Berpikir positif, bersikap & bertindak bijak

Lebih dari sekadar perasaan hati dan ekspresi ritualistik, agama sering mengaitkan kualitas keberagamaan para pemeluknya dengan kualitas akhlak. Agama memadukan rasa takut pada Tuhan dengan kemuliaan akhlak sebagai jalan menggapai kebahagiaan dunia-akhirat. Para nabi juga datang guna mewujudkan akhlak mulia.[1] Hubungan antara nilai-nilai akhlak dan keyakinan teologis-agamis begitu kuat; sedemikian erat. Nilai-nilai akhlak sejatinya merupakan pengarah langsung di ranah kehidupan praktis, sedang ajaran-ajaran teologis-agamis lebih banyak berkisar di wilayah penjelasan tentang baik-buruk, hakiki-palsu, sunnah-makruh, dan seterusnya.

Kombinasi apik antara agama dan akhlak tidak menyisakan satu sisi pun kehidupan—baik sisi ruhani atau jasmani, penalaran atau perasaan, individual atau kelompok—melainkan menggariskan satu pola yang lengkap dan ideal tentang bagaimana seharusnya bersikap dan bertindak pada sisi-sisi itu. Ada beberapa nilai akhlak-agamis, nilai-nilai mana menjadi simpul penghubung semua agama dengan segala perbedaan parsial non-signifikan di antara agama-agama itu. Nilai-nilai itu antara lain: Pertama, karâmah al-insân (manusia sebagai makhluk mulia). Tuhan menciptakan manusia dalam bentuk terbaik dan memuliakan mereka serta mengunggulkannya atas makhluk-makhluk lainnya.[2] Puncak pemuliaan Tuhan atas manusia adalah menjadikan mereka khalifah di bumi.[3] Kedua, toleransi. Sikap Islam terhadap agama-agama lain, terutama agama-agama samawi, jelas dan tegas. Yaitu sikap positif yang mengembangkan kasih-sayang dan persaudaraan. Islam mengakui peran agama-agama itu dalam memberi pengarahan dan perbaikan. Namun demikian, beberapa ajaran dan pemahaman dalam agama-agama itu yang sudah terkontaminasi tetap dikritik dan dikoreksi oleh Islam dengan cara yang baik yang mengedepankan kesantunan.[4] Lebih dari itu, Islam menandai dan mengakui beberapa titik temu, bahkan menegaskan arti penting titik-titik itu dalam pergaulan antarumat beragama.[5]

Ketiga, kebebasan beragama.[6] Islam menjamin kebebasan beragama bagi semua manusia. Dalam hal ini sejarah belum pernah menyaksikan keindahan toleransi seindah yang diperagakan oleh Islam terhadap agama-agama lain. Islam tidak pernah memaksa non-Muslim untuk masuk Islam. Islam membiarkannya memilih agama yang diinginkannya dengan segala konsekuensi dari pilihan bebasnya itu.[7] Keempat, menghormati rumah-rumah ibadah. Ini merupakan kelanjutan logis dari kebebasan beragama dan berkeyakinan. Islam membiarkan para pemeluk agama apa pun menjalankan ibadah sesuai ajaran agamanya masing-masing. Islam menyuruh pemeluknya menjaga rumah-rumah ibadah demi terlaksananya kegiatan ritual keagamaan di dalamnya. Islam juga malarang kaum Muslim melakukan penyerangan, pengrusakan, penghancuran, dan semacamnya terhadap rumah-rumah ibadah. Hal ini berlaku kapan pun; dalam keadaan perang sekali pun.

Kelima, Islam menggariskan bahwa antara Muslim dan non-Muslim memiliki hak dan kewajian yang sama. Tidak boleh ada sekat antara Muslim dan non-Muslim dalam berinteraksi dan bertransaksi. Sebesar kewajiban yang ditetapkan Islam atas kaum non-Muslim, sebesar itu pula jaminan yang diberikan Islam bagi terpenuhinya hak-hak mereka.[8] Keenam, Islam menuntut setiap Muslim memperlakukan semua orang dengan akhlak terpuji dan perlakuan yang baik. Dalam pandangan Islam, keindahan laku ada pada kebajikan, kasih-sayang dan memberi kebaikan bagi orang lain. Keindahan laku ini harus ditunjukkan pada siapa pun, pemeluk agama apa pun.

Lebih dari itu al-Qur`an mengakui eksistensi orang-orang yang berbuat baik dalam setiap komunitas beragama dan, dengan begitu, layak memperoleh pahala dari Tuhan. Prinsip ini memperkokoh ide pluralisme keagaamaan dan menolak eksklusivisme. Eksklusivisme keagamaan tidak sesuai dengan semangat al-Qur`an. Sebab al-Qur`an tidak membeda-bedakan antara satu komunitas agama dari lainnya. Prinsip ini digariskan oleh dua ayat al-Qur`an yaitu QS al-Baqarah/2: 62 dan al-Mâ`idah/5: 69. Sebuah eksposisi yang jarang sekali terjadi sebuah ayat al-Qur`an tampil dua kali dan hampir mirip kata per kata.[9]

Tapi ironisnya, yang kita alami sepanjang sejarah adalah bahwa hubungan antara Islam dan agama lain, terutama Kristen, memburuk setiap waktu. Sementara pada masa Nabi Saw. unsur-unsur persaudaraan dan harmoni begitu mencolok, generasi-generasi berikunya malah menghapusnya dengan ketegangan dan permusuhan. Nabi Muhammad Saw. sendiri selalu menganjurkan pengikutnya untuk mempromosikan pluralisme keagamaan yang di dalamnya komunitas agama yang berbeda-beda akan dapat hidup berdampiran dengan saling menerima dan menghormati, yang niscaya akan lebih meningkatkan toleransi, khususnya di antara Ahli Kitab. Hal ini muncul karena al-Qur`an memandang Ahli Kitab sebagai sebuah keluarga satu iman yang besar, berlaku dalam cara yang berbeda tetapi penyembah Tuhan yang Satu.[10]

Agama Kristen telah berhubungan dengan agama Islam selama lebih dari empat belas abad. Rentang waktu yang begitu panjang dan terus-menerus dalam hubungan itu telah menjadi saksi dari berbagai perubahan dan naik-turunnya batas-batas kebudayaan dan teritorial antara keduanya. Ia juga ditandai dengan periode panjang konfrontasi sekaligus kerja sama yang produktif. Tetapi, bagaimana pun juga, pola hubungan yang paling dominan antara kedua tradisi keimanan ini adalah permusuhan, kebencian, dan kecurigaan, ketimbang persabahatan dan saling memahami.[11]

Penyebab utama ketegangan hubungan antara kedua komunitas beragama ini berakar dari sikap interaksi superior-inferior. Penganut kedua agama mengklaim diri sebagai pengikut agama yang lebih unggul, dan dengan demikian masing-masing menyatakan bahwa agama mereka adalah satu-satunya jalan menuju keselamatan. Kedua agama menampilkan diri sebagai wahyu terakhir Tuhan; oleh karena itu adalah tugas mereka untuk mengajak orang lain untuk mengikuti agama mereka pula.[12]

Baik al-Qur`an maupun Injil Perjanjian Baru mengandung ajaran-ajaran yang dapat ditafsirkan sebagai perintah untuk melakukan dakwah di pihak Muslim dan penginjilan di pihak Kristen. Al-Qur`an Surah Âli ‘Imrân/3: 19 dan 85, misalnya, menyatakan bahwa agama yang diterima di sisi Allah adalah Islam, dan jika seseorang mengikuti agama lain selain Islam, mereka tidak akan pernah diterima. Demikian pula ayat penutup Injil St. Matius 28: 19-20 memerintahkan Komisi Besar untuk mencari murid dari seluruh bangsa.[13]

Dari paparan di atas, beberapa hal dapat dirumuskan. Di antaranya:

  1. Semua agama pada intinya mengajak pada kebaikan universal seperti keadilan, kesetaraan, kasih-sayang, tolong-menolong, dan nilai-nilai kemanusiaan lainnya. Pada nilai-nilai inilah agama-agama dapat bertemu dan bersatu. Nilai-nilai ini pula yang seharusnya mengemuka dan menjadi main streem dalam segala wacana tentang hubungan antarumat beragama.
  2. Di luar nilai-nilai universal, tidak dipungkiri terdapat beberapa perbedaan antara satu agama dengan agama lainnya. Semua agama memang mempercayai keberadaan Tuhan. Hanya saja konsep ketuhanan antara agama yang satu dengan lainnya berbeda-beda. Di luar konsep ketuhanan, terdapat pula pada tiap-tiap Kitab Suci ayat-ayat yang secara lahiriah-harfiah dapat memantik perseteruan dan konflik antarumat beragama. Tiap agama memiliki klaim bahwa kebenaran hanya ada di pihaknya (truth claim). Dalam al-Qur`an ada ayat yang menyatakan bahwa agama di sisi Allah hanya Islam[14] dan bahwa orang yang mencari agama selain Islam tidak akan diterima-Nya serta di akhirat kelak akan termasuk orang yang merugi.[15] Selain itu, dalam al-Qur`an juga terdapat beberapa ayat yang secara tekstual “mengumandangkan” perang terhadap pihak di luar Islam.[16] Ayat-ayat serupa inilah yang kerap memicu konflik antarumat beragama, terutama, di Indonesia, antara Islam dan Kristen.
  3. Hingga di sini muncul kesan kontradiksi: di satu sisi semua agama mengajarkan kebaikan dan dapat bertemu pada nilai-nilai universal, namun di sisi lain pada tubuh agama juga terdapat “benih-benih” konflik dengan umat pemeluk agama yang berbeda. “Benih-benih” ini dalam perkembangan selanjutnya benar-benar meledakkan konflik di ranah nyata. Kesan kontradiksi dalam internal agama harus diurai dan konflik antarumat agama harus diselesaikan.
  4. Untuk mengurai  kesan kontradiksi dalam internal agama dan untuk menyelesaikan konflik antarumat agama, tulisan ini mengajukan sebuah tawaran: Ayat-ayat yang bernada inklusif serta menyerukan perdamaian dan toleransi harus diarusutamakan, sedang ayat-ayat bernada eksklusif serta menyerukan perang dan intoleran harus ditafsirkan secara kontekstual dengan mengedepankan pendekatan ideal-moral ketimbang legal-formal. Tafsir kontekstual sendiri mensyaratkan keterlibatan pendekatan historis yang dalam Ulum al-Qur`an terwadahi oleh kajian Asbâb al-Nuzûl dan Makiyah-Madaniyah.
  5. Hemat saya, hanya dengan langkah yang disebut dalam poin di atas, format baru yang berkeadilan dalam hubungan antarumat beragama dapat dicapai. Yaitu format yang mengedepankan nilai-nilai universal, dialog yang setara dan santun, serta mengenyahkan simpul-simpul perbedaan parsial yang dapat menghambat laju kesepahaman dan kerukunan.


[1] Perhatikan antara lain hadits-hadits ini: “Hanya saja aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang saleh” (HR Ahmad), “Hanya saja aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia” (HR Baihaqi), dan “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat tempatnya denganku di hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya di antara kalian” (HR Tirmidzi).

[2] Lihat QS al-Isrâ`/17: 70; al-Tîn/95: 4, dan Ghâfir/40: 64.

[3] Lihat antara lain QS al-Baqarah/2: 30.

[4] QS al-‘Ankabût/29: 46.

[5] QS al-Baqarah/2: 62 dan al-Mâ`idah/5: 69.

[6] QS al-Baqarah/2: 256.

[7] QS Yûnus/10: 99-100. Baca juga QS al-Baqarah/2: 272.

[8] Dalam sebuah hadits Nabi Saw. bersabda: “Ingatlah, orang yang menzalimi seorang mu’âhid (non-Muslim yang terikat perjajian damai) dan mengurangi haknya, membebaninya di atas kemampuannya, atau mengambil darinya sesuatu tanpa kerelaan jiwanya, maka akulah pelindungnya pada hari kiamat (Rasulullah Saw, menunjuk dadanya dengan jarinya). Ingatlah, orang yang membunuh seorang mu’âhid yang memiliki jaminan dari Allah dan Rasulullah, maka Allah mengharamkan atasnya wanginya surga. Sesungguhnya wanginya surga sudah tercium dari jarak setara dengan pejalanan selama tujuh puluh musim gugur” (HR Baihaqi).

[9] Alwi Shihab, Islam Inklusif, Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama, Bandung: Mizan, cet. IV, 1998, hal. 108-109.

[10] Alwi, Islam Inklusif…, hal. 109.

[11] Alwi, Islam Inklusif, hal. 95.

[12] Alwi, Islam Inklusif…., hal. 92.

[13] Karena Islam dan Kristen adalah agama misioner, sering didapati di antara penganut-penganutnya kehendak untuk menunjukkan kekayaan warisan agamanya kepada orang lain. Tapi sayangnya, dalam upaya untuk memenuhi panggilan misioner ini, aktivitas misioner Kristen di kalangan kaum Muslimdan aktivitas dakwah kaum Muslim di kalangan kaum Kristen, terkadang menggiring pada gesekan-gesekan ketidakenakan di kedua pihak. Fenomena menyedihkan inilah yang menyebabkan makin bertambahnya ketegangan di berbagai tempat di dunia dan menunjukkan betapa mendesaknya dewasa ini upaya untuk menciptakan kondisi saling pengertian dan menghormati antara Islam dan Kristen (Alwi, Islam Inklusif…, hal. 92-93).

[14] QS Âli ‘Imrân/3: 19.

[15] QS Âli ‘Imrân/3: 85

[16] Baca antara lain QS al-Taubah/9: 29, 123, dan al-Baqarah/2: 191.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: