dari anak laki-laki itu dengan harga satu Dinar. Laki-laki itu melakukannya dan kembali ke Imam ‘Ali sambil membawa tali pengikat hewan tunggangan Sang Imam. Ketika itu beliau berkata, “Mahasuci Allah. Itu adalah tali pengikat hewan tungganganku.” Laki-laki itu berkata, “Aku membelinya dari anak itu satu Dinar.” Imam ‘Ali berkata, “Mahasuci Allah. Aku hendak memberinya rezeki halal tapi ia tidak mau dan memilih mengambil yang haram!”

Menutup tulisan ini, tak ada celanya mengutip kata-kata penuh hikmah berikut:

Dikatakan kepada Nabi ‘Isa as., “Kiranya engkau berdoa kepada Allah untuk memberimu rezeki berupa keledai?” Nabi ‘Isa as. menjawab, “Aku lebih mulia dalam pandangan Allah daripada Dia menjadikanku pelayan keledai.”

Dikatakan kepada Abu Hazm, “Apa hartamu?” Ia menjawab, “Dua perkara: ridha terhadap Allah dan merasa cukup dari manusia.” Lalu dikatakan lagi padanya, “Engkau benar-benar miskin.” Ia berkata, “Bagaimana aku miskin, sedang Junjunganku adalah Pemilik apa yang ada di langit dan di bumi serta apa yang ada di antara keduanya dan apa yang ada di perut bumi.”

Dihikayatkan bahwa ‘Ubaidillah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ûd menjual rumah seharga 80 ribu Dirham. Dikatakan padanya, “Kamu akan menjadikan sebagian dari harta ini sebagai perbendaharaan untuk anakmu.” ‘Ubaidillah berkata, “Aku akan menjadikan harta ini sebagai perbendaharaan bagiku di sisi Allah dan aku akan menjadikan Allah sebagai perbendaharaan bagi anakku.” Kemudian ‘Ubaidillah menyedekahkan uang hasil penjualan rumahnya itu.

Sahal bin ‘Abdullah al-Marwazi sering dicela orang karena banyak bersedekah. Ia berkata, “Ketika seseorang pindah dari rumah ke rumah lain, apakah ia meninggalkan sesuatu di rumah pertamanya?”

Muriq al-‘Ajali berkata, “Wahai anak Adam! Tiap hari engkau diberi rezeki tapi engkau bersedih, sedang umurmu berkurang tapi engkau tidak bersedih. Engkau mencari apa yang membuatmu berlebih, padahal pada dirimu terdapat apa yang membuatmu merasa cukup.”

Comments on: "Sekilas Tentang Rezeki" (1)

  1. fikri farikhin said:

    sangat memotivasi buat saya Doktor.apakah saya bisa konsultasi masalah2 seperti ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: