Berpikir positif, bersikap & bertindak bijak

Pak Johan…

Pak Johan (nama sungguhan) tadi malam datang ke saya. Setelah berbasa-basi secukupnya, Pak Johan dengan agak terbatata-bata menyampaikan maksud kedatangannya. Saya tidak akan mengutarakan maksud itu di sini. Biar hanya saya dan Pak Johan serta Tuhan yang tahu. ER HA ES…
Sehari-hari Pak Johan kerja di STAIN, eit IAIN Tulungagung, sebagai tenaga kebersihan. Secara teknis, wilayah kerja Pak Johan meliputi enam ruang kuliah plus tiga ruang admin FUAD, fakultas di mana saya didapuk jadi Abahnya.
Obrolan kami berkembang seiring berputarnya jarum jam dinding yang lamat-lamat terdengar di sela-sela obrolan. Pak Johan blak-blakan tentang perjalanan hidupnya. Ia “buka kartu”.
Berikut “kartu” demi “kartu” yang dibuka Pak Johan. Jika berkenan, silakan ikuti. Kalau tidak, jangan lupa tinggalkan dulu jempol sebelum pergi…
Pak Johan adalah anak kedelapan dari sembilan bersaudara. Ayahnya merupakan salah satu pendiri salah satu perguruan tinggi Islam swasta di Tulungagung. Hingga kini PTAIS itu masih eksis dan tiap akhir pekan saya “ngamen” di sana.
Sejak SMA ia sudah mandiri secara pembiayaan; tidak memberatkan orang tua. Sekolahnya siang, mulai jam 12. Dari subuh hingga zuhur ia gunakan buat jualan koran. Zuhur hingga magrib ia sekolah, ambil Program A2 (jurusan biologi). Habis magrib hingga jam 10 atau 11 malam ia gunakan untuk narik becak. Setelah itu ia tidak pulang ke rumah. Ia memilih bermalam di mushola yang didirikan kakeknya. Tanpa sadar kepala saya geleng-geleng kagum mendengar Pak Johan bertutur tentang masa SMA-nya.
Selama sekolah di SMA, Pak Johan gak pernah minta uang jajan, uang SPP, uang buku, dan lain-lainnya ke orangtuanya. Lebih dari itu pemirsa…tamat SMA Pak Johan malah punya tabungan lumayan besar hasil nabung dari jualan koran dan narik becak. Dari hasil tabungannya itu Pak Johan kuliah D1 teknik di Surabaya. Tentu saja, segala sesuatunya ditanggung sendiri; tidak minta sama orangtua sama sekali. Hebat Pak Johan…!
Tamat kuliah D1, ada lowongan kerja ke luar negeri. Ke Jepang, persisnya. Ia ikut test, lulus, berangkat. Gak pake ribet, gak lewat calo, gak ngeluarin duit sepeser pun, tahu-tahu Pak Johan terbang ke Jepang untuk kerja di sana di pabrik pembuatan pipa. Ia diikat kontrak selama dua tahun. Singkat cerita, masa kontrak habis. Tapi pihak pabrik melihat Pak Johan kerjanya bagus. Maka ketika teman-teman Pak Johan pulang ke Indonesia, pak Johan ditawari pihak pabrik untuk bekerja lagi setahun. Tentu saja Pak Johan senang dan tawaran itu diambilnya.
Setelah tiga tahun bekerja di Negeri Matahari Terbit, Pak Johan pulang kampung. Pulang dari Jepang bawa uang cukup tebal. Pak Johan tidak lupa diri. Ia tidak doyan berfoya-foya. Uang Yen ia tukar ke Rupiah, lalu dibelinya tanah yang cukup luas. Kalau tidak salah, ia membeli tanah seluas 1400 meter persegi. Sebagiannya ia jadikan kolam. Kemudian ia membuka usaha berbasis kolam itu. Tentu saja gak jauh-jauh dari ikan. Ikan apa, saya gak nanya.
Kopi-susu yang sedari tadi belum kami seruput, sudah tidak lagi panas. Setelah saya suruh, Pak Johan menyeruputnya. Setengah gelas kopi-susu berpindah ke perutnya. Rupanya tenggorokan Pak Johan cukup kering bercerita banyak tentang sebagian perjalanan hidupnya.
Kemudian Pak Johan membuka “kartu” berikutnya. Ketika bisnisnya sedang jaya-jayanya, ia tak bisa menghindar dari garis takdir. Mobil panther menabrak Pak Johan dari belakang. Motor yang dinaikinya rusak, Pak Johan tak sadarkan diri, lalu dilarikan ke rumah sakit. Rumah sakit setempat angkat tangan. Akhirnya ia dirujuk ke Surabaya. Salah satu kakak Pak Johan kerja di Koran Jawa Pos. Sang kakak memberi tahu Boss Jawa Pos; Pak Dahlan Iskan. Berkat Pak Dahlan, Pak Johan ditangani dokter terbaik di Surabaya dalam bidangnya.
Kata dokter, ada empat kemungkinan bagi Pak Johan akibat kecelakaan itu: Tak terselamatkan jiwanya, sembuh tapi lumpuh dan mental terganggu, lumpuh saja tanpa gangguan mental, atau mental terganggu tapi tidak lumpuh.
Kuasa Tuhan. Pak Johan siuman. Ia mulai mengumpulkan serpihan-serpihan ingatan. Ketika itu dokter menasehati: Pikiran tetap enjoy, banyak makan, dan banyak tidur. Tapi Pak Johan malah melakukan kebalikannya. Selama masa penyembuhannya ia banyak tirakat, mendawamkan puasa Nabi Daud, dan banyak shalat malam serta sedikit tidur.
Segala puji bagi Allah. Pak Johan sembuh total: tidak lumpuh, tidak pula mengalami gangguan mental. Kondisi kesehatannya 99 %. Yang 1 % untuk jalannya yang tidak setegap dulu.
Masa pemulihan berlangsung dua hingga tiga tahun. Setelah itu Pak Johan mulai menata lagi segalanya. Kemampuan di bidang teknik bekal kuliah D1 dan kerja tiga tahun di Jepang masih dikuasainya dengan cukup bagus.
Ia lalu ngelamar kerja di sebuah pablik di Tulungagung. Ia dipanggil wawancara. Lancar. Lalu pewawancara membuka CV Pak Johan. Ia baru tahu kalau Pak Johan ini “alumnus” Jepang. Seketika itu pewawancara menyatakan Pak Johan TIDAK DITERIMA kerja. Pak Johan bertanya kenapa. Pewawancara bilang perusahaannya tidak akan sanggup menggaji karyawan “alumnus” Jepang. Jadi, Pak Johan tidak diterima bukan karena kualitasnya yang tekor, tapi justru karena kualitas yang dimilikinya kualitas Jepang. Padahal setelah itu Pak Johan berkali-kali meyakinkan pewawancara bahwa ia tidak akan menuntut gaji tinggi setinggi di Jepang. Pak Johan juga tahu kondisi dan sadar diri. Tapi si pewawancara sudah bulat menolaknya. Sekali lagi, karena Pak Johan berkualitas Jepang!
Kemudian ia melamar kerja di pabrik pembuatan pupuk. Dari pabrik ini pupuk didrop ke pabrik pupuk yang lebih besar di kota besar. Pak Johan tidak kuat bertahan lama di sini. Lagi-lagi bukan karena kualitasnya jeblok. Tapi karena Pak Johan tidak mau melihat kecurangan dengan nyata diperagakan di depan matanya. Pihak berwenang di pabrik itu menyuruhnya mengoplos pupuk KW 1 dengan KW yang lebih rendah. Demi kejujuran dan kebenaran Pak Johan memilih mundur.
Keluar dari pabrik pupuk, Pak Johan melamar ke salah satu pabrik otomotif di Surabaya. Kalau tidak salah, ia diterima di pabrik Mitsubishi. Dan Anda tahu apa itu Mitsubishi. Demi melihat kualitas Jepang yang dimiliki Pak Johan, Pak Johan dengan mudah diterima di Mitsubishi. Yang membahagiakan Pak Johan, ia bukan hanya diterima dengan mudah, tapi pihak Mitsubishi menjanjikan setelah Pak Johan bekerja dua minggu, ia akan dikirim ke Jepang. Bayangkan, kerja baru dua minggu sudah dijanjikan dikirim ke Jepang. Masih ingat kan, pemirsa, Pak Johan adalah alumnus Jepang. Dengan hati berbunga-bunga, Pak Johan bekerja dengan penuh semangat dan dedikasi.
Seminggu kerja di Mitsubishi, ada kabar dari kampung, sang ayah sakit. Pak Johan izin pulang. Sang ayah minta Pak Johan urung ke Jepang. Demi permintaan sang ayah, Pak Johan mengabari Mitsubishi bahwa ia tidak siap ke Jepang. Pihak Mitsubishi mengambil sikap tegas; memberhentikan Pak Johan. Pak Johan dengan lapang menerima.
Setelah ada ada kepastian Pak Johan tidak jadi ke Jepang dan keluar dari Mitsubishi, sang ayah sembuh. Pulanglah sang ayah dari rumah sakit. Namun, seminggu kemudian beliau meninggal. Silakan takar sendiri apa saja hikmah dari peristiwa ini!
Selanjutnya, Pak Johan memohon pada Yang Kuasa diberi pekerjaan apa saja asal halal dan asal di kota kelahiran; Tulungagung. Doa Pak Johan dikabulkan. Ia diterima jadi tenaga kebersihan di IAIN di bawah payung penyedia kontrak outsoursing. Dengan suka-cita ia bekerja di kampus IAIN. Dibanding penghasilannya terdahulu, penghasilan jadi tenaga kebersihan tidak seberapa. Tapi Pak Johan menerimanya dengan senang, bahkan bahagia. Toh, selain jadi tenaga kontrak, ia juga punya tanah yang cukup luas dan memberinya kecukupan pangan. Kolam juga masih “beroperasi”.
Asal tahu saja, Pak Johan adalah tenaga kebersihan kesayangan kami. Kami, punggawa FUAD sangat menyayanginya. Bagaimna tidak, tiap hari ia sudah berada di kampus paling telat jam 05.30. Masuk Kantor Fakultas, kami langsung disunguhi wanginya ruangan yang disiapkan Pak Johan. Jangan tanya soal kerapihan dan kebersihan kantor kami. Pak Johan tidak pernah mengecewakan soal kerapihan dan kebersihan. Jam 10 pagi pekerjaan Pak Johan praktis sudah selesai. Lalu ke mana ia pergi? Ke masjid kampus, shalat dhuha, lalu membaca Qur`an. Keluar dari masjid ngeloyor ke mana? Ke mana coba? Ke perpustakaan, pemirsa! Ngapain? Ya baca atuh! Selepas berjamaah zuhur, ia kembali mengambil peralatan kebersihan. Ada saja yang dikerjakannya tanpa kami minta. Menyapu, ngelap kaca, mengecek pengharum kamar mandi, mencuci piring dan gelas bekas kami makan-minum dan lain sebagainya.
Di akhir obrolan Pak Johan menunjukkan “kartu” terakhirnya. Tanahnya yang cukup luas akan ia jual. Hasil penjualnnya akan ia bagi tiga: beli tanah lagi dengan harga yang lebih murah dan ukuran lebih kecil, membangun rumah di atas tanah tersebut, dan disisakan. Disisakan buat apa? Ini yang membuat saya kagum sekagum-kagumnya. Setengah berbisik ia memberitahu; buat ongkos naik haji!
Tangisan bayi membuyarkan obrolan kami. Pak Johan pamit pulang. Sebelum benar-benar pulang, kusuruh ia menghabiskan setengah gelas sisa kopi susu. Sambil agak membungkukkan tubuh, Pak Johan mengucap salam; pulang.
Beberara jenak saya berdiri termangu melepas kepergian Pak Johan yang sudah ditelan gelapnya malam. Tangisan bayi yang semakin kencang menarik saya masuk rumah. Kugendong bayi yang semakin hari semakin nyata gurat-gurat kemiripannya dengan abahnya. Dengan mata berkaca-kaca, kulantunkan shalawat buat meredakan tangisan bayi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: