Berpikir positif, bersikap & bertindak bijak

Sejenak Bersama Hamka

Sudah agak lama saya punya Tafsir Al-Azhar karya salah-satu ulama besar Tanah Air; Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka). Dulu zaman jadi mahasiswa di Ciputat saya pernah dapat tugas me-review Tafsir ini. Hanya saja waktu itu review-nya saya kerjakan secara tergesa dan dalam tempo yang singkat.

Kali ini saya akan mencontohkan tafsir Hamka dalam Al-Azhar-nya tersebut. Entah mangapa tangan saya tergerak meraih Jilid 1 dan membuka tafsir Surah Ali ‘Imran.

Ketika menafsirkan kelompok pertama dari Surah ini (ayat 1-6), saya menemukan paparan Hamka yang, dalam hemat saya, amat relevan dengan kondisi Tanah Air saat ini di mana kebhinekaan sedang diuji ketahanannya serta toleransi tengah bergulat hebat melawan derasnya arus intoleransi, bahkan radikalisme.

Saya kutipkan paparan itu:

“Mereka (utusan Nasrani Najran) disambut baik sekali (oleh Nabi) di Madinah, di pekarangan Masjid Nabi. Setelah datang waktunya mereka hendak sembahyang menghadap ke timur, karena di Madinah tidak ada gereja Nasrani, mereka dipersilakan oleh Nabi saw. melakukan upacara sembahyang menurut agama mereka di Masjid Madinah.”

Hamka mengutip keterangan itu dari Sirah Ibnu Hisyam, salah satu kitab sejarah klasik paling otoritatif.

Hingga sini, poin yang ingin disampaikan adalah bahwa tindakan sebagian dari kita terhadap kaum minoritas acap-kali jauh sekali dengan apa yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah terhadap Ahli Kitab (umat Nasrani).

Untuk konteks sekarang, gak perlulah kita mempersilakan mereka melakukan sembahyang di masjid. Mereka juga gak menginginkan sejauh itu. Nyatanya, tahun lalu misalnya, di Bandung sebuah Ormas menolak dan membubarkan acara Kebaktian, hanya karena acara tersebut dilangsungkan bukan di gereja.

Beruntung Bandung memiliki Kang Ridwan Kamil. Dengan tegas Kang RK mengeluarkan pernyataan: “Kegiatan dilanjut saja. Hak beragama Anda dilindungi negara.” Meski ada juga pihak yang menyebut pembubaran itu sebagai perkara kecil.

Tapi poinnya, sekali Ormas intoleran “dapat angin” melakukan penolakan dan pembubaran upacara agama lain, hal-hal serupa ke depannya akan dengan leluasa mereka tempuh. Ini bahaya bagi rajutan toleransi dan dapat mengoyak tenun kebangsaan.

Saya tunjukkan contoh lainnya yang saya anggap relevan dengan kebiasaan banyak dari kita mengumbar label kafir.

“Perdayaan yang paling mendorong kepada manusia sehingga menjadi kafir, yang terutama adalah dua hal. Pertama harta benda, kedua anak dan keturunan…Dengan ini, diperingatkanlah bahwa harta dan anak, kalau tidak hati-hati, adalah pintu kepada kufur. Tujuan hidup mereka (orang kafir) hanya berkisar di sekitar harta benda dan anak.”

“Bahkan rasul-rasul itu mereka musuhi sebab mengganggu perhatian terhadap harta benda dan kemegahan keluarga…Sebab orang-orang yang diperbudak oleh harta itu selalu akan berusaha menghasilkan harta agar terkumpul, biar pun dengan berbuat dosa, kezaliman, dan penganiayaan.”

Seperti terlihat, Hamka lebih tertarik membawa persoalan kufur pada perilaku sosial ketimbang soal tauhid-keimanan an sich. Harta dan keturunan-lah, tegas Hamka, yang menjadi biang kekufuran. Dengan kata lain, label kufur seharusnya lebih merujuk pada perilaku sosial.

Dalam hal ini kufur kemudian menjadi identik dengan dosa, kezaliman, penganiayaan dan dosa-dosa sosial lainnya. Dalam kerangka makna ini pula label kafir bisa menjangkau siapa saja yang perilakunya bertentangan dengan nilai-nilai kesalehan sosial.

Lagi-lagi, pemaknaan model ini sangat relevan dalam konteks Negeri ini dengan segala kemajemukannya. Perbedaan agama dan keyakinan tidak boleh mendorong siapa pun untuk melabeli orang yang beda agama dan keyakinan sebagai kafir.

Urusan agama, keyakinan, konsep ketuhanan, dan semacamnya biar kelak Tuhan saja yang menangani dan memutuskannya. Adapun di dunia, kerukunan, kebersamaan, kepatuhan pada hukum, ketaatan pada pranata sosial, kontribusi bagi kemaslahatan umum; itulah yang harus menjadi perhatian dan kepedulian bersama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: