Berpikir positif, bersikap & bertindak bijak

Pengalaman saya dalam hal tulis-menulis bermula pada tahun 90-an. Tepatnya pada rentang 1992-1996, sewaktu kuliah di Mesir. Mahasiswa Indonesia di Mesir hampir semuanya kuliah di Al-Azhar. Sedikit sekali yang kuliah di universitas selain Al-Azhar. Zaman saya kuliah dulu, dan sepertinya hingga kini, seluruh mahasiswa Indonesia di Mesir diikat oleh organisasi induk bernama Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI). Di luar organisasi induk, banyak organisasi lainnya dengan ragam corak dan haluannya. Ada organisasi bercorak kedaerahan, almamater, tahun angkatan kedatangan ke Mesir, rumpun keilmuan, dan lain semacamnya.

Satu hal menarik dari organisasi-organisasi itu, bahwa hampir semuanya menerbitkan bulletin atau pun jurnal. Beberapa di antaranya saya masih ingat namanya, seperti Bulletin Terobosan yang diterbitkan PPMI, Bulletin La Tansa yang diterbitkan Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor, Bulletin Perdana yang diterbitkan Alumni Pondok Modern Darunnajah, Bulletin Manggala yang diterbitkan Keluarga Paguyuban Masyarakat Jawa Barat (KPMJB), Bulletin FOKUS yang diterbitkan Forum Komunikasi Alumnsi MAPK, Jurnal OASE yang diterbitkan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orsat Kairo, dan banyak lagi lainnya, saya sudah lupa satu persatunya.

Dari banyak bulletin itu, Bulletin Terobosan jadi “incaran” pertama saya. Ia merupakan bulletin terbesar di kalangan mahasiswa Indonesia di Mesir kala itu. Di sela-sela kuliah di tahun pertama, saya menulis “artikel-artikelan” untuk saya kirim ke Redaksi Bulletin Terobosan. Di awal-awal tahun 90-an, jangan kira sudah ada laptop. PC paling terbelakang pun belum kami punya. Tulisan untuk Bulletin Terobosan saya buat dengan tulis-tangan. Banyak teman menyebut tulisan-tangan saya lumayan bagus, sekurangnya mudah dibaca orang lain. Singkat cerita, dengan dititipkan teman, tulisan-tangan saya sampai ke meja redaksi. Dua minggu kemudian sang kawan tadi datang sambil menenteng Bulletin Terobosan. Tulisan saya dimuat di halaman paling belakang. Tidak penting tulisan saya nongkrong di halaman mana. Yang penting dimuat, senangnya bukan kepalang.

Sejak itu saya jadi lebih bergairah dalam menulis. Bukan hanya untuk Bulletin Terobosan saya menulis, beberapa bulletin lainnya juga saya jajaki dan umumnya dimuat. Tentu saya senang meski jelas tidak ada satu pun bulletin yang bisa membayar para penulisnya. Jangankan membayar para penulis, bisa bertahan hidup saja sudah untung. Biaya penerbitan bulletin diambil dari iuran anggota organiasi di mana bulletin bersangkutan bernaung. Kadang para pengelola bulletin berinisiatif “menjual-paksa” bulletin ke para staff Kedutaan Besar RI di Kairo dengan harga yang sudah dinaikkan beberapa kali lipat. Meski tidak yakin bulletin itu akan dibaca oleh para diplomat, tapi “modus” seperti itu mau tidak mau mesti ditempuh demi kesinambungan penerbitan.

Seiring perguliran zaman, komputer pun akhirnya kami miliki meski sifatnya masih “rame-rame”; satu milik semua. Mengirim tulisan hasil tulisan tangan ke bagian redaksi sebuah bulletin pun akhirnya mulai saya tinggalkan. Kini tulisan yang saya kirim sudah hasil printout komputer. Seiring perjalanan waktu juga, saya akhirnya bukan cuma menulis untuk bulletin atau jurnal tapi juga jadi awak dari bulletin dan jurnal. Saya pernah jadi anggota redaksi Bulletin Manggala, Bulletin FOKUS, dan Jurnal OASE. Lagi-lagi, menjadi anggota redaksi bulletin atau jurnal di Mesir sewaktu jadi mahasiswa bukan untuk “mencari penghidupan,” tapi melulu demi kepuasan batin. Ada rasa puas tak terkira saat tulisan dimuat di bulletin atau jurnal juga saat berkutat di depan monitor mengolah tulisan beberapa kawan yang masuk ke dapur redaksi.

Selesai kuliah di Mesir, pulang ke tanah air, niat meneruskan kegiatan tulis-menulis tetap terpasang. Sambil kuliah lagi di Ciputat, saya coba-coba mengirim tulisan ke koran yang terbit di Ibu Kota. Setelah dua minggu menunggu, datang balasan dari bagian redaksi isinya tulisan yang pernah saya kirim. Meski sudah jelas tulisan saya ditolak, tetap saja saya tertarik membaca surat balasan dari Redaksi yang meminta maaf tidak bisa memuat tulisan saya. Mengirim tulisan ke koran di Ciputat ternyata tidak semudah mengirim tulisan ke bulletin atau jurnal mahasiswa di Mesir. Lain ladang lain rumput, lain kolam lain pula ikannya. Jeleknya, sekali ditolak saya langsung patah-arang. Maka saya pun hanya fokus ke kuliah di “UNDIP”; Universitas Depan IIQ Pas alias UIN Jakarta yang waktu itu statusnya masih IAIN. Sampai kemudian seorang teman memberi tahu sebuah penerbit sedang mencari penerjemah dan editor. Dengan semangat menggelora, saya mendaftar, dites dan lulus jadi editor naskah hasil terjemahan dari buku berbahasa Arab.

Dengan begitu, corak kepenulisan saya mengalami perubahan; dari menulis murni menjadi mengedit, from writing to editing. Ada perbedaan antara kegiatan menulis sewaktu di Mesir dan mengedit ketika di Ciputat. Menulis di Mesir memberi kepuasan lebih secara moril meski tidak memberi apa-apa secara materi, sedang mengedit di Ciputat tidak cukup memberi kepuasan secara moril meski memberi sedikit bantuan secara materi. Mengedit menyita cukup banyak waktu dan pikiran, namun ia membantu menanggung biaya kuliah. Memang, dalam beberapa episodenya, hidup merupakan kearifan, kesiapan dan kedewasaan mendialogkan antara idealita dengan realita, antara apa yang diidamkan dengan apa yang nyata di hadapan. Begitulah! Tidak ada cela dalam hal yang demikian, saya kira, selama tidak ada norma yang dilanggar. Seperti kata orang, biarkan hidup mengalir seumpama air.

Setelah berhasil mengedit beberapa buku, pihak penerbit menawarkan job baru. Kali ini menerjemah buku berbahasa Arab. Tawaran, tanpa dipikir panjang, saya sambut. Maka berubah lagi status saya di dunia yang berhubungan dengan tulis-menulis ini, kini jadi penerjemah setelah sebelumnya editor. Satu buku selesai saya terjemahkan. Penerbit cukup berkenan dengan hasil terjemahan saya. Order menerjemah datang lagi, disambut lagi, dan begitu seterusnya. Tanpa terasa, saya sudah menerjemahkan beberapa buku berbahasa Arab. Ada buku klasik seperti ‘Ilm al-Qulûb karya Abû Thâlib al-Makî, Thûq al-Hamâmah, fî al-Ilfah wa al-Ullâf karya  Ibnu Hazm al-Andalûsî, Masyâriq Anwâr al-Qulûb wa Mafâtih Asrâr al-Ghuyûb karya Ibn al-Dabbâgh, Asrâr al-Syarî’ah aw al-Fath al-Rabbâni wa al-Faydl al-Rahmânî karya ‘Abd al-Ghanî bin Ismâ’îl al-Nâblusî, dan Kitâb al-Mi’râj karya Abû al-Qâsim al-Qusyairî. Ada pula buku kontemporer seperti al-Sunnah Mashdaran li al-Ma’rifah wa al-Hadharah karya Yûsuf al-Qarâdhâwî, al-Jânib al-‘Âthifî fi al-Islâm dan al-Mahâwir al-Khamsah li al-Qur`ân al-Karîm karya Muhammad al-Ghazâlî, Hâkadzâ Haddatsanâ al-Zamân dan Rahmatan lî al-‘Âlamîn karya Â`idh al-Qarnî.

Menerjemah beda dengan mengedit, tentu saja. Tapi bagi saya, waktu itu, ada juga persamaannya. Menerjemah lebih memeras otak. Ia bekerja dua kali; memahami apa maksud penulis dalam bahasa aslinya, lalu mengungkapkannya dengan baik dan mudah dipahami dalam bahasa terjemahannya. Sedang dalam mengedit, si editor praktis hanya mengoreksi, meluruskan, dan memperhalus. Persamaannya bagi saya, waktu itu, adalah sama-sama memberi pemasukan yang cukup signifikan sehingga saya bisa bertahan di tengah kerasnya kehidupan Ciputat. Secara nominal honor menerjemah bahkan lebih besar dari honor mengedit. Kebiasaan menerjemah, yang kemudian menjadi semacam kegemaran, terus berlanjut ketika saya menempuh studi lanjut lagi di Ciputat untuk kedua kalinya. Sebut saja Ciputat Jilid 2 yang saya jalani dari 2002 sampai 2007. Sedang Ciputat Jilid 1-nya saya tempuh dari 1998 sampai 2000. Tercatat ada tiga Penerbit yang pernah mempercayai saya menjadi penerjemah tetapnya. Kepada mereka saya sampaikan terimakasih tak terhingga. Allah jualah sebaik-baik pemberi balasan dan pahala.

Ketika saya menjalani Ciputat Jilid 2, saya sudah jadi PNS Dosen di STAIN (sekarang IAIN) Tulungagung. Ketika itu, sambil tetap menerjemah, “iseng-iseng” saya mengajukan proposal penerbitan tesis saya ke salah satu Penerbit di Yogyakarta. Beberapa minggu kemudian pihak Penerbit menelepon saya dan menyatakan ketertarikannya menerbitkan naskah yang saya ajukan. Tanpa sadar, tangan kanan saya mengepal sambil setengah teriak, “Yess…” Segera saya kirimkan naskah lengkap sebagaimana diminta Penerbit. Namun cukup disayangkan, selama menempuh Ciputat Jilid 2 itu, saya hanya menulis satu buku, itu pun berasal dari tesis. “Tak apa, cukup menggembirakan untuk pemula dan sekadar buat pemantik semangat,” gumam saya menghibur diri. Setelah buku itu, menerjemah tetap jadi pilihan: dapat order, teken kontrak, terjemahan selesai, kirim file ke penerbit, dua minggu menunggu, pihak penerbit menghubungi meminta nomor rekening, besoknya honor diterima, honor diambil dan sebagian besarnya dibayarkan buat bayar SPP, sisanya buat beli susu untuk anak saya yang masih balita. Seperti itu kurang-lebih skema kegiatan menerjemah yang saya tekuni beberapa tahun silam.

Singkat cerita, tahun 2007 saya kembali ke Tulungagung. Waktu itu saya “iseng-iseng” lagi mengajukan naskah disertasi untuk diterbitkan di salah satu penerbit di Yogyakarta. Kali ini proses pengajuan dibantu oleh P3M (sekarang LP2M) STAIN Tulungagung. Pihak Penerbit sepakat kerja sama dengan P3M STAIN Tulungagung menerbitkan disertasi saya dalam format buku. Alhamdulillah. Jadilah ini buku kedua saya. Di tahun 2009 kembali saya mengajukan naskah buku ke Penerbit yang sama dengan sebelumnya. Alhamdulillah lagi, diterima. Jadilah ia buku saya ketiga. (Tidak) untuk diketahui, tiga buku pertama ini dapat dibilang merupakan buku yang agak “serius”, isinya lebih ke pemikiran. Seorang teman, entah mengapa, menyebutnya kekiri-kirian. Saya tidak ambil pusing mau di sebelah mana isi buku-buku berada; kiri, kanan, tengah, atau mana saja. “Sudah bisa terbit saja senangnya minta ampun,” kata saya dalam hati berbunga-bunga.

Mulai tahun 2010, isi-kandungan beberapa buku saya mengalami perubahan haluan; dari pemikiran ke wejangan-keagamaan. Perhatikan saja judul-judul ini: Dahsyatnya Sumpahan Ibu (2010), Berkah Shalat Subuh (2010), Sudah Shalat Masih Maksiat (2011), Renungan Harian Seorang Muslim (2012), Dahsyatnya Doa Qunut (2012, Ya Allah Sayangilah Ibuku (2012), Keutamaan dan Keajaiban Ka’bah (2013), Ayat-ayat Rezeki: Panduan al-Qur`an Agar Murah Rezeki dan Hidup Berkecukupan (2013), dan Mengapa Nabi Muhammad Saw. Berpoligami: Kajian Normatif Historis (2013). Selain itu, hanya satu yang bernuansa pemikiran, yaitu Sahabat Nabi Saw. dalam al-Qur`an: Kajian Tematis-Kritis Ayat-ayat Tentang Sahabat (2013). Pada rentang 2010-2013 saya memang punya prinsip “yang penting nulis.” Maka jadilah seperti itu; berubah haluan dari pemikiran ke wejangan.

Saya pikir perubahan haluan serupa itu tidak harus dipersoalkan. Sebab ada yang lebih memprihatinkan: di tahun 2014 praktis saya tidak menghasilkan satu buku pun! Semoga tahun 2015 ini menjadi tahun kebangkitan saya dalam hal tulis-menulis buku. Hingga di sini, Anda yang berkenan membaca tulisan ini mungkin tidak mendapat pelajaran apa-apa. Tidak apa-apa, karena memang saya tidak punya niatan mengajari siapa pun tentang apa pun dalam dunia tulis-menulis. Saya hanya ingin berbagi cerita. Dari cerita ini saya mencatat beberapa poin untuk diri saya sendiri: Pertama, menulis memberi kepuasan dan kenikmatan batin tersendiri. Di luar kepuasan-kepuasan materil memang terdapat kebahagiaan-kebahagiaan non-materil yang setiap orang punya upaya dan pendekatan masing-masing dalam meraihnya. Sewaktu kuliah di Mesir, selain kuliah dan berorganisasi, saya menemukan kepuasan batin dalam menulis di bulletin atau jurnal mahasiswa yang “gratisan” itu. Kedua, berbekal kesabaran dan ketekunan, kebiasaan menulis (termasuk di dalamnya mengedit dan menerjemah) akan memberi kita bukan hanya kepuasan batin, tapi juga imbalan materil yang setimpal. Bagi insan akademis, pertimbangan materil serupa itu sebaiknya diabaikan. Menyebar ide dan gagasan lewat tulisan memiliki keunggulan tersendiri dibanding ceramah tanpa tulisan yang terdokumentasikan. Ketiga, yang terpenting, menulis memacu kita untuk membaca. Menulis perlu wawasan. Wawasan banyak didapat dari bacaan. Memang tidak semua yang rajin membaca suka atau bisa menulis, tapi bisa dipastikan kegiatan menulis akan banyak dibantu oleh kebiasaan membaca.

Lewat tulisan yang mirip catatan pribadi ini, saya ingin mengemukakan harapan tentang budaya tulis-menulis di kampus IAIN Tulungagung tercinta. Alangkah membahagiakan dan membanggakan jika kampus ini jadi buah-bibir positif insan-insan terdidik ketika mereka berbincang soal budaya baca, budaya tulis, dunia buku, bidang penelitian, dan hal apa pun yang relevan dengan bidang-bidang tersebut. Jika obsesi itu untuk saat sekarang terdengar terlalu muluk untuk level nasional, setidaknya ia dapat menjadi mimpi bersama untuk level lokal-regional. Menuju ke arah sana dapat dimulai dengan langkah sederhana: Tulis apa yang Anda pikirkan, pikirkan apa yang Anda tulis!

Comments on: "Menulis, Mengedit, Menerjemah, Menulis Lagi" (5)

  1. Sae pisan, Kang janten sangat inspiratif, teras lajengkeun. hatur nuhun. Wsslkmwrwb.

  2. Bahasana gado-gado diajar nulis teh…punten…hehe…

  3. Abad Badruzaman said:

    Hatur nuhun Kang. Wassalam

  4. assalamu’alaikum
    bade share info ah, sakeudik…punten nya
    Kalo mau memperkecil file pdf secara online, mangga dibaca tutorialnya di
    http://gustibogor.blogspot.com/2014/09/memperkecil-ukuran-file-pdf.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: