Berpikir positif, bersikap & bertindak bijak

Surah ini ibarat taman Qur`ani, hati kita menyelami keindahannya sekurangnya setiap kali shalat. Surah ini mempunyai beberapa nama, di antaranya fâtihah al-kitâb (pembuka al-Kitab), sab’ al-matsânî (tujuh ayat yang sering diulang), umm al-kitâb (induk al-Kitab), dan umm al-Qur`ân (induk al-Qur`an). Nama-nama lainnya adalah al-shalâh (shalat),[1] al-hamd karena di dalamnya disebut kata al-hamd, al-syifâ`,[2] al-ruqyah,[3] al-wâfiyah,[4] dan al-kâfiyah.[5] Demikian, al-Fatihah memiliki banyak nama, sifat dan julukan. Sebenarnya masih banyak nama, sifat dan julukan lainnya untuk surah al-Fâtihah. Yang jelas, banyaknya nama menunjukkan kemuliaan sesuatu yang dinamai (katsrah al-asmâ` tadull ‘alâ syarf al-musammâ).

Jumhur berpendapat surah ini makiyyah. Namun ada juga yang berpendapat madaniyyah. Lalu ada yang menggabungkan dua pendapat itu dengan mengatakan bahwa ia turun berulang; turun di Mekkah, turun pula di Madinah ketika perintah pengalihan kiblat turun.

Terlepas dari itu, beberapa poin dapat dikemukakan terkait surah ini. Yaitu bahwa secara tartîb nuzûl ia turun setelah surah al-Mudatstsir. Ia turun secara utuh; langsung satu surah. Kaum Muslim membacanya setiap shalat. Ia merupakan pembuka al-Qur`an, tujuan-tujuan pokok al-Qur`an tertuang secara global di dalamnya. Dalam al-Qur`an misalnya, terdapat penjelasan hak-hak Khalik atas makhluk dan ketergantungan mereka terhadap Sang Khalik serta pola hubungan antara Khalik dan makhluk. Ini semua secara global disitir oleh surah al-Fatihah. Ayat-ayat pertamanya merupakan rangkuman tentang hak-hak Allah atas makhluk-Nya: hanya kepada-Mu kami beribadah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. Disusul kemudian permohonan hidayah dari-Nya ke jalan yang lurus. Ini menunjukkan kebutuhan (ketergantungan) makhluk terhadap Sang Khalik. Jalan lurus adalah jalan yang menghubungkan makhluk dengan Khalik. Surah ini juga berisi bantahan terhadap semua golongan yang keluar dari koridor jalan lurus serta penjelasan mengapa golongan-golongan itu dinilai keluar dari jalan lurus. Mereka yang keluar dari jalan lurus adalah mereka yang melakukan perbuatan yang mengundang murka Allah dan orang-orang yang tersesat. Atas dasar ini surah al-Fâtihah berhak menyandang predikat sebagai Umm al-Qur`ân; Induk al-Qur`an.

Ayat pertama yang berbunyi بسم الله الرحمن الرحيم (dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang) merupakan arahan agar mengembalikan segala sesuatu kepada Allah. Dia-lah Tuhan semesta alam. Dia Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. “Dengan nama Allah” maknanya “dengan kekuasaan dan penciptaan-Nya.” Atau “dengan pertolongan Allah, taufik, dan keberkahan-Nya.” Nama Allah disebut di awal pembacaan surah atau aktifitas lainnya agar segalanya dibuka dengan keberkahan Allah. Basmallah di awal al-Fâtihah menegaskan makna-makna ini. Banyak hadits menekankan bacaan basmallah di awal semua pekerjaan, seperti makan, minum, menyembelih hewan, bersuci, berkendara, bahkan bersenggama dan lainnya.

Surah al-Fâtihah turun di antaranya untuk mengajari kaum Mukmin tentang dasar-dasar umum dan kaidah-kaidah pokok tentang hubungan mereka dengan Tuhan, hubungan mereka dengan sesamanya, dan tentang perilaku mereka; apa yang baik dan apa yang buruk bagi mereka. Maka surah al-Fâtihah sejatinya merupakan wujud nyata perhatian Allah terhadap kaum Mukmin dalam mereka menjalani kehidupan. Berikut pokok-pokok ajaran yang dikandung surah al-Fâtihah:

Pertama, kaum Mukmin harus mengarahkan dan menghaturkan segenap puji yang utuh dan sempurna kepada Allah semata. Bagi-Nya segala puji yang baik dan elok. Dia-lah semata yang berhak atas segenap puji. Bagi-Nya nama-nama yang baik dan sifat-sifat yang mulia. Betapa pun seluruh manusia mengerahkan segenap kemampuannya memuji Allah Swt., mereka tidak akan mampu memenuhi hak-Nya atas segala puji dan sanjungan. Puji yang mereka berikan hanya memenuhi sedikit saja dari hak-Nya yang Maha Agung. Maka itu, dalam salah satu doanya Nabi Saw. bersabda, “Aku tidak dapat memenuhi puji atas-Mu. Engkau sebagaimana Engkau sendiri memuji atas diri-Mu.”[6]

Bagi-Nya segala puji dan syukur atas segala kebaikan yang diberikan-Nya. Alhamdulillah merupakan kata yang diucapkan oleh setiap yang bersyukur. Nabi Adam ketika bersin ia berucap alhamduluillah. Nabi Nûh mengucap alhamdulillah ketika Allah menyelamatkannya dari kaum yang zalim. Nabi Ibrâhîm mengucap alhamdulillah ketika Allah memberinya karunia berupa tumbuh besarnya Ismâ’îl dan Ishâq. Nabi Dâwud dan Sulaimân mengucap Alhamdulillah ketika Allah mengutamakan mereka atas banyak dari hamba-hamba-Nya. Nabi Muhammad Saw. diperintah Allah mengucap alhamdulillah kepada-Nya yang tidak memiliki anak. Para penghuni surga mengucap alhamdulillah karena Allah telah menghilangkan kesedihan dari mereka.

Memanjatkan segala puji hanya untuk Allah sama dengan mengarahkan segenap kemampuan diri pada apa pun yang dapat mengundang keridhaan-Nya. Memuji-Nya sama dengan melatih diri menghargai setiap nikmat yang diberikan-Nya dan menghaturkan syukur kepada-Nya. Di antara nikmat-nikmat itu, yang paling besar adalah nikmat Islam, iman dan hidayah. Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah ridha terhadap seorang hamba apabila ia makan makanan ia memuji-Nya atas nikmat makanan itu, atau ia minum minuman ia memuji-Nya atas nikmat minuman itu” (HR Muslim).

Kedua, pengakuan akan rubûbiyah (ketuhanan) Allah. Dia yang berhak atas segala puji, Dia-lah Tuhan semesta alam, pemilik dan penguasanya. Ketiga, kepastian bahwa Allah adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kepastian ini menjadikan seorang Mukmin senantiasa berada dalam keadaan takut dan berharap. Kasih-sayang Allah yang ia rasakan menjadikannya takut akan murka dan azab-Nya, seraya berharap akan rahmat, pahala dan ridha-Nya.

Keempat, Allah Dia yang di Tangan-Nya kerajaan dunia, adalah Dia yang menguasai hari kiamat. Dunia kita di Tangan-Nya, akhirat kita di Tangan-Nya, maka janganlah kita menjadikan untuk-Nya sekutu atau pun tandingan. Kelima, membangun solidaritas antar anggota jamaah kaum Mukmin dalam meniti jalan hidup yang telah digariskan-Nya, dalam membangun hubungan dengan-Nya, dalam menempuh jalan kebaikan dan keselamatan yang jauh dari kesesatan orang-orang yang keluar dari jalan lurus. Makna-mana ini tertuang dalam ayat إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (hanya kepada Engkau kami mengabdi dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan). Seperti terlihat, ayat ini menggunakan kata kami untuk menunjukkan solidaritas dan kebersamaan tersebut. Bahu-membahu dalam mengenal Tuhan, dalam meyakini kekuasaan-Nya, dalam merasakan kasih-sayang-Nya, dalam menyerahkan segenap pengabdian hanya kepada-Nya, dan dalam menyadari bahwa segala pertolongan serta taufik hanya berasal dari-Nya.[7]

Tentang surah ini Muhammad al-Ghazâlî berkata, “Surah pujian (al-hamd). Termasuk surah pendek, tetapi merupakan induk al-Kitab (al-Qur`an) dan surah teragung.”[8] Dalam pandangan al-Ghzâlî, surah ini merupakan saripati al-Qur`an tentang akidah Islam, ikatan perjanjian yang kokoh antara manusia dengan Tuhan untuk merealisasikan tugas mereka di muka bumi, serta berisi harapan kepada Allah akan hidayah, taufik dan keridaan-Nya. Surah yang merupakan Induk al-Qur`an ini, dalam redaksi yang amat singkat-padat, juga menggambarkan pola-hubungan antara manusia dan Tuhannya, pengakuan tentang-Nya, pujian untuk-Nya, kesiapan untuk menemui-Nya, janji untuk menyembah-Nya, dan harapan kepada-Nya supaya menjadikan kita seperti yang diinginkan-Nya. Satu-satunya pola-hubungan antara manusia dan Tuhan adalah hubungan yang didirikan di atas Islam. Islam adalah satu-satunya agama Allah yang disampaikan para nabi, kapan pun dan di mana pun nabi-nabi itu diutus. Agama Islam berporos pada keyakinan bahwa sesungguhnya Allah itu esa, hanya bagi-Nya kesetiaan dan pujian, serta kepada-Nya seluruh penghuni bumi dan langit bergantung. Orang yang mengingkari hakikat ini sesat dan dimurkai-Nya.

Isi kandungan surah al-Fâtihah sangat relevan dengan tema utama dakwah Nabi Saw. di Mekkah. Ia dibuka dengan penegasan bahwa segala sesuatu harus dimulai dengan nama Allah. Segala aktifitas yang dilakukan haruslah dimulai dengan nama-Nya. Ini memberi pesan bahwa Allah harus terlibat dalam segala hal yang dilakukan oleh hamba-Nya. Setiap hamba harus melibatkan Allah dalam segala kegiatan yang dijalaninya. Melibatkan Allah dalam segala aktifitas memiliki makna yang luas dan dalam. Maknanya memanjang; mulai dari mengucap bismillah saat memulai aktifitas, senantiasa merasakan pantauan-Nya selama menjalankan aktifitas, berkegiatan dengan mengindahkan nilai-nilai ilahiah, bekerja demi tujuan luhur nan mulia, bekerja demi tegaknya nilai-nilai rabbani di ranah kemanusiaan seperti keadilan dan kesejahteraan untuk sebanyak mungkin umat manusia. Antara lain, nilai-nilai ilahiah-rabbaniah inilah yang ditanamkan oleh ayat pertama surah al-Fâtihah.

Setelah segala sesuatunya diawali dengan nama-Nya, disertai nilai-nilai yang diajarkan-Nya, dan diorientasikan untuk meraih ridha-Nya, langkah berikutnya adalah pengakuan tulus bahwa pada hakikatnya segala kebaikan dan anugerah yang tiada henti direguk oleh makhluk merupakan karunia dari-Nya. Oleh karena itu sudah sepatutnya setiap hamba memanjatkan segala pujian hanya untuk-Nya. Keharusan ini dipertegas dengan kenyataan bahwa Dia-lah Tuhan semesta alam. Seperti terlihat di sini Allah menggunakan kata rabb untuk menunjukkan posisi-Nya terhadap semesta alam. Rabb mengandung arti antara lain Tuhan yang memiliki, mendidik dan memelihara, dan karena itu maka Dia harus ditaati. Dengan menggunakan kata rabb, Allah sedang menunjukkan kepada makhluk-Nya bahwa Dia begitu peduli, menjaga, memelihara dan sangat tinggi perhatian-Nya terhadap semua makhluk-Nya. Atas semua itu maka Dia berhak atas segala pujian.[9]

Ayat berikutnya menegaskan kepedulian dan perhatian-Nya terhadap seluruh makhluk-Nya dengan mengulang apa yang telah dinyatakan pada ayat pertama, yakni Dia  Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Namun segala nikmat yang dirasakan, segala anugerah yang tercurah dan segala karunia yang melimpah, semua itu akan dipertanggungjawabkan. Semua itu disediakan bukan untuk disalahgunakan, melainkan untuk di-tasharruf-kan di jalan-jalan yang dikehendaki dan direstui-Nya, yakni jalan-jalan kebenaran guna tegaknya nilai-nilai kebenaran serta terwujudnya kemaslahatan hamba-hamba-Nya. Makna inilah antara lain yang dipancangkan oleh pernyataan bahwa Allah, Dia-lah yang menguasai hari pembalasan. Kelak di hari pembalasan, segala sesuatunya akan ditimbang, dihitung, dimintai pertanggungjawaban, dan dibalas seadil-adilnya; tidak ada yang dirugikan, tidak ada yang dizalimi.

Kepercayaan akan adanya hari pembalasan seharusnya memantik semua hamba yang mengaku bertuhan untuk memanfaatkan semua anugerah, karunia dan nikmat-Nya dengan berpedoman pada ajaran-ajaran yang telah ditetapkan-Nya. Sebab kecurangan atau penyimpangan sekecil apa pun dalam pemanfataan itu pasti akan ada perhitungannya; semua akan ada balasannya yang seadil-adilnya.

Dalam Islam, segala aktifitas hamba di alam semesta ini haruslah diorientasikan pada upaya meraih ridha-Nya. Karena itu, dalam pandangan Islam, setiap kegiatan hamba dapat, bahkan harus, bernilai ibadah; harus dilakukan dalam bingkai penghambaan dan pengabdian hanya kepada-Nya. Dalam melakukan penghambaan dan pengabdian ini tidak boleh ada kepentingan yang ikut serta selain kepentingan-Nya, tidak boleh ada keinginan yang menyusup selain keinginan-Nya, dan tidak boleh ada tujuan yang hendak dicapai selain keridhaan-Nya. Inilah makna penegasan hanya Engkau-lah yang kami sembah.

Dalam menjalani hidup; dalam melakukan pengabdian kepada-Nya, seorang hamba tidak bisa lepas dari pertolongan-Nya. Sehebat apa pun seseorang, selalu ada saat di mana ia tidak bisa memanfaatkan kehebatannya untuk mencapai tujuannya. Sepandai apa pun seseorang, selalu ada momen di mana ia harus mengakui bahwa kepandaiannya tidak dapat menolongnya meraih harapannya. Sekaya apa pun seseorang, selalu ada kesempatan di mana ia harus mengakui bahwa kekayaannya tidak dapat menyampaikannya ke pelabuhan cita-citanya. Sekuat apa pun seseorang, selalu ada waktu di mana ia harus mengakui bahwa kekuatan yang dimilikinya adalah lemah belaka dan mau tidak mau harus menengadahkan tangan memohon bantuan yang dapat mengantarkannya ke ujung perjalanan. Hanya Allah Yang Maha Pandai dan tidak akan pernah terkalahkan kepandaian-Nya, Yang Maha Hebat dan tidak akan pernah terkalahkan kehebatan-Nya, Yang Maha Kaya dan tidak akan pernah terkalahkan kekayaan-Nya, serta Maha Kuat dan tidak akan pernah terkalahkan kekuatan-Nya. Maka hanya kepada-Nya setiap hamba hendaknya memohon pertolongan.

Dalam menjalani ibadah; dalam memeragakan penghambaan dan pengabdian kepada-Nya, jangan sampai seorang hamba salah dalam memilih dan menempuh jalan. Jangan sampai ia merasa sedang melakukan pengabdian kepada-Nya tapi jalan yang ditempuhnya ternyata tidak sesuai dengan yang diinginkan-Nya. Maka selalulah setiap hamba memohon kepada-Nya ditunjukkan jalan yang lurus. Jalan lurus adalah jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang telah memperoleh nikmat-Nya; bukan jalan orang-orang yang dimurkai-Nya, bukan pula jalan orang-orang yang sesat.

Pada tataran aplikasi, setiap hamba harus mengamalkan nilai-nilai al-Fâtihah dalam kesehariannya tanpa mempedulikan apakah surah al-Fâtihah ini makiyyah atau madaniyyah. Sebab nilai-nilai yang dikandungnya sangatlah universal, berlaku bagi siapa pun, kapan dan di mana pun.

[1] Nama ini diambil dari hadits qudsî di mana Allah berfirman di dalamnya, قسمت الصلاة بينى وبين عبدى نصفين “Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian.” Pembagian ini meliputi ayat-ayat dalam surah al-Fâtihah yang dibaca orang yang sedang shalat di setiap rakaat.

[2] Berdasar sabda Nabi Saw. “Dalam fatihah al-Kitâb terdapat syifâ` (kesembuhan) dari segala penyakit” (HR. al-Dârimî). Dalam riwayat lain dikatakan, “Fatihah al-Kitâb merupakan kesembuhan dari segala racun.”

[3] Ruqyah adalah membacakan ayat-ayat al-Qur`an terhadap orang yang terkena penyakit apa pun dengan mengharap kesembuhan. Surah al-Fâtihah dinamai ruqyah berdasar riwayat Abû Sa’îd al-Khudrî, ia berkata, “Rasulullah Saw. mengutus kami dalam sebuah ekspedisi sebanyak 30 penunggang kuda. Kami tiba di sebuah kaum Arab dan memohon mereka kiranya mau menjadikan kami sebagai tamu, tapi mereka menolak. Pemimpin mereka disengat kalajengking, lalu mereka datang kepada kami dan bertanya, ‘Adakah di antara kalian yang bisa me-ruqyah dari sengatan kalajengking?’ Aku menjawab, ‘Ya, aku. Tapi aku tidak akan melakukannya sampai kalian memberi kami sesuatu.’ Mereka berkata, ‘Kami akan memberi kalian 30 kambing.’ Lalu kami membacakan surah al-hamd tujuh kali dan pemimpin mereka yang disengat kalajengkig pun sembuh. Mereka pun memberikan kepada para sahabat upah yang telah mereka sepakati. Sebagian sahabat berkata, ‘Silakan dibagi (kambingnya).’ Yang me-ruqyah berkata, ‘Janganlah kalian lakukan hal itu sampai kita mendatangi Rasulullah Saw. dan kita ceritakan kepada beliau mengenai perihal yang telah terjadi. Kemudian kita lihat apa yang beliau perintahkan kepada kita.’ Mereka pun datang kepada Rasulullah Saw. seraya menceritakan hal itu kepada beliau. Maka beliau bersabda, ‘Tidak tahukah kalian bahwa ia (al-Fatihah) merupakan ruqyah?.’ Bagikan kambingnya dan beri aku bagian bersama kalian.’” (HR Abû Daud).

[4] Dinamai demikian karena ia tidak bisa dibaca setengah-setengah; harus tuntas utuh satu surah dari ayat pertama hingga ayat terakhir sekaligus. Adapun surah-surah lainnya, bisa dibaca setengahnya di satu rakaat dan setengahnya lagi di rakaat selanjutnya. Al-Wâfiyah artinya memenuhi secara utuh.

[5] ‘Abdullah bin Yahya ditanya tentang membaca surah al-Fatihah di belakang imam. ‘Abdullah berkata, “Kamu bertanya tentang al-kâfiyah?” Si penanya bertanya, “Apa itu al-kâfiyah?” ‘Abdullâh menjawab, “(Al-Kâfiyah) adalah al-Fâtihah. Tidakkah kamu tahu bahwa ia mencukupi atau dapat menggantikan (kâfiyah) yang lain sedang yang lain tidak dapat mencukupi atau menggantikannya.”

[6] HR Ibn Khuzaimah. Abû Daud, al-Hâkim dan lain-lain.

[7] Baca Muhammad Ra’fat Sa’îd, Târîkh Nuzûl al-Qur`ân, Mansoura: Dâr al-Wafâ`, cet. I, 2002, vol. I, hal . 117- 127.

[8] Muhammad al-Ghazâlî, Nahw Tafsîr Mawdhû’î lî Suwar al-Qur`ân al-Karîm, Kairo: Dâr al-Syurûq, cet. VIII, 2005, hal. 7.

[9] Lebih gamblang tentang konsep tuhan dalam al-Qur`an secara umum dan dalam al-Fâtihah secara khusus, dapat dibaca antara lain Maulana Abul Kalam Azad, Hikmah al-Fatihah, Konsep Tuhan dalam al-Qur`an, Depok: Mushaf, cet. I, 2007.

Comments on: "Renungan Tentang Surat al-Fatihah" (2)

  1. Nice info, renungannya gan.

  2. Abad Badruzaman said:

    Tengkyu Gan…:) Terimakasih sdh mampir di mari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: