Berpikir positif, bersikap & bertindak bijak

Untuk Para Perindu Khilafah

Salah satu kebijakan penting Sayyidina Umar adalah mewajibkan para pemuka sahabat untuk menetap di Madinah. Kepada mereka beliau menjelaskan, “Aku ingin selalu berada di dekat kalian dan senantiasa meminta pertimbangan kalian.” Alasan sebenarnya adalah kekhawatiran beliau para sahabat akan dilihat dengan kedengkian. Beliau juga khawatir para sahabat cemburu melihat kekayaan orang-orang di luar Madinah. Di Madinah para sahabat itu digaji oleh Umar dalam jumlah tertentu lagi terbatas. Beliau menuntut mereka mencukupkan diri dengan gaji yang sedikit. Semua tahu, Umar sendiri hidup sederhana. Mereka menerima seruan Umar karena mereka tahu siapa beliau.

Kemudian kita menyaksikan perubahan kebijakan yang dilakukan Sayyidina Usman di masa pemerintahannya. Beliau membebaskan para sahabat pergi ke mana pun mereka mau. Bahkan beliau bermurah-hati memberi mereka berbagai bingkisan dan hadiah. Bingkisan pemberian Usman kepada mereka tidak bisa dibilang kecil. Zubair misalnya, mendapat 60 ribu dirham dan Talhah 100 ribu. Usman juga memberi kepada orang-orang dekatnya dari Bani Umayyah wewenang mengelola beberapa kawasan tertentu.

Tibalah saatnya kepemimpinan Sayyidina Ali. Ia mungkin khalifah yang tepat di masa yang tidak tepat. Karena itu, Ali perlu bersabar dan ia tidak sendiri. Akan datang 70 tahun setelahnya seseorang yang mengupayakan hal serupa dengan Ali. Ia pun sangat ingin menjalankan programnya lebih cepat dari yang Ali coba. Ia adalah Umar bin Abdul Aziz, salah seorang khalifah di masa Bani Umayyah.

Namun masa untuk Umar bin Abdul Aziz bertahan tidak lebih dari 2 tahun 3 bulan saja. Ia wafat dalam usia kurang dari 40 tahun, besar kemungkinan karena diracun. Posisinya digantikan Yazid bin Abdul Malik, seorang penikmat sastera, tembang, dan dunia pertunjukan. Ia penikmat Salamah dan Habbabah. Dialah martir pertama roman dan kisah cinta dalam sejarah khalifah Islam.

Satu setengah abad setelah Umar bin Abdul Aziz, datang seorang khalifah Abbasiyah, al-Muhtadi Billah. Ia ingin mengikuti jejak Umar bin Abdul Aziz. Ia menyeru kebajikan dan melarang kemungkaran. Ia juga seorang asketis dan gemar bergaul dengan ulama. Ia pun menjunjung tinggi karier para fuqaha, tahajjud di malam hari, berlama-lama waktu salat. Akan tetapi nasibnya berakhir tragis. Langkah-langkahnya yang berani terasa berat baik oleh kalangan jelata maupun elitnya. Masa kepemimpinannya dirasa begitu lama oleh mereka. Mereka bosan dengan hari-hari yang mereka jalani. Lalu mereka melakukan tipu muslihat sampai ia terbunuh.

Ketika mereka menangkapnya sebelum membunuhnya, mereka mengejeknya, “Apakah Anda ingin membawa masyarakat dengan taktik orang-orang besar yang tidak mereka kenal?” Al-Muhtadi menjawab, “Aku hanya ingin membawa mereka ke jalan Rasulullah, ahli baitnya, dan para Khulafa` Rasyidun.”

Saudara-saudaraku, para perindu khilafah! Kita bisa berdiskusi pada titik ini: “Jalan Rasulullah, ahli baitnya, dan para Khulafa` Rasyidun.”

Comments on: "Untuk Para Perindu Khilafah" (4)

  1. rizal fanani said:

    Perjalanan khilafah tidaklah berbeda jauh dengan apa yang sering terjadi di negri ini, Sama saja. selalu ada tipu muslihat yang ingin menghancurkan sebuah bangunan yang telah ada. kalau boleh bertanya, sebenarnya khilafah Islam yang bagaimana yang ingin di munculkan kembali oleh para “pejuang khilafah” di Indonesia?

  2. Abad Badruzaman said:

    Khilaf…ah….!🙂

  3. saya ingin mendengar dr perpektif Abah. bgmn dg sejarah kepemimpinan bangsa Indonesia. .🙂

    please. . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: