Berpikir positif, bersikap & bertindak bijak

Allah telah menjadikan sebab dan ukuran bagi segala sesuatu. Tidak ada yang tercipta tanpa sebab, pun tidak ada yang terlahir tanpa kepastian ukuran dan aturannya. Seorang bayi baru bisa melihat cahaya kehidupan setelah melewati beberapa tahapan dan sebab-sebab pembuka. Tidak ada sebuah kejadian di alam wujud ini kecuali didahului oleh premis-premis dan prakondisi yang menjadikannya benar-benar terjadi. Jiwa-jiwa manusia dan semesta tidak akan bergerak dan berubah kecuali setelah melewati rangkaian persiapan serta pengkondisian. Demikianlah sunnah Allah yang Dia terapkan atas semua makhluk-Nya. Kita tidak akan menemukan pergantian pada sunnah-Nya.

Sejarah menunjukkan kebenaran berlakunya sunnah-Nya seperti disebutkan di atas. Seorang peneliti sejarah yang mengaku luas wawasannya dan teliti pengamatannya haruslah jeli menelisik faktor-faktor pendorong di balik setiap peristiwa jika ia ingin sampai pada hakikat sejarah yang terekam dalam tumpukan naskah dan data. Bukan hanya sejarah yang menuntut kejelian dan kecakapan memeras kesimpulan dari serangkaian kejadian pendahuluan. Ilmu-ilmu kealaman, kajian-kajian sosial, seni dan sastra pun demikian. Tegasnya, kita diminta sabar dan jeli untuk menghubungkan semua cabang ilmu dengan segala unsur yang melingkupinya, baik-baik unsur-unsur yang mendahuluinya (penyebab) maupun hal-hal yang datang sesudahnya (tujuan dan hasil).

Tidak terkecuali dalam hal ini pengetahuan dan penafsiran al-Qur`an. Setiap penggal kata dalam ayat-ayatnya, segala model ungkapan dalam kisah-kisah yang disampaikannya, semua itu berhubungan erat dengan kejadian-kejadian riil, fenomena-fenomena nyata, dan bukti-bukti sejarah yang konkret. Maka ketika kita membaca ayat demi ayat al-Qur`an; ketika kita membaca kisah-kisah yang disampaikannya; bayangkan tokoh-tokoh yang tersaji dalam kisah itu seakan masih hidup, datang dan pergi, bercakap dan berutur kepada kita. Itulah pembacaan yang berkesadaran, bacaan yang hidup dan menghidupkan, bukan pembacaan yang kering. Pembacaan yang kering adalah pembacaan yang tidak melibatkan kesadaran historis untuk setiap penggal teks yang dibaca.

Dari paparan di atas dapat terbaca hakikat pentingnya pengetahuan tentang sabab al-nuzûl. Yakni pentingnya pembacaan teks yang berkesadaran historis. Bahwa yang kita baca bukan melulu teks secara lahiriah, melainkan banyak hal yang mengelilingi teks. Yang kita baca adalah hakikat realitas bukan bentuk formalnya, hakikat manusia bukan wujud luarnya, kesejatian bukan sesuatu yang artifisial. Sedemikian pentingnya pengetahuan tentang sabab al-nuzûl sehingga dapat dimengerti jika para ulama terpercaya melarang siapa pun menafsirkan al-Qur`an jika buta tentang asbâb al-nuzûl. Tidak berlebihan jika al-Wâhidî, seperti dikutip Shubhî al-Shâlih, mengatakan bahwa tidak mungkin mengetahui tafsir al-Qur`an tanpa pengetahuan tentang kisah-kisahnya dan penjelasan-penjelasan lain menyangkut proses nuzûl-nya.

Menyebut sabab al-nuzûl sebagai “kisah” terasa lebih mendalam dan mengena. Kajian tentang sabab al-nuzûl dengan pendekatan kesejarahan menjadikan al-Qur`an terasa lebih hidup. Sesungguhnya sabab al-nuzûl merupakan kisah (rekam-jejak) tentang realitas dengan segala dinamikanya; pergolakannya, gonjang-ganjingnya, person-personnya, berbagai kejadiannya, dan seterusnya. Kesadaran historis menjadikan ayat-ayat al-Qur`an dibaca dengan penuh penghayatan dan penjiwaan, kapan dan di mana pun. Kesadaran ini juga mengusir jenuh dari para pembaca karena ayat-ayat yang dibaca menyajikan secara hidup hikayat orang-orang terdahulu dan kisah-kisah umat yang sudah lewat sekian waktu. Pada hikayat dan kisah itu si pembaca “menemukan” dirinya; hikayat yang ia baca seolah hikayat tentang dirinya, kisah yang ia jumpai seakan kisah tentang dirinya.

Ketidaktahuan tentang asbab al-nuzûl banyak menjerumuskan kita pada ketidakjelasan dan kesalahan. Tanpa pengetahuan tentang asbâb al-nuzûl, kita pahami ayat-ayat tidak sesuai arahnya, tidak sejalan dengan tujuan serta hikmah nuzûl-nya. Itulah yang terjadi pada Marwân bin al-Hakam ketika memahami ayat:

Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan; janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih (QS Âli ‘Imrân/3: 188).

Marwân menyangka ayat ini ancaman bagi kaum Mukmin. Maka ia suruh pembantunya, Râfi’, mendatangi Ibn ‘Abbâs untuk menyampaikan kata-kata ini, “Jika tiap orang yang gembira dengan apa yang telah dilakukannya dan senang dipuji dengan perbuatan yang belum dikerjakannya; jika tiap orang yang demikian akan diazab, maka kita semua akan diazab.” Mendengar itu Ibn ‘Abbâs berkata, “Tidaklah kalian seperti itu! Ayat ini tentang orang-orang Yahudi yang diseru Nabi Saw. Kepada mereka beliau bertanya tentang sesuatu, tapi mereka menyembunyikan jawaban yang benar dan memberi jawaban lain yang palsu. Dengan berlaku seperti itu mereka merasa pantas dipuji oleh Nabi Saw. Mereka juga gembira karena telah menyembunyikan jawaban yang benar dari Nabi Saw.” Kemudian Ibn Abbâs membacakan ayat, “Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu), ‘Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,’ lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima.  Janganlah sekali-kali kamu menyangka, hahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan; janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih” (QS Âli ‘Imrân/3: 187-188).

Tegasnya, tanpa pengetahuan tentang sabab al-nuzûl kemusykilan akan selalu menyertai penafsiran al-Qur`an. Tanpa pengetahuan tentang sabab al-nuzûl, hingga kini kita, misalnya, masih menghalalkan minuman memabukkan dan gemar minum khamr dengan dalil ayat ini:

Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu (QS al-Mâ`idah/5: 93).

Diriwayatkan dari ‘Utsmân bin Mazh’ûn dan ‘Amr bin Ma’dîkariba bahwa keduanya mengatakan khamr itu halal. Mereka berdalil dengan ayat ini. Mereka tidak mengetahui sabab nuzûl-nya. Sabab nuzûl ayat ini, seperti diriwayatkan al-Hasan dan lainnya bahwa ketika ayat yang mengharamkan khamr turun, mereka (para sahabat) bertanya, “Bagaimana dengan saudara-saudara kami yang telah meninggal dunia sedang khamr ada di perut mereka, padahal Allah telah memberitahu kita bahwa khamr itu najis?” Maka turunlah ayat ini (QS al-Mâ`idah/5: 93).

Tanpa pengetahuan tentang sabab al-nuzûl, orang bisa saja menghadap ke arah yang disukainya saat shalat dengan berdasar secara harfiah pada ayat:

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat. Maka kemana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha mengetahui (QS al-Baqarah/2: 155).

Orang yang menelaah sabab al-nuzul akan segera tahu bahwa ayat ini tentang beberapa orang Mukmin yang shalat bersama Nabi Saw. di malam gelap-gulita sehingga tidak tahu arah kiblat. Maka jadilah masing-masing dari mereka shalat dengan menghadap arah yang mereka yakini sebagai arah kiblat. Dalam keaadaan serupa itu, Allah tidak membatalkan amal siapa pun dari mereka. Allah ridha terhadap shalat mereka meski tidak menghadap Ka’bah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: