Berpikir positif, bersikap & bertindak bijak

Salah satu tema yang kerap diperdebatkan oleh dua aliran besar dalam Islam (Ahlussunnah dan Syi’ah) adalah sahabat Nabi Saw., mulai dari definisi, keutamaan, kedudukan, kredibiltas, kualitas iman-Islam, dan kesetiaan mereka.

Di satu pihak, kalangan Ahlussunnah (Sunni) berpendirian bahwa label sahabat memberi “jaminan mutu” bagi siapa pun yang memiliki label tersebut. Jika si Fulan hidup di zaman Nabi Saw. dan secara definitif menyandang label sahabat, maka tersemat padanya jaminan ‘adâlah (kredibiltas dan kualitas yang menjadikannya dihukumi adil, saleh, bebas dari dosa besar dan setia pada ajaran Nabi Saw).

Sedang di pihak lain, kalangan Syi’ah berani mengkritisi siapa pun yang berlabel sahabat. Bagi mereka, beberapa pujian yang diberikan sejumlah ayat al-Qur`an kepada sahabat bersifat terbatas; terbatas personnya dan terbatas waktunya. Terbatas personnya dalam arti pujian itu tidak meliputi seluruh sahabat; satu persatu, melainkan hanya sebagian sahabat yang memiliki kualitas dan kredibiltas yang menjadikannya pantas mendapat pujian tersebut. Terbatas waktunya dalam arti mereka mendapat pujian untuk perbuatan tertentu dalam sekat waktu tertentu. Jika di kemudian hari mereka melakukan perbuatan yang menyimpang dari perbuatan terpuji yang pernah mereka tunjukkan maka dengan sendirinya pujian itu tidak layak lagi mereka dapatkan.

Di sisi lain pula, kaum Sunni menilai bahwa sahabat memiliki jasa, perjuangan, dan kontribusi tersendiri bagi perjalanan awal Islam. Kontribusi mereka itu sedemikian nyata dan besar dibanding kontribusi umat generasi setelahnya. Kenyataan ini membuat kalangan Sunni tidak tertarik untuk mengkritisi kehidupan sahabat baik semasa Nabi Saw. masih hidup maupun sepeninggal beliau. Kata-kata seperti ini, “Dibanding para sahabat, apalah jasa dan kontribusi kita bagi Islam? Tidak pantas kita mengorek kehidupan mereka yang memiliki jasa dan kontribusi nyata bagi perjuangan awal Islam,” menggambarkan keengganan kaum Sunni menelisik lebih jauh kualitas dan kredebilitas sahabat Nabi Saw.

Sementara di sisi lain, kaum Syi’ah memandang sahabat sebagai manusia biasa. Apa yang berlaku pada manusia biasa umumnya berlaku pula pada sahabat. Bagi kaum Syi’ah, satu-satunya keunggulan sahabat atas selain mereka adalah bahwa mereka hidup di zaman Nabi Saw., melihatnya dan menyatakan beriman kepada beliau; terlepas dari berapa lama kebersamaan mereka dengan beliau dan seperti apa kualitas iman mereka. Keunggulan ini, bagi kaum Syi’ah, tidak menjadikan sahabat berada di atas manusia lainnya. Sebaliknya, menurut kaum Syi’ah, sahabat adalah manusia biasa yang dapat diukur, ditakar, dan dikritisi sebagaimana manusia umumnya. Bagi kaum Syi’ah, menghormati sahabat secara umum tidak harus dilakukan sambil memandulkan sikap kritis terhadap perilaku sebagian mereka yang pernah terekam dalam bentang sejarah di mana Sunnah dan buku-buku sejarah ikut mencatatnya. 

Demikian, Sunni dan Syi’ah memiliki cara pandang dan argumen masing-masing. 

Comments on: "Sahabat di Mata Sunni dan Syi’ah" (1)

  1. Jadi sikap anda ada di fihak mana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: