Berpikir positif, bersikap & bertindak bijak

Pendahuluan
Al-Qur`an merupakan catatan-besar tentang ajaran-ajaran pokok, prinsip-prinsip dasar dan jejak-jejak agung dalam bentang sejarah. Kisah-kisah dalam al-Qur`an secara umum merupakan rekaman-jujur tentang bagaimana firman Tuhan berinteraksi serta berdialog dengan semesta di mana manusia sebagai pelakon utamanya.
Tulisan ini akan menelusuri ayat-ayat yang mengandung etika berkomunikasi. Yakni ayat-ayat yang memuat rambu-rambu atau patokan yang harus dipedomani manusia dalam berkomunikasi dengan sesamanya. Komunikasi yang dimaksud meliputi kegiatan bertutur-kata, sapa-menyapa, perbincangan sehari-hari dan seterusnya di antara sesama manusia. Hanya saja kegiatan berkomunikasi yang akan dikupas dalam tulisan ini hanya yang terbentuk dari kata-kunci qâla. Lebih tepatnya term qaul. Itu pun hanya term qaul yang didahului atau diimbuhi kata sifat, seperti qaul ma’rûf.

Term Qaul dalam al-Qur’an
Term qaul seperti dijelaskan di atas, disampaikan dalam sejumlah ayat dengan setidaknya tiga ujaran; perintah, larangan, dan berita. Namun demikian, dalam hemat penulis, yang disampaikan dalam bentuk berita pun sejatinya mengandung perintah atau pun larangan. Maka tidak keliru kiranya jika penulis menunjuk ayat-ayat yang akan dibahas dalam tulisan ini sebagai ayat-ayat tentang etika berkomunikasi menurut al-Qur`an.
Perintah
Yang berada dalam kelompok ini setidaknya terdiri dari enam term: qaul ma’rûf (QS al-Nisâ`/4: 5 dan 8; al-Ahzab/33: 32), qaul sadîd (QS al-Ahzab/33: 70 dan al-Nisâ`/4: 9), qaul layyin (QS Thaha/20: 44), qaul balîgh (QS al-Nisâ`/4: 63), qaul karîm (QS al-Isra`/17: 23), dan dûn al-jahr min al-qaul (QS al-A’râf/7: 205).
Berikut kilasan tiap-tiap ayat dengan memperhatikan kedudukan ayat bersangkutan di antara ayat sebelum dan sesudahnya, kemudian ulasan khusus tentang term qaul pada ayat tersebut dalam kaitannya dengan etika berkomunikasi.
 
Qaul Ma’rûf
QS al-Nisâ`/4: 5:
Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.

Dalam surat al-Nisâ` ayat ini berada dalam rumpun ayat yang sedang memperkenalkan hukum keluarga. Rumpun ini terbentang dari ayat 1 hingga ayat 45. Ayat ini (ayat 5) sendiri, lebih spesifiknya berada dalam kelompok ayat yang sedang menunjukkan beberapa kewajiban para wâshî (pengasuh) terhadap asuhannya dan kewajiban para wali terhadap orang yang ada di bawah perwaliannya.
Ayat ini melarang para walimenyerahkanharta yang ada dalam kekuasaannya kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, yaitu anak yatim yang belum balig atau orang dewasa yang tidak dapat mengatur hartanya. Hal itu karena dalam pandanganAllah harta merupakan pokok kehidupan.Yang kemudian harus dilakukan para wali terhadap anak yatim yang belum balig adalah memberimereka kebutuhan belanja dan kebutuhan sandang dari hasil pengelolaan harta itu.
Kewajiban para wali terhadap anak yatim yang ada dalam perwaliannya tidak hanya menyangkut tindakan, tetapi juga menyangkut ucapan. Di sini terlihat keharusan adanya keutuhan sikap; bukan hanya baik pada tindakan, tapi juga pada ucapan. Para anak yatim itu berhak atas kecukupan belanja dan pakaian dari para wali mereka, di saat sama mereka juga berhak mendapatkan ucapan yang baik(qaul ma’rûf) dari wali-wali mereka.
Dalam Tafsîr Rûh al-Bayân dikatakan bahwa yang dimaksud dengan qaul ma’rûf adalah kalâman layyinan tathîbu bihi nufûsuhum (kata-kata lemah-lembut yang mengenakkan diri anak-anak yatim).[1] Sementara itu Ibn Katsîr mengartikannya al-kalâm al-thayyib wa tahsîn al-akhlâq (kata-kata yang baik dan mengindahkan akhlak).[2] Sedangkan al-Zamakhsyarî menjelaskan bahwa ma’rûf adalah segala ucapan dan perbuatan yang indah, baik menurut akal maupun menurut syara’, sehingga jiwa menyukainya dan merasa nyaman dengannya. Sedang kebalikan dari itu munkar namanya.[3] Al-Zamakhsyarî memberi contoh qaul ma’rûf yang dapat disampaikan para wali kepada anak-anak yatim yang ada dalam pewaliannya, seperti, “Jika kalian sudah layak dan dewasa, kami akan menyerahkan harta kalian kepada kalian.” Atau, “Jika aku beruntung aku akan memberimu, dan jika aku mendapat ghanîmah dalam peperanganku aku akan memberi bagianmu.”[4]
Ayat ini, meski konteks awalnya tentang hubungan wali dengan anak perwaliannya, namun pesan-moral yang dikandungnya berlaku umum; bagi siapa pun, kapan dan di mana pun, terutama para pihak yang memiliki pola hubungan yang mirip dengan yang tergambar dalam ayat di atas, seperti hubungan atasan-bawahan, tuan-pelayan, pemimpin-rakyat, pejabat-rakyat, guru-murid, dosen-mahasiswa, orangtua-anak, dan seterusnya. Pihak-pihak yang disebut pertama memiliki beberapa kewajiban terhadap pihak kedua. Kewajiban itu bukan hanya menyangkut pemenuhan materil, tapi juga menyangkut sikap seperti bagaimana bertutur-kata. Ayat ini dengan jelas memberi titah untuk menyampaikan qaul ma’rûf; kata-kata yang baik, santun dan enak didengar.

QS al-Nisâ`/4: 8:
Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekadarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.

Secara tematik ayat ini berada dalam kelompok ayat (ayat 7 sampai 10) yang sedang menjelaskan hak-hak ahli waris dariharta warisan (tirkah) dan hak-hak pihak lainnya dari kalangan orang-orang yang memerlukan, anak-anak yatim, dan kerabat yang bukan ahli waris. Pada ayat sebelumnya dijelaskan bahwa baik laki-laki maupun memiliki bagian, banyak maupun sedikit, dari harta peninggalan kedua orangtua dan kerabatnya. Masing-masing akan mendapatkan bagiannya sesuai dengan ketetapan.
Kemudian pada ayat 8 dijelaskan bahwa kerabat, anak yatim dan orang miskin memiliki hak tertentu (sekadarnya) jika mereka ikut menghadiri pembagian harta warisan. Ayat ini juga menyatakan bahwa hak mereka bukan hanya bagian tertentu dari harta waris, tapi juga perlakuan dan kata-kata yang baik (qaul ma’rûf) dari pihak pembagi harta waris. Dengan begitu, secara materi mereka dipenuhi kebutuhannya dan secara psikologis mereka dijaga perasaannya. Demikian terlihat arahan sempurna al-Qur`an dalam menata perilaku dan membimbing interaksi manusia dengan sesamanya.
Menurut Wahbah Zuhaili, ayat ini menyentuh sisi psikologis yang mungkin muncul dari kerabat, anak yatim, atau orang-orang miskin apabila mereka menghadiri pembagian harta waris. Ayat memerintahkan agar mereka diberi bagian tertentu dari harta waris walau sedikit dan hendaklah disampaikan kepada mereka kata-kata yang baik dan permintaan maaf yang layak yang dapat menenangkan hati mereka, menghilangkan kedengkian, dan mengikis kebencian dari diri mereka.[5]

QS al-Ahzab/33: 32:
Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik,

Seperti dikatakan Wahbah al-Zuhailî, ayat ini seakan berkata kepada isteri-isteri Nabi Saw., “Janganlah kalian melembutkan kata-kata atau menghaluskannya ketika kalian berbicara dengan kaum laki-laki. Hendaklah kata-kata kalian tegas, serius dan kuat sehingga orang yang dalam hatinya ada kecenderungan terhadap kefasikan dan dosa tidak terdorong melakukan kecurangan. Bicaralah dengan kata-kata yang baik dan biasa digunakan sehari-hari; tidak dibuat-buat dan jauh dari kesan menggoda.”
Larangan ini tidak berarti istri-isteri Nabi Saw. waktu itu sedang dalam keadaan yang perlu diluruskan; tidak berarti mereka sedang menyimpang. Ayat ini hanya sedang menuntun mereka menaiki level perilaku yang lebih unggul dan utama. Ayat ini sedang memagari mereka dari perbuatan keji dengan mencegah mereka dari salah satu jalan kekejian yaitu berbicara dengan kaum laki-laki dengan cara yang mengandung kefasikan dan mengundang kejahatan. Dalam hal ini isteri-isteri umat ini diwajibkan mengikuti isteri-isteri Nabi Saw.[6]
Pesan-moral dari ayat ini tentu saja berlaku universal. Siapa pun, kapan dan di mana pun tidak boleh bicara dengan kata-kata dan gaya yang mengandung serta mengundang kefasikan dan dosa. Qaul ma’rûf mencakup kata-kata yang seperti itu, yakni kata-kata yang bebas dari unsur dosa dan kefasikan serta tidak mengundang perilaku dosa dan kefasikan.

Qaul Sadîd
QS al-Ahzab/33: 70:
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.
Ayat ini berada dalam satu kelompok yang terdiri dari tiga ayat (69-71) yang sedang menjelaskan bahwa takwa kepada Allah dapat membawa pada perbaikan amal dan terampuninya dosa. Pada ayat sebelumnya (ayat 69), Allah menyeru orang-orang beriman untuk tidak meniru perbuatan kaum yang telah menyakiti Nabi Mûsâ. Dalam pandangan Allah, Mûsâ adalah orang yang suci dari tuduhan-tuduhan mereka serta memiliki kedudukan terhormat. Pada ayat ini (ayat 70) Allah kembali menyeru orang-orang beriman untuk bertakwa kepada-Nya dan bertutur dengan kata-kata yang benar (qaul sadîd).
Hingga di sini sekurangnya dua poin dapat dicatat: Pertama, terlihat bahwa perintah bertakwa disusul langsung perintah berkata-kata yang baik. Ini memberi makna bahwa terdapat hubungan erat antara takwa sebagai titah universal dan keharusan menjaga lisan, di antaranya dengan bertutur-kata yang baik. Takwa harus punya manifestasi lahir. Takwa bukan hanya pengakuan tapi lebih sebagai pembuktian. Di antara bukti paling nyata dan paling mudah ditangkap adalah bagaimana yang besangkutan menjaga lisannya lewat tutur-kata yang baik.
Kedua, pada beberapa ayat lain kata-kata yang baik disampaikan dengan term qaul ma’rûf. Sedangkan pada ayat ini disampaikan dengan qaul sadîd. Meski keduanya dapat diterjemahkan sebagai kata-kata yang baik, pastilah antara keduanya terdapat penekanan makna yang sedikit-banyak berbeda.
Dalam al-Jâmi’ lî Ahkâm al-Qur`ân, al-Qurthubî menyebutkan sejumlah pengertian untuk qaul sadîd, yaitu qashdân wa haqqân (efisien dan benar), shawâb (tepat), al-ladzî yuwâfiqu zhâhiruhu bâthinahu (yang selaras luar-dalamnya), mâ urîda bihî wajh Allâh dûna ghairuh (yang diniatkan hanya karena Allah, bukan lain-Nya), dan al-ishlâh bain al-mutasyâjirîn (mendamainkan orang-orang yang bertengkar). Apa pun, tegas al-Qurthubî, qaul sadîd mencakup semua kebaikan (al-khairât); mencakup semua yang telah disebutkan dan lainnya.[7]
Seperti apa pun rumusan qaul sadîd, yang jelas berdasar ayat ini takwa harus diiringi dengan pembuktian di ranah nyata, di antaranya dengan bertutur kata yang baik, kapan dan di mana pun serta terhadap siapa pun.

QS al-Nisâ`/4: 9:
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.
 
Pada ayat ini, kata al-Qurthubî, terdapat dua poin penting: Pertama, para ulama berbeda pendapat tentang kepada siapa ayat ini ditujukan. Ada yang berpendapat ia diarahkan ke para pengasuh atau para wali anak yatim. Kepada mereka ayat menyuruh untuk memperlakukan anak-anak yatim dengan baik sebagaimana mereka ingin kelak anak-anak yatim itu memperlakukan anak-anak mereka (para wali) dengan baik pula. Tapi ada juga yang berpendapat ayat ini ditujukan kepada semua orang. Mereka diperintah untuk takwa kepada Allah dalam hal memperlakukan anak-anak yatim dan anak-anak pada umumnya walaupun tidak berada dalam pengasuhan mereka. Mereka juga diperintah untuk berkata-kata yang baik terhadap anak-anak. Seakan-akan ayat berkata, “Jika kalian ingin mereka (anak-anak) berkata yang baik kepada kalian, maka kalian harus terlebih dahulu berkata yang baik kepada mereka.”
Selain itu ada pula yang berpendapat bahwa ayat ini tentang seseorang yang sedang menghadapi kematian. Kemudian salah seorang yang ada di dekatnya berkata, “Sesungguhnya Allah akan menanggung rezki anakmu. Maka perhatikanlah dirimu. Berwasiatlah dengan hartamu di jalan Allah, bersedekahlah dan merdekakanlah hamba sahaya!” Jika orang ini mengikuti nasehat itu, maka semua hartanya akan habis sehingga ahli warisnya tidak mendapat peninggalan apa-apa. Ketika itu turunlah ayat ini mencegah mereka melakukan hal serupa itu.
Kedua, qaul sadîd adalah kata-kata yang berkeadilan dan tepat sasaran (al-‘adl wa al-shawâb). Ada perbedaan pendapat tentang kepada siapa penggalan ayat ini diarahkan. Ada yang mengatakan ia ditujukan kepada siapa pun yang sedang menghadapi orang yang sedang menghadapi kematian. Kepada orang yang akan meninggal hendaknya mereka menyuruh untuk melunasi semua kewajibannya terkait harta, kemudian berwasiat untuk kerabatnya dengan jumlah yang tidak merugikan ahli warisnya yang masih kecil-kecil. Ada juga yang berpendapat penggalan ini menyuruh orang yang sedang berada di dekat orang yang akan meninggal untuk mengucapkan kata-kata yang baik, yaitu dengan membimbingnya mengucapkan kalimat lâ ilâha illâ Allâh. Dan ada juga yang mengatakan penggalan ini merupakan perintah untuk tidak menghardik atau melecehkan anak-anak yatim.[8]
Tentang apa pun ayat ini berbicara dan kepada siapa pun ia diarahkan, yang jelas ia memiliki pesan-moral yang nyata; ia memiliki perhatian yang tinggi terhadap bagaimana seharusnya setiap orang menjaga dan menata lisan. Ia dengan terang menyuruh untuk menggunakan tutur-kata yang baik, tepat, berkeadilan dan tidak menyinggung perasaan siapa pun, kapan dan di mana pun serta kepada siapa pun.

Qaul Layyin
QS Thâhâ/20: 44:
Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.

Dalam surat Thâhâ, ayat ini berada dalam satu kelompok ayat yang sedang mengisahkan Nabi Mûsâ dan Nabi Hârûn yang diperintah Allah untuk menghadap Fir’aun. Kelompok ayat tersebut mulai dari ayat 42 sampai 56. Pada ayat ini Allah menyuruh Nabi Mûsâ dan Nabi Hârûn untuk tetap menjaga kata-kata yang lembut dalam menyampaikan seruan mereka kepada Fir’aun. Dengan kata-kata yang santun lagi lembut, antara lain diharapkan Fir’aun sadar lalu takut kepada Allah.
Al-Zamakhsyarî dalam al-Kasysyâf memberi makna untuk qaul layyin dalam ayat ini, antara lain dengan kata-kata yang tidak menimbulkan rasa tidak enak pada orang yang diajak bicara; kata-kata yang lemah-lembut. Di antara bentuk qaul layyin adalah memanggil seseorang dengan gelar atau julukan yang disukai orang itu.[9]
Ayat ini menggariskan sekurangnya dua hal terkait bagaimana berkomunikasi dengan pihak lain. Pertama, keharusan menyampaikan kata-kata yang lemah-lembut, santun, halus serta mengenakkan, dan kedua, kata-kata seperti itu disampaikan terutama kepada penguasa zalim yang sangat diharapkan kesadaran dan ketakwaannya kepada Allah.

Qaul Balîgh
QS al-Nisâ`/4: 63:
Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.

Secara tema, ayat ini berhubungan erat dengan setidaknya tiga ayat sebelumnya (ayat 60-62). Pada ayat 60 Nabi Saw. diingatkan tentang sekelompok orang yang mengaku beriman kepada al-Qur`an dan kitab-kitab sebelumnya, namun perilaku mereka berlawanan dengan pengakuan lisannya. Mereka ini sesungguhnya orang-orang yang tidak mau menjadikan al-Qur`an sebagai pedoman hidup. Lewat ayat ini, Nabi Saw. diminta berhati-hati terhadap mereka.
Kemudian ayat 61 menunjukkan ciri-ciri mereka, di antaranya jika mereka diajak mematuhi hukum Allah dan Rasul-Nya, mereka enggan. Bukan hanya enggan, mereka juga sekuat tenaga menghalang-halangi orang lain yang hendak mengikuti ajakan itu. Ayat 62 menyebutkan ciri-ciri mereka lainnya, yaitu apabila mereka ditimpa musibah sebagai akibat perbuatannya, mereka akan menemui Nabi Saw. seraya bersumpah bahwa mereka hanya menghendaki penyelesaian dan perdamaian.
Mereka adalah orang-orang munafik. Allah tahu isi hati mereka. Mereka adalah orang-orang yang menyembunyikan niat buruk dan keinginan jahat. Namun di hadapan Nabi Saw. mereka berlagak menginginkan perdamaian dan kebaikan bersama. Namun demikian, Nabi Saw. diperintah untuk tetap berlaku baik terhadap mereka seraya memberi mereka wejangan dan pelajaran. Kepada mereka Nabi Saw. diminta untuk menyampaikanperkataan yang berbekas pada jiwa mereka(qaul balîgh).
Pada orang-orang munafik kata-kata seperti itu antara lain dorongan untuk kembali ke jalan yang benar, bertaubat, istiqamah di jalan kebenaran, serta menepati semua perintah Allah dan Rasul-Nya. Pintu taubat masih terbuka. Jalan untuk kembali kepada-Nya belum tertutup. Allah masih siap menerima permohonan ampun mereka. Rasul pun siap memohonkan ampunan bagi mereka.[10]
Konteks awal ayat ini memang tentang orang-orang munafik. Namun dalam implementasinya penggunaan qaul balîgh bukan hanya ditujukan terhadap kaum munafik, melainkan terhadap semua golongan. Tentu saja dengan mempertimbangkan tingkat kecerdasan, daya tangkap, kedewasaan, setting sosial-ekonomi dan budaya, dan semacamnya. Setiap kelompok atau golongan menuntut tipe atau model qaul balîgh tertentu. Tipe atau model yang cocok buat kalangan petani belum tentu cocok buat kalangan pedagang, dan begtiu seterusnya.

Qaul Karîm
QS al-Isrâ`/17: 23:
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

Dalam surat al-Isrâ` ayat ini masuk dalam kelompok ayat yang sedang menunjukkan beberapa aturan pergaulan dengan sesama manusia. Secara spesifik, ayat ini dan ayat sesudahnya menata pola hubungan dengan kedua orang tua. Seperti terlihat, ayat ini menggunakan kata qadhâ untuk memerintah manusia beribadah hanya kepada Allah. Qadhâ memiliki arti antara lain amara, alzama dan aujaba ‘alaikum (memerintahkan, mengharuskan, dan mewajibkan). Bagaimana pun, ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa manusia dilarang menyembah kepada selain-Nya.
Kemudian ayat ini menyebutkan kewajiban lainnya, yaitu berbuat baik dengan sebaik-baiknya kepada kedua orang tua. Kewajiban berbuat baik kepada kedua orang tua tidak berbatas waktu; sampai kapan pun setiap orang harus berbuat baik pada mereka, terlebih saat keduanya atau salah satunya sudah menginjak usia lanjut. Jika salah satu atau kedua orang tua yang sudah berusia lanjut berada dalam pemeliharaan ananya, maka si anak dilarang keras melontarkan kata-kata yang dapat menyakiti orang tuanya. Tidak boleh ada bantahan atau pun bentakan dari anak pada orang tuanya. Yang harus ada adalah perkataan yang mulia, panggilan yang santun, serta tutur-sapa yang baik dan memuliakan.
Kata “Ah” yang tidak boleh diucapkan seorang anak kepada orang tuanya merupakan penyederhanaan dari segala jenis dan bentuk kata yang jelek, hina, tidak sopan, tidak pantas dan padanan-padanan negatif lainnya. Singkatnya, “Ah” mewakili semua ucapan yang dapat melukai perasaan dan menyakiti hati orang tua. Kebalikan dari kata “Ah”, kata-kata yang harus diucapkan kepada orang tua adalah qaul karîm. Secara praktikal, qaul karîm adalah kata-kata yang disampaikan seorang hamba yang hendak bertaubat di hadapan Sang Tuan yang penuh wibawa dan keagungan.[11]
Ayat ini, meski konteksnya tentang bagaimana bergaul dengan orang tua, namun pesan-moralnya berlaku universal, meliputi semua pola pergaulan terutama antara seseorang dengan orang lain yang usianya lebih tua. Pola komunikasi yang harus dikembangkan dalam pergaulan “muda-tua” adalah pola qaul karîm. Yakni komunikasi yang menjunjung nilai-nilai kemuliaan. Yang muda sadar akan kemudaannya di hadapan yang tua sehingga ia tahu hak-hak yang tua terhadap dirinya yang masih muda. Sementara yang tua tidak memanfaatkan ketuaannya untuk menekan yang muda menunaikan kewajibannya terhadap dirinya yang lebih tua. Masing-masing pihak sadar diri; tahu diri, mawas diri, pintar menempatkan diri, mengerti mana hak yang mungkin ia dapatkan dan mana kewajiban yang harus ditunaikan.

–          Dûn al-Jahr min al-Qaul
QS al-A’râf/7: 205:
Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.

Dalam surat al-A’râf ayat ini berada dalam kelompok terakhir yang berbicara tentang adab mendengar bacaan al-Qur`an dan berzikir. Pada ayat sebelumnya (ayat 204) Allah menjelaskan bahwa jika dibacakan al-Qur`an maka kita harus mendengarkannya dengan saksama serta memperhatikan dengan tenang tenang. Dengan cara demikian kita akan beroleh rahmat-Nya.
Kemudian pada ayat ini (ayat 205) Allah memberi aturan lainnya menyangkut bagaimana menyebut nama-Nya. Berdasar ayat ini, ketika menyebut nama-Nya kita harus melakukannya dalam hati seraya merendahkan diri disertai rasa takut; tidak dengan cara mengeraskan suara. Menyebut nama-Nya hendaknya dilakukan setiap waktu; pagi dan petang. Dengan begitu kita tidak termasuk orang-orang yang lalai.
Yang menjadi fokus dari ayat ini adalah penggalan dûn al-jahr min al-qaul (dengan tidak mengeraskan suara). Dari penggalan ini dapat disarikan makna bahwa Tuhan tidak perlu diseru dengan suara yang kencang; Dia tidak perlu dipanggil dengan pekikkan yang keras. Dia Maha Mendengar bahkan ketika kita menyeru-Nya dengan berbisik. Bukan tinggi-rendahnya volume suara yang jadi ukuran, melainkan suasana batin dan keadaan jiwa saat menyapa-Nya yang harus diindahkan. Suasana batin dan keadaan jiwa itu, seperti ditunjukkan ayat ini, antara lain rendah diri (tadharru’) dan rasa takut (khîfah). Suasana dan keadaan itu kemudian didukung dengan penyampaian kata-kata atau seruan yang lirih. Kekhusyukan, kerendahan diri, dan rasa takut berpadu sendu, lirih dan syahdu.
Memang secara tematik ayat ini sedang berbicara tentang bagaimana seharusnya seorang hamba berkomunikasi dengan Tuhannya. Hanya saja, seperti halnya semua ayat al-Qur`an, pesan-moral dan substansi makna yang disampaikan berlaku umum, meliputi semua bentuk dan pola komunikasi antar-makhluk. Dengan demikian, dalam berkomunikasi dengan siapa pun, hendaklah setiap orang memperhatikan aturan-aturan yang dijelaskan ayat ini. Tentu saja, dalam beberapa hal terdapat perbedaan antara komunikasi dengan Tuhan dan komunikasi dengan manusia. Namun demikian, secara prinsipil aturan-aturan yang digariskan oleh ayat ini dapat dijadikan landasan bagi pola komunikasi dengan siapa pun.

Larangan
Qaul al-Zûr
QS al-Hajj/22: 30:
Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya. Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.

Dalam surat al-Hajj ayat ini berada dalam kelompok ayat yang sedang membahas haji, manasik dan syi’arnya. Kelompok itu sendiri dimulai dari ayat 26 sampai 37. Seperti ayat-ayat sebelumnya, ayat ini juga menggariskan beberapa hal yang harus dipedomani oleh mereka yang sedang menunaikan ibadah haji, yakni tidak memakan binatang ternak yang sudah diterangkan keharamannya, menjauhi berhala-berhala yang najis, dan menjauhi perkataan-perkataan dusta.
Meski ayat ini turun berkenaan ibadah haji di tanah suci, namun tentu saja makna-makna yang diusung berlaku umum; kapan, di mana, dan bagi siapa pun. Mengingat kesucian dan keagungan kota Mekkah, menjauhi berhala dan perkataan dusta tentu amat-sangat ditekankan di kota ini. Tapi bukan berarti selain musim haji dan di luar Tanah Haram kita boleh makan sembarangan, mendekati berhala, atau berkata dusta. Musim haji dan Tanah Haram merupakan momentum atau starting point bagi pembiasaan diri mengindahkan hal-hal tersebut kapan dan di mana pun.
Di luar itu, menjauhi perkataan dusta (qaul al-zûr) merupakan hal paling penting dalam berkomunikasi dengan siapa pun. Al-Zûr adalah al-kidzb; kebohongan. Kebohongan adalah penyimpangan dari kebenaran. Kebohongan memunculkan permusuhan, melahirkan kedengkian, dan memecah persatuan. Kebohongan mengingkari kebenaran dan mengukuhkan kebatilan.[12]
 
Al-Sû` min al-Qaul  
QS al-Nisâ`/4: 148:
Allah tidak menyukai ucapan buruk (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.

Di antara pesan yang dapat diambil dari ayat ini adalah bahwa kita harus menjaga lisan sehingga tidak keluar darinya ucapan yang buruk dalam segala bentuk dan tingkatannya. Di antara bentuk ucapan buruk adalah sumpah-serapah, mengutuk atau mendoakan jelek terhadap orang lain. Berdasar pesan ayat ini, ucapan-ucapan serupa itu harus dihindari dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan sesama.
Seperti terlihat, ayat ini mengecualikan orang yang dizalimi. Ia diperkenankan mengeluarkan ucapan buruk berupa doa buruk (laknat) terhadap orang yang menzaliminya. Tapi tetap saja menahan diri dari melakukan hal itu lebih baik baginya.[13]

Berita
Qaul Ma’rûf:
QS al-Baqarah/2: 263:
Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.
QS Muhammad/47: 21:
Ta’at dan mengucapkan perkataan yang baik (adalah lebih baik bagi mereka). apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). Tetapi jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.

Pembahasan tentang Qaul Ma’rûf pada dua ayat di atas kurang-lebih sama dengan pembahasan tentang term yang sama terdahulu. Tentu saja dengan tetap memelihara kekhasan konteks masing-masing ayat.

–          Al-Qaul al-Tsâbit   
QS Ibrâhîm/14: 27:
Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.

Secara tematik, ayat ini berada dalam kelompok ayat dalam surat Ibrâhîm yang sedang membuat perumpamaan antara kebenaran dan kebatilan. Kelompok ayat tersebut dimulai ayat 24 sampai ayat ini (27). Pada ayat 24 disebutkan bahwa kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. Ayat 25 menjelaskan bahwa pohon itu memberi buah dengan tidak kenal musim. Sepanjang musim terus memberi kebaikan buah. Sementara itu ayat 26 memberi perumpamaan bagi kalimat yang buruk, yaitu seperti pohon yang buruk yang tercerabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tegak sama sekali. Lalu ayat 27 kembali berbicara tentang kalimat yang baik. Ayat ini menyebut tentang “kalimat yang baik” itu dengan al-qaul al-tsâbit (ucapan yang teguh). Dengan ucapan yang teguh itu Allah meneguhkan orang-orang yang beriman di dunia dan akhirat.
Menurut al-Zamakhsyarî, yang dimaksud dengan al-qaul al-tsâbit adalah ucapan yang diperkuat dengan argumen serta diteguhkan dengan bukti, sehingga ucapan itu terpancang kuat dan kokoh dalam hati pengucapnya lalu menimbulkan rasa tetang dan percaya diri saat mengucapkannya.[14]
Dalm hal ini, pelajaran penting yang dapat diambil adalah bahwa dalam berkomunikasi kita harus mengedepankan al-qaul al-tsâbit, yakni kata-kata yang kuat, berkarakter, ditopang dengan hujjah serta disokong dengan argumen. Tentu saja semua itu disampaikan dengan memperhatikan kesantunan dan keramahan.

Al-Thayyib min al-Qaul
QS al-Hajj/22: 24:
Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji.
 
Ayat ini berhubungan erat dengan ayat sebelumnya (ayat 23). Ayat 23 menjelaskan keadaan orang-orang beriman dan beramal saleh yang ada di dalam surga. Di sana mereka diberi perhiasan gelang-gelang dari emas dan mutiara. Pakaian mereka adalah sutera. Kemudian ayat 24 ini menjelaskan bahwa mereka juga diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan kepada jalan yang terpuji.
Ada dua kemungkinan tentang keterangan yang dijelaskan ayat 24 di atas. Mungkin itu tentang mereka di dunia, atau itu keadaan mereka kelak di surga. Jika yang dimaksud al-thayyib min al-qaul itu di dunia maka yang dimaksud adalah ucapan lâ ilâha illâ Allâh dan kata-kata yang baik lainnya seperti zikir dan semacamnya. Dan jalan yang terpuji, jika itu di dunia maka yang dimaksud adalah jalan Islam. Sedangkan jika al-thayyib min al-qaul itu di surga kelak, maka maksudnya adalah kata-kata mereka seperti ini, “al-hamdu lillâh al-ladzî shadaqanâ wa’dahu (segala puji bagi Allah yang telah menetapi janji-Nya kepada kami),” atau semacam itu dari obrolan para penghuni surga antar-sesama mereka. Dan jalan yang terpuji, jika itu di surga maka yang dimaksud adalah jalan ke surga.[15]
Yang dapat dipetik dari ayat ini sekaitan dengan etika berkomunikasi antara lain bahwa dalam berkomunikasi dengan siapa pun kita harus memilih kata-kata yang baik (thayyib). Kata-kata yang baik adalah kata-kata yang dipilihkan Allah bagi para penghuni surga. Dengan berkata-kata yang baik, kita telah meneladani salah satu perangai penghuni surga. Kata-kata yang baik meliputi pemilihan kata, relevansi tema serta kesesuaian waktu dan tempat.

Lahn al-Qaul
QS Muhammad/47: 30:
Dan kalau Kami kehendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu.

Dalam QS Muhammad, ayat ini berada dalam kelompok ayat yang sedang berbicara tentang ancaman terhadap orang-orang munafik dan orang-orang murtad. Kelompok ayat tersebut membentang dari ayat 20 sampai ayat 38. Pada ayat ini (ayat 30), Allah menunjukkan salah satu tanda mereka (orang-orang munafik) yaitu suka membuat lahn al-qaul. Lahn al-qaul, seperti kata Muhammad al-Hijâzî dalam al-Tafsîr al-Wâdhih, adalah berkata-kata dengan kiasan dan sindiran.[16]
Di antara pesan yang dapat diambil dari ayat ini berkaitan dengan topik tulisan ini adalah bahwa dalam berkomunikasi kita hendaknya memilih kata-kata yang jelas, mudah dipahami oleh lawan bicara dan sebisa mungkin menghindari kata-kata yang menimbulkan pengertian yang tidak sama antara pengucap dan pendengar. Lebih dari itu, bedasar ayat di atas, memilih kata-kata kiasan daripada kata-kata yang jelas, atau mengutamakan kata-kata sindiran daripada kata-kata yang lugas langsung ke sasaran tanpa alasan yang dibenarkan merupakan salah satu ciri orang munafik. Singkat kata, menggunakan kata-kata yang terang, lugas, langsung ke sasaran merupakan salah satu ciri komunikasi islami. Sedangkan kata-kata yang kabur, berbelit-belit, dan penuh kiasan merupakan salah satu ciri komunikasi munafik.

Munkar min al-Qaul
Al-Mujâdalah/58: 2:
Orang-orang yang menzhihar isterinya di antara kamu, (menganggap isterinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah isteri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.

Secara tematik ayat ini sedang berbicara tentang zhihâr. Sabab nuzûl-nya adalah Khuwaylah bint Tsa’labah yang di-zhihâr oleh suaminya, Aws bin al-Shâmit.[17] Kata zhihâr, seperti dikatakan Ibn Katsîr, berasal dari kata zhahr (punggung). Di zaman jahiliah apabila seseorang dari mereka men-zhihâr isterinya ia berkata: “Kamu bagiku seperti punggung ibuku.” Menurut aturan syariat zhihâr juga berlaku bagi anggota tubuh lainnya, diqiaskan kepada punggung.[18] Menurut tradisi jahili men-zhihâr berarti menjatuhkan talak. Kemudian Allah—lewat ayat ini—memberikan rukhshah kepada umat ini dengan tidak menjadikannya sebagai talak tetapi merupakan sebuah pelanggaran (dosa) yang harus dikifarati.[19]
Oleh ayat ini kata-kata yang diucapkan seseorang ketika melakukan zhihar disebut sebagai perkataan mungkar dan dusta (munkar min al-qaul wa zûr). Pesan universal dari ayat ini adalah keharusan menjauhi kata-kata yang penuh dengan kemungkaran, kedustaan; kata-kata yang sarat dengan pelanggaran terhadap etika syariat dan etika publik, kata-kata yang tidak senonoh yang jauh dari norma yang berlaku dalam hal berkomunikasi antar sesama.

Qaul Mukhtalif
Al-Dzâriyyât/51: 8:
Sesungguhnya kamu benar-benar dalam keadaan berbeda pendapat.

Dalam QS al-Dzâriyyât ayat ini berada dalam kelompok ayat yang sedang menegaskan adanya kebangkitan akhirat. Ayat ini menjelaskan keadaan orang-orang yang membohongkan adanya kebangkitan akhirat itu. Dengan tegas al-Qur`an berkata kepada mereka, “Sesungguhnya kalian benar-benar dalam keadaan berbeda pendapat.” Mereka berbeda pendapat tentang sosok Muhammad Saw. Sebagian mereka menuduhnya penyair dan sebagian lainnya menuduh gila. Mereka juga berbeda pendapat tentang al-Qur`an. Sebagian mereka menyebutnya sihir, sebagian lainnya menyebut perdukunan, serta ada pula yang menuduhnya kumpulan lagu-lagu, dan sebagainya.[20]
Lepas dari konteks awalnya, beberapa pelajaran dapat diambil terkait etika komunikasi antar-sesama. Bahwa dalam berkomunikasi kita harus menghindari kata-kata yang kontradisksi antara ungkapan yang satu dengan ungkapan lainnya. Kita harus konsisten dari awal pembicaraan hingga akhir. Jika komunikasi terjadi antar-kelompok, maka konsistensi dan kekompakkan harus terjadi antar-anggota kelompok. Ketidakkompakkan antar-anggota kelompok akan menjadi senjata bagi kelompok lawan untuk melemahkan dan menjatuhkan. Lebih dari itu, seperti ditunjukkan ayat ini, berselisih pendapat antar-anggota kelompok merupakan salah satu ciri orang kafir yang membohongkan adanya kebangkitan akhirat. Maka kita dituntut menjauhi segala sifat dan perbuatan yang menjadi ciri orang kafir.

Qaul ‘Azhîm
QS al-Isrâ`/17: 40:
Maka apakah patut Tuhan memilihkan bagimu anak-anak laki-laki sedang Dia sendiri mengambil anak-anak perempuan di antara para malaikat? Sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan kata-kata yang besar (dosanya).

Pertanyaan yang dilontarkan ayat ini sesungguhnya bermuatan istinkâr wa al-tahakkum (pengingkaran dan penghinaan). Ayat sejatinya mengingkari kata-kata mereka (orang-orang kafir) bahwa para malaikat adalah anak-anak perempuan Allah. Maha Suci Dia dari memiliki anak dan teman, Maha Suci Dia dari adanya yang menyerupai dan sekutu. Ayat ini juga berisi penghinaan terhadap perbuatan mereka menisbahkan anak-anak perempuan kepada Allah, sementara dalam keyakinan mereka anak-anak perempuan lebih rendah dari anak-anak laki-laki. Mereka juga sering membunuh anak-anak perempuan karena takut miskin atau merasa malu. Sungguh hina perbuatan mereka; mereka menilai rendah anak-anak perempuan lalu menisbahkannya kepada Allah.
Ayat ini seakan bertanya, “Jika Allah adalah Pencipta anak-anak laki-laki dan anak-anak perempuan, lalu pantaskah bagi-Nya memilihkan bagi mereka anak-anak laki-laki lalu memilihkan untuk Diri-Nya anak-anak perempuan?” Dengan tegas ayat ini menyatakan bahwa kata-kata mereka itu sungguh merupakan perkataan yang besar; besar kehinaannya, kekejiannya, keangkuhannya, kebohongannya, kedustaannya, dan kemustahilannya.[21]
Dalam hal ini, komunikasi kita dengan sesama juga harus terhindar dari qaul ‘azhim seperti yang ditunjukkan ayat ini. Yaitu kata-kata yang mengandung kekejian dan kebohongan meski dibalut dengan redaksi yang puitis atau kata-kata yang bersastra.

Mâ Lâ Yardhâ min al-Qaul
QS al-Nisâ`/4: 108:
Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. dan adalah Allah Maha meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.

Secara tematik ayat ini berada dalam kelompok ayat yang sedang menegaskan kewajiban berbuat adil dan tidak memihak dalam menetapkan hukum. Kelompok itu bermula dari ayat 105 hingga ayat 115. Ayat ini secara tematik tentu saja sangat berhubungan erat dengan tiga ayat sebelumnya (ayat 105-107). Ayat-ayat ini turun berhubungan dengan kasus pencurian yang dilakukan Thu’mah. Thu’mah menyembunyikan barang curiannya itu di rumah seorang Yahudi. Thu’mah tidak mengakui perbuatannya itu. Ia malah menuduh bahwa yang mencuri adalah orang Yahudi. Kerabat-kerabat Thu’mah bersekongkol dengan Thu’mah lalu melapor kepada Nabi Saw. bahwa yang mencuri bukan Thu’mah melainkan orang Yahudi.
Persekongkolan kerabat-kerabat Thu’mah itu dilakukan di malam hari. Ayat ini menyebut hasil persekongkolan mereka sebagai “keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai”. Namun ayat menegaskan bahwa betapa pun mereka merahasiakan perbincangan di malam itu, sesungguhnya tidak ada yang bersifat rahasia di sisi Allah. Penegasan ini sekaligus menjadi peringatan bagi siapa pun untuk menjauhi hal-hal yang tidak diridhai Allah meskipun dalam tempat atau kondisi yang tidak terlihat atau terdengar orang lain. Mâ lâ yardhâ min al-qaul yang terdapat dalam ayat ini, maksudnya adalah bahwa mereka berkumpul di suatu malam, lalu merancang sebuah tipu-daya dan kebohongan. Perbincangan mereka di malam itu disebut sebagai kata-kata (keputusan) rahasia yang tidak diridhai Allah.[22]
Nilai-nilai dasar dari ayat ini yang dapat dikembangkan dalam bidang komunikasi antar-sesama antara lain keharusan menjauhi kata-kata yang mengandung tipu-muslihat yang merugikan atau mencelakakan pihak yang kita ajak berkomunikasi. Jika komunikasi kita bersifat antar-kelompok, maka tidak boleh anggota sebuah kelompok merancang kesepakatan yang berisi hal-hal yang tidak diridhai Allah seperti dalih, tipu-daya, makar, dan semacamnya yang merugikan kelompok lain.

–          Zukhruf al-Qaul
QS al-An’âm/6: 112:
Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.

Yang menjadi fokus dari ayat di atas adalah kata zukhruf al-qaul ghurûrâ (perkataan yang indah-indah untuk menipu). Ayat ini sedang berbicara kepada Nabi Saw. dalam rangka menenangkan hati beliau bahwa Allah telah menjadikanmusuh bagi tiap nabi. Musuh para nabi itu berupa setan dari jenis manusia dan jin. Setan-setan itu sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain zukhruf al-qaul (perkataan yang indah-indah) untuk menipu manusia. Mereka saling membisikkan kesesatan dan keburukan, lalu dikemas dengan kata-kata yang indah dan menarik agar manusia tertipu. Adanya musuh para nabi berupa setan dari jenis manusia dan jin ini merupakan salah satu bentuk ujian demi sebuah hikmah yang dikehendaki-Nya.[23]
Ayat ini menunjukkan bahwa di antara ciri musuh para nabi adalah gemar membuat perkataan yang indah-indah untuk menipu lawannya. Tentu saja pesan-moral ayat ini dapat diaplikasikan dalam konteks komunikasi antar-sesama. Dalam hal komunikasi, hindari kata-kata yang penuh tipu-daya dan muslihat meski dikemas dengan untaian redaksi yang indah dan memikat. Lebih baik kata-katanya ringan dan sederhana tapi penuh ketulusan serta mengandung pesan persaudaraan.

–          Zhâhir min al-Qaul 
QS al-Ra’d/13: 33:
Maka apakah Tuhan yang menjaga setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang tidak demikian sifatnya)? Mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah. Katakanlah, “Sebutkanlah sifat-sifat mereka itu.” Atau  apakah kamu hendak memberitakan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di bumi, atau kamu mengatakan (tentang hal itu) sekadar perkataan pada lahirnya saja. Sebenarnya orang-orang kafir itu dijadikan (oleh syaitan) memandang baik tipu daya mereka dan dihalanginya dari jalan (yang benar). Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka baginya tak ada seorang pun yang akan memberi petunjuk.

Yang menjadi fokus dari ayat di atas adalah term zhâhir min al-qaul. Menurut ayat ini, zhâhir min al-qaul merupakan salah satu ciri orang kafir. Zhâhir min al-qaul memiliki beberapa arti, di antaranya kata-kata kosong tanpa makna, kata-kata batil,[24] dan kata-kata yang kerap digunakan dalam keseharian namun tidak memiliki hakikat (makna).[25] Singkatnya, omong kosong.
Sehubungan dengan etika komunikasi, ayat ini memberi pesan-moral bahwa dalam berkata-kata dengan siapa pun kita harus menghindari kata-kata yang nir-makna; kata-kata yang muatannya hanya keburukan dan kebatilan meski kata-kata itu sudah mentradisi di kalangan masyarakat.

Penutup
Kesimpulan
Dari paparan tentang term qaul dalam al-Qur`an di atas, beberapa poin dapat disimpulkan terkait etika berkomunikasi antar sesama. Dalam berkomunikasi,kita harus memeliharakata-kata yang baik, santun dan enak didengar (al-Nisâ`/4: 5, 8; al-Baqarah/2: 263, Muhammad/47: 21), kata-kata yang bebas dari unsur dosa dan kefasikan serta tidak mengundang perilaku dosa dan kefasikan (al-Ahzab/33: 32), tutur kata yang baik, kapan dan di mana pun serta terhadap siapa pun, tutur-kata yang tepat, berkeadilan dan tidak menyinggung perasaan (al-Ahzab/33: 70, al-Nisâ`/4: 9),kata-kata yang lemah-lembut, santun, halus serta mengenakkan (Thâhâ/20: 44), mempertimbangkan tingkat kecerdasan, daya tangkap, kedewasaan, setting sosial-ekonomi dan budaya, dan semacamnya. Setiap kelompok atau golongan menuntut tipe atau model komunikasitertentu. Tipe atau model yang cocok buat kalangan petani belum tentu cocok buat kalangan pedagang, dan begtiu seterusnya (al-Nisâ`/4: 63).
Komunikasi yang menjunjung nilai-nilai kemuliaan. Yang muda sadar akan kemudaannya di hadapan yang tua sehingga ia tahu hak-hak yang tua terhadap dirinya yang masih muda. Sementara yang tua tidak memanfaatkan ketuaannya untuk menekan yang muda menunaikan kewajibannya terhadap dirinya yang lebih tua. Masing-masing pihak sadar diri; tahu diri, mawas diri, pintar menempatkan diri, mengerti mana hak yang mungkin ia dapatkan dan mana kewajiban yang harus ditunaikan (al-Isrâ`/17: 23). Komunikasi sebaiknya disampaikan dengankekhusyukan (sungguh-sungguh), kerendahan hati, dan suara yang rendah kalau tidak ada kondisi yang menuntut suara tinggi (al-A’râf/7: 205).Menjauhi perkataan dusta dan kebohongan. Kebohongan memunculkan permusuhan, melahirkan kedengkian, dan memecah persatuan (al-Hajj/22: 30).
Komunikasi harus menjaga lisan sehingga tidak keluar darinya ucapan buruk seperti sumpah-serapah, mengutuk atau mendoakan jelek terhadap orang lain (al-Nisâ`/4: 148).harus mengedepankankata-kata yang kuat, berkarakter, ditopang dengan hujjah serta disokong dengan argumen. Semua itu disampaikan dengan memperhatikan kesantunan dan keramahan (Ibrâhîm/14: 27). Dalam berkomunikasi harus memilih kata-kata yang baik (thayyib). Kata-kata yang baik merupakan kata-kata yang dipilihkan Allah bagi para penghuni surga. Dengan berkata-kata yang baik, kita telah meneladani salah satu perangai penghuni surga. Kata-kata yang baik meliputi pemilihan kata, relevansi tema serta kesesuaian waktu dan tempat (al-Hajj/22: 24),memilih kata-kata yang jelas, mudah dipahami oleh lawan bicara dan sebisa mungkin menghindari kata-kata yang menimbulkan pengertian yang tidak sama antara pengucap dan pendengar. Memilih kata-kata kiasan daripada kata-kata yang jelas, atau mengutamakan kata-kata sindiran daripada kata-kata yang lugas langsung ke sasaran tanpa alasan yang dibenarkan merupakan salah satu ciri orang munafik. Singkat kata, menggunakan kata-kata yang terang, lugas, langsung ke sasaran merupakan salah satu ciri komunikasi islami. Sedangkan kata-kata yang kabur, berbelit-belit, dan penuh kiasan merupakan salah satu ciri komunikasi munafik (Muhammad/47: 30).
Berkomunikasi harus menjauhi kata-kata yang penuh kemungkaran, kedustaan; kata-kata yang sarat dengan pelanggaran terhadap etika syariat dan etika publik, kata-kata yang tidak senonoh yang jauh dari norma (al-Mujâdalah/58: 2).Menghindari kata-kata yang kontradisksi antara ungkapan yang satu dengan ungkapan lainnya, harus konsisten dari awal pembicaraan hingga akhir. Jika komunikasi terjadi antar-kelompok, maka konsistensi dan kekompakkan harus terjadi antar-anggota kelompok. Ketidakkompakkan antar-anggota kelompok akan menjadi senjata bagi kelompok lawan untuk melemahkan dan menjatuhkan. Lebih dari itu berselisih pendapat antar-anggota kelompok merupakan salah satu ciri orang kafir (al-Dzâriyyât/51: 8).
Berkomunikasi harus menghindari kata-kata yang mengandung kekejian dan kebohongan meski dibalut dengan redaksi yang puitis atau kata-kata yang bersastra ( al-Isrâ`/17: 40). Harus menjauhi kata-kata yang mengandung tipu-muslihat yang merugikan atau mencelakakan pihak yang kita ajak berkomunikasi. Jika komunikasi kita bersifat antar-kelompok, maka tidak boleh anggota sebuah kelompok merancang kesepakatan yang berisi hal-hal yang tidak diridhai Allah seperti dalih, tipu-daya, makar, dan semacamnya yang merugikan kelompok lain (QS al-Nisâ`/4: 108). Harus menghindari kata-kata yang penuh tipu-daya dan muslihat meski dikemas dengan untaian redaksi yang indah dan memikat (al-An’âm/6: 112). Serta harus menghindari kata-kata yang nir-makna; kata-kata yang muatannya hanya keburukan dan kebatilan meski kata-kata itu sudah mentradisi di kalangan masyarakat (al-Ra’d/13: 33).

Saran 
Pembahasan tentang etika berkomunikasi dalam tulisan ini masih sangat mentah. Perlu pematangan lebih jauh terutama menyangkut bentuk, sarana, dan jenis-jenis komunikasi modern yang tentunya memiliki banyak perkembangan dibanding komunikasi zaman pra-modern. Namun pematangan itu harus tetap memperhatikan pesan-pesan moral al-Qu`an, sebab diyakini bahwa pesan-moral al-Qur`an akan selalu relevan kapan dan di mana pun, tidak terkecuali dalam hal berkomunikasi.
 
Daftar Pustaka

Al-Andalusî, Abû Hayyân, Tafsîr al-Bahr al-Muhîth, Libanon: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah, cet. I, 2011.
Al-Andalûsî, Abû Muhammad bin ‘Athiyah, al-Muharrir al-Wajîj fî Tafsîr al-Kitâb al-‘Azîz, Libanon: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah, cet. I, 1993.
Al-Hijâzî, Muhammad Mahmûd, al-Tafsîr al-Wâdhih, BeirutL Dâr al-Jîl, cet. X, 1423 H.
Ibn Katsîr, Ismâ’îl bin ‘Umar, Tafsîr al-Qur`ân al-’Azhîm, Beirut: Dâr al-Fikr, 1401 H.
———-, Tafsîr al-Qur`ân al-‘Azhîm, Beirut: Dâr Thayyibah lî al-Nasyr wa al-Tauzî’, cet. II, 1999.
Al-Istanbûlî, Ismâ’îl Haqqî, Tafsîr Rûh al-Bayân, Beirut: Dâr Ihyâ` al-Turâts al-‘Arabî, tt.
Izzat, Darwazah Muhammad, al-Tafsîr al-Hadîts, Kairo: Dâr Ihyâ` al-Kutub al-‘Arabiyah, 1383 H.
Al-Jauzî, ‘Abdurrahmân bin ‘Ali, Zâd al-Masîr fî ‘Ilm al-Tafsîr, Beirut: al-Maktab al-Islâmî, cet. III, 1404.
Majmû’ah ‘Ulamâ` al-Azhar, al-Tafsîr al-Wasîth lî al-Qur`ân al-Karîm, Univ. al-Azhar: al-Hai`ah al-‘Âmah lî Syu`ûn al-Mathâbi’ al-Amîriyah, cet. I, 1993.
Al-Qurthubî, Muhammad bin Ahmad, al-Jâmi’ lî Ahkâm Al-Qur`ân, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah, cet. I, 1988.
Quthb, Sayyid, Fî Zhilâl Al-Qur`an, Beirut: Dâr al-Syurûq, cet. XVII, 1990.
Al-Râzî, Fakhr al-Dîn, Mafâtih al-Ghaib, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiah, cet. I, 2000.
Al-Shâbûnî Muhammad ‘Ali, Shafwah al-Tafâsîr, Kairo: Dâr al-Shâbûnî lî al-Thibâ’ah wa al-Nasyr wa al-Tauzî’, cet. I, 1997.
Al-Suyûthî, Jalâluddîn, al-Durr al-Mantsûr, Beirut: Dâr al-Fikr, 1993.
Al-Thantâwî, Muhammad Sayyid, al-Tafsîr al-Wasîth lî al-Qur`ân al-Karîm, Kairo: Dâr Nahdhah Mishr, cet. I, 1997.
Al-Zamakhsyarî, Mahmûd bin ‘Umar, al-Kasysyâf ‘an Haqâ`iq al-Tanzîl wa ‘Uyûn al-Aqâwîl fî Wujûh al-Ta`wîl, Beirut: Dâr al-Ma’rifah, cet. II, 2005.
———-, al-Kasysyâf ‘an Haqâ`iq al-Tanzîl wa ‘Uyûn al-Aqâwîl fî Wujûh al-Ta`wîl, Beirut: Dâr Ihyâ` al-Turâts al-‘Arabî, tt.
Al-Zuhaili, Wahbah, al-Tafsîr al-Munîr fî al-‘Aqîdah wa al-Syarî’ah wa al-Manhaj, Damaskus: Dâr al-Fikr al-Mu’âshir, cet. II, 1418 H.

[1] Ismâ’îl Haqqî al-Istanbûlî, Tafsîr Rûh al-Bayân, Beirut: Dâr Ihyâ` al-Turâts al-‘Arabî, tt., jilid 2, hal. 133.
[2] Ismâ’îl bin Katsîr, Tafsîr al-Qur`ân al-‘Azhîm, Beirut: Dâr Thayyibah lî al-Nasyr wa al-Tauzî’, cet. II, 1999, jilid 2, hal. 215.
[3] Mahmûd bin ‘Umar al-Zamakhsyarî, Tafsîr al-Kasysyâf, Beirut: Dâr al-Ma’rifah, cet. II, 2005, hal. 220.
[4] Al-Zamakhsyarî, al-Kasysyâf…, hal. 220.
[5] Wahbah al-Zuhailî, al-Tafsîr al-Munîr fî al-‘Aqîdah wa al-Syarî’ah wa al-Manhaj, Damaskus: Dâr al-Fikr al-Mu’âshir, cet. II, 1418 H, jilid 4, hal. 262.
[6] Al-Zuhailî, al-Tafsîr al-Munîr… jilid 22, hal. 8-9.
[7] Muhammad bin Ahmad al-Qurthubî, al-Jâmi’ lî Ahkâm al-Qur`ân, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah, cet. I, 1988, jilid 7, hal. 162.
[8] Al-Qurthubî, al-Jâmi’…, jilid 3, hal. 36.
[9] Lihat Mahmûd bin ‘Umar al-Zamakhsyari, Tafsîr al-Kasysyâf, Beirut: Dâr al-Ma’rifah, cet. II, 2005, hal. 656.
[10] Sayyid Quthb, Fî Zhilâl al-Qur`ân, Beirut: Dâr al-Syurûq, cet. XVII, 1990, jilid 2, hal. 695.
[11] Lihat Abû Muhammad bin ‘Athiyah al-Andalûsî, al-Muharrir al-Wajîj fî Tafsîr al-Kitâb al-‘Azîz, Libanon: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah, cet. I, 1993, hal. 459-460.
[12] Majmû’ah ‘Ulamâ` al-Azhar, al-Tafsîr al-Wasîth lî al-Qur`ân al-Karîm, Univ. al-Azhar: al-Hai`ah al-‘Âmah lî Syu`ûn al-Mathâbi’ al-Amîriyah, cet. I, 1993, jilid 6, hal. 1214.
[13] Jalâluddîn al-Suyûthî, al-Durr al-Mantsûr, Beirut: Dâr al-Fikr, 1993, jilid 2, hal. 723.
[14] Mahmûd al-Zamakhsyarî, al-Kasysyâf ‘an Haqâ`iq al-Tanzîl wa ‘Uyûn al-Aqâwîl fî Wujûh al-Ta`wîl, Beirut: Dâr Ihyâ` al-Turâts al-‘Arabî, tt., jilid 2, hal. 520.
[15] Abû Hayyân al-Andalusî, Tafsîr al-Bahr al-Muhîth, Libanon: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah, cet. I, 2011, jilid 6, hal. 335- 336.
[16] Muhammad Mahmûd al-Hijâzî, al-Tafsîr al-Wâdhih, Beirut: Dâr al-Jîl, cet. X, 1423 H, jilid 3, hal. 470.
[17]Ismâ’îl bin ‘Umar bin Katsîr, Tafsîr al-Qur`ân al-’Azhîm, Beirut: Dâr al-Fikr, 1401 H, vol. 4, hal. 320.
[18] Sehingga apabila seorang suami berkata kepada isterinya: “Kamu bagiku seperti wajah (atau tangan, kaki, dan anggota tubuh lainnya) ibuku,” maka ia telah melakukan zhihâr.
[19] Ibn Katsîr, Tafsîr al-Qur`ân al-‘Azhîm…, vol. 4, hal. 321.
[20] ‘Abdurrahmân bin ‘Ali al-Jauzî, Zâd al-Masîr fî ‘Ilm al-Tafsîr, Beirut: al-Maktab al-Islâmî, cet. III, 1404, jilid 8, hal. 29.
[21] Quthb, Fî Zhilâl al-Qur`an, jilid 4, hal. 2230.
[22] Fakhr al-Dîn al-Râzî, Mafâtîh al-Ghaib, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiah, cet. I, 2000, jilid 11, hal. 29.
[23] Muhammad ‘Ali al-Shâbûnî, Shafwah al-Tafâsîr, Kairo: Dâr al-Shâbûnî lî al-Thibâ’ah wa al-Nasyr wa al-Tauzî’, cet. I, 1997, Jilid 1, hal. 383.
[24] Muhammad Sayyid Thantâwî, al-Tafsîr al-Wasîth lî al-Qur`ân al-Karîm, Kairo: Dâr Nahdhah Mishr, cet. I, 1997, jilid 7, hal. 488.
[25] Darwazah Muhammad Izzat, al-Tafsîr al-Hadîts, Kairo: Dâr Ihyâ` al-Kutub al-‘Arabiyah, 1383 H, jilid. 5, hal. 545.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: