Berpikir positif, bersikap & bertindak bijak

  1. Pendahuluan

Salah satu topik dalam bidang ‘Ulum al-Qur`an adalah Qashash al-Qur`an (Kisah-kisah dalam al-Qur`an). Topik ini dikaji dengan dasar pemikiran bahwa salah satu isi kandungan al-Qur`an yang cukup menonjol serta memiliki fungsi praktis dalam dunia tarbiyah dan dakwah adalah kisah-kisah. Al-Qur`an menuturkan kisah sejumlah nabi dan rasul yang diutus ke kaum mereka masing-masing. Kepada kaumnya para nabi dan rasul mengajak untuk menyembah hanya kepada Allah dan menjauhi berhalaisme (watsaniyah); tuhan-tuhan palsu bikinan khayalan mereka sendiri. Para nabi dan rasul juga menyeru umatnya untuk menjalankan aturan (syariat) yang telah diturunkan-Nya guna mengatur kehidupan mereka dengan segala seginya: politik, ekonomi, sosial dan budaya. Para nabi dan rasul membawa misi membimbing manusia ke arah kemajuan dan kematangan berpondasikan nilai-nilai ilahiah.

Penggalan-penggalan kisah dalam al-Qur`an berada dalam naungan “rumah besar” bernama al-hady al-qur`ani (hidayah, petunjuk, arahan al-Qur`an). Semua penggalan itu, dengan segala ragamnya, panjang-pendeknya, detil-singkatnya, bermuara di rumah besar itu. Dengan demikian, kisah-kisah dalam al-Qur`an merupakan bagian tak terpisahkan dari aspek-aspek lain dalam al-Qur`an. Satu sama lain saling melengkapi dalam merealisasikan tujuan luhur diturunkannya al-Qur`an, yakni hudan li al-nâs.

Namun demikian, kisah-kisah dalam al-Qur`an umumnya masih dipandang dan diperlakukan sebagai kisah murni. Padahal sesungguhnya kisah-kisah itu merupakan gambaran jujur tentang segala kondisi masyarakat tertentu dengan segala muatan yang dikandungnya. Ia menggambarkan banyak aspek kehidupan seperti politik, ekonomi, sosial dan budaya. Sementara itu, model pembacaan yang ada sekarang umumnya belum beranjak dari pembacaan yang menyikapi kisah-kisah itu sebagai gejala keagamaan-normatif murni. Ketika kita membaca kisah Nabi Syu’aib as. misalnya, maka wacana yang mengemuka masih didominasi oleh wacana keagamaan murni. Pembangkangan yang dilakukan oleh umat Nabi Syu’aib masih dipandang sebagai pembangkangan dalam bidang akidah-keimanan semata.

Seperti telah disinggung bahwa kisah-kisah itu merupakan gambaran jujur tentang kondisi politik, ekonomi, sosial dan budaya masyarakat tertentu, maka perlu ada perluasan wawasan dan model pembacaan baru atas kisah-kisah itu yang lebih menekankan pada aspek-aspek tersebut. Bukan lagi membacanya sebagai gejala keagamaan murni yang tidak terkait dengan aspek-aspek kehidupan lainnya. Pada setiap kisah yang ditampilkan al-Qur`an terdapat nilai-nilai luhur bagi kehidupan manusia dengan segala aspek yang dikandungnya.

Tulisan ini berupaya: Pertama, melakukan penelusuran terhadap kisah-kisah para nabi dalam al-Qur`an. Kedua, kisah-kisah para nabi itu kemudian dikupas dan dikaji dengan penekanan pada aspek sosial. Kisah-kisah itu tidak lagi dipandang sebagai gambaran dari fenomena keagamaan murni melainkan sebagai fenomena sosial dalam sekup yang lebih luas. Dari sini diharapkan kisah-kisah itu “hidup” kembali di tengah para pembacanya sebagai pelajaran berharga dalam menjalani hidup dengan segala dinamika serta aspeknya.

 

  1. Tafsir Sosial Kisah Para Nabi
    1. Kisah Nabi Nûh as.[1]

Nabi Nûh diutus kepada kaumnya untuk mengajak mereka menyembah Allah (QS Nûh/71: 1-3). Tapi mereka enggan dan bersikeras dalam kekufuran (QS Nûh/71: 6-7). Al-Qur`an mengabarkan bahwa kaum Nabi Nûh adalah kaum yang fasik (QS al-Dzâriyât/51: 46), berbuat zalim dan sewenang-wenang (QS al-Najm/52: 52). Mereka, seperti dijelaskan al-Thabarî, gemar melakukan perbuatan yang dibenci Allah seperti berzina, minum arak, dan perbuatan-perbuatan keji lainnya.[2] Karena begitu bencinya kepada Nabi Nûh, mereka menyiksa beliau dan mencekiknya sampai pingsan. Ketika siuman beliau hanya berdoa, “Ya Allah, ampuni kaumku. Sesungguhnya mereka tidak tahu.”[3]

Setidaknya ada empat hal yang membuat mereka menolak seruan Nabi Nûh. Pertama, adanya sebuah kekuatan yang sangat berpengaruh dalam masyarakat kaum Nûh, yaitu kekuatan para tokoh agama tradisional. Mereka bahu membahu dengan struktur kekuasaan yang ada mempertahankan kepentingan bersama mereka. Kedua pihak sadar bahwa dakwah yang diserukan Nûh mengancam supremasi dan dominasi mereka (QS Nûh/71: 23).[4] Kedua, mereka merasa punya kekayaan yang jauh lebih banyak dan kedudukan yang jauh lebih tinggi daripada Nûh (QS al-Mu`minûn/23: 24).[5] Ketiga, kebanyakan pengikut Nûh berasal dari kalangan rakyat jelata (QS Hûd/11: 27).[6] Dan keempat, mereka mempertahankan status quo (QS al-Qashash/28: 36).

Seperti dalam kisah para nabi lainnya, orang-orang kafir selalu berkata bahwa mereka tidak mau meninggalkan agama nenek moyang mereka. Dalam gerakan perubahan sosial, “agama nenek moyang” bisa berarti status quo. Alasan demi melestarikan ajaran nenek moyang selalu digunakan oleh mereka yang disebut al-Qur`an sebagai al-malâ` untuk menolak seruan para nabi. Status quo selalu menghalangi mereka yang dimanja oleh struktur kekuasan yang korup untuk menerima perubahan sosial yang diserukan oleh para pembaharu.[7]

  1. Kisah Nabi Hûd as.[8]

Seperti disebutkan dalam QS Hûd/11: 50, Nabi Hûd as. diutus kepada kaum ‘Âd. Kaum ‘Âd adalah kaum yang pertama kali menyembah patung-patung berhala setelah terjadinya topan yang menghancurkan para pembangkang dari kaum Nabi Nûh as. Patung sesembahan mereka ada tiga: Shadd, Shamûd, dan Harâ.[9]

Sikap kaum ‘Âd terhadap seruan Nabi Hûd as. digambarkan QS al-A’râf/7: 66. Ayat ini menggambarkan adanya penindasan satu pihak atas pihak lain. Pihak penindas adalah al-malâ`, sedang pihak tertindas adalah Nabi Hûd as. Penindasan al-malâ` atas Nabi Hûd as. terlihat pada dua hal: Pertama, pandangan mereka bahwa Nabi Hûd kurang akal, dan kedua, anggapan mereka bahwa Nabi Hûd adalah pendusta. Bila satu pihak memandang pihak lain hina, lemah akalnya, atau bahkan pendusta, maka pihak pertama itu akan terdorong untuk berbuat sewenang-wenang, menindas, dan berlaku tidak adil terhadap pihak kedua. Dengan kata lain, penindasan terjadi karena satu pihak memandang pihak lain hina dan lemah. Itulah salah satu pelajaran yang dapat diambil dari ayat di atas (QS al-A’râf/7: 66) dan dari kisah-kisah perjuangan para nabi pada umumnya.

  1. Kisah Nabi Shâlih as.[10]

Nabi Shâlih as. diutus kepada kaum Tsamûd.[11] Al-Qur`an menginformasikan bahwa kaum Tsamûd memiliki kemahiran dalam bidang pertanian. Mereka memanfaatkan sumur-sumur dan mata air untuk mengairi lahan-lahan pertanian. Jadilah tanah-tanah mereka kebun-kebun yang kaya akan bermacam tanaman pertanian yang memenuhi kebutuhan pangan mereka. Mereka juga memiliki kecakapan dalam bidang konstruksi. Maka dibangunlah istana-istana megah di tanah-tanah datar. Ketika jumlah populasi bertambah, mereka naik ke dataran tinggi lalu membangun perumahan mewah di sana.[12] Peradaban Tsamûd tergambar antara lain dalam QS Al-A’râf/7: 74, Hûd/11: 61, dan al-Syu’arâ`/26: 146-149.

Namun, dengan segala kekayaan, kemewahan dan kelimpahan ini, mereka hidup dalam keberhalaan. Ketika Shâlih menyeru mereka menyembah Allah, para pembesar dan kalangan terpandang Tsamûd menolak seruan itu (QS Hûd/11: 62, al-Syu’arâ`/26: 153-154).

Seperti para nabi yang lain, yang mengikuti seruan Nabi Shâlih pun tak lain dari orang-orang yang oleh para pembesar dan pemuka masyarakat dianggap hina dan lemah (QS al-A’râf/7: 75).

Di sisi lain, bertambahnya kekayaan dan kemakmuran membuat tatanan sosial mereka terpecah ke dalam dua kelas sosial besar: golongan kaya yang berkuasa dan kelas miskin. Golongan pertama mulai memonopoli air dan tanah, dan mulai menindas orang-orang miskin. Kepada para penindas, Shâlih menuntut agar mengizinkan kabilah dan kawanan ternak gembalaan suku-suku miskin merumput di atas tanah-tanah umum. Inilah pesan yang hendak disampaikan Shâlih sebagaimana direkam (QS Hûd/11: 64-66).[13]

Kepada para penindas Shâlih memberi pernyataan tegas bahwa semua orang mempunyai hak yang sama atas air (sumber kehidupan):

 

 

 

Bahwa sesungguhnya air itu terbagi antara mereka; tiap-tiap giliran minum didatangi (oleh yang berhak)” (QS al-Qamar/54: 28-31).[14]

  1. Kisah Nabi Ibrâhîm as.[15]

Di antara ayat-ayat tentang Ibrâhîm, ayat yang secara khusus menggambarkan perdebatan Nabi Ibrâhîm as. dengan seorang raja yang zalim lagi sombong adalah QS al-Baqarah/2: 258. Kitab-kitab tafsir sepakat bahwa “orang yang mendebat Ibrâhîm tentang Tuhannya karena Dia telah memberikan kepada orang itu kekuasaan” yang disebut ayat tersebut adalah seorang tiran, raja Babilonia, Namrûdz bin bin Kan’ân bin Kûsy bin Sâm bin Nûh. Ia raja pertama di muka bumi ini yang berlaku tiran dan sewenang-wenang. Ada empat raja yang pernah mengusai dunia, dari timur hingga baratnya. Dua di antaranya mukmin dan dua sisanya kafir. Dua yang mukmin adalah Sulaymân bin Dâwud dan Dzul Qarnayn. Sedang dua yang kafir adalah Bakhtinshar dan Namrûdz bin Kan’ân.[16]

Kepada Ibrâhîm, Namrûdz meminta bukti akan adanya Tuhan yang diserukan oleh Ibrâhîm. Ibrâhîm berkata: “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan.” Dengan kata-kata ini Ibrâhîm seakan hendak menerangkan kepada Namrûdz:

“Bukti akan adanya Tuhan adalah adanya benda-benda yang kita saksikan ini setelah sebelumnya tidak ada, dan ketiadaan benda-benda itu setelah sebelumnya ada. Ini jelas merupakan bukti akan adanya Sang Pelaku yang berbuat atas keinginan-Nya sendiri. Benda-benda itu tidak terjadi (ada) dengan dirinya. Maka mesti ada Sang Pencipta yang mengadakannya. Yaitu Tuhan yang aku berseru untuk menyembah-Nya semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Jika kamu mengklaim bahwa kamu dapat menghidupkan dan mematikan, maka yang sesungguhnya menghidupkan dan mematikan adalah Zat Yang telah menciptakan alam wujud ini serta mengendalikan dan memperjalankan planet-planetnya. Maka terbitlah matahari ini tiap hari dari timur. Jika kamu adalah tuhan yang dapat menghidupkan dan mematikan seperti yang kamu klaim, maka terbitkanlah matahari itu dari barat!”[17]

Mendengar tantangan Ibrâhîm ini, Namrûdz tidak dapat berkutik; diam tak bicara. Kesombongannya kalah telak oleh argumen Ibrâhîm.[18] Setelah nyata bahwa ia tidak bisa berkutik di hadapan kekuatan semua argumen logis Ibrâhîm, sementara itu ia takut orang-orang akan beriman kepadanya, maka tidak ada jalan baginya selain menempuh kekerasan fisik: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak (QS al-Anbiyâ`/21: 68).” “Dirikanlah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrâhîm; lalu lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu” (QS al-Shâffât/37: 97).

Tapi Allah menyelamatkan Ibrâhîm:

Kami berfirman, “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrâhîm.” Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrâhîm, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. Dan Kami selamatkan Ibrâhîm dan Lûth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia (QS al-Anbiyâ`/21: 69-71).

Dua hal penting dapat diambil dari kisah dibakarnya Ibrâhîm. Pertama, kisah itu merupakan bukti bahwa para pemilik kekuasaan, apabila mereka kalah dalam adu argumen dengan para penentangnya, biasa menempuh cara kekerasan (pembunuhan) untuk menghabisi para penentangnya. Kedua, selamatnya Ibrâhîm dari api mengajarkan bahwa kekerasan, betapapun kejamnya, tidak mampu membunuh konsep yang lurus atau nilai-nilai kebenaran.[19]

  1. Kisah Nabi Syu’ayb as.[20]

Nabi Syu’ayb diutus kepada kaum Madyan. Seruan Syu’ayb kepada mereka direkam dalam QS al-A’râf/7: 85-86. Satu hal yang menarik dari ayat ini adalah bahwa seruan Syu’ayb kepada kaumnya untuk menyempurnakan takaran dan timbangan datang segera setelah seruannya untuk menyembah Allah. Ini dengan jelas menunjukkan bahwa makna ibadah mencakup kejujuran dalam bermuamalah (interaksi sosial). Tidak terkecuali kejujuran dalam hal takaran dan timbangan (dunia bisnis). Kejujuran menumbuhkan rasa aman dan nyaman. Keamanan dan kenyamanan adalah prasyarat bagi perkembangan dan kemajuan masyarakat.[21]

Hubungan yang tak terpisahkan antara ketaatan ritual dengan kesalehan sosial ini terlihat dari penolakan kaum Syu’ayb ketika ia menyuruh mereka menghentikan kebiasaan mempermainkan timbangan. Mereka berkata, “Hai Syu`aib, apakah agamamu yang menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami” (QS Hûd/11: 87).

Mereka, seperti kata al-Thabarî, hendak mengatakan: “Ini adalah harta kami. Kami berhak melakukan apa saja yang kami inginkan terhadap harta ini. Kami bisa mengambil sebagiannya, atau mengolahnya, atau bahkan membuangnya.”[22]

Syu’ayb menolak pola pikir egois mereka. Benar bahwa harta itu harta milik mereka. Tetapi dari sudut pandang sosial, mereka tidak memiliki hak untuk mempermainkan timbangan dan takarannya. Sebab itu merugikan harta milik orang lain. Dalam ungkapan lain, pengakuan atas kepemilikan pribadi tidak berarti setiap orang mempunyai kebebasan mutlak. Yang ada adalah kebebasan yang dibatasi oleh kemaslahatan umum.

Inilah sejatinya yang diperjuangkan Syu’ayb ketika ia menyeru mereka, “Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok” (QS al-A’râf/7: 86). Dalam konteks sosial, term “jalan Allah” pada ayat ini dapat dimaknai secara luas. Jalan Allah adalah jalan kebenaran, kejujuran, keadilan, kerja sama, kasih sayang dan solidaritas.

Seperti biasa, yang menolak ajaran yang diserukan Syu’ayb adalah mereka yang disebut al-Qur`an sebagai al-malâ`; kaum elite, para pembesar, kalangan terkemuka, mereka yang punya kuasa dan harta. Mereka menentang Nabi Syu’ayb bukan hanya karena ia menyerukan menyembah Allah, tetapi terutama karena ia memerintahkan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan tuntutan iman kepada Allah seperti mengurangi takaran dan timbangan serta kegiatan ekonomi lainnya yang merugikan orang lain. Ajaran sosial yang dibawa Syu’ayb mengancam kepentingan pribadi mereka. Maka berbagai cara mereka gunakan untuk melawan Syu’ayb dan memberantas ajarannya.[23]

Di lain pihak, kelompok masyarakat yang oleh al-malâ` biasa dijuluki arâdzil (orang-orang hina dan rendah) antusias menyambut dakwah Syu’ayb. Dan seperti biasa, guna membendung pengaruh ajaran Syu’ayb, al-malâ` mengancam, menindas dan mengintimidasi para arâdzil (QS al-A’râf/7: 88 dan al-A’râf/7: 90).

  1. Kisah Nabi Mûsâ as.[24]

Dari rangkaian kisah Nabi Mûsâ bersama kaumnya, yang menarik untuk diangkat dalam konteks ini adalah kisahnya ketika berada di Mesir yang melibatkan tiga pihak: Fir’aun dan para pengikutnya sebagai mustadh’ifîn (para penindas), komunitas Banî Isrâ`îl sebagai mustadh’afîn, dan Mûsâ sebagai pembebas Banî Isrâ`îl dari penindasan Fir’aun dan para pengikutnya. Kisah Mûsâ yang melibatkan tiga pihak ini secara lengkap dituturkan dalam QS al-Syu’arâ`/26: 10-69.

Kisah Mûsâ yang terdapat dalam surat al-Syu’arâ ini sejalan dengan tema surat serta tujuannya secara umum. Yaitu: (1) Menerangkan akibat buruk yang menimpa orang-orang yang membohongkan risalah para nabi; (2) menenangkan dan menghibur Rasulullah Saw. atas penolakan kaum musyrikin terhadap dakwah beliau; dan (3) meyakinkan adanya jaminan perlindungan Allah bagi risalah-Nya dan bagi orang-orang yang beriman kepada seruan-Nya, meskipun mereka secara lahir lemah sedang musuh-musuhnya kuat, kejam serta gemar mengganggu dan menyiksa orang-orang beriman. Keadaan seperti itulah, yakni lemah dan tertindas, yang dialami kaum muslimin di Mekah ketika surat ini turun.[25]

Kisah Mûsâ dalam surat al-Syu’arâ terbagi ke dalam tujuh bagian:

1)   Seruan Tuhan kepada Mûsâ, pengangkatan menjadi nabi, menerima wahyu, dan munajat Mûsâ dengan Allah (ayat 10-17).

2)   Kedatangan Mûsâ kepada Fir’aun dan para pengikutnya sambil membawa risalah serta berbekalkan beberapa mukjiat (ayat 18-33).

3)   Perintah Fir’aun untuk mengumpulkan para tukang sihir dan pengerahan massa untuk menyaksikan pertandingan besar antara Mûsâ melawan para tukang sihir (ayat 34-40).

4)   Kehadiran para tukang sihir di hadapan Mûsâ (ayat 41-44).

5)   Pertandingan yang ditunggu-tunggu antara Mûsâ dan para tukang sihir yang berakhir dengan imannya para tukang sihir kepada Mûsâ, dan kemarahan serta ancaman Fir’aun kepada para tukang sihirnya yang beriman kepada Mûsâ (ayat 45-52).

6)   Terbagi menjadi dua bagian: a) wahyu Allah kepada Mûsâ agar ia pergi di malam hari membawa Banî Isrâ`îl (ayat 52); dan b) Fir’aun mengumpulkan tentaranya lalu memerintahkan mereka mengejar Banî Isrâ`îl (ayat 54-61).

7)   Berhadapannya rombongan Mûsâ dengan pasukan Fir’aun di tepi laut, terbelahnya laut, tenggelamnya Fir’aun dan pasukannya dan selamatnya Mûsâ dan rombongannya (ayat 62-69).

Kepada Fir’aun dan para pengikutnya, Mûsâ diutus Allah untuk sedikitnya melakukan dua hal: Pertama, mengajak Fir’aun dan para pengikutnya mengikuti ajaran yang diterimanya dari Allah (QS al-Syu’arâ`/26: 16). Kedua, membebaskan Banî Isrâ`îl dari kekejaman, penindasan dan perbudakan Fir’aun dan para pengikutnya (QS al-Syu’arâ`/26: 17).

Tanggapan Fir’aun atas seruan tauhid dan pembebasan Mûsâ dilukiskan dalam (QS al-Zukhruf/43: 51-54). Sambil menyombongkan diri, Fir’aun mengejek Mûsâ sebagai orang hina. Kemudian ia coba membujuk Mûsâ menghentikan seruannya dengan berkata,

 

 

 

 

 

Bukankah kami telah memelihara kamu sejak kamu kecil di tengah-tengah kami dan kamu tetap bersama kami selama bertahun-tahun dalam hidupmu? (QS al-Syu’arâ`/26: 18). Fir’aun juga menyindir Mûsâ sebagai pembunuh dan penghasut orang-orang Banî Isrâ`îl (QS al-Syu’arâ`/26: 19).

Atas itu semua, Mûsâ menjawab:

 

 

Aku telah melakukannya, sedang aku di waktu itu termasuk orang-orang yang khilaf. Lalu aku lari meninggalkan kamu karena aku takut kepadamu, kemudian Tuhanku memberikan kepadaku ilmu dan Dia menjadikanku salah seorang di antara rasul-rasul. Budi yang kamu sebut-sebutkan kepadaku itu adalah (disebabkan) kamu telah memperbudak Banî Isrâ`îl (QS al-Syu’arâ`/26: 20-22).

 

Jawaban Mûsâ di atas mengandung pesan bahwa sesungguhnya Banî Isrâ`îl adalah hamba Allah semata. Oleh karena itu tidak pantas sama sekali Fir’aun memperbudak mereka untuk melayani dan menyembah-nyembah dirinya. Seorang manusia tidak mungkin melayani dua tuan dan menyembah dua tuhan. Seorang yang menjadi hamba Tuhan tidaklah mungkin menjadi hamba selain-Nya.[26]

Para pengikut setia dan pembesar kerajaan Fir’aun juga ikut bicara:

Apakah kamu membiarkan Mûsâ dan kaumnya berbuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu? Fir’aun menjawab, “Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup, perempuan-perempuan mereka; dan sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka” (QS al-A’râf/7: 127).

 

Fir’aun berkata kepada mereka:

Biarkanlah aku membunuh Mûsâ dan biarlah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agama-agama atau menimbulkan kerusakan di muka bumi (QS al-Mu’min/40: 26).

Lalu,

 

Mereka berbantah-bantah sesama mereka tentang urusan itu, dan mereka merahasiakan percakapan. Mereka berkata: “Sesungguhnya kedua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama” (QS Thâhâ/20: 62-63).

 

Maka,

 

 

 

 

 

Himpunlah segala tipu dayamu sekalian, kemudian datanglah dengan berbaris, dan sesungguhnya beruntunglah orang yang menang pada hari ini. (Setelah mereka berkumpul) mereka berkata: “Hai Mûsâ (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah yang mula-mula melemparkan?” Berkata Mûsâ: “Silahkan kamu sekaliuan melemparkan.” Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka terbayang kepada Mûsâ seakan-akan ia merayap cepat, lantara sihir mereka (QS Thâhâ/20: 64-67).[27]

 

Kemudian Allah memerintahkan Mûsâ:

 

 

 

 

Lemparkanlah tongkatmu! Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan. Karena itu nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan. Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina (QS al-A’râf/7: 117-119).

 

Dalam pertandingan ini Mûsâ tampil sebagai pemenang. Kebenaran Mûsâ mengalahkan kebatilan Fir’aun. Kisah Mûsâ memberi pelajaran bahwa kebenaran selalu menang, dan kezaliman tidak pernah bertahan:

Kemudian Kami menghukum mereka (Fir’aun dan para pengikutnya), maka Kami tenggelamkan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikannya. Dan Kami wariskan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan sempurnalah janji Tuhanmu yang baik untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka (QS al-A’râf’/7: 136-137).[28]

 

Pewarisan bumi atau istikhlâf bagi Banî Isrâ`îl itu tidak terjadi di Mesir dan bukan di tempat Fir’aun dan sesembahannya. Melainkan di negeri Syâm, setelah beberapa puluh tahun dari tenggelamnya Fir’aun, setelah wafatnya Nabi Mûsâ dan setelah peristiwa padang Tîh selama 40 tahun sebagaimana dijelaskan dalam surat yang lain. Jadi, ayat 136-137 surat al-A’râf di atas sesungguhnya menyingkat cerita dengan tujuan menampilkan dua peristiwa yang saling berlawanan: kehancuran Fir’aun dan para pengikutnya di satu sisi, dan istikhlâf atau kemenangan bagi Banî Isrâ`îl pada sisi lain. Namun harus dipahami bahwa keduanya—meski dari segi rentang waktu agak berjauhan—berhubungan secara dialektis, atau mempunyai hubungan sebab-akibat pada beberapa aspeknya.[29]

 

  1. Kisah Nabi ‘Îsâ as.[30]

Nabi ‘Îsâ diutus kepada Banî Isrâ`îl (orang-orang Yahudi) untuk meluruskan penyimpangan-penyimpangan yang mereka lakukan atas ajaran Nabi Mûsâ dan untuk membebaskan mustadh’afîn yang ditindas oleh para pemuka agama, para penguasa dan para pejabat.[31]

Di antara ajaran Nabi Mûsâ untuk Banî Isrâ`îl adalah menghormati hari Sabtu dan mengkhususkannya untuk ibadah. Namun lama-kelamaan hikmah di balik penghormatan terhadap hari Sabtu lenyap. Hari Sabtu kini hanya menjadi lahan untuk menerapkan teks-teks agama secara harfiah dan kaku. Hari Sabtu memang masih disucikan oleh orang-orang Yahudi. Namun mereka mengisinya dengan rangkaian upacara ritual-formalistik yang hampa makna.[32]

Di hari Sabtu, ‘Îsâ pergi menuju kuil Yahudi.  Kuil dipenuhi domba dan burung merpati persembahan para pengunjung untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Setiap langkah di dalam kuil harus dibayar dengan uang. Di kuil ‘Îsâ melihat bahwa satu-satunya nilai yang dipuja pada waktu itu adalah uang. Kekayaan materil merupakan satu-satunya nilai yang diperebutkan oleh semua orang. Entah itu tokoh agama atau tokoh non-agama.

Di luar kuil ia melihat orang-orang miskin tidak sanggup membeli hewan kurban dan bagaimana para pendeta memperlakukan mereka layaknya binatang. ‘Îsâ berpikir bagaimana hewan-hewan kurban itu dibakar dan dagingnya menjadi asap di udara, sementara ribuan orang miskin mati kelaparan. Mengapa orang-orang miskin dipaksa membeli hewan kurban kepada para pendeta? Apa yang dilakukan para pendeta itu dengan uang hasil penjualan hewan kurban? Dan di manakah tempat kaum miskin dalam kuil itu? Sebab yang ada di sana hanya orang-orang kaya. Sangat aneh, mengapa orang baru boleh masuk tempat ibadah kalau membawa uang.[33]

Kepada kaum yang keadaannya seperti itu ‘Îsâ diutus. Ia menyeru mereka:

Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad). Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata” (QS al-Shaff/61: 6).

 

Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia (QS Âli ‘Imrân/3: 51)

 

Seperti dakwah para nabi lainnya, dakwah ‘Îsâ ditanggapi kaumnya dengan penolakan dan tuduhan. Mereka berkata, Ini adalah sihir yang nyata (QS al-Shaff/61: 6). Dan seperti biasa pula, selalu ada kelompok kecil yang menyambut risalah para nabi:

Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israil) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?”[34] Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri. Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah)” (QS Âli ‘Imrân/3: 52-53).

 

Para tokoh agama dan para pembesar kaum yang menolak seruan ‘Îsâ kemudian melaporkan kepada raja kafir pada waktu itu bahwa di wilayah kekuasaannya ada seorang laki-laki yang menyesatkan manusia, memalingkan mereka dari menaati raja, menghasut rakyat, memecah belah hubungan seorang ayah dengan anaknya, dan kebohongan-kebohongan lainnya. Mereka juga mengatakan secara dusta kepada sang raja bahwa laki-laki itu terlahir sebagai anak zina. Mereka berhasil memancing kemarahan sang raja. Maka ia memerintahkan supaya laki-laki itu didatangkan kepadanya untuk disalib dan disiksa.[35]

 

 

 

 

 

 

  1. Penutup

Pada setiap kisah dalam al-Qur`an, terutama kisah para nabi, terusung pesan-pesan sosial. Dalam kerangka inilah seharusnya kisah-kisah dalam al-Qur`an dibaca, dipahami dan dinalar. Kisah-kisah dalam al-Qur`an bukan kumpulan cerita tanpa tujuan luhur yang hendak dicapai, bukan pula dongeng yang disajikan sekadar pelengkap-penyempurna sebuah topik atau pembahasan. Lebih dari itu, kisah-kisah dalam al-Qur`an membawa misi besar berupa perubahan sosial yang mendasar dan menyeluruh.

Dari kisah Nabi Nûh as. misalnya, kita tahu bahwa dakwah beliau bertujuan mengadakan perubahan secara mendasar. Perubahan ini berbenturan dengan kepentingan al-malâ` (elite). Perubahan yang diusung Nûh menjamin keadilan, kedamaian dan kesejahteraan bersama. Tidak aneh jika seruannya disambut antusias oleh kalangan bawah (arâdzil) yang merupakan mayoritas masyarakat. Sedangkan kisah Nabi Mûsâ as. mengajarkan bahwa ajaran tauhid meniscayakan setidaknya dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain: Mengabdi hanya kepada Allah, dan tidak ada perbudakan manusia atas sesamanya. Dan begitu seterusnya pada kisah-kisah para nabi lainnya.

 

 

Daftar Pustaka

Ali, Yûsuf, The Glorious Kur`an, Lahore: Idârât al-Buhûts al-’Ilmiyah wa al-Iftâ` wa al-Da’wah wa al-Irsyâd, tt.

Al-Alûsî, Mahmûd, h al-Ma’ânî fî Tafsîr al-Qur`ân al-‘Azhîm wa al-Sab’ al-Matsânî, Beirut: Dâr Ihyâ` al-Turâts al-’Arabî, tt.

Al-Baghawî, al-Husayn bin Mas’ûd, Ma’âlim al-Tanzîl, Beirut: Dâr al-Ma’rifah, cet. II, 1987 M/1407 H.

Bahjat, Ahmad, Anbiyâ` Allâh, Kairo: Dâr al-Syurûq, cet. XXXII, 2006.

Al-Barâwî, Râsyid, al-Qashash al-Qur`ânî; Tafsîr Ijtimâ’î, Kairo: Dâr al-Nahdhah al-’Arabiyah, cet. I, 1978.

Al-Baydhâwî, ‘Abdullâh bin ‘Umar, Anwâr al-Tanzîl wa Asrâr al-Ta`wîl Tafsir, Beirut: Dâr al-Fikr, 1996.

Haque, Ziaul, Revelation & Revolution in Islam (terj. Wahyu dan Revolusi oleh E. Setiyawati Al Khattab), Yogyakarta: LKíS, cet. I, 2000.

Ibn Katsîr, Ismâ’îl, Qashash al-Anbiyâ’, Kairo: Dâr al-Salâm, cet. I, 2002.

Quthb, Sayyid, Fî Zhilâl Al-Qur`an, Kairo: Dâr al-Syurûq, cet. XVII, 1990.

Shihab, Quraish, Tafsîr al-Misbâh, Jakarta: Lentera Hati, cet. I, 2002.

Al-Thabarî, Muhammad bin Jarîr, Jâmi’ al-Bayân ‘an Ta`wîl Ayy al-Qur`ân, Beirut: Dâr al-Fikr, 1405 H.

———-, Târîkh al-Umam wa al-Mulûk (Târîkh al-Thabarî), Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiah, cet. I, 1407 H.

Al-Thabâthabâ`î, Muhammad Husayn, al-Mîzân fî Tafsîr al-Qur`ân, Beirut: Mu`assasah al-A’lamî lî al-Mathbû’ât, cet. I, 1991.


[1] Kisah Nabi Nûh as. dalam al-Qur`an tersebar dalam beberapa ayat: al-Dzâriyât/51: 46; al-Najm/53: 52; Nûh/71: 1-3, 5-23, 26-27; Yûnus/10: 71-73; Hûd/11: 26-27, 31-32, 36-38, 40-44, 46; al-Mu`minûn/23: 24-25; al-Syu’arâ`/26: 111-116; al-Qamar/54: 9-10; al-A’râf/7: 60-63, dan al-‘Ankabût/29: 14.

[2] Muhammad bin Jarîr al-Thabari, Târîkh al-Umam wa al-Mulûk (Târîkh al-Thabarî), Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiah, cet. I, 1407 H, vol. 1, hal. 112.

[3] Al-Thabari, Târîkh al-Umam…, vol. 1, hal. 114.

[4] Râsyid al-Barâwî, al-Qashash al-Qur`ânî; Tafsîr Ijtimâ’î, Kairo: Dâr al-Nahdhah al-’Arabiyah, cet. I, 1978, hal. 58.

[5] Mereka hendak mengatakan: “Mengapa Tuhan tidak mengutus salah seorang pemimpin kaum yang lebih kaya, lebih terpandang dan lebih mulia para pengikutnya dari Nûh? Jadi sesunguhnya Allah tidak mengutus Nûh. Ia hanya mengaku menjadi rasul agar dipandang lebih mulia dari kami.” Kata-kata seperti ini pula yang dikatakan Fir’aun kepada Mûsâ dan Hârûn, dan dilontarkan kaum musyrik Arab kepada Muhammad Saw. (al-Barâwî, al-Qashash al-Qur`ânî…, hal. 59).

[6] Nabi Nûh tidak membantah bahwa para pengikut beliau adalah orang-orang lemah. Kelemahan sekelompok orang dalam masyarakat pada umumnya disebabkan oleh penindasan kelompok kuat sehingga mereka terpinggirkan dan tidak memperoleh peluang untuk maju dan kuat. Jika kemudian muncul dalam masyarakat orang yang menegakkan keadilan dan membela kebenaran, pastilah yang paling pertama menyambutnya adalah kaum lemah itu dan yang paling ragu adalah para pemimpin masyarakat. Bahkan mereka ini akan tampil paling depan membendung penganjur keadilan itu karena khawatir kepentingan mereka terganggu. Ini adalah sunnatullâh yang berlaku dalam setiap masyarakat, kapan dan di mana pun (Quraish Shihab, Tafsîr al-Misbâh, Jakarta: Lentera Hati, cet. I, 2002, vol. 5, hal. 228. Lihat juga Yûsuf Ali, The Glorious Kur`an, Lahore: Idârât al-Buhûts al-’Ilmiyah wa al-Iftâ` wa al-Da’wah wa al-Irsyâd, tt., hal. 362, dan Sayyid Quthb, Fî Zhilâl Al-Qur`an, Kairo: Dâr al-Syurûq, cet. XVII, 1990, jilid 4, hal. 1872).

[7] Al-Barâwî, al-Qashash al-Qur`ânî…, hal. 60.

[8] Penggalan-penggalan kisah Nabi Hûd as. dalam al-Qur`an dapat dijumpai antara lain dalam QS  al-A’râf/7: 65-72; al-Syu’arâ`/26: 123-124, 127-129, 131-137, 139; Fushshilat/41: 13, 15-16; al-Fajr/89: 7-8; Hûd/11: 50-58, 89; al-Mu`minûn/23: 32, 41; al-Ahqâf/46: 21-25; Ibrâhîm/14: 9; Shad/38: 12, Qaf/50: 13; al-Qamar/54: 18-20; al-Furqân/25: 38; al-Tawbah/9: 70; al-Dzâriyât/51: 41-41; dan al-Hâqqah/69: 6-8.

[9]Ismâ’îl Ibn Katsîr, Qashash al-Anbiyâ’, Kairo: Dâr al-Salâm, cet. I, 2002, hal. 87. ‘Âd adalah nama kabilah yang tinggal di wilayah bagian selatan jazirah Arab kuno. Kerajaan mereka membentang dari Oman hingga Hadramaut dan Yaman. Mereka pernah menorehkan sebuah peradaban yang besar dan tatanan sosial yang makmur sejahtera. Sosok tubuh mereka tinggi dan kuat. Bentuk fisik yang tinggi dan kuat ini sangat mendukung kegemaran mereka: membangun istana-istana dan kuil-kuil besar. Lahan-lahan pertanian yang mereka miliki mempunyai sistem pengairan yang baik. Tak heran jika mereka rajin bercocok tanam berbagai macam tanaman pertanian (lihat Quthb, Fî Zhilâl…, jilid 4, hal. 1895; Ibn Katsîr, Qashash…, hal. 86, dan Ziaul Haque, Revelation & Revolution in Islam (terj. Wahyu dan Revolusi oleh E. Setiyawati Al Khattab), Yogyakarta: LKíS, cet. I, 2000, hal. 133).

[10] Potongan-potongan kisah Nabi Shalih as. dalam al-Qur`an dapat dijumpai antara lain dalam QS Hûd/11: 61-68, al-Naml/27: 45-53, al-A’râf/7: 73-79, al-Syu’arâ`/26: 146-155, al-Qamar/54: 23-26 serta 28-31, dan al-Syams/91: 11-15.

[11] Selain disebut dalam ayat-ayat di atas, kaum Tsamûd juga disebut bersamaan dengan kaum ’Âd dalam QS  al-Tawbah/9: 70, Ibrâhîm/14: 9, al-Furqân/25: 38, Shad/38: 13, dan Qâf/50: 12 sebagai kaum yang mendustakan para rasul, mengingkari kebenaran, dan sombong. Kaum Tsamûd yang kepada mereka Allah mengutus Nabi Shâlih adalah salah satu kabilah Arab yang telah hilang beberapa waktu sebelum kedatangan Islam. Mereka berada di antara Hijaz dan Syâm sampai lembah Qurâ (‘Abdullâh bin ‘Umar al-Baydhâwî, Anwâr al-Tanzîl wa Asrâr al-Ta`wîl Tafsir, Beirut: Dâr al-Fikr, 1996, vol. 3, hal. 35).  

[12] Al-Barâwî, al-Qashash al-Qur`ânî…, hal. 171.

[13] Lihat Haque, Wahyu dan Revolusi…, hal. 141-143.

[14] Haque, Wahyu dan Revolusi…, hal. 146.

[15] Potongan-potongan kisah Nabi Ibrâhîm as. dalam al-Qur`an dapat dijumpai antara lain dalam QS  al-Baqarah/2: 124-125, 130, 133, 135-136, 140, 258; Âli ‘Imrân/3: 23, 65, 67-68, 84, 95, 97; al-Nisâ`/4: 54, 125, 163; al-An’âm/6: 74, 76-81, 83-84, 161; al-Tawbah/9: 70, 114; Hûd/11: 73, 75; Yûsuf/12: 6; al-Nahl/16: 120-123; Maryam/19: 41, 47; al-Anbiyâ`/21: 51-53, 56-57, 67; al-Syu’arâ`/26: 69-73, 75, 78-80, 83-85, 87; al-‘Ankabût/29: 16-17, 25, 27; al-Shâffât/37: 84, 88, 102, 104-105, 108-111, 113; Shad/38: 45-47; al-Zukhruf/43: 28; al-Najm/53: 37; al-Hadîd/57: 26; al-Mumtahanah/60: 4; Ibrâhîm/14: 35-37, 40, dan al-Hajj/22: 27, 78.

[16] Muhammad bin Jarîr al-Thabarî, Jâmi’ al-Bayân ‘an Ta`wîl Ayy al-Qur`ân, Beirut: Dâr al-Fikr, 1405 H, vol. 3, hal. 23. Lihat juga Ismâ’îl Ibn Katsîr, Tafsîr al-Qur`ân al-‘Azhîm, Beirut: Dâr al-Fikr, 1401 H, vol. 1, hal. 314.

[17] Ibn Katsîr, Tafsîr al-Qur`ân…, vol. 1, hal. 314.

[18] Ibn Katsîr, Tafsîr al-Qur`ân…, vol. 1, hal. 314. Al-Baghawî mengatakan, para ulama berbeda pendapat tentang kapan perdebatan antara Ibrâhîm dan Namrûdz ini terjadi. Ada yang mengatakan, perdebatan itu terjadi sebelum Ibrâhîm dibakar. Ada juga yang mengatakan itu terjadi setelah Ibrâhîm dibakar (lihat al-Husayn bin Mas’ûd al-Baghawî, Ma’âlim al-Tanzîl, Beirut: Dâr al-Ma’rifah, cet. II, 1987 M/1407 H, vol. 1, hal. 241. Lihat juga Mahmûd al-Alûsî, h al-Ma’ânî fî Tafsîr al-Qur`ân al-‘Azhîm wa al-Sab’ al-Matsânî, Beirut: Dâr Ihyâ` al-Turâts al-’Arabî, tt., vol. 3, hal. 15).

[19] Al-Barâwî, al-Qashash al-Qur`ânî…, hal. 162-163.

[20] Penggalan-penggalan kisah Nabi Syu’ayb as. dapat ditemukan dalam QS  al-A’râf/7: 85-93; Hûd/11: 84-95; al-Syu’arâ`/26: 176-189; al-Hijr/15: 78-79; al-‘Ankabût/29: 36-37; Shad/38: 13; Qaf/50: 14, dan al-Tawbah/9: 70.

[21] Lihat al-Barâwî, al-Qashash al-Qur`ânî…, hal. 76.

[22] Al-Thabarî, Jâmi’ al-Bayân…, vol. 12, hal. 102.

[23] Lihat al-Barâwî, al-Qashash al-Qur`ânî…, hal. 77.

[24] Penggalan-penggalan kisah Nabi Mûsâ as. dapat dijumpai antara lain dalam QS  al-Mâ`idah/5: 20-26, al-A’râf/7: 103-171, Yûnus/10: 75-93, Hûd/11: 96-99, al-Isrâ`/17: 2-3, 101-104, al-Kahfi/18: 60-70, Thâhâ/20: 9-98, al-Syu’arâ`/26: 10-68, al-Naml/27: 7-14, al-Qashash/28: 3-47, al-‘Ankabût/39, al-Mu’min/40: 21-55, al-Dukhân/44: 17-42, dan al-Nâzi’ât/79: 15-26. Di antara kisah para nabi dalam al-Qur`an, kisah Nabi Mûsâ paling banyak diungkap, dan di antara nama para nabi dalam al-Qur`an nama Mûsâ-lah paling banyak disebut; tidak kurang dari 136 kali.

[25] Quthb, Fî Zhilâl…, vol. 5, hal. 2587. Lihat juga Yûsuf ’Ali, The Glorious Kur`an…, hal. 945.

[26] Lihat Ahmad Bahjat, Anbiyâ` Allâh, Kairo: Dâr al-Syurûq, cet. XXXII, 2006, hal. 210. Lihat juga Quthb, Fî Zhilâl…, vol. 3 hal. 1346-1347.

[27] Lihat juga QS al-A’râf/7: 116.

[28] Pada ayat ini nampak jelas hubungan antara sikap membohongkan ayat-ayat Tuhan dan melalaikannya dengan balasan yang setimpal bagi semua itu. Seperti terlihat, ayat yang berisi tentang hukuman Allah atas Fir’aun dan para pengikutnya di atas disusul oleh ayat yang berisi tentang kemenangan bagi kaum mustdh’afîn, dalam hal ini adalah Banî Isrâ`îl. Hanya saja, dari segi kronologi sejarah, antara dua kejadian tersebut sebetulnya tidak terjadi secara bersusulan. Antara keduanya terpisah beberapa fase kisah yang dilewati oleh Banî Isrâ`îl. Artinya, tidak serta merta setelah Fir’aun dan para pengikutnya tenggelam di laut, Banî Isrâ`îl memperoleh kemenangan, ketenangan dan kemakmuran di bumi (Quthb, Fî Zhilâl…, vol. 3 hal. 1361).

[29] Quthb, Fî Zhilâl…, vol. 3 hal. 1361. Kisah ini ditampilkan dalam rangka memberi pelajaran bagi kaum Mukmin yang jumlahnya sangat sedikit sewaktu di Mekah, di mana mereka ditindas dan diusir oleh orang-orang musyrik. Sekaligus membuka harapan bagi mereka yang tengah ditindas oleh sebuah kekuatan Fir’aunisme. Jika mereka bersabar; sabar dalam pengertiannya yang dinamis, Allah akan mewariskan kemenangan kepada mereka (Lihat Quthb, Fî Zhilâl…, vol. 3 hal. 1361. Baca pula Muhammad Husayn al-Thabâthabâ`î, al-Mîzân fî Tafsîr al-Qur`ân, Beirut: Mu`assasah al-A’lamî lî al-Mathbû’ât, cet. I, 1991, jilid 8, hal. 234).

[30] Kisah Nabi ‘Îsâ as. dapat ditemukan antara lain dalam QS  Âli ‘Imrân/3: 45-63; al-Mâ`idah/5: 46, 78, 110-120; Maryam/19: 16-40; al-Zukhruf/43: 57-67, al-Shaff/61: 6, 14 dan banyak lagi. ‘Îsâ as. lahir di Betlehem, Yudea, pada masa pemerintahan Raja Herodes. Ibunya, Maryam, kemudian membawanya ke Mesir demi keselamatan dirinya dan putranya dari ancaman pembunuhan para penguasa. Setelah kematian Herodes, mereka kembali ke Palestina dan menetap di Galilea, di kota Nazareth. Karena itulah Nabi ‘Îsâ disebut seorang Nazaret dan para pengikutnya disebut Nazaranis (bahasa Arab: Nashrânî, bentuk jamaknya Nashârâ) (lihat Haque, Wahyu dan Revolusi…, hal. 199-202).

[31] Lihat Haque, Wahyu dan Revolusi…, hal. 199-202.

[32] Bahjat, Anbiyâ`…, hal. 340-341.

[33] Bahjat, Anbiyâ…, hal. 343-344.

[34] Kata-kata semacam ini disampaikan pula oleh Nabi Saw. pada musim-musim haji sebelum hijrah. Beliau berkata, “Siapakah yang sudi melindungiku sehingga aku dapat menyampaikan kata-kata Tuhanku? Sesungguhnya orang-orang Quraisy telah melarangku menyampaikan kata-kata Tuhanku?” Sampai kemudian beliau menemukan orang-orang Anshâr. Mereka siap menjadi pelindung dan penolong beliau (Ibn Katsîr, Tafsîr al-Qur`ân…, vol. 1, hal. 366).

[35] Ibn Katsîr, Tafsîr al-Qur`ân…, vol. 1, hal. 366.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: